Tampilkan postingan dengan label Kronik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kronik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2016

Hempher, Kisah Sang Intelijen Inggris (Bagian Kedua)


Sembilan personel yang ditugasi, begitu pula aku, harus kembali ke London untuk memberikan laporan kepada kementerian tentang apa saja yang mereka peroleh, namun buruknya yang kembali hanya enam orang. Sedangkan empat yang tidak kembali, seorang dari mereka telah menjadi muslim dan tinggal di Mesir. Tetapi sekretaris nampak senang di wajahnya, karena ia tidak membuka rahasia negara. Yang satunya lagi kabur ke Rusia, karena ia berasal dari Rusia. Dan sekretaris sakit hati sekali dengannya, bukan karena ia kembali tanah airnya tetapi sekretaris menduga bahwa ia seorang mata-mata Rusia yang ditugasi oleh kementrian di sana. Dan ketika urusan dan kepentingannya selesai ia kembali ke negaranya.

Yang ketiga mati di ‘Imarah sebuah negeri sebelah Baghdad. Sekretaris memberitahu kami bahwa ia mati disebabkan penyakit menular yang mematikan. Adapun yang keempat, tidak diketahui jejaknya ketika kementrian menghubunginya ke San’a` di Yaman (sebuah negeri Arab). Sebelumnya ia selalu kontak dengan kementerian dalam waktu setahun, tapi setelah itu hubungan terputus. Setiap kementerian berusaha melacaknya tapi tidak menghasilkan apa-apa tentangnya.

Pihak kementerian rugi besar dan tertimpa duka berat atas kehilangan empat dari sepuluh personilnya, di mana menurut perhitungan kami tiap personelnya sangat berarti dan bernilai tinggi. Karena kami ini adalah bangsa yang sedikit jumlahnya, namun besar ambisinya. Kehilangan empat personel kami sangat menyedihkan hati kami.

Setelah sekretaris mendengarkan laporan-laporanku, ia kemudian menugasi kami (berenam) untuk membacakan laporan-laporan kami di sebuah pertemuan, di hadapan para pejabat tinggi dari kementrian yang dipimpin Perdana Mentri sendiri. Kawan-kawanku telah menyampaikan laporan-laporan penting mereka sesuai apa yang menjadi tugas mereka. Begitu pula aku dengan laporanku yang dicatat oleh dewan juri.

Perdana Mentri, sekretaris dan sebagian yang hadir memujiku atas kerjaku, tetapi dua kawanku lebih hebat dariku. Mereka adalah George Blacud yang menjadi terbaik pertama dan Henry Fans yang menjadi terbaik kedua, sedangkan aku terbaik yang ketiga.

Aku telah benar-benar berhasil bisa menguasai bahasa Turki, bahasa Arab, Al-Quran dan syari’at. Tapi belum berhasil dalam memberikan laporan kepada kementerian tentang sisi-sisi kelemahan pemerintahan Turki Utsmani. Usai pertemuan yang memakan enam jam, aku tunjukkan kepada sekretaris sebuah poin yang bisa melemahkan dengan mengatakan, “Target sementaraku ialah mempelajari bahasa, hukum Islam dan Al-Qur`an. Karena itu sulit sekali bagiku meluangkan waktu untuk mengerjakan apa yang harus kukerjakan selain ini, dan aku pastikan pada tugas mendatang –jika aku masih dipercaya- akan kuserahkan amanat yang Anda berikan”

Sekretaris berkata, Aku percaya karena kau berhasil, tapi aku berharap kau pertahankan keberhasilanmu ini untuk meraih yang lebih lagi.  Sesungguhnya tugas pentingmu Mr Hempher, untuk perjalanan mendatang, ada dua:
[1] Menemukan titik kelemahan kaum muslimin. Kita harus mampu menyusup ke dalam tubuh mereka dan mencerai beraikan akar-akar mereka. Inilah letak kemenangan kita yang mendasar atas musuh-musuh kita.

[2] Kau harus berterus terang kepada kami jika tidak mampu menemukan ‘titik kelemahan’, tapi jika kau merasa mampu menjalankannya mudah-mudahan kau akan menjadi yang terbaik dari yang terbaik, dan kau layak mendapatkan bintang jasa dari kementerian.

Aku tinggal di London selama enam bulan dan aku menikah dengan putri pamanku (Mary Shway). Ia lebih tua setahun dariku, saat itu umurku 22 tahun sedangkan ia berumur 23 tahun. Ia gadis biasa yang cerdas dan sangat cantik. Aku bahagia hidup dengannya dan dalam waktu enam bulan itu ia mengandung. Dengan penuh sabar aku menanti kelahiran buah hati, tiba-tiba aku diberi tugas dari kementerian supaya aku berangkat ke Iqlim (Iraq) negeri Arab yang dijajah sejak dari masa lampau.

Sungguh ini hal yang tidak menyenangkan bersamaan menunggu kelahiran anakku. Namun kepentingan negaraku dan cintaku kepada kawan-kawan melebihi perasaan cintaku kepada istri dan anakku. Karena itu aku terima tugas meskipun istriku memohon agar ditunda sampai anak lahir. Dan ketika perpisahanku dengannya kami menangis tersedu-sedu. Dan istriku berkata, “Sempatkan kirim surat tentang keadaanmu di sana, dan akan kukabarkan bila buah hati lahir dan tentang keadaanku di sini”. Kata-katanya begitu mengharukan sampai-sampai aku berniat batal berangkat, tetapi kukuasai diriku dari perasaan ini. Aku memeluknya, dan berangkat ke kementerian untuk mengambil pesan-pesan penting.

Enam bulan aku di Bashrah (Iraq), negeri ‘Asya’iri yang penduduknya adalah Muslim Sunni dan Islam Syi’ah, dua mazhab besar Islam. Dan sedikit sekali dari mereka yang beragama Nasrani. Mereka terdiri dari dua bangsa, Arab dan Persia.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mendapatkan Islam Syi’ah dan bangsa Persia. Syi’ah adalah sebuah mazhab dan golongan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi Islam sekaligus menantu Nabi Islam atas putrinya Fatimah. Syi’ah meyakini bahwa Nabi mereka Muhammad telah memilih Ali sebagai khalifah setelahnya, dan menyatakan bahwa Ali dan anak keturunannya yang sebelas adalah khalifah secara berurutan.

Aku menduga bahwa kebenaran bersama Syi’ah (pengikut khalifah Ali, Hasan dan Husein). Sebab yang tetap dalam sejarah –menurut pengamatanku- Ali mempunyai sifat yang istimewa dan jiwa yang luhur yang layak menduduki kepemimpinan. Dan mendekati kebenarannya bahwa Nabi Muhammad pernah berkata bahwa Hasan dan Husein adalah dua imam. Ini pula tidak dipungkiri oleh Sunni, tetapi pada saat yang sama aku ragu, bahwa anak keturunan Husein yang sembilan juga telah dipilih oleh Rasul sebagai khulafâ-nya. Bagaimana Rasul bisa tahu masa mendatang? Sedangkan ia mati pada saat Husein masih kecil. Bagaimana ia bisa tahu bahwa Husein akan mempunyai anak keturunan yang mana secara silsilah mereka sampai sembilan?. Kalau memang Muhammad adalah seorang Rasul yang haq, maka ia mengetahui semua itu dari petunjuk Allah. Sebagaimana Al-Masih memberi kabar masa datang. Tetapi menurut kami sebagai kaum Nasrani, meragukan akan kenabian Muhammad.

Kaum muslimin mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah dalil kenabian Muhammad, tetapi yang aku baca tiada satu pun dalilnya dalam Al-Qur`an. Memang tidak diragukan bahwa Al-Qur`an adalah kitab luhur, bahkan kedudukannya lebih luhur dari kitab Taurat dan Injil. Di dalam Al-Qur`an terdapat undang-undang, peraturan dan ajaran akhlak dan lain-lain. Tetapi apakah ini sudah cukup merupakan dalil bagi kebenaran Muhammad?  

Sesungguhnya aku bingung tentang pribadi Muhammad, bingung sekali. Ia seorang lelaki Badui, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis, bagaimana ia bisa datang dengan membawa kitab yang suci ini? (Karena Hempher memahami Rasul dari rujukan Sunni yang menganggap Rasul tak bisa membaca dan menulis). Ia adalah pribadi yang memiliki akhlak dan kecerdasan yang tiada seorang arabpun yang berpendidikan di masanya seperti dirinya. Lalu di satu sisi mungkinkah seorang Arab Badui yang tidak membaca dan menulis ini membawa kitab yang tinggi itu? Dan di sisi lain apakah ini cukup menjadi bukti bahwa ia seorang nabi?

Aku selalu mencari dan membaca untuk memecahkan hakikat ini. Pernah aku lontarkan masalah ini kepada seorang pendeta di London, tetapi jawaban yang diberikannya tidak memuaskan dan ia menjawab dengan kefanatikan dan keras kepala. Sama halnya dengan pribadi Syeikh Ahmad ketika aku tanyakan masalah ini, dan jawabannya masih mengambang. Tapi dengan jujur aku katakan, bila aku bicara terus terang dengan Syeikh, aku khawatir akan terbongkar rahasia diriku atau akan meragukan diriku.

Alhasil aku menilai bahwa Muhammad orang besar, dan tidak diragukan ia adalah semacam nabi Allah yang diberitakan oleh para nabi sebelumnya –sebagaimana yang aku baca- di dalam kitab-kitab. Hanya saja sampai sekarang aku masih belum puas dengan kenabiaannya. Andai kata ia bukan seorang nabi, tidak mungkin orang yang mendengarkan nuraninya meyakini bahwa ia seperti orang-orang yang dikagumi dan mencengangkan, bahkan tidak diragukan ia di atas mereka dan di atas orang-orang yang cerdas (jenius).

Adapun kaum Sunni meyakini bahwa setelah wafatnya, Abu Bakar kemudian Umar lalu Ustman lebih layak menjadi khlaifah (pengganti)nya ketimbang Ali. Karena itu mereka (kaum Sunni) melanggar perintah Rasul (Muhammad) dan memilih khulafa yang tiga (baru kemudian memilih Ali atas kondisi yang krisis dan sangat mendesak).

Perselisihan ini ada di setiap agama tak terkecuali agama Masehi (Kristen) dengan pandangan yang khusus. Tetapi aku tidak mengerti apa yang terbaik dari adanya perselisihan ini, Ali dan Umar telah mati dan kaum muslimin –jika mereka berpikir- seharusnya mereka memikirkan hari sekarang bukan hari yang telah lampau dan jauh. Pada suatu kesempatan pernah aku sampaikan kepada pejabat-pejabat di kementerian tentang adanya perselisihan historis antara Sunni dan Syi’ah. Aku katakan kepada mereka, “Jika mereka memahami kehidupan maka mereka tinggalkan perselisihan dan bersatu dalam satu kalimah!”.

Tiba-tiba Bapak kepala (kementerian) membentakku, “Yang harus Anda lakukan, ialah berusaha memperuncing perselisihan ini bukan berusaha mempersatukan muslimin!”.

Tentang perselisihan ini, di suatu pertemuan sebelum kepergianku ke Iraq, aku hadir bersama sekretaris dan ia mengatakan kepadaku, “Ketahuilah wahai Mr. Hempher! Bahwa perselisihan adalah fenomena yang alami antara umat manusia sejak Tuhan menciptakan Habil dan Qabil, dan perselisihan ini akan terus terjadi sampai Al-Masih kembali (ke dunia ini):

[1] Adanya perbedaan warna kulit.
[2] Adanya bermacam-macam suku.
[3] Adanya bermacam-macam negeri.
[4] Adanya bermacam-macam kaum.
[5] Adanya perbedaan agama.

Maka tugas penting di perjalananmu nanti yang harus kamu kuasai ialah tentang perselisihan dan perbedaan antara kaum muslimin dan titik rawan yang menimbulkan gejolak dari perselisihan tersebut. Kementerian akan memberimu arahan dan maklumat secara rinci tentang masalah ini, dan jika kamu mampu memancarkan api perselisihan ini maka kamu berada di puncak pengabdian bagi Britania Raya. 


Sabtu, 11 Juni 2016

Malik Al-Asytar, Super Jenderal dari Yaman



Imam Ali memilih orang-orang saleh untuk menjadi gubernur di kota-kota kekhalifahan Islam. Beliau menunjuk Malik Al-Asytar menjadi Gubernur Mosul, Sinjar, Nasibin, Hit, dan Anat. Itu adalah daerah-daerah di perbatasan Syam. Sementara itu, Muawwiyah yang rakus dan haus kuasa tidak mematuhi Khalifah Ali karramallahu wajhah. Ia pun menjadi diktator di Syam. Bahkan ia ingin melakukan pemberontakan terhadap Imam Ali dengan dalih menuntut balas atas kematian Utsman bin Affan, meski para pembunuh Utsman bin Affan sesungguhnya adalah patron dan kolega Muawwiyah itu sendiri. Imam Ali mencoba menempuh jalan damai.

Ketika itu Imam Ali mengajak Muawwiyah untuk mematuhi beliau. Imam Ali mengirim beberapa surat kepada Muawwiyah, dan mengirim beberapa utusan untuk berbicara kepadanya. Tetapi, semua usaha Imam Ali sia-sia. Muawwiyah tetap ingin melakukan pemberontakan. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi Imam Ali kecuali menghadapi pemberontakan Muawwiyah yang rakus dan haus kuasa tersebut. Imam Ali pun lalu membentuk pasukan dan menyerahkan komandonya kepada Malik Al-Asytar.

Pasukan pun maju menuju Syam. Ketika tiba di Kirkisya, terjadilah bentrokan dengan pasukan Muawiyyah yang dipimpin oleh Abi Al-Awar Al-Salmi. Malik Al-Asytar mencoba membujuk Abi Al-Awar Al-Salmi untuk mengakhiri pemberontakan dan mematuhi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Tetap ia menolaknya. Malam harinya, pasukan Muawwiyah mengambil kesempatan dengan melancarkan sebuah serangan mendadak. Tindakan itu bertentangan dengan agama dan etika perang karena kedua kubu tersebut sedang dalam perundingan.

Pasukan Imam Ali melawan serangan mendadak itu. Mereka mengalahkan dan melukai banyak penyerang dan memaksa lainnya untuk mundur ke tempat asal mereka. Malik Al-Asytar menunjukkan lagi keberaniannya. Ia mengirim utusan untuk menemui Abi Al-Awar Al-Salmi untuk mengundangnya berduel dengan pedang. Utusan itu berkata, "Wahai Abi Al-Awar, Malik Al-Asytar mengundangmu untuk berduel dengannya!" Pemimpin pasukan Muawiyyah itu menjadi takut dan dengan perasaan kecut berkata, "Aku tidak ingin berduel dengannya!" Muawwiyyah memimpin sebuah pasukan besar untuk bergabung dengan pasukan Abi Al-Awar Al-Salmi. Kedua kubu bertemu di dataran Shiffin di tepi Sungai Eufrat.

Beberapa unit pasukan Muawwiyah berhasil menduduki tepi sungai dan mengepung sungai tersebut untuk mencegah pasukan Imam Ali mengambil air. Tindakan ini juga bertentangan dengan hukum Islam dan hukum perang. Lalu Imam Ali mengutus Sasa'ah bin Suhan, salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw untuk berbicara kepada Muawwiyyah. Sasa'ah mendatangi kemah Muawwiyah dan berkata, "Hai Muawwiyah, Ali berpesan, 'Biarkan kami mengambil sedikit air. Lalu kami akan memutuskan selanjutnya antara kalian dan kami. Jika tidak, kalian dan kami akan bertempur hingga si pemenang yang akan minum." Muawwiyyah terdiam sejenak lalu berkata, "Aku akan menjawabnya nanti."

Utusan Imam Ali pun pergi, sedangkan Muawwiyah meminta saran dari beberapa orang. Al-Walid berkata dengan marah, "Cegah mereka dari meminum air untuk memaksa mereka menyerah." Mereka setuju dengan pendapat tersebut. Memang tak dapat diingkari, Muawwiyah mempekerjakan orang-orang yang terkenal menghalalkan segala cara di sekelilingnya. Mereka adalah pelanggar hukum-hukum Islam dan hak asasi manusia.

Saat itu Malik Al-Asytar mengamati gerakan pasukan yang ada di tepi sungai. Ia melihat perbekalan pasukan tersebut. Sehingga ia sadar bahwa Muawwiyah akan memperketat pengepungan sungai itu. Tentara Imam Ali pun menjadi haus. Tentu saja Malik pun demikian. Seorang tentara berkata padanya,  "Ada sedikit air dalam tempat minumku, minumlah." Malik menolaknya dan berkata, "Aku tak akan minum sebelum seluruh pasukanku minum!" Malik pergi menemui Imam Ali dan berkata, "Amirul Mukminin, pasukan kita kehausan. Tidak ada jalan lagi bagi kita selain bertempur." ImamAli menjawab, “Baiklah."

Imam Ali menyampaikan sebuah khutbah dan mendorong mereka untuk bertempur dengan berani. Ia maju ke tepi sungai Eufrat. Setelah pertempuran sengit terjadi, Malik dapat menguasai kembali tepi sungai dan memaksa pasukan Muawwiyah untuk menarik diri. Pasukan Muawwiyah menjadi jauh dari air. Sehingga mereka pun berpikir untuk membuat tipu muslihat demi menguasai kembali Sungai Eufrat tersebut.

Pada hari berikutnya, sebuah anak panah jatuh di antara pasukan Imam Ali. Di panah itu terikat sepucuk surat. Para tentara membaca surat itu dengan hati-hati. Mereka dengan cepat menceritakan pesan itu satu sama lain. Pesan itu berbunyi, "Dari seorang saudara setia di pasukan Syam (pasukan Muawwiyah), Muawwiyah akan membuka bendungan sungai itu untuk menenggelamkan kalian. Maka, berhati-hatilah!" Pasukan Imam Ali pun percaya pada berita itu dan mundur. Sehingga pasukan Syam mengambil kesempatan dari keadaan itu dan merebut kembali tepi sungai.

Namun pasukan Imam Ali kemudian melancarkan serangan dan mengusir pasukan Syam dari daerah itu. Muawwiyah merasa sangat khawatir, sehingga ia bertanya kepada Amr bin Ash, "Apakah menurutmu Ali akan mencegah kita meminum air?" Amr bin Ash menjawab, "Ali tak akan melakukan apa yang kamu lakukan. Karena ia bukan orang keji dan semua bangsa Arab mengakui keutamaan-keutamaannya" Pasukan Syam juga merasa khawatir. Namun, segera mereka mendengar bahwa Imam Ali mengizinkan mereka datang ke sungai dan minum air.

Beberapa orang Syam pun menyadari perbedaan kualitas diri Muawwiyah dan Imam Ali. Muawwiyah melakukan segala cara untuk memenangkan peperangan. Tetapi Imam Ali tidak berpikir untuk melakukan semua itu. Ia melakukan tindakan yang baik, terpuji, dan berperikemanusiaan. Oleh karena itu, beberapa tentara Syam meninggalkan kubu Muawwiyah dengan diam-diam di malam hari. Mereka bergabung dengan pasukan Imam Ali karena kubu Imam Ali selalu mewakili kebenaran dan kemanusiaan.

MUAWWIYAH
Muawwiyah merasa tidak senang kepada Malik Al-Asytar, karena keberaniannya membuat pasukan Imam Ali berperang dengan penuh semangat, dan pada saat yang sama mencemaskan pasukan Syam. Sehingga Muawwiyah memutuskan untuk membunuh Malik Al-Asytar melalui duel pedang. Ia memerintahkan Marwan untuk berduel dengan Malik. Tetapi Marwan takut pada Malik. Oleh karena itu, ia meminta maaf kepada Muawwiyah dan berkata, "Biarlah Amr bin Ash yang berduel dengannya karena ia adalah tangan kananmu." Kemudian Muawwiyah memerintahkan Amr bin Ash untuk berduel dengan Malik. Amr bin Ash dengan rasa enggan menyetujui rencana Muawwiyah tersebut. Amr lalu memanggil Malik untuk berduel dengannya. Malik maju ke arah Amr bin Ash dengan memegang tombaknya. Malik memukulnya dengan keras tepat pada wajah, sehingga Amr bin Ash pun melarikan diri ketakutan.

KESYAHIDAN AMMAR
Peperangan menjadi bertambah hebat. Ammar bin Yassir memimpin di sayap kiri. Meskipun ia sudah tua, namun ia bertempur dengan gagah berani. Ketika matahari hampir terbenam, Ammar bin Yasir meminta sedikit makanan untuk berbuka puasa. Seorang tentara membawakan untuknya secangkir penuh yoghurt (susu asam). Ammar menjadi gembira dan berkata, "Malam ini, aku mungkin syahid karena Rasulullah saw telah berkata padaku, 'Ammar, sekelompok orang zalim akan membunuhmu, dan makanan terakhirmu di dunia adalah secangkir yoghurt."

Sahabat besar itu pun berbuka puasa dan lalu maju ke medan pertempuran. Ia bertempur dengan gagah berani. Namun akhirnya ia pun jatuh ke tanah dan syahid. Imam Ali datang dan duduk di dekat kepala Ammar lalu berkata dengan sedih, "Semoga Allah merahmati Ammar di hari ia menjadi syahid. Semoga Allah merahmati Ammar di hari ia dibangkitkan dari kematian. Wahai Ammar nikmatilah surgamu."

Kesyahidan Ammar di pertempuran itu sangat mempengaruhi jalannya pertempuran. Pasukan Imam Ali berada dalam semangat yang tinggi. Sementara itu, pasukan Muawwiyah justru berada dalam semangat yang rendah. Semua kaum Muslim menjadi teringat pada sabda Rasulullah saw kepada Ammar bin Yassir. Hadis itu berbunyi, "Wahai Ammar, kelompok orang-orang zalim akan membunuhmu." Sehingga semua menjadi demikian jelas bahwa Muawwiyah dan tentaranya memang berada di posisi yang tidak sah, sementara Imam Ali dan sahabat-sahabatnya adalah berada di barisan benar dan legitimate. Oleh karena itu, pasukan Imam Ali semakin meningkatkan serangannya atas pasukan Muawwiyah, sementara di sisi lain Muawwiyah dan pasukannya bersiap untuk melarikan diri.

TIPUAN SANG POLITIKUS
Muawwiyah berpikir untuk memperdayai pasukan Imam Ali. Sehingga ia pun meminta saran kepada Amr bin Ash. Lalu Amr berkata, "Aku yakin kita dapat menipu mereka dengan Al-Qu’an." Muawwiyah gembira dengan siasat licik itu dan memerintahkan tentaranya untuk mengangkat Al-Quran dengan tombak-tombak mereka. Ketika pasukan Imam Ali melihat Al-Quran, mereka berpikir untuk menghentikan pertempuran. Siasat licik Muawiyah dan Amr bin Ash ini berhasil menipu beberapa tentara Imam Ali. Imam Ali lalu berkata, "Itu adalah tipuan! Akulah yang pertama mengajak mereka pada kitabullah. Dan akulah yang pertama mengimaninya. Meraka tidak mematuhi Allah dan melanggar ketetapan-Nya.”

Namun tetap saja 20 ribu tentara Imam Ali tidak mau mematuhi perintah beliau dan berkata, “Hentikan pertempuran dan perintahkan Al-Asytar untuk mundur!" Imam Ali akhirnya mengutus seorang tentara kepada Al-Asytar untuk menghentikan pertempuran. Malik Al-Asytar pun terpaksa mundur. Ia berkata, "Tidak ada kekuatan dan kekuasaan kecuali milik Allah.”

TAHKIM
Malik Al-Asythar mengetahui bahwa tindakan Muawwiyah itu hanyalah tipuan. Tetapi ia tetap mematuhi perintah Imam Ali agar tak ada bencana yang terjadi. Ia adalah seorang pemimpin yang pemberani dan prajurit yang patuh. Pertempuran pun berhenti. Dan kedua kubu menyetujui untuk bertahkim (memutuskan hukum) dengan Kitabullah. Muawwiyah mengirim Amr bin Ash untuk mewakilinya dalam negosiasi itu. Dan Imam Ali memilih seorang yang siaga dan bijaksana. Orang itu juga mesti memiliki pengetahuan yang baik tentang Kitabullah. Sehingga, beliau memilih Abdullah bin Abbas, seorang yang berpengetahuan tinggi tentang agama.

Tetapi kubu pasukan pemberontak yang tidak mematuhi Imam Ali menolaknya dan berkata, "Kami memilih Abu Musa Al-Asy'ari." Imam Ali menjawab, "Aku tidak setuju dengan pilihan kalian. Abdullah bin Abbas lebih baik darinya." Sekali lagi para pemberontak itu menolak keputusan Imam Ali. Sehingga, Imam Ali berkata, "Aku akan memilih Al-Asytar." Mereka juga menolak Al-Asytar. Mereka tetap kukuh memilih Abu Musa Al-Asy'ari. Akhirnya, demi menghindari terjadinya malapetaka, Imam Ali lalu berkata, "Lakukan apa yang kalian suka!"

Kemudian kedua wakil itu bertemu untuk berbicara. Amr bin Ash berpikir tentang sebuah rencana yang sekiranya dapat diterima oleh Al-Asy'ari. Amr berkata padanya, "Wahai Abu Musa, Muawwiyah dan Ali telah menyebabkan semua kesulitan ini. Sehingga, marilah kita tinggalkan mereka dan memilih orang lain." Abu Musa Al-Asy'ari kebetulan tidak menyukai Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib karena dengki dan cemburu dengan kebesaran dan keutamaan Imam Ali. Sehingga, ia pun setuju dengan rencana itu.

Ia lalu berkata di depan orang-orang, "Aku melepaskan Ali dari kekhalifahan sebagaimana aku melepaskan cincin dari jariku." Kemudian ia pun melepaskan cincinnya. Namun Amr bin Ash justru berkata dengan tegas, "Aku menempatkan Muawwiyah pada kekhalifahan sebagaimana aku menempatkan cincin ke jariku." Kemudian ia memakai cincinnya. Para tentara Imam Ali, yang telah membanggakannya tadi , menyesali perbuatan mereka yang salah itu. Saat itu mereka mendapat hikmah dan pelajaran bahwa Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah memang manusia paling utama setelah Rasulullah.

Kamis, 31 Desember 2015

Fitnah Jamal, Ketika Aisyah Memerangi Imam Ali


Thalhah, misan Âisyah, yang diharapkan Âisyah akan menjadi khalîfah, meninggal dalam Perang Jamal. Ia dibunuh oleh Marwân bin Hakam anggota pasukannya sendiri, karena keterlibatannya dalam pembunuhan Utsmân. Setelah memanah Thalhah, Marwân berkata: “Aku puas! Sekarang aku tidak akan menuntut lagi darah Utsmân!”

Oleh O Hashem (penulis buku Saqifah)

Âisyah berangkat ke Makkah. Ia berhenti di depan pintu masjid menuju ke al-Hajar kemudian mengumpul orang dan berkata: “Hai manusia. Utsmân telah dibunuh secara zalim! Demi Allâh kita harus menuntut darahnya.” Dia dilaporkan juga telah berkata: “Hai kaum Quraisy! Utsmân telah dibunuh. Dibunuh oleh Alî bin Abî Thâlib. Demi Allâh seujung kuku atau satu malam kehidupan Utsmân, lebih baik dari seluruh hidup Alî.”[[1]]

UMMU SALAMAH MENASIHATI ÂISYAH
Ummu’l-mu’minîn Ummu Salamah menasihati Âisyah agar ia tidak meninggalkan rumahnya: “Ya Âisyah, engkau telah menjadi penghalang antara Rasûl Allâh saw dan umatnya. Hijâbmu menentukan kehormatan Rasûl Allâh saw. Al-Qur’ân telah menetapkan hijâb untukmu.[[2]] Dan jangan engkau membukanya. Tempatmu telah pula ditentukan Allâh SWT dan janganlah engkau keluar. Allâh-lah yang akan melindungi umatnya. Rasûl Allâh saw mengetahui tempatmu. Kalau Rasûl Allâh saw ingin memberimu tugas tentu telah beliau sabdakan. Ia telah melarang engkau mengelilingi kota-kota. Apa yang akan engkau katakan kepada Rasûl Allâh saw seandainya engkau bertemu dengan beliau di perjalanan dan engkau sedang menunggangi untamu dan bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain? Allâh sudah menetapkan tempatmu dan engkau suatu ketika akan bertemu dengan Rasûl Allâh saw di akhirat. Dan seandainya aku disuruh masuk ke surga firdaus, aku malu berjumpa dengan Rasûl Allâh saw dalam keadaan aku melepaskan hijâbku yang telah diwajibkan Allâh SWT atas diriku. Jadikanlah hijâbmu itu sebagai pelindung dan jadikanlah rumahmu sebagai kuburan sehingga apabila engkau bertemu dengan Rasûl Allâh saw ia rela dan senang akan dirimu!”[[3]]

Âisyah tidak menghiraukannya. Thalhah, Zubair dan Abdullâh bin Zubair pergi bergabung dengan Âisyah di Makkah. Demikian pula Banû Umayyah serta penguasa-penguasa Utsmân yang diberhentikan Alî dengan membawa harta baitul mâl. Hafshah binti Umar yang juga ummu’l-mu’minîn, diajak Âisyah, tapi membatalkan niatnya karena dilarang oleh kakaknya Abdullâh bin Umar.

Abû Mikhnaf Lûth al-Azdî berkata: “Setelah Alî tiba di Dzi Qar[[4]], Âisyah menulis kepada Hafshah binti Umar bin Khaththâb: “Amma ba’du. Aku kabarkan padamu bahwa Alî telah tiba di Dzi Qar, dan ia benar-benar sedang ketakutan setelah mengetahui jemaah kami telah siap siaga. Dan ia berada di tepi jurang, bila ia maju, akan dipancung, ”uqira”, bila mundur disembelih, “nuhira”, dan Hafshah memanggil para dayangnya dan menyuruh mereka menyanyi sambil memukul rebana:

“Apa kabar, apa kabar,
Alî dalam perjalanan,
Seperti penunggang di tepi jurang,
Maju, terpancung,
Mundur, terpotong.”

Wanita-wanita para thulaqâ’ (mereka yang baru masuk Islam pada waktu dibukanya kota Makkah, pen.) masuk ke rumah Hafshah ketika mendengar nyanyian itu. Mereka berkumpul dan menikmati nyanyian. Setelah sampai berita ini kepada Ummu Kaltsum binti Alî bin Abî Thâlib, ia lalu pakai jilbabnya untuk menyaru. Sampai di tengah-tengah mereka, dia buka jilbabnya. Setelah Hafshah tahu bahwa orang itu adalah Ummu Kaltsum ia merasa malu dan berhenti bernyanyi. Lalu Ummu Kaltsum berkata: “Kalau engkau berdua (maksudnya Âisyah dan Hafshah, pen.) menentang Alî bin Abî Thâlib sekarang, dahulu pun kamu berdua menentang saudara Alî bin Abî Thâlib (maksudnya Rasûl Allâh saw.) sehingga turun ayat mengenai kamu berdua.” Hafshah lalu menyela: “Stop! Mudah-mudahan Allâh merahmatimu!” Ia lalu mengambil surat Âisyah tersebut, merobeknya dan minta ampun kepada Allâh!”[[5]]

Setelah sampai di wilayah Iraq, Sa’îd bin Âsh bertemu Marwân bin Hakam dan kawan-kawannya. Ia berkata: “Tunggu apa lagi kamu! Pemberontak dan pembunuh Utsmân berada di sekeliling unta (yang ditunggangi Âisyah) itu! Bunuhlah mereka dan kembalilah ke tempatmu sesudah itu. Jangan kamu membunuh diri kamu sendiri!” Mereka menjawab: “Biar mereka saling membunuh dan pembunuh Utsmân dengan sendirinya akan terbunuh!” Mereka lalu bergabung dengan Âisyah.[[6]]

Dalam menuju Bashrah, Âisyah, Thalhah dan Zubair berhenti di Sumur Abî Mûsâ dekat Bashrah. Utsmân bin Hunaif, gubernur Bashrah mengirim utusan yang bernama Abû al-Aswad ad-Du’ali yang lansung menemui Aisyah dan ia bertanya kepada Âisyah akan maksud perjalanannya.

Âisyah: ”Aku menuntut darah Utsmân!”

Abû Al-Aswad: “Tak ada seorang pun pembunuh “Utsmân di Bashrah!”

Âisyah: “Engkau benar. Mereka berada bersama Alî bin Abî Thâlib di Madînah. Dan aku datang membangkitkan orang Bashrah untuk memerangi Alî. Kami memarahi Utsmân karena cambuknya yang memecuti kamu (umat Islam, pen.). Maka tidakkah kami juga harus membela Utsmân dengan pedangmu?”

Abû Al-Aswad: “Apa urusanmu dengan cambuk dan pedang! Engkau adalah istri Rasûl Allâh saw. Engkau diperintahkan untuk tinggal di rumahmu dan mengaji Kitâb Tuhanmu dan perempuan tidaklah pantas untuk berperang dan tidak juga untuk menuntut darah. Sesungguhnya Alî lebih pantas dan lebih dekat hubungan keluarga untuk menuntut , karena mereka berdua (Alî dan Utsmân), adalah anak Abdi Manâf!”

Âisyah : “Saya tidak akan mundur, sebelum saya melaksanakan apa yang telah saya rencanakan. Apakah engkau menduga bahwa seseorang mau memerangi saya?”

Abû Al-Aswad: “Ya, demi Allâh! Engkau akan berperang dalam suatu peperangan yang bagaimanapun kecilnya, masih akan tetap paling dahsyat!”

Tiba di tepi kota Bashrah, orang-orang terkagum-kagum melihat unta Âisyah yang besar dan mengagumkan. Jâriyah bin Qudâmah mendatangi Âisyah dan berkata: “Wahai ummu’l-mu’minîn! Pembunuhan Utsmân merupakan tragedi, tetapi tragedi yang lebih besar lagi adalah bahwa Anda telah keluar dari rumah Anda, menunggangi unta terkutuk ini dan merusak kedudukan dan kehormatan Anda. Lebih baik Anda pulang.”

Âisyah tidak peduli dan orang-orang merasa heran. Ayat Al-Qur’ân yang memerintahkan para istri Rasûl agar tinggal di rumah tidak dapat lagi menahannya.

Tatkala pasukan ini berusaha masuk kota Bashrah, Gubernur Bashrah Utsmân bin Hunaif datang untuk menghalangi mereka dan tatkala dua pasukan saling berhadapan, mereka mencabut pedang masing-masing dan saling menyerbu. Waktu sejumlah anggota pasukan telah berguguran Âisyah datang melerai dan kedua pasukan sepakat bahwa sampai Amîrul muminîn Alî bin Abî Thâlib tiba, pemerintahan yang ada berjalan sebagaimana biasa dan Utsmân bin Hunaif harus tetap dalam kedudukannya sebagai gubernur.

PEMBUNUHAN BERDARAH DINGIN, MENCABUTI RAMBUT GUBERNUR
Tetapi, baru dua hari berlalu, mereka menyergap Utsmân bin Hunaif pada malam hari, membunuh empat puluh orang yang tidak bersalah, memukuli gubernur Utsmân bin Hunaif, mencabut tiap helai rambut dan jenggotnya kemudian menawannya. Mereka lalu menyerang dan merampok Bait Al-Mâl sambil membunuh dua puluh orang di tempat serta lima puluh orang dibunuh berdarah dingin setelah menyerah. Setelah itu mereka merebut gudang gandum. Seorang tokoh tua kota Bashrâ yang bernama Hâkim bin Jabalah tidak dapat lagi menahan diri. Ia mendatangi mereka dengan anggota suku dan keluarganya. Ia berkata kepada Abdullâh bin Zubair: “Tinggalkan sebagian gandum untuk penduduk kota! Bagaimanapun juga penindasan harus ada batasnya. Kamu telah menyebarkan maut dan perusakan serta menawan Utsmân bin Hunaif. Demi Allâh tinggalkan perbuatan celaka ini dan lepaskanlah Utsmân bin Hunaif. Apakah tidak ada lagi takwa dalam hatimu?”

Abdullâh bin Zubair berkata: “Ini kami lakukan untuk menuntut darah Utsmân!”

Hâkim bin Jabalah menjawab: “Adakah orang-orang yang kamu bunuh itu pembunuh Utsmân? Demi Allâh bila aku punya pendukung, tentu akan kutuntut balas terhadap pembunuhan kaum Muslimîn tanpa sebab ini!”

Ibnu Zubair menjawab: “Kami sama sekali tidak akan memberikan apa pun dari gandum ini, dan tidak akan kami lepas Utsmân bin Hunaif!”

Akhirnya terjadi pertempuran dan gugurlah Hâkim bin Jabalah dan kedua anaknya, Asyrâf dan Ri’i bin Jabalah bersama tujuh puluh anggota sukunya yang lain.

Perang yang paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Dalam perang ini bapak dan anak serta saudara saling membunuh, melemahkan jiwa dan raga masyarakat Islam yang sebenarnya merupakan awal berakhirnya Daulah Islamîyah dan membuka jalan kepada kerajaan.

Ibnu Abd Rabbih meriwayatkan bahwa Mughîrah bin Syu’bah, sesudah Perang Jamal mendatangi Âisyah. Âisyah berkata kepadanya: “Hai Abû Abdillâh aku ingin engkau berada bersama kami pada Perang Jamal; bagaimana anak-anak panah menembus haudaj-ku[[7]] dan sebagian menyentuh tubuhku!”

Mughîrah bin Syu’bah menjawab: “Aku menghendaki satu dari panah-panah itu membunuhmu?” Âisyah: “Mudah-mudahan Allâh mengampunimu! Mengapa demikian?” Mughîrah menjawab: “Agar terbalas apa yang engkau lakukan terhadap Utsmân!”[[8]]

Diriwayatkan bahwa sekali seorang wanita bertanya kepada Âisyah tentang hukumnya seorang ibu yang membunuh anak bayinya. Âisyah menjawab: “Neraka tempatnya bagi ibu yang durhaka itu!” Kalau demikian, tanyanya, “Bagaimana hukum seorang ibu yang membunuh dua puluh ribu anaknya yang telah dewasa?” Âisyah berteriak dan menyuruh orang melempar keluar wanita tersebut. Âisyah, memang, sebagai istri Rasûl ditentukan Allâh SWT sebagai ibu kaum mu’minîn.[[9]] Dan perang yang dilancarkannya terhadap Imâm Alî telah menyebabkan terbunuhnya dua puluh ribu anaknya sendiri. Setelah semua ini Âisyah kembali ke rumahnya.

Thalhah, misan Âisyah, yang diharapkan Âisyah akan menjadi khalîfah, meninggal dalam Perang Jamal. Ia dibunuh oleh Marwân bin Hakam anggota pasukannya sendiri, karena keterlibatannya dalam pembunuhan Utsmân. Setelah memanah Thalhah, Marwân berkata: “Aku puas! Sekarang aku tidak akan menuntut lagi darah Utsmân!” Zubair bin Awwâm, iparnya, suami kakaknya Asmâ’ binti Abû Bakar meninggalkan pasukan setelah mendengar nasihat Imam Alî. Ia dibunuh dari belakang oleh seorang yang bernama Amr bin Jurmuz. Alî berkata: “Zubair senantiasa bersama kami sampai anaknya yang celaka[[10]] menjadi besar.”

Sepanjang masa peperangan Jamal ini Abdullâh bin Zubair menjadi imam salat, karena Thalhah dan Zubair berebut jadi imam dan Âisyah menunjuk Abdullâh. Juga, Abdullâh bin Zubair menuntut bahwa ia lebih berhak terhadap kekhalifahan dari ayahnya dan Thalhah dan menyatakan bahwa Utsmân telah mewasiatkan kepadanya untuk menjabat khalîfah.[[11]]

Orang sering mengajukan pertanyaan mengenai Zubair dan Thalhah, seperti mengapa harus Abdullâh bin Zubair yang mengimami salat padahal Zubair dan Thalhah adalah Sahabat Rasûl dan mengapa mereka berdua harus berebut dan bertengkar menjadi imam sehingga Âisyah lalu menunjuk Abdullâh bin Zubair? Mengapa membaiat Alî, kemudian memerangi Alî? Kalau menganggap Alî kafir, maka lari atau menyerah dari perang melawan orang kafir adalah kafir.  Kalau Alî adalah Muslim, maka memerangi Alî adalah kafir.

Sedih, memang! Muhammad bin Abû Bakar, adik Âisyah yang berperang di pihak Alî melawan Âisyah, akhirnya di kemudian hari dibunuh oleh Mu’âwiyah, dimasukkan dalam perut keledai lalu dibakar.

Alî benar tatkala ia mengatakan bahwa ia diuji oleh empat hal. Pertama oleh orang yang paling cerdik dan dermawan, yaitu Thalhah. Kedua oleh orang yang paling berani, yaitu Zubair. Ketiga oleh orang yang paling bisa mempengaruhi orang, yaitu Âisyah. Yang terakhir oleh orang yang paling cepat terpengaruh fitnah, yaitu Ya’la bin Umayyah. Yang terakhir ini adalah penyedia dana utama untuk Perang Jamal, dengan membawa harta baitul mâl tatkala ia jadi gubernur Utsmân di Yaman. Ia menyerahkan 400.000 dinar kepada Zubair dan menanggung pembiayaan tujuh puluh anggota pasukan orang Quraisy. Ia membelikan seekor unta yang terkenal besarnya untuk Âisyah seharga delapan puluh dinar.[[12]]

Âisyah adalah seorang luar biasa. Bagaimana ia mengguncangkan dua khalîfah sekaligus dan bagaimana ia berubah dari seorang yang mengeluarkan fatwa untuk membunuh Utsmân dan setelah Utsmân terbunuh, ia menuntut darah Utsmân dan membuat umat Islam berontak melawan Alî.

Rasanya, Utsmân tidak akan terbunuh tanpa fatwa Âisyah yang punya pengaruh demikian besar terhadap kaum Muslimîn karena kedudukannya sebagai istri Rasûl. Setelah Utsmân terbunuh ia gembira. Tetapi setelah Alî dibaiat ia mampu menghimpun para pembunuh dan keluarga yang terbunuh untuk bangkit melawan Alî bin Abî Thâlib. Ia dapat mengubah kesan orang terhadap Alî yang membela Utsmân menjadi orang yang tertuduh membunuh Utsmân.

Âisyah punya kelebihan. Setelah meruntuhkan dua khalîfah ia bisa berubah menjadi orang yang tidak berdosa. Dan perannya dalam menentukan akidah umat berlanjut sampai sekarang dengan hadis-hadisnya yang banyak.

Ummu Salamah, misalnya, yang juga ummu’l-mu’minîn tidaklah mendapat tempat yang terhormat seperti Âisyah. Hal ini disebabkan karena Ummu Salamah berpihak kepada ahlu’l-bait dengan sering meriwayatkan hadis-hadis yang mengutamakan Alî, seperti hadis Kisâ’. Abû Bakar, ayahnya, maupun Umar bin Khaththâb menyadari kemampuan Âisyah, dan sejak awal mereka menjadikan Âisyah sebagai tempat bertanya. Ibnu Sa’d, misalnya, meriwayatkan dari Al-Qâsim: “Âisyah sering diminta memberikan fatwa di zaman Abû Bakar, Umar dan Utsmân dan Âisyah terus memberi fatwa sampai mereka meninggal.”[[13]]

Dari Mahmûd bin Labîd: “Âisyah memberi fatwa di zaman Umar dan Utsmân sampai keduanya meninggal. Dan Sahabat-sahabat Rasûl Allâh saw yang besar, yaitu Umar dan Utsmân sering mengirim orang menemui Âisyah untuk menanyakan Sunnah.”

Malah Umar memberikan uang tahunan untuk Âisyah lebih besar 20 % dari istri Rasûl yang lain. Tiap istri Rasûl mendapat sepuluh ribu dinar sedang Âisyah dua belas ribu. Pernah Umar menerima satu kereta dari Irak yang di dalamnya terdapat mutiara (jauhar) dan Umar memberikan seluruhnya pada Âisyah.[[14]] Disamping pengutamaan Umar kepada Âisyah dalam fatwa maupun hadiah, Umar juga menahannya di Madînah dan hanya membolehkan Âisyah melakukan sekali naik haji pada akhir kekhalifahan Umar dengan pengawalan yang ketat. Umar menyadari betul peran Âisyah yang tahu memanfaatkan kedudukannya yang mulia di mata umat sebagai ibu kaum mu’minîn dan memiliki kemampuan yang tinggi untuk mempengaruhi orang. Dengan demikian mereka saling membagi keutamaan. Sedangkan Utsmân, terutama pada akhir kekhalifahannya, melalaikan hal ini.

Dan di pihak lain, Alî seperti juga Fâthimah sejak awal menjadi bulan-bulanan ummu’l-mu’minîn Âisyah. Para ahli tidak dapat memecahkan misteri kebencian ummu’l-mu’minîn Âisyah terhadap anak tirinya Fâthimah dan Alî yang barangkali belum ada taranya dalam sejarah umat manusia bila kita pikirkan betapa tinggi kedudukan Fâthimah dan Alî di mata Rasûl Allâh saw. Fâthimah adalah satu dari empat wanita utama dalam dunia Islam, sedang Alî dikenal sebagai orang yang paling mulia dan paling utama sesudah Rasûl dan jasanya terhadap Islam sangatlah besar. Kalau Mu’âwiyah bersujud dan diikuti orang-orang yang menemaninya, dan salat dhuhâ enam raka’at saat mendengar Alî meninggal dunia di kemudian hari, sedangkan Âisyah melakukan sujud syukur ketika mendengar berita gembira ini seperti dilaporkan oleh Abû’l-Faraj al-Ishfahânî.[15]

Thabarî, Abû’l-Faraj Al-Ishfahânî, Ibnu Sa’d dan Ibnu Al-Atsîr melaporkan bahwa tatkala seorang menyampaikan berita kematian Alî, ummu’l-mu’minîn Âisyah bersyair: “Tongkat dilepas, tujuan tercapai sudah. Seperti musafir gembira pulang ke rumah!” Kemudian ia bertanya: “Siapa yang membunuhnya?” Jawab: “Seorang laki-laki dari Banû Murad!” Âisyah berkata:  “Walaupun ia jauh, berita matinya telah sampai, dari mulut seorang remaja, yang tak tercemar tanah!”[[16]] Maka berkatalah Zainab puteri ummu’l-mu’minîn Ummu Salamah: “Apakah Alî yang engkau maksudkan?” Âisyah menjawab: “Bila aku lupa kamu ingatkan aku!”[[17]] Kemudian Zainab berkata: “Selalu kasidah dihadiahkan di berbagai kalangan, tentang “Shiddîq” dan bermacam-macam julukan, akhirnya kau tinggalkan juga. Di setiap pertemuan, kau keluarkan kata-kata, seperti dengungan lalat belaka.”[[18]]

MENGAPA ÂISYAH BENCI FÂTHIMAH DAN ALÎ?
Kebencian Âisyah kepada anak tirinya Fâthimah dan suami Fâthimah, Alî, sangat bertalian dengan kecemburuannya kepada Khadîjah yang telah lama meninggal. Cemburu Âisyah terhadap Khadîjah dapat dipahami dari kata-katanya sendiri.

Âisyah berkata[[19]]: “Cemburuku terhadap istri-istri Rasûl tidak seperti cemburuku kepada Khadîjah karena Rasûl sering menyebut dan memujinya, dan Allâh SWT telah mewahyukan kepada Rasûl saw agar menyampaikan kabar gembira kepada Khadîjah bahwa Allâh SWT akan memberinya rumah dari permata di surga.”

Dan di bagian lain[[20]]: “Aku tidak cemburu terhadap seorang dari istri-istrinya seperti aku cemburu kepada Khadîjah, meski aku tidak mengenalnya. Tetapi Nabî sering mengingatnya dan kadang-kadang ia menyembelih kambing, memotong-motongnya dan membagi-bagikannya kepada teman-teman Khadîjah.”

Di bagian lain: “Suatu ketika Hâlah binti Khuwailid, saudari Khadîjah, minta izin menemui Rasûl dan Rasûl mendengar suaranya seperti suara Khadîjah.” Rasûl terkejut dan berkata: “Allâhumma Hâlah!” Dan aku cemburu. Aku berkata: “Apa yang kau ingat dari perempuan tua di antara perempuan-perempuan tua Quraisy...dan Allâh telah menggantinya dengan yang lebih baik.”

Di bagian lain lagi[[21]]: “Dan wajah Rasûl Allâh saw berubah, belum pernah aku melihat ia demikian, kecuali pada saat turun wahyu.”

Dan dalam riwayat lain[[22]]: “Allâh tidak mengganti seorang pun yang lebih baik dari dia. Ia beriman kepada saya tatkala orang lain mengingkari saya. Ia membenarkan saya ketika orang lain mendustakan saya. Dan ia membantu saya dengan hartanya tatkala orang lain enggan membantu saya. Allâh SWT memberi anak-anak kepada saya melaluinya dan tidak melalui yang lain.”

Kebenciannya terhadap Alî juga disebabkan sikap Rasûl saw yang mendahulukan Alî dari ayahnya, Abû Bakar, sebagaimana pengakuannya sendiri.  Imâm Ahmad menceritakan[[23]], yang berasal dari Nu’mân bin Basyîr: “Abû Bakar memohon izin menemui Rasûl Allâh saw dan ia mendengar suara keras Âisyah yang berkata: “Demi Allâh, aku telah tahu bahwa engkau lebih mencintai Alî dari ayahku dan diriku!”, dan ia mengulanginya dua atau tiga kali. Âisyah seperti lupa firman Allâh: “Dan ia tiada berkata menurut keinginannya sendiri. Perkataannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyu-kan kepadanya.”[[24]]

Ibn Abîl-Hadîd menceritakan: “Aku membacakan pidato Alî mengenai Âisyah dari Nahju’l-Balâghah[[25]], kepada Syaikh Abû Ayyûb Yûsuf bin Ismâîl tatkala aku berguru ilmu kalam kepadanya. Aku bertanya bagaimana pendapatnya tentang pidato Alî tersebut. Ia memberi jawaban yang panjang. Aku akan menyampaikannya secara singkat, sebagian dengan lafatnya sebagian lagi dengan lafalku sendiri. (Abû Ayyûb melihat dari kacamata yang umum terjadi. Penulis menerjemahkannya agak bebas). 

Abû Ayyûb berkata: “Kebencian Âisyah kepada Fâthimah timbul karena Rasûl Allâh saw mengawini Âisyah setelah meninggalnya Khadîjah. Sedang Fâthimah adalah putri Khadîjah. Secara umum antara anak dan ibu tiri akan timbul ketegangan dan kebencian. Istri akan mendekati ayahnya dan bukan suaminya, dan anak perempuan tidak akan senang melihat ayahnya akrab dengan ibu tirinya. Ia menganggap ibu tirinya merebut tempat ibunya. Sebaliknya anak perempuan benar-benar jadi tumpuan kecemburuan ibu tiri. Beban cemburu Âisyah kepada almarhumah Khadîjah, berpindah kepada Fâthimah.

Besarnya kebencian pada anak tirinya sebanding dengan bencinya kepada madunya yang telah meninggal. Apalagi bila suaminya sering mengingat istrinya yang telah meninggal itu.

Kemudian semua sepakat bahwa Fâthimah mendapat kedudukan mulia di sisi Allâh SWT melalui hadis Rasûl, yang juga ayahnya, sebagai Penghulu Wanita Kaum Mu’minîn yang kedudukannya sejajar dengan Asiyah, Mariam binti Imrân dan Khadîjah Al-Kubrâ seperti yang tertera dalam hadis shahîh Bukhârî dan Muslim. Dan Rasûl saw, sekali lagi dalam kedudukannya sebagai Nabî, memuliakan Fâthimah dengan kemuliaan yang besar, lebih besar dari yang disangka orang dan lebih besar dari pemuliaan yang lazim diberikan seorang ayah mana pun kepada anaknya. Sampai melewati batas cinta ayah kepada anak. Dan Rasûl Allâh saw menyampaikannya terang-terangan di kalangan khusus maupun umum, berulang-ulang, bukan hanya sekali, dan di kalangan yang berbeda-beda, bukan di satu kalangan saja bahwa “Fâthimah adalah penghulu kaum wanita sedunia.” Melalui hadis yang berasal dari Alî, Umar bin Khaththâb, Hudzaifah Ibnu Yaman, Abû Sa’îd Al-Khudrî, Abû Hurairah dan lain-lain Rasûl bersabda:

“Sesungguhnya, Fâthimah adalah penghulu para wanita di surga, dan Hasan serta Husain adalah penghulu para remaja di surga. Namun ayah mereka berdua (Alî) lebih mulia dari mereka berdua.”[[26]]

Atau hadis yang diriwayatkan Âisyah sendiri bahwa Rasûl telah bersabda: “Wahai Fâthimah, apakah engkau tidak puas menjadi penghulu para wanita sejagat atau penghulu wanita umat ini atau penghulu kaum mu’minât?[[27]]

Sekali lagi, Rasûl Allâh saw melakukan ini sebagai Nabî, bukan sebagai orang biasa yang mudah terbawa oleh hawa nafsu.[[28]] Rasûl bersabda bahwa kedudukan Fâthimah sama dengan kedudukan Mariam binti Imrân[[29]], dan bila Fâthimah lewat di tempat wuquf, para penyeru berteriak dari arah arsy, “Hai penghuni tempat wuquf, turunkan pandanganmu karena Fâthimah binti Muhammad akan lewat.”[[30]] Hadis ini merupakan hadis shahîh dan bukan hadis lemah.

Betapa sering Rasûl Allâh saw bersabda: “Barangsiapa menyakiti Fâthimah, maka ia telah menyakitiku”, “Membencinya berarti membenciku”[[31]], “Ia bagian dari diriku. Meraguinya berarti meraguiku”[[32]]. Dan semua pemuliaan dan penghormatan ini tentu menambah kebencian Âisyah yang tidak berusaha sungguh-sungguh untuk melihat konteks ini dengan kenabian Rasûl saw.

Berbeda misalnya dengan Ummu Salamah, juga istri Rasûl, ummu’l-mu’minîn, yang mencintai Fâthimah, Alî, Hasan dan Husain bukan hanya sebagai anggota keluarga tetapi juga sebagai yang dimuliakan Allâh dengan ayat thathhîr.[[33]]

Biasanya bila seorang istri merasa diperlakukan kurang baik oleh sesama wanita maka berita ini akan sampai kepada suami. Dan lumrah bila istri menceritakan ini pada suaminya di malam hari. Tetapi Âisyah tidak dapat melakukan ini, karena Fâthimah adalah anak suaminya. Ia hanya bisa mengadu pada wanita-wanita Madînah dan tetangga yang bertamu ke rumahnya. Kemudian wanita-wanita ini akan menyampaikan berita kepada Fâthimah, barangkali begitu pula sebaliknya. Dan yang jelas ia akan menyampaikannya kepada ayahnya, Abû Bakar. Dan sampailah kepada Abû Bakar semua yang terjadi. Kemampuan Âisyah untuk mempengaruhi orang sangatlah terkenal dan hal ini akan membekas pada diri Abû Bakar. Kemudian Rasûl Allâh saw melalui hadis yang demikian banyak, telah memuliakan dan mengkhususkan Alî dari sahabat-sahabat lain. Berita ini tentu menambah kepedihan Abû Bakar, karena Abû Bakar adalah ayah Âisyah. Pada kesempatan lain sering terlihat Âisyah duduk bersama Abû Bakar dan Thalhah sepupunya dan mendengar kata-kata mereka berdua. Yang jelas pembicaraan mereka mempengaruhinya sebagaimana mereka terpengaruh oleh Âisyah.

Kemudian ia melanjutkan: “Saya tidak mengatakan bahwa Alî bebas dari ulah Âisyah. Telah sering timbul ketegangan antara Âisyah dan Alî di zaman Rasûl Allâh saw.” Misalnya telah diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasûl dan Alî sedang berbicara. Âisyah datang menyela antara keduanya dan berkata: “Kamu berdua ngobrol terlalu lama!” Rasûl marah sekali. Dan tatkala terjadi peristiwa Ifk, menurut Âisyah, Alî mengusulkan Rasûl Allâh saw agar menceraikan Âisyah dan mengatakan bahwa Âisyah tidak lebih dari tali sebuah sandal. (Tapi banyak orang meragukan peristiwa Ifk yang diriwayatkan Âisyah ini. Dari mana misalnya orang mengetahui usul Alî kepada Rasûl? Siapa yang membocorkannya?, pen.)

Di pihak lain Fâthimah melahirkan banyak anak lelaki dan perempuan, sedang Âisyah tidak melahirkan seorang anak pun. Sedangkan Rasûl Allâh saw menyebut kedua anak lelaki Fâthimah, Hasan dan Husain sebagai anak-anaknya sendiri. Hal ini terbukti tatkala turun ayat mubâhalah.[[34]] Bagaimana perasaan seorang istri, yang tidak dapat melihat bahwa suaminya adalah seorang Rasûl Allâh, bila suaminya memperlakukan cucu tirinya sebagai anaknya sedangkan ia sendiri tidak punya anak?

Kemudian Rasûl menutup pintu yang biasa digunakan ayahnya ke masjid dan membuka pintu untuk Alî. Begitu pula tatkala Surat Bara’ah turun, Rasûl Allâh saw menyuruh Alî, yang disebutnya sebagai dari dirinya sendiri, untuk menyusul Abû Bakar dalam perjalanan haji pertama. Dan agar Alî sendiri membacakan surat Bara’ah atau Surat Taubah kepada jemaah dan kaum musyrikin di Mina.

Kemudian Mariah, istri Rasûl, melahirkan Ibrâhîm dan Alî menunjukkan kegembiraannya, hal ini tentu menyakitkan hati Âisyah.

Yang jelas Alî sama sekali tidak ragu lagi, sebagaimana kebanyakan kaum Muhâjirîn dan Anshâr, bahwa Alî akan jadi khalîfah sesudah Rasûl meninggal dan yakin tidak akan ada orang yang menentangnya. Tatkala pamannya Abbâs berkata kepadanya: “Ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu dan orang akan berkata “Paman Rasûl membaiat sepupu Rasûl, dan tidak akan ada yang berselisih denganmu!” Alî menjawab: “Wahai paman, apakah ada orang lain yang menginginkannya?” Abbâs menjawab: “Kau akan tahu nanti!” Alî menjawab: “Sedang saya tidak menginginkan jabatan ini melalui pintu belakang. Saya ingin semua dilakukan secara terbuka.” Abbâs lalu diam.

Tatkala penyakit Rasûl Allâh saw semakin berat, Rasûl berseru agar mempercepat pasukan Usâmah. Abû Bakar beserta tokoh-tokoh Muhâjirîn dan Anshâr lainnya diikutkan Rasûl dalam pasukan itu. Maka Alî, yang tidak diikutkan Rasûl dalam pasukan Usâmah, dengan sendirinya akan menduduki jabatan khalîfah itu, bila saat Rasûl Allâh saw tiba,karena Madînah akan bebas dari orang-orang yang akan menentang Alî. Dan ia akan menerima jabatan itu secara mulus dan bersih. Maka akan lengkaplah pembaiatan, dan tidak akan ada lawan yang menentangnya.

Itulah sebabnya Âisyah memanggil Abû Bakar dari pasukan Usâmah yang sedang berkemah di Jurf, pada pagi hari Senin, hari wafatnya Rasûl dan bukan pada siang hari, dan memberitahukannya bahwa Rasûl Allâh saw sedang sekarat, “yamûtu.”

Dan tentang mengimami salat, Alî menyampaikan bahwa Âisyah-lah yang memerintahkan Bilal, maulâ ayahnya, untuk memanggil ayahnya mengimami salat, karena Rasûl saw sebagaimana diriwayatkan telah bersabda: “Agar orang-orang salat sendiri-sendiri”, dan Rasûl tidak menunjuk seseorang untuk mengimami salat. Salat itu adalah salat subuh. Karena ulah Âisyah itu maka Rasûl memerlukan keluar, pada akhir hayatnya, dituntun oleh Alî dan Fadhl bin Abbâs sampai ia berdiri di mihrab seperti diriwayatkan...”

Setelah Abû Bakar dibaiat, Fâthimah datang menuntut Fadak milik pribadi ayahnya tetapi Abû Bakar menolaknya dan mengatakan bahwa Nabî tidak mewariskan. Âisyah membantu ayahnya dengan membenarkan hadis tunggal yang disampaikan ayahnya bahwa “Nabî tidak mewariskan dan apa yang ia tinggalkan adalah sedekah.”

Kemudian Fâthimah meninggal dunia dan semua wanita melayat ke rumah Banû Hâsyim kecuali Âisyah. Ia tidak datang dan menyatakan bahwa ia sakit. Dan sampai berita kepada Alî bahwa Âisyah menunjukkan kegembiraan. Kemudian Alî membaiat Abû Bakar dan Âisyah gembira. Sampai tiba berita Utsmân dibunuh dan Âisyah orang yang paling getol menyuruh bunuh Utsmân dengan mengatakan Utsmân telah kafir.

Mendengar demikian ia berseru: “Mampuslah ia!” Dan ia mengharap Thalhah akan jadi khalîfah. Setelah mengetahui Alî telah dibaiat dan bukan Thalhah, ia berteriak: “Utsmân telah dibunuh secara kejam dan menuduh Alî sebagai pembunuh dan meletuslah perang Jamal.”[[35]] Demikian penjelasan Ibn Abîl-Hadîd.



[1] Lihat Balâdzurî, Ansâb al-Asyrâf, jilid 5, hlm. 7.
[2] Al-Qur’ân (33), ayat 33.
[3] Ibnu Thaifur, Balâghât an-Nisâ’, hlm. 8; Mengenai nasihat Ummu Salamah kepada Âisyah, lihat juga Zamakhsyari, al-Fâ’iq, jilid 1, hlm. 290; Ibnu Abd Rabbih, Iqd al-Farîd, jilid 3, hlm. 69; Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2, hlm. 79.
[4] Dzi Qar = Sebuah mata air dekat Kûfah, pen.
[5] Lihat Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2, hlm. 157.
[6] Usdu’l-Ghâbah, jilid 2, hlm. 309-310.
[7] Haudaj adalah tandu yang dipasang di punggung unta, pen.
[8] Ibnu Abd Rabbih, Iqd al-Farîd, jilid 4, hlm. 294.
[9] Al-Qurân, al-Ahâzb (XXXIII):6.
[10] Abdullâh bin Zubair.
[11] Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2, hlm. 166.
[12] Lihat Usdu’l-Ghâbah, jilid 5, hlm. 178-179.
[13] Ibnu Sa’d, Thabaqât, jilid 3 hlm. 370.
[14] Ibnu Sa’d, ibid., jilid 8, hlm. 67; Zarkasyi, al-Ijâbah, hlm. 71, 75; Kanzu’l Ummâl, jilid 7, hlm. 116; Muntakhab, jilid 5, hlm. 118; al-Ishâbah, jilid 4, hlm. 349; Thabarî, ibid., jilid 4, hlm. 161; Ibnu Atsîr, jilid 2, hlm. 247; AlHâkim Al-Nîsâbûrî, al-Mustadrak, jilid 4, hlm. 8; Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 3, hlm. 154; al-Balâdzurî, Futûh al-Buldân, hlm. 449, 454, 455; AnNubalâ’, jilid 2, hlm. 132, 138.
[15] Abû’l-Faraj al-Ishfahânî, Maqâtil ath-Thâlibiyîn, hlm. 43.
[16] Abû Turâb atau Alî bin Abî Thâlib.
[17] Thabarî, Târîkh, tatkala membicarakan sebab pembunuhan Alî; Ibnu Sa’d, Thabaqât al-Kubrâ, jilid 3, hlm. 27; Abû’l-Faraj al-Ishfahânî, Maqâtil at-Thâlibiyîn, hlm. 42.
[18] Abû’l-Faraj al-Ishfahânî, Maqâtil at-Thâlibiyîn, hlm. 42.
[19] Al-Bukhârî, jilid 2, hlm. 277 dalam Bab Kecemburuan Wanita, Kitâb Nikah.
[20] Al-Bukhârî, jilid 2, hlm. 210, pada Bab Manâqib Khadîjah.
[21] Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 150, 154.
[22] Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 117; Sunan Tirmidzî, jilid 1, hlm. 247; Shahîh Bukhârî, jilid 2, hlm. 177, jilid 4, hlm. 36, 195; Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 58, 102, 202, 279; Ibnu Katsîr, Târîkh, jilid 3, hlm. 128; al-Kanzu’l-Ummâl, jilid 6, hlm. 224.
[23] Musnad Ahmad, jilid 4, hlm. 275.
[24] Al-Qur’ân, an-Najm (LIII), 3}
[25] Maksud Ibn Abin Hadîd adalah Khotbah 155 dalam Nahjul Balâghah tatkala Alî berkata tentang Âisyah: “Kebencian mendidih dalam dadanya, sepanas tungku pandai besi. Bila ia diajak melakukan kepada orang lain seperti yang ia lakukan kepadaku, ia akan menolak. Tetapi hormatku kepadanya, setelah kejadian ini pun, tetap seperti semula.
[26] Tirmidzî, al-Jâmi’ ash-Shahîh, jilid 5, hlm. 656, 661; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, jilid 3, hlm. 62, 64, 82, jilid 5, hlm. 391, 392; Ibnu Mâjah, as-Sunan, jilid 1, hlm. 56; Al-Hâkim An-Nîsâbûrî, al-Mustadrak ash-Shahîhain, jilid 3, hlm. 167; Majma’ az-Zawâ’id, jilid 9, hlm. 183; al-Muttaqî, Kanz al-Ummâl, jilid 13, hlm. 127, 128; al-Istî’âb, jilid 4, hlm. 1495; Usdu’l-Ghâbah, jilid 5, hlm. 574; Târîkh Baghdâd, jilid 1, hlm. 140, jilid 6, hlm. 372, jilid 10, hlm. 230; Ibnu Asâkir, at-Târîkh, jilid 7, hlm. 362.
[27] Shahîh Bukhârî, jilid 8, hlm. 79; Shahîh Muslim, jilid 7, hlm. 142-144; Ibnu Mâjah, as-Sunan, jilid 1, hlm. 518; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, jilid 6, hlm. 282; al-Hâkim an-Nîsâbûrî, al-Mustadrak alâ ash-Shahîhain,jilid 3, hlm. 136.
[28] Lihat juga Kanzu’l-Ummâl, jilid 6, hlm. 219.
[29] Lihat juga Kanzu’l-Ummâl, jilid 6, hlm. 219.
[30] Lihat juga al-Mustadrak, jilid 3, hlm. 153, 156; Kanzu’l-Ummâl, jilid 6, hlm. 218.
[31] Lihat catatan kaki di atas.
[32] Lihat Kanzu’l-Ummâl, jilid 6, hlm. 220.
[33] Al-Qur’ân 33:33; Lihat hadis Kisâ’ yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, dalam Bab “Nash Bagi Alî.”
[34] Al-Qur’ân, Âli Imrân (III): 61.
[35] Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 2 hlm. 192-197.