Selasa, 29 April 2014

Religiusitas Romo Mangunwijaya



Pada bulan Juli, sekitar 19 tahun silam, Mahkamah Agung mengabulkan tuntutan ganti rugi puluhan warga korban penggusuran Kedung Ombo. Di masa Soeharto berkuasa, mengkritik dan melawan kehendak pemerintah yang sewenang-wenang bukanlah hal yang biasa. Di belakang gerakan warga itu, berdiri seorang rohaniawan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau akrab dipanggil Romo Mangun.

Kali ini kita akan belajar dan mengingat kembali sosok multidimensi. Dia seorang tokoh agama Katolik, seorang imam atau romo projo, yang selama ini lebih banyak menghabiskan hidupnya untuk melayani masyarakat kecil.

Dia dikenal sebagai pembela warga korban gusuran Waduk Kedungombo, sebuah waduk terbesar di Jawa Tengah. Romo Mangun juga menjadi inspirator pemulihan pemukiman kumuh di bantaran Kali Code Yogyakarta menjadi lebih manusiawi.

Di bulan puasa ini, kita ingin belajar banyak dari seorang Romo Mangun terutama tentang religiusitas atau sikap beragama yang tidak sekadar beragama. Agama lebih menunjukkan kelembagaan kebaktian kepada Tuhan. Sedangkan religiusitas, lebih dari sekadar agama.

Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan di Konferensi Waligereja Indonesia, Romo Antonius Benny Susetyo Projo, mengaku mengenal Romo Mangun sejak lama. Selama mengenal sosoknya, laki-laki yang akrab disapa Romo Benny ini menyebutkan, dari sekian banyak ciri khas yang dimiliki oleh Romo Mangun, ada sejumlah ciri yang sangat dikenal oleh masyarakat secara luas; yakni sifat dermawan dan rendah hatinya.

“Saat kasus Kedungombo mencuat, ia sibuk mengumpulkan barang-barang bekas dan pakaian-pakaian untuk diberikan kepada ribuan warga yang terkena gusuran akibat pembangunan waduk itu. Ia memiliki prinsip bahwa menjadi seorang pastur tidak hanya melayani umatnya, melainkan semua umat,” kata Romo Benny.

Selain itu, lanjut Romo Benny ia juga dikenal sebagai sosok yang anti kemapanan. Ia kerap mengkritik pola hidup para rohaniwan yang memiliki pola hidup seperti kaum borjuis. “Yang saya ingat komentarnya pada saat itu adalah bahwa seorang pastur tidak pantas memiliki gaya hidup seperti itu. Karena tugas seorang pastur adalah melayani masyarakat yang heterogen. Yang terdiri dari kaum miskin dan kaya,” ujarnya.

Bagi Romo Benny, sosok seorang Romo Mangun juga dapat dijadikan sebagai panutan. Romo Mangun, kata dia, tak segan-segan memberikan motivasi kepada juniornya. Termasuk kepada dirinya. Ia mengingat, Romo Mangun pernah memintanya untuk menjadi seorang penulis. “Pada saat itu, saya habis mengalami kecelakaan dan untuk sementara menghentikan aktivitas saya di gereja. Kemudian Romo Mangun dating dan menyemangati saya untuk memiliki kegiatan sebagai penulis,” kenangnya.

Seorang peneliti, penulis juga salah seorang sahabat Romo Mangun, Mohamad Sobari berpendapat, sosok Romo Mangun patut disandingkan dengan nama besar tokoh pluralisme Indonesia—Gus Dur. “Karena baik Gus Dur dan Romo Mangun memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat. Namun, mereka memiliki cara sendiri dalam menerapkan idealismenya,” tutur laki-laki yang akrab disapa Kang Sobari ini

Senada dengan Sobari, Romo Benny sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh Sobari. Menurutnya, pemikiran Romo Mangun jauh ke depan. Seolah-olah dia bisa meramalkan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Makanya, banyak yang beranggapan bahwa pemikirannya kontoversi. Satu hal yang juga lekat pada Gus Dur. “Romo Mangun memang memiliki ide yang ke depan,” katanya singkat.

Sebagai seorang rohaniawan Katolik, Romo Mangun menurut Kang Sobari, sangat getol dalam memanifestasikan teologi progresif revolusioner atau sering juga disebut teologi pembebasan. Teologi yang memihak kaum kecil atau membebaskan kaum tertindas dari berbagai macam penindasan layaknya penindasan ekonomi, politik, budaya, dan lain sebagainya.

“Romo Mangun terkenal sebagai orang yang ngopeni (perhatian) terhadap sesuatu yang tidak terawat. Sikap perhatian romo mangun tersebut sebagian terlihat dari karya-karya arsitektur beliau yang telah mendapat lusinan penghargaan,” katanya.

Kang Sobari juga menganggap bahwa sosok Romo Mangun merupakan sosok yang pantas dikagumi. Beliau merupakan rohaniwan yang kerjaannya penuh pesona. Ia juga menganggap Romo Mangun sebagai sosok yang unik. “Sosok seperti Romo Mangun merupakan sosok yang unik. Yang belum tentu bisa dijumpai dalam kurun waktu 100 tahun,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar