Kamis, 17 April 2014

Perlak, Kesultanan Syi'ah Pertama di Dunia



(Makam Raja Perlak pertama, Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, di Peureulak, Aceh Timur. Foto: Sri Mulyani)

Inilah catatan dan riwayat Kesultanan Pertama Syi’ah di dunia. “Pada waktu musafir Venesia, Marco Polo, singgah di Sumatra dalam perjalanan pulangnya dari Cina tahun 1292, ia mengenal Perlak sebagai Kota Islam pertama di Indonesia” (M. C. Ricklefs 2008: 4)

oleh Amin Farazala Al-Malaya

Kerajaan Perlak didirikan oleh Sultan Alaidin Sayid Maulana yang bermazhab Syi’ah pada tanggal 1 Muharram 225 H atau 840 Masehi, saat kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu di Jawa masih berjaya. Sebagai gebrakan mula-mula, Sultan Alaiddin mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah.

Sementara itu, pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakan dalam bidang kebudayaan, kesusastraan, pemikiran, dan tasawuf. Pada kenyataannya, kebudayaan bangsa Iran cukup berpengaruh terhadap seluruh dunia. Masyarakat Iran, setelah menerima agama Islam, banyak menemukan keahlian dalam semua bidang ilmu keislaman, yang tidak satu pun dari bangsa lainnya yang sampai kepada derajat tersebut.

Secara khusus, kecintaan bangsa Iran kepada Ahlulbait tidak ada bandingannya. Melalui tasawuf dan kebudayaan Islam, kecintaan tersebut menyebar ke negeri-negeri Islam lainnya, dan karena itulah kebudayaan Iran pun dikenal. Mengenai Ahlubait, orang-orang Iran memiliki cara khusus untuk mengenang peristiwa pembantaian Imam Husain as pada bulan Muharram. Peristiwa ini, atau yang dikenal sebagai Tragedi Karbala, adalah sebuah pentas kepahlawanan dunia, yang telah mempengaruhi kebudayaan bangsa-bangsa non-Muslim.

Kisah kepahlawanan ini sudah berabad-abad selalu menjadi inspirasi dan tema penting bagi para penyair dan pemikir Iran. Ia juga merupakan episode sejarah yang penting dalam khazanah ajaran Syi’ah dan Sunni, dan bahkan kesusastraan dunia.

Dalam Syi’ah, kecintaan kepada Ahlulbait merupakan kecenderungan yang abadi. Tanpa kecintaan ini, agama akan kosong dari ruh cinta. Bahkan, sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila tidak memiliki rasa cinta kepada Ahlulbait, maka seseorang telah keluar dari Islam. Budaya cinta kepada Ahlulbait, yang merupakan bagian dari pemikiran dan tradisi bangsa Iran, telah membekas di seluruh negeri Islam. Hal ini terkadang juga disebut sebagai pengaruh Mazhab Syi’ah yang tampak pada kebudayaan Indonesia dan kaum Muslim dunia.

Kebudayaan Iran memiliki pengaruh yang cukup penting terhadap kebudayaan Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa sejak dahulu telah terjalin hubungan antara Iran dan Indonesia sehingga berpengaruh sangat kuat terhadap kebudayaan, tasawuf, dan kesusastraan. Meskipun mayoritas Muslim di Indonesia bermazhab Syafi’i, penelitian menunjukan bahwa kecintaan Muslim Indonesia kepada Ahlulbait karena pengaruh orang-orang Iran.

Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakannya tampak dalam bentuk kebudayaan dan kesusastraan. Sejarah mencatat bahwa, di samping orang-orang Arab dan orang-orang Islam dari India, orng-orang Iran memiliki peran yang penting dalam perkembangan Islam di Indonesia dan negeri-negeri Timur Jauh lainnya.

Ada dugaan bahwa sebagian besar raja di Aceh bermazhab Syi’ah. Dimungkinkan pada masa awal perkembangan Islam di sini, fikih Syi’ah-lah yang berlaku. Catatan sejarah tertua adalah berdirinya Kerajaan Perlak I (Aceh Timur) pada tanggal 1 Muharram 225 H (840 M). Hanya 2 abad setelah wafat Rasulullah, salah seorang keturunannya yaitu Sayyid Ali bin Muhammad Dibaj bin Ja’far As-Shadiq hijrah ke Kerajaan Perlak. Ia kemudian menikah dengan adik kandung Raja Perlak Syahir Nuwi. Dari pernikahan ini lahirlah Abdul Aziz Syah sebagai Sultan (Raja Islam) Perlak I. Catatan sejarah ini resmi dimiliki Majelis Ulama Kabupaten Aceh Timur dan dikuatkan dalam seminar sebagai makalah ‘Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh’ 10 Juli 1978 oleh (Alm) Professor Ali Hasymi.

Untuk menggenapi informasi makalah ini, saya membaca lebih dari 1000 judul buku ditulis oleh penulis dalam dan luar negeri.

Dinasti Umayyah dan Abbasiyah sangat menentang Syi’ah yang dipimpin oleh keturunan Ali bin Abi Thalib yang juga menantu Rasulullah SAW. Oleh karena itu, tidak mengherankan Syi’ah pada era dua dinasti ini tidak mendapatkan tempat yang aman. Karena jumlahnya minoritas, banyak penganut Syi’ah terpaksa harus menyingkir dan wilayah yang dikuasai oleh dua dinasti tersebut.

Kesultanan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara yang berdiri pada tanggal 1 Muharam 225 H atau 804 M. Kesultanan ini terletak di wilayah Perlak, Aceh Timur, Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia. Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Asia Tenggara yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292.

Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad ke-8, disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat.

Ada banyak kerajaan Islam di Indonesia. Tentu ini adalah salah satu faktor yang menjadikan Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Dari sekian banyak kerajaan, kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak yang berlokasi di Aceh Timur, daerah Perlak di Aceh sekarang. Ada sedikit yang ganjil di sini. Dalam buku-buku teks pelajaran di sekolah, disebutkan kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Kerajaan Samudera Pasai. Kesultanan Perlak adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara, kerajaan ini berkuasa pada tahun 840 hingga 1292 Masehi di sekitar wilayah Peureulak atau Perlak. Kini wilayah tersebut masuk dalam wilayah Aceh Timur, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Perlak merupakan suatu daerah penghasil kayu perlak, adalah kayu yang digunakan sebagai bahan dasar kapal. Posisi strategis dan hasil alam yang melimpah membuat perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad VIII hingga XII. Sehingga, Perlak sering disinggahi oleh jutaan kapal dari Arab, Persia, Gujarat, Malaka, Cina, serta dari seluruh kepulauan Nusantara.

Karena singgahannya kapal-kapal asing itulah masyarakat Islam berkembang, melalui perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat. Kerajaan Perlak merupakan negeri yang terkenal sebagai penghasil kayu Perlak, yaitu kayu yang berkualitas bagus untuk kapal. Tak heran kalau para pedagang dari Gujarat, Arab, dan India tertarik untuk datang ke sini.

Pada awal abad ke-8, Kerajaan Perlak berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju. Kondisi ini membuat maraknya perkawinan campuran antara para saudagar muslim dengan penduduk setempat. Efeknya adalah perkembangan Islam yang pesat dan pada akhirnya munculnya Kerajaan Islam Perlak sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara.

Fakta menyebutkan Perlak lebih dulu ada daripada Samudera Pasai. Kerajaan Perlak muncul mulai tahu 840 M sampai tahun 1292 M. Bandingkan dengan kerajaan Samudera Pasai yang sama-sama mengambil lokasi di Aceh. Berdiri tahun 1267, Kerajaan ini akhirnya lenyap tahun 1521. Entah mengapa dalam buku-buku pelajaran, tertulis secara jelas kerajaan Samudera Pasai-lah kerajaan Islam yang pertama di Indonesia. Sebuah kesengajaan?

Telah menjadi catatan para ahli sejarah dan ilmuwan terutama Abu Ishak Al-Makarany Pasy bahwa kerajaan Islam pertama Asia Tenggara adalah di Peureulak dengan ibukotanya Bandar Khalifah.

Menurut penelitian para ahli sejarah, diketahui bahwa sebelum datangnya Islam pada awal abad ke 7 M, Dunia Arab dengan Dunia Melayu-Sumatra sudah menjalin hubungan dagang yang erat sejak 2000 tahun SM atau 4000 tahun lalu. Hal ini sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan Persia, India dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera.

Letak geografis daerah Aceh sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan persinggahan yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik pelayaran berikutnya dari Cina menuju Persia ataupun Arab dengan menempuh samudra luas. Salah satu kota perdagangan pada jalur tersebut adalah Jeumpa dengan komuditas unggulan seperti Kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan.

Jeumpa Aceh adalah sebuah wilayah yang keberadaannya pada sekitar abad ke 7 Masehi yang terletak di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Istana penguasa Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke “Pintou Rayeuk” (pintu besar).

Menurut legenda yang berkembang di sekitar Jeumpa, sebelum kedatangan Islam di daerah ini sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru dan mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya.

SEBELUM ISLAM, ACEH BERADA DALAM KEKUASAAN ORANG ORANG HINDU DARI GUJARAT, BEGITU JUGA MEURAH PERLAK (YANG TIDAK PUNYA KETURUNAN) JUGA BERAGAMA HINDU.

Adapun catatan-catatan berkaitan menyebut Maharaja Salman datang ke Aceh atau lebih tepat ke wilayah Jeumpa dianggarkan pada tahun 777 Masehi. Kedatangan rombongan 100 orang pendakwah ke Perlak yang diketuai Nakhoda Khalifah pula dikatakan berlaku sekitar 804 Masehi. Catatan turut menyebut Maharaja Salman telah berkahwin dengan Puteri Mayang Seludang dari Jeumpa. Datanglah rombongan dakwah dari Persia yang salah satu anggotanya adalah pemuda tampan yang dikenal dengan Maharaj Syahriar Salman Al-Farisi atau Sasaniah Salman Al-Farisi sebagaimana disebut dalam Silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu Mindanao. Seorang Putra dari Dinasti Sasanid (Persia) Pangeran Salman meninggalkan Tanah Airnya menuju Timur Jauh dan Asia Tenggara untuk berniaga dan berdakwah dengan kapal dagangnya.

Maharaja Salman dikatakan mendapat 4 orang putera – Syahir Nuwi, Syahir Tanwi, Syahir Pauli, Syahir Dauli – dan seorang puteri, Tansyir Dewi yang juga dikenal sebagai Makhdum Tansyuri. Puteri inilah yang kemudian kawin (menikah) dengan Ali bin Muhammad dari rombongan Nakhhoda Khalifah. Anak dari hasil perkawinan ini diangkat menjadi Sultan Sayyid Maulana Abdul Aziz yang diisytiharkan sebagai Sultan pertama kerajaan Islam Perlak pada tahun sekitar 840 Masehi.

Ada pihak membuat telaah bahwa Maharaja Salman adalah seorang Ahlul Bait dari keturunan Sayidina Hussein as, cucu lelaki kedua Nabi Muhammad SAW. Alasan yang digunakan adalah kerana anak-anak Salman memakai gelaran Syahir atau Syahri di pangkal nama dan ini bersamaan dengan gelaran Syahri yang ada pada Puteri Syahribanun, isteri Sayidina Hussein, puteri raja terakhir Persia (dimasukkan ke dalam wilayah jajahan Islam selepas dikalahkan oleh angkatan tentara yang dikirim oleh Umar).

Ini tidak mustahil mengingat pada tahun 777 Masihi, sudah ada 4 generasi keturunan Sayidina Hussein. Ketika itu sudah hidup seorang Ahlul Bait terkenal, Imam Musa Al-Kazhim bin Ja’afar As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayidina Hussein sebagai bandingan. Namun menyatakan seseorang itu sebagai Ahlul Bait hanya berdasarkan pangkal nama Syahir atau Syahri terasa begitu dangkal. Lagipula ia memang satu gelaran kebesaran yang digunakan bangsawan berketurunan Persia sejak turun-temurun.

Sebagian ahli sejarah menghubungkan silsilah Pangeran Salman dengan keturunan dari Sayidina Hussein cucunda Nabi Muhammad Rasulullah saw yang telah menikah dengan Puteri Maharaja Parsia bernama Syahribanun. Dari perkawinan inilah kemudian berkembang keturunan Rasulullah yang telah menjadi Ulama, Pemimpin Spiritual dan Sultan di dunia Islam, termasuk Nusantara, baik di Aceh, Pattani, Sumatera, Malaya, Brunei sampai ke Filipina dan Kepulauan Maluku.

Kisah kedatangan satu delegasi dagang dari Persia di Blang Seupeung, pusat Kerajaan Jeumpa yang ketika itu masih menganut Hindu Purba. Salah seorang anggota rombongan bernama Maharaj Syahriar Salman. Salman adalah turunan dari Dinasti Sassanid Persia yang pernah berjaya antara 224 – 651 Masehi. Saat pertama adalah tiba dan berlabuh di Bandar Jeumpa (Aceh Jeumpa) sekarang. Setelah kapal kembali pulang, Pangeran tidak ikut pulang dan terakhir terpikat dan kawin dengan Putri Jeumpa bernama Putri Mayang Seuleudang, Puteri dari penguasa Jeumpa.

Jeumpa, ketika itu dikuasai Meurah Jeumpa. Maharaj Syahriar Salman kemudian menikah dengan putri istana Jeumpa bernama Mayang Seludang. Menurut Silsilah Sultan Melayu dan Silsilah Raja Aceh, Putro Manyang Seulodong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala adalah istri dari pangeran Salman, anak Meurah Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa. Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan suaminya.

Dikisahkan Pangeran Salman memasuki pusat kerajaan di kawasan Blang Seupeueng dengan kapal niaga dengan segala awak, perangkat dan pengawal serta muatannya yang datang dari Parsi untuk berdagang dan utamanya berdakwah mengembangkan ajaran Islam. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa. Sang Pangeran sangat tertarik dengan kemakmuran, keindahan alam dan keramahan penduduknya. Selanjutnya beliau tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam yang telah menjadi anutan nenek moyangnya di Persia. Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima ajaran Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Apalagi beliau adalah seorang Pangeran dari negara maju Persia yang terkenal kebesaran dan kemajuannya masa itu.

Keutamaan dan kecerdasan yang dimiliki Pangeran Salman yang tentunya telah mendapat pendidikan terbaik di Persia negeri asalnya, sangat menarik perhatian Meurah Jeumpa dan mengangkatnya menjadi orang kepercayaan kerajaan. Karena keberhasilannya dalam menjalankan tugas-tugasnya, akhirnya Pangeran Salman dinikahkan dengan puteri penguasa jeumpa.

Salman beserta rombongan melakukan perjalanan ke Asia Tenggara untuk menuju ke Selat Malaka, namun sebelum sampai ke sana, Pangeran Salman singgah di negeri Jeumpa dan akhirnya menikah dengan puteri Istana Jeumpa yang bernama Mayang Seludang. Pangeran Salman pun tidak meneruskan perjalanan dengan rombongannya ke Selat Malaka, malah sebaliknya ia hijrah ke Perlak setelah mendapat izin dari mertuanya Meurah Jeumpa.

Akibat dari perkawinan itu, Maharaj Syahriar Salman tidak lagi ikut rombongan niaga Persia melanjutkan pelayaran ke Selat Malaka. Pasangan ini memilih “hijrah” ke Perlak (sekarang Peureulak), sebuah kawasan kerajaan yang dipimpin Meurah Perlak. Tiada berapa lama, atas restu Meurah Jeumpa, Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang berangkat ke Negeri Peureulak, kedatangannya adalah diterima oleh Meurah Peureulak. Setelah baginda Meurah Peureulak berpulang ke rahmatullah, Baginda tidak mempunyai anak laki-laki. Meurah Perlak tak punya keturunan dan memperlakukan “pengantin baru” itu sebagai anak. Ketika Meurah Perlak meninggal, wilayah Perlak diserahkan kepada Maharaj Syahriar Salman, sebagai penguasa Perlak yang baru. Perkawinan Maharaj Syahriar Salman dan Putri Mayang Seludang dianugerahi empat putra dan seorang putri; Syahir Nuwi, Syahir Dauli, Syahir Pauli, Syahir Tanwi, dan Putri Tansyir Dewi.

Atas mufakat Pembesar-pembesar Negeri Peureulak serta rakyat, diangkatlah Pangeran Salman menjadi penguasa Peureulak yang baru. Dalam masa Baginda menjadi penguasa Peureulak, negeri menjadi makmur-rakyat sejahtera, ekonomi maju pesat karena hubungan perdagangan dan kapal-kapal asing ramai berdagang ke negeri Peureulak, terutama membeli hasil bumi dan rempah-rempah.

Rombongan dakwah yang terdiri dari pedagang dan keturunan raja-raja Sasanid yang berdakwah datang dari Persia meneruskan perjalanan mereka ke Selat Malaka, akan tetapi seorang anggota rombongan bernama MAHARAJ SYAHRIAR SALMAN yang menikahi puteri PENGUASA JEUMPA yaitu Mayang Seludang memilih menetap di Perlak. Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang mempunyai 4 orang putra dan 1 putri, masing-masing adalah: Syahir Nuwi, kemudian menggantikan ayahnya jadi penguasa Peureulak. Syahir Tanwi (Puri), kemudian pulang ke negeri Ibunya Jeumpa dan diangkat menjadi penguasa Jeumpa, menggantikan kakeknya yang telah meninggal dunia.

Syahir Puli, merantau ke Barat (Pidie, sekarang) kemudian di negeri itu diangkat menjadi penguasa Negeri Sama Indra (Pidie). Syahir Duli, setelah dewasa merantau ke daerah negeri barat paling ujung (Banda Aceh, sekarang), karena kecakapannya diangkat menjadi penguasa Negeri Indra Pura (Aceh Besar, sekarang). Putri Maghdum Tansyuri Mayang Seuludong bukan hanya berhasil menjadi pendamping suaminya tetapi juga berhasil menjadi seorang pendidik yang baik bagi anak-anaknya yang melanjutkan perjuangannya menyebarkan dakwah ajaran Islam. Ratu dikaruniai beberapa putra putri yang dikemudian hari menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah pengembangan Islam di Asia Tenggara.

Menurut Silsilah Sultan Melayu dan Silsilah Raja Aceh, beliau tidak lain adalah Putro Mayang Seulodong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala, anak penguasa Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa. Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga keturunan nya berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa, yang selanjutnya telah melahirkan Kerajaan Islam di Perlak,Pasai, Pedir dan Aceh Darussalam.

Kerajaan Perlak didirikan oleh Sultan Alaidin Sayid Maulana yang bermazhab Syiah pada tanggal 1 Muharram 225 H atau 840 Masehi, saat kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu di Jawa masih berjaya. Sebagai gebrakan mula-mula, sultan Alaiddin mengubah nama ibu kota kerajaan dari bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah.

Tidak semua Puteri Raja menjadi pendukung keberhasilan suaminya, bahkan ada yang menjadi penyebab kehancurannya. Ingatlah sosok Cleopatra, Sang Maha Ratu Mesir yang penuh intrik dan telah menghancurkan karir Penakluk Agung Yulius Caesar. Karena Yulius menikahi Cleopatra, maka karirnya sebagai Penguasa Agung atau Kaisar Agung Romawi hancur, dia dikhianati oleh pendukung dan pemujanya, bahkan rakyatnya sendiri melecehkannya karena membawa Cleopatra ke Romawi. Akhirnya Yulius yang diagungkan dipecat senat Romawi bahkan dibantai oleh anggota Senat di hadapan dewan terhormat tersebut tanpa pembelaaan. Demikian pula yang telah menimpa Anthony, pengganti Yulius karena nekad menikahi Cleopatra, karirnya hancur dan bunuh diri di Mesir akibat intrik Cleopatra yang penuh tipu daya.

Putro Manyang Seuludong bukanlah Cleopatra yang penuh intrik dan tipudaya. Anak beliau bernama Syahri Poli adalah pendiri dari wilayah Poli yang selanjutnya berkembang menjadi wilayah Pidier di wilayah Pidie sekarang yang wilayah kekuasaannya sampai ujung barat Sumatera. Syahri Tanti mengembangkan kerajaan yang selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Samudra-Pasai. Syahri Dito, yang melanjutkan mengembangkan Jeumpa. Syahri Nuwi menjadi penguasa dan pendiri dari wilayah Perlak. Sementara putrinya Makhdum Tansyuri adalah ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, Maulana Abdul Aziz Syah yang diangkat pada tahun 840 Masehi.

Kecerdasan dan kecantikan Putro Jeumpa yang diwariskan kepada keturunannya menjadi lambang keagungan putri-putri Islam yang berjiwa penakluk dalam memperjuangkan tegaknya Islam di bumi Nusantara. Tidak diragukan bahwa Putro Manyang Seuludong telah menjadi inspirasi bagi perjuangan para gadis dan putro-putro Jeumpa sesudahnya. Puteri-puteri Jeumpa telah menjadi lambang kewibawaan para wanita Islam di istana-istana Perlak, Pasai, Malaka bahkan sampai Majapahit sekalipun.

Pangeran Salman dan puteri Mayang Selundang dianugerahi empat orang putera dan seorang puteri. Mereka adalah Syahir Nuwi (Meurah Fu) yang menggantikan ayahnya menjadi penguasa Perlak dengan gelar Meurah Syahir Nuwi, kemudian Syahir Dauli pergi merantau ke negeri Indra Purba (Aceh Besar), sedangkan Syahir Pauli menrantau ke negeri Samaindera (Pidie) dan Syahir Tanwi kembali ke negeri ibunya di Jeumpa dan kemudian di angkat menjadi Meurah Negeri Jeumpa menggantikan kakeknya. Keempat putera Maharaj Syahrian Salman sering dikenal dengan kaum imam empat (kawom imum peuet) atau penguasa empat.

Sementara puteri mereka Tansyir Dewi menikah dengan seorang sayid keturunan Arab yang bernama Sayid Maulana Ali al-Muktabar. Sayid Ali Muktabar sendiri kemudian menikah dengan adik Syahir Nuwi yang bernama puteri Tansyir Dewi yang kemudian mereka dianugerahi seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Saat Sayid Maulana Abdul Aziz Syah dewasa, akhirnya dinobatkan menjadi Sultan Pertama Kerajaan Islam Perlak dengan gelarnya Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah yang silsilahnya sebagai berikut seperti yang ditulis oleh T. Syahbuddin Razi: Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Ali al-Muktabar bin Sayid Muhammad Diba’i bin Imam Ja’far Asshadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Sayidina Ali Muhammad Zain al-Abidin bin Sayidina Husain al-Syahid bin Sayidina Ali bin Abu Thalib.

Sayid Ali Muktabar bin Muhammad Dibai bin Imam Jakfar al-Shadiq merupakan salah satu keturunan dari Ali bin Abi Thalib, Muhammad bin Jakfar al-Shadiq adalah imam Syiah ke-6 yang juga masih keturunan Rasulullah SAW melalui anaknya Nabi bernama Siti Fatimah yang memegang pemerintahan pusat di Baghdad. Adapun silsilahnya sampai ke Rasulullah yaitu: Muhammad bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Muhammad Zain al-Abidin bin Sayidina Husain al-Syahid bin Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW.

Itulah sebabnya dalam perjalanan sejarah Aceh, senantiasa dipenuhi dengan wanita-wanita agung yang berjiwa patriotik dan penakluk serta membuat sejarah kegemilangannya masing-masing yang tidak pernah dicapai oleh wanita-wanita lainnya di Nusantara, bahkan di negeri Arab sekalipun. Dalam sejarah Aceh selanjutnya, tidak diragukan Putro Jeumpa Mayang Seuludong telah memberikan inspirasi kepada anak keturunannya, dan telah melahirkan wanita-wanita agung yang sangat berpengaruh dan memiliki kharisma serta kecantikan. Di antaranya adalah “ratu” Perlak bernama Makhdum Tansyuri (ibunda Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan Perlak pertama), Maha Ratu Kerajaan Pasai bernama Nahrishah, Maha Ratu Darwati (Dhawarawati) yang menjadi Maha Ratu Majapahit (ibunda Raden Fatah, Sultan Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa bernama Demak), Maha Ratu Tajul Alam Safiatuddin yang menjadi Maha Ratu Kerajaan Aceh Darussalam. Di samping itu ada yang menjadi panglima agung yang ditakuti musuh, seperti Laksamana Malahayati, Tjut Nyak Dhien, Tjut Meutia dan lain-lainnya.

Sepatutnya wanita-wanita agung inilah yang menjadi teladan bagi mereka yang memperjuangkan emansipasi wanita di Serambi Mekah ini. Bahwa kenyataannya, sebelum Barat melaungkan emansipasi, wanita-wanita Aceh telah menikmati kesetaraannya secara maksimal. Sebelumnya, dinasti Umayah dan Abasiyah sangat menentang aliran Syiah yang dipimpin oleh Ali bin Ali Abu Thalib, tidak heran pada masa dua dinasti tersebut tidak mendapatkan tempat yang aman dan selalu di ditindas karena jumlah minoritas, sehingga banyak dari penganut Syiah menyingkir dari wilayah yang dikuasai oleh dua dinasti tersebut.

Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (167-219 H/813-833 M)

Dicatat dalam sejarah, pada awal abad ke-9 Masehi telah datang rombongan 100 orang pendakwah dari Timur Tengah berlabuh di Perlak, diketuai seseorang yang dikenali sebagai Nakhoda Khalifah. Mereka ini dikatakan telah melarikan diri daripada buruan kerajaan selepas gagal dalam percobaan menggulingkan pemerintahan Bani Abbasiyah. Ahli rombongan ini dikatakan terdiri daripada keturunan Rasulullah SAW melalui puteri baginda Fatimah az Zahrah dan suaminya, Saidina Ali bin Abi Talib Karamallahu Wajhah, juga para penyokong yang ingin berada di bawah kepimpinan anak cucu Nabi. Termasuk di kalangan mereka adalah seseorang bernama Ali bin Muhammad bin Jaafar Al-Sadiq.

Ada catatan lama menyebut Merah Syahir Nuwi berasal dari keturunan seorang bangsawan Persia bernama Salman yang telah berhijrah ke bumi Serambi Mekah beberapa kurun terdahulu. Pelabuhan Perlak pula dikenali sebagai Bandar Khalifah sejak kedatangan rombongan 100 orang pendakwah itu, sempena nama ketua mereka Nakhoda Khalifah. Ketika itu, Perlak sedang diperintah raja berketurunan Persia, Merah Syahir Nuwi. Raja dan rakyat Perlak tertarik dengan akhlak ahli rombongan lalu menganut Islam, rombongan itu dimuliakan dan Sayid Ali dikahwinkan dengan adik perempuan penguasa Perlak yang bernama Makhdum Tansyuri. Atas dasar itulah, sebuah Armada Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang dibawah pimpinan Nahkoda Khalifah (turunan Qatar) memasuki Bandar Peureulak. maka berangkatlah satu kapal yang memuat rombongan angkatan dakwah yang di kemudian hari dikenal di Aceh dengan Nahkoda Khalifah dengan misi menyebarkan Islam. Salah satu anggota dan Nahkoda Khalifah itu adalah Sayid Ali al Muktabar bin Muhammad Dibai bin Imam Jakfar al-Shadiq.

Dari hijrah tersebut, berangkatlah satu kapal yang memuat rombongan angkatan dakwah termasuk di dalamnya Sayid Ali Muktabar. Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i yang terdiri dari orang-orang Arab suku Qurasy, Palestina, Persia dan India dibawah Nakhoda Khalifah dengan menyamar menjadi pedagang. Rombongan Nakhoda Khalifah ini disambut oleh penduduk dan penguasa negeri Perlak yakni pada masa Meurah Syahir Nuwi.

Mereka merapat di pelabuhan Perlak sebagai akibat dan kekalahan golongan Syi’ah oleh dinasti Abbasiyah. Dinasi Abbasiyah yang pada saat itu dipimpin Khalifah Al-Makmun (813-833) sehingga rombongan kaum Syi’ah yang berhijrah itu adalah rombongan Nahkoda Khalifah. Pemerintahan Perlak sendiri pada saat itu masih berupa pelabuhan yang dikelilingi pemukiman dan dibawah kontrol penguasa Syahir Nuwi.

Syahir Nuwi penguasa Perlak yang baru menggantikan ayahandanya. Dia bergelar Meurah Syahir Nuwi. Syahir Dauli diangkat menjadi Meurah di Negeri Indra Purba (sekarang Aceh Besar). Syahir Pauli menjadi Meurah di Negeri Samaindera (sekarang Pidie), dan si bungsu Syahir Tanwi kembali ke Jeumpa dan menjadi Meurah Jeumpa menggantikan kakeknya. Merekalah yang kelak dikenal sebagai “Kaom Imeum Tuha Peut” (penguasa yang empat). Dengan demikian, kawasan-kawasan sepanjang Selat Malaka dikuasai oleh darah keturunan Maharaj Syahriar Salman dari Dinasti Sassanid Persia dan bercampur dengan darah pribumi Jeumpa (sekarang Bireuen).

Kemudian datanglah rombongan berjumlah 100 orang yang dipimpin oleh Nakhoda Khalifah. Tujuan mereka adalah berdagang sekaligus berdakwah menyebarkan agama Islam di Perlak. Pemimpin dan para penduduk Negeri Perlak pun akhirnya meninggalkan agama lama mereka untuk berpindah ke agama Islam. Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i yang terdiri dan orang-orang Arab dan suku Quraish. Palestina. Persia, dan India di bawah pimpinan Nahkoda Khalifah sambil berdagang sekaligus berdakwah. Setiap orang mempunyai keterampilan khusus terutama di bidang pertanian, kesehatan. pemerintahan, strategi, dan taktik perang serta keahlian-keahlian lainnya.

Ketika sampai di Perlak, rombongan Nahkoda Khalifah disambut dengan damai oleh penduduk dan penguasa Perlak yang berkuasa saat itu yakni Meurah Syahir Nuwi. Pemerintahan Perlak sendiri pada saat itu masih berupa pelabuhan yang dikelilingi pemukiman dan dibawah kontrol penguasa Syahr Nuwi. Sayid Maulana Ali al Muktabar dalam rombongan pendakwah yang menyebarkan Islam di Hindi, Asia Tenggara dan kawasan-kawasan lainnya setelah Khalifah Makmun sebelumnya berhasil meredam ”pemberontakan” kaun Syiah di Mekkah yang dipimpin oleh Muhammad bin Ja’far Ashhadiq.

Berikut Silsilah Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah yang dikutip dan Silsilah Raja-raja Islam di Aceh dan Hubungannya dengan Raja-raja Islam di Nusantara yang ditulis oleh T. Syahbuddin Razi. “Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Ali Al Muktabar bin Sayid Muhammad Diba’i bin Imam Ja ‘far Asshadiq bin Imam Muhammad Al Baqir bin Saiyidina Ali Muhammad Zainal Abidin bin Saidina Hussin Assysyahid bin Saidina Ali bin Abi Thalib”. Sebagian dan anggota rombongan itu menikah dengan penduduk lokal termasuk Sayid Ali al Muktabar kemudian menikah dengan adik Syahir Nuwi yang bernama Puteri Tansyir Dewi. Pernikahan Sayid Ali Al-Muktabar ini dianugerahi seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Sayid Maulana Abdul Aziz Syah ini setelah dewasa dinobatkan menjadi Sultan Pertama Kerajaan Islam Perlak.

Adik bungsu Syahir Nuwi yaitu Putri Tansyir Dewi, menikah dengan Sayid Maulana Ali al Muktabar, anggota rombongan pendakwah yang tiba di Bandar Perlak dengan sebuah kapal di bawah Nakhoda Khalifah. Kapal itu memuat sekitar 100 pendakwah yang menyamar sebagai pedagang. Rombongan ini terdiri dari orang-orang Quraish, Palestina, Persia dan India.. Perkawinan Putri Tansyir Dewi dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar membuahkan seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, yang kelak setelah dewasa dinobatkan sebagai Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, sultan pertama Kerajaan Islam Perlak Sayid Maulana Ali al Muktabar berfaham Syiah, merupakan putra dari Sayid Muhammad Diba’i anak Imam Jakfar Asshadiq (Imam Syiah ke-6) anak dari Imam Muhammad Al Baqir (Imam Syiah ke-5), anak dari Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin, yakni satu-satunya putra Syaidina Husen, putra Syaidina Ali bin Abu Thalib dari perkawinan dengan Siti Fatimah, putri dari Muhammad Rasulullah saw. Lengkapnya silsilah itu adalah: Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Maulana Ali-al Muktabar bin Sayid Muhammad Diba’i bin Imam Ja’far Asshadiq bin Imam Muhammad Al Baqir bin Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin Sayidina Husin Assyahid bin Sayidina Alin bin Abu Thalib (menikah dengan Siti Fatimah, putri Muhammad Rasulullah saw).

Selanjutnya, salah satu anak buah Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad bin Ja`far Shadiq dinikahkan dengan Makhdum Tansyuri, adik dari Syahir Nuwi. Dari perkawinan mereka inilah lahir kemudian Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan pertama Kerjaan Perlak. Sultan kemudian mengubah ibukota Kerajaan, yang semula bernama Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, sebagai penghargaan atas Nakhoda Khalifah. Sultan dan istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, dimakamkan di Paya Meuligo, Perlak, Aceh Timur. Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah merupakan sultan yang beralirah paham Syiah. Aliran Syi’ah datang ke Indonesia melalui para pedagang dari Persia. Mereka masuk pertama kali melalui Kesultanan Perlak. Kerajaan Perlak berdiri tahun 840 M dengan rajanya yang pertama, Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah. Sebelumnya, memang sudah ada Negeri Perlak yang pemimpinnya merupakan keturunan dari Meurah Perlak Syahir Nuwi atau Maharaja Pho He La. Pendiri kesultanan Perlak adalah Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Shah yang menganut aliran atau Mahzab Syiah. Ia merupakan keturunan pendakwah Arab dengan perempuan setempat.

Kerajaan Perlak didirikan olehSultan Alaidin Sayid Maulana yang bermazhab Syiah pada tanggal 1 Muharram 225 H atau 840 Masehi, saat kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu di Jawa masih berjaya. Sebagai gebrakan mula-mula, sultan Alaiddin mengubah nama ibu kota kerajaan dari bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, yang beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 M).


Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, yang beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Sultan ini bersama istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, kemudian dimakamkan di Paya Meuligo, Peureulak, Aceh Timur. Kini jelaslah kepada kita bahwa – Kerajaan Islam Pertama Asia Tenggara (Peureulak) dimulai pada 840 M sampai dengan Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah Johan berdaulat adalah terakhir tahun 1292 M. Artinya, Dinasti Islamiyah di Peureulak telah Berjaya selama 452 tahun lamanya. Disini dapat kita simpulkan bahwa ada dua tokoh penyebar Islam ke Aceh yang berasal dari tanah Persia : 1. Maharaj Syahriar Salman: seorang pangeran keturunan Dinasti Sasanid Persia, 2. Sayid Maulana Ali al-Muktabar keturunan Rasulullah SAW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar