Kamis, 13 November 2014

Manusia Sebagai Binatang Simbolis




Oleh Kunawi Basyir*

Keberadaan  manusia memang sangat unik (sui  generis) di tengah-tengah  peta eksistensi dunia ini. Dengan   ilustratif-hierarkial Schumacher, mengungkapkan bahwa manusia memiliki unsur “penyadaran diri” (komponen  “y”)  sebagai instansi  rohaniah  yang sangat spesifik yang  tidak akan pernah  dapat  disamai oleh  makhluk  selainnya. Dengan unsur ruhaniah tersebut manusia pada akhirnya mampu mengadakan refleksi transendensi “keluar” (dasein, menurut Heidegger) dari dirinya sendiri serta mendudukkan dirinya sendiri  sebagai obyek bagi perenungan dirinya sendiri. Melalui proses ini ia menjadi “mungkin” untuk dapat melihat kompleksitas yang terpendam secara potensialitas dalam kongkritnya. Dengan cara demikian, manusia  mampu mengadakan proses “reductio ad absurdum” (mengurai diri) membentuk rentang jarak antara dirinya sendiri sebagai subyek  (The I)  dengan diri obyek-nya  (The Me).

Dengan  melalui  proses yang  demikian  tersebut manusia menjadi “mungkin” dapat mengenal dirinya sendiri.  ”Gnothi seauthon”, (kenalilah dirimu sendiri)  sebuah kata magis yang dikutip oleh Socrates dari dinding Philadelphia, seolah-olah memiliki “kekuatan” sakral yang mampu membimbing manusia ke dalam renungan-renungan suci tentang dirinya sendiri. Ia digambarkan sebagai titik Archimedes yang mampu menarik seluruh gravitasi kesadaran diri  manusia  selaku “jagat” kecil dalam benua otonomi  eksistensialnya  yang  sangat misterius.  Disanalah kisah  sebuah perjanjian  agung  tentang kodrat dasar  manusia dipendam dengan  pesona misteri eksistensialitasnya.  

Tidak mudah memang untuk menyentuhnya apalagi merangkulnya, karena setiap upaya untuk memandangnya dengan sendirinya akan melibatkan  seluruh  potensi reflektif  kesadaran  manusia sedemikian  rupa sehingga ia dapat berdiferensi secara diametral dengan subyektifitasnya sendiri. Kesulitan untuk menemukan “jalan” masuk di satu sisi dengan kompleksitas yang terpendam dalam lautan misterinya di sisi yang lain inilah yang membuat “wujud” manusia selalu menggoda untuk direnung-kan, dijadikan sebagai ajang spekulasi dan didudukkan sebagai mata picu bagi pergulatan panjang  sejarah pemikiran  manusia.

Persoalan yang hendak  dibahas  disini adalah tentang pola-pola pendekatan terhadap masalah yang berkaitan dengan realitas dasar wujud manusia itu?, serta tentang titik tinjau pendekatan simbolik tentang wujud dasar manusia berikut perkembangannya.

Pendekatan  Terhadap  Wujud Manusia

Selama ini memang telah terdapat sejumlah  pendekatan yang dapat dipergunakan sebagai “jalan” untuk memasuki misteri wujud manusia. Keseluruhan pendekatan ini apabila kita kristalisasikan akan bermuara kepada dua bentuk pendekatan yang sangat fundamental, yakni pendekatan esensialistik dan pendekatan eksistensialistik. Pendekatan esensialistik pada  dasarnya bertolak  pada  asumsi dasar bahwa manusia memiliki suatu substansialitas atau esensi wujud yang diduga keras merupakan realitas fundamental bagi keberadaannya. Sementara pendekatan eksistensialistik, pada dasarnya menolak asumsi  tentang  adanya substansialitas  atau esensi  yang bersifat universal  dan umum  pada wujud manusia.

Menurut pendekatan ini, hakekat wujud manusia  tidak dapat diabstraksikan melalui jalur induksi untuk menemukan kesamaan-kesamaan  substansial. Manusia hanya  bisa dibicarakan secara individual dan personal.  Pengalaman setiap individu sangat berbeda  satu dengan lainnya,  oleh karena itu tidak akan pernah ada kesamaan hakiki dua orang sekalipun. Pengalaman tentang subyektifitas dirinya inilah yang merupakan ciri khas yang terdapat pada setiap manusia secara unik dan individual. Pengalaman tentang subyektifitas diri ini hanya dapat diperoleh dan dihayati melalui gerak dalam ruang hidup seseorang secara individual dan outentik. Proses “mengalami diri” inilah yang dinamakan sebagai bereksis-tensi.

Dengan demikian, menurut pendekatan ini eksistensi manusia mendahului esensi manusia. Pendekatan  esensialistik sendiri  mempunyai beragam titik pijak perspektifialnya. Aristoteles, berangkat  dari perspektif biologisme sampai pada kesimpulan bahwa manusia adalah hewan yang berakal (man is animal that  rational).  Perspektif ini selain merupakan tinjauan yang tertua  juga dianggap  masih  sangat efektif dalam merepresentasikan wujud manusia. Tidak heran jika kemudian  perspektif ini sangat  banyak dan cukup lama mempengaruhi pemikiran  para kaum cerdik pandai. Namun demikian penggunaan tinjauan ini bukan berarti tidak tanpa kesulitan dan keberatan-keberatan  tersendiri. Kesulitan tersebut misalnya tampak  dari pemikiran Rene Descartes, yang dengan menggunakan pendekatan “rasional”-nya terpaksa gagal menemukan  simpul  keterkaitan  antara  jiwa (kesadaran)  dengan  badan.  

Karena itu ia memberikan rumusan yang  bersifat  tentatif terhadap keduanya sebagai dua substansi yang hidup  dalam  satu sistem yang padu ibarat “hantu dalam mesin” (ghost in the machine), suatu pandangan yang kelak melahirkan  madzhab dualisme dalam peta ontologis. Mengingat terdapatnya banyak kesulitan yang  dihadapi dalam menggunakan pola pendekatan rasional esensialistik, maka dewasa ini banyak para filosof maupun ilmuwan humaniora mulai menggunakan pola pendekatan esensialistik lainnya, yakni pendekatan kemampuan simbolik dari manusia. Pendekatan inilah yang dikenal sebagai pendekatan esensialisme simbolis.

Manusia Sebagai  Animal Symbolicum

Pendekatan ini pertama kali diperkenalkan oleh  Ernst Cassirer sebagaimana termaktub didalam bukunya yang  cukup monumental, yakni “An Essay on Man”. Pendekatan simbolis ini pada dasarnya juga bersandar pada perspektif biologis. Cassirer sendiri sebagaimana diungkapkan didalam bukunya tersebut mengatakan sangat terpengaruh oleh teori biologis Von Uexkull, seorang biolog Jerman, yang berpandangan bahwa pada dasarnya organisme biologis manapun tidak dapat dilepaskan ekosistem yang melingkupinya.  Ekosistem  ini sangat bersifat khusus dan tepat bagi organisme yang bersangkutan. Setiap organisme mempunyai pengalamannya sendiri dan karena itu memiliki dunianya sendiri.

 Gejala-gejala  yang  kita lihat dalam spesies biologis tertentu tidak dapat diterapkan kepada spesies-spesies lainnya. Pengalaman-pengalaman –dan karena itu juga realitas- dari dua organisme yang berlainan tidak dapat dibanding-bandingkan satu sama lain. Dengan kata lain antara  struktur biologis suatu organisme dengan lingkungan yang  dihadapinya sangatlah sesuai dan tepat.

Berangkat  dari perspektif biologis gaya Von  Uexkull inilah Ernst Cassirer meneliti pola kehidupan yang  secara khas manusiawi. Menurut Cassirer, dunia manusiawi meskipun mengikuti hukum-hukum biologis sebagaimana semua kehidupan organisme  lainnya. Namun ia memiliki karakteristik  baru yang  menandai  ciri  khas  manusia. Lingkaran fungsi-onal manusia  tidak hanya berkembang secara kuatitatif,  tetapi juga  mengalami perubahan-perubahan  kualitatif. Manusia telah menemukan cara baru untuk menyesuaikan diri  dengan lingkungannya.  Diantara sistem reseptor dan sistem  efektor yang  terdapat  pada semua  spesies  binatang,  pada manusia terdapat mata rantai yang mungkin dapat kita sebut sebagai sistem simbolis.

Dengan pencapaian baru ini, maka kehidupan manusia segera mengalami perubahan yang sangat fundamental sekali. Manusia benar-benar hidup dalam dimensi realitas yang baru. Manusia tidak lagi hanya sekedar  merespon  lingkungannya  secara  instingtual  dan langsung,  tetapi secara intelektif mampu mengendalikan refleks biologis menjadi respons-respons interpretatif dan bahkan manipulatif. Dengan cara ini manusia tidak semata-mata hidup dalam dunia fisik semata-mata, tetapi ia  hidup juga dalam suatu dunia simbolis.

Pemikiran  simbolis dan tingkah laku simbolis merupakan ciri khas yang betul-betul khas  manusiawi dan  seluruh kemajuan  kebudayaan manusia mendasarkan diri pada kondisi-kondisi itu. Dari sinilah manusia menyusun realitas kebudayaannya yang secara umum merupakan  hasil dari proses simbolisasi dalam  hidup  dan kehidupannya. Oleh karenanya apabila kita ingin mengetahui realitas  terdalam dari hidup dan kehidupan manusia hendaknya kita telurusi dari kemampuan simbolisnya ini. Dari dasar pandangan ini Ernst Cassirer kemudian merumuskan definisi baru  terhadap hakekat manusia yakni, Animal Symbolicum (hewan yang bersimbol). Menurutnya, definisinya  tersebut bukan bermaksud untuk menggantikan definisi  yang  telah  klasik, yakni animal  rationale (hewan  yang  berakal).

 Tetapi  dengan definisi tersebut ia berusaha untuk mengoreksi dan memperluas  dimensi pengertian yang  dikandungnya. Rasionalitas memang sifat yang melekat pada seluruh aktifitas manusia, tetapi definisi ini banyak menyimpan kesulitan-kesulitan tersendiri terutama dalam kaitannya dengan fakta-fakta kebudayaan manusia. Fakta-fakta kehidupan manusia  manusia terutama sekali kebudayaannya tidaklah semata-mata bersifat  rasional, tetapi kadangkala bersifat irrasional  dan emosional.

Realitas  Simbolis Wujud  Manusia 

Dewasa ini penggunaan pendekatan simbolis untuk membahas realitas manusia telah banyak  dilakukan  dalam berbagai  cabang keilmuan, baik ilmiah, filsafat maupun theologi. Dalam bidang khusus kefilsafatan, mencari realitas dasar manusia tidaklah sederhana, mengingat sudut pandang yang hendak diberikannya harus bersifat mendalam, radiks  dan sistematis. Melalui prosedur analisis yang mendalam dan logis inilah filsafat hendak mengetahui realitas dasar manusia yang benar-benar substansial dari unsur-unsur  yang hanya bersifat aksidental.

Dengan  demikian diperlukan suatu sistem pendekatan yang mampu mengabstraksikan  unsur-unsur  yang bersifat  substansial  dari unsur-unsur yang aksidental. Penggunaan pendekatan simbolis pada akhirnya  banyak dipilih oleh para pemikir, karena perbuatan dan tingkah laku  simbolis manusia merupakan fenomena yang bersifat universal  dan khas pada diri manusia. Adapun  aspek  yang paling umum ditinjau dari prilaku simbolis manusia  adalah perbuatan  berbicara atau bahasa. Aspek ini dipilih  oleh para  pemikir, karena memuat banyak kemudahan dan  manfaat yang dapat diperoleh dari kompleksitasnya.

Pertama, kemampuan berbicara atau berbahasa adalah gejala yang sudah dikenal dengan baik dan jelas, sehingga  secara relatif mudah dipelajari oleh setiap orang  baik pada dirinya sendiri maupun pada orang-orang lain. Karena kemampuan berbicara dan berbahasa merupakan ciri khas dan mengisi eksistensi manusia, maka aspek ini  menjadi  tema yang paling banyak dipilih dan disukai oleh para pemikiran kontemporer.

Santo  Gregorius dari Nizza  (abad  keempat) di dalam bukunya tentang penciptaan manusia, ia menjelaskan bahwa oleh karena mansusia bisa berbicara dengan  lidahnya serta mengisyaratkan dengan tangannya, maka  ia  melebihi binatang-binatang. Tangan, menurutnya, seperti juga kemampuan berbicara pada manusia merupakan lambang serta alat dari roh, alat yang memungkinkannya untuk mengukur segala benda dan mengisya-ratkan segala realitas. Descartes di dalam Discours de la methode, juga menyinggung  kemampuan berbicara  manusia ,sedemikian Marleau-Ponty di dalam buku-bukunya- Phenomenologie de la Perception, Paul Ricour di dalam La Symbolique, Sigmund Freud dan lain sebagainya. Ketiga, kemampuan berbicara atau berbahasa  menggambarkan keseluruhan manusia atau manusia secara menyeluruh. Andre Marc, menyatakan didalam bukunya Psychology Reflexive bahwa keuntungan yang dapat diperoleh dengan memulai suatu filsafat manusia melalui suatu refleksi terhadap kemampuan bicara.

Selain gejala mampu berbicara itu mudah dikonstatir dan bahwa hal itu memang memberikan corak khas  terhadap  “ada”-nya manusia, keadaan itu  memperbolehkan  kita untuk mengerti manusia dalam “kesatuannya” yang  dinamis dan sekaligus dalam kompleksitasnya sebagai suatu kesatuan yang  hidup, terbawa kearah dunia dan  berhubungan  dengan sesamanya.

Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan simbolis dalam memahami  realitas  dasar dari  wujud manusia ialah karena perbuatan berbicara atau berbahasa mengisyaratkan (meng-asumsikan)  beberapa  hal yang  sangat fundamental dalam struktur hakiki  manusia, yakni :

Pertama, dengan berbicara atau berbahasa, maka mengisyaratkan bahwa  manusia bersifat sadar dan bebas. Tentu saja untuk kepentingan bahasan tersebut hendaklah diabaikan dulu bahasa atau perbuatan meng-isyaratkan yang bersifat tidak sadar, afektif maupun fiksasi psikologis. Yang dibicarakan dalam kaitan ini adalah perbuatan berbicara atau berbahasa yang sadar, yakni bahasa yang digunakan untuk ekspresi sesuatu secara “dipikirkan”  

Kedua, dengan  berbicara atau  berbahasa  mengisyaratkan bahwa makhluk yang berbicara dan mengisyaratkan harus memiliki sebuah kesatuan substansial dibawah banyaknya perbuatan yang dilakukannya. Asumsi ini berangkat dari kenyataan bahwa perbuatan berbicara atau berbahasa  melibatkan perbuatan yang bersifat banyak, maka perlulah pada waktu ia melakukan perbuatan-perbuatan itu, ia tetap tinggal secara substansial; ia identik dengan dirinya. Sebab jika tidak ia tidak akan dapat melanjutkan suatu percakapan yang paling kecil pun, atau mungkin ia tidak akan mampu menyelesaikan sebuah kalimat yang paling sederhana sekalipun.

Ketiga, dengan  berbicara atau  berbahasa  mengisyaratkan bahwa ia memiliki eksistensi wujud yang bersifat  eksterioritas .  Hal ini terlihat dari kemampuan dirinya yang sanggup mengarahkan dirinya secara terbuka terhadap dunia dan kehadiran pada orang-orang lain. Berbicara menunjuk-kan orang hadir dalam dunia dan tampil ditengah mereka yang mendiaminya. Orang selalu berbicara tentang sesuatu kepada seseorang. Orang selalu mengucapkan dirinya  dalam  suatu alam realitas inderawi, disitu semestinya terdapat  mereka yang berbicara dan mereka yang menulis, mereka yang menjadi lawan berbicara dan mereka yang membaca.

Keempat, dengan  berbicara atau  berbahasa  mengisyaratkan bahwa ia memiliki interioritas (ruang dalam jiwa). Hal ini dapat dilihat dari kemampuannya untuk menerima dan memiliki kreativitas. Apa yang dikemukakannya tentang dunia, telah lebih dulu, dipikirkannya dan terkandung  dalam dirinya sendiri. Dengan cara ini ia bisa meninjau kembali apa yang telah dikatakan atau ditulisnya untuk memperjelas dan membetulkannya. Tentu saja hal ini tidak dapat dilakukan  kecuali  melalui cahaya suatu pikiran  yang  secara bagaimanapun, mendahului pengeks-presiannya.

Kelima dengan  berbicara atau  berbahasa  mengisyaratkan bahwa ia merupakan suatu makhluk yang hidup. Dengan berbahasa manusia menempatkan diri ke dalam dunia, menyesuaikan diri dengannya, berpar-tisipasi dengan eksistensinya, memanfaatkan kemungkinan-kemung-kinannya dan menikmati kekayaannya. Pendek kata, dengan berbicara manusia  bersikap sebagai sesuatu yang hidup.

Keenam, dengan  berbicara atau  berbahasa  mengisyaratkan bahwa ia adalah makhluk yang mampu mengetahui dan  mempunyai afektivitas. Asumsi ini berangkat dari realitas bahwa manusia selalu berbicara untuk mengemukakan apa yang telah diketahuinya tentang  dunia, atau untuk menjelaskan apa yang telah dapat dimengertinya dari realitas, ataupun paling tidak untuk memberikan informasi-informasi atau untuk mengajukan pendapat-pendapat. Selain itu, asumsi ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia memiliki afektivitas. Setiap orang hampir hanya membicarakan apa yang menarik baginya, dan hanya berbicara panjang lebar hal-hal yang dianggap tidak penting atau bukan pada tempatnya. Orang tidak akan berbicara lama dengan orang lain yang nyata menunjukkan syak wasangka. Bahkan, merupakan suatu cara untuk mengemukakan rasa tidak senang atau rasa kurang menghargai, kalau seseorang menolak untuk mengadakan percakapan dengan orang lain.

Ketujuh, dengan perbuatan berbicara atau berbahasa  mengisyarat-kan bahwa ia adalah makhluk yang berdimensi rohani dan jasmani. Asumsi ini berangkat dari kenyataan bahwa jasmani yang bersifat inderawiah diperlengkapi dengan anggota  serta organ yang memungkinkannya mengubah materi untuk membuatnya signifikasi. Dan unsur rohanilah  yang membuat segala hal menjadi signifikasi. Jasmani yang hidup, mengeluarkan suara, melakukan gerakan isyarat  dan mengubah  wajah bumi. Suatu roh yang menjiwai  suara  dan memberi makna kepada gerakan. Sebuah jasmani dan  ruhani yang  hanya merupakan satu makhluk saja, bagaimana  sebuah tanda terdiri dari suatu unsur inderawi dan suatu signifikasi. Sebuah badan yang dijiwai dan dispiritualisasikan, sebuah roh yang dijelmakan dan disituasikan.  

Demikian uraian singkat tentang pola pendekatan simbolis dalam filsafat manusia. Pendekatan simbolis ini memang menawarkan banyak nuansa yang  cukup  bervariatif sekali  terutama dalam kaitannya dengan lingkungan  kebudayaannya. Sementara hidup dan kehidupan manusia sendiri tidak dapat dilepaskan dari lingkup budaya yang merupakan produk dari proses simbolisasinya. Maka, melalui  pendekatan simbolis ini diharapkan akan dapat  tereksplisitasikan kemampuan  dan  makna simbolis yang melingkupi hidup  dan kehidupannya tersebut.

*Penulis adalah dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar