Kamis, 31 Desember 2015

Fitnah Jamal, Ketika Aisyah Memerangi Imam Ali


Thalhah, misan Âisyah, yang diharapkan Âisyah akan menjadi khalîfah, meninggal dalam Perang Jamal. Ia dibunuh oleh Marwân bin Hakam anggota pasukannya sendiri, karena keterlibatannya dalam pembunuhan Utsmân. Setelah memanah Thalhah, Marwân berkata: “Aku puas! Sekarang aku tidak akan menuntut lagi darah Utsmân!”

Oleh O Hashem (penulis buku Saqifah)

Âisyah berangkat ke Makkah. Ia berhenti di depan pintu masjid menuju ke al-Hajar kemudian mengumpul orang dan berkata: “Hai manusia. Utsmân telah dibunuh secara zalim! Demi Allâh kita harus menuntut darahnya.” Dia dilaporkan juga telah berkata: “Hai kaum Quraisy! Utsmân telah dibunuh. Dibunuh oleh Alî bin Abî Thâlib. Demi Allâh seujung kuku atau satu malam kehidupan Utsmân, lebih baik dari seluruh hidup Alî.”[[1]]

UMMU SALAMAH MENASIHATI ÂISYAH
Ummu’l-mu’minîn Ummu Salamah menasihati Âisyah agar ia tidak meninggalkan rumahnya: “Ya Âisyah, engkau telah menjadi penghalang antara Rasûl Allâh saw dan umatnya. Hijâbmu menentukan kehormatan Rasûl Allâh saw. Al-Qur’ân telah menetapkan hijâb untukmu.[[2]] Dan jangan engkau membukanya. Tempatmu telah pula ditentukan Allâh SWT dan janganlah engkau keluar. Allâh-lah yang akan melindungi umatnya. Rasûl Allâh saw mengetahui tempatmu. Kalau Rasûl Allâh saw ingin memberimu tugas tentu telah beliau sabdakan. Ia telah melarang engkau mengelilingi kota-kota. Apa yang akan engkau katakan kepada Rasûl Allâh saw seandainya engkau bertemu dengan beliau di perjalanan dan engkau sedang menunggangi untamu dan bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain? Allâh sudah menetapkan tempatmu dan engkau suatu ketika akan bertemu dengan Rasûl Allâh saw di akhirat. Dan seandainya aku disuruh masuk ke surga firdaus, aku malu berjumpa dengan Rasûl Allâh saw dalam keadaan aku melepaskan hijâbku yang telah diwajibkan Allâh SWT atas diriku. Jadikanlah hijâbmu itu sebagai pelindung dan jadikanlah rumahmu sebagai kuburan sehingga apabila engkau bertemu dengan Rasûl Allâh saw ia rela dan senang akan dirimu!”[[3]]

Âisyah tidak menghiraukannya. Thalhah, Zubair dan Abdullâh bin Zubair pergi bergabung dengan Âisyah di Makkah. Demikian pula Banû Umayyah serta penguasa-penguasa Utsmân yang diberhentikan Alî dengan membawa harta baitul mâl. Hafshah binti Umar yang juga ummu’l-mu’minîn, diajak Âisyah, tapi membatalkan niatnya karena dilarang oleh kakaknya Abdullâh bin Umar.

Abû Mikhnaf Lûth al-Azdî berkata: “Setelah Alî tiba di Dzi Qar[[4]], Âisyah menulis kepada Hafshah binti Umar bin Khaththâb: “Amma ba’du. Aku kabarkan padamu bahwa Alî telah tiba di Dzi Qar, dan ia benar-benar sedang ketakutan setelah mengetahui jemaah kami telah siap siaga. Dan ia berada di tepi jurang, bila ia maju, akan dipancung, ”uqira”, bila mundur disembelih, “nuhira”, dan Hafshah memanggil para dayangnya dan menyuruh mereka menyanyi sambil memukul rebana:

“Apa kabar, apa kabar,
Alî dalam perjalanan,
Seperti penunggang di tepi jurang,
Maju, terpancung,
Mundur, terpotong.”

Wanita-wanita para thulaqâ’ (mereka yang baru masuk Islam pada waktu dibukanya kota Makkah, pen.) masuk ke rumah Hafshah ketika mendengar nyanyian itu. Mereka berkumpul dan menikmati nyanyian. Setelah sampai berita ini kepada Ummu Kaltsum binti Alî bin Abî Thâlib, ia lalu pakai jilbabnya untuk menyaru. Sampai di tengah-tengah mereka, dia buka jilbabnya. Setelah Hafshah tahu bahwa orang itu adalah Ummu Kaltsum ia merasa malu dan berhenti bernyanyi. Lalu Ummu Kaltsum berkata: “Kalau engkau berdua (maksudnya Âisyah dan Hafshah, pen.) menentang Alî bin Abî Thâlib sekarang, dahulu pun kamu berdua menentang saudara Alî bin Abî Thâlib (maksudnya Rasûl Allâh saw.) sehingga turun ayat mengenai kamu berdua.” Hafshah lalu menyela: “Stop! Mudah-mudahan Allâh merahmatimu!” Ia lalu mengambil surat Âisyah tersebut, merobeknya dan minta ampun kepada Allâh!”[[5]]

Setelah sampai di wilayah Iraq, Sa’îd bin Âsh bertemu Marwân bin Hakam dan kawan-kawannya. Ia berkata: “Tunggu apa lagi kamu! Pemberontak dan pembunuh Utsmân berada di sekeliling unta (yang ditunggangi Âisyah) itu! Bunuhlah mereka dan kembalilah ke tempatmu sesudah itu. Jangan kamu membunuh diri kamu sendiri!” Mereka menjawab: “Biar mereka saling membunuh dan pembunuh Utsmân dengan sendirinya akan terbunuh!” Mereka lalu bergabung dengan Âisyah.[[6]]

Dalam menuju Bashrah, Âisyah, Thalhah dan Zubair berhenti di Sumur Abî Mûsâ dekat Bashrah. Utsmân bin Hunaif, gubernur Bashrah mengirim utusan yang bernama Abû al-Aswad ad-Du’ali yang lansung menemui Aisyah dan ia bertanya kepada Âisyah akan maksud perjalanannya.

Âisyah: ”Aku menuntut darah Utsmân!”

Abû Al-Aswad: “Tak ada seorang pun pembunuh “Utsmân di Bashrah!”

Âisyah: “Engkau benar. Mereka berada bersama Alî bin Abî Thâlib di Madînah. Dan aku datang membangkitkan orang Bashrah untuk memerangi Alî. Kami memarahi Utsmân karena cambuknya yang memecuti kamu (umat Islam, pen.). Maka tidakkah kami juga harus membela Utsmân dengan pedangmu?”

Abû Al-Aswad: “Apa urusanmu dengan cambuk dan pedang! Engkau adalah istri Rasûl Allâh saw. Engkau diperintahkan untuk tinggal di rumahmu dan mengaji Kitâb Tuhanmu dan perempuan tidaklah pantas untuk berperang dan tidak juga untuk menuntut darah. Sesungguhnya Alî lebih pantas dan lebih dekat hubungan keluarga untuk menuntut , karena mereka berdua (Alî dan Utsmân), adalah anak Abdi Manâf!”

Âisyah : “Saya tidak akan mundur, sebelum saya melaksanakan apa yang telah saya rencanakan. Apakah engkau menduga bahwa seseorang mau memerangi saya?”

Abû Al-Aswad: “Ya, demi Allâh! Engkau akan berperang dalam suatu peperangan yang bagaimanapun kecilnya, masih akan tetap paling dahsyat!”

Tiba di tepi kota Bashrah, orang-orang terkagum-kagum melihat unta Âisyah yang besar dan mengagumkan. Jâriyah bin Qudâmah mendatangi Âisyah dan berkata: “Wahai ummu’l-mu’minîn! Pembunuhan Utsmân merupakan tragedi, tetapi tragedi yang lebih besar lagi adalah bahwa Anda telah keluar dari rumah Anda, menunggangi unta terkutuk ini dan merusak kedudukan dan kehormatan Anda. Lebih baik Anda pulang.”

Âisyah tidak peduli dan orang-orang merasa heran. Ayat Al-Qur’ân yang memerintahkan para istri Rasûl agar tinggal di rumah tidak dapat lagi menahannya.

Tatkala pasukan ini berusaha masuk kota Bashrah, Gubernur Bashrah Utsmân bin Hunaif datang untuk menghalangi mereka dan tatkala dua pasukan saling berhadapan, mereka mencabut pedang masing-masing dan saling menyerbu. Waktu sejumlah anggota pasukan telah berguguran Âisyah datang melerai dan kedua pasukan sepakat bahwa sampai Amîrul muminîn Alî bin Abî Thâlib tiba, pemerintahan yang ada berjalan sebagaimana biasa dan Utsmân bin Hunaif harus tetap dalam kedudukannya sebagai gubernur.

PEMBUNUHAN BERDARAH DINGIN, MENCABUTI RAMBUT GUBERNUR
Tetapi, baru dua hari berlalu, mereka menyergap Utsmân bin Hunaif pada malam hari, membunuh empat puluh orang yang tidak bersalah, memukuli gubernur Utsmân bin Hunaif, mencabut tiap helai rambut dan jenggotnya kemudian menawannya. Mereka lalu menyerang dan merampok Bait Al-Mâl sambil membunuh dua puluh orang di tempat serta lima puluh orang dibunuh berdarah dingin setelah menyerah. Setelah itu mereka merebut gudang gandum. Seorang tokoh tua kota Bashrâ yang bernama Hâkim bin Jabalah tidak dapat lagi menahan diri. Ia mendatangi mereka dengan anggota suku dan keluarganya. Ia berkata kepada Abdullâh bin Zubair: “Tinggalkan sebagian gandum untuk penduduk kota! Bagaimanapun juga penindasan harus ada batasnya. Kamu telah menyebarkan maut dan perusakan serta menawan Utsmân bin Hunaif. Demi Allâh tinggalkan perbuatan celaka ini dan lepaskanlah Utsmân bin Hunaif. Apakah tidak ada lagi takwa dalam hatimu?”

Abdullâh bin Zubair berkata: “Ini kami lakukan untuk menuntut darah Utsmân!”

Hâkim bin Jabalah menjawab: “Adakah orang-orang yang kamu bunuh itu pembunuh Utsmân? Demi Allâh bila aku punya pendukung, tentu akan kutuntut balas terhadap pembunuhan kaum Muslimîn tanpa sebab ini!”

Ibnu Zubair menjawab: “Kami sama sekali tidak akan memberikan apa pun dari gandum ini, dan tidak akan kami lepas Utsmân bin Hunaif!”

Akhirnya terjadi pertempuran dan gugurlah Hâkim bin Jabalah dan kedua anaknya, Asyrâf dan Ri’i bin Jabalah bersama tujuh puluh anggota sukunya yang lain.

Perang yang paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Dalam perang ini bapak dan anak serta saudara saling membunuh, melemahkan jiwa dan raga masyarakat Islam yang sebenarnya merupakan awal berakhirnya Daulah Islamîyah dan membuka jalan kepada kerajaan.

Ibnu Abd Rabbih meriwayatkan bahwa Mughîrah bin Syu’bah, sesudah Perang Jamal mendatangi Âisyah. Âisyah berkata kepadanya: “Hai Abû Abdillâh aku ingin engkau berada bersama kami pada Perang Jamal; bagaimana anak-anak panah menembus haudaj-ku[[7]] dan sebagian menyentuh tubuhku!”

Mughîrah bin Syu’bah menjawab: “Aku menghendaki satu dari panah-panah itu membunuhmu?” Âisyah: “Mudah-mudahan Allâh mengampunimu! Mengapa demikian?” Mughîrah menjawab: “Agar terbalas apa yang engkau lakukan terhadap Utsmân!”[[8]]

Diriwayatkan bahwa sekali seorang wanita bertanya kepada Âisyah tentang hukumnya seorang ibu yang membunuh anak bayinya. Âisyah menjawab: “Neraka tempatnya bagi ibu yang durhaka itu!” Kalau demikian, tanyanya, “Bagaimana hukum seorang ibu yang membunuh dua puluh ribu anaknya yang telah dewasa?” Âisyah berteriak dan menyuruh orang melempar keluar wanita tersebut. Âisyah, memang, sebagai istri Rasûl ditentukan Allâh SWT sebagai ibu kaum mu’minîn.[[9]] Dan perang yang dilancarkannya terhadap Imâm Alî telah menyebabkan terbunuhnya dua puluh ribu anaknya sendiri. Setelah semua ini Âisyah kembali ke rumahnya.

Thalhah, misan Âisyah, yang diharapkan Âisyah akan menjadi khalîfah, meninggal dalam Perang Jamal. Ia dibunuh oleh Marwân bin Hakam anggota pasukannya sendiri, karena keterlibatannya dalam pembunuhan Utsmân. Setelah memanah Thalhah, Marwân berkata: “Aku puas! Sekarang aku tidak akan menuntut lagi darah Utsmân!” Zubair bin Awwâm, iparnya, suami kakaknya Asmâ’ binti Abû Bakar meninggalkan pasukan setelah mendengar nasihat Imam Alî. Ia dibunuh dari belakang oleh seorang yang bernama Amr bin Jurmuz. Alî berkata: “Zubair senantiasa bersama kami sampai anaknya yang celaka[[10]] menjadi besar.”

Sepanjang masa peperangan Jamal ini Abdullâh bin Zubair menjadi imam salat, karena Thalhah dan Zubair berebut jadi imam dan Âisyah menunjuk Abdullâh. Juga, Abdullâh bin Zubair menuntut bahwa ia lebih berhak terhadap kekhalifahan dari ayahnya dan Thalhah dan menyatakan bahwa Utsmân telah mewasiatkan kepadanya untuk menjabat khalîfah.[[11]]

Orang sering mengajukan pertanyaan mengenai Zubair dan Thalhah, seperti mengapa harus Abdullâh bin Zubair yang mengimami salat padahal Zubair dan Thalhah adalah Sahabat Rasûl dan mengapa mereka berdua harus berebut dan bertengkar menjadi imam sehingga Âisyah lalu menunjuk Abdullâh bin Zubair? Mengapa membaiat Alî, kemudian memerangi Alî? Kalau menganggap Alî kafir, maka lari atau menyerah dari perang melawan orang kafir adalah kafir.  Kalau Alî adalah Muslim, maka memerangi Alî adalah kafir.

Sedih, memang! Muhammad bin Abû Bakar, adik Âisyah yang berperang di pihak Alî melawan Âisyah, akhirnya di kemudian hari dibunuh oleh Mu’âwiyah, dimasukkan dalam perut keledai lalu dibakar.

Alî benar tatkala ia mengatakan bahwa ia diuji oleh empat hal. Pertama oleh orang yang paling cerdik dan dermawan, yaitu Thalhah. Kedua oleh orang yang paling berani, yaitu Zubair. Ketiga oleh orang yang paling bisa mempengaruhi orang, yaitu Âisyah. Yang terakhir oleh orang yang paling cepat terpengaruh fitnah, yaitu Ya’la bin Umayyah. Yang terakhir ini adalah penyedia dana utama untuk Perang Jamal, dengan membawa harta baitul mâl tatkala ia jadi gubernur Utsmân di Yaman. Ia menyerahkan 400.000 dinar kepada Zubair dan menanggung pembiayaan tujuh puluh anggota pasukan orang Quraisy. Ia membelikan seekor unta yang terkenal besarnya untuk Âisyah seharga delapan puluh dinar.[[12]]

Âisyah adalah seorang luar biasa. Bagaimana ia mengguncangkan dua khalîfah sekaligus dan bagaimana ia berubah dari seorang yang mengeluarkan fatwa untuk membunuh Utsmân dan setelah Utsmân terbunuh, ia menuntut darah Utsmân dan membuat umat Islam berontak melawan Alî.

Rasanya, Utsmân tidak akan terbunuh tanpa fatwa Âisyah yang punya pengaruh demikian besar terhadap kaum Muslimîn karena kedudukannya sebagai istri Rasûl. Setelah Utsmân terbunuh ia gembira. Tetapi setelah Alî dibaiat ia mampu menghimpun para pembunuh dan keluarga yang terbunuh untuk bangkit melawan Alî bin Abî Thâlib. Ia dapat mengubah kesan orang terhadap Alî yang membela Utsmân menjadi orang yang tertuduh membunuh Utsmân.

Âisyah punya kelebihan. Setelah meruntuhkan dua khalîfah ia bisa berubah menjadi orang yang tidak berdosa. Dan perannya dalam menentukan akidah umat berlanjut sampai sekarang dengan hadis-hadisnya yang banyak.

Ummu Salamah, misalnya, yang juga ummu’l-mu’minîn tidaklah mendapat tempat yang terhormat seperti Âisyah. Hal ini disebabkan karena Ummu Salamah berpihak kepada ahlu’l-bait dengan sering meriwayatkan hadis-hadis yang mengutamakan Alî, seperti hadis Kisâ’. Abû Bakar, ayahnya, maupun Umar bin Khaththâb menyadari kemampuan Âisyah, dan sejak awal mereka menjadikan Âisyah sebagai tempat bertanya. Ibnu Sa’d, misalnya, meriwayatkan dari Al-Qâsim: “Âisyah sering diminta memberikan fatwa di zaman Abû Bakar, Umar dan Utsmân dan Âisyah terus memberi fatwa sampai mereka meninggal.”[[13]]

Dari Mahmûd bin Labîd: “Âisyah memberi fatwa di zaman Umar dan Utsmân sampai keduanya meninggal. Dan Sahabat-sahabat Rasûl Allâh saw yang besar, yaitu Umar dan Utsmân sering mengirim orang menemui Âisyah untuk menanyakan Sunnah.”

Malah Umar memberikan uang tahunan untuk Âisyah lebih besar 20 % dari istri Rasûl yang lain. Tiap istri Rasûl mendapat sepuluh ribu dinar sedang Âisyah dua belas ribu. Pernah Umar menerima satu kereta dari Irak yang di dalamnya terdapat mutiara (jauhar) dan Umar memberikan seluruhnya pada Âisyah.[[14]] Disamping pengutamaan Umar kepada Âisyah dalam fatwa maupun hadiah, Umar juga menahannya di Madînah dan hanya membolehkan Âisyah melakukan sekali naik haji pada akhir kekhalifahan Umar dengan pengawalan yang ketat. Umar menyadari betul peran Âisyah yang tahu memanfaatkan kedudukannya yang mulia di mata umat sebagai ibu kaum mu’minîn dan memiliki kemampuan yang tinggi untuk mempengaruhi orang. Dengan demikian mereka saling membagi keutamaan. Sedangkan Utsmân, terutama pada akhir kekhalifahannya, melalaikan hal ini.

Dan di pihak lain, Alî seperti juga Fâthimah sejak awal menjadi bulan-bulanan ummu’l-mu’minîn Âisyah. Para ahli tidak dapat memecahkan misteri kebencian ummu’l-mu’minîn Âisyah terhadap anak tirinya Fâthimah dan Alî yang barangkali belum ada taranya dalam sejarah umat manusia bila kita pikirkan betapa tinggi kedudukan Fâthimah dan Alî di mata Rasûl Allâh saw. Fâthimah adalah satu dari empat wanita utama dalam dunia Islam, sedang Alî dikenal sebagai orang yang paling mulia dan paling utama sesudah Rasûl dan jasanya terhadap Islam sangatlah besar. Kalau Mu’âwiyah bersujud dan diikuti orang-orang yang menemaninya, dan salat dhuhâ enam raka’at saat mendengar Alî meninggal dunia di kemudian hari, sedangkan Âisyah melakukan sujud syukur ketika mendengar berita gembira ini seperti dilaporkan oleh Abû’l-Faraj al-Ishfahânî.[15]

Thabarî, Abû’l-Faraj Al-Ishfahânî, Ibnu Sa’d dan Ibnu Al-Atsîr melaporkan bahwa tatkala seorang menyampaikan berita kematian Alî, ummu’l-mu’minîn Âisyah bersyair: “Tongkat dilepas, tujuan tercapai sudah. Seperti musafir gembira pulang ke rumah!” Kemudian ia bertanya: “Siapa yang membunuhnya?” Jawab: “Seorang laki-laki dari Banû Murad!” Âisyah berkata:  “Walaupun ia jauh, berita matinya telah sampai, dari mulut seorang remaja, yang tak tercemar tanah!”[[16]] Maka berkatalah Zainab puteri ummu’l-mu’minîn Ummu Salamah: “Apakah Alî yang engkau maksudkan?” Âisyah menjawab: “Bila aku lupa kamu ingatkan aku!”[[17]] Kemudian Zainab berkata: “Selalu kasidah dihadiahkan di berbagai kalangan, tentang “Shiddîq” dan bermacam-macam julukan, akhirnya kau tinggalkan juga. Di setiap pertemuan, kau keluarkan kata-kata, seperti dengungan lalat belaka.”[[18]]

MENGAPA ÂISYAH BENCI FÂTHIMAH DAN ALÎ?
Kebencian Âisyah kepada anak tirinya Fâthimah dan suami Fâthimah, Alî, sangat bertalian dengan kecemburuannya kepada Khadîjah yang telah lama meninggal. Cemburu Âisyah terhadap Khadîjah dapat dipahami dari kata-katanya sendiri.

Âisyah berkata[[19]]: “Cemburuku terhadap istri-istri Rasûl tidak seperti cemburuku kepada Khadîjah karena Rasûl sering menyebut dan memujinya, dan Allâh SWT telah mewahyukan kepada Rasûl saw agar menyampaikan kabar gembira kepada Khadîjah bahwa Allâh SWT akan memberinya rumah dari permata di surga.”

Dan di bagian lain[[20]]: “Aku tidak cemburu terhadap seorang dari istri-istrinya seperti aku cemburu kepada Khadîjah, meski aku tidak mengenalnya. Tetapi Nabî sering mengingatnya dan kadang-kadang ia menyembelih kambing, memotong-motongnya dan membagi-bagikannya kepada teman-teman Khadîjah.”

Di bagian lain: “Suatu ketika Hâlah binti Khuwailid, saudari Khadîjah, minta izin menemui Rasûl dan Rasûl mendengar suaranya seperti suara Khadîjah.” Rasûl terkejut dan berkata: “Allâhumma Hâlah!” Dan aku cemburu. Aku berkata: “Apa yang kau ingat dari perempuan tua di antara perempuan-perempuan tua Quraisy...dan Allâh telah menggantinya dengan yang lebih baik.”

Di bagian lain lagi[[21]]: “Dan wajah Rasûl Allâh saw berubah, belum pernah aku melihat ia demikian, kecuali pada saat turun wahyu.”

Dan dalam riwayat lain[[22]]: “Allâh tidak mengganti seorang pun yang lebih baik dari dia. Ia beriman kepada saya tatkala orang lain mengingkari saya. Ia membenarkan saya ketika orang lain mendustakan saya. Dan ia membantu saya dengan hartanya tatkala orang lain enggan membantu saya. Allâh SWT memberi anak-anak kepada saya melaluinya dan tidak melalui yang lain.”

Kebenciannya terhadap Alî juga disebabkan sikap Rasûl saw yang mendahulukan Alî dari ayahnya, Abû Bakar, sebagaimana pengakuannya sendiri.  Imâm Ahmad menceritakan[[23]], yang berasal dari Nu’mân bin Basyîr: “Abû Bakar memohon izin menemui Rasûl Allâh saw dan ia mendengar suara keras Âisyah yang berkata: “Demi Allâh, aku telah tahu bahwa engkau lebih mencintai Alî dari ayahku dan diriku!”, dan ia mengulanginya dua atau tiga kali. Âisyah seperti lupa firman Allâh: “Dan ia tiada berkata menurut keinginannya sendiri. Perkataannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyu-kan kepadanya.”[[24]]

Ibn Abîl-Hadîd menceritakan: “Aku membacakan pidato Alî mengenai Âisyah dari Nahju’l-Balâghah[[25]], kepada Syaikh Abû Ayyûb Yûsuf bin Ismâîl tatkala aku berguru ilmu kalam kepadanya. Aku bertanya bagaimana pendapatnya tentang pidato Alî tersebut. Ia memberi jawaban yang panjang. Aku akan menyampaikannya secara singkat, sebagian dengan lafatnya sebagian lagi dengan lafalku sendiri. (Abû Ayyûb melihat dari kacamata yang umum terjadi. Penulis menerjemahkannya agak bebas). 

Abû Ayyûb berkata: “Kebencian Âisyah kepada Fâthimah timbul karena Rasûl Allâh saw mengawini Âisyah setelah meninggalnya Khadîjah. Sedang Fâthimah adalah putri Khadîjah. Secara umum antara anak dan ibu tiri akan timbul ketegangan dan kebencian. Istri akan mendekati ayahnya dan bukan suaminya, dan anak perempuan tidak akan senang melihat ayahnya akrab dengan ibu tirinya. Ia menganggap ibu tirinya merebut tempat ibunya. Sebaliknya anak perempuan benar-benar jadi tumpuan kecemburuan ibu tiri. Beban cemburu Âisyah kepada almarhumah Khadîjah, berpindah kepada Fâthimah.

Besarnya kebencian pada anak tirinya sebanding dengan bencinya kepada madunya yang telah meninggal. Apalagi bila suaminya sering mengingat istrinya yang telah meninggal itu.

Kemudian semua sepakat bahwa Fâthimah mendapat kedudukan mulia di sisi Allâh SWT melalui hadis Rasûl, yang juga ayahnya, sebagai Penghulu Wanita Kaum Mu’minîn yang kedudukannya sejajar dengan Asiyah, Mariam binti Imrân dan Khadîjah Al-Kubrâ seperti yang tertera dalam hadis shahîh Bukhârî dan Muslim. Dan Rasûl saw, sekali lagi dalam kedudukannya sebagai Nabî, memuliakan Fâthimah dengan kemuliaan yang besar, lebih besar dari yang disangka orang dan lebih besar dari pemuliaan yang lazim diberikan seorang ayah mana pun kepada anaknya. Sampai melewati batas cinta ayah kepada anak. Dan Rasûl Allâh saw menyampaikannya terang-terangan di kalangan khusus maupun umum, berulang-ulang, bukan hanya sekali, dan di kalangan yang berbeda-beda, bukan di satu kalangan saja bahwa “Fâthimah adalah penghulu kaum wanita sedunia.” Melalui hadis yang berasal dari Alî, Umar bin Khaththâb, Hudzaifah Ibnu Yaman, Abû Sa’îd Al-Khudrî, Abû Hurairah dan lain-lain Rasûl bersabda:

“Sesungguhnya, Fâthimah adalah penghulu para wanita di surga, dan Hasan serta Husain adalah penghulu para remaja di surga. Namun ayah mereka berdua (Alî) lebih mulia dari mereka berdua.”[[26]]

Atau hadis yang diriwayatkan Âisyah sendiri bahwa Rasûl telah bersabda: “Wahai Fâthimah, apakah engkau tidak puas menjadi penghulu para wanita sejagat atau penghulu wanita umat ini atau penghulu kaum mu’minât?[[27]]

Sekali lagi, Rasûl Allâh saw melakukan ini sebagai Nabî, bukan sebagai orang biasa yang mudah terbawa oleh hawa nafsu.[[28]] Rasûl bersabda bahwa kedudukan Fâthimah sama dengan kedudukan Mariam binti Imrân[[29]], dan bila Fâthimah lewat di tempat wuquf, para penyeru berteriak dari arah arsy, “Hai penghuni tempat wuquf, turunkan pandanganmu karena Fâthimah binti Muhammad akan lewat.”[[30]] Hadis ini merupakan hadis shahîh dan bukan hadis lemah.

Betapa sering Rasûl Allâh saw bersabda: “Barangsiapa menyakiti Fâthimah, maka ia telah menyakitiku”, “Membencinya berarti membenciku”[[31]], “Ia bagian dari diriku. Meraguinya berarti meraguiku”[[32]]. Dan semua pemuliaan dan penghormatan ini tentu menambah kebencian Âisyah yang tidak berusaha sungguh-sungguh untuk melihat konteks ini dengan kenabian Rasûl saw.

Berbeda misalnya dengan Ummu Salamah, juga istri Rasûl, ummu’l-mu’minîn, yang mencintai Fâthimah, Alî, Hasan dan Husain bukan hanya sebagai anggota keluarga tetapi juga sebagai yang dimuliakan Allâh dengan ayat thathhîr.[[33]]

Biasanya bila seorang istri merasa diperlakukan kurang baik oleh sesama wanita maka berita ini akan sampai kepada suami. Dan lumrah bila istri menceritakan ini pada suaminya di malam hari. Tetapi Âisyah tidak dapat melakukan ini, karena Fâthimah adalah anak suaminya. Ia hanya bisa mengadu pada wanita-wanita Madînah dan tetangga yang bertamu ke rumahnya. Kemudian wanita-wanita ini akan menyampaikan berita kepada Fâthimah, barangkali begitu pula sebaliknya. Dan yang jelas ia akan menyampaikannya kepada ayahnya, Abû Bakar. Dan sampailah kepada Abû Bakar semua yang terjadi. Kemampuan Âisyah untuk mempengaruhi orang sangatlah terkenal dan hal ini akan membekas pada diri Abû Bakar. Kemudian Rasûl Allâh saw melalui hadis yang demikian banyak, telah memuliakan dan mengkhususkan Alî dari sahabat-sahabat lain. Berita ini tentu menambah kepedihan Abû Bakar, karena Abû Bakar adalah ayah Âisyah. Pada kesempatan lain sering terlihat Âisyah duduk bersama Abû Bakar dan Thalhah sepupunya dan mendengar kata-kata mereka berdua. Yang jelas pembicaraan mereka mempengaruhinya sebagaimana mereka terpengaruh oleh Âisyah.

Kemudian ia melanjutkan: “Saya tidak mengatakan bahwa Alî bebas dari ulah Âisyah. Telah sering timbul ketegangan antara Âisyah dan Alî di zaman Rasûl Allâh saw.” Misalnya telah diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasûl dan Alî sedang berbicara. Âisyah datang menyela antara keduanya dan berkata: “Kamu berdua ngobrol terlalu lama!” Rasûl marah sekali. Dan tatkala terjadi peristiwa Ifk, menurut Âisyah, Alî mengusulkan Rasûl Allâh saw agar menceraikan Âisyah dan mengatakan bahwa Âisyah tidak lebih dari tali sebuah sandal. (Tapi banyak orang meragukan peristiwa Ifk yang diriwayatkan Âisyah ini. Dari mana misalnya orang mengetahui usul Alî kepada Rasûl? Siapa yang membocorkannya?, pen.)

Di pihak lain Fâthimah melahirkan banyak anak lelaki dan perempuan, sedang Âisyah tidak melahirkan seorang anak pun. Sedangkan Rasûl Allâh saw menyebut kedua anak lelaki Fâthimah, Hasan dan Husain sebagai anak-anaknya sendiri. Hal ini terbukti tatkala turun ayat mubâhalah.[[34]] Bagaimana perasaan seorang istri, yang tidak dapat melihat bahwa suaminya adalah seorang Rasûl Allâh, bila suaminya memperlakukan cucu tirinya sebagai anaknya sedangkan ia sendiri tidak punya anak?

Kemudian Rasûl menutup pintu yang biasa digunakan ayahnya ke masjid dan membuka pintu untuk Alî. Begitu pula tatkala Surat Bara’ah turun, Rasûl Allâh saw menyuruh Alî, yang disebutnya sebagai dari dirinya sendiri, untuk menyusul Abû Bakar dalam perjalanan haji pertama. Dan agar Alî sendiri membacakan surat Bara’ah atau Surat Taubah kepada jemaah dan kaum musyrikin di Mina.

Kemudian Mariah, istri Rasûl, melahirkan Ibrâhîm dan Alî menunjukkan kegembiraannya, hal ini tentu menyakitkan hati Âisyah.

Yang jelas Alî sama sekali tidak ragu lagi, sebagaimana kebanyakan kaum Muhâjirîn dan Anshâr, bahwa Alî akan jadi khalîfah sesudah Rasûl meninggal dan yakin tidak akan ada orang yang menentangnya. Tatkala pamannya Abbâs berkata kepadanya: “Ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu dan orang akan berkata “Paman Rasûl membaiat sepupu Rasûl, dan tidak akan ada yang berselisih denganmu!” Alî menjawab: “Wahai paman, apakah ada orang lain yang menginginkannya?” Abbâs menjawab: “Kau akan tahu nanti!” Alî menjawab: “Sedang saya tidak menginginkan jabatan ini melalui pintu belakang. Saya ingin semua dilakukan secara terbuka.” Abbâs lalu diam.

Tatkala penyakit Rasûl Allâh saw semakin berat, Rasûl berseru agar mempercepat pasukan Usâmah. Abû Bakar beserta tokoh-tokoh Muhâjirîn dan Anshâr lainnya diikutkan Rasûl dalam pasukan itu. Maka Alî, yang tidak diikutkan Rasûl dalam pasukan Usâmah, dengan sendirinya akan menduduki jabatan khalîfah itu, bila saat Rasûl Allâh saw tiba,karena Madînah akan bebas dari orang-orang yang akan menentang Alî. Dan ia akan menerima jabatan itu secara mulus dan bersih. Maka akan lengkaplah pembaiatan, dan tidak akan ada lawan yang menentangnya.

Itulah sebabnya Âisyah memanggil Abû Bakar dari pasukan Usâmah yang sedang berkemah di Jurf, pada pagi hari Senin, hari wafatnya Rasûl dan bukan pada siang hari, dan memberitahukannya bahwa Rasûl Allâh saw sedang sekarat, “yamûtu.”

Dan tentang mengimami salat, Alî menyampaikan bahwa Âisyah-lah yang memerintahkan Bilal, maulâ ayahnya, untuk memanggil ayahnya mengimami salat, karena Rasûl saw sebagaimana diriwayatkan telah bersabda: “Agar orang-orang salat sendiri-sendiri”, dan Rasûl tidak menunjuk seseorang untuk mengimami salat. Salat itu adalah salat subuh. Karena ulah Âisyah itu maka Rasûl memerlukan keluar, pada akhir hayatnya, dituntun oleh Alî dan Fadhl bin Abbâs sampai ia berdiri di mihrab seperti diriwayatkan...”

Setelah Abû Bakar dibaiat, Fâthimah datang menuntut Fadak milik pribadi ayahnya tetapi Abû Bakar menolaknya dan mengatakan bahwa Nabî tidak mewariskan. Âisyah membantu ayahnya dengan membenarkan hadis tunggal yang disampaikan ayahnya bahwa “Nabî tidak mewariskan dan apa yang ia tinggalkan adalah sedekah.”

Kemudian Fâthimah meninggal dunia dan semua wanita melayat ke rumah Banû Hâsyim kecuali Âisyah. Ia tidak datang dan menyatakan bahwa ia sakit. Dan sampai berita kepada Alî bahwa Âisyah menunjukkan kegembiraan. Kemudian Alî membaiat Abû Bakar dan Âisyah gembira. Sampai tiba berita Utsmân dibunuh dan Âisyah orang yang paling getol menyuruh bunuh Utsmân dengan mengatakan Utsmân telah kafir.

Mendengar demikian ia berseru: “Mampuslah ia!” Dan ia mengharap Thalhah akan jadi khalîfah. Setelah mengetahui Alî telah dibaiat dan bukan Thalhah, ia berteriak: “Utsmân telah dibunuh secara kejam dan menuduh Alî sebagai pembunuh dan meletuslah perang Jamal.”[[35]] Demikian penjelasan Ibn Abîl-Hadîd.



[1] Lihat Balâdzurî, Ansâb al-Asyrâf, jilid 5, hlm. 7.
[2] Al-Qur’ân (33), ayat 33.
[3] Ibnu Thaifur, Balâghât an-Nisâ’, hlm. 8; Mengenai nasihat Ummu Salamah kepada Âisyah, lihat juga Zamakhsyari, al-Fâ’iq, jilid 1, hlm. 290; Ibnu Abd Rabbih, Iqd al-Farîd, jilid 3, hlm. 69; Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2, hlm. 79.
[4] Dzi Qar = Sebuah mata air dekat Kûfah, pen.
[5] Lihat Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2, hlm. 157.
[6] Usdu’l-Ghâbah, jilid 2, hlm. 309-310.
[7] Haudaj adalah tandu yang dipasang di punggung unta, pen.
[8] Ibnu Abd Rabbih, Iqd al-Farîd, jilid 4, hlm. 294.
[9] Al-Qurân, al-Ahâzb (XXXIII):6.
[10] Abdullâh bin Zubair.
[11] Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2, hlm. 166.
[12] Lihat Usdu’l-Ghâbah, jilid 5, hlm. 178-179.
[13] Ibnu Sa’d, Thabaqât, jilid 3 hlm. 370.
[14] Ibnu Sa’d, ibid., jilid 8, hlm. 67; Zarkasyi, al-Ijâbah, hlm. 71, 75; Kanzu’l Ummâl, jilid 7, hlm. 116; Muntakhab, jilid 5, hlm. 118; al-Ishâbah, jilid 4, hlm. 349; Thabarî, ibid., jilid 4, hlm. 161; Ibnu Atsîr, jilid 2, hlm. 247; AlHâkim Al-Nîsâbûrî, al-Mustadrak, jilid 4, hlm. 8; Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 3, hlm. 154; al-Balâdzurî, Futûh al-Buldân, hlm. 449, 454, 455; AnNubalâ’, jilid 2, hlm. 132, 138.
[15] Abû’l-Faraj al-Ishfahânî, Maqâtil ath-Thâlibiyîn, hlm. 43.
[16] Abû Turâb atau Alî bin Abî Thâlib.
[17] Thabarî, Târîkh, tatkala membicarakan sebab pembunuhan Alî; Ibnu Sa’d, Thabaqât al-Kubrâ, jilid 3, hlm. 27; Abû’l-Faraj al-Ishfahânî, Maqâtil at-Thâlibiyîn, hlm. 42.
[18] Abû’l-Faraj al-Ishfahânî, Maqâtil at-Thâlibiyîn, hlm. 42.
[19] Al-Bukhârî, jilid 2, hlm. 277 dalam Bab Kecemburuan Wanita, Kitâb Nikah.
[20] Al-Bukhârî, jilid 2, hlm. 210, pada Bab Manâqib Khadîjah.
[21] Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 150, 154.
[22] Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 117; Sunan Tirmidzî, jilid 1, hlm. 247; Shahîh Bukhârî, jilid 2, hlm. 177, jilid 4, hlm. 36, 195; Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 58, 102, 202, 279; Ibnu Katsîr, Târîkh, jilid 3, hlm. 128; al-Kanzu’l-Ummâl, jilid 6, hlm. 224.
[23] Musnad Ahmad, jilid 4, hlm. 275.
[24] Al-Qur’ân, an-Najm (LIII), 3}
[25] Maksud Ibn Abin Hadîd adalah Khotbah 155 dalam Nahjul Balâghah tatkala Alî berkata tentang Âisyah: “Kebencian mendidih dalam dadanya, sepanas tungku pandai besi. Bila ia diajak melakukan kepada orang lain seperti yang ia lakukan kepadaku, ia akan menolak. Tetapi hormatku kepadanya, setelah kejadian ini pun, tetap seperti semula.
[26] Tirmidzî, al-Jâmi’ ash-Shahîh, jilid 5, hlm. 656, 661; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, jilid 3, hlm. 62, 64, 82, jilid 5, hlm. 391, 392; Ibnu Mâjah, as-Sunan, jilid 1, hlm. 56; Al-Hâkim An-Nîsâbûrî, al-Mustadrak ash-Shahîhain, jilid 3, hlm. 167; Majma’ az-Zawâ’id, jilid 9, hlm. 183; al-Muttaqî, Kanz al-Ummâl, jilid 13, hlm. 127, 128; al-Istî’âb, jilid 4, hlm. 1495; Usdu’l-Ghâbah, jilid 5, hlm. 574; Târîkh Baghdâd, jilid 1, hlm. 140, jilid 6, hlm. 372, jilid 10, hlm. 230; Ibnu Asâkir, at-Târîkh, jilid 7, hlm. 362.
[27] Shahîh Bukhârî, jilid 8, hlm. 79; Shahîh Muslim, jilid 7, hlm. 142-144; Ibnu Mâjah, as-Sunan, jilid 1, hlm. 518; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, jilid 6, hlm. 282; al-Hâkim an-Nîsâbûrî, al-Mustadrak alâ ash-Shahîhain,jilid 3, hlm. 136.
[28] Lihat juga Kanzu’l-Ummâl, jilid 6, hlm. 219.
[29] Lihat juga Kanzu’l-Ummâl, jilid 6, hlm. 219.
[30] Lihat juga al-Mustadrak, jilid 3, hlm. 153, 156; Kanzu’l-Ummâl, jilid 6, hlm. 218.
[31] Lihat catatan kaki di atas.
[32] Lihat Kanzu’l-Ummâl, jilid 6, hlm. 220.
[33] Al-Qur’ân 33:33; Lihat hadis Kisâ’ yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, dalam Bab “Nash Bagi Alî.”
[34] Al-Qur’ân, Âli Imrân (III): 61.
[35] Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2 hlm. 192-197.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar