Jumat, 04 September 2015

Kisah Mordakhai di Semenanjung Arabia atau Sejarah Berdarah Klan Saud dan Wahabi




Oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair (Dipublikasi secara bersambung di harian Tangsel Pos pada 12 dan 13 Agustus 2014)

Di masa yang jauh, yaitu tepatnya di Najd tahun 851 H, ada sekelompok pria dari Bani Al Masalikh keturunan dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makanan lain dari Iraq dan membawanya kembali ke Najd. Direktor perdagangan ini bernama Sahmi bin Hathlul. Kelompok dagang ini melakukan kegiatan bisnis mereka sampai ke Basra, disana mereka bertemu dengan seorang pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe. Ketika sedang terjadi proses tawar menawar, si Yahudi itu bertanya kepada kafilah dagang itu, “dari mana Anda berasal?” Mereka menjawab, “dari kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al Masalikh”. Setelah mendengar itu, orang Yahudi itu menjadi gembira dan mengaku bahwa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama tetapi terpaksa tinggal di Basrah, Irak karena perseteruan keluarga antara ayahnya dan anggota keluarga kaum Anza.

Syahdan, setelah itu, Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan karung-karung berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal demikian adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al-Masalikh tersebut dan menunjukkan kegembiraannya karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Bagi pedagang Yahudi itu, kafilah dagang merupakan sumber pendapatan dan hubungan bisnis. Mordakhai adalah saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyi di balik wajah Arab dari kabilah Al Masalikh. Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, si Yahudi ini meminta diizinkan untuk bersama mereka karena sudah lama dia ingin pergi ke tanah asal mereka, Najd. Setelah mendengar permintaan pria Yahudi itu, kafilah dagang suku Anza ini pun senang dan menyambutnya dengan gembira. Pedagang Yahudi yang sedang menyamar itu pun tiba di Najd dengan pedati-pedatinya (kendaraan tunggangan).

Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, teman dagang dan teman-teman dari Bani Al Masalikh yang baru dikenalnya. Setelah itu, di sekitar Mordakhai berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tapi, tanpa disangka dia berhadapan dengan seorang ulama ‘yang menentang doktrin dan pahamnya’. Dialah Sheikh Salman Abdullah At Taimi seorang ulama karismatik dari daerah Al Qasem. Daerah-daerah yang menjadi lokasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman dan Hijaz.

Karena suatu alasan tertentu, si Yahudi Mordakhai (yang menurunkan keluarga Saud itu), berpindah dari Al Qasem ke Al Ihsa. Di sana dia merubah namanya dari Mordakhai ke Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menetap di sebuah tempat bernama Dlir’iya dekat Al Qateef. Di sana dia memaklumatkan propaganda dustanya bahwa perisai Nabi saw telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang kuat musyrikin pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan umat Islam. Katanya, “perisai itu telah dijual oleh Arab Musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Bani Qainuqa’ yang menyimpannya sebagai harta karun”.

Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi. Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir’iya dekat Al Qateef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai situs atau batu loncatan guna mendirikan negara Yahudi di tanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badui untuk memperkuat posisinya, kemudian secara perlahan dia memberitakan dirinya sebagai raja kepada mereka. Kabilah Ajaman dan kabilah Bani Khaled yang merupakan penduduk asli Dlir’iya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menentang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Mereka menangkap Yahudi itu dan menawannya, namun berhasil meloloskan diri.

Saudagar keturunan Yahudi ini mencari suaka di sebuah peternakan bernama Al Malibed Ghusaiba yang dekat dengan Al Arid (sekarang Riyadh). Di sana dia meminta suaka kepada pemilik kebun tersebut untuk menyembunyikan diri dan melindunginya. Tuan kebun itu sangat simpati lalu memberikan tempat kepadanya untuk berlindung. Tetapi, tidak sampai sebulan tinggal di rumah pemilik kebun itu, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan kebun bersama keluarganya. Sungguh tak tahu adat, memang, air susu dibalas dengan tuba. Ketika itu, Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menerobos masuk rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya pembantaian tersebut.

Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al Dlir’iya yaitu nama tempat dari mana dia diusir dan sudah ditinggalkannya. Kemudian Mordakhai dengan cepat mendirikan sebuah markas dan tempat pertemuan bernama ‘Madaffa’ di atas tanah yang dirampasnya tersebut. Di markaz inilah ia mengumpulkan para pahlawan dan kepala-kepala propaganda (kaum Munafiq) yang selanjutnya mereka jadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syekh kepada orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh gendang perang terhadap Sheikh Shaleh Salman At Taimi, sang musuh tradisionalnya. Akhirnya, Sheikh Salman tewas di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al Zalafi.

Mordakhai pun berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil membuat Dlir’iya sebagai pusat kekuasaannya. Di tempat itu pulalah dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian diberi nama dengan nama-nama Arab. Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir’iya di bawah bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan kejahatan, menggalang beragam konspirasi untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan perampokan tanah dan ladang penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana mereka. Dengan beragam cara dan trik, mereka melancarkan aksinya. Memberikan suap, memberikan pemikat-pemikat wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan mereka ‘menutup mulut dan membelenggu tangan’ para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis keturunan mereka kepada kabilah Rabi’a, Anza dan Al Masalikh tersebut.

KELOMPOK WAHABI
Dan begitulah selanjutnya, seorang bernama Muhammad Amin At Tamimi (director/manager Perpustakaan Kontemporer Kerajaan Saudi) menyusun garis keturunan (Family Tree) untuk keluarga Yahudi (keluarga Saudi) ini dan menghubungkan keturunan mereka kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagai imbalannya, ia mendapat sebesar 35.000 pound Mesir dari Duta Besar Saudi Arabia di Kairo, Mesir pada tahun 1362 H / 1943 M. Nama duta besar ini adalah Ibrahim Al Fadel. Seperti telah disebutkan di atas, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) yang berpoligami dengan wanita-wanita Arab tersebut telah melahirkan banyak anak. Dan saat ini, pola poligami Mordakhai dilanjutkan oleh keturunannya dan mereka bertaut pada warisan pernikahan itu. Salah seorang anak Mordakhai bernama Al Maqaran (Mack Ren) memiliki anak bernama Muhammad dan anak yang lainnya bernama Sa’ud, dan dari sinilah Dinasti Saudi saat ini berasal.

Keturunan Saud (keluarga Saud) pun memulai melakukan kampanye pembunuhan pimpinan terkemuka suku-suku Arab dengan dalih mereka murtad, mengkhianati Islam, meninggalkan ajaran Al Qur’an dan membantai mereka dengan mengatasnamakan Islam. Rakyat yang mencoba bersuara memprotes kunjungan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara ini pun akan ditembak mati dan dipenggal lehernya. Di dalam buku sejarah Keluarga Saud di halaman 98-101, misalnya, penulis pribadi sejarah keluarga Saud menyatakan bahwa Dinasti Saud menganggap semua penduduk Najd menghina Tuhan. Oleh karena itu, darah mereka halal, harta bendanya pun dirampas, wanita-wanitanya dijadikan selir, tidak seorang Muslim pun yang dianggap benar kecuali pengikut kelompok Muhammad bin Abdul Wahab.

Doktrin Wahabi memberikan otoritas kepada keluarga Saud untuk menghancurkan desa dan penduduknya termasuk anak-anak dan memperkosa wanitanya, menusuk perut wanita hamil, memotong tangan anak-anak, kemudian membakarnya. Selanjutnya mereka diberikan kewenangan dengan ajarannya yang kejam (brutal) tersebut untuk merampas semua harta kekayaan milik orang yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran agama karena tidak mengikuti ajaran Wahabi.

Keluarga Yahudi yang jahat dan mengerikan ini melakukan segala jenis kekejaman atas nama kelompok agama palsu mereka (kelompok Wahabi) yang sebenarnya diciptakan oleh seorang Yahudi untuk menabur benih-benih terror di dalam hati penduduk di kota-kota dan desa-desa. Dan pada tahun 1163 H, Dinasti Yahudi ini mengganti nama semenanjung Arab dengan nama keluarga mereka menjadi Saudi Arabia, seolah-olah seluruh wilayah itu milik pribadi mereka dan penduduknya sebagai bujang atau budak merdeka, bekerja keras siang dan malam untuk kesenangan tuannya, yaitu keluarga Saudi.

Walhasil, mereka dengan sepenuhnya menguasai kekayaan alam negeri itu seperti milik pribadinya. Bila ada rakyat biasa yang mengajukan perlawanan atas kekuasaan sewenang-wenang Dinasti Yahudi ini, dia akan dihukum pancung di lapangan terbuka. Seorang putri anggota keluarga kerajaan Saudi beserta rombongannya sekali kesempatan mengunjungi Florida, Amerika Serikat, dan menyewa 90 buah Suite Rooms di Grand Hotel dengan harga $ 1 juta semalamnya. Rakyat yang mencoba memprotes kunjungan sang puteri yang jelas menghamburkan uang Negara ini akan ditembak mati dan dipenggal kepalanya.

FAKTA MENGGEMPARKAN
Sejumlah kesaksian yang meyakinkan menyatakan bahwa keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi dan dapat dibuktikan dengan fakta-fakta berikut: Pada tahun 1960-an, pemancar radio ‘Sawtul Arab’ di Kairo, Mesir dan pemancar radio di San’a, Yaman, membuktikan bahwa nenek moyang keluarga Saud adalah dari keturunan Yahudi. Bahkan Raja Faisal tidak dapat menyanggah pernyataan itu ketika memberitahu kepada ‘The Washington Post’ pada tanggal 17 September 1969 dengan menyatakan bahwa, “kami (keluarga Saud) adalah keluarga Yahudi. Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhan kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia adalah merupakan sumber awal Yahudi dan nenek moyangnya, lalu menyebar ke seluruh dunia”.

Pernyataan ini keluar dari lisan Raja Faisal As Saud bin Abdul Aziz. Begitu pun Hafez Wahabi, penasehat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul ‘Semenanjung Arabia’ bahwa Raja Abdul Aziz yang mati tahun 1953 mengatakan: “pesan kami (pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi (lawan) dari suku-suku Arab, kakekku, Saud Awal menceritakan saat menawan sejumlah Sheikh dari suku Mathir dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk meminta membebaskan semua tawanannya. Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian memalukan mereka dan menurunkan nyali para penengah (orang yang ingin membuat negosiasi) dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan. Makanan yang disediakan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan ditempatkan di atas piring”. Para penengah atau negosiator itu pun menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri. Karena mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itu kejahatan yang sangat mengerikan yang dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa karena kesalahan mereka menentang kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.

Hafez Wahabi selanjutnya menyatakan bahwa berkaitan dengan kisah berdarah nyata yang menimpa Sheikh suku Mathir dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz As Saud, yaitu Faisal Ad Darwis, juga bukan isapan jempol semata. Diceritakan kisah (pembunuhan Ad Darwis) tersebut kepada utusan suku Mathir dengan maksud untuk mencegah mereka agar tidak meminta pembebasan pimpinan mereka. Jika tidak, akan diperlakukan sama. Kesalahan Faisal Darwis waktu itu hanya karena dia mengkritik Raja Abdul Aziz As Saud, yaitu ketika Raja menandatangani dokumen yang disiapkan penguasa Inggris pada tahun 1922 sebagai pernyataan memberikan Palestina kepada Yahudi. Tanda tangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al Qir tahun 1922.

Rabu, 12 Agustus 2015

Ahmadinejad tentang Kemanusiaan




Pidato Mahmoud Ahmadinejad di PBB September Tahun 2010

Bismillahirrahmanirrahim

Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Wassalamu ‘ala Sayyidina wa Nabiyyina Muhammad, wa Alihi at-Thahirina wa Shahbihi al-Muntajabina wa ‘ala Jami’i al-Anbiya wa al-Mursalin…

Salam dan shalawat kepada para Nabi Ilahi, khususnya Nabi Muhammad Saw, Ahlul Bayt yang suci, para sahabat terpilihnya dan kepada seluruh para Nabi Ilahi…

Allahumma ‘Ajjil li Waliyyika al-Faraj, wal’afiata wa an-Nashr. Waj’alna min Khairi Ansharihi wa A’awanihi, wal Mustasyhadina baina Yadaih…

Wahai Allah Yang Maha Besar! Percepat kemunculan Wali-Mu disertai dengan keselamatan dan kemenangan. Jadikan kami sebagai penolong dan pendukung terbaiknya dan senantiasa berkorban di jalannya…

Bapak Ketua dan rekan-rekan yang mulia…

Saya bersyukur kepada Allah Yang Maha Besar yang masih memberikan kesempatan untuk hadir lagi di sidang Majelis Umum PBB ini. Di awal pidato, saya ingin mengingatkan semua yang hadir untuk memberikan penghormatan kepada para korban bencana banjir bandang yang melanda Pakistan. Saya mengucapkan belasungkawa kepada mereka yang ditinggal, pemerintah dan bangsa Pakistan. Pada kesempatan ini juga saya mengajak semua untuk segera menolong sesama manusia sebagai kewajiban kemanusiaannya.

Di sini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada manajemen Majelis Umum PBB.

Di tahun-tahun lalu, saya telah berbicara di depan kalian tentang sebagian harapan, kecemasan, krisis keluarga, keamanan, kemuliaan manusia, ekonomi, iklim, harapan akan keadilan dan perdamaian yang berkelanjutan.

Kini, kekuasaan sistem Kapitalisme dan manajemen yang ada di dunia pasca satu abad telah sampai pada titik akhirnya. Sistem Kapitalisme tidak mampu memberikan jawaban yang tepat terhadap tuntutan masyarakat. Untuk itu saya akan berusaha menggambarkan sebagian parameter sistem yang tepat bagi masa depan dengan mencermati dua faktor utama kegagalan yang ada.

Pertama, Cara Pandang dan Keyakinan

Kalian semua tahu tentang misi yang diemban oleh para Nabi Ilahi. Mereka diutus untuk menyeru seluruh manusia kepada monoteisme, cinta dan keadilan. Mereka diutus untuk menghamparkan jalan bagi manusia mencapai kebahagiaan. Para Nabi Ilahi mengajak manusia kepada pemikiran dan keilmuan agar lebih baik dalam mengenal hakikat. Mereka juga diutus untuk memperingatkan manusia akan kesyirikan dan egoisme.

Hakikat seruan para Nabi adalah satu. Setiap Nabi membenarkan Nabi sebelumnya dan memberikan kabar gembira akan kedatangan Nabi yang baru. Para Nabi Ilahi memperkenalkan agama yang sesuai dengan kapasitas manusia dan lebih sempurna dari yang terdahulu. Semua ini berjalan hingga sampai kepada Nabi Muhammad Saw, Nabi pamungkas yang mengetengahkan agama secara sempurna.

Sesuai dengan perjalanan ini ada saja para arogan dan penyembah dunia yang berusaha menghadang seruan yang jelas ini dan bangkit menghadapi pesan-pesan para Nabi.

Para pengikut Namrud bangkit menghadapi Nabi Ibrahim as, para pengikut Firaun di hadapan Nabi Musa as dan para penyembah dunia melawan Nabi Isa as dan Nabi Muhammad Saw. Di abad-abad terakhir, dengan alasan kezaliman yang dilakukan mereka yang mengklaim orang-orang beragama di Barat di Masa Pertengahan, segala nilai, moral ditafsirkan sebagai faktor keterbelakangan dan meletakkannya berhadap-hadapan dengan sains dan rasionalitas.

Pemutusan hubungan manusia dengan Langit sejatinya manusia telah memutuskan hubungannya dengan hakikat dirinya sendiri.

Manusia yang memiliki potensi mengenal hakikat alam dan pencari kebenaran, cenderung akan keadilan dan kesempurnaan, kesucian dan keindahaan dan menjadi wakil Allah di bumi telah berubah menjadi keberadaan yang terbatas pada materi. Kewajiban manusia didefinisikan tidak lebih dari upaya untuk sampai pada kelezatan individu. Naluri manusia telah menggantikan esensi hakikat manusia.

Seluruh manusia dan bangsa-bangsa dianggap sebagai rival masing-masing. Kebahagiaan seorang individu atau sebuah bangsa didefinisikan dengan mengganggu, menghabisi dan menumpas lainnya. Pertikaian merusak untuk tetap eksis dijadikan dasar dalam mengatur hubungan sesama manusia menggantikan Interaksi konstruktif dan saling menyempurnakan.

Penyembahan modal dan hegemoni telah menggantikan monoteisme yang menjadi rahasia persatuan dan cinta.

Semua aksi luas penentangan terhadap nilai-nilai ilahi telah membuka jalan bagi perbudakan dan penjajahan.

Bagian luas dari dunia berada di bawah kekuasaan beberapa negara Barat. Puluhan juta manusia telah dijadikan budak dan puluhan juta keluarga telah tercerai-berai. Seluruh sumber-sumber kekayaan, hak dan budaya bangsa-bangsa jajahan telah dijarah. Tanah air yang diduduki dan masyarakat asli telah dibantai dan dihinakan.

Namun dengan bangkit bangsa-bangsa, para imperialis semakin terisolasi dan kemerdekaan bangsa-bangsa kemudian diakui. Harapan akan penghormatan, kesejahteraan dan keamanan telah hidup di tengah bangsa-bangsa. Di awal-awal abad lalu, slogan-slogan indah kebebasan, hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi telah menciptakan banyak harapan yang menjadi obat penawar bagi luka-luka dalam yang masih menganga. Namun kini bukanhanya harapan-harapan itu tidak terealisasikan, justru kenangan yang lebih pahit dari masa lalu dalam sejarah yang terekam dalam ingatan.

Dalam dua Perang Dunia, penjajah Palestina, dalam perang Korea dan Vietnam, dalam perang Irak-Iran, dalam penjajahan Afghanistan dan Irak dan dalam perang-perang di Irak, ratusan juta manusia tewas, terluka dan menjadi pengungsi.

Terorisme, produksi narkotika, kemiskinan dan kesenjangan sosial telah semakin meluas. Pelbagai pemerintahan kudeta dan diktator yang didukung Barat di Amerika Selatan telah melakukan kejahatan yang luar biasa.

Bukannya melucuti senjata, produksi dan simpanan senjata-senjata nuklir, biologi dan kimia justru semakin meluas. Dunia kini berada dalam ancaman yang lebih besar.

Dengan demikian, tampaknya apa yang terjadi adalah penerapan dari tujuan-tujuan para imperialis dan pemilik budak, tapi kali ini dengan slogan-slogan baru.

Kedua, Faktor Manajemen Global dan Sistem Berkuasa

Masyarakat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa dibentuk dengan slogan menegakkan perdamaian dan keamanan, serta menjaga HAM.

Mekanisme manajemen yang berlaku di dunia dapat diteliti dengan membedah tiga peristiwa.

Pertama: 11 September yang telah mempengaruhi kondisi dunia sekitar 10 tahun.

-Secara tiba-tiba ditayangkan ke seluruh penjuru dunia berbagai rekaman serangan terhadap menara kembar.

-Kira-kira semua pemerintah dan politisi terkemuka mengecam serangan tersebut.

-Motor propaganda pun bergerak dan dunia diambang ancaman besar dengan nama terorisme dan diumumkan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah invasi militer ke Afghanistan.

-Pada akhirnya, Afghanistan dan tidak lama kemudian Irak diduduki.

Mohon diperhatikan;

Diklaim bahwa serangan 11 September telah menewaskan sekitar 3.000 orang dan kami sangat menyayangkan hal tersebut. Namun di Afghanistan dan Irak hingga kini ratusan ribu orang tewas dan jutaan lainnya cedera serta bentrokan terus meningkat setiap harinya.

Terkait pelaku serangan 11 September, ada tiga pendapat:

1-Kelompok teroris yang sangat kuat dan pelik yang berhasil menembus seluruh lapisan keamanan dan intelejensi Amerika. Pendapat ini yang disebar luaskan oleh pemerintah Amerika.

2-Sebagian pihak di dalam pemerintah Amerika Serikat untuk menciptakan perubahan dalam proses kelesuan ekonomi Amerika dan penguasaan Washington terhadap Timur Tengah dan juga upaya penyelamatan rezim Zionis. Mayoritas warga Amerika, bangsa-bangsa, dan juga para politisi dunia yang meyakini pendapat ini.

3-Sebuah kelompok teroris yang didukung dan dimanfaatkan oleh pemerintah Amerika Serikat kala itu. Tampaknya pendapat ini yang mendapat dukungan paling sedikit.

Dokumen terpenting dari tuduhan tersebut adalah beberapa paspor yang diangkat dari puing-puing dahsyat itu dan sebuah rekaman video dari seorang yang tidak jelas tempat tinggalnya. Namun disebutkan bahwa sebelumnya ia pernah terlibat dalam kontrak dagang minyak dengan sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat. Ingin dikesankan bahwa karena kebakaran hebat dan ledakan, tidak ada sisa dari para pelakunya serangan itu.

Ada beberapa pertanyaan pokok yang belum terjawab

1-Apakah logika tidak membenarkan bahwa pertama harus dilakukan penelitian serius oleh kelompok-kelompok independen dan kemudian identifikasi seluruh pelaku dan menentukan program untuk menindak mereka.

2-Bila pendapat pemerintah Amerika diterima, apakah tindakan terhadap kelompok teroris, adalah invasi meluas, perang teratur, dan pembantaian ratusan ribu orang?

3-Apakah tidak mungkin dilakukan seperti cara Iran dalam menyikapi kelompok teroris Rigi yang telah membuat 400 warga Iran gugur dan cedera? Dalam operasi yang dilancarkan Iran tak satupun nyawa orang yang tidak berdosa yang melayang.

Diusulkan bahwa PBB harus membentuk tim pencari fakta terkait Serangan 11/9 sehingga sejumlah pihak tidak melarang penyampaian pendapat terkait masalah ini.

Di sini, Saya ingin mengumumkan bahwa Republik Islam Iran, tahun depan, akan menjadi tuan rumah sebuah konferensi yang bertujuan mengidentifikasi terorisme dan mencari mekanisme menghadapinya. Untuk itu, Saya mengundang para pejabat dunia, pemikir, intelektual dan peneliti untuk menghandiri konferensi ini.

Kedua: Pendudukan Palestina

Bangsa tertindas Palestina selama 60 tahun berada di bawah pendudukan Rezim Zionis Israel, dan mereka tidak mendapat kebebasan, keamanan dan hak kedaulatan. Akan tetapi keberadaan para penjajah malah diakui.

Hingga kini, Zionis Israel melakukan perang sebanyak 5 kali. Rezim ini melakukan perang terburuk terhadap Lebanon dan Gaza karena membantai warga-warga tak berdosa. Zionis Israel juga melanggar semua ketentuan internasional bahkan menyerang konvoi kapal pengangkut bantuan kemanusiaan dan membantai warga tak berdosa.

Rezim Zionis Israel mendapat dukungan dari sejumlah negara Barat. Rezim ini juga selalu mengintimidasi kawasan dan meneror tokoh-tokoh Palestina dan negara lainnya. Bahkan para pendukung Palestina dan penentang Zionis Israel menyandang status sepeti teroris dan anti-Yahudi, serta terus mendapat tekanan. Semua nilai bahkan kebebasan berpendapat di Eropa dan AS diberangus Rezim Zionis.

Semua solusi gagal diselesaikan karena tidak memperhatikan hak-hak bangsa Palestina.

-Jika semenjak awal, hak kedaulatan bangsa Palestina diakui sebagai ganti dari mengakui rezim penjajah Zionis Israel, apakah kita akan menyaksikan semua kejahatan yang terjadi?!!

-Usulan kami adalah pemulangan pengungsi Palestina ke tanah air mereka dan merujuk pada referendum semua warga Palestina untuk menentukan kedaulatan dan bentuk pemerintahan.

Ketiga: Energi Nuklir

Energi nuklir, bersih, murah, dan merupakan kenikmatan ilahi yang juga salah satu alternatif terbaik untuk mengurangi polusi bahan bakar fosil.

Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) mengizinkan semua anggotanya untuk memanfaatkan nuklir sipil tanpa batas, dan bahkan Badan Tenaga Nuklir Internasional (IAEA) berkewajiban mendukung dan melindungi dari sisi teknis dan hukum.

Bom nuklir adalah senjata anti-kemanusiaan yang harus dimusnahkan total. NPT juga melarang produksi bom nuklir dan penyimpanannya, bahkan menilai pelucutan senjata nuklir sebagai keharusan.

Akan tetapi perhatikanlah apa yang dilakukan sejumlah pemilik senjata nuklir yang juga anggota Dewan Keamanan (DK) PBB.

-Mereka malah menilai tenaga nuklir sebagai bom, dan berupaya memonopolinya dan menekan IAEA agar membatasi kepemilikan tenaga nuklir ini hanya untuk segelintir negara.

-Pada saat yang sama, negara-negara itu menimbun bom nuklir dan memproduksinya. Tentu Anda mendengar bahwa pemerintah Amerika tahun ini mengalokasikan 80 milyar dolar untuk bom nuklir.

Kebijakan seperti ini bukan hanya membuat perlucutan senjata tidak terealisasi, tapi malah terjadi perluasan senjata nuklir di sejumlah wilayah termasuk Rezim Zionis Israel yang penjajah dan pengancam.

Di sini diusulkan sebagai agar tahun 2011 dinamakan sebagai tahun pelucutan senjata nuklir, energi nuklir untuk semua, senjata nuklir tidak untuk siapa pun.

Dalam semua masalah ini, PBB tidak dapat melakukan langkah penting. Sangat disayangkan bahwa dalam dekade yang diberi nama Dekade Perdamaian, justru terjadi peperangan, agresi dan pendudukan. Bahkan ratusan ribu orang tewas dan terluka, yang terus bertambah karena permusuhan dan kedengkian.