Sabtu, 21 Februari 2015

Syekh Ahmad Amin al Anthaki –Ketika Muslim Sunni Berpindah Ke Islam Syi’ah



Oleh Dewan Penerjemah Situs Sadeqin

Syekh Ahmad Amin Anthaki adalah Ahmad bin Amin bin Yusuf bin Ali bin Qanbar Alhazzah, dia lahir di desa Ainsu di sekitar Anthakiyah. Nama desa Ainsu terdiri dari dua kata Arab dan Turki; yakni 'Ain – Sufon (sumber – air). Nama ini diberikan kepada desa itu karena airnya yang deras dan berkahnya yang berlimpah. Dia lahir pada tahun 1893 M./1311 H., dari sejak kecil dia bermazhab Syafi'i dan dari saat itu pula dia menjalani jenjang pendidikannya di ruang pelajaran ayahnya.

Perjalanan Intelektual Syekh

Sebagaimana saudaranya, Muhammad Mar'i al Anthaki –penulis buku Limâdzâ Ikhtartu Madzhab Al-Syî‘ah- (Kenapa Aku Memilih Mazhab Syi’ah), dia tumbuh dalam lingkungan mazhab Syafi'i dan menimba ilmu-ilmu dasar dari ayahnya, kemudian dari salah satu syekh di desanya yang biasa dipanggil dengan Rajab; karena, dari dialah pelajar-pelajar setempat belajar ilmu saraf, nahwu dan lain sebagainya. Setelah itu, mereka berdua belajar dari salah satu syekh yang lain yang dikenal dengan panggilan Syekh Ahmad Thawil, begitu pula belajar dari Syekh Sa'id Urfi.

Setelah beberapa tahun menimba ilmu di daerah, dia bertekad untuk pergi ke kiblat ilmu saat itu, Al-Azhar Al-Syarif, untuk menyempurnakan perjalanan intelektualnya yang panjang. Dan tak lama kemudian, saudaranya juga bergabung bersamanya di sana.

Di sana, dia mengikuti pelajaran guru-guru besar; dia mempelajari ilmu saraf, nahwu, fikih dan usul fikih dari Muhammad Abuthah dan Syekh Muhammad Bakhit, mufti negeri Mesir saat itu, begitu pula dari Muhammad Samlut dan Syekh Hasanain. Syekh tertinggi Al-Azhar pada waktu itu adalah Syekh Muhammad Abulfadhl.

Setelah menuntut ilmu di sana, syekh bertekad untuk pulang ke tanah airnya untuk mengamalkan ilmu dan mengajarkannya kepada rakyat dan keluarganya di sana. Dia jadi pulang ke sana, akan tetapi dia tidak tinggal lama di sana, karena tak lama dari kepulangan dia, negeri itu dijajah oleh Imperialis Perancis.

Perjalanan Ke Hijaz

Melihat kondisi negerinya saat itu yang tidak kondusif sama sekali, akhirnya Syekh Ahmad Anthaki berniat untuk hijrah ke Hijaz, karena dia mendengar berita bahwa di negeri itu syariat Islam diterapkan sebaik mungkin.

Popularitas dia dan sambutan hangat atas pelajaran yang dia sampaikan di Suriah telah menarik perhatian berbagai pihak, bahkan Abdulaziz Sa'udi mengundangnya untuk menduduki posisi sebagai hakim syar'i di Saudi, namun karena dia menyaksikan bualan kelompok Wahabi dan pengkafiran mereka terhadap kelompok-kelompok muslim lain pada umumnya, maka dia menolak penawaran yang menggiurkan tersebut.

Perpindahan Syekh Ke Mazhab Syi'ah Itsna-Asyariyah

Perpindahan dari satu agama ke agama yang lain, atau dari mazhab dalam sebuah agama ke mazhab yang lain dalam agama tersebut, membutuhkan pertimbangan antara dua belah pihak, dan ketika agama atau mazhab tertentu terbukti benar oleh baik dalil rasional maupun tekstual, maka wajib hukumnya seseorang berpindah dari pihak yang salah ke pihak yang benar; karena, bukti-bukti telah lengkap atas dia. Hal yang sama telah terjadi pada Syekh Ahmad Amin Anthaki ketika terungkap bagi dia bahwa kebenaran bersama mazhab Syi'ah, dan bukti-bukti kebenarannya adalah disepakati baik oleh kelompok Ahlisunnah maupun kelompok Syi'ah. Dia melakukan pilihan itu pada saat berbagai tuduhan dan dusta yang sama sekali tidak berasaskan kecuali fanatisme buta sedang gencar-gencarnya ditikamkan kepada tubuh Syi'ah.

Di antara faktor-faktor yang menimbulkan keraguan pada diri Syekh Anthaki tentang mazhab Syafi'i dan mazhab-mazhab Ahlisunnah yang lain adalah, perselisihan dan kontradiksi yang nyata di antara mereka sehingga tidak mungkin perselisihan dan kontradiksi itu bermuara kepada Islam yang jernih. Syekh di dalam kitabnya yang berjudul Fî Thorîqî Ilâ Al-Tasyayyu‘, halaman 16 mengatakan, "Contohnya, saya melihat mazhab Syafi'i memperbolehkan pernikahan anak perempuan hasil zina dengan ayah pezina yang memproduksinya, alasan mazhab ini adalah air sperma hasil zina tidak terhormat, maka anak tersebut tidak patut dihubungkan dengan ayahnya, oleh karena itu lelaki pezina itu boleh menjalin akad nikah dengan anak perempuan hasil perzinaannya. Sedangkan Abu Hanifah mengharamkan akad itu."

Salah satu faktor yang mendorong Syekh Anthaki untuk berpindah ke mazhab Syi'ah adalah kitab Al-Murôja‘ât karya Allamah Abdulhusain Syarafudin Amili yang sampai ke tangannya. Dalam hal ini dia mengatakan, "Aku memulai membaca halaman-halamannya dengan takjub, aku pun sering berhenti dan memikirkan isi buku ini yang berupa dialog antara Sayid Abdulhusain Syarafudin dan Syekh Sulaim Basyari –Syekh tertinggi Al Azhar pada saat dialog-, Syekh Sulaim bertanya dan mempertanyakan, sedangkan Sayid Syarafudin menjawab dan memberikan penyelesaian ..."

Padahal, ketika pertama buku itu diberikan kepada Syekh Anthaki, dia menolaknya mentah-mentah, karena dia telah banyak mendengar “kesesatan” mazhab Syi'ah dan bahkan meyakini kesesatannya. Dia mengatakan, "Saudara sekandungku, Syekh Mur'i menemukan buku itu, lalu dia berkata kepadaku, "Terimalah buku ini dan bacalah, kemudian takjublah dan pikirkan isinya." Aku katakan kepadanya, "Dari kelompok mana buku ini?" Dia menjawab dari mazhab Ja'fari, maka aku katakan lagi kepadanya, "Untuk apa buku itu bagiku, jauhkan buku itu dariku, karena aku tidak membutuhkannya sama sekali, aku membenci Syi'ah dan aku tidak butuh mereka, karena aku tahu siapa mereka." Saudaraku kembali berkata, "Bacalah dulu buku ini dan jangan kamu apa-apakan, toh tidak ada bahayanya kamu membaca buku ini, iya kan?" (Fî Thorîqî Ilâ Al-Tasyayyu‘, halaman 17.)

Faktor lain yang punya peran besar dalam perpindahan Syekh Ahmad Anthaki dari mazhab Syafi'i ke mazhab Syi'ah adalah kitab Abû Huroiroh karya Sayid Abdulhusain Syarafudin Amili. Buku ini menyingkap bahwa banyak sekali riwayat Islam yang tidak luput dari tangan jahil, karena jumlahnya terlalu banyak dan sebagiannya bertentangan dengan akal, Al-Qur'an dan Sunnah. Contohnya adalah riwayat bahwa Musa as. menghantam muka malaikat maut sampai membutakan matanya, atau riwayat bahwa Musa as. berjalan telanjang bulat di tengah Bani Israil, atau riwayat bahwa Allah swt. menciptakan Adam seperti rupa dan bentuk-Nya, dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain. Ini adalah buku yang obyektif, berharga dan memberikan data-data yang akurat kepada anda bagaimana Abu Hurairah yang mengalami hidup Nabi Muhammad saw. tidak lebih dari tiga tahun mempunyai riwayat yang sebanyak itu, bahkan jika dibandingkan dengan riwayat-riwayat dari empat khalifah pertama Nabi saw., maka total riwayat-riwayat mereka 27% lebih sedikit daripada riwayat-riwayat Abu Hurairah sendiri.

Di samping itu semua, ada bukti-bukti kuat sekali sehingga mau tidak mau seseorang harus menerimanya, bukti-bukti itu diterima oleh tolok ukur-tolok ukur kebenaran dari dua belah pihak Ahlisunnah dan Syi'ah, siapa saja yang jujur dan adil pasti tunduk di hadapan bukti-bukti itu dan segera bergerak menuju Ahlibait as. serta mengikuti bimbingan mereka. Di antara bukti-bukti kuat dan berlimpah yang mempengaruhi Syekh Ahmad Anthaki adalah Hadis Safinah yang di dalamnya Rasulullah saw. bersabda, "Perumpamaan Ahlibaitku di antara kalian adalah umpama Bahtera Nuh; siapa saja yang menumpanginya pasti selamat, dan siapa saja yang berpaling darinya pasti tenggelam dan tersesat." (Lih: Mustadrok, Hakim Nisaburi, jilid 2, hal. 342; Al-Showâ‘iq Al-Muhriqoh, hal. 153, dll.)

Begitu pula Hadis Tsaqolain yang di dalamnya Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka yang sangat berharga di tengah kalian; kitab Allah dan keluargaku, Ahlibaitku, selama kalian berpegang teguh kepada kedua-duanya niscaya setelahku kalian tidak akan sesat selama-lamanya, ketahuilah dua pusaka itu tidak akan pernah berpisah sampai mereka berdua datang kepadaku di telaga, maka perhatikanlah baik-baik bagaimana kalian memperlakukan mereka setelahku." (Lih: Shohîh Muslim, jilid 2, hal. 238; Musnad Ahmad Bin Hanbal, jilid 3, hal. 17; Shohîh Al-Tirmidzî, jilid 2, hal. 308, dll.)

Rasulullah saw. mengumpamakan Ahlibait beliau –dan menurut riwayat di dalam buku-buku induk hadis sahih Ahlisunnah adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan sembilan imam dari keturunannya- dengan bahtera Nuh, karena keselamatan hanya ada pada mereka sebagaimana keselamatan hanya pernah ada pada bahtera Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, gunung dan bukit apapun tidak bisa menyelamatkan seseorang.

Rasulullah saw. juga menggandengkan Ahlibait beliau dengan Al-Qur'an, dan ini menunjukkan makna yang jelas –tanpa keraguan sama sekali- bahwa mereka lebih tahu tentang Al-Qur'an, suci dan disucikan secara sempurna seperti Al-Qur'an. Jika tidak demikian halnya, maka penyerupaan dan penggandengan itu keliru dan sia-sia. Untuk keterangan lebih lanjut, kami sarankan kepada pembaca untuk merujuk kepada buku Al-Muroja‘ât karya Abdulhusain Syarafudin –yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia: Dialog Sunnah Syi'ah-, dia membawakan bukti-bukti yang mayoritasnya terdapat di sumber-sumber Ahlisunnah yang menyatakan keutamaan Ahlibait as. dan hak mereka.

Inilah sebagian faktor yang menyingkirkan debu penghalang dari dua mata Syekh Ahmad Anthaki dan membuatnya berpindah dari mazhab Syafi'i ke mazhab Syi'ah.

Inilah sekilas tentang riwayat hidup ulama yang jujur, adil, netral, dan pengikut kebenaran di mana pun berada. Adapun cerita perubahannya secara utuh dia tulis sendiri berikut alasan-alasannya di dalam buku yang berjudul Fî Thorîqî Ilâ Al-Tasyayyu‘, sebagaimana saudara dia juga punya buku yang serupa dan berjudul Limâdzâ Ikhtartu Madzhab Al-Syî‘ah.

Senin, 16 Februari 2015

‘Irfan Syi’ah –Khotbah Ke-184 Imam Ali (Tentang Semut, Belalang, dan Penciptaan Semesta)




Segala puji bagi Allah. la sedemikian sehingga indera tak dapat melihat-Nya, tempat tak dapat menampung-Nya, mata tak dapat melihat-Nya, dan tirai tak dapat menutup-Nya. la membuktikan kekekalan-Nya dengan terjadinya ciptaan-Nya, dan dengan memulai ciptaan-Nya (la membuktikan) maujud-Nya, dan dengan (saling) keserupaan mereka la membuktikan bahwa tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. la benar dalam janji-Nya. la terlalu tinggi untuk berlaku lalim kepada makhluk-makhluk-Nya. la berdiri dengan keadilan di antara ciptaan-Nya dan melaksanakan keadilan atas mereka dalam hukum-hukum-Nya. la memberikan bukti-bukti melalui penciptaan atas keberadaan-Nya yang azali, melalui tanda-tanda ketidak-mampuan mereka atas kekuasaan-Nya, dan melalui ketidakberdayaan mereka terhadap maut atas kekekalan-Nya.

la Esa, tetapi bukan dengan hitungan. la kekal tanpa batas. la maujud tanpa topangan. Pikiran mengakui-Nya tanpa (kegiatan) indera. Hal-hal yang dapat dilihat menyaksikan-Nya tanpa berhadap-hadapan dengan-Nya. Imajinasi tak dapat meliput-Nya. la menyatakan Diri-Nya kepada imajinasi dengan pertolongan-Nya bagi imajinasi, dan menolak untuk diimajinasikan oleh imajinasi. la telah menjadikan imajinasi perantara (dalam hal ini). la tidak besar dalam pengertian bervolume besar dan dengan demikian maka badan-Nya juga besar. Tidak pula la besar dalam pengertian bahwa batas-batas-Nya harus membentang sampai ke ujung terjauh dan karena itu kerangka-Nya luas. Tetapi la besar dalam kedudukan dan besar dalam wewenang.

Saya bersaksi bahwa Muhammad (saw) adalah hamba-Nya, Nabi-Nya yang terpilih dan pengemban amanat-Nya yang bertanggung jawab. Allah mengutusnya dengan bukti-bukti yang tak tersangkal, keberhasilan yang terang dan jalan yang terbuka. Demikianlah beliau menyampaikan risalah yang menyatakan kebenaran dengannya. Beliau memimpin manusia di jalan besar (yang benar), menegakkan tanda-tanda petunjuk dan menara-menara cahaya, dan membuat tali Islam menjadi kuat dan simpul-simpulnya kukuh.

Sebagian dari Khotbah yang Sama Tentang Penciptaan Jenis-jenis Hewan

Sekiranya mereka merenungkan keagungan kekuasaan-Nya dan luas-nya nikmat-Nya, tentu mereka sudah kembali ke jalan yang benar dan takut akan hukuman neraka; tetapi hati berpenyakit dan mata tak murni. Tidakkah mereka melihat hal-hal kecil yang telah diciptakan-Nya, bagaimana la memperkuat jaringannya dan membuka bagi mereka pendengaran dan penglihatan dan membuat bagi mereka tulang dan kulit? Lihatlah semut dengan tubuhnya yang kecil dan bentuknya yang halus. la hampir tak terlihat di sudut mata, tak dapat pula ditangkap oleh imajinasi—betapa ia berjalan di bumi dan menggunakan rezekinya. la membawa gabah ke lobangnya dan menyimpannya di tempat kediamannya. la mengumpulkan selama musim panas untuk musim dinginnya, dan selama kuat untuk masa lemahnya. Rezekinya terjamin, dan diberi makan menurut pantasnya. Allah Yang Baik tidak melupakannya dan (Allah Yang Pemberi) tidak merenggut haknya, walaupun ia berada di batu kering atau karang yang kokoh.

Apabila engkau memikirkan tentang jalan pencernaannya di bagiannya yang tinggi dan rendah, selaput belulang pada perutnya, dan matanya dan telinganya di kepalanya, engkau akan takjub tentang penciptaannya dan engkau akan merasakan kesulitan dalam menggambarkannya. Mahatinggi Dia yang membuatnya berdiri pada kaki-kakinya dan menegakkannya pada tiang-tiangnya (anggotanya). Tak ada sekutu yang turut beserta-Nya dalam memulainya dan tak ada sesuatu yang berkuasa membantu-Nya dalam penciptaannya. Apabila engkau melangkah pada jalan imajinasimu, dan mencapai ujungnya, hal itu tak akan membawa engkau ke mana-mana kecuali bahwa Pencipta semut itu adalah sama dengan Pencipta kurma, karena segala sesuatu mempunyai (kehalusan) dan detail yang sama, dan setiap makhluk hidup mempunyai sedikit perbedaan.

Penciptaan Alam Semesta

Dalam ciptaan-Nya, yang besar, yang halus, yang berat, yang ringan, yang kuat, yang lemah, semuanya sama.[1] Demikian pula langit, udara, angin, dan air. Oleh karena itu engkau lihatlah matahari, bulan, tumbuhan, tanaman, air, batu, perbedaan malam ini dan siang, mengalirnya sungai-sungai, banyaknya gunung-gunung, tingginya puncak-puncaknya, perbedaan bahasa-bahasa dan aneka ragamnya lidah. Maka celakalah orang yang tidak mempercayai Pengatur dan menolak Penguasa. Mereka percaya bahwa mereka adalah seperti rumput yang untuk itu tak ada pemelihara dan tak ada yang membuat bentuknya yang aneka ragam. Mereka tidak bersandar pada sesuatu argumen atas apa yang mereka tegaskan, dan tak ada pula penelitian atas apa yang mereka dengar. Mungkinkah ada bangunan tanpa pembangun, atau pelanggaran tanpa ada yang melanggar?

Penciptaan Belalang yang Menakjubkan

Apabila engkau mau, engkau dapat mengatakan pula tentang belalang. Allah memberikan kepadanya dua mata yang merah, menerangi bagi mereka dua bulan—seperti bola mata—membuatkan untuknya telinga yang kecil, membukakan baginya mulut yang sesuai, dan memberikan kepadanya indera yang peka, memberikan kepadanya dua gigi untuk memotong dengannya dan dua kaki seperti arit untuk menggenggam. Para petani takut kepadanya karena mereka tak dapat mengusirnya walaupun mereka bergabung. Belalang menyerang lahan dan memuaskan hasratnya (laparnya) darinya walaupun badannya tak sebesar jari yang kecil.

Tentang Kemuliaan Allah

Mahasuci Allah yang di hadapan-Nya setiap yang di langit atau di bumi tunduk bersujud dengan sukarela atau terpaksa, menyerah kepada-Nya dengan menaruh pipi dan wajahnya (di debu), jatuh ke hadapan-Nya (dalam ketaatan) secara damai dan merendah, dan menyerahkan kepada-Nya kendali penuh dalam ketakutan dan kekhawatiran.

Burung-burung terikat oleh perintah-perintah-Nya. la mengetahui jumlah bulu mereka dan napas mereka. la telah membuat kaki mereka berdiri di air maupun di darat. la menetapkan rezeki mereka. la mengetahui jenis-jenisnya: ini gagak, ini elang, ini merpati, dan ini burung unta. la memanggil setiap burung dengan namanya (sementara menciptakannya) dan menyediakan rezekinya. la menciptakan awan-awan yang berat dan menghasilkan darinya hujan yang lebat dan menyebarkannya di berbagai (bagian) bumi. la membasahkan tanah setelah keringnya dan menumbuhkan tumbuhan darinya setelah gersangnya.

Catatan:

[1] Maksudnya adalah bahwa apabila hal yang paling kecil diuji, akan kedapatan bahwa ia mengandung apa-apa yang terdapat pada makhluk-makhluk yang besar, dan masing-masing akan menunjukkan refleksi yang sama dari alam, kemahiran mencipta dan pelaksanaan, dan rasio dari setiap kekuasaan dan kekuatan Allah akan sama, apakah itu sekecil semut atau sebesar pohon kurma. Bukanlah bahwa membuat sesuatu yang kecil itu mudah sedang membuat yang besar sulit bagi-Nya, karena perbedaan warna, ukuran kuantitas, hanyalah didasarkan pada titah kebijaksanaan-Nya dan keperluan, tetapi mengenai penciptaan itu sendiri tak ada perbedaan di antaranya. Oleh karena itu, keseragaman penciptaan merupakan suatu bukti akan keesaan dan ketunggalan Yang Maha Pencipta.
 
Sumber: Nahjul Balaghah

Sabtu, 07 Februari 2015

Al-Khawarizmi Sang Peletak Dasar Aljabar




Muhammad bin Mūsā al-Khawārizmī adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja sebagai dosen di Sekolah Kehormatan di Baghdad

Buku pertamanya, al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika beliau, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.

Kontribusi beliau tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan. Kata Aljabar berasal dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku beliau. Kata logarisme dan logaritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit.

Biografi

Sedikit yang dapat diketahui dari hidup beliau, bahkan lokasi tempat lahirnya sekalipun. Nama beliau mungkin berasal dari Khwarizm (Khiva) yang berada di Provinsi Khurasan pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah (sekarang Xorazm, salah satu provinsi Uzbekistan). Gelar beliau adalah Abū ‘Abdu llāh atau Abū Ja’far.

Dalam Kitāb al-Fihrist Ibnu al-Nadim, kita temukan sejarah singkat beliau, bersama dengan karya-karya tulis beliau. Al-Khawarizmi menekuni hampir seluruh pekerjaannya antara 813-833. setelah Islam masuk ke Persia, Baghdad menjadi pusat ilmu dan perdagangan, dan banyak pedagang dan ilmuwan dari Cina dan India berkelana ke kota ini, yang juga dilakukan beliau. Dia bekerja di Baghdad pada Sekolah Kehormatan yang didirikan oleh Khalifah Bani Abbasiyah Al-Ma'mun, tempat ia belajar ilmu alam dan matematika, termasuk mempelajari terjemahan manuskrip Sanskerta dan Yunani.

Karya

Karya terbesar beliau dalam matematika, astronomi, astrologi, geografi, kartografi, sebagai fondasi dan kemudian lebih inovatif dalam aljabar, trigonometri, dan pada bidang lain yang beliau tekuni. Pendekatan logika dan sistematis beliau dalam penyelesaian linear dan notasi kuadrat memberikan keakuratan dalam disiplin aljabar, nama yang diambil dari nama salah satu buku beliau pada tahun 830 M, al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-jabr wa'l-muqabala atau: "Buku Rangkuman untuk Kalkulasi dengan Melengkapakan dan Menyeimbangkan”, buku pertama beliau yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12.


Pada buku beliau, Kalkulasi dengan angka Hindu, yang ditulis tahun 825, memprinsipkan kemampuan difusi angka India ke dalam perangkaan timur tengah dan kemudian Eropa. Buku beliau diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Algoritmi de numero Indorum, menunjukkan kata algoritmi menjadi bahasa Latin.

Beberapa kontribusi beliau berdasar pada Astronomi Persia dan Babilonia, angka India, dan sumber-sumber Yunani.

Sistemasi dan koreksi beliau terhadap data Ptolemeus pada geografi adalah sebuah penghargaan untuk Afrika dan Timur Tengah. Buku besar beliau yang lain, Kitab surat al-ard ("Pemandangan Bumi";diterjemahkan oleh Geography), yang memperlihatkan koordinat dan lokasi dasar yang diketahui dunia, dengan berani mengevaluasi nilai panjang dari Laut Mediterania dan lokasi kota-kota di Asia dan Afrika yang sebelumnya diberikan oleh Ptolemeus.

Ia kemudian mengepalai konstruksi peta dunia untuk Khalifah Al-Ma’mun dan berpartisipasi dalam proyek menentukan tata letak di Bumi, bersama dengan 70 ahli geografi lain untuk membuat peta yang kemudian disebut “ketahuilah dunia”. Ketika hasil kerjanya disalin dan ditransfer ke Eropa dan Bahasa Latin, menimbulkan dampak yang hebat pada kemajuan matematika dasar di Eropa. Ia juga menulis tentang astrolab dan sundial.

Kitab I - Aljabar

Al-Kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa-l-muqābala (Kitab yang Merangkum Perhitungan Pelengkapan dan Penyeimbangan) adalah buku matematika yang ditulis pada tahun 830. Kitab ini merangkum definisi aljabar. Terjemahan ke dalam bahasa Latin dikenal sebagai Liber algebrae et almucabala oleh Robert dari Chester (Segovia, 1145) dan juga oleh Gerardus dari Cremona.

Dalam kitab tersebut diberikan penyelesaian persamaan linear dan kuadrat dengan menyederhanakan persamaan menjadi salah satu dari enam bentuk standar (di sini b dan c adalah bilangan bulat positif)   

http://4.bp.blogspot.com/-H9LzH9azxlA/USoRg38l89I/AAAAAAAAHgY/jCh1CNxMwZc/s1600/al-khwarizmi-method-1.jpg

dengan membagi koefisien dari kuadrat dan menggunakan dua operasi: al-jabr ( الجبر ) atau pemulihan atau pelengkapan) dan al-muqābala (penyetimbangan). Al-jabr adalah proses memindahkan unit negatif, akar dan kuadrat dari notasi dengan menggunakan nilai yang sama di kedua sisi. Contohnya, x^2 = 40x - 4x^2 disederhanakan menjadi 5x^2 = 40x. Al-muqābala adalah proses memberikan kuantitas dari tipe yang sama ke sisi notasi. Contohnya, x^2 + 14 = x + 5 disederhanakan ke x^2 + 9 = x.

Beberapa pengarang telah menerbitkan tulisan dengan nama Kitāb al-ǧabr wa-l-muqābala, termasuk Abū Ḥanīfa al-Dīnawarī, Abū Kāmil (Rasāla fi al-ǧabr wa-al-muqābala), Abū Muḥammad al-‘Adlī, Abū Yūsuf al-Miṣṣīṣī, Ibnu Turk, Sind bin ‘Alī, Sahl bin Bišr, dan Šarafaddīn al-Ṭūsī.

Kitab 2 - Dixit algorizmi

Buku kedua besar beliau adalah tentang aritmatika, yang bertahan dalam Bahasa Latin, tapi hilang dari Bahasa Arab yang aslinya. Translasi dilakukan pada abad ke-12 oleh Adelard of Bath, yang juga menerjemahkan tabel astronomi pada 1126.

Pada manuskrip Latin,biasanya tak bernama,tetapi umumnya dimulai dengan kata: Dixit algorizmi ("Seperti kata al-Khawārizmī"), atau Algoritmi de numero Indorum ("al-Kahwārizmī pada angka kesenian Hindu"), sebuah nama baru di berikan pada hasil kerja beliau oleh Baldassarre Boncompagni pada 1857. Kitab aslinya mungkin bernama Kitāb al-Jam’a wa-l-tafrīq bi-ḥisāb al-Hind ("Buku Penjumlahan dan Pengurangan berdasarkan Kalkulasi Hindu")

Kitab 3 - Rekonstruksi Planetarium

Buku ketiga beliau yang terkenal adalah Kitāb surat al-Ardh "Buku Pemandangan Dunia" atau "Kenampakan Bumi" diterjemahkan oleh Geography), yang selesai pada 833 adalah revisi dan penyempurnaan Geografi Ptolemeus, terdiri dari daftar 2402 koordinat dari kota-kota dan tempat geografis lainnya mengikuti perkembangan umum.

Hanya ada satu kopi dari Kitāb ṣūrat al-Arḍ, yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Strasbourg. Terjemahan Latinnya tersimpan di Biblioteca Nacional de España di Madrid. Judul lengkap buku beliau adalah Buku Pendekatan Tentang Dunia, dengan Kota-Kota, Gunung, Laut, Semua Pulau dan Sungai, ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi berdasarkan pendalaman geografis yang ditulis oleh Ptolemeus dan Claudius.

Buku ini dimulai dengan daftar bujur dan lintang, termasuk “Zona Cuaca”, yang menulis pengaruh lintang dan bujur terhadap cuaca. Oleh Paul Gallez, dikatakan bahwa ini sanagat bermanfaat untuk menentukan posisi kita dalam kondisi yang buruk untuk membuat pendekatan praktis. Baik dalam salinan Arab maupun Latin, tak ada yang tertinggal dari buku ini. Oleh karena itu, Hubert Daunicht merekonstruksi kembali peta tersebut dari daftar koordinat. Ia berusaha mencari pendekatan yang mirip dengan peta tersebut.
Buku 4 - Astronomi

Kampus Corpus Christi MS 283

Buku Zīj al-sindhind (tabel astronomi) adalah karya yang terdiri dari 37 simbol pada kalkulasi kalender astronomi dan 116 tabel dengan kalenderial, astronomial dan data astrologial sebaik data yang diakui sekarang.


Versi aslinya dalam Bahasa Arab (ditulis 820) hilang, tapi versi lain oleh astronomer Spanyol Maslama al-Majrīṭī (1000) tetap bertahan dalam bahasa Latin, yang diterjemahkan oleh Adelard of Bath (26 Januari 1126). Empat manuskrip lainnya dalam bahasa Latin tetap ada di Bibliothèque publique (Chartres), the Bibliothèque Mazarine (Paris), the Bibliotheca Nacional (Madrid) dan the Bodleian Library (Oxford).

Buku 5 - Kalender Yahudi

Al-Khawārizmī juga menulis tentang Penanggalan Yahudi (Risāla fi istikhrāj taʾrīkh al-yahūd "Petunjuk Penanggalan Yahudi"). Yang menerangkan 19-tahun siklus interkalasi, hukum yang mengatur pada hari apa dari suatu minggu bulan Tishrī dimulai; memperhitungkan interval antara Era Yahudi (penciptaan Adam) dan era Seleucid; dan memberikan hukum tentang bujur matahari dan bulan menggunakan Kalender Yahudi. Sama dengan yang ditemukan oleh al-Bīrūnī dan Maimonides.

Karya lainnya

Beberapa manuskrip Arab di Berlin, Istanbul, Tashkent, Kairo dan Paris berisi pendekatan material yang berkemungkinan berasal dari al-Khawarizmī. Manuskrip di Istanbul berisi tentang sundial, yang disebut dalam Fihirst. Karya lain, seperti determinasi arah Mekkah adalah salah satu astronomi sferik.

Dua karya berisi tentang pagi (Ma’rifat sa’at al-mashriq fī kull balad) dan determinasi azimut dari tinggi (Ma’rifat al-samt min qibal al-irtifā’).

Beliau juga menulis 2 buku tentang penggunaan dan perakitan astrolab. Ibnu al-Nadim dalam Kitab al-Fihrist (sebuah indeks dari bahasa Arab) juga menyebutkan Kitāb ar-Ruḵāma(t) (buku sundial) dan Kitab al-Tarikh (buku sejarah) tapi 2 yang terakhir disebut telah hilang.

Rabu, 04 Februari 2015

Sufisme Memandang Sains [1]



Oleh Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah)

Dalam pengertiannya yang universal sufisme adalah dimensi mistis seluruh agama. Dalam konteks Islam, sufisme adalah dimensi mistis Islam. Robert Frager, Syekh Sufi dan Profesor Psikologi pada Institute of Transpersonal Psychology, California, mengatakan bahwa sufisme tidak berbeda dengan mistisisme dari semua agama. Laksana sungai yang mengalir melewati banyak negara dan yang diakui sebagai milik masing-masing negara itu, sufisme sebenarnya hanya berujung pada satu muara. Seluruh mistisisme memiliki tujuan yang sama, yakni pengalaman ketuhanan langsung.[2]

Dilihat dari pengertian ini sufisme identik dengan Islam atau agama Islam, tetapi dilihat dari pengertian lain sufisme tidak identik dengan Islam atau agama Islam dalam pandangan orang-orang Muslim yang menolak sufisme. Tidak semua orang Muslim menerima sufisme, apalagi sufisme teosofis yang mengajarkan doktrin wahhdatul-wujud. Banyak di antara orang-orang Muslim yang mengecam sufisme. Mereka memandang bahwa sufisme adalah aliran dan gerakan yang ditambahkan kepada Islam setelah periode Nabi Muhammad saw. Menurut mereka, sufisme bukan asli Islam, tidak pernah diajarkan dan dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw. Di mata mereka, sufisme adalah aliran sesat, atau, paling tidak, merugikan umat Islam. Sebaliknya, para pendukung sufisme memandang bahwa sufisme adalah intisari Islam, yang justru mengemban pesan Islam hakiki. Sufisme bersumber dari al-Quran dan sunah. Sufisme sebagai jalan dan sikap hidup telah diajarkan dan dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw. Di mata para pendukung sufisme, Nabi Muhammad saw adalah Manusia Sempurna (Insan Kamil) yang paling sempurna. Sufisme dan Islam hakiki adalah satu dan sama, itu-itu juga.

Jika sufisme berbeda dengan agama, pertanyaan, "Mungkinkah sains dan sufisme selaras?" tidak sama dengan pertanyaan, "Mungkinkah sains dan agama selaras?" Dua pertanyaan ini adalah sama jika yang dimaksud dengan agama di sini adalah agama mistis, atau agama sufi, yang dapat dibedakan dengan agama profetik atau agama non-mistis. Agama mistis menekankan imanensi Tuhan sedangkan agama profetik menekankan transendensi-Nya. Agama-agama mistis tumbuh subur di India dan Cina, sedangkan agama-agama profetik hidup dengan kuat di Timur Tengah dan di Barat.

Perspektif

Pada kesempatan ini, perkenankanlah saya menceritakan kecaman seorang Muslim terhadap teori sains dasar yang dianggapnya telah dimasukkan ke dalam doktrin wahdatul-wujud, doktrin bahwa satu-satunya wujud hakiki adalah Tuhan, sedangkan alam adalah tempat penampakan diri Tuhan. Orang yang mengecam teori sains dasar itu adalah Javid Ansari, seorang pemikir Muslim revivalis asal Pakistan. Ia mengecam penelitian sains dasar yang dilakukan oleh Profesor Abdussalam, Pemenang Hadiah Nobel 1979 dalam bidang fisika. Javid Ansari mengatakan bahwa setelah suatu masa penelitian Profesor Abdussalam mendemonstrasikan bahwa tenaga-tenaga elektromagnetik dan nuklir lemah –dua dari empat tenaga "fundamental" yang dianggap ada dalam alam ini– pada dasarnya adalah identik. Percobaan berikutnya dilakukan untuk menunjukkan bahwa tenaga nuktlir kuat adalah identik dengan tenaga elektromagnetik. Profesor Abdussalam telah membuktikan bahwa "fakta yang menunjukkan bahwa kita telah mencari satu kesatuan di antara tenaga-tenaga alam yang kelihatannya terpisah adalah bagian dari iman kita sebagai fisikawan…diberi hak istimewa untuk memahami bagian disain Tuhan adalah rahmat dan hak istimewa."

Di mata Javid Ansari, tidak ada yang Islami secara esensial tentang teori Profesor Abdussalam, yang bisa ditemukan dalam karya-karya kaum materialis Yunani Kuno dan yang juga ditemukan dalam karya-karya kaum materialis modern. Konsep kesatuan wujud telah dimasukkan ke dalam doktrin wahdatul-wujud oleh banyak kelompok heterodoks yang menghadirkan Islam sebagai sebuah kombinasi sinkretik dari tema-tema metafisis Arya dan Semitik dan menolak keunikannya.

Demikianlah bagian tulisan Javid Ansari sebagai kecaman terhadap Profesor Abdussalam dalam suatu perdebatan ilmu pengetahuan di Dunia Islam 20 tahun lalu. Perdebatan itu dimuat dalam Arabia pada 1982 dan 1983.[3] Kita dapat mengambil dua kesimpulan dari kecaman Javid Ansari ini. Pertama, dalam pandangan Javid Ansari, teori sains dasar yang dianut oleh Pofesor Abdussalam sejalan dengan doktrin wahdatul-wujud, doktrin yang dianut oleh para sufi mazhab Ibnu Arabi. Kedua, dalam pandangan Javid Ansari, baik teori sains dasar itu maupun doktrin wahdatul-wujud tidak sesuai dengan Islam, alias sesat.

Sikap menentang teori sains dasar tadi dan doktrin Sufi tentang wahdatul-wujud yang mempengaruhi teori itu adalah suatu perspektif. Sikap mendukung teori sains dasar itu dan doktrin wahdatul-wujud adalah suatu persepektif. Sains adalah suatu perpspektif. Sufisme adalah suatu perspektif. Filsafat adalah suatu perspektif. Teologi adalah suatu perspektif. Fikih adalah suatu perspektif. Perspektif adalah cara memandang atau cara melihat tentang realitas, dunia, alam, atau sesuatu. Perspektif, dengan demikian, berbeda dengan realitas, dunia, alam, atau sesuatu itu.

Niels Bohr betul ketika mengatakan bahwa "Physics is not about how the world is, it is about what we can say about the world"[4] (Fisika bukanlah tentang bagaimana alam sebagaimana adanya, ia adalah tentang apa yang bisa kita katakan tentang alam). Misalnya, fisika Newton berbeda dengan fisika Einstein. Karena itu, dunia atau alam dalam fisika Newton berbeda dengan dunia atau alam dalam fisika Einstein meskipun dunia atau alam yang dilihat melalui dua perspektif itu adalah satu dan sama. Dunia dalam penglihatan suatu teori fisika tidak lagi objektif. Yang menjadi persoalan sebenarnya bukanlah realitas, dunia, alam, atau sesuatu, tetapi adalah bagaimana perspektif kita dalam melihat, memandang, atau bersikap terhadap realitas, dunia, alam, atau sesuatu itu.

Dua Cara Berpikir

Warna atau bentuk suatu perspektif ditentukan oleh cara berpikir. Secara garis besar, cara berpikir dapat diklasifikasikan ke dalam dua macam: Berpikir rasional (rational thinking) dan berpikir imaginal (imaginal thinking).[5] Berpikir rasional, yang sering juga disebut berpikir diskursif, bertumpu pada penggunaan akal. Berpikir rasional menekankan kemajemukan, diversitas, perbedaan, dan keterpisahan. Ini adalah cara berpikir "entah ini atau itu." Cara berpkir ini dalam sejarah Islam digunakan oleh para fakih, mutakallim (teolog), dan filosof Peripatetik. Javid Ansari, yang menolak teori sains dasar yang dianut oleh Profesor Abdussalam dan menolak doktrin wahdatul-wujud, seperti disebut di atas, termasuk pemikir yang menggunakan cara berpikir rasional. Berpikir imaginal, yang sering juga disebut berpikir intuitif, menekankan penggunaan hati. Berpikir imaginal cenderung menekankan keesaan, keidentikan, dan pemaduan. Ini adalah cara berpikir "baik ini maupun itu," atau "kedua-duanya." Cara berikir ini menggunakan prinsip coincidentia oppositorum atau prinsip hubungan yin-yang. Cara berpikir ini dalam sejarah Islam digunakan oleh para sufi, filosof yang sufi atau filosof Iluminasionis (Isyraqi).

Tentang hubungan antara Tuhan dan alam, misalnya, para teolog dan filosof menekankan perbedaan dan keterpisahan antara Tuhan dan alam, transendensi Tuhan atas alam. Sedangkan para mistikus atau sufi menekankan kesatuan dan keidentikan Tuhan dan alam, dan pemaduan imanensi dan transendensi Tuhan.

Pertanyaan, "Mungkinkah sains dan sufisme selaras?" tidak dapat dijawab dengan sederhana karena dua alasan. Pertama, yang dimaksud sains tidak hanya sains-sains kealaman, tetapi juga sains-sains sosial. Sains-sains kealaman memiliki ciri-ciri yang bebeda dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh sains-sains sosial. Apakah keselarasan yang dipertanyakan adalah keselarasan antara sains-sains kealaman dan sufisme, atau keselarasan antara sains-sains sosial dan sufisme, atau keselarasan antara sains-sains (baik kealaman maupun sosial) dan sufisme. Kedua, ada persoalan-persoalan tertentu dalam sains yang menimbulkan perbedaan pendapat bukan hanya antara para ilmuwan dan para pemikir agama, tetapi juga antara sesama para pemikir agama. Teori evolusi, misalnya, didukung oleh banyak ilmuwan, filosof dan mistikus, tetapi juga ditolak oleh beberapa ilmuwan, filosof, dan mistikus.

Karya Fritjof Capra The Tao of Physics sering dijadikan rujukan dan sekaligus contoh yang sangat bagus oleh para sarjana dan pemikir untuk menunjukkan kesamamaan-kesamaan antara sains dan mistisisme Timur.[6] Karya ini memperlihatkan kesamaan-kesamaan antara fisika modern dan mistisisme Timur yang diwakili oleh Hinduisme, Buddhisme, dan Taoisme. Karya ini dapat mendorong dan membantu pemikir-pemikir Muslim untuk mencari kesamaan-kesamaan antara fisika modern dan sufisme karena kesamaan-kesamaan antara sufisme dan mistisisme Timur. Karya Toshihiko Izutsu Sufism and Taoisme [7] adalah contoh yang sangat bagus dari suatu kajian perbandingan yang menunjukkan kesamaan-kesamaan antara konsep-konsep filosofis kunci dalam sufisme yang diwakili oleh Ibnu Arabi, pada satu pihak, dan konsep-konsep filosofis kunci dalam Taoisme yang diwakili oleh Lao Tzu dan Chuang Tzu, pada pihak lain. Jika benar Sufisme dan Taoisme memiliki kesamaan-kesamaan dalam konsep-konsep filosofis kunci, sufisme dan fisika modern juga memiliki kesamaan-kesamaan sebagaimana kesamaan-kesamaan yang dimiliki bersama oleh fisika modern dan Taoisme.

Untuk mencari kesejajaran-kesejajaran antara fisika modern dan mistisisme Timur, Fritjof Capra berangkat dari kesejajaran epistemologis. Menurut Capra, ada dua jenis pengetahuan atau kesadaran manusia: pengetahuan rasional dan pengetahuan intuitif. (Pengetahuan rasional, seperti telah dsebutkan di atas, diperoleh melalui berpikir rasional, sedangkan pengetahuan intuitif diperoleh melalui berpikir imaginal). Meskipun fisika menekankan pengertahuan rasional dan mistisism Timur menekankan pengetahuan intuitif, kedua tipe pengetahuan ini terdapat dalam kedua bidang ini sekaligus. Ini berarti bahwa dalam fisika pengetahuan intuitif pun digunakan dan dalam mistisisme pengetahuan rasional pun ditemukan. Unsur rasional dari riset sebenarnya tidak akan berguna bila tidak dilengkapi oleh intuisi yang memberi para ilmuwan pemahaman-pemahaman baru dan membuat mereka kreatif. Pemahaman-pemahaman intuitif, bagaimana pun, tidak akan berguna bagi fisika kecuali bila pemahaman-pemahaman itu dapat dirumuskan dalam kerangka matematis yang konsisten, yang dilengkapi oleh suatu interpretasi dengan bahasa yang jelas.[8]

Fritjof Capra mengatakan bahwa para mistikus Timur mengungkapkan pengetahuan mereka dengan kata-kata dengan bantuan mitos-mitos, simbol-simbol, gambaran-gambaran puitis atau pernyataan-pernyataan paradoksikal, sedangkan para fisikawan modern mengungkapkan pengetahuan mereka dengan model-model dan teori-teori verbal. Model-model dan teori-teori verbal mestilah tidak akurat. Model-model dan teori-teori itu adalah imbangan mitos-mitos, simbol-simbol, gambaran-gambaran puitis Timur. Baik para mistikus Timur maupun para fisikawan modern menyadari benar keterbatasan bahasa dan berpikir "linear."[9] Pikiran mempunyai peranan yang amat penting dalam mengonstruksi realitas. Capra mengatakan bahwa teori kuantum menunjukkan bahwa "struktur-struktur dan fenomena-fenomena yang kita amati di alam tidak lain daripada ciptaan pikiran kita yang mengukur dan mengategorisasi."[10] Teori kuantum menjelaskan bahwa fenomena-fenomena hanya dapat dipahami sebagai hubungan-hubungan dalam suatu rantai proses, yang berujung pada kesadaran pengamat. Capra mengutip kata-kata Eugene Wigner, "Tidaklah mungkin merumuskan hukum-hukum [teori kuantum] dalam suatu cara yang sepenuhnya konsisten tanpa merujuk pada kesadaran."[11]

Karakteristk epistemologis fisika modern dan mistisisme Timur ini memiliki kesamaan dengan karakteristik epistemologis sufisme bahwa apa yang diketahui diwarnai oleh siapa yang mengetahui. Dengan mengutip kata-kata Junaid, seorang sufi besar dari Bagdad, Ibnu Arabi berkata, "Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya" (Lawn al-ma’ lawn ina’ihi).[12] Bagi Ibnu Arabi, karakteristik ini berlaku tidak hanya bagi pengetahuan tentang alam, tetapi juga, bahkan terutama, bagi pengetahuan tentang Tuhan sehingga pengetahuan tentang Tuhan lebih merupakan sangkaan (zhann) daripada pengetahuan. Itulah sebabnya mengapa Tuhan melalui sebuah hadis Qudsi berkata, "Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku" (Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi).[13] Tuhan disangka, bukan diketahui. Dengan kata lain, Tuhan hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam pengetahuannya. Tuhan tidak diketahui dan tidak dapat diketahui. Menarik untuk memerhatikan lanjutan firman Tuhan dalam hadis Qudsi tadi, yaitu, "Maka hendaklah ia [sang hamba] bersangka baik tentang Aku" (Fal-yazhunn bi khayran). Tuhan menyuruh agar kita bersangka baik tentang Dia dalam setiap keadaan dan melarang kita bersangka buruk tentang Dia.

Kesatuan segala Sesuatu

Menurut Capra, karakteristik terpenting pandangan Dunia Timur adalah kesadaran tentang kesatuan dan interrelasi timbal-balik segala sesuatu dan peristiwa, pengalaman akan semua fenomena di dunia sebagai manifestasi-manifestasi dari suatu kesatuan dasar. Segala sesuatu dilihat sebagai bagian-bagian keseluruhan kosmik yang saling tergantung dan tidak dapat dipisahkan; sebagai manifestasi-manifestasi dari realitas terakhir yang sama. Realitas terakhir ini, yang menampakkan dirinya dalam segala sesuatu, disebut Brahman dalam Hinduisme, Dharmakaya dalam Buddhisme, dan Tao dalam Taoisme.[14] Capra memandang bahwa kesatuan dasar alam semesta bukan hanya karakteristik sentral pengalaman mistis, tetapi juga adalah salah satu penyingkapan (rahasia) terpenting fisika modern. Kesatuan dasar itu menjadi jelas pada tingkat atomik dan semakin memanifestasikan dirinya ketika seseorang semakin masuk lebih dalam ke dalam materi, turun ke dalam wilayah partikel-partikel subatomik. Berbagai model fisika subatomik mengungkapkan pengetahuan yang sama: bahwa unsur-unsur pokok materi dan fenomena-fenomena dasar yang meliputi unsur-unsur pokok itu semuanya saling terkait, saling terhubung, dan saling tergantung; bahwa semuanya tidak bisa dipahami sebagai entitas-entitas yang terpisah, tetapi sebagai bagian-bagian keseluruhan yang terintegrasi.[15]

Konsep kesatuan dasar segala sesuatu dalam mistisisme Timur, pada intinya, sama dengan konsep kesatuan wujud (wahdatul-wujud) dalam sufisme Ibnu Arabi dan mazhabnya.[16] Sebagaimana mistisisme Timur, sufisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun dalam wujud kecuali Tuhan; hanya ada Satu Wujud Hakiki, yaitu Tuhan. Segala sesuatu selain Tuhan tidak ada pada dirinya sendiri; segala sesuatu itu hanya ada sejauh memanifestasikan wujud Tuhan. Alam adalah lokus penampakan diri Tuhan. Kesamaan kesatuan dasar segala sesuatu dalam mistisisme Timur dan wahdatul-wujud dalam sufisme dengan mudah dapat mendorong para pengkaji untuk mengambil kesimpulan bahwa wahdatul-wujud memiliki kesamaan dengan kesatuan alam semesta sebagai penyingkapan fisika modern

Capra kelihatan terlalu menekankan kesejajaran antara kesatuan segala sesuatu sebagai pengalaman mistis dan kesatuan segala sesuatu sebagai penyingkapan fisika modern sehingga mengabaikan perbedaan antara dua tipe kesatuan itu. Kesatuan segala sesuatu sebagai pengalaman mistis berawal dari realitas tertinggi, atau lebih tepat Realitas Terakhir (dengan huruf besar), yaitu Tuhan, yang menampakkan diri-Nya dalam segala sesuatu di alam semesta ini, sedangkan kesatuan segala sesuatu sebagai penyingkapan fisika tidak menyinggung Realis Terakhir, tetapi terbatas pada partikel-partikel subatomik. Capra lupa melihat perbedaan antara wilayah pengalaman mistis dan wilayah fisika modern. Wilayah pengalaman mistis adalah wilayah spiritual, sedangkan wilayah fisika adalah wilayah material empiris. Jika fisika melompat ke wilayah spiritual-metafisis, ia telah berubah menjadi pengalaman mistis. Boleh jadi, bagi Capra, memang tidak ada lagi batas yang tegas antara wilayah pengalaman mistis dan wilayah fisika.

Menarik memperhatikan cara berpikir ‘Aynul-Qudhat Hamadani, seorang sufi-filosof Persia, yang dicirikan oleh prinsip fundamental yang membedakan antara dua wilayah: "wilayah akal" (thawr al-‘aql) dan "wilayah di luar akal" (thawr wara’ al-‘aql). Masing-masing dari kedua wilayah ini harus dipahami sebagai suatu keadaan subjektif kesadaran dan suatu keadaan objektif realitas sekaligus, meskipun sebenarnya tidak ada perbedaan antara suatu keadaan subjektif kesadaran dan suatu keadaan objektif realitas. ‘Aynul-Qudhat menggambarkan "wilayah akal" dan "wilayah di luar akal" sebagai dua wilayah yang berdampingan, yang keduanya saling bertalian. Ia mengatakan bahwa "batas-batas terakhir wilayah akal berhubungan dengan batas-batas pertama wilayah di luar akal."[17] Ini berarti bahwa tingkat terakhir "wilayah akal" adalah tingkat pertama "wilayah di luar akal," sehingga orang-orang yang telah mencapai batas terjauh "wilayah akal" dengan berusaha habis-habisan menggunakan segala daya sajalah yang mampu melangkah ke dalam wilayah daya transrasional jiwa. Wilayah terakhir ini menyingkapkan dirinya kepada manusia ketika, pada ujung kekuatan rasionalnya, seberkas cahaya yang menyinari secara penuh muncul tiba-tiba di dalam batinnya.[18] Munculnya "cahaya dalam batin" (an-nur fi al-bathin) mengubah visi tentang dunia kepada sesuatu yang tidak dipikirkan oleh manusia.

"Wilayah akal" sebagai keadaan batini subjek berarti fungsi rasional dan analisis dari akal yang dilakukan atas basis bahan-bahan yang dilengkapi dengan pengalaman indera. Secara objektif, "wilayah akal" berarti dunia empiris, dimensi fenomenal realitas, yang di dalamnya akal memenuhi peranan alamiahnya. "Wilayah di luar akal," jika dilihat sebagai suatu keadaan subjektif kesadaran, berarti lapisan terdalam kesadaran, yang di dalamnya jiwa manusia yang kehilangan sifat manusiawinya sendiri mulai mengadakan kontak langsung dengan tatanan "Ilahi" segala sesuatu. "Wilayah di luar akal," jika dilihat sebagai suatu keadaan objektif realitas, berarti tatanan "Ilahi" segala sesuatu, yaitu dimensi transrasional dan suprainderawi dari realitas, yang akan menampakkan dirinya hanya kepada kesadaran seorang sufi dalam kontemplasi yang dalam.[19]

Wilayah fisika modern tidak sama dengan wilayah sufisme. Wilayah fisika adalah wilayah rasional, wilayah empiris, wilayah fenomenal, sedangkan wilayah sufisme adalah wilayah transrasional, wilayah supraindrawi, wilayah spiritual, wilayah Ilahi. Ini tidak berarti bahwa fisika modern tidak berguna bagi sufisme. Fisika modern dapat menjadi pintu gerbang kepada sufisme dan sekaligus cara untuk meningkatkan kualitas pengalaman mistis.

Tarian Kosmik

Capra mengatakan bahwa eksplorasi dunia subatomik pada abad ke-10 telah menyingkapkan natur dinamis materi. Eksplorasi itu telah menunjukkan bahwa unsur-unsur pokok dari atom-atom, partikel-partikel subatomik, adalah pola-pola dinamis yang tidak ada sebagai entitas-entitas yang terisolasi, tetapi sebagai bagian-bagian integral dari jaringan interaksi-interaksi yang tidak dapat dipisahkan. Interaksi-interaksi ini meliputi suatu aliran terus-menerus dari energi yang memanifestasikan dirinya sebagai pertukaran partikel-partikel; suatu keadaan saling mempengaruhi yang dinamis yang di dalamnya partikel-partikel diciptakan dan dihancurkan tanpa akhir dan suatu variasi berkelanjutan dari pola-pola energi. Interaksi-interaksi partikel menimbulkan struktur-struktur yang stabil yang membangun dunia material, yang tidak lagi tetap statis, tetapi berputar dalam gerakan-gerakan ritmis. Keseluruhan alam semesta terikat dalam gerak dan aktivitas yang tidak pernah berhenti; dalam sebuah tarian kosmik energi yang terus-menerus.[20]

Para mistikus Timur memiliki suatu pandangan dinamis tentang alam semesta yang serupa dengan pandangan fisika modern, dan akibatnya tidak mengejutkan bahwa mereka juga menggunakan gambaran tarian untuk memberitahukan intuisi mereka tentang alam.[21] Tarian kosmik ini disimbolkan dengan sangat indah dalam Hinduisme dengan tarian Shiva. "Menurut kepercayaan Hindu, semua kehidupan adalah bagian dari suatu proses ritmis besar dari penciptaan dan penghancuran, dari kematian dan kelahiran kembali, dan tarian Shiva menyimbolkan ritme kehidupan-kematian abadi ini yang berlangsung dalam siklus yang tidak pernah berakhir."[22]

Fisika modern telah menunjukkan bahwa ritme penciptaan dan penghancuran bukan hanya manifestasi dalam perputaran musim-musim dan dalam kematian dan kelahiran seluruh makhluk hidup, tetapi juga adalah esensi materi inorganik. Menurut teori medan kuantum, semua interaksi antara unsur-unsur pokok materi berlangsung melalui pemancaran dan penyerapan partikel-partikel yang sesungguhnya. Lebih dari itu, tarian penciptaan dan penghancuran adalah dasar eksistensi materi itu sendiri, karena semua partikel material "menginteraksikan-diri" dengan memancarakan dan menyerap partikel-partikel yang sesungguhnya. Fisika modern telah menyingkapkan bahwa setiap partikel subatomik tidak hanya melakukan suatu tarian energi, tetapi juga adalah suatu tarian energi; suatu proses yang bergetar dari penciptaan dan penghancuran.[23]

Bagi fisikawan modern, tarian Shiva adalah tarian materi subatomik. Seperti dalam mitologi Hindu, tarian itu adalah tarian terus-menerus penciptaan dan penghancuran yang meliputi keseluruhan kosmos; dasar keseluruhan eksistensi dan keseluruhan fenomena alamiah.[24]

Teori para mistikus Timur dan para fisikawan modern bahwa alam bergerak dan berubah terus-menerus, menjadi dan hancur berulang-ulang tanpa berhenti, serupa dengan teori para sufi bahwa alam sebagai penampakan diri (tajalli) Tuhan diciptakan terus-menerus. Penciptaan alam, atau proses penciptaan alam, identik dengan tajalli. Karena tajalli terjadi secara terus-menerus tanpa awal dan tanpa akhir, "Yang selama-lamanya ada dan akan selalu ada,"[25] maka penciptaan alam juga terjadi terus-menerus. Tuhan ber-tajalli dalam bentuk-bentuk yang tidak terbatas jumlahnya. Bentuk-bentuk itu tidak ada yang sama dan tidak pernah dan tidak akan terulang secara persis sama. Semuanya terjadi dalam perubahan terus-menerus tanpa berhenti. Ibnu Arabi mengatakan bahwa apa yang terdapat dalam alam berubah dari suatu keadaan kepada keadaan lain. Alam temporal berubah setiap kejap. Alam nafas berubah pada setiap nafas dan alam tajalli berubah pada setiap tajalli. Allah Swt berfirman, "Setiap waktu Dia dalam kesibukan" (Q 55:29). Ibnu Arabi mengutip kata-kata Abu Thalib dan Rijalullah, "Sesungguhnya Allah Swt selama-lamanya tidak melakukan tajalli dalam satu bentuk bagi dua individu atau pribadi, dan tidak pula dalam satu bentuk dua kali."[26]

Teori penciptaan yang tak pernah berhenti ini disebut "penciptaan baru" (khalq jadid). "Penciptaan baru" mengandung arti bahwa setiap ciptaan Tuhan adalah baru setiap saat karena alam, seperti dalam konsep tarian kosmik, menjadi dan hancur, datang dan hilang, setiap saat secara terus-menerus tanpa berhenti. Ibnu Arabi menagatakan bahwa "setiap tajalli memberikan ciptaan baru dan melenyapkan ciptaan [lain yang mendahuluinya]. Kelenyapan identik dengan kemusnahan (ketiadaan) pada tajalli [baru] dan kelanjutan [bagi ciptaan lain] yang diberikan oleh tajalli lain berikutnya."[27] Ibnu Arabi melukiskan hubungan antara Tuhan dan alam seperti hubungan matahari dan cahayanya. Cahaya matahari adalah seperti nyala lilin yang seolah-olah tetap ada ketika menyala. Mata kita melihat api tetap ada. Tetapi sebenarnya mata kita tertipu. Sebenarnya nyala api muncul dan lenyap. Setiapkali muncul nyala api baru, yang kemudian menghilang, disusul oleh nyala api yang lain, yang kemudian juga menghilang, dan kemudian disusul oleh nyala api yang lain pula, dan begitu seterusnya.

Memang ada kesejajaran antara teori para sufi bahwa alam bergerak dan berubah, menjadi dan hancur, diciptakan terus-menerus tanpa berhenti, dan teori para fisikawan dan para mistikus Timur bahwa alam mengalami gerak dan perubahan, penciptaan dan penghancuran terus-menerus tanpa berhenti. Tetapi Capra, karena menekankan persamaan-persamaan, tidak melihat perbedaan antara teori para fisikawan dan teori para mistikus Timur tentang sumber gerak tarian kosmik itu. Dengan kata lain, Capra tidak melihat perbedaan antara kedua teori itu tentang "penari" kosmik itu. Dalam tradisi Hindu, hubungan antara Tuhan dan alam sering diumpamakan dengan hubungan antara penari dan tarian. Penari dan tarian bukan dua karena tidak ada tarian tanpa penari dan tidak ada penari tanpa tarian; keduanya tidak dapat dipisahkan. Tetapi penari dan tarian bukan pula satu karena penari berbeda dengan tarian. Teori fisika modern tidak menjelaskan bahwa "penari" itu adalah Tuhan. Teori fisika modern membatasi perhatiannya pada alam empiris karena wilyahnya memang itu.

Perumpamaan hubungan antara Tuhan dan alam dengan hubungan antara penari dan tarian serupa dengan perumpamaan yang dipakai oleh Hazrat Inayat Khan (1882-1927), seorang guru sufi asal India, untuk melukiskan hubungan antara Tuhan dan alam. Bagi Inayat Khan, alam adalah musik atau alat musik. Bagai musik, alam alam adalah harmoni dan keteraturan. Pepohonan melambaikan cabangnya dengan gembira mengikuti irama angin; bunyi lautan, desis angin, terpaan angin pada batu, bukit dan gunung, kilat dan gemuruh guntur, harmoni matahari dan bulan, gerakan bintang dan planet, bunga bermekaran, gugurnya dedaunan, pergantian yang teratur pagi, sore, siang dan malam – bagi orang bijak semua itu adalah musik alam. Satun-satunya pemusiknya adalah Pemusik Gaib, yaitu Tuhan.[28]

Bagaimanapun, sumbangan Capra untuk menunjukkan kesejajaran-kesejajaran antara fisika modern dan mistisisme Timur patut dihargai karena ia telah berhasil menunjukkan pada suatu tingkat tertentu kesejajaran-kesejajaran antara kedua bidang itu. Paling tidak, jarak antara fisika dan mistisisme makin dekat, bahkan berdempetan. Fisika modern telah memberikan bantuan yang luar biasa bagi pencari Tuhan untuk menajamkan dan meningkatkan kepekaannya terhadap kehadiran Sang Penari.

Catatan Akhir

Sampai batas tertentu, fisika modern dan sufisme, seperti mistisisme Timur, mempunyai kesejajaran-kesejarajan yang tidak bisa diingkari. Fisika modern dan sufisme sama-sama mengakui kesatuan alam semesta, dan gerak dan perubahan harmonis semesta, yang manjadi dan hancur, terus-menerus tanpa berhenti. Wilayah yang menjadi tempat kesejajaran-kesejajaran ini adalah "wilayah akal," wilayah rasional, wilayah fenomenal. Berbeda dengan fisika yang membatasi perhatiannya pada wilayah ini, sufisme melanjutkan perjalanannya kepada "wilayah di luar akal," wilayah transrasional, wilayah suprainderawi, wilayah spiritual, wilayah Ilahi. Sufisme melanjutkan tugas yang tidak dapat dijalankan oleh fisika.

Ketika melihat harmoni alam semesta, memerhatikan ombak yang bergulung-gulung, dan merasakan irama nafas, Capra sadar bahwa segenap lingkungannya terikat dengan tarian kosmik raksasa. Sebagai seorang fisikawan, Capra mengetahui bahwa semua yang ada dan semua yang terjadi di alam ini sesuai dengan teori fisika modern yang dianutnya. Lebih dari itu, ia merasakan kehadiran Sang Penari Hakiki. Para sufi pun selalu "melihat" Sang Penari Hakiki, atau Sang Pemusik Agung, ketika melihat tarian-Nya, atau musik-Nya, kapan saja dan di mana saja. Fisika modern dapat mengingatkan manusia pada tarian kosmik atau musik kosmik yang menunjukkan kehadiran Penarinya, atau Pemusiknya. Fisika modern dapat meningkatkan kepekaan kesadaran akan kehadiran Tuhan. Fisika modern dapat membantu meningkatkan kualitas spiritual. Wallahu a‘lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Berasal dari makalah yang disampaikan pada Diskusi "Membedah Fritjof Capra: Menggali Kemungkinan Integrasi Sains, Filsafat, dan Agama," yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah bekerjasama dengan PT Bogasari, pada Selasa, 13 April 2004, di Aula Madya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Ciputat.
2 Robert Frager, Heart, Self & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony (Wheaton, Illinois: Theosophical Publishing House, 1999), hal.1.
3 Javid Ansari, "This is All a formula for Islamic Scientific Impotence," Arabia: The Islamic World Review, no.20 (April 1983), hal.55.
4 Paul Davis dan John Gribbin, melalui karya mereka The Matter Myth (New York: Simon & Schuster, 1992), dengan mengutip Niels Bohr.
5 Uraian ringkas tentang dua cara berpikir ini dapat dibaca dalam Toshihiko Izutsu, "Ishraqiyah," The Encyclopedia of Religion, diedit oleh Mircea Eliade, 16 volume. (New York: Macmillan, 1987), 7:296-298; William C. Chittick, "Sufi Thought and Practice," The Oxford Encyclopedia of the Modern IslamicWorld, diedit oleh John L. Esposito, 4 volume. (New York & Oxford: Oxford University Press, 1998), 4:105-106; Daniel J Adams, Cross Cultural Theology: Western Reflections in Asia (New York: John Knox Press, 1987).
6 William Johnston, Mystical Theology: The Science of Love (London: Harper Collins Religious, 1995); Jusuf Sutanto, Bhinneka Tunggal Ika dalam Cahaya Falsafah Ying-Yang," dalam Daoed Joesoef dan Jusuf Sutanto, Dua Renungan tentang Manusia, Masyarakat dan Alam Semesta (Jakarta: CSIS, 1990), h. 74-107; Bede Griffiths, A New Vision of Reality: Western Science, Eastern Mysticisme and Christian Faith (Springdfield, Illinois: Templegate Publishers, 1989).
7 Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comaparative Study of Key Philosophical Concepts (Los Angeles: University of California Press, 1983).
8 Fritjof Capra, The Tao of Physics (Boston: New Science Library, 1995), hal.31.
9 Ibid., hal.44.
10 Ibid., hal.277.
11 Ibid., hal.300.
12 Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, diedit oleh Abul-Ala Afifi, 2 bagian (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1980), 1:225-226.
13 Ibnu Arabi, al-Futuhat al-Makkiyyah, 4 volume. (Beirut: Dar al-Fikr, tanpa tahun), jil.4, hal.446.
14 Capra, The Tao of Physics, hal.130-131.
15 Ibid., hal.131.
16 Uraian tentang doktrin wahdatul-wujud-nya Ibnu Arabi dapat dibaca dalam William C. Chittick, "Ebno’i-‘Arabi’s Doctrine of the Oneness of Being," Sufi, Issue 4 (Winter 189-1990): 6-14; Kausar Azhari Noer, Ibnu Arabi: Wahdatul-Wujud dalam Perdebatan (Jakarta: Paramadina, 1995).
17 ‘Aynul-Qudhat Hamadani, Zubdat al-Haqaiq, ed. Afif Usayran (Tehran: University of Teheran, 1962), hal.35.
18 Toshihiko Izutsu, "Creation and Timeless Order of Things: A Study in the Mystical Philosophy of ‘Aynul-Qudhat," The Philosophical Forum, IV, 1 (1972): 126.
19 Izutsu, "Creation and Timeless Order of Things," hal.127.
20 Capra, The Tao of Physics, hal.225.
21 Ibid., hal.241.
22 Ibid., hal.242.
23 Ibid., hal.244.
24 Ibid., hal.245.
25 Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, jil.1, hal.49.
26 Ibid., jil.1, hal.266.
27 Ibid., jil.1, hal.126.
28 Hazrat Inayat Khan, The Mysticism of Sound and Music (Boston & London, 1996).

Sumber: Jurnal al Huda Volume VI, Nomor 15, 2008, halaman 83-97