Rabu, 14 Mei 2014

Visi Baru Fritjof Capra tentang Kearifan dan Kehidupan Modern




Judul Buku: Jalan Paradoks (Visi Baru Fritjof Capra tentang Kearifan dan Kehidupan Modern). Penyunting: Budhy Munawar Rachman dan Eko Wijayanto. Penerbit: Teraju Mizan, 2004. Tebal: 219 + indeks

Dunia yang dihuni manusia seolah terasa makin tak ramah. Gejolak krisis multidimensi sedang melanda dunia. Hal ini memaksa manusia untuk kembali berefleksi di ruang hening. Beragam krisis dari ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, kesehatan, ancaman peperangan, dan terorisme, serta lainnya memunculkan pertanyaan mendasar: “why” (kenapa) dan ada apa dengan dunia yang kita diami?

Peradaban modern yang syarat dengan ketidakseimbangan menjadi tersangka utama dalam krisis ini. Hal ini diketahui dari pemujaan pada berhala-berhala materialisme dan rasionalisme yang kian menguat. Kapitalisme ekonomi dan borjuasi sosial menjadi anasir lain dari modernitas, demikian kutip Slamet Sutrisno, dosen Filsafat UGM dalam buku yang disunting Budhy Munawar Rachman. Memang agak abstrak tapi demikian Fritjof Capra menilai. Fritjof Capra adalah seorang fisikawan yang dikenal lewat bukunya Titik Balik Peradaban dan The Tao of Physics.

Munculnya beragam krisis menurut Capra berasal dari krisis penafsiran atau pemahaman itu sendiri. Di sini termasuk masalah fanatisme dan pola berpikir parsial yang menghegemoni pengetahuan manusia. Dalam buku ini mencoba menjawab apakah “dunia” yang kita diami tersusun atas asas pertentangan? Bisakah hal-hal yang bersifat paradoks tersatukan dan saling melengkapi? Tentu tak mudah memecahkan atau menjawabnya. Dalam model filsafat Barat memadukan suatu hal yang bertentangan adalah sulit, karena mengandung paradoks-paradoks.

Fritjof Capra berhasil memosisikan masalah yang paradoks (bertentangan atau berlawanan) dalam tempat yang berimbang. Hal inilah yang menarik kesembilan penulis dari kalangan akademisi untuk mengepak gagasan Fritjof Capra tentang pencarian pandangan baru soal kearifan dan kehidupan modern. Mereka antara lain: Agus Purwandianto, Gadis Arivia, Jusuf Sutanto, L. Wilardjo, Mulyadhi Kartanegara, P. Wiryono P, Paul Suparno, Slamet Sutrisno, dan Subur Wardoyo.

Kegagalan proyek modernisasi dalam bahasa Gadis Arivia, yang senada dengan delapan penulis lainnya, menjadi titik awal diskusi dalam buku ini. Dalam bahasa berbeda mereka mengapresiasi, mengritik, menolak, saling melengkapi atau bahkan mengamini . Mereka menengok kembali ide Capra dalam memandang dunia untuk lebih arif dan holistik. Yakni tentang filsafat dunia Timur yang telah lama dianggap tertinggal,irrasional, intuitif atau hanya ilusi saja.

Gagasan pertama Capra tentang adanya pergeseran paradigma dari pemikiran yang didasari fisika klasik Newton ke arah pemikiran fisika kuantum (hlm 8). Dasar fisika klasik adalah menganggap segala hal dapat dideterminasi, logis, mekanis,dan terukur. Sementara dalam fisika kuantum yang terdapat unsur ketidakpastian, ketidaktepatan, probalilitas, dan indeterministik.

Capra melihat dasar fisika kuantum ini memiliki kesamaan dengan Mistis Timur seperti Taoisme dan Budhisme. Taoisme yang menganut hukum keseimbangan gerakan semesta. Perpaduan yang menarik ini dalam Taoisme disebut Yin Yang. Analisa Yin-Yang menurut Capra sangat berguna untuk mencari keseimbangan kultural dengan memakai pandangan ekologi yang kuat (hlm 33). Konsep ecoliteracy atau kesadaran dan kemelekan pada masa depan planet bumi menjadi gagasan lain yang dicatat P. Wiryono P. Diharapkan dari prinsip-prinsip ekologis dipakai sebagai sistem dan jaringan untuk menyimak kehidupan bumi (bukan lagi secara mekanis) menjadi lebih baik. Dan Nature of Wisdom atau kebijaksanaan alam pun menjadi esensi dari ecoliteracy.

Kumpulan artikel dalam buku ini menarik gagasan Capra ke dalam berbagai permasalahan seperti kesadaran ekologi, feminisme, kesehatan, atau menyandingkan ke dalam Kawruh Jawa, serta sekadar pembacaan terhadap wacana fisika kuantum dan mistis Timur.

Berbeda dengan penulis lainnya Jusuf Sutanto lebih menyukai gaya pendekatan mengumpulkan puisi dan cerita-cerita kuno tentang kearifan. Misalnya puisi yang diambil dari penggalan Kitab I Ching, Dhammapada, atau Cheng Yen tentang pesan-pesan penting dalam menapaki kehidupan di planet bumi.

Mungkin bagi dunia Timur gagasan Fritjof Capra terlalu biasa atau bahkan usang. Namun kearifan untuk menyandingkan sebuah gagasan Barat dengan Timur lebih berkesan kuat sehingga dunia yang paradoks ini bisa dipandang lebih bijak dan utuh.

Dalam buku yang kaya referensi dan padat ini tak dijelaskan tentang siapakah Fritjof Capra secara khusus. Pembaca seolah dianggap telah mengenal siapakah Fritjof Capra. Demikian kekurangan dari buku kecil ini. Terlepas dari hal itu, pesan yang dibawa dalam buku ini adalah menemukan kembali cara pandang akan manusia dan alam secara utuh. Dan nilai-nilai mistisisme Timur telah memberikan kontribusi bagi fisika baru pada khususnya dan diharapkan bagi peradaban masa mendatang.

Adi Baskoro 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar