Jumat, 17 Juli 2015

Michel Foucault, Kekuasaan, Wacana, dan Pengetahuan




Oleh Warta Madani

TEORI Michel Foucaut tentang kekuasaan, wacana, dan pengetahuan merupakan aspek-aspek yang tidak terpisahkan. Terminologi episteme dalam pemikiran Michel Foucault berarti korelasi epistemologis yang dalam di antara berbagai cabang ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa dan kurun tertentu. Kaitannya dengan empat abad terakhir sejarah pemikiran Eropa, Michel Foucault membaginya ke dalam tiga macam episteme, yaitu: episteme Abad Tengah, episteme Klasik dan episteme Modern.

Setiap penggalan (rupture) dari episteme tesebut memiliki sistem pemikiran tersendiri yang berbeda satu sama lain, sekurangnya dalam konsep dan metode. Arkeologi pengetahuan mendapatkan posisi di sini: bertugas mengungkap unsur-unsur terdalam dan tersembunyi.

Episteme (boleh jadi) merupakan kumpulan relasi yang menghubungkan antara praktek-praktek lisan dengan pengetahuan dalam berbagai bentuknya pada periode sejarah tertentu. Episteme adalah sitem tersembunyi dibalik pengetahuan yang dominan pada masa tertentu. Sistem tersembunyi ini dianggap sebagai pemersatu, dalam realitasnya yang paling dalam, pada peradaban tertentu dan, periode tertentu.

Episteme adalah prasyarat munculnya pengetahuan dan teori. Jadi, ia adalah latar tersembunyi di belakang pengetahuan; episteme adalah struktur dasar yang berada di luar sejarah. Ringkasnya, ia adalah struktur pengetahuan global dengan cirinya yang holistik. Ia dianggap sebagai jaringan dasar hukum-hukum yang mengatur pengetahuan, metode, pemahaman, dan metode analisa.

Michel Foucault meninggalkan anggapan lama yang memandang bahwa pengetahuan hanya mungkin berkembang di luar wilayah kekuasaan. Antara pengetahuan dan kuasa justru terdapat relasi yang saling berkembang, tidak ada praktek pelaksanaan kuasa yang tidak memunculkan pengetahuan dan tidak pula pengetahuan yang di dalamnya tidak mengandung relasi kuasa.

Ada kesamaan antara Michel Foucault dengan Jacques Lacan berkenaan dengan bahasa. Michel Foucault mengatakan bahwa yang berbicara bukanlah subyek, tapi struktur linguistik dan sistem bahasa.

Sementara Lacan menegaskan bahwa jalan yang telah dirintis oleh Freud tak memiliki makna selain bahwa, alam bawah-sadar adalah bahasa. Mereka tampaknya memahami bahasa secara luas. Signifikansi bahasa dalam studi Michel Foucault tampak dalam karyanya Madness and Civilization, yang meneliti tentang simbol-simbol yang diciptakan oleh relasi kuasa dengan pengetahuan. Praktek sosial menyediakan mekanisme yang memungkinkan relasi kuasa beroperasi.

Kuasa ada di mana-mana, karena itu, kekuasaan bisa ditemukan dalam segala bidang interaksi manusia: keluarga, politik, ekonomi, sosial, agama dan sebagainya. Penelitiannya tentang sejarah orang-orang gila, yakni tentang mereka yang ditolak masyarakat, berhasil mengungkap formasi-formasi bahasa dan diskursus yang telah menciptakan konsep pihak lain (the other). Untuk hal ini, ia menggunakan deskripsi genealogis.

Genealogi bukanlah teori, tapi lebih merupakan cara pandang atau model perspektif untuk menempatkan diskursus, praktek sosial dan diri kita sendiri dalam wilayah relasi kuasa. Genealogi merupakan kelanjutan dari arkeologi. Kalau arkeologi lebih difokuskan untuk menyingkap suatu wilayah praktek diskursusif; untuk menemukan fenomena-fenomena keterputusan dan keberbedaan, tanpa dikorelasikan dengan kemajuan, maka genealogi lebih merupakan usaha untuk mendeskripsikan sejarah formasi-formasi sosial; sejarah tentang asal suatu pemikiran untuk menemukan titik tolak pemberangkatan, tanpa menghubungkannya dengan hakekat (substansi) ataupun identitas-identitas yang hilang.

Tujuannya hanyalah untuk membongkar pemikiran-pemikiran asali, center dan substansi. Segala sesuatu tidak memiliki mahiyah (inti; substansi). Segala substansi tak lebih dari buatan manusia, karena itu harus didekontruksi dan dikeping-keping. Michel Foucault mampu membuktikan bahwa sejarah selama ini adalah sejarah yang terdistorsi; bukan sejarah bahasa dan makna, tapi sejarah relasi kuasa.

Michel Foucault menggunakan terminologi arkeologi secara metaforis untuk menunjuk pada sesuatu yang disebut arsip. Bukan untuk menemukan awal sesuatu ataupun untuk menghidupkan masa lalu yang telah mati.

Lebih lanjut, Ia menerangkan tentang apa yang dimaksud dengan arsip, apa yang dimaksud dengan arsip bukanlah kumpulan teks-teks yang dijaga oleh peradaban tertentu, bukan pula kumpulan peninggalan arkeologis yang mungkin untuk dijaga dari kehancuran, tapi merupakan kumpulan prinsip-prinsip (aturan-aturan) yang menentukan bagi muncul dan hilangnya suatu diskursus; ketersambungan (continuity) ataupun keterputusan (rupture) diskursus tersebut pada peradaban tertentu.

Berkenaan dengan sejarah kegilaan, Michel Foucault menunjukkan bahwa predikat ‘gila’ bukanlah sekedar masalah empiris atau medis semata, tapi juga berkenaan dengan norma-norma sosial dan bentuk-bentuk diskursus tertentu. Pengertian tentang kegilaan adalah hasil ciptaan manusia, karena kategori gila terus berubah sesuai dengan zaman. Abad Pertengahan memperlakukan orang gila sebagai orang yang tidak berintegrasi dengan masyarakat. Menurut versi gereja, orang gila adalah yang tidak memiliki loyalitas pada gereja. Pengertian gila terus berubah sesuai dengan perspektif dan kepentingan pemegang kuasa.

Dalam proses penciptaan, ikut terlibat para dokter, politisi, ahli hukum dan unsur-unsur yang dominan dalam masyarakat.  Yang paling dominan peranannya adalah para dokter yang menciptakan bahasa simbol dan tanda-tanda. Selanjutnya, struktur bahasa inilah yang sangat berpengaruh dalam menilai ‘gila’ atau ‘waras’nya seseorang.

Analisa genealogis adalah kritik terhadap ilmu pengetahuan modern, dalam hal ini ilmu pengetahuan sejarah. Ilmu pengetahuan sejarah modern lebih merupakan pembungkaman terhadap the others, sehingga banyak lapisan-lapisan yang sebenarnya bagian dari wacana ilmiah luput dari perhatian ilmuwan, apalagi kita. Kegilaan adalah aspek yang terlupakan (yang terbungkam; yang terpinggirkan), namun sebenarnya bagian dari wacana ilmiah. Kegilaan sebenarnya mengandung hikmah dan kebijaksanaan.

Penelitian Michel Foucault berhasil menyimpulkan bahwa kegilaan merupakan kebutuhan masyarakat akan formasi sosial yang dikehendaki, hingga menjadi kebutuhan sosial tertentu di mana dari sinilah tercipta mereka, ‘Pihak Lain’. Michel Foucault membuktikan bahwa kode-kode
pengetahuan (dalam konteks ini: kedokteran) banyak mempengaruhi struktur bawah-sadar masyarakat. Dengan genealogi, Michel Foucault ingin mendelegitimasi masa sekarang dari masa lampau; ada rupture.

Gagasan lain Michel Foucault yang terpenting, berkenaan dengan wacana (discourse). Dalam discourse, bahasa adalah mediator. Wacana adalah ucapan yang dengannya pembicara menyampaikan segala sesuatu kepada pendengar. Unsur terkecil dari wacana adalah kalimat. Wacana yang diperkuat dengan tulisan disebut teks.

Wacana merupakan kumpulan pernyataan-pernyataan (statement) yang berbeda dengan ungkapan (utterance) maupun proposisi (proposition). Yang dimaksud Michel Foucault di sini bukanlah sekedar perbincangan sehari-hari, tapi perbincangan yang serius (serious speech act). Serius tidaknya suatu perbincangan diukur berdasar intensitas keterlibatan unsur relasi kuasa dengan pengetahuan yang melahirkan wacana tersebut.

Teori Michel Foucault yang sangat terkenal adalah kritiknya atas teori kekuasaan Karl Marx. Dia bersedia melakukan konfrontasi dengan tokoh yang menjadi idola para mahasiswa semasanya. Pemikiran Michel Foucault tentang kekuasaan berupaya memeriksa salah satu segi proses peradaban Barat, yaitu agresi rasio dengan kepastian-kepastian filsafat “Pencerahan”. Agresi rasio dengan kepastian-kepastian yang dibawa oleh filsafat Pencerahan ini mendapat kritik tajam dari Michel Foucault, yakni terhadap filsafat sejarah yang terlalu percaya pada sistem dan terhadap metode pembahasannya. Kekacauan kejadian-kejadian sejarah mengungkap peran para filsuf sejarah yang selalu berorientasi pada sistem.

Persoalan sejarah bukan untuk menjadikan koheren apa yang tidak koheren. Sejarah bukan untuk mempertahankan rasionalitas yang bertentangan dengan realitas konflik kekuasaan dan ideologi. Kritik ini jelas diarahkan pada konsepsi Hegel tentang sejarah sebagai dialektika. Kehebatan dialektika terletak pada kemampuannya mengubah dari kekurangan menjadi kekuatan, yang jahat menjadi sarana kebaikan, perbedaan menjadi momen di mana kesadaran jadi lebih jelas.

Menurut Michel Foucault, sintesis yang dianggap sebagai jalan keluar dialektika itu tidak lain hanyalah imajinasi pemecahan antisipatif terhadap kontradiksi-kontradiksi atau konflik-konflik. Kebenaran semacam itu diberlakukan sebagai jalan keluar bagi perbedaan kepentingan dan hubungan-hubungan pertarungan kekuatan. Michel Foucault, dengan arkeologi pengetahuan, justru menerapkan metodologi yang sebaliknya, yaitu menyadari perbedaan-perbedaan kepentingan dari setiap representasi dunia baru. Pengaruh Nietzsche dalam diri Michel Foucault memperlihatkan bagaimana pandangan Michel Foucault tentang sejarah.

Michel Foucault menolak menggambarkan sejarah sebagai ilmu-ilmu tentang sejarah kemajuan, gerak tunggal, seakan-akan diarahkan menuju satu tujuan. Tujuan ini ialah menjelaskan kesadaran manusia dan meningkatkan penguasaan manusia terhadap dunia demi kesejahteraannya.

Gagasan sejarah seperti ini menurut Michel Foucault patut dicurigai, seakan-akan kejadian-kejadian itu hanya mempunyai satu sebab tunggal. Padahal sebab tidak selalu tunggal. Cara berpikir ini cenderung menafikan perbedaan. Saat-saat konflik hanya dianggap sebagai krisis tahap perkembangan manusia yang sedang mewujudkan hakikatnya.

Kebanyakan agama mempunyai konsep sejarah teleologis seperti itu sehingga menerima perbedaan cenderung dianggap tidak koheren dengan hakikatnya, apabila menerima perbedaan, hanya semu, yakni ketika agama sebagai yang paling benar, tetapi agama lain juga memiliki jalannya sendiri untuk ambil bagian dalam kebenaran agama yang satu itu.

Upaya mengkonfrontasikan gagasan-gagasan Marx dan Foucault bisa menjelaskan dari mana produktivitas pemikiran Michel Foucault. Sudah sejak saat penulisan l’Histoire de la folie, menurut P. Macherey, Michel Foucault mulai meninggalkan keterpikatannya pada marxisme dalam bentuk kritik konkret terhadap alienasi. Sejak saat itu, Michel Foucault curiga terhadap semua yang berbau materialisme dialektik.

Pernyataan-pernyataan Marx tidak ditangkap dalam kekakuan akademis, tetapi dalam penerapan penafsiran mengenai kekuasaan. Michel Foucault mencoba memecahkan masalah kekuasaan dengan menentang gagasan yang disistematisasi dalam “freudo-marxisme” kontemporer: Satu, implikasi saling terkait dengan represi seksual dan eksploitasi tenaga kerja dalam masyarakat kapitais. Jawabannya adalah pembebasan seksual sebagai bagian dari revolusi politik dan sosial. Dua, persekongkolan antara sensor moral, pengawasan terhadap pernyataan-pernyataan dan reproduksi hubungan ekonomi di bawah dominasi tatanan politik yang sama.

Tiga, kesamaan tatanan borjuis global, otoritas keluarga, dan pendidikan di bawah tokoh seorang ayah. Empat, enerji alamiah yang diarahkan pada pencarian kenikmatan dan tatanan yang dibuat lembaga-lembaga, larangan incest dalam keluarga monogami dan dalam negara. Lima, dari kemunafikan seksual kelas penguasa, memuncak pada fiksi tentang prinsip realitas yang bertentangan dengan represi, subversi global nilai-nilai diciptakan dari kebohongan.

Dalam freudo-marxisme itu terkait berbagai disiplin: wacana filsafat, ilmiah dan sastra, praktik-praktik militan baik teoritis maupun estetis, alternatif ilmu-ilmu itu mengarah ke freudo-marxisme. Michel Foucault mempertanyakan seberapa jauh perjuangan itu mampu memisahkan diri dari wacana yang ditentangnya. Michel Foucault ingin mempertanyakan efektivitas ideology kekiri-kirian dan utopisme revolusioner. Michel Foucault mengkritik freudo-marxisme dengan memperlihatkan keduanya merupakan bagian bidang pengetahuan yang sama, atau setidaknya berasal dari prakonsepsi yang sama: kekuasaan dilaksanakan melalui represi.

Michel Foucault mengkritik freudo-marxisme berdasarkan dua argumen: Pertama, kekeliruan sejarah. Secara material, keliru bahwa masyarakat yang berkembang mulai Abad ke-18 yang disebut borjuis, kapitalis, atau industrial, menentang sensor yang dilakukannya. Kedua, ada ketergantungan pada model kekuasaan yang yuridis, yang memusatkan diri pada representasi otoritas dan hukum.

Apa urgensinya pemikiran-pemikiran Michel Foucault bagi kita? Banyak yang bisa diambil, di antaranya manfaat analisis arkeologis-genealogis dengan metode dekontruksi untuk memahami realitas social-keagamaan; sejauh mana relasi-relasi kuasa beroperasi dalam kehidupan umat Islam, sehingga bisa ditemukan mereka ‘yang lain’, mereka yang ditolak, namun sebenarnya adalah bagian dari umat yang membentuk suatu gestalt. Bukan untuk menemukan kesatuan diskursus umat Islam, tapi untuk menemukan keragaman pemahaman dan kebenaran. Sehingga terjadi proses decentering yang berarti keterbukaan terhadap yang lain; yang juga berarti runtuhnya dominasi dalam interpretasi maupun klaim-klaim kebenaran.

Selanjutnya akan tercipta iklim yang inklusif.

Sumber:
Etienne Balibar, “Konfrontasi Michel Foucault dan Marx: Kritik terhadap Hipotesis Represi, Praksis, dan Struktur Konflik”, BASIS Nomor 01-02, Tahun ke-51, Januari-Februari 2002, hlm. 58-60.
Basis, Konfrontasi Faucault dan Mark, Basis no. 01-02 th. Ke-51., Januari-Februari, 2002, hlm. 15.
Haryatmoko, “Kekuasaan Melahirkan anti-Kekuasaan: Menelanjangi Mekanisme dan Teknik Berkuasa bersama Michel Foucault”, BASIS Nomor 01-02, Tahun ke-51, Januari-Februari 2002, hlm. 10.
Michel Foucault, Disiplin Tubuh (diterj. Dari Discipline of Punish), LkiS, Yogyakarta, 1997.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar