Senin, 12 Mei 2014

Belajar Pada Para Unggas


Oleh Sulaiman Djaya*

Kenapa mesti unggas? Dan pelajaran atau filsafat apa yang bisa kita dapatkan dengan merenungi dan membaca hidup mereka? Di sini, kita memang harus membuang ego antroposentrik kita yang terlampau memandang manusia sebagai pusat semesta, dan karena kita hidup dalam sebuah dunia yang bukan hanya kita, manusia, yang sama-sama ada. Yah, salah-satu pelajaran atau filsafat yang dapat kita petik adalah sifat simpati, kerjasama, dan solidaritas mereka dalam hidup. Para unggas, pada dasarnya, adalah juga makhluk politis seperti kita. Dan juga, yang mungkin akan mengejutkan, formasi militer di udara.

Tak seperti elang, unggas hidup berkawan. Mandi bersama, tidur bersama, dan mencari makan bersama. Bila dilihat secara sosiologis, mereka lebih mencirikan diri sebagai masyarakat kolektif, meski mereka tidak menyebut diri mereka seperti itu. Apapun istilah yang ingin dilekatkan oleh para ilmuwan atau para pengamat, yah silahkan saja, yang penting kami selalu bersama. Kira-kira begitulah sikap politik mereka.

Ini adalah isyarat alam yang dahsyat. Kita tidak pernah menyadari keberadaannya karena semua berlalu secara alami. Padahal unggas mengajarkan kita banyak hal tentang arti tata-tertib, kekompakan dan pertemanan: politik solidaritas. Di musim dingin, mereka bermigrasi ke Selatan, dan di musim panas mereka kembali ke kediaman asalnya di Utara. Lalu lihatlah formasi yang mereka bentuk di saat terbang bermigrasi itu. Mereka membentuk formasi huruf V. Bukan tanpa alasan, karena para fisikawan mencatat bahwa tingkat resistensi terhadap angin akan lebih rendah, dalam formasi seperti itu, dibandingkan dengan terbang sendiri. Ini jauh lebih bermanfaat bagi mereka guna memacu kecepatan.

Selanjutnya, bila ada anggota yang sakit, atau sayapnya kelelahan, lalu terlempar dari formasi, maka akan ada unggas yang lain yang datang mengapit untuk tetap terbang dalam formasi huruf V kecil yang baru. Dukungan sosial ini begitu penting, dalam menjaga kekompakan dan keberlangsungan hidup, agar yang lemah bisa tetap terbang dan tidak terjatuh sendirian. Berangkat bersama, terbang bersama, hingga sampai di tujuan juga bersama-sama. Seakan begitu filosofi mereka. Terbang sendirian bukan hanya soal keamanan, tetapi juga soal efektivitas kecepatan dan kepakan sayap. Inilah solidaritas yang secara politis dalam rangka menjaga kekuatan tanpa harus menyingkirkan yang lemah.

Kemudian, dan ini yang terpenting, setiap unggas saling bergantian mengambil alih komando. Bila si A kelelahan, maka si B dengan spontan menggantikannya. Tidak ada ketamakan untuk terus menjadi komandan. Juga tidak ada keinginan untuk mengkudeta kekuasaan. Semua bertindak menjadi “Imam” yang baik dan makmum yang juga baik. Beginilah harusnya kerja sebuah tim dalam membawa misi kesuksesan. Di sini, saya teringat motto kebersamaan dan bagaimana komunitas akan menjadi kuat, “Laa quwwata illa bil jama’ah, wa laa jama’ah illa bil imamah.”

*Penyair 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar