Oleh: Sulaiman Djaya (Sumber: Jurrnal Dakwah Volume 25 Nomor 2, 2021 halaman 116-133)
Abstrak
Perkembangan dan kemajuan teknologi informasi atau tekno-sains telah menciptakan dan menghadirkan ruang-ruang dan media-media baru aktivitas manusia yang sebelumnya tidak dibayangkan akan membawa dampak yang luas dalam segala bidang kehidupan kita: politik, ekonomi, dan budaya hingga keagamaan. Perkembangan dan kemajuan teknologi atau tekno-sains saat ini hingga membuat para analis, filsuf, pengkaji budaya, kritikus sastra sampai ilmuwan politik menganggapnya sebagai ciri dan penanda utamanya yang telah melahirkan perubahan sikap dan budaya manusia. Kehadiran internet dan media sosial atau yang lazim juga disebut jejaring sosial, telah merebut aktivitas manusia sekarang ini dari ruang dan dunia nyata ke dunia digital atau ke ruang-ruang mayantara. Orang-orang rela menghabiskan waktunya selama berjam-jam demi asyik-masyuk berselancar di media sosial untuk berinteraksi dengan akun-akun lainnya atau untuk memposting status mereka hingga mengunggah foto-foto selfie dan aktivitas kehidupan keseharian mereka. Ruang-ruang dan media-media digital itu memang telah memberi banyak manfaat untuk memudahkan dan meluaskan gerak kita dalam hidup sehari-hari, semisal telah menghubungkan komunikasi dengan orang-orang yang bahkan berada di tempat yang paling jauh hingga memasarkan kerja dan produk kreativitas kita kepada para calon pembeli. Dari menjadi ruang publikasi hingga mengkonsumsi informasi yang tanpa batas dan tanpa jeda. Namun, selain banyak manfaat dari perkembangan dan kemajuan teknologi informasi atau tekno-sains jaman kita saat ini, ada cukup banyak dampak negatifnya. Sebutlah kehadiran ruang-ruang digital dan media sosial itu ternyata menjadi ruang-ruang dan media-media penyebaran secara massif hoax dan ujaran-ujaran atau narasi-narasi kebencian dan intoleran. Tulisan ini sekedar contoh analisa deskriptif tentang bagaimana kita perlu bersikap kritis di jaman atau era digital ini.
Metode Analisa Sokrates
Ribuan tahun silam, di Yunani, seorang warga Athena bertemu dengan Sokrates, dan lalu berkata, "Apakah Anda tahu apa yang telah saya dengar tentang teman Anda?" "Tunggu sebentar," jawab Sokrates. "Sebelum Anda berbicara kepada saya tentang teman saya, saya ingin Anda mengikuti suatu ujian. Saya menyebutnya Ujian Tiga Saringan."
"Ujian Tiga Saringan?" "Betul sekali," ujar Sokrates. "Ada baiknya Anda meluangkan waktu sejenak untuk benar-benar menyaring apa yang akan Anda katakan kepada saya. Itulah mengapa saya menyebutnya Ujian Tiga Saringan. Saringan pertama adalah Kebenaran. Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda katakan kepada saya adalah benar?" "Hmm, tidak," kata pria itu, "sebenarnya saya hanya mendengar saja tentang hal itu."
"Baiklah," lanjut Sokrates. "Jadi Anda tidak benar-benar yakin apakah itu benar atau tidak. Sekarang, mari kita coba saringan kedua, yaitu Kebaikan. Apakah yang ingin Anda ceritakan kepada saya tentang teman saya adalah sesuatu hal yang baik?" "Hmmm, tidak, malah sebaliknya!"
"Jadi," Sokrates melanjutkan, "Anda ingin mengatakan sesuatu yang buruk tentang teman saya, tetapi Anda tidak yakin apakah berita itu benar." Baiklah, mungkin saja Anda masih bisa lulus ujian terakhir, karena ada satu saringan lagi yang masih tertinggal, yaitu Kegunaan. Apakah hal yang ingin Anda ceritakan tentang teman saya akan berguna dan bermanfaat bagi saya?" "Tidak, saya pikir tidak." "Baiklah jika demikian," Sokrates pun menyimpulkan, "Jika apa yang ingin Anda katakan kepada saya itu adalah hal yang tidak benar, tidak baik, bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya kepada saya?"
Ajaibnya, ilustrasi di atas tetap relevan dan kontekstual di jaman kita saat ini yang disebut sebagai era digital. Jaman ketika sebaran informasi makin marak dan merebak, namun banyak menyebarkan ketidakvalidan atau kebohongan, hingga kita justru dituntut untuk menjadi lebih kritis, juga di saat kemajuan tekhnologi malah hanya menghidupkan budaya oral dan melumpuhkan kritisisme. Ruang-ruang digital atau dunia maya saat ini ternyata juga tak bisa kita anggap remeh, karena sebagaimana telah terbukti dan terjadi, paham-paham intoleran hingga narasi dan wacana kekerasan serta hasutan persekusi disebarkan dan dimassifkan lewat medsos dan internet, semisal melalui fanpage dan situs-situs sektarian yang dikelola kelompok-kelompok atau kaum-kaum intoleran di dunia yang makin mengglobal dan mendekatkan jarak serta menisbikan batas-batas geografi dan negara sekarang ini.
Dalam artikel menariknya yang berjudul Globalisasi Terpilih dan Globalisasi-globalisasi Hegemonik (Lihat Oliver Leaman [ed], Pemerintahan Akhir Zaman, Al-Huda 2005, hal. 64), Sayid Reza Ameli Menulis: “Globalisasi merupakan hasil dari munculnya industri komunikasi global yang dianggap sebagai hal vital bagi munculnya berbagai bentuk globalisasi lahiriah, dalam tampilan budaya, dan secara samar, dalam orientasi kognitif”. Apa yang dikatakan Sayid Reza Ameli itu cukup menarik bagi kita saat ini, mengingat jaman kita ini, sebagaimana sama-sama kita sadari, bukan hanya jaman meruahnya informasi secara massif dan cepat, namun juga derasnya arus dis-informasi (baca: penyesatan atau penghasutan) baik berupa berita atau pun opini yang digerakkan oleh motif dan ambisi politik, seperti “upaya” menarik simpati dan dukungan bagi ISIS yang didesign oleh Barat beberapa waktu lalu.
Lalu apa hubungannya ISIS (yang di sini sekedar contoh saja) dengan jaman citra dan tekno-sains, era kita saat ini? Tak lain bahwa karena “rekayasa media” yang dimiliki kelompok ISIS dan para pendukung mereka, mereka dapat menyebarkan dan menciptakan “opini” dan “citra” mereka sebagai “mujahidin”, padahal motif dan perang mereka ternyata berbagi, bahkan bekerjasama, dengan kepentingan Barat. Mereka, sebagai contoh, mengklaim diri sebagai “mujahidin” agar dapat menarik simpati dan dukungan kaum muslim di seluruh dunia, meski perang mereka sesungguhnya berdasarkan kepentingan dan skenario Barat. Inilah contoh yang akan disebut oleh Sayid Reza Ameli itu sebagai “Globalisasi Hegemonik” atau “Globalisasi yang Sepihak dan Menindas”, yang dalam bahasa Jacques Derrida (Lihat Giovanna Borradori, Philosophy in the Time of Terror, terj. Alfons Taryadi, Penerbit Kompas 2005, hal. 232-236) disebut sebagai “mondialisasi”, yaitu pendesakkan atau pemaksaan ideologi dan kekuatan politik dan ekonomi dari dunia yang satu (yang dalam hal ini Dunia Barat) terhadap dunia lainnya, yang seringkali motifnya adalah kepentingan material dan ekonomis (semisal perebutan minyak).
Inilah jaman ketika media menjadi aktor utama dan penentu-pencipta opini dunia hingga seorang Sokrates harus menyaring berita atau inforrmasi yang datang di hadapannya dengan tiga saringan: kebenaran, kebaikan dan kegunaan. Di jaman mutakhir kita saat ini, adalah sangat penting untuk memahami sejumlah praktik media yang tak dapat dilepaskan dari interest kekuasaan, politik, dan korporasi, utamanya media-media yang dimiliki dan dikendalikan kaum multinasionalis dan adidaya saat ini. Bersamaan dengan itu, haruslah kita akui, media dan opini yang melayani suatu kepentingan dan kekuasaan, pada akhirnya akan melakukan diskriminasi dan penyingkiran alias eksclusi terhadap hal-hal yang tidak menjadi kepentingannya.
Sebagai contoh, ketika suatu kekuasaan dan imperium hendak membentuk suatu citra publik, seketika itu pula, ia atau pun mereka akan mengerahkan media-media yang dimilikinya untuk membentuk ‘keberpihakan’ publik. Inilah suatu abad atau sebuah jaman, bila meminjam istilahnya Jacques Derrida saat berbincang dengan Giovanna Borradori, di mana publik yang tidak kritis dan malas berpikir akan sangat rentan dimanipulasi dan dihasut oleh media-media yang mengabdi pada kekuasaan dan tirani demi suatu tujuan strategis dan politis, utamanya dalam kancah politk global saat ini.
Dalam hal ini, jaringan media yang kebetulan dikuasai dan dimiliki suatu kelompok tertentu atau suatu rezim bersama yang bekerja berdasarkan kepentingan yang sama akan tak sungkan-sungkan menjadikan media sebagai instrument ‘penaklukkan’, di mana opini, keberpihakan, atau sikap massa (publik) digiring sesuai dengan kehendak para pemilik media, entah para pemilik media itu adalah suatu korporasi, kekuasaan, aliansi, atau suatu rezim kekuasaan dan politik.
Di sini kita dapat memberikan contoh kasusnya adalah ketika media-media seperti youtube, google, facebook dan lain-lainnya mengangkat (dan atau meng-create) citra publik (simpati bersama) bagi insiden Paris beberapa waktu yang silam, namun pada saat bersamaan mereka ‘tidak mengangkat’ atau meng-create citra publik (simpati bersama) bagi tragedi-tragedi yang lebih parah, semisal agressi terhadap Yaman, Suriah dan Palestina.
Salah-satu pemikir kontemporer yang konsen dengan soal ini adalah Noam Chomsky, yang menyatakan bahwa salah-satu strategi media yang mengabdi pada kekuasaan dan korporasi adalah dengan memassifkan opini atau pun diskursus untuk menyembunyikan ‘masalah’ yang sesungguhnya. Media memiliki arti yang sangat penting dalam proses politik, di mana dalam artian negatifnya adalah dalam rangka ‘menguasai’ opini dan sikap publik (massa).
Selain seperti yang dikatakan oleh Sayid Reza Ameli dan Jacques Derrida itu, Anthony Giddens memiliki istilah sendiri untuk menyebut era globalisasi dan kapitalisme lanjut jaman kita ini, yaitu apa yang disebutnya “modernitas kedua”, sedangkan Jean Baudrillard menyebutnya sebagai “Era Simulacra”, yaitu suatu jaman ketika “citra” dan “gambar-gambar visual” adalah motor utama penggerak pikiran dan perilaku kita dalam hidup keseharian kita. Suatu jaman ketika “realitas” dimanipulasi dan direkayasa oleh media serta “hasrat pasar” yang cepat dan massif di era mutakhir kita ini. Tak terkecuali juga ketika hasrat-hasrat politik menggunakan tekno-sains untuk melakukan dis-informasi (pemanipulasian dan penghasutan), semisal ketika ISIS dan Barat membajak Islam dan “Jihad” demi mengelabui sekaligus demi mendapatkan dukungan dan legitimasi pihak-pihak yang justru ingin mereka “taklukkan”, yaitu Islam dan kaum muslim. Sedangkan “modernitas kedua” yang dimaksud Anthony Giddens, meminjam paparannya Sindhunata di majalah Basis Edisi Januari-Februari Tahun 2000 halaman 7 adalah “suatu periode peralihan masyarakat, di mana peralihan itu terjadi dengan menggelisahkan, ketika yang lama dirobohkan di saat yang baru belum dibangun”.
Dengan demikian, di era tekno sains dan jaman citra kita ini, kita dituntut untuk menjadi orang-orang cerdas dan cermat yang akan mampu memilah dan membedakan antara informasi (pengetahuan dan informasi yang objektif) dengan dis-informasi (penyesatan, penghasutan, dan pemanipulasian) yang acapkali digerakkan oleh hasrat-hasrat politik sepihak. Sebagai contoh, yang dalam hal ini kita akan kembali mengambil contoh ISIS yang mencitrakan diri sebagai para “mujahidin” itu, ternyata adalah “agen” dan “pion” Barat di kawasan Timur Tengah.
Filsuf, pengkaji budaya hingga ilmuwan politik menyebut jaman kita saat ini sebagai era postmodern, masyarakat konsumer, masyarakat post-industry dan lainnya. Bagi yang menyebut era ini adalah jaman posttmodern, contohnya, sebagaimana dinyatakan Glenn Ward (Teach Yoursself: Postmodernism, Contemporarry Books 2003: 4) istilah itu merupakan: a descriptive term for all sorts of proposed shifts and change in contemporary society and culture. Sebuah istilah untuk menyebut segala perubahan dan pergeseran dalam masyarakat secara sosial dan budaya. Masyarakat kontemporer itu, yang bila meminjam sebutannya Jean-Francois Lyotard (Krisis dan Masa Depan Pengetahuan, Teraju 2004) adalah masyarakat yang semakin termesinkan dan terkomputerisasi. Lyotard sendiri, sebagaimana ia nyatakan dengan lantang, memaksudkan diksi postmodern dalam ranah budaya dan pemikiran sebagai ketidakpercayaan terhadap logosentrisme, metanarasi, totalitarisme dan merayakan kemajemukan dan perbedaan.
Bahkan, dengan sangat berani, Philippa Berry menganggap jaman kita saat ini sebagai era paska agama dengan menyatakan: The society and culture we inhabit today, at the start of the third millennium, appear at first glance to be the most secular that the world has yet known. As traditional conceptions of knowledge and religion appear increasingly redundant in the context of a postmodern pluralism, so an increasingly frenetic pursuit of this worldly pleasure, along with an ever higher standard of living – with the attendant pressures not just to work harder and to play harder but, above all, to consume – seems definitively to have replace that emphasis upon otherworldly and religious forms of comfort, or salvation, that was accorded social and cultural legitimation in precapitalist society (The Cambridge Companion to Postmodernism, Cambridge University Press 2004: 168).
Jika kita setuju dengan pernyataan Pĥilíppa Berry itu, masyarakat kita saat ini sesungguhnya lebih disibukkan oleh kerja dan karir ketimbang mengejar janji-janji ukhrawi nanti. Berry juga secara terbuka menyatakan bahwa masyarakat religius lebih sebagai ciri masyarkat pra-kapittalisme lanjut seperti saat ini. Sebuah anggapan dan pernyataan yang sesungguhnya sudah terbukti keliru dan terbantahkan ketika gejala fundamentalisme keagamaan malah marak di jaman yang mereka klaim sebagai era postmodern saat ini. Termasuk bangkitnya gerakan kanan keagamaan di Amerika ssendiri. Jeff Zaleski (Spiritualitas Cyber Space, Mizan 1999) sebagai contoh, mengemukakan bahwa di jaman internet dan era yang semakin terkomputerisasi saat ini, ekspressi dan praktik ritual keagamaan malah beralih dan menemukan ruang-ruang dan media-media baru yang jangkauannya lintas negara atau dalam skala global yang menembus dan melintasi batas-batas geografis. Orang yang ingin berkonsultasi atau berdiskusi soal keagamaan dari Amerika bisa melakukan sambungan langsung dengan panutan religiusnya yang ada di Iran atau di Indonesia.
Sementara itu, terkait merebaknya fundamentalisme keagamaan di era kontemporer kita, sekaliber filsuf Jacques Derrida menganggapnya dilahirkan dan dimungkinkan oleh situasi dan perkembangan kontemporer dunia kita saat ini meski sebagai sebuah reaksi (Giovanna Borradori, Filsafat dalam Masa Teror, Kompas 2005: 178-181).
Sedangkan secara sosial, trend dan budaya jaman kontemporer saat ini, Jean Baudrillard mengemukakannya dengan agak metaforis:..one might suppose that the acceleration of modernity, of technology, events and media, of all exchanges –economic, political and sexual – has propelled us to escape velocity, with the result that we have flown free of the referential sphere of the real and of history. We are liberated in every sense of the term, so liberated that we have taken leave of a certain space-time, passed beyond a certain horizon in which the real is possible....(The Postmodern History Reader, Edited By Keith Jenkins, Routledge 1997: 39). Bahwa, bila mengutip pernyataan Jean Baudrillard itu, barangkali kita hidup dalam dan bersama ilusi-ilusi yang kita buat yang lalu membingungkan kita sendiri, ketika orang mungkin mengira bahwa percepatan modernitas, teknologi, peristiwa hidup sehari-hari dan hingar-bingar media, segala aktivitas pertukaran – ekonomi, politik dan seksual – telah mendorong kita untuk melepaskan diri dari kecepatan atau kesegeraan, dengan hasil bahwa kita telah terbang bebas dari lingkup referensial, dari yang nyata dan dari sejarah. Seakan-akan Baudrillard hendak menyatakan bahwa segalanya adalah hal yang mungkin dan apa saja bisa terjadi di era mutakhir kita saat ini. Termasuk dampak buruk perkembangan tekhnologi-informasi itu sendiri yang sudah diramalkan oleh banyak penulis dan pemikir.
Di jaman kita saat ini, internet telah merambah ke setiap sudut hidup dan lintas usia, dari mulai anak-anak hingga orang tua. Internet, tak diragukan lagi, merupakan bukti di mana kapitalisme telah menciptakan suatu dunia tekno-sains yang dampak revolusionernya dapat disamakan dengan revolusi mesin cetak yang ditemukan Gutenberg, tentu saja menurut kadar jamannya masing-masing. Namun, selain sejumlah fungsi dan nilai positifnya, internet juga bermata dua: memiliki dampak negatif yang bahkan bisa melampaui manfaat positifnya: membuat banyak orang jadi tumpul akalnya dan hidup kembali dalam budaya oral.
Terkait perkembangan gegap gempita “dunia maya” ini, sejumlah kalangan dan analis mengkhawatirkan, misalnya, ketika orang-orang menghabiskan waktunya di dunia maya (internet), pada saat itu mereka telah melupakan realitas hidup atau dunia nyata mereka, ruang nyata dan persentuhan hidup sesungguhnya dengan sesama dan lingkungan (ruang) yang riil, yang tak semata virtual. Di antara pengkritiknya yang keras adalah Mark Slouka dan yang moderat adalah Jean Baudrillard.
Berbeda dengan Jean Baudrillard yang terbilang santai dalam menyikapi gegap gempita dunia maya ini, Mark Slouka termasuk sangat mengkhawatirkan dampak dunia maya akan merusak identitas dan kedirian ummat manusia secara sosial dan psikologis. Ada baiknya kita kutip ilustrasi yang ia tulis dalam bukunya yang berjudul War of the Worlds: Cyberspace and the High-Tech Assault on Reality (yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul Ruang yang Hilang dan diterbitkan Mizan di tahun 1999) halaman 39:
“Ketika itu tahun 1990. Seorang wartawan New York Times sedang menyelidiki kasus terkenal tentang seorang pria yang dituduh membunuh istrinya yang sedang hamil, tetapi kemudian sang pria justru berkilah tentang serangan seorang kulit hitam tak dikenal atas pembunuhan tersebut. Ia mewawancara tetangga pasangan itu. “Anda percaya ceritanya?” tanya si wartawan. “Anda mengenal tersangka? Menurut Anda, mungkinkah dia hanya mengarang cerita bohong?” “Saya sungguh tak tahu,” jawab si tetangga. “Saya ingin sekali menonton filmnya ditayangkan di TV agar saya dapat mengetahui bagaimana akhir ceritanya.” Kurang dari satu tahun kemudian, acara TV yang ditunggunya itu akhirnya mengudara, judulnya “Selamat Malam, Istri Tersayang: Pembunuhan di Boston.”
Dengan ilustrasi tersebut, Mark Slouka sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa kemajuan tekhno-sains atau tekhnologi informasi dan dunia maya, yang dalam hal ini sajian entertainment di televisi sebagai contohnya (yang telah mengakibatkan kecanduan bagi para penontonnya) justru telah mengasingkan manusia dari kehidupan nyatanya dan dari kehidupan kesehariannya, serta dari persentuhan dan keterlibatannya secara intim dengan sesamanya sendiri dalam ruang hidup dan lingkungan yang nyata.
Dalam hal ini, jauh sebelumnya Neil Postman telah menyadari sisi buruk tekhno-sains atau tekhnologi informasi (di samping manfaat positifnya), melalui bukunya yang cukup populer yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul ‘Menghibur Diri Sampai Mati’ yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan tahun 1995, di mana ia berpendapat bahwa salah-satu sisi buruk televisi, sebagai contohnya, telah membuat orang-orang kembali menggandrungi budaya oral serta hal-hal yang instant dan banal.
Nilai penting buku Neil Postman tak lain karena buku tersebut telah membuktikan kecenderungan bahwa apa yang diramalkan George Orwell adalah keliru, dan apa yang “diramalkan” atau diprediksi oleh Aldous Huxley adalah benar –setidaknya menurut versi Neil Postman sendiri. George Orwell memperingatkan kita akan ancaman penindasan tirani penguasa. Sedangkan Aldous Huxley justru menyatakan bahwa manusia justru akan semakin mencintai penindasnya, memuja berbagai tekhnologi (termasuk internet seperti jejaring sosial atau media sosial dunia maya dan perangkat tekhno-sains lainnya) yang akan membutakan pikirannya. Neil Postman memberikan contohnya seperti ini:
“Orwell memprihatinkan pelarangan buku. Huxley memprihatinkan lenyapnya alasan untuk melarang penerbitan buku, karena minat baca telah punah. Orwell mencemaskan adanya pihak yang ingin menjauhkan kita dari informasi, sementara Huxley mengkhawatirkan mereka yang menjejali kita dengan begitu banyak informasi sampai kita menjadi pasif dan egois. Orwell mengkhawatirkan disembunyikannya kebenaran dari kita, Huxley mengkhawatirkan hilangnya kebenaran di dalam lautan informasi yang tidak relevan. Orwell mencemaskan datangnya masa di mana kita menjadi masyarakat yang terbelenggu. Huxley mencemaskan kemungkinan kita menjadi masyarakat remeh-temeh. Singkatnya, Orwell cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita benci. Huxley, sebaliknya, cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita sukai.
Maka, mengapa saya tidak terkejut, karena apa yang kini terjadi di sini, sesungguhnya telah terjadi di, sebut saja, Amerika sana di waktu dulu. Di mana politik bahkan sudah dipengaruhi begitu jauh dengan sisi-sisi entertainment. (Menjadi presiden di sana berarti menjaga penampilan, berat badan, hindari kebotakan, dan lain sebagainya!). Bukan hanya soal politik, bahkan juga soal agama. Di Amerika, Tuhan menganak-emaskan mereka yang memiliki bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru penghibur profesional yang tidak menghibur.” Sebuah satir halus yang menyadarkan kita tentang ruang-ruang bermata dua yang diciptakan oleh kemajuan tekhnologi informasi jaman kita saat ini.
Dakwah Era Medsos dan Digital
Di era medsos dan digital ini, kita punya tantangan sekaligus kesempatan untuk menghadirkan Islam yang ramah dan rahmatan lil ‘alamin bagi siapa saja. Kreativitas dan kecakapan adaptif terhadap perkembangan tekhnologi informasi dan media menjadi salah- satu kuncinya. Dakwah memasuki ruang-ruang baru sebagai akibat dan dampak dari kemajuan tekhnologi dan peradaban manusia saat ini hingga di masa depan. Dakwah tak lagi hanya di majlis-majlis ta’lim, tapi telah dipaksa memasuki ruang-ruang dan media-media baru semisal televisi, YouTube, situs hingga jejaring sosial semisal facebook dan yang sejenisnya. Tentu saja, selain keniscayaan penguasaan materi dakwah dari ragam ilmu keislamman, kemahiran dan kecerdikan adaprif terhadap perkembangan tekhnologi informasi serta inovasi dan kreativitas dalam ranah industri budaya dan media.
Saat ini, soal-soal keagamaan tak dapat dilepaskan dari aktivitas dan keasyikan orang-orang berselancar di media sosial di mana yang memprihatinkan kita media sosial itu pula yang menjadi ‘media’ penyebaran doktrin-doktrin yang diklaim sebagai ajaran dan nilai religius yang setiap saat melakukan agitasi dan penghasutan kepada para pengguna media sosial, padahal sesungguhnya tak sesuai dengan semangat keagamaan yang sebenarnya. Yang kedua, dan ini juga tak kalah pelik dan memprihatinkan kita, media sosial itu seakan telah menjadi ‘pesantren’ singkat tak resmi, yang sayangnya lebih sering menyebarkan teologi yang devian, dan yang lebih buruknya lagi, adalah justru telah melahirkan budaya oral ketimbang membuat orang-orang terbiasa melakukan analisa, berpikir kritis, dan membaca narasi panjang yang bernas.
Setiap hari, media sosial menghadirkan ‘bujukan’ informasi yang sifatnya kilasan dengan pergantian dan durasi yang demikian cepat, semisal di fesbuk, instagram, twitter, dan yang sejenisnya, yang oleh orang-orang yang tak punya daya kritis dan analitis yang memadai akan ditelan mentah-mentah begitu saja, meski informasi-informasi itu ternyata tak lebih hasutan, propaganda, atau hoax. Inilah tantangan sekaligus peluang kita mengisi dakwah di ruang-ruang baru tersebut untuk menyebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin atau Islam yang ramah dan mengkomunikasikan spirit Islam asli yang welas-asih.
Bila tak diisi dan dimanfaatkan oleh kita yang menjaga dan merawat moderatisme Islam, maka masyarakat akan terbiarkan begitu saja menjadi korban agitasi dan hasutan para penceramah yang mengajarkan dan mengujarkan kebencian hingga membenarkan persekusi atas dan terhadap ke-liyan-an. Mereka yang menjadi ‘korban’ hasutan dan propaganda yang tersebar di media sosial itu kemudian menjadi para penyebar propaganda dan hoax pula dan begitu seterusnya. Mereka membagikan terus-menerus propaganda, hoax, dan hasutan tersebut, seperti di fesbuk, yang ketika sedemikian menjadi massif lalu akan dianggap sebagai ‘kebenaran’ yang tak terbantahkan. Di sini sesungguhnya harus juga disadari bahwa ketika media-media atau situs-situs yang narasi dan isinya adalah hasutan, bahkan ujaran kebencian tersebut begitu mudah dianggap sebagai ‘kebenaran’, publik terpengaruh dan mereka seakan memiliki ‘pembenaran’ atau laku membenci pihak lain yang ‘difitnah’, dan ujung-ujungnya mereka merasa memiliki ‘dasar’ yang sah untuk mempraktikkan kekerasan.
Di era digital dan zaman android sekarang ini, ketika orang-orang lebih sibuk dan lebih senang berselancar menghabiskan waktu keseharian mereka untuk asyik-masyuk di media sosial: facebook, instagram, twitter dan yang sejenisnya, ketimbang membaca buku, betapa mudahnya hasutan dan propaganda ‘ceramah dan narasi’ kebencian dan intoleran disebarkan dan lalu dikonsumsi banyak orang. Tak jarang orang-orang begitu mudahnya menganggap yang hoax sebagai fakta dan kebenaran, yang tak lain adalah mereka yang menjadi korban hasutan tersebut, tiba-tiba merasa yang paling benar dan paling beriman. Inilah jaman ketika akal dan analisis dibunuh oleh tekhnologi internet, yang justru diciptakan manusia, bahkan tak sedikit yang kemudian menjadi mesin perang yang berubah menjadi zombi-zombi yang akalnya mati sebelum tubuh mereka sendiri menjadi jenazah atau mayat, semisal mereka yang menjadi para pelaku teror, bom bunuh diri dan pelaku praktik kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Tak diragukan lagi, di jaman ketika mesin telah membunuh akal dan intelegensia, yaitu era android dan internet kita saat ini, para pendakwah dan para penulis, kaum akademik dan intelektual, mestilah menjalankan tugas ‘profetik’ sebagai para pencerah, dan tentu saja menjadi para penyuluh masyarakat yang sanggup memberi lentera dan pelita bagi hidupnya akal manusia melalui kiprah dan karya-karya mereka, yang mereka tuliskan, yang mereka terbitkan dan mereka bukukan. Sebab jika tidak, intelek dan bahkan jiwa manusia akan remuk ditelan teknologi internet yang diciptakannya sendiri, yang belakangan menjadi medan penyebaran hoax, hasutan, ujaran kebencian, propaganda politik dan perang, di saat internet tersebut juga menjadi media penyebaran ‘budaya oral yang instant’.
‘Terbunuhnya’ intelek inilah yang membuat orang mudah diindoktrinasi dengan ajaran-ajaran dan ujaran-ceramah kebencian dan memiliki pandangan bahwa agama tidak memiliki kekariban dan koherensi dengan akal. Di sini, saya teringat apa yang pernah dinyatakan Sayidina Ali, yang kira-kira bunyinya: “Kadar keberagamaan seseorang sesuai dengan kadar akalnya.” Bukankah dalam Islam, sebagai contoh, syarat kelayakan ibadah seseorang adalah ketika ia ‘aqil balig? Kita tidak diwajibkan berpuasa Ramadhan, misalnya, ketika kita belum aqil balig. Hidupnya intelek ini dimungkinkan dengan aktivitas daras dan membaca, mengaji dan mengkaji, terkait dengan kapasitas literer seseorang. Menurut Sayidina Ali bin Abi Thalib, akal atau intelek ini terbagi dua: “akal tabi’i (natural), kedua adalah akal tajribi (eksperimentasi dan pengalaman), kedua dari pembagian akal manusia ini memberikan manfaat dan faedah kepada manusia, dan seseorang harus menyakini bahwa ia memiliki akal dan agama” (Biharul Anwar jilid 78 hal 128).
Belajar dari Sokrates
Jika kita ambil hikmah dari anekdot filosofis antara Sokrates dan teman dialognya yang telah digambarkan di awal tulisan ini, maka sebuah informasi (agar kita tidak menjadi korban hoax dan hasutan) setidak-tidaknya harus memenuhi tiga syarat untuk bisa diterima sebagai informasi yang tidak mengandung kebohongan atau kepalsuan: kebenaran, kebaikan dan kegunaan.
Yang pertama, yaitu kebenaran tentu syarat yang utama. Sebuah informasi haruslah tidak mengandung kebohongan dan fitnah yang akan berdampak merugikan dan mendatangkan keburukan dan kerusakan. Selanjutnya, yaitu yang kedua, informasi yang baik adalah informasi yang bisa mendatangkan maslahat dan kebaikan, bukan malah sebaliknya. Dan yang terakhir, yang ketiga, adalah juga penting bahwa informasi yang kita sebarkan dan kita terima adalah yang bermanfaat dan berguna. Ketiga syarat itu tentu saja saling berkaitan satu sama lainnya sebagai kesatuan yang harus hadir bersama-sama dalam sebuah informasi.
Anjuran dan saran Sokrates itu relevan dan kontekstual di jaman kita saat ini ketika kemajuan tekhnologi informasi dan sebaran informasi yang melimpah menjadi ladang subur bagi ‘bisnis hoax’ demi mengejar rating dan keuntungan dengan memanfaatkan lemahnya literasi dan kemampuan analisis orang awam. Rendahnya kemampuan analitik dan begitu mudahnya sikap fanatik buta tumbuh dan berkembang justru disumbang oleh keberadaan internet dan medsos itu sendiri. Di jaman merebaknya informasi (juga hoax bersamanya) dan bertebarannya sebaran media internet (serta jejaring media sosial), bisa jadi masyarakat malah bingung, bukannya tercerahkan. Terdistorsi ruang kritisnya dan terbunuh nalar analitiknya bersamaan dengan menguatnya budaya oral di era gawai dan internet abad kita saat ini, yaitu melemahnya kemampuan untuk melakukan ‘pembacaan’ dan ‘analisa’ atas informasi yang datang dalam hitungan detik melalui media sosial dan media-media internet, yang tak jarang menyebarkan informasi-informasi instan, dan bahkan hoax.
Yang lebih memprihatinkan adalah kebingungan dan ‘matinya’ ruang kritis publik tersebut terlebih lagi juga dialami oleh mereka yang berpendidikan tinggi. Kasus hoax Ratna Sarumpaet beberapa waktu silam yang kehebohannya sampai tingkat nasional dan melibatkan para elite itu tentu tak bisa dianggap sebagai sesuatu yang remeh dan angin lalu, karena hoax politik dan politik hoax tersebut sempat menimbulkan pro-kontra yang keras di kalangan para pendukung capres-cawapres saat itu.
Masyarakat atau publik yang terbiasa menerima informasi yang cepat dan melimpah lewat media sosial, serta terbiasa dengan menyaksikan tayangan reality show dan infotainment yang berkesinambungan setiap hari melalui kanal-kanal televisi, ternyata justru menjadi terbiasa juga untuk menghindari sajian dan forum intelektual yang mendidik dan berbudaya, dan kalau pun ada forum seperti itu di televisi, juga yang dikemas dan diformat sesuai dengan reality show: mempertontonkan adu kubu dan ‘pembenturan’ kelompok, yang justru malah semakin mengentalkan fanatisme tak bernalar di kalangan masyarakat luas.
Dalam hal ini, bisa juga dikatakan, media (baik media internet maupun televisi) memiliki peran sentral dalam menciptakan budaya oral (non literer) dalam masyarakat kita. Suatu budaya yang tak memberi ruang dan kesempatan bagi lahir dan hidupnya ‘nalar publik’ yang sehat, bagi tumbuhnya habitus berpikir kritis dan analitis dalam masyarakat. Sehingga, wajar, misalnya, bila hoax menjadi begitu mudah dikonsumsi banyak orang, dan malah hoax telah dijadikan lahan bisnis untuk meraup untung bagi para pegiat situs-situs abal-abal. Hoax menjadi industri di jaman media dan internet, era kita saat ini.
Belajar dari Kasus Ratna Sarumpaet beberapa waktu yang silam sebelum terilpihnya Joko Widodo untuk kedua kalinya itu, betapa bahkan para elite di negeri ini begitu mudahnya termakan hoax dan lalu menjadi para penyebar hoax. Dan ternyata, sudah lama, mereka yang menjadi konsumen dan para penyebar hoax di negeri ini termasuk juga tokoh-tokoh agama, PNS, para penceramah agama (terutama dai-dai yang muncul sejak tahun 2000-an), hingga para politisi. Tengok saja ketika pecah Perang Suriah sejak tahun 2000-an itu, betapa para penyebar hoax adalah mereka yang biasa melakukan ceramah agama hingga para politisi. Artinya, hoax telah menjadi konsumsi lintas kalangan dan kelas.
Dakwah Moderat dan Jihad Modern
Nilai dan materi dakwah yang sesuai dengan visi Islam Moderat atau moderatisme Islam adalah nilai, ajaran dan materi dakwah yang mengajak dan mengajarkan semangat dan sikap toleran, solidaritas dan welas-asih kepada sesama, sesuai dengan makna kata dakwah itu sendiri yang mengajak dengan hikmah kepada kebajikan dan kemasalahatan, bukan menyebarkan ujaran dan sikap kebencian dan intoleransi. Kita sadar betul banyak muslim yang mudah terhasut dan terprovokasi karena ke-awaman mereka secara keagamaan. Banyak muslim yang keagamaan mereka sekedar patuh secara ritual saja. Banyak dari mereka orang-orang baik dan lugu lalu menjadi tidak baik setelah mendengar ceramah-ceramah sektarian yang memassifkan ujaran kebencian dan sikap intoleran, termasuk dalam retorika pemaknaan jihad belakangan ini yang seringkali disalah-gunakan untuk membenarkan teror dan kekerasan.
Dalam ceramahnya di Chicago Humanities Festival, Garry Wills mengutip pernyataan Patricia Crone bahwa pelaku terorisme sudah pasti mereka yang tidak paham agama mereka sendiri. Kutipan itu dilontarkan Garry Wills dalam rangka mengemukakan pembacaannya bahwa dalam Quran tidak ada kata ‘pedang’ ketika banyak orang Barat menuduh Islam mengajarkan agressi dan kitab sucinya sebagai ayat-ayat pedang dan menganjurkan agressi atau terorisme. Kenyatannya dalam Quran, hanya perang dalam rangka membela diri (mempertahankan diri) yang dibenarkan dan sama-sekali tidak ada ayat yang membenarkan terorisme apalagi bom bunuh diri.
Bersamaan dengan itu pula, lanjutnya, kata jihad dalam makna esensinya pun acapkali disalah-pahami banyak orang di Barat dan di sisi lain dibajak oleh para teroris dan kaum ekstrimis dalam rangka ‘membenarkan’ tindakan kekerasan mereka. Jihad tentu saja bermakna kesungguh-sungguhan, semangat dalam pengertian budaya Barat, ungkap Garry Wills, untuk melakukan tindakan-tindakan positif dan bermanfaat bagi kehidupan.
Memang, seorang muslim yang peka tentu saja akan merasa prihatin dengan peristiwa-peristiwa mutakhir yang berkenaan dengan Islam sebagai sebuah kepercayaan dan pandangan hidup muslim, yang akhir-akhir ini dilekatkan dengan kejadian-kejadian teror dan kekerasan, yang menemukan titik klimaks pertamanya pada peristiwa 11 September 2001, atau yang lazim disebut sebagai Black September yang mengakibatkan kematian banyak jiwa, bebeberapa tahun silam.
Dan belakangan tindakan-tindakan teror tersebut untuk sebagiannya masih menggunakan retorika-retorika jihad dan kesyahidan. Berangkat dari peristiwa-peristiwa tersebut, barangkali kita perlu sejenak bertanya: “Benarkah tindakan-tindakan bunuh diri dan serentetan peristiwa-peristiwa kekerasan itu sejalan dengan semangat dan doktrin Islam? Benarkah kata dan terminologi jihad dan kesyahidan hanya dimaksudkan dalam konteks-konteks peperangan fisik, dan bukan yang lebih bermakna kultural dan intelektual?”
Namun, sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ada baiknya kita mempertimbangkan apa yang pernah dikatakan Akbar S. Ahmed sejauh menyangkut tantangan ummat Islam saat ini. Di abad 21, demikian tulis Ahmed dalam bukunya yang berjudul Posmodernisme, Bahaya dan Harapan bagi Islam (Mizan, 1993), interaksi dan bahkan konfrontasi antara Islam dan Barat melahirkan dilemma internal di antara keduanya, dan khusus bagi kaum muslim itu sendiri adalah bagaimana melestarikan esensi pesan-pesan Al-Qur’an tanpa harus sekedar mereduksinya hanya semata-mata nyanyian usang dan hampa dalam adaptasinya dengan konteks kekinian ummat Islam itu sendiri.
Juga bagaimana, lanjut Ahmed, kaum muslim dapat berpartisipasi dalam peradaban global tanpa harus menghapus identitas mereka sebagai muslim. Dengan kata lain, ummat Islam mau tak mau dan tak mungkin menghindarinya telah berada di persimpangan jalan, berada dalam dilemma bagaimana mendayagunakan vitalitas dan komitmen keimanan dan keislaman mereka dalam memenuhi tujuan mereka di pentas dunia tanpa harus meninggalkan Islam itu sendiri.
Dilema kekinian kaum muslim sebagaimana yang dikemukakan Akbar S. Ahmed di atas memang bukan isapan jempol semata dan masih terasa sampai detik ini bila kita melihat tantangan Islam saat ini berkaitan dengan isu-isu dan peristiwa-peristiwa terorisme dan kekerasan yang acapkali dirujukkan kepada Islam sebagai ajaran, ideologi, dan kepercayaan. Dan itu pula yang dapat kita sebut sebagai situasi epistemik yang dihadapi dan mau tidak mau mesti dihidupi kaum muslim saat ini, yang bila meminjam frasenya Jurgen Habermas bagaimana orang-orang beriman dapat hidup selaras di tengah dunia yang telah mengakui dan menerima kemajemukan dan toleransi sebagai dasar institusi sosial dan politiknya, tanpa mesti orang-orang beriman meninggalkan keyakinan agamis mereka di dalam dunia yang menuntut toleransi dan tidak lagi menginginkan praktik-praktik kekerasan.
Dan bila dilihat secara umum, tantangan tersebut juga dihadapi semua agama, bukan hanya Islam, seperti yang dikemukakan William McInner dengan ceramahnya pada tahun 1989 dalam suatu konferensi di Jepang (Jurnal Ulumul Qur’an Vol.II 1990, h. 76-83). Di mana agama di abad 21 mau tidak mau harus menerima kenyataan fragmentaris yang bisa menjadi lawan sekaligus menjadi kawan, seperti semakin diterimanya sikap-sikap dan pandangan-pandangan positivisme-ilmiah dan privatisasi. Yang selanjutnya menurut McInner, agama juga menghadapi kekuatan-kekuatan sinkretisasi yang berusaha mencari dan menemukan sintesis-sintesis dari doktrin-doktrin dan nilai-nilai agama dengan cita-cita humanisme sekular dan positivisme abad ini. Yang bila disederhanakan dan disingkat, agama seakan-akan dituntut untuk berdamai dengan realitas kefanaan yang terus berubah, dan kadang terlampau cepat dan mengagetkan paradigma orang-orang beriman yang masih menganggap doktrin dan bunyi-bunyi verbal kitab suci mereka sebagai pijakan segala-galanya.
Apa yang dikemukakan Akbar S. Ahmed dan McInner tersebut juga tengah dihadapi dan sedang berlangsung dalam kehidupan kaum muslim, ketika kaum muslim harus mampu mencapai kemajuan peradaban dan intelektualnya, di satu sisi, tetapi di sisi lain tetap mempertahankan identitas kemuslimannya, yang pada saat yang sama kaum muslim dituntut untuk memperkecil kesenjangan antara doktrin Islam dan kenyataan kefanaan yang dihidupinya. Bahkan, sedemikian rupa, ummat Islam mau tak mau mesti menyelaraskan dirinya dengan perbedaan-perbedaan dan identitas-identitas kebangsaan dan keagamaan di luar dirinya.
Persis dalam konteks itu pula, identitas kemusliman dan kesalehan tentu saja tak hanya menemukan jawaban dan aplikasinya dalam ortodoksi, yang selama ini sekedar memandang dan memahami Islam sebatas sejumlah doktrin dan ajaran pewahyuan yang dikonsentrasikan pada ritualitas murni (mahdhah) semata, Islam yang dijauhkan dari wacana pemikiran. Kecenderungan-kecenderungan seperti itu hanya akan mengarahkan pada pemahaman dan sikap hidup yang dapat membuat Islam seolah-olah tidak terbuka pada ikhtiar pemikiran kritis (ijtihad) untuk selalu menyikapi dengan lapang dada arus-arus perubahan dan mengafirmasi realitas kefanaan yang dihidupi dan dialami dalam keseharian ummat Islam.
Kita pun sama-sama maphum, kedatangan Islam itu sendiri dalam sejarahnya merupakan counter culture atas keadaan-keadaan dan kondisi-kondisi sosial-politik di mana Islam diperjuangkan oleh Nabi Muhammad, ketika Islam menolak paganisme dan penguburan bayi perempuan dalam keadaan hidup, sebagai contohnya. Penolakan dan perlawanan terhadap praktek-praktek paganisme dan penguburan bayi perempuan dalam keadaan hidup itu pada jamannya telah membuka wawasan baru tentang humanisme dan martabat manusia.
Contoh-contoh dan pendapat-pendapat di atas telah membuktikan bahwa Islam tak hanya sebuah agama ritualis, tetapi lebih dari itu, ia merupakan semangat emansipasi dan pencerahan, sebuah agama yang tak cuma mengajarkan jihad dalam artiannya yang semata fisik dan berbau kekerasan, tetapi adalah sebuah nilai dan semangat hidup agar manusia terus menerus melakukan kebajikan yang tak semata-mata dipahami secara egoistik dan chauvinistik, melainkan agar menjadi rahmat bagi semua ummat manusia di muka bumi ini.
Jihad yang sesungguhnya adalah bagaimana kaum muslim mengentaskan dirinya dari kemiskinan dan ketertinggalan kultural dan struktural, adalah bagaimana ummat Islam tak cuma menjadi ummat yang bisa mengkonsumsi tanpa mencipta, ummat yang kreatif dan produktif hingga berperan aktif dalam cita-cita peradaban dan perdamaian ummat manusia, sebagaimana yang dibayangkan Akbar S. Ahmed. Idealnya, ummat Islam harus mengaktualkan diri dalam konteks kemajuan humanisme, sains dan peradaban.
Barangkali kita juga harus instrospeksi atau melakukan kritik diri yang konstruktif. Tepat, dalam hal ini, kiranya relevan kita menyimak “pembedaan” dua corak dan bentuk iman dan agama, sebagaimana dikemukakan Immanuel Kant, yang tentu saja sekedar dipinjam sebagai cermin, di mana dalam traktat-nya yang berjudul Religion within the Limits of Reason Alone itu sebagaimana disitir Jacques Derrida dalam dialognya dengan Giovanna Borradori ihwal agama dan terorisme, Kant mendistingsikan atau mengkontraskan antara iman reflektif dan iman dogmatis. Yang pertama, atau iman reflektif, adalah iman yang tidak menutup akal dan nurani, yang kalau meminjam bahasanya Soren Kierkegaard, adalah iman yang dihayati. Sedangkan sebaliknya, yaitu iman dogmatis, adalah iman yang telah kehilangan kepekaan, alih-alih malah menyuburkan kebencian.
Belakangan ini, seperti sama-sama kita tahu, yang tentu saja tak mungkin kita anggap remeh, adalah maraknya paham-paham teologis yang gandrung menyebarkan kebencian. Mereka bahkan “menghalalkan darah”, bukan hanya kepada yang berbeda agama, tetapi kepada yang se-agama dengan mereka. Mereka juga gandrung sekali “memassifkan fatwa dan tuduhan” sesat dan kafir kepada kelompok dan ummat yang bukan dari mazhab mereka. Sebagai nama sementara, mereka kita kenal sebagai kelompok Takfiri. Di Suriah belum lama ini, misalnya, kelompok ini, bila kita baca sejumlah media cetak dan media non-cetak, menjadi kelompok pemberontak dan tak segan-segan “memerangi dengan senjata canggih yang mereka dapatkan” dan “membantai”, seperti yang telah dikatakan, bukan hanya orang yang tak se-agama dengan mereka, tapi juga orang yang bukan dari mazhab atau golongan mereka.
Islam sendiri, seperti sama-sama kita tahu, adalah agama yang visi dan nilainya menekankan agama yang memberi rahmatan lil ‘alamin, yang bolehlah kita terjemahkan juga sebagai rahmat untuk seluruh alam dan segala kalangan. Setidak-tidaknya, visi humanis dan kesalehan sosial kita juga terkandung dalam doktrin dan nilai-nilai Islam, yang seperti telah disebut, menjadi muslim yang mempraktekkan ihsan kepada sesama dalam hidup. Di sini, saya teringat syair Sa’di, pujangga muslim dari Persia itu, di mana salah-satu puisinya yang kini diabadikan di dinding gedung PBB berbunyi, “Anak adam satu raga satu jiwa, tercipta dari muasal yang sama. Jika satu anggota ummat manusia terluka, semua akan merasa terluka. Engkau yang tak berduka atas luka manusia, tak layak menyandang nama manusia”.
Pesan moral tentang solidaritas kemanusiaan puisi Sa’di tersebut membuatnya menjadi istimewa bagi semua kalangan, relevansinya melampaui batas-batas etnik, agama, dan bangsa, meski ditulis oleh seorang muslim yang dikenal sangat arif, saleh, dan tentu saja berwawasan luas. Dan seperti telah disebutkan, puisi itu pun disematkan di gedung PBB atau United Nations sebagai simbol welas asih dan perdamaian sesama ummat manusia. Sa’adi sebenarnya hanyalah salah-satu contoh ketika dunia Islam menyumbangkan kearifan dan melahirkan penyair-penyair yang menjadi teladan Timur dan Barat, semisal Attar, Hafiz, Rumi, Khayyam, dan yang lainnya. Dunia Islam telah menorehkan kegemilangan peradaban dan humanisme melalui para penulis, filsuf, dan penyair seperti mereka.
Sebenarnya, bila dikaji dan ditelusuri lebih seksama, ajaran humanisme Islam, yang barangkali dapat juga kita sebut sebagai nilai-nilai kesalehan sosial tersebut, telah lahir bersamaan dengan kelahiran Islam itu sendiri melalui dan bersamaan dengan ajaran Islam dan Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan perawi hadits masyhur, Muslim itu, “Berbuat kebajikan adalah tanda (mahkota) keimanan, dan sesiapa yang tidak berbuat kebajikan maka bukanlah orang beriman”. Pesan singkat ini memiliki makna yang dalam dan universal, di mana basis dan dasar keimanan seseorang adalah berbuat kebajikan yang akan bermanfaat, dan universalisme terasa saat hadits tersebut tidak melabelkan agama atau etnik tertentu. Hadits tersebut hanya menyebutkan, “Berbuat kebajikan adalah tanda (mahkota) keimanan”.
Pesan dan ajaran serupa juga diteruskan oleh para imam ahlul bayt (keluarga dan keturunan Nabi SAW) semisal tercermin lewat ajaran Imam Hussain, sang cucu kesayangan Nabi SAW yang syahid di Karbala itu. Dikisahkan oleh para ulama dan perawi Hadits, sebelum syahid di Karbala, Imam Husain pernah berpesan kepada putranya, Imam Ali Zainal Abidin as Sajjad, “Wahai anakku, berhati-hatilah dari berlaku zalim terhadap seseorang yang tidak menemukan pembela di hadapanmu kecuali Allah.” Pesan Imam Husain tersebut, tak ragu lagi, adalah penegasan dan penafsiran fasih dari pesan dan ajaran akhlaq kekeknya, yaitu Nabi Muhammad, tentang ukuran keimanan seseorang adalah berbuat kebaikan sebagaimana telah disebutkan.
Mungkin tak salah dalam konteks ini kita tidak boleh lupa bahwa sebagai rahim dan pencipta kegemilangan intelektual dan peradaban di era keemasan dulu, Islam telah memberikan sumbangan yang diakui Timur dan Barat, sebagai pioneer. Bahkan ketika Eropa tengah berada dalam tidur lelap abad kegelapannya, Islam-lah yang membangunkan dan mencerahkannya, saat Islam menerjemahkan karya-karya filsuf Yunani dan melakukan inovasi sains, semisal yang disumbangkan Albiruni, Omar Khayyam, Ibn Haitham, Alkhawarizmi, dan yang lainnya. Dan salah satu ruh kegemilangan peradaban Islam tersebut tak lain adalah spirit humanis yang disumbangkan para pujangga, seperti Attar, Hafiz, Rumi, Firdausi, Sa’di, Khayyam, dan yang lainnya, selain tercermin dalam ajaran-ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Saw dan ahlul baitnya. Dari mereka lah, para pujangga raksasa Timur dan Barat belajar dan menimba kearifan, seperti Goethe, Emerson, dan Tagore, sebagaimana diakui oleh para penyair besar tersebut.
Jika di masa itu ummat Islam menjadi pioneer dan pelopoer inovasi sains dan kreator peradaban, bukan tak mungkin kita saat ini bisa melakukan raihan dan prestasi serupa di saat ini dan di masa yang akan datang bila kita bekerja keras untuk menggapai pengetahuan dan sains dalam rangka membentuk diri kita sebagai inovator, produsen yang tak cuma jadi konsumen belaka.
Daftar Pustaka
Buku:
Akbar S. Ahmed, Posmodernisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam, Mizan 1993.
Giovanna Borradori, Philosophy in the Time of Terror (Filsafat dalam Masa Teror), terj. Alfons Taryadi, Penerbit Kompas 2005.
Glenn Ward, Teach Yoursself: Postmodernism, Contemporarry Books 2003.
Jean-Francois Lyotard, Krisis dan Masa Depan Pengetahuan, Teraju 2004.
Jeff Zaleski, Spiritualitas Cyber Space, Mizan 1999.
Keith Jenkins [ed],The Postmodern History Reader, Routledge 1997.
Mark Slouka, Ruang yang Hilang, Mizan 1999.
Neil Postman, Menghibur Diri Sampai Mati, Pustaka Sinar Harapan 1995.
Oliver Leaman [ed], Pemerintahan Akhir Zaman, Al-Huda 2005.
The Cambridge Companion to Postmodernism, Cambridge University Press 2004.
Jurnal dan Majalah:
Jurnal Ulumul Qur’an Vol.II 1990.
Majalah Basis Edisi Januari-Februari Tahun 2000.
Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain. Sewaktu mahasiswa menjadi finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah untuk Mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1999.
Senin, 13 Desember 2021
Dakwah Moderat dan Jihad Modern
Senin, 12 April 2021
Bermain Dengan Bahasa
Sebuah Esai Otobiografis Sulaiman Djaya
Aku telah menjalani hidup puluhan tahun. Entah dengan riang atau dalam keadaan sebaliknya. Dalam kesukaran dan nestapa. Aku menuliskan esai naratifku ini karena aku percaya pada satu alasan yang tak teringkari oleh siapa saja: manusia menginginkan kebahagiaan.
Di hari Minggu aku bangun saat subuh dan tidak langsung mandi karena biasanya aku harus berangkat bersama ibuku ke sawah untuk mencabuti rumput dan gulma yang tumbuh bersama padi-padi yang ia tanam. Persis seperti yang dilakukan tokoh utama dalam film Little Forest yang diperankan Ai Hashimoto dan para petani lainnya di sebuah desa di lereng gunung dalam film yang bertema dan berlatar kehidupan pedesaan di Jepang itu. Kami berangkat selepas menyantap nasi goreng yang dimasak ibuku. Atau menyantap ubi dan singkong rebus di hari Minggu lainnya. Semuanya tergantung persediaan pangan apa yang masih ada yang tak habis di waktu malam. Biasanya rumput-rumput di setapak pematang yang kami lalui ketika itu masih basah sebelum akhirnya embun-embun itu menguap karena datangnya sinar matahari yang mulai tampak dan memancar pada pukul enam pagihari dari sela-sela ranting dan dahan pohon-pohon yang berbaris sepanjang setapak tepi sungai Irigasi yang hulunya berada di Pamarayan. Sungai yang merupakan anak Sungai Ciujung.
Bila cuaca hangat sudah agak mulai terasa masuk ke dalam pori-pori tubuh kami melalui benang-benang baju, kami akan pulang. Antara jam 10 hingga jam 11. Dan saat sampai di rumah, ibuku akan langsung ke dapur untuk memasak apa saja yang ada untuk menu makan siang. Dunia pedesaan tempat masa kanak-kanakku hidup adalah dunia yang saling bertentangan. Di satu sisi ada kegembiraan dan kebebasan, di sisi lain ada kemiskinan dan keterbatasan. Misalnya adalah keanehan kami sebagai petani yang acapkali kehabisan beras sebab butuh waktu berbulan-bulan lagi untuk panen sementara kebutuhan sehari-hari tidak tercukupi dengan persedian beras yang ada dari panen sebelumnya. Dan begitu pun sebaliknya, acapkali ketika persediaan beras melimpah, kami tak punya cukup uang untuk membeli bahan pangan lainnya sehingga ibuku harus rela menjual berliter-liter beras hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan demi uang yang tak terlampau banyak agar kebutuhan menu makan kami sehari-hari tercukupi selain untuk kebutuhan sekolah.
Karena keterbatasan itu aku membawa buku-buku ke sekolah dasarku tanpa menggunakan tas seperti halnya para siswa lain. Dan bila ada yang berani mengejek kemiskinan dan keterbatasanku, aku akan segera menghajar siswa itu. Meskipun demikian, aku tetap sanggup menjadi yang terbaik dan tercerdas di kelasku. Hanya saja kecerdasanku itu tak begitu saja memuaskan para guruku di sekolah dasar sebab aku terbilang siswa yang ‘berandal’ dan ‘bengal’ karena acapkali melakukan hal-hal iseng seperti menaruh setangkai pohon songler dari pinggir sungai yang terdapat beberapa ulat bulu berwarna hitam arang di daun-daunnya untuk kuletakkan di salah-satu meja siswi.
Barangkali watak dan sikap berandal dan bengalku di masa kanak-kanak itu adalah wujud dan ekspressi protesku atas kemiskinan dan keterbatasanku di saat aku tak mau ‘ditindas’ oleh beberapa siswa yang mengejek kemiskinanku dengan sikap mereka yang akan berbuat polah seenaknya jika saja keberanian mereka untuk melakukan hal demikian tak terlebih dulu kuhentikan dengan keberanianku untuk melakukan perlawanan. Itulah diantara manifestasi kebebasanku untuk tidak dikalahkan oleh kondisi kemiskinanku. Dorongan dan upaya untuk melawan itu sendiri merupakan sumber dan benih kebebasan dan kemerdekaan yang ada dalam diriku sebagai kanak-kanak yang lahir di dunia yang terbatas. Dan justru karena watak dan karakterku itulah aku mendapatkan dan memiliki beberapa teman yang loyal dan kuat meski tak banyak. Mereka lah yang senantiasa bermain denganku. Menjalani kemerdekaan dan kebebasan kanak-kanak untuk melakukan apa saja yang terasa menyenangkan dan memuaskan hati kami. Melakukan hal-hal yang bisa membuat kami merasa gembira meski dalam kemiskinan.
Ibuku sendiri adalah contoh orang yang tak mau dikalahkan oleh kemiskinan. Kesabaran dan ketabahannya mengajarkanku bahwa watak dan karakter untuk menjalani hidup dengan ikhlas akan melahirkan kekuatan dalam diriku untuk tidak dikalahkan kemiskinan dan keterbatasan. Di masa-masa paceklik ketika padi-padi terserang hama dan gagal panen, contohnya, kami masih bisa menyantap singkong dan ubi jalar yang direbus dengan sama riangnya sebagaimana kami melahap nasi dengan ikan asin (sesekali tempe yang digoreng atau ditumis), sayur asam, dan sambal yang diulek dan diaduk dari campuran cabe rawit, garam, terasi, dan beberapa irisan kulit buah Rosella agar sambal itu cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan menu makan.
Lagi-lagi aku teringat film Little Forest saat si tokoh utama yang diperankan Ai Hashimoto dalam film itu mahir membuat panganan dari bahan pangan yang tumbuh di pedesaan berdasarkan ingatan dan pengalaman hidupnya bersama ibunya di masa silam.
Anak-anak yang orang tua mereka mampu membelikan sepeda akan memilih untuk bersepeda di hari Minggu. Anak-anak lelaki biasanya bisa menyombongkan sepeda BMX mereka dan anak-anak perempuan mengayuh pedal sepeda mereka yang memiliki keranjang di stang-nya. Aku dan teman-temanku kebetulan tak memiliki sepeda, sehingga kami memilih mengembara ke sawah-sawah dan pematang-pematang untuk berburu para belalang atau menerbangkan layang-layang bila aku tak sedang membantu ibuku di sawah. Inilah contoh hal lain kebebasan dan kemerdekaan dunia masa kanak-kanakku yang meski tak memiliki sepeda, tetap masih bisa merayakan kegembiraan kami dengan melakukan apa saja yang kami sukai dan yang membuat kami senang untuk melakukannya tanpa harus membebani orangtua-orangtua kami yang tak mampu membelikan kami sepeda. Di kali yang lain kami akan berburu burung dengan cara memanjat pohon-pohon besar tempat mereka membangun sarang di sela-sela ranting dan dahan. Kami akan mengambil anak-anak mereka yang belum bisa terbang untuk kami pelihara hingga besar.
Dunia masa kanak-kanak di mana kami belajar di sekolah dasar dan bermain di antara sungai, pematang, dan sawah adalah dunia ketika kami belum mengenal gawai dan permainan-permainan yang diciptakan oleh kemajuan dan kecanggihan tekhnologi, tapi bermain dengan permainan-permainan yang kami lakukan bersama alam. Kegembiraan-kegembiraan berlari-lari dalam guyur hujan di sawah-sawah saat kami mengejar dan memburu para belalang dengan alat pemukul berupa pohon songler yang masih berdaun, sudah pasti tidaklah sama dengan permainan-permainan di gawai saat ini. Saat itu kami menggerakkan tulang-tulang dan tubuh kami seperti ketika planet-planet di semesta berotasi dalam orbit mereka. Kami kadangkala terjatuh dan terjerembab dalam genangan air saat kaki kami tersangkut jerami atau terpeleset karena lumpur yang terasa licin.
Ingatan-ingatan tentang apa yang kulakukan di masa kanak-kanak itu muncul di saat kini aku mudah sekali terserang rasa jenuh dan bosan. Di saat aku merasa menderita dan kesepian. Entah karena apa. Tak jelas sebab dan muasalnya. Sering kucoba untuk mengusir rasa jenuh dan bosan itu dengan jalan menonton film-film dari ragam Negara, namun tetap saja tak sanggup mengobati kebosanan dan kejenuhanku. Seringkali aku pun tak menonton film-film itu hingga akhir karena plot dan alur ceritanya sudah bisa kutebak. Sementara film-film lainnya lebih merupakan propaganda politis Barat, seperti film-film yang menceritakan kebesaran Romawi atau film-film yang menarasikan para hero dari Amerika. Karena hal-hal demikian, aku menjadi tertarik dengan tema-tema penderitaan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Seperti rasa bahagiaku ketika memiliki sepeda seperti si tokoh utama film Little Forest yang mengayuh sepeda di jalan-jalan rimbun di pegunungan di Jepang itu.
Meski bukan komoditas baru dari toko, aku merasa gembira saat ibuku akhirnya membelikanku sepeda. Sepeda yang dibeli dari tetangga yang anaknya minta dibelikan motor hingga sepeda lamanya dijual kepada ibuku. Itu artinya aku bisa mengayuh sepeda untuk berangkat menuju sekolah menengah pertamaku dan tentu saja saat pulangku dari sekolah aku tak perlu lagi nebeng ke teman-temanku atau pun menumpang mobil truck pengangkut pasir atau bata. Saat itu aku baru naik ke kelas tiga Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN). Selain untuk keperluan sekolahku, sepeda itu punya tugas tambahan di luar jam sekolah, mengangkut gabah dari setapak ke rumah dan mengangkut gabah dari rumah ke tempat penggilingan agar menjadi beras. Dan bila tak sedang melakukan tugas tambahan itu, kukayuh sepedaku ke mana pun aku ingin pergi. Ke mana hatiku ingin meninggalkan rasa bosan dan jenuhku yang ada di rumah.
Hasrat ingin pergi dan melarikan diri dari rumah mungkin saja karena seseorang ingin mengetahui bahwa ada dunia lain yang berbeda. Ada dunia kemungkinan yang ia bayangkan dalam pikirannya untuk dikunjungi. Di saat ada kesempatan untuk tidak membantu ibuku di sawah, kukayuh sepedaku sejauh mungkin dan hanya akan berhenti jika aku benar-benar merasa lelah mengayuh sepeda di jalanan berbatu dan berdebu. Kukayuh sepedaku ke jalan raya yang dekat dengan sekolah menengah pertamaku. Jalan beraspal membuat dua roda sepedaku lancar berputar dan kedua kakiku tidak cepat lelah hingga tanpa terasa aku telah mengayuh sepedaku sedemikian jauh dari rumah ketika itu jika tak disadarkan oleh kumandang azan asar. Saat itu aku langsung berputar arah untuk pulang dan sampai di rumah menjelang magrib.
Saat aku mengayuh sepeda di jalan raya beraspal itu kubayangkan aku berbalapan dengan kendaraan dan sepeda motor. Dan cukup sering pula kudengar klakson kendaraan dan motor yang terasa nyaring dan keras yang seakan-akan menegurku agar tetap di pinggir jalan dan jangan sampai ke tengah jika tak ingin nyawa melayang karena tertabrak mereka.
Keesokan harinya kebetulan hari Minggu dan kebetulan lainnya adalah ibuku tidak pergi ke sawah sehingga aku tak perlu membantunya untuk menganyam bakul kecil yang hanya ia yang bisa. Kugunakan kesempatan itu untuk mengayuh sepedaku dan aku hanya membasuh wajahku sebelum berangkat untuk pergi dari rumah dengan sepeda. Bila sebelumnya aku menuju arah selatan, kini kutempuh arah utara. Kukayuh dan terus kukayuh sepedaku hingga sekira tak sampai setengah jam, aku telah sampai di jalan di mana di sebelah kiriku adalah sungai irigasi yang merupakan anak sungai Ciujung dari Pamarayan dan di sebelah kananku tampak Sungai Ciujung itu sendiri. Tentu saja Sungai Ciujung di sebelah kananku jauh lebih besar dibanding sungai irigasi di sebelah kiriku. Ketika itu di tepi jalan yang adalah juga tepi Sungai Ciujung berbaris kokoh pohon-pohon besar. Tak kuduga di tengah jalan ada sekumpulan kerbau, dan akhirnya kuputuskan untuk berputar dan kembali ke rumah di saat perutku mulai terasa lapar karena belum sarapan.
Kegembiraan mengayuh sepeda di masa remajaku itu adalah juga kegembiraan yang sama di masa kanakku berburu para belalang dan menerbangkan layang-layang. Memiliki sepeda di masa-masa itu bagi para remaja merupakan kebanggaan tersendiri dan beberapa orang di kampungku telah memiliki sepeda di saat mereka masih di sekolah dasar. Aku dan beberapa temanku termasuk mereka yang terlambat untuk memiliki sepeda, dan terlebih lagi aku yang membelinya bukan dari tokonya, tapi dari tetangga. Aku tak tahu apakah ibuku membayarnya dengan kontan atau dengan jalan mencicil. Dan tentu saja itu bukan urusanku sehingga aku selalu saja membatalkan niatku untuk menanyakan hal itu kepada ibuku.
Aku sangat percaya bahwa dengan hobi dan permainan-permainan itulah jiwa dan mental manusia bisa berkembang dengan sehat. Begitu jika pikiran dan kecerdasannya. Peran yang juga dilakukan alam bagi kehidupannya. Seperti ketika mendapatkan tugas untuk menggambar, yang pertama-tama kugambar pada buku gambarku adalah yang hadir secara nyata di alam yang akrab dengan hidupku: sawah, pohon, sungai, kambing, ayam, kerbau dan yang lainnya yang ketika itu sering kulihat dan hadir di kesekitaranku. Hobi dan permainan-permainan yang orang senang dan cinta untuk melakukannya juga akan memungkinkan hadirnya rasa bahagia bagi jiwanya, sebagaimana penderitaan lahir dari rasa sakit, kurangnya gizi dan makanan, tidak bebasnya seseorang untuk melakukan dan mengekspressikan hobi dan bakatnya, dan lain sebagainya.
Sesampainya di rumah aku pun istirahat sejenak untuk mengeringkan keringat di badanku sebelum mandi dengan air yang kutimba dari sumur. Saat mandi dapat kucium aroma bawang yang digoreng ibuku, dan rupa-rupanya ibuku sedang memasak tumis kangkung dan menggoreng ikan asin yang dibubuhi bawang goreng agar terasa harum dan lezat, juga lebih gurih rasanya dibanding bila tak dicampur dengan bawang goreng. Aku suka sekali dengan tumis kangkung yang masih hangat selain sup kulit tangkil berwarna merah yang dimasak ibuku. Menu-menu masakan itu akan terasa nikmat disantap bersama sambal yang dicampur kulit buah Rosella dan terasi yang dimasak dengan cara dipanggang di atas bara. Dalam soal memasak, ibuku terbilang jago masak dan selalu bisa mengolah apa saja dari alam seperti bayam, daun singkong, kangkung, kulit tangkil yang telah matang dan berwarna merah, buah pisang muda, dan yang lainnya menjadi tumis dan sup yang lezat.
Kemampuan ibuku untuk mengolah bahan-bahan dari alam menjadi masakan yang lezat dan nikmat itu adalah juga kebahagiaan dan kegembiraanku yang lain di saat ada sisi kemiskinan dan keterbatasan dalam hidup kami di desa. Mungkin itulah yang dimaksud bahwa kebahagiaan bisa ada di mana saja. Kegembiraan bisa ditemui dan dijumpai di mana pun bagi mereka yang memiliki jiwa yang bebas dan merdeka meski hidup dalam keterbatasan selagi keterbatasan itu menjadi peluang bagi hadirnya kesempatan untuk mengolah yang ada. Dan itulah yang dilakukan ibuku. Ia sanggup mengolah menu masakan yang nikmat tanpa harus membeli bahan-bahannya dari warung atau pasar. Ia menanam sendiri bahan-bahan pangan itu di halaman depan rumah dan di tanah di belakang rumah. Sembari menanam padi, ia pun menanam kacang panjang di pematangnya, sehingga saat memanen padi, ia pun memanen kacang itu pula agar bisa memberi pangan bagi kami secara lengkap di saat ia tak memiliki cukup uang untuk membeli bahan-bahan pangan yang akan ia olah menjadi menu-menu yang menggoda selera.
Aku akan menyebut hal itu sebagai kemandirian dan ketahanan pangan orang-orang desa di masa-masa itu. Kesanggupan untuk mengolah alam menjadi komoditas kebutuhan rumah tangga tanpa harus merusak alam. Ibuku melakukan itu sebelum saat ini orang-orang Barat menyebutnya sebagai permaculture.
Apa yang sanggup dilakukan ibuku itu adalah kesanggupan manusia untuk melakukan adaptasi dan menciptakan peluang bagi hadirnya kegembiraan dan kebahagiaan. Manusia memang senantiasa menginginkan kesenangan dan kebahagiaan dan berusaha untuk menjauhi atau menghindari rasa tak nyaman dan penderitaan dalam hidup mereka di mana saja. Bersamaan dengan itu manusia memiliki watak dan sifat mementingkan diri sendiri dan menolak berbagi sumber daya demi memuaskan egoismenya dan dalam rangka survivalnya.
Diantara sekian cara untuk mendapatkan kegembiraan dan rasa nyaman itu bagiku adalah mendengarkan musik kesukaanku sembari menikmati kopi dan membaca tulisan-tulisan serta buku-buku yang kusukai. Terlebih dalam cuaca dingin selepas hujan yang turun berkali-kali sejak kemarin di saat aku menulis risalah filsafatku ini. Di berita-berita, ketika musim hujan telah mulai dan banjir melanda beberapa tempat, timbul kembali pembicaraan tentang cuaca ekstrem dan perubahan iklim yang konon diantara penyebabnya adalah pemanasan global dan kerusakan lingkungan.
Tentu saja di masa kanakku dulu tak kudengar istilah-istilah cuaca ekstrem, perubahan iklim atau pemanasan global. Dan kebetulan pula sejak aku lahir hingga saat ini tempat di mana rumahku berada tidak pernah mengalami banjir. Yang kutahu di kala itu saat haus dan lelah selepas bermain sepak bola di lapangan sekolah dasarku bersama teman-teman sekelasku, aku segera menuju dapur rumah untuk menenggak air dari kendi yang terasa sejuk. Tak jarang aku pun menenggak air yang belum dimasak terlebih dulu di masa itu dari gentong dengan cara mengambilnya menggunakan gayung untuk dituangkan ke dalam gelas. Bahkan ketika itu air dari sumur yang kami timba tak kalah segarnya dengan air dari mata-air di pegunungan. Berbeda dengan saat ini ketika rasa air sumur memang sudah berubah dan orang-orang memilih untuk membeli air dari depot isi ulang dengan menggunakan gallon. Air-air yang dijual di depot isi ulang air itu berasal dari pegunungan.
Jika benar di masa depan akan terjadi ‘bencana’ kelangkaan air dan menurunnya kualitas air dari dalam tanah akibat kerusakan lingkungan, maka tak diragukan lagi hal itu akan melahirkan penderitaan baru bagi kehidupan manusia jika tak diantisipasi untuk segera menemukan cara dan tekhnologi untuk mengurangi kerusakan lingkungan. Harus kuakui pula, hal-hal yang dulu bisa kita dapatkan secara gratis dari alam, kini kita harus membelinya, seperti yang telah disebutkan tadi, yaitu air. Tak diragukan lagi kerakusan dari hasrat untuk mencari keuntungan individual seorang korporat dan penguasa modal untuk terus mengakumulasi modal dan surplus value di atas kepentingan bersama oleh kapitalisme dan korporasi telah melakukan komodifikasi atas hal-hal yang dulu bisa kita dapatkan secara gratis dari alam. Belum lagi privatisasi yang mereka lakukan untuk hal-hal yang sesungguhnya merupakan hak publik dan diberikan oleh alam dan lingkungan.
Di masa-masa itu, ibuku mengisi gentongnya dengan air yang ia timba dari sumur. Air dari gentongnya itulah yang kemudian ia manfaatkan untuk minum dan memasak menu makan kami setiap hari. Tapi sekarang aku sendiri bahkan tak berani meminum air dari keran sejak ada isu bahwa sungai yang tercemar oleh limbah rumah-tangga dan industri telah pula meresap ke dalam tanah di sekitarnya. Air hujan saat ini dan air hujan dulu kala konon pula tak sama lagi kualitasnya sejak maraknya industrialisasi dengan limbah-limbah yang mereka lemparkan ke udara melalui cerobong-cerobong asap raksasa mereka. Begitu pula limbah dan polusi transportasi atau kendaraan yang sama-sama mencemari udara.
Aku hanya ingin berkata bahwa kesehatan lingkungan yang akan melahirkan kelimpahan bagi kebutuhan manusia seperti kelimpahan bahan pangan dari hasil pertanian dan tiadanya bencana alam ketika tak ada kerusakan alam dan lingkungan, akan tidak memberikan penderitaan dan kesulitan baru bagi kehidupan manusia. Seperti ketika ibuku berinvestasi jangka pendek dengan cara menanam segala jenis tanaman yang akan menjadi bahan pangan bagi kebutuhan makan kami setiap hari. Ibuku mengolah alam dengan tidak merusaknya karena ia tak menggunakan bahan-bahan kimia tapi menyuburkan media tanam dengan menggunakan bahan-bahan dari alam pula seperti kotoran kerbau, ayam, kambing dan yang lainnya.
Aku masih ingat diantara bulan Januari dan Februari, kami mengunduh (memanen) ubi jalar dan singkong untuk direbus sebagai panganan pelengkap di saat kami menikmati kopi yang dibuat dari buah-buah Rosella oleh ibuku. Atau di saat-saat kami menikmati teh dari kulit buah Rosella, kembang pepaya dan daun sirsak. Di bulan-bulan itu pula aku dan teman-temanku akan bergembira dalam guyur hujan di saat berburu para belalang dengan alat pemukul berupa pohon songler yang masih berdaun. Para belalang yang kesulitan terbang karena guyur hujan itu akan kami pukul dengan batang songler tersebut dan tentu saja mereka terjatuh di genangan air hujan di sawah-sawah. Kami masukan mereka ke dalam kantong plastik yang kami ikatkan di celana pendek kami. Setelah merasa cukup banyak mendapatkan para belalang, kami akan menyerahkannya kepada para ibu kami untuk digoreng. Belalang yang telah digoreng itu akan terasa gurih saat kami santap di waktu malam.
Anak-anak sekarang tak melakukan apa yang dulu kami lakukan itu. Mereka mendapatkan mainan baru mereka sesuai jaman mereka: gawai, yang dengannya mereka bermain aneka games yang disediakan ragam aplikasi dalam gawai tersebut. Mereka lebih dekat kepada mesin dan produk serta komoditas tekhnologi dibandingkan kepada alam seperti halnya generasi kami di waktu dulu. Game yang mereka gemari pun rupa-rupanya yang berisi kekerasan: senjata, pedang, perang, tembak-menembak, dan memusnahkan lawan. Anak-anak itu tampak riang ketika mereka berhasil menembak dengan senapan atau membetot lawan mereka dengan pedang yang disediakan game dalam gawai itu. Bahkan seringkali mereka menyumpahi dan mencaci lawan mereka. Dunia mereka adalah dunia virtual bukan dunia nyata alam dan lingkungan sawah-sawah dan pematang yang dulu kami intimi dan kami akrabi sebagai wahana permainan dan petualangan kami untuk mendapatkan kesenangan dan kegembiraan.
Keasyikan mereka dengan games yang ada di gawai-gawai mereka yang mereka pegang dengan dua tangan mereka saat bermain game kesukaan mereka di gawai itu telah membuat mereka lupa, misalnya, untuk belajar membaca kitab suci atau membaca buku-buku sekolah. Mungkinkah dunia virtual ini menggantikan dunia nyata dan lalu menjadi wahana baru manusia untuk mendapatkan kebahagiaan di masa-masa yang akan datang? Aku tak tahu, karena membutuhkan riset dan penelitian untuk menemukan jawabannya. Di sini aku hanya hendak menceritakan pengalaman jamanku dalam konteks jaman saat ini sebagai perbandingan untuk mencoba membaca perkembangan kehidupan batin manusia. Sebab di balik tubuh dan daging, di dalam diri manusia ada yang bernama jiwa, tempat kebahagiaan dan penderitaan dalam hidupnya bermuara.
Adanya seni dan hasrat untuk menciptakan keindahan adalah diantara ikhtiar dan upaya untuk memenuhi kegembiraan dan kesenangan ruhaniah tersebut. Bahwa acapkali kepuasan dan kegembiraan seorang seniman karena keberhasilannya menciptakan karya yang indah akan membuat dirinya bangga dan merasa bermakna. Semisal ketika aku melakukannya. Rasa bermakna pun akan aku dapatkan ketika aku melakukan hobiku yang membuatku merasakan kepuasan ruhaniah.
Menanam dan merawat tanaman bunga dan tanaman lainnya adalah contoh hobi yang bisa membuatku merasa melakukan tindakan bermakna. Keindahan bunga-bunga dengan aneka warna mereka saat mekar memberikan rasa nyaman dan sensansi keindahan bagi kedua mataku yang akhirnya rasa nyaman dan sensasi keindahan itu masuk ke dalam jiwaku. Tentu saja hobi lainnya yang bisa membuatku merasa mengekspressikan dan memanifestasikan kedirianku adalah ketika aku menulis puisi. Puisi bagiku adalah upayaku untuk menghadirkan refleksi dengan jalan mengolahnya dengan keindahan agar sanggup menginspirasi pembacanya karena kesanggupannya menyentuh rasa dan intelek secara bersamaan.
Aku yang lahir dan dibesarkan dalam suasana pedesaan berusaha mengolah alam itu sendiri sebagai kosakata dan bahasaku untuk menyatakan apa yang kupikirkan dan kurasakan melalui puisi. Aku ingin berkata bahwa ada kebahagiaan tersendiri ketika puisi yang kutulis mendapatkan tempat tersendiri di hati para pembacanya. Bagaimana pun upayaku untuk mengekspressikan keindahan tak sekadar untuk diriku sendiri tetapi dalam rangka berbagi dengan orang lain. Adalah alami bagi penyair bahwa ekspressi pertamakali yang mereka ungkapkan melalui puisi adalah ekspressi cinta. Sebab rahim bahasa yang paling jujur sekaligus peka bagi seorang penyair adalah ketika perasaannya begitu membuncah saat jatuh cinta kepada perempuan. Aku pun mengalami hal itu, meski tentu saja tak selamanya seorang penyair harus selalu cuma menulis puisi cinta.
Manusia ingin mendapatkan pengakuan dan kasih-sayang dari manusia-manusia lainnya. Ia butuh dicintai dan merasa aman dan tidak terancam keberadaannya justru karena manusia cenderung selfish dan mengutamakan kebutuhan untuk survivalnya. Kondisi lingkungan, situasi politik, dan bahkan situasi kebudayaan yang baik juga sangat berpengaruh dalam menghadirkan kenyamanan dan kegembiraan bagi kehidupan manusia yang akhirnya akan membuat manusia merasa betah dan bahagia tinggal di lingkungan yang baik tersebut. Manusia akan merasakan derita bila hidup dalam situasi yang terus chaos dan konflik, sebagaimana sebaliknya, kemajuan dan kecerdasan ilmu pengtahuannya terkondisikan pula oleh ketersediaan sistem dan fasilitas yang mendukung dan menopangnya. Lalu bagaimana dengan buku-buku? Tentu membaca buku-buku yang baik dan berkualitas akan menyumbang bagi kemajuan intelek manusia dan bahkan bisa memberikan kepekaan-kepekaan yang sifatnya ruhaniah seperti ketika seseorang membaca karya-karya sastra, semisal puisi, yang menggugah dan mencerahkan.
Kala masih di sekolah dasar, buku-buku yang kusukai adalah buku-buku tentang para penemu dan para ilmuwan. Aku minta ijin kepada ibu guruku untuk membawa pulang buku-buku sekolah itu sebagai temanku dalam kesendirian dalam naungan rimbun bambu ketika ibuku memerintahkanku untuk menunggui padi-padi yang mulai menguning dari serbuan para burung. Biasanya aku melakukan tugas itu selepas makan siang. Sembari menikmati sejuknya semilir angin di rimhun bambu itu, aku pun acapkali merenung dan berkhayal. Contohnya mengkhayalkan bahwa Tuhan ada di langit yang jauh dari tempatku duduk.
Mungkin saja pada saat itu aku sedang berdoa dalam kesepianku. Namun, tentu saja, doa tak selamanya hanya milik mereka yang mengklaim beragama dan mengakui eksistensi Tuhan. Meski demikian aku tak percaya kepada mereka yang berkata bahwa mereka berkuasa sepenuhnya atas hidup dan hari-hari mereka, termasuk tentang bagaimana mereka bisa mendapatkan kebahagiaan tanpa harus menjadi orang-orang yang beriman. Mereka keliru karena iman dan harapan membuat ummat manusia survive dan bertahan dalam petaka dan kemalangan. Utopia memiliki fungsi menjadi perawat dan penjaga kehidupan manusia agar tidak musnah ketika terancam bahaya dan akhirnya menjaganya tetap hadir bagi masa depan.
Aku tak percaya kepada mereka yang mengingkari keajaiban dan kebetulan, sehingga dengan lantang mereka senantiasa mengumandangkan bahwa Tuhan itu tidak ada, bukannya berendah hati bahwa jiwa manusia senantiasa berada dalam kerentanan. Adalah fakta dan kenyataan yang tak teringkari bahwa manusia acapkali dirundung kegelisahan, rasa bosan, kesepian, dan diterkam suatu keadaan dan kebetulan dalam hidup yang berada di luar jangkauan akal dan pemahamannya. Seseorang seringkali terjebak begitu saja dalam rasa asing dan keterasingan, dan karenanya hatinya berdoa dan mengharapkan sesuatu yang menggembirakan akan datang dalam hidupnya di masa yang akan datang. Aku pun mengalami hal itu jika merasa kesepian dan merasa asing dalam kesendirian.
Pernahkah kau merasakan kegelisahan dan keterasingan ketika engkau berada dalam kesulitan dan kepapaan, contohnya? Dan pada saat itu engkau merasa tak berarti dan terjebak dalam rasa ketakbermaknaan dalam hidup. Jika kau pernah mengalami hal itu, maka kau manusia normal. Ketika engkau berharap mendapatkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup ini, pada saat itulah engkau tengah berdoa, seperti yang kulakukan di saat kesepian, entah kau mempercayai adanya Tuhan atau tidak. Soal kepada siapa engkau membathinkan harapan di dalam hatimu ketika engkau tidak mempercayai Tuhan, itu bukan urusanku, karena engkau sendiri yang berhak menjawabnya.
Aku hanya ingin berkata ada saat-saat manusia berada dan terjebak dalam situasi yang tak menyenangkan, mengalami kesepian dan kesendirian ketika berada dalam kesulitan dan kejatuhan yang tak ia duga sebelumnya yang membuatnya menderita dan tak nyaman, pada saat itu yang membuat manusia bertahan adalah doa dan harapan yang ada di lubuk jiwanya. Barangkali, itulah iman. Meskipun begitu, aku tak sedang berusaha menjadi seorang dai ketika berbicara tentang iman dan agama. Aku hanya ingin berbicara tentang bagaimana manusia dalam hidupnya menjadikan apa saja sebagai landasan dan alasan untuk survivalnya. Termasuk ketika ia menjadikan agamanya sebagai pedoman dan pegangan dalam rangka mendapatkan kepastian di masa depan. Ia berusaha mendapatkan kesenangan dengan banyak cara dan jalan dalam rangka survival tersebut karena pada dasarnya ia hanya ingin bahagia dan tak ingin menderita. Dan karena itulah ia yang percaya adanya hari kebangkitan berharap dimasukkan ke dalam surga. Cara lain manusia untuk mendapatkan kebahagiaan itu antara lain dengan mengekspressikan harapan, refleksi, dan aspirasinya melalui seni dan sastra.
Seni (dan tentu juga sastra) hanyalah salah-satu diantara sekian ragam cara mengada manusia untuk meraih kegembiraan atau kebahagiaan, selain bentuk ekspressi dan manifestasi kediriannya. Begitu pun ketika aku mengintimi karya seni atau membaca puisi-puisi yang indah dan menggugah, ada rasa nyaman dan kegembiraan dalam jiwaku. Jika demikian, seni (dan sastra) adalah di antara yang memainkan peran dalam menciptakan dan melahirkan kesenangan dan kebahagiaan bagi kehidupan dan hidupnya manusia. Aku tak ingat kapan mulanya aku mulai bisa mengapresiasi dan menghayati puisi-puisi yang kubaca dan kapan pula aku mulai belajar untuk menulis puisiku sendiri. Namun berdasarkan jejak-jejak buku diariku, ada dua moment di mana aku mulai belajar menulis puisi-puisiku sendiri: momen di saatku bahagia seperti ketika sedang jatuh cinta dan moment di saat dirundung kesedihan dan derita seperti ketika aku kehilangan seseorang yang kukasihi.
Ketika itu aku menangis dan bersembunyi di kebun singkong yang ditanam ibuku. Sepertinya aku tak ingin ada yang tahu kesedihanku dan mungkin juga aku merasa malu bila ada yang tahu bahwa aku menangis. Tentu saja hal itu terasa lucu karena menangis adalah sesuatu yang wajar dan normal bagi lelaki atau pun perempuan selagi manusia memiliki jiwa dan rasa di dalam tubuhnya. Itulah kesedihan pertamaku di masa kanak-kanak yang kutanggung sendirian dan tak mau ada orang lain yang mengetahui. Kesedihan yang menjadi kesepian dan kesunyianku sendiri.
Kami sama-sama menyayangi kelinci yang dibeli bapak kami di masa-masa itu. Kelinci berwarna putih terang itu kami biarkan bebas bermain di kebun dan di antara tanaman-tanaman yang ditanam ibu kami. Ia akan pulang sendiri jika sudah merasa puas bermain. Kami sama-sama paham bahwa tak hanya manusia yang butuh bermain, tetapi juga binatang yang sama-sama menghendaki kebebasan dan bukan keterkekangan dalam hidup. Tepat di sini, kebebasan manusia untuk menentukan menjadi apa ia sesuai dengan panggilan jiwanya adalah juga di antara cara mengadanya untuk meraih kebahagiaan dan kegembiraan ruhaniah. Tetapi meskipun demikian, dalam kesempitan dan keterdesakan, manusia pun acapkali sanggup menciptakan celah-celah kebebasan dan kemerdekaan. Seperti tak sedikit para penulis yang menghasilkan karya-karya besar mereka justru di saat mereka menjalani hidup sehari-hari mereka di dalam penjara.
Aku masih ingat saat aku mulai menulis puisi dan sesekali catatan harian ketika hidup di asrama di sebuah pesantren di mana aku harus belajar ilmu-ilmu agama (Islam) sembari menempuh pendidikan sekuler sekolah menengah atas (umum). Aku pun mulai mencuri-curi kesempatan untuk membaca buku-buku filsafat, seperti Berkenalan dengan Eksistensialisme yang ditulis oleh Fuad Hasan, selain harus mendaras kitab-kitab kuning sebagai daras wajib. Perkenalanku dengan buku-buku filsafat itu berlanjut ketika aku kuliah. Di masa-masa kuliah inilah aku jarang masuk kelas karena lebih asik membaca buku-buku yang kubeli sendiri dari toko-toko buku bekas di kawasan Blok M Jakarta dan di kawasan Senen Jakarta. Seringkali di saat aku sedang membaca buku kukunci pintu kamar kos-ku. Ditemani musik-musik yang kusukai dari sebuah radio tape yang sengaja kubawa ke Jakarta dari rumah, kegandrunganku membaca kemudian dengan cepat ke buku-buku novel dan puisi.
Andai saja aku anak orang kaya, pastilah aku tidak akan mengurung diri dalam kamar dengan membaca buku-buku sastra dan filsafat, tapi lebih memilih merayakan hidup seperti beberapa temanku yang melakukannya dengan cukup sering nongkrong di kafe-kafe atau menonton film-film terbaru di mall-mall dan pusat perbelanjaan. Aku melakukan hal-hal itu jika kebetulan ditraktir saja, selebihnya aku harus memperioritaskan untuk kebutuhan makan sehari-hari karena kondisi keuanganku tak cukup untuk menikmati gaya hidup konsumtif seperti yang dilakukan sedikit saja dari teman-teman kelasku yang kebetulan orangtua-orang tua mereka adalah pejabat dan birokrat.
Dalam keadaan demikian itu, pernah kubandingkan diriku sebagai tokoh Raskolnikov-nya Dostoyevsky dalam novelnya yang berjudul Crime and Punishment. Bahwa peluang dan kemungkinan kehidupan manusia akan menjadi buruk atau akan menjadi lebih baik akan sangat tergantung dalam kondisi lingkungan yang buruk (miskin) ataukah dalam kondisi lingkungan yang makmur di mana anggota masyarakatnya sejahtera dan berkecukupan. Bahwa dunia dan takdir Sonia Marmeladov dalam novel itu adalah dunia dan takdir yang diberikan dan dipaksakan oleh situasi dan kondisi lingkungan di mana ia harus hidup menjadi seorang pelacur dan jodohnya pun tak jauh-jauh amat dengan orang yang nasibnya sama dan persis seperti dirinya: Rodion Raskolnikov.
Karya-karya sastra yang baik dan berkualitas memang tak ubahnya sebuah perpustakaan dan khazanah-khazanah hikmah dan kearifan yang membuka kepekaan dan wahana baru bagi pemahaman dan pengetahuan manusia di saat tak semua karya fiksi dan imajinasi dapat disebut sastra seperti novel pop dan komik yang hanya menjalankan fungsi banal industri hiburan dan budaya komodifikasi yang menjerembabkan manusia pada oralitas baru bukannya mengasah kepekaan ruhaniah dan kecerdasan aqliyah. Fiksi dan imajinasi sastrawi anehnya telah menjalankan fungsi saintifik dengan cara lain. Cervantes menertawakan dogmatisme dan heroisme melaui novel sadurannya dari karya sejarawan Sayid Hamid, Don Quixote, karena dogma dalam rangka memberikan kesadaran baru bagi humanisme yang dilandasi kejujuran dan kebenaran yang realistis dan bisa dipertanggungjawabkan, bukan kebenaran yang membutakan dan malah melahirkan kebodohan. Dostoyevsky menyadarkan tentang pentingnya kasih-sayang dan solidaritas kepada sesama manusia ketika menggambarkan kepedihan orang-orang miskin seperti Rodion Raskolnikov dan Sonia Marmeladov.
Dalam kadar yang demikian itu pula, pada saat bersamaan, karya-karya sastra yang berhasil dan berkualitas tinggi menjalankan fungsi yang juga dilakukan oleh para filsuf ketika pemikiran-pemikiran mereka membuka cakrawala baru bagi majunya ilmu dan pengetahuan dalam jejak langkah sejarah peradaban manusia. Karya-karya itu mengajakku berlaku reflektif dalam hidup sembari menarasikan dirinya dengan kiasan dan keindahan. Meminjam laku kehidupan dan polah serta watak manusia itu sendiri. Sedangkan puisi mengajakku untuk menyelami aspek terdalam intelek dengan media bahasa yang dikiaskan dan dipadatkan sedemikian rupa.
Karena keasikan berteman dengan buku-buku sastra dan filsafat itu aku terlambat jatuh cinta dan lupa, tepatnya tak sempat, untuk merayakan hidup dengan jalan bersenang-senang seperti yang dilakukan sedikit temanku. Dan tentu saja, alasan yang sesungguhnya adalah karena aku tak punya cukup uang untuk menjalani kehidupan konsumtif sebagaimana anak para pejabat dan para birokrat. Aku tak tahu apakah ayah-ayah mereka mendapatkan banyak uangnya dari korupsi atau bukan.
Meski aku sudah mulai membaca buku-buku kesukaanku sejak di akhir masa sekolah dasar, aku (bersama teman-temanku) masih lebih banyak menghabiskan waktu di masa kanak-kanakku dengan bermain di antara sawah dan pematang ketika libur panjang sekolah. Contohnya kami akan mengunduh buah ceri dan ceplukan yang tumbuh secara liar di antara bukit-bukit kecil dan tepian kali kecil irigasi di antara sawah-sawah. Ukuran buah-buah ceri yang kami unduh itu tak jauh berbeda dengan buah-buah ceplukan. Sekarang, di saat aku mulai menulis risalah filsafatku ini, sawah-sawah dan pematang di mana dulu kami mengunduh buah-buah ceri dan ceplukan itu telah dibeli oleh sebuah perusahaan kertas dan ditanami pohon-pohon jati.
Namun sesungguhnya bukan hanya kami yang bermain di pematang itu, sebab selain kami ada capung-capung dan para kupu-kupu serta para belalang. Di kemudian hari setelah menerima pelajaran biologi tingkat lanjut, kami tahu bahwa keberadaan mereka adalah juga keberadaan dan kelangsungan makhluk-makhluk lainnya di alam. Segala yang ada dan hidup di alam pada dasarnya adalah satu ekosistem dan kesatuan yang tak terpisahkan dan bila di antara mereka ada yang rusak atau musnah maka akan terjadi kerusakan serta kemusnahan bagi yang lainnya. Kegembiraan mereka saat menggetarkan dan mengepakkan sayap-sayap mereka tentulah tamsil kegembiraan hidup itu sendiri. Tamsil kebebasan dan kemerdekaan untuk bisa bahagia.
Ingatan di masa kanak-kanak itu kembali muncul saat aku kembali menyusuri dan menapaki pematang yang sama yang telah berubah di mana dulu aku dan teman-temanku mengunduh buah-buah ceri dan ceplukan. Di masa kanak-kanak segalanya hadir tanpa dipertanyakan ketika aku mengakrabinya begitu saja di alam dan suasana pedesaan. Seperti kunang-kunang yang menghiasi kesunyian malam dengan cahaya-cahaya mungil mereka. Kunang-kunang yang tak lain pertanda kesunyian yang bahagia di kala malam. Cahaya-cahaya mungil yang memecah keheningan dan kegelapan di masa kanak-kanakku itu, meski tak semua Kunang-Kunang memiliki cahaya di tubuh mereka merupakan hiburan tersendiri di saatku kesepian dalam sunyi dan hening malam hari.
Mereka lah para peri dari kesunyian langit malam yang datang dan hadir ke Bumi dengan membawa cahaya atau foton di tubuh-tubuh mereka. Sahabat-sahabat masa kanak dan masa remajaku itu kini tak lagi kujumpai ketika aku telah menjadi lelaki dewasa, sejak deru dan bising mesin pabrik dan transportasi menjadi bagian dari kehidupan keseharian, dan cerobong-cerobong asap industri telah mengotori udara. Sejak hasrat mencari untung para korporat dan geliat industri kapitalisme merambah lahan-lahan subur pedesaan yang semestinya menjadi lahan pengolahan pangan. Dan mereka pun kini hanya tinggal ingatan dan kenangan saja.
Namun ada masa-masa ketika aku setia menanti kedatangan dan kehadiran mereka di kala magrib dan isya menjelma menjadi keheningan yang kental. Sekental kesepian kami sebagai orang-orang desa. Aku berdiri di depan pintu dan mengarahkan kedua mataku ke arah jalan yang berdempetan dengan sungai, yang seakan saling menenggelamkan diri mereka masing-masing dalam kesunyian, dalam senyap kebisuan yang memanen keakraban yang tak kupahami sebagai seorang bocah yang mulai merasakan bosan dan jenuh saat kedua mataku belum ingin terlelap tidur. Di masa-masa ketika belum ada lampu-lampu bohlam dan neon seperti sekarang.
Kadang aku memandangi mereka dari pintu dapur tanpa sepengetahuan ibuku yang sedang berdoa atau kadang sedang sembahyang malam, dan atau ketika ia sudah tidur dengan tikar pandan yang dianyamnya di sela-sela waktu luangnya jika ia tidak sedang di sawah atau di ladang untuk menyirami atau memanen kerja-kerasnya yang sabar dan tekun tanpa pernah dikalahkan oleh kemiskinan. Dan Kunang-Kunang itu kulihat berkerumun di atas pematang-pematang sawah, di antara lalang dan pohon-pohon yang berselimutkan kegelapan dan lembab cuaca malam.
Tentu saja aku pun selalu menyukai cara mereka berpindah-pindah tempat di setiap malam, seakan ingin mempermainkanku yang memang selalu bahagia dengan kehadiran mereka di saat malam, di saat aku merasa kesepian sebagai bocah dan lelaki remaja yang tak memiliki penghiburan di pedesaan, di mana untuk menerangi rumah-rumah kami pun kami masih menggunakan lampu-lampu minyak, bahkan ibu kami membuat sendiri minyaknya. Seringkali terpikir olehku bahwa barangkali saja pada saat itu, mereka sedang mengajariku secara langsung untuk bersikap intim kepada apa yang ada dan hadir di sekitar keberadaanku, di keseharian kehidupanku yang bersahaja dan acapkali dilanda rasa jenuh.
Di masa-masa itu, adakalanya mereka hadir selepas hujan senja pergi ke balik malam, dan seolah-olah mereka ingin menerangi hamparan kegelapan yang dingin dengan cahaya-cahaya foton di tubuh mereka, yang bagiku tampak berkelap-kelip seperti tebaran-tebaran bintang di angkasa nun jauh di atas kepalaku yang gaib bila selepas hujan mengguyur rumah, halaman, dan pematang-pematang sawah serta ladang sayur-mayur ibuku. Juga pohon-pohon dan lalang-lalang liar yang tertidur dalam kedamaian dan kedinginan. Haruslah jujur kuakui pula bahwa mereka memberiku sensasi dan pencerapan keindahan bagi kedua mataku dan bagi sepi, juga sunyi hatiku yang acapkali dilanda rasa jenuh dan bosan yang hadir dan datang tanpa kuduga.
Itulah kejenuhan dan kebosananku sebagai seorang bocah dan remaja yang hidup di pedesaan yang tak memiliki banyak aktivitas di waktu malam selain mengerjakan PR yang diberikan oleh guru-guruku di sekolah. Sebagai bocah di sekolah dasar, aku jenuh dan bosan bila hanya bertemankan selampu minyak di meja belajarku, dan karena itulah aku akan membuka pintu dan menanti kedatangan mereka, peri-peri kecil bercahaya yang terbang dan mengambang di waktu malam. Kupikir di masa-masa itu pulalah ibuku paham, dan karenanya ibuku hanya bisa membiarkanku berdiri cukup lama di depan pintu untuk memandang dan merenungi mereka, ketika ibuku tahu apa yang selalu kulakukan bila aku jenuh dan bosan duduk di kursi menghadap meja belajar bertemankan selampu minyak.
Tentu masih kuingat juga bahwa kadangkala aku berjalan keluar ke dekat kebun ubi jalar, singkong, dan cabai hingga cabai rawit yang ditanam ibuku. Di dekat barisan tanaman Rosella yang juga ditanam dan dirawat ibuku di belakang dan di samping rumah, atau ke halaman di depan rumah, tergantung di mana ketika itu mereka berada dengan cahaya-cahaya indah di tubuh-tubuh mereka yang mungil, lembut dan terang itu. Agar aku dapat melihat mereka dari dekat, yang seperti telah kukatakan, tak ubahnya tebaran bintang-bintang yang datang dan hadir begitu intim dan akrab, setidak-tidaknya bagiku.
Pernah suatu kali seekor kunang-kunang mendekatiku, hinggap di pundakku, yang tak ayal lagi membuatku menjadi bahagia dan merasa akrab dan intim karenanya. Kebahagiaan dan kegembiraan yang hanya kumengerti ketika itu. kebahagiaan dan kegembiraan yang tak lagi kudapatkan saat ini.
Mungkin ada pertanyaan: Apakah selama masa kanak-kanak aku tidak keluar atau tidak melakukan perjalanan selain hanya berada di lingkungan sekitar rumahku saja? Tentu saja tidak. Di saat sebelum masuk sekolah dasar di saat usiaku antara 5-6 tahun, aku ikut dalam mobil truck yang mengangkut bata bapakku untuk dibawa ke Labuan, Pandeglang. Kami pun bahkan mampir ke Pasar Labuan demi membeli beberapa komoditas dan panganan untuk dibawa pulang ke rumah. Di sana aku cukup was-was ketika tiba-tiba di depanku telah berdiri lelaki tinggi berasal dari Pakistan. Bahkan sebelum aku masuk sekolah dasar, aku pernah tinggal selama setahun bersama pamanku di Panacaran, Munjul, Pandeglang.
Dan yang membuatku bisa juga pergi ke Kota Serang (yang ketika itu masih bagian dari Provinsi Jawa Barat) adalah ketika pihak sekolah dan para guru sepakat dengan suara bulat memilihku untuk mewakili sekolah dasarku mengikuti perlombaan bergengsi Tingkat Kabupaten Serang. Aku dibonceng salah-satu ibu guruku dengan motor Honda model lamanya di masa-masa itu. ibu guruku itu terbilang cantik, dan bahkan salah-seorang guru sekolah tetangga jatuh cinta kepadanya, meski ibu guruku tak membalas cinta guru sekolah tetangga itu. Sebelum aku akhirnya pergi ke Kota Serang, aku terlebih dahulu berhasil menjadi juara pertama di Tingkat Kecamatan. Ibu guruku sangat bangga dengan prestasiku itu karena ia merasa tak sia-sia untuk selalu memboncengku dengan motor Honda model lamanya yang berwarna putih itu. ia mentraktirku makan siang di sebuah warung makan Gudeg Jogja sebelum akhirnya ia memboncengku untuk pulang ke rumahku.
Aku sendiri, tentu saja, merasa bangga dan bahagia dengan prestasiku itu. Terlebih prestasiku itu pun turut pula membuat pihak sekolah dan para guru merasa bangga karena merasa telah melahirkan anak didik yang berprestasi. Anda pun mungkin demikian pula, akan merasa memiliki arti dan merasa bermakna ketika hidup dan kehadiran anda memberikan arti dan makna bagi orang lain yang terkait dengan kehidupan keseharian anda. Benar bahwa ada sifat dan watak mementingkan diri dalam diri manusia dalam rangka survival, namun ada hukum pasti lainnya adalah bahwa manusia tak bisa hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain. Bahkan manusia ingin mendapatkan kasih-sayang dan merasa dicintai oleh manusia lainnya. Sehingga, selain memiliki sisi egoisme dan sifat selfish, manusia juga sesungguhnya memiliki sifat altruis demi pengakuan akan eksistensi dirinya. Ia mencintai orang lain tak lain karena ia sendiri ingin dicintai orang lain.
Beberapa guruku di sekolah dasar adalah orang-orang yang menurutku menyayangiku. Mungkin karena aku satu-satunya murid yang bisa berprestasi secara akademik. Sebelum kini aku sadar bahwa prestasi akademik saja tak cukup bagi seseorang untuk menjadi arif bijaksana jika hanya mengambil pelajaran formal dari sekolah dan belum banyak mendapatkan pengalaman, semisal kepahitan dan kesulitan dalam hidup. Bahwa melakukan apa yang kita suka dan mendapatkan hal-hal yang menyenangkan dalam hidup akan membuat kita bergembira dan bahagia, tapi kesulitan dan kepahitan dalam hiduplah yang akan membuat kita menjadi orang yang rendah hati dan kuat. Tapi penting untuk diketahui bahwa menjadi rendah-hati tidaklah sama dengan menjadi rendah diri (minder). Ketika lulus sekolah dasar dan di terima di sekolah menengah pertama negeri, selama dua tahun aku harus berangkat dan pulang ke sekolah yang jaraknya beberapa kilometer itu dengan cara berjalan kaki dan hanya akan sesekali numpang kendaraan bila ada kendaraan pengangkut pasir dan bata yang lewat di saat hendak berangkat ke sekolah atau di saat pulang dari sekolah. Di sekolah menengah pertama itu pula lah aku menjadi sadar bahwa ada banyak yang ternyata lebih pintar dan lebih cerdas dariku secara akademik atau yang sama dan setara denganku. Pada saat itulah aku mulai mengukur diri agar aku tahu diri dan tidak gegabah dalam memandang orang lain. Terlebih aku sendiri berasal dari keluarga petani yang sederhana dan bersahaja.
Pernah suatu hari saat pulang dari sekolah menengah pertamaku itu, hujan turun dengan derasnya di tengah perjalananku pulang ke rumah. Aku berteduh di serindang pohon besar dan cuaca membuat keadaan menjadi gelap. Saat menunggu hujan akhirnya tak terlalu lebat, di saat itulah aku merasa kesepian. Aku putuskan untuk tak lagi berteduh dan melanjutkan perjalanan pulang di saat hujan tak lagi deras dengan pakaian dan kondisi badan yang basah kuyup meski buku-bukuku tidak ikut basah karena kubungkus dengan plastik yang selalu kubawa atas saran ibuku selama sekolah di saat bulan-bulan musim hujan. Sesampainya di rumah, ibuku akan menjemur seragam sekolahku yang basah itu di sebilah bambu yang melintang di atas tungku dapur karena seragam sekolah itu harus kering keesokan harinya untuk kupakai lagi.
Meski aku banyak bermain dan bergembira di masa kanak-kanakku bersama teman-teman sekampungku, bukan berarti aku tak pernah merasakan kesulitan dan kesukaran hidup sehari-hari di masa kanak-kanak. Hanya saja aku tak ingin keterbatasan dan kesahajaan keluargaku menjadi penghalang untukku menjadi bebas dan merdeka, seperti kebebasan dan kemerdekaan yang bisa kurasakan ketika aku bermain dengan teman-temanku.
Aku masih ingat ketika aku tinggal bersama keluarga pamanku di Panacaran, Munjul, Pandeglang. Saat itu aku bermain ke hutan kecil untuk mencari buah luba-lubi. Tak kusangka ada babi hutan dan sialnya babi hutan itu berjalan cepat ke arahku dan aku pun segera berlari agar tak terkena seruduknya. Untungnya saat itu ada sebuah pohon yang cukup besar untuk kupanjat. Aku panjat pohon itu sementara si babi hutan terus saja berjalan cepat hingga melewati pohon di mana aku berada di dahannya. Pengalaman tinggal bersama keluarga pamanku itu tentulah tak sama dengan pengalaman di tanah kelahiranku dengan kondisi alamnya yang berbeda. Di tanah kelahiranku aku tak pernah berjumpa dengan babi hutan yang mirip serigala. Namun dari pengalaman itulah sedikit atau banyaknya aku bisa juga menjadi tak terlampau takut untuk mengenali rimba.
Terkadang
aku bermain-main sendiri di antara barisan pohon-pohon sawit bila tak ada yang
bisa kulakukan untuk membantu bibiku. Makan sehari-hari di masa-masa itu yang
bisa disantap para petani yang bekerja di kebun sawit itu pun terbilang
sederhana: terasi atau sesekali ikan asin sebagai pelengkap nasi yang mereka
tanak di tungku. Betapa akrabnya aku dengan kehidupan para petani sejak masa
kanak-kanak hingga aku merasa jiwaku sendiri adalah jiwa seorang petani dan aku
selalu memiliki rasa simpati yang dalam pada kehidupan para petani yang lugu
dan tulus.
