Senin, 29 September 2014

Militer Iran Sanggup Lakukan Perang Cyber Tingkat Tinggi




Oleh Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan

Televisi Iran pada hari Kamis (8/12) telah memublikasikan sebuah pesawat pengintai tak berawak yang disebutkan milik Amerika Serikat dan telah telah berhasil mereka kuasai. Pesawat yang dipamerkan sangat mirip dan dikenali sebagai salah satu jenis pengintai AS yang sangat dirahasiakan, RQ-170 Sentinel. Selama ini pesawat tersebut beroperasi  di kawasan Afghanistan dan Pakistan. Operasinya dikendalikan oleh CIA.

Setelah kejadian tersebut, pemerintah Iran kemudian memanggil Duta Besar Swiss yang mewakili AS di Iran, (Iran tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan AS, Swiss yang mewakili kepentingan AS di Iran). Iran mengajukan protes bahwa telah terjadi pelanggaran wilayah dan upaya memata-matai negaranya. Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan rasa tidak senangnya kepada Duta Besar Afghanistan di Iran atas terjadinya pelanggaran wilayah udara dari  pesawat terbang yang  jauh ke wilayah Iran.

Para pejabat Iran mengatakan bahwa pesawat itu terdeteksi di dekat kota Kashmar, 140 mil dari perbatasan Afghanistan, dan kemudian ditembak jatuh atau dipaksa turun (force down)  karena sistem kontrol yang telah hacked dengan sebuah serangan cyber oleh militer Iran. Dikuasainya pesawat ini masih mengundang tanda tanya, karena Sentinel adalah pesawat siluman, tidak terdeteksi oleh radar. Kemungkinan terbesar, militer Iran memiliki kemampuan serupa, sehingga mampu melancarkan serangan Cyber dan memaksa/menuntunnya landing.

Menurut seorang pejabat Afghanistan, pesawat itu diterbangkan dari pangkalan bersama Amerika dan Afghanistan di Shindand di bagian barat Provinsi Herat. Para pejabat Amerika memang telah mengakui kehilangan sebuah   RQ-170, pesawat siluman (teknologi stealth) tak berawak yang dibuat oleh Lockheed Martin. RQ-170 dirancang untuk terbang dalam misi rahasia untuk mengumpulkan informasi di wilayah lawan. Menanggapi pemberitaan televisi Iran tersebut, pemerintah AS  tidak menolak untuk mengkonfirmasi ataupun menyangkal bahwa itu adalah pesawat mereka yang hilang.

Pengintaian udara oleh RQ-170 ke wilayah Iran nampaknya berkait dengan kekhawatiran AS terhadap program nuklir Iran yang terus berkembang, bahkan ada kekhawatiran  Iran  mampu membuat senjata nuklir. Dalam pidatonya baru-baru, penasihat keamanan nasional Presiden Obama, Tom Donilon, mengisyaratkan sebuah upaya rahasia Amerika Serikat untuk mengawasi program nuklir Iran . “Kami akan terus waspada,” kata Donilon bulan lalu di Brookings Institution. “Kami akan bekerja lebih giat untuk mendeteksi upaya-upaya baru yang berkait dengan nuklir Iran. Kami akan mengekspos mereka dan memaksa Iran untuk menempatkannya di bawah inspeksi internasional,” tegas Dillon.

Rq-170 kini menjadi bahan diskusi banyak pihak, pemerintah AS sangat khawatir teknologi stealth dan khususnya radar RQ-170 akan bocor kepihak lain, karena teknologinya jauh diatas radar terbaik baik dari China maupun Rusia. Sentinel, yang bisa terbang pada ketinggian 50.000 kaki, dianggap penting untuk operasi intelijen udara. Sementara satelit surveillance yang terus mengorbit hanya dapat mengamati sebuah lokasi hanya beberapa menit pada suatu waktu. Kehebatan RQ-170, bisa berkeliaran selama berjam-jam, mengirimkan gambar video. Dapat memberikan petunjuk penting untuk sifat pekerjaan yang dilakukan, peralatan yang digunakan dan ukuran lainnya.

John Pike, pakar teknologi militer di situs GlobalSecurity.org mengatakan, “Jika  hanya untuk melihat target diam seperti batu bata dan mortir, satelit jauh lebih baik. Tetapi jika kita ingin melihat apa yang dilakukan orang sepanjang hari, pesawat tak berawak jauh lebih baik.” Selain dengan kamera video, pesawat hampir dipastikan membawa peralatan komunikasi untuk menyadap, serta dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi sejumlah kecil isotop radioaktif dan bahan kimia lainnya yang dapat memberikan petunjuk adanya kegiatan penelitian nuklir.

Demikian pentingnya pesawat dengan klasifikasi sangat rahasia tersebut. Kini kekuatan udara telah merubah cara serta strategi Amerika dalam berperang. Serangan pesawat tak berawak dibawah kendali CIA jauh lebih banyak dilakukan oleh pemerintahan Presiden Barack Obama dibandingkan era pemerintahan Presiden George W. Bush. Pentagon kini memiliki sekitar 7000 pesawat udara, dan pemerintah telah meminta Kongres anggaran sebesar hampir US$ 5 miliar untuk penambahan pesawat pada tahun 2012. Pesawat pengintai sekaligus penyerang tak berawak tersebut sangat efektif untuk operasi anti gerilya, terorisme dan surveillance lainnya.

Lebih dari 1.900 gerilyawan di daerah suku Pakistan telah tewas oleh pesawat Amerika sejak tahun 2006, demikian  dikatakan situs longwarjournal.com. Ahli etika militer mengakui bahwa pesawat tanpa awak dapat mengubah perang menjadi sebuah permainan video. Kelebihannya, tidak ada seorangpun warga Amerika yang beresiko menjadi korban dari  perang itu sendiri. Inilah kelebihan sebuah operasi udara tanpa awak.

Pesawat mata-mata tanpa awak pertama yang dibuat AS adalah Predator. Pertama kali digunakan di Bosnia dan Kosovo pada 1990-an, dikendalikan oleh Angkatan Udara, dengan kegagalan yang hampir mencapai 30 persen, teknologinya terus disempurnakan. Sejak serangan 11 September, Angkatan Udara terus meningkatkan operasi pengintaian intelijen udara. Pengawasan dan pengintaian tercatat naik  hingga 3.100 persen, sebagian besar dalam operasi udara pesawat tanpa awak. Setiap hari, Angkatan Udara  memproses hampir 1.500 jam full-motion video dan sekitar 1.500 gambar statis, sebagian besar hasilnya berasal  dari pesawat Predator dan Reaper didaerah operasinya di Irak, Afghanistan dan Pakistan.

Pesawat-pesawat pengintai tanpa awak selain RQ-170 dan Predator, yang juga terkenal adalah Reaper, yang lebih besar dan Shadow yang lebih kecil. Semua diterbangkan dengan pilot yang menggunakan remote, menggunakan joystick dan layar komputer, dioperasikan kebanyakan dari  pangkalan militer Amerika Serikat. Versi pesawat tanpa awak dari Angkatan Laut adalah X-47b, prototipe yang dirancang untuk lepas landas dan mendarat dari kapal induk secara otomatis. Pesawat ini berkemampuan membawa dan menyerang dengan bom. Selain itu, operasi pengintaian intelijen udara  juga dilakukan oleh Global Hawk yang lebih besar. Pesawat ini  digunakan untuk mengawasi kegiatan  nuklir Korea Utara.

Dikuasainya RQ-170 milik CIA tersebut oleh militer Iran jelas membuat pemerintah AS khawatir, karena Rusia dan China telah mengajukan dan meminta akses ke pemerintah Iran untuk ikut memeriksa dan jelas akan menyalin teknologinya. Nampaknya beberapa negara besar saling memodernisir kepemilikan pesawat tanpa awak dengan teknologi tinggi, terutama untuk kegiatan surveillance. Intelijen perlu mengetahui tentang lawan jauh dibelakang palagan tempur, tentang kekuatan, kemampuan, kerawanan dan niatnya. Pesawat tanpa awak dengan teknologi tinggi inilah alutsista  yang tepat digunakan.

Pesawat tanpa awak tersebut telah membuktikan keunggulannya dalam beberapa operasi intelijen baik dalam operasi penyelidikan maupun penyerangan.  Pesawat berhasil membunuh beberapa tokoh kelas atas Al-Qaeda, Taliban dan  Haqqani di Afghanistan dan Pakistan serta tokoh Al-Qaeda diYaman. Juga diketahui RQ-170 berperan menyelidiki dan mendeteksi keberadaan Osama bin Laden di Abottabat dengan akurasi tinggi sebelum dilakukan ambush oleh Navy SEALs Six Team. Kejatuhan hingga terbunuhnya Kolonel Khadafi juga tidak lepas dari peran besar pesawat tanpa awak.

Kini kekhawatiran AS secara khusus ditujukan kepada Korea Utara dan Iran yang terus dimonitor kepemilikan senjata nuklirnya. Kedua negara tersebut dikenal nekat dan radikal, memusuhi AS serta tidak mengenal takut. AS sadar bahwa sebuah serangan nuklir akan sangat menghancurkan dan tidak mempunyai toleransi sedikitpun. Apabila Iran pada saatnya nanti diketahui memiliki kemampuan menyerang dengan peluru kendali nuklir dan aksinya membahayakan, bisa diperkirakan AS dan sekutunya akan melakukan operasi  semacam di Libya. Serangan udara yang akan menjadi pilihan terbaiknya.

Tetapi, dengan terjadinya kasus force down terhadap RQ-170 di Iran, nampaknya CIA harus lebih waspada dan berhati-hati, karena ternyata militer Iran mempunyai kemampuan melakukan serangan cyber terhadap pesawat rahasianya RQ-170. Ataukah kembali AS telah berhasil diinfiltrasi oleh para spion? Mungkin saja. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar