Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2016

Hempher, Kisah Sang Intelijen Inggris (Bagian Kedua)


Sembilan personel yang ditugasi, begitu pula aku, harus kembali ke London untuk memberikan laporan kepada kementerian tentang apa saja yang mereka peroleh, namun buruknya yang kembali hanya enam orang. Sedangkan empat yang tidak kembali, seorang dari mereka telah menjadi muslim dan tinggal di Mesir. Tetapi sekretaris nampak senang di wajahnya, karena ia tidak membuka rahasia negara. Yang satunya lagi kabur ke Rusia, karena ia berasal dari Rusia. Dan sekretaris sakit hati sekali dengannya, bukan karena ia kembali tanah airnya tetapi sekretaris menduga bahwa ia seorang mata-mata Rusia yang ditugasi oleh kementrian di sana. Dan ketika urusan dan kepentingannya selesai ia kembali ke negaranya.

Yang ketiga mati di ‘Imarah sebuah negeri sebelah Baghdad. Sekretaris memberitahu kami bahwa ia mati disebabkan penyakit menular yang mematikan. Adapun yang keempat, tidak diketahui jejaknya ketika kementrian menghubunginya ke San’a` di Yaman (sebuah negeri Arab). Sebelumnya ia selalu kontak dengan kementerian dalam waktu setahun, tapi setelah itu hubungan terputus. Setiap kementerian berusaha melacaknya tapi tidak menghasilkan apa-apa tentangnya.

Pihak kementerian rugi besar dan tertimpa duka berat atas kehilangan empat dari sepuluh personilnya, di mana menurut perhitungan kami tiap personelnya sangat berarti dan bernilai tinggi. Karena kami ini adalah bangsa yang sedikit jumlahnya, namun besar ambisinya. Kehilangan empat personel kami sangat menyedihkan hati kami.

Setelah sekretaris mendengarkan laporan-laporanku, ia kemudian menugasi kami (berenam) untuk membacakan laporan-laporan kami di sebuah pertemuan, di hadapan para pejabat tinggi dari kementrian yang dipimpin Perdana Mentri sendiri. Kawan-kawanku telah menyampaikan laporan-laporan penting mereka sesuai apa yang menjadi tugas mereka. Begitu pula aku dengan laporanku yang dicatat oleh dewan juri.

Perdana Mentri, sekretaris dan sebagian yang hadir memujiku atas kerjaku, tetapi dua kawanku lebih hebat dariku. Mereka adalah George Blacud yang menjadi terbaik pertama dan Henry Fans yang menjadi terbaik kedua, sedangkan aku terbaik yang ketiga.

Aku telah benar-benar berhasil bisa menguasai bahasa Turki, bahasa Arab, Al-Quran dan syari’at. Tapi belum berhasil dalam memberikan laporan kepada kementerian tentang sisi-sisi kelemahan pemerintahan Turki Utsmani. Usai pertemuan yang memakan enam jam, aku tunjukkan kepada sekretaris sebuah poin yang bisa melemahkan dengan mengatakan, “Target sementaraku ialah mempelajari bahasa, hukum Islam dan Al-Qur`an. Karena itu sulit sekali bagiku meluangkan waktu untuk mengerjakan apa yang harus kukerjakan selain ini, dan aku pastikan pada tugas mendatang –jika aku masih dipercaya- akan kuserahkan amanat yang Anda berikan”

Sekretaris berkata, Aku percaya karena kau berhasil, tapi aku berharap kau pertahankan keberhasilanmu ini untuk meraih yang lebih lagi.  Sesungguhnya tugas pentingmu Mr Hempher, untuk perjalanan mendatang, ada dua:
[1] Menemukan titik kelemahan kaum muslimin. Kita harus mampu menyusup ke dalam tubuh mereka dan mencerai beraikan akar-akar mereka. Inilah letak kemenangan kita yang mendasar atas musuh-musuh kita.

[2] Kau harus berterus terang kepada kami jika tidak mampu menemukan ‘titik kelemahan’, tapi jika kau merasa mampu menjalankannya mudah-mudahan kau akan menjadi yang terbaik dari yang terbaik, dan kau layak mendapatkan bintang jasa dari kementerian.

Aku tinggal di London selama enam bulan dan aku menikah dengan putri pamanku (Mary Shway). Ia lebih tua setahun dariku, saat itu umurku 22 tahun sedangkan ia berumur 23 tahun. Ia gadis biasa yang cerdas dan sangat cantik. Aku bahagia hidup dengannya dan dalam waktu enam bulan itu ia mengandung. Dengan penuh sabar aku menanti kelahiran buah hati, tiba-tiba aku diberi tugas dari kementerian supaya aku berangkat ke Iqlim (Iraq) negeri Arab yang dijajah sejak dari masa lampau.

Sungguh ini hal yang tidak menyenangkan bersamaan menunggu kelahiran anakku. Namun kepentingan negaraku dan cintaku kepada kawan-kawan melebihi perasaan cintaku kepada istri dan anakku. Karena itu aku terima tugas meskipun istriku memohon agar ditunda sampai anak lahir. Dan ketika perpisahanku dengannya kami menangis tersedu-sedu. Dan istriku berkata, “Sempatkan kirim surat tentang keadaanmu di sana, dan akan kukabarkan bila buah hati lahir dan tentang keadaanku di sini”. Kata-katanya begitu mengharukan sampai-sampai aku berniat batal berangkat, tetapi kukuasai diriku dari perasaan ini. Aku memeluknya, dan berangkat ke kementerian untuk mengambil pesan-pesan penting.

Enam bulan aku di Bashrah (Iraq), negeri ‘Asya’iri yang penduduknya adalah Muslim Sunni dan Islam Syi’ah, dua mazhab besar Islam. Dan sedikit sekali dari mereka yang beragama Nasrani. Mereka terdiri dari dua bangsa, Arab dan Persia.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mendapatkan Islam Syi’ah dan bangsa Persia. Syi’ah adalah sebuah mazhab dan golongan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi Islam sekaligus menantu Nabi Islam atas putrinya Fatimah. Syi’ah meyakini bahwa Nabi mereka Muhammad telah memilih Ali sebagai khalifah setelahnya, dan menyatakan bahwa Ali dan anak keturunannya yang sebelas adalah khalifah secara berurutan.

Aku menduga bahwa kebenaran bersama Syi’ah (pengikut khalifah Ali, Hasan dan Husein). Sebab yang tetap dalam sejarah –menurut pengamatanku- Ali mempunyai sifat yang istimewa dan jiwa yang luhur yang layak menduduki kepemimpinan. Dan mendekati kebenarannya bahwa Nabi Muhammad pernah berkata bahwa Hasan dan Husein adalah dua imam. Ini pula tidak dipungkiri oleh Sunni, tetapi pada saat yang sama aku ragu, bahwa anak keturunan Husein yang sembilan juga telah dipilih oleh Rasul sebagai khulafâ-nya. Bagaimana Rasul bisa tahu masa mendatang? Sedangkan ia mati pada saat Husein masih kecil. Bagaimana ia bisa tahu bahwa Husein akan mempunyai anak keturunan yang mana secara silsilah mereka sampai sembilan?. Kalau memang Muhammad adalah seorang Rasul yang haq, maka ia mengetahui semua itu dari petunjuk Allah. Sebagaimana Al-Masih memberi kabar masa datang. Tetapi menurut kami sebagai kaum Nasrani, meragukan akan kenabian Muhammad.

Kaum muslimin mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah dalil kenabian Muhammad, tetapi yang aku baca tiada satu pun dalilnya dalam Al-Qur`an. Memang tidak diragukan bahwa Al-Qur`an adalah kitab luhur, bahkan kedudukannya lebih luhur dari kitab Taurat dan Injil. Di dalam Al-Qur`an terdapat undang-undang, peraturan dan ajaran akhlak dan lain-lain. Tetapi apakah ini sudah cukup merupakan dalil bagi kebenaran Muhammad?  

Sesungguhnya aku bingung tentang pribadi Muhammad, bingung sekali. Ia seorang lelaki Badui, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis, bagaimana ia bisa datang dengan membawa kitab yang suci ini? (Karena Hempher memahami Rasul dari rujukan Sunni yang menganggap Rasul tak bisa membaca dan menulis). Ia adalah pribadi yang memiliki akhlak dan kecerdasan yang tiada seorang arabpun yang berpendidikan di masanya seperti dirinya. Lalu di satu sisi mungkinkah seorang Arab Badui yang tidak membaca dan menulis ini membawa kitab yang tinggi itu? Dan di sisi lain apakah ini cukup menjadi bukti bahwa ia seorang nabi?

Aku selalu mencari dan membaca untuk memecahkan hakikat ini. Pernah aku lontarkan masalah ini kepada seorang pendeta di London, tetapi jawaban yang diberikannya tidak memuaskan dan ia menjawab dengan kefanatikan dan keras kepala. Sama halnya dengan pribadi Syeikh Ahmad ketika aku tanyakan masalah ini, dan jawabannya masih mengambang. Tapi dengan jujur aku katakan, bila aku bicara terus terang dengan Syeikh, aku khawatir akan terbongkar rahasia diriku atau akan meragukan diriku.

Alhasil aku menilai bahwa Muhammad orang besar, dan tidak diragukan ia adalah semacam nabi Allah yang diberitakan oleh para nabi sebelumnya –sebagaimana yang aku baca- di dalam kitab-kitab. Hanya saja sampai sekarang aku masih belum puas dengan kenabiaannya. Andai kata ia bukan seorang nabi, tidak mungkin orang yang mendengarkan nuraninya meyakini bahwa ia seperti orang-orang yang dikagumi dan mencengangkan, bahkan tidak diragukan ia di atas mereka dan di atas orang-orang yang cerdas (jenius).

Adapun kaum Sunni meyakini bahwa setelah wafatnya, Abu Bakar kemudian Umar lalu Ustman lebih layak menjadi khlaifah (pengganti)nya ketimbang Ali. Karena itu mereka (kaum Sunni) melanggar perintah Rasul (Muhammad) dan memilih khulafa yang tiga (baru kemudian memilih Ali atas kondisi yang krisis dan sangat mendesak).

Perselisihan ini ada di setiap agama tak terkecuali agama Masehi (Kristen) dengan pandangan yang khusus. Tetapi aku tidak mengerti apa yang terbaik dari adanya perselisihan ini, Ali dan Umar telah mati dan kaum muslimin –jika mereka berpikir- seharusnya mereka memikirkan hari sekarang bukan hari yang telah lampau dan jauh. Pada suatu kesempatan pernah aku sampaikan kepada pejabat-pejabat di kementerian tentang adanya perselisihan historis antara Sunni dan Syi’ah. Aku katakan kepada mereka, “Jika mereka memahami kehidupan maka mereka tinggalkan perselisihan dan bersatu dalam satu kalimah!”.

Tiba-tiba Bapak kepala (kementerian) membentakku, “Yang harus Anda lakukan, ialah berusaha memperuncing perselisihan ini bukan berusaha mempersatukan muslimin!”.

Tentang perselisihan ini, di suatu pertemuan sebelum kepergianku ke Iraq, aku hadir bersama sekretaris dan ia mengatakan kepadaku, “Ketahuilah wahai Mr. Hempher! Bahwa perselisihan adalah fenomena yang alami antara umat manusia sejak Tuhan menciptakan Habil dan Qabil, dan perselisihan ini akan terus terjadi sampai Al-Masih kembali (ke dunia ini):

[1] Adanya perbedaan warna kulit.
[2] Adanya bermacam-macam suku.
[3] Adanya bermacam-macam negeri.
[4] Adanya bermacam-macam kaum.
[5] Adanya perbedaan agama.

Maka tugas penting di perjalananmu nanti yang harus kamu kuasai ialah tentang perselisihan dan perbedaan antara kaum muslimin dan titik rawan yang menimbulkan gejolak dari perselisihan tersebut. Kementerian akan memberimu arahan dan maklumat secara rinci tentang masalah ini, dan jika kamu mampu memancarkan api perselisihan ini maka kamu berada di puncak pengabdian bagi Britania Raya. 


Jumat, 02 Oktober 2015

Teladan Pemimpin



Oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Radar Banten, 07 Juni 2014)

Dalam Sad Pand va Hekayat Imam Ali diceritakan seorang perempuan tua dengan fisik yang lemah sedang mengangkat tempat air besar. Dengan terseok-seok dan napas yang terengah-engah perempuan tua itu melangkah menuju rumahnya. Tiba-tiba ada seorang pria tak dikenal mendekatinya dan menawarkan untuk membawakan tempat air yang berat itu. Perempuan tua itu menggerakkan bibirnya dan berterima kasih kepada Allah Swt. Ia kemudian berkata pada pria yang tak dikenal itu, “Allah mengirim engkau untuk menolongku. Insya Allah, engkau akan mendapatkan pahala dari perbuatanmu ini dari Allah.” Rumah perempuan tua itu tidak terlalu jauh. Ketika sampai, perempuan tua itu membukakan pintu. Anak-anaknya yang masih kecil begitu gembira setelah tahu ibu mereka telah kembali. Tapi rasa ingin tahu membuat mereka bertanya-tanya siapa orang asing ini.

Pria tak dikenal itu kemudian meletakkan tempat air di tanah dan bertanya kepada perempuan itu, “Jelas bahwa tidak ada pria di rumah ini, sehingga engkau sendiri yang mengangkat air. Apa yang terjadi sehingga engkau tinggal sendiri?” Perempuan itu menarik napas panjang dan berkata, “Suamiku dulunya adalah seorang pejuang. Ia berperang bersama Ali bin Abi Thalib dalam sebuah perang dan di sana ia meninggal. Ia meninggalkan saya dengan beberapa orang anak.” Mendengar ucapan perempuan tua, pria tak dikenal itu tidak dapat berkata apa-apa. Tapi dari wajahnya terlihat ia begitu sedih. Ia hanya bisa menundukkan kepala, kemudian meminta diri dan pergi dari situ. Tapi tidak berapa lama ia kembali ke sana sambil membawa sejumlah makanan.

Perempuan tua itu mengambil makanan dari pria tak dikenal itu dan berkata, “Semoga Allah meridhaimu!” Pria asing itu berkata, “Saya ingin membantu pekerjaanmu. Perkenankan saya membuat adonan roti, membakarnya atau menjaga anak-anak ini.” Perempuan itu berkata, “Baiklah! Jelas saya lebih baik dalam membuat adonan roti dan membakarnya. Engkau mengawasi anak-anak, sampai aku selesai membakar roti.” Pria asing itu menerima dan pergi menemui anak-anak itu. Tapi sebelum itu ia menghampiri bungkusan yang dibawanya dan mengambil daging lalu membakarnya. Setelah matang, dengan sabar ia menyuapi anak-anak itu. Ia berkata, “Anak-anakku! Relakanlah Ali bin Abi Thalib, bila ada kekurangan yang dilakukan terkait kalian…”

Adonan roti telah siap. Perempuan tua itu berkata, “Wahai hamba Allah! Nyalakan api untuk membakar roti ini…” Pria itu beranjak dari tempatnya dan pergi untuk menyalakan api. Tungku telah menyala. Air mata telah menggenang di pelupuk mata pria asing itu. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke api sambil berkata, “Rasakan panasnya api! Inilah balasan orang yang tidak mengurusi anak-anak yatim dengan baik dan tidak tahu kondisi para wanita yang menjanda…” Pada waktu itu, ada tetangga perempuan yang rumahnya bersebelahan dengan perempuan tua itu datang ke rumahnya. Ketika ia melihat pria tak dikenal itu, dengan segera ia menghadapi perempuan tua itu dan berkata, “Celakalah engkau! Tahukah siapa pria yang engkau perbantukan ini?”

Perempuan tua itu terkejut dan berkata, “Tidak. Saya tidak mengenalnya. Ketika hendak kembali ke rumah saya bertemu dengan dia dan langsung menawarkan diri untuk membantu saya.” Tetangganya berkata, “Pria itu adalah Ali bin Abi Thalib, Amir al-Mukminin!” Begitu mengetahui pria asing yang membantunya adalah Ali bin Abi Thalib, perempuan tua itu langsung menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia mendekati pria itu dan berkata, “Wahai pria penolong! Maafkan saya yang tidak mengenalmu dan memintamu untuk membantuku.” Imam Ali berkata, “Tidak! Saya yang harus meminta maaf kepadamu. Karena saya tidak melaksanakan kewajibanku dengan baik kepadamu dan anak-anak yatim ini.”

Setelah itu, Imam Ali secara berkala mendatangi rumah perempuan tua itu dan menanyakan keadaan mereka, sambil membantu makanan dan uang sesuai kemampuan beliau kepada mereka. Cerita atau tarikh Islam ini menyarikan inti saripati tentang keteladanan seorang pemimpin yang peduli dan menyatu dengan rakyatnya. Pemimpin yang peduli dan terlibat, dan tak hanya duduk di kursi atau meja “kepemimpinannya” semata.

MAHKOTA SEJATI PEMIMPIN
Yang barangkali juga penting untuk disimak adalah bahwa saat terjadi krisis politik, Imam Ali Bin Abi Thalib berjanji untuk meredam pemberontakan Muawwiyah Bin Abu Sufyan, meski ada perasaan terpaksa dalam hati Imam Ali Bin Abi Thalib. Itu semua karena menurutnya dan menurut mayoritas kaum muslim pada masa itu pembangkangan Muawwiyah Bin Abu Sufyan lebih karena motif haus kuasa dan sifat tamak, alias bukan atas dasar cita-cita kemaslahatan ummat, tetapi lebih karena ambisi pribadi semata. Muawwiyah Bin Abi Sufyan sendiri memang dikenal haus kuasa dan tak segan menggunakan segala cara, hingga istana pribadinya semegah istana kekaisaran Persia dan Romawi. Berbeda dengan para sahabat di era awal Islam, semisal Abu Dzar al Ghifari dan Salman al Farisi yang hidup sederhana, misalnya.

Pada suatu hari, misalnya, seorang Yahudi dari Bait al Maqdis hampir tak percaya ketika berkunjung ke Madinah. Rasa heran orang Yahudi itu tak lain karena ia tak mendapati istana megah khalifah. Karena rasa herannya itu, ia pun bertanya kepada salah seorang penduduk Madinah yang ditemuinya: “Di manakah istana khalifah?” Mendengar pertanyaan pengunjung Yahudi itu, salah-seorang penduduk Madinah pun menjawab: “Istana khalifah ar Rasyidin adalah di akhirat kelak”. Mendengar jawaban salah-seorang penduduk Madinah tersebut, sang pengunjung Yahudi itu pun kembali bertanya: “Apakah khalifah ar rasyidin mengenakan mahkota di kepala? Dan adakah mahkota khalifah terbuat dari emas atau berlian?” “Mahkota khalifah ar rasyidin adalah mahkota budi pekerti dan sikap amanah.” Begitulah salah-seorang penduduk Madinah menjawabnya.

Bagi kita saat ini, ilustrasi tersebut tak ragu lagi mengandung sindiran atas budaya dan perilaku korupsi yang masih menjalar di negeri ini. Di sisi lain, ilustrasi tersebut juga menggambarkan keteladanan dan kesederhanaan para sahabat seperti yang telah disebutkan, yang juga memang dikenal sebagai para pemimpin yang berusaha hidup sederhana, agar mereka yang miskin dan kekurangan mendapatkan kesepadanan dalam diri para pemimpin mereka, sekaligus tidak merasa iri dan cemburu kepada para pemimpin mereka. Selain sederhana, mereka juga dikenal sebagai para pemimpin yang tahu kebijakan apa dan kapan sebuah kebijakan politik mesti dilakukan dengan keras atau tidak. Tentu saja, dengan berpegang pada sikap adil dan benar. Ketegasan mereka didasarkan kepada rasa keadilan, begitu pun ketika mereka harus mengambil keputusan dan kebijakan politik yang keras, semisal perang, tak lain dalam rangka menegakkan keadilan dan stabilitas ummat itu sendiri.

Jika demikian, selain mereka juga dikenal sebagai para pemuka agama, mereka pun para negarawan, yang seperti banyak diceritakan, bahkan keterpilihan Ali Bin Abi Thalib, misalnya, menjadi khalifah tidak didasarkan kepada keinginan pribadi, tapi atas permintaan ummat. Tak hanya itu, Ali Bin Abi Thalib bahkan tetap bertanya kepada jamaah bila saja ada kaum muslim yang tidak setuju kepada dirinya yang didesak sebagai khalifah.

Dalam hal yang demikian itu, dapat dikatakan, dipilihnya seseorang untuk menjadi seorang pemimpin mestilah karena keinginan dan kesepakatan rakyat dalam ummat itu sendiri, bukan atas dasar desakan pribadi seseorang yang ingin menjadi penguasa, semisal dicontohkan dengan sosok Muawwiyah Bin Abi Sufyan yang haus kuasa dan ingin menjadikan dirinya sendiri sebagai kaisar, laiknya seorang Kaisar Persia atau seorang Kaisar Romawi. Berbeda dengan khalifa ar rasyidin yang tidak memiliki mahkota di kepala mereka, Muawwiyah Bin Abi Sufyan memahkotai dirinya sendiri sebagaimana para kaisar Persia dan Romawi mengenakan mahkota.


Muawiyyah Bin Abi Sufyan, dengan begitu, merupakan kebalikan 180 derajat dari keteladanan dan kesederhanaan yang dicontohkan para figur Islam teladan, semisal Abu Dzar al Ghifari dan Salman al Farisi. Pun, kita tahu, di jaman Muawwiyah itulah budaya dan perilaku korupsi mulai merebak dalam lingkup kekuasaan dan pemerintahan. Rupa-rupanya, sikap dan perilaku hidup yang kontras berbeda antara para sahabat teladan dan Muawwiyah Bin Abu Sufyan itu juga menjadi pengaruh faktor budaya dan politik yang juga sangat bersebrangan. Sementara, di jaman Muawwiyah Bin Abi Sufyan, acapkali korupsi para gubernur tetap dibiarkan sepanjang gubernur tersebut patuh kepada Muawiyah. Sedikitnya, situasi di jaman Muawwiyah Bin Abi Sufyan itu agak mirip dengan di jaman orde baru, juga ketika korupsi seakan-akan dibiarkan, yang memang demi melanggengkan kepatuhan para pejabat dan birokrat kepada Soeharto.

Jumat, 04 September 2015

Kisah Mordakhai di Semenanjung Arabia atau Sejarah Berdarah Klan Saud dan Wahabi




Oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair (Dipublikasi secara bersambung di harian Tangsel Pos pada 12 dan 13 Agustus 2014)

Di masa yang jauh, yaitu tepatnya di Najd tahun 851 H, ada sekelompok pria dari Bani Al Masalikh keturunan dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makanan lain dari Iraq dan membawanya kembali ke Najd. Direktor perdagangan ini bernama Sahmi bin Hathlul. Kelompok dagang ini melakukan kegiatan bisnis mereka sampai ke Basra, disana mereka bertemu dengan seorang pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe. Ketika sedang terjadi proses tawar menawar, si Yahudi itu bertanya kepada kafilah dagang itu, “dari mana Anda berasal?” Mereka menjawab, “dari kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al Masalikh”. Setelah mendengar itu, orang Yahudi itu menjadi gembira dan mengaku bahwa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama tetapi terpaksa tinggal di Basrah, Irak karena perseteruan keluarga antara ayahnya dan anggota keluarga kaum Anza.

Syahdan, setelah itu, Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan karung-karung berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal demikian adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al-Masalikh tersebut dan menunjukkan kegembiraannya karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Bagi pedagang Yahudi itu, kafilah dagang merupakan sumber pendapatan dan hubungan bisnis. Mordakhai adalah saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyi di balik wajah Arab dari kabilah Al Masalikh. Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, si Yahudi ini meminta diizinkan untuk bersama mereka karena sudah lama dia ingin pergi ke tanah asal mereka, Najd. Setelah mendengar permintaan pria Yahudi itu, kafilah dagang suku Anza ini pun senang dan menyambutnya dengan gembira. Pedagang Yahudi yang sedang menyamar itu pun tiba di Najd dengan pedati-pedatinya (kendaraan tunggangan).

Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, teman dagang dan teman-teman dari Bani Al Masalikh yang baru dikenalnya. Setelah itu, di sekitar Mordakhai berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tapi, tanpa disangka dia berhadapan dengan seorang ulama ‘yang menentang doktrin dan pahamnya’. Dialah Sheikh Salman Abdullah At Taimi seorang ulama karismatik dari daerah Al Qasem. Daerah-daerah yang menjadi lokasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman dan Hijaz.

Karena suatu alasan tertentu, si Yahudi Mordakhai (yang menurunkan keluarga Saud itu), berpindah dari Al Qasem ke Al Ihsa. Di sana dia merubah namanya dari Mordakhai ke Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menetap di sebuah tempat bernama Dlir’iya dekat Al Qateef. Di sana dia memaklumatkan propaganda dustanya bahwa perisai Nabi saw telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang kuat musyrikin pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan umat Islam. Katanya, “perisai itu telah dijual oleh Arab Musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Bani Qainuqa’ yang menyimpannya sebagai harta karun”.

Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi. Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir’iya dekat Al Qateef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai situs atau batu loncatan guna mendirikan negara Yahudi di tanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badui untuk memperkuat posisinya, kemudian secara perlahan dia memberitakan dirinya sebagai raja kepada mereka. Kabilah Ajaman dan kabilah Bani Khaled yang merupakan penduduk asli Dlir’iya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menentang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Mereka menangkap Yahudi itu dan menawannya, namun berhasil meloloskan diri.

Saudagar keturunan Yahudi ini mencari suaka di sebuah peternakan bernama Al Malibed Ghusaiba yang dekat dengan Al Arid (sekarang Riyadh). Di sana dia meminta suaka kepada pemilik kebun tersebut untuk menyembunyikan diri dan melindunginya. Tuan kebun itu sangat simpati lalu memberikan tempat kepadanya untuk berlindung. Tetapi, tidak sampai sebulan tinggal di rumah pemilik kebun itu, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan kebun bersama keluarganya. Sungguh tak tahu adat, memang, air susu dibalas dengan tuba. Ketika itu, Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menerobos masuk rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya pembantaian tersebut.

Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al Dlir’iya yaitu nama tempat dari mana dia diusir dan sudah ditinggalkannya. Kemudian Mordakhai dengan cepat mendirikan sebuah markas dan tempat pertemuan bernama ‘Madaffa’ di atas tanah yang dirampasnya tersebut. Di markaz inilah ia mengumpulkan para pahlawan dan kepala-kepala propaganda (kaum Munafiq) yang selanjutnya mereka jadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syekh kepada orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh gendang perang terhadap Sheikh Shaleh Salman At Taimi, sang musuh tradisionalnya. Akhirnya, Sheikh Salman tewas di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al Zalafi.

Mordakhai pun berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil membuat Dlir’iya sebagai pusat kekuasaannya. Di tempat itu pulalah dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian diberi nama dengan nama-nama Arab. Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir’iya di bawah bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan kejahatan, menggalang beragam konspirasi untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan perampokan tanah dan ladang penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana mereka. Dengan beragam cara dan trik, mereka melancarkan aksinya. Memberikan suap, memberikan pemikat-pemikat wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan mereka ‘menutup mulut dan membelenggu tangan’ para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis keturunan mereka kepada kabilah Rabi’a, Anza dan Al Masalikh tersebut.

KELOMPOK WAHABI
Dan begitulah selanjutnya, seorang bernama Muhammad Amin At Tamimi (director/manager Perpustakaan Kontemporer Kerajaan Saudi) menyusun garis keturunan (Family Tree) untuk keluarga Yahudi (keluarga Saudi) ini dan menghubungkan keturunan mereka kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagai imbalannya, ia mendapat sebesar 35.000 pound Mesir dari Duta Besar Saudi Arabia di Kairo, Mesir pada tahun 1362 H / 1943 M. Nama duta besar ini adalah Ibrahim Al Fadel. Seperti telah disebutkan di atas, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) yang berpoligami dengan wanita-wanita Arab tersebut telah melahirkan banyak anak. Dan saat ini, pola poligami Mordakhai dilanjutkan oleh keturunannya dan mereka bertaut pada warisan pernikahan itu. Salah seorang anak Mordakhai bernama Al Maqaran (Mack Ren) memiliki anak bernama Muhammad dan anak yang lainnya bernama Sa’ud, dan dari sinilah Dinasti Saudi saat ini berasal.

Keturunan Saud (keluarga Saud) pun memulai melakukan kampanye pembunuhan pimpinan terkemuka suku-suku Arab dengan dalih mereka murtad, mengkhianati Islam, meninggalkan ajaran Al Qur’an dan membantai mereka dengan mengatasnamakan Islam. Rakyat yang mencoba bersuara memprotes kunjungan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara ini pun akan ditembak mati dan dipenggal lehernya. Di dalam buku sejarah Keluarga Saud di halaman 98-101, misalnya, penulis pribadi sejarah keluarga Saud menyatakan bahwa Dinasti Saud menganggap semua penduduk Najd menghina Tuhan. Oleh karena itu, darah mereka halal, harta bendanya pun dirampas, wanita-wanitanya dijadikan selir, tidak seorang Muslim pun yang dianggap benar kecuali pengikut kelompok Muhammad bin Abdul Wahab.

Doktrin Wahabi memberikan otoritas kepada keluarga Saud untuk menghancurkan desa dan penduduknya termasuk anak-anak dan memperkosa wanitanya, menusuk perut wanita hamil, memotong tangan anak-anak, kemudian membakarnya. Selanjutnya mereka diberikan kewenangan dengan ajarannya yang kejam (brutal) tersebut untuk merampas semua harta kekayaan milik orang yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran agama karena tidak mengikuti ajaran Wahabi.

Keluarga Yahudi yang jahat dan mengerikan ini melakukan segala jenis kekejaman atas nama kelompok agama palsu mereka (kelompok Wahabi) yang sebenarnya diciptakan oleh seorang Yahudi untuk menabur benih-benih terror di dalam hati penduduk di kota-kota dan desa-desa. Dan pada tahun 1163 H, Dinasti Yahudi ini mengganti nama semenanjung Arab dengan nama keluarga mereka menjadi Saudi Arabia, seolah-olah seluruh wilayah itu milik pribadi mereka dan penduduknya sebagai bujang atau budak merdeka, bekerja keras siang dan malam untuk kesenangan tuannya, yaitu keluarga Saudi.

Walhasil, mereka dengan sepenuhnya menguasai kekayaan alam negeri itu seperti milik pribadinya. Bila ada rakyat biasa yang mengajukan perlawanan atas kekuasaan sewenang-wenang Dinasti Yahudi ini, dia akan dihukum pancung di lapangan terbuka. Seorang putri anggota keluarga kerajaan Saudi beserta rombongannya sekali kesempatan mengunjungi Florida, Amerika Serikat, dan menyewa 90 buah Suite Rooms di Grand Hotel dengan harga $ 1 juta semalamnya. Rakyat yang mencoba memprotes kunjungan sang puteri yang jelas menghamburkan uang Negara ini akan ditembak mati dan dipenggal kepalanya.

FAKTA MENGGEMPARKAN
Sejumlah kesaksian yang meyakinkan menyatakan bahwa keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi dan dapat dibuktikan dengan fakta-fakta berikut: Pada tahun 1960-an, pemancar radio ‘Sawtul Arab’ di Kairo, Mesir dan pemancar radio di San’a, Yaman, membuktikan bahwa nenek moyang keluarga Saud adalah dari keturunan Yahudi. Bahkan Raja Faisal tidak dapat menyanggah pernyataan itu ketika memberitahu kepada ‘The Washington Post’ pada tanggal 17 September 1969 dengan menyatakan bahwa, “kami (keluarga Saud) adalah keluarga Yahudi. Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhan kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia adalah merupakan sumber awal Yahudi dan nenek moyangnya, lalu menyebar ke seluruh dunia”.

Pernyataan ini keluar dari lisan Raja Faisal As Saud bin Abdul Aziz. Begitu pun Hafez Wahabi, penasehat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul ‘Semenanjung Arabia’ bahwa Raja Abdul Aziz yang mati tahun 1953 mengatakan: “pesan kami (pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi (lawan) dari suku-suku Arab, kakekku, Saud Awal menceritakan saat menawan sejumlah Sheikh dari suku Mathir dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk meminta membebaskan semua tawanannya. Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian memalukan mereka dan menurunkan nyali para penengah (orang yang ingin membuat negosiasi) dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan. Makanan yang disediakan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan ditempatkan di atas piring”. Para penengah atau negosiator itu pun menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri. Karena mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itu kejahatan yang sangat mengerikan yang dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa karena kesalahan mereka menentang kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.

Hafez Wahabi selanjutnya menyatakan bahwa berkaitan dengan kisah berdarah nyata yang menimpa Sheikh suku Mathir dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz As Saud, yaitu Faisal Ad Darwis, juga bukan isapan jempol semata. Diceritakan kisah (pembunuhan Ad Darwis) tersebut kepada utusan suku Mathir dengan maksud untuk mencegah mereka agar tidak meminta pembebasan pimpinan mereka. Jika tidak, akan diperlakukan sama. Kesalahan Faisal Darwis waktu itu hanya karena dia mengkritik Raja Abdul Aziz As Saud, yaitu ketika Raja menandatangani dokumen yang disiapkan penguasa Inggris pada tahun 1922 sebagai pernyataan memberikan Palestina kepada Yahudi. Tanda tangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al Qir tahun 1922.

Jumat, 03 Juli 2015

Epos Qasim bin Hasan (as)


Oleh Farida Gulmohammadi (penulis dari Republik Islam Iran)

Pada malam Asyura, Imam Husain as telah memberitahu para sahabatnya bahwa mereka besok akan syahid. "Kalian semua besok akan terbunuh." Ujar beliau. Saat itu, Qasim bin Hasan bin Ali as, seorang remaja rupawan datang menghadap Imam Husain as. "Paman," ujar putera Imam Hasan as itu, "apakah aku juga akan terbunuh?" Pertanyaan ini membuat sang Imam terharu dan segera memeluk erat kemenakannya itu, lalu bertanya: "Qasim, bagaimanakah engkau memandang kematian?" Anak yang baru beranjak usia remaja itu menjawab: "Kematian bagiku adalah lebih manis daripada madu."[1] Mendengar jawaban ini, Imam segera memberitahu: "Kamu akan terbunuh setelah terjadi bencana besar, dan bahkan Ali Asghar pun juga akan terbunuh."

Pada hari Asyura, saat sudah mempersiapkan diri untuk berperang, Qasim pergi menghadap pamannya untuk mengajukan sebuah permohonan. "Paman, izinkan aku untuk ikut berperang." Namun Imam menjawab: "Kamu bagiku adalah cindera mata dari kakakku,[2] maka bagaimana aku dapat merelakan kematianmu?" Sikap Imam Husain as ini tidak memudarkan semangat Qasim. Dia tetap memohon lagi agar beliau membiarkannya bertempur melawan musuh. Namun Imam tetap menahan kepergian Qasim. Remaja tampan ini bersedih lalu terduduk seorang diri sambil berenung penuh duka cita. Di saat itu tiba-tiba dia teringat pada pesan ayahnya dulu, Imam Hasan as. Saat masih hidup, kepada Qasim, Imam Hasan pernah berpesan: "Jika nanti suatu penderitaan sedang menimpamu, maka bukalah catatan yang kamu ikatkan di lenganmu, lalu bacalah dan amalkanlah."[3]

Qasim kemudian berpikir-pikir lagi tentang musibah sedemikian besar yang belum pernah dia alami sebelumnya. Dari situ dia lantas merasa bahwa sekarang inilah saatnya dia membaca surat wasiat itu. Surat itu dibukanya dan di situ dia mendapatkan pesan ayahnya yang mengatakan: "Hai Qasim, aku berpesan kepadamu bahwa jika kamu mendapati pamanmu Husain di Karbala dalam keadaan terasing dan kerumuni oleh musuh, maka janganlah kamu tinggalkan jihad, dan jangan sampai kamu enggan mengorbankan jiwamu deminya."[4] Qasim lalu membawa pesan tertulis itu kepada Imam Husain as. Imam Husain as terharu dan menangis begitu menyaksikan ciri khas tulisan kangan kakak yang amat dicintainya itu, lalu berkata kepada Qasim: "Jika ayahmu telah berwasiat demikian kepadamu, maka saudaraku Hasan itu juga pernah berwasiat suatu hal kepadaku sehingga akupun sekarang harus menikahkan puteriku Fatimah denganmu."

Imam meraih tangan Qasim dan membawanya ke dalam tenda. Beliau bertanya kepada semua orang dan para pemuda yang ada di sekitarnya: "Adakah pakaian bagus untuk aku kenakan kepada Qasim?" Semua orang menjawab tidak. Imam lalu meminta adiknya, Hazrat Zainab, supaya mengambilkan beberapa potong pakaian peninggalan Imam Hasan as dari sebuah peti. Setelah pakaian itu didatangkan, beliau mengenakan serban dan gamis Imam Hasan itu kepada Qasim lalu meng-akad nikahkan Fatimah dengannya. Begitu selesai, Imam berujar kepada Qasim: "Hai puteraku, adakah sekarang kamu siap melangkah menuju kematian?"[5] Qasim menjawab: "Entahlah paman, bagaimana aku harus pergi meninggalkanmu seorang diri tanpa pelindung dan kawan diantara sekian banyak musuh. Yang pasti, jiwaku jiwaku siap berkorban untuk jiwamu, diriku siap melindungi dirimu.[6]"

Setelah kembali mengajukan permohonan dengan amat sangat untuk berperang, Imam Husain as akhirnya rela melepaskan Qasim berperang melawan musuh. Beliau menyobek serbannya menjadi dua potong, satu untuk beliau pakai lagi untuk serban, selebihnya beliau kenakan dalam bentuk kain kafan. Setelah menyerahkan sebilah pedang kepada Qasim, Imam pun melepaskan kepergiannya ke arah musuh yang tak sabar menanti korban-korban suci selanjutnya.

Di medan pertempuran, Qasim sang remaja suci itu menyorot tajam mata Umar bin Sa'ad kemudian menumbuknya dengan kata-kata: "Hai Umar, masihkan kamu tidak takut kepada Allah?! Apakah kamu tetap saja mengabaikan hak Rasulullah?! Lantas bagaimana kamu bisa mengaku sebagai seorang muslim sementara kamu memblokir sungai Eufrat agar putera dan Ahlul Bait Rasul yang berteriak-teriak kehausan itu tidak dapat meneguk airnya?!" Dengan angkuhnya Umar bin Sa'ad menjawab: "Aku hanya akan membiarkan kalian meminum airnya jika kalian menanggalkan sikap kalian." "Oh tidak, terima kasih, (kami tidak akan meminumnya)." Sergah Qasim.

Saat menatap wajah-wajah musuh yang berjajar di depannya, putera Imam Hasan as itu sempat mengucapkan sebuah syair tentang jiwanya yang sudah membaja dan tak kenal kata gentar itu. Syair itu berbunyi: "Jika kalian belum mengenalku, maka ketahuilah bahwa akulah putera Al-Hasan, cucu Nabi Al-Mustafa, manusia kepercayaan (Allah). Dan ini adalah Husain yang sedang menderita bagai tawanan yang disandera di tengah orang-orang."[7]

Meski usianya masih beliau, Qasim akhirnya mementaskan kehebatan ilmu perang yang dikuasainya di atas gelanggang sejarah heroisme Karbala. Sejumlah musuh jatuh bergelimpangan setelah menikmati kerasnya sabetan pedang Qasim. Syaikh Mufid ra dalam kitabnya, Al-Irsyad, meriwayatkan dari Hamid bin Muslim yang berkata: "Saat itu aku berada di tengah pasukan Ibnu Sa'ad. Aku menyaksikan seorang remaja belia yang wajahnya sangat rupawan dan bersinar bagai purnama. Dia mengenakan pakaian dan izar (semacam sarung). Kakinya mengenakan sepasang sandal yang tali satu diantaranya sudah terputus. Menyaksikan remaja itu, Amr bin Sa'ad Al-Izadi berkata: ' Demi Allah, aku memperlakukannya dengan kasar dan membunuhnya.'[8] "Aku berseru: 'Subhanallah! Kehendak macam apakah yang kamu katakan ini?! Orang sebanyak itu dan kini sedang mengelilinginya itu sudah cukup untuk membantainya. Lantas untuk apa kamu mau ikut-ikutan menghabisinya?!'

"Saat aku masih berpikir demikian, seekor kuda tiba-tiba menerjang kemudian disusul dengan hantaman pedang yang mengena bagian kepala anak yang sedang teraniaya itu. Kepalanya terkoyak sehingga Qasim tersungkur ke tanah dan berteriak: 'Oh paman, aku haus, aku dahaga. Beri aku seteguk air minum!' "Hazrat Husain bin Ali dari jauh mencoba memberinya semangat dan ketabahan hati, sementara pasukan musuh terus mengerubungi sambil menganiayanya secara bertubi-tubi. Saat mereka hendak memenggal kepalanya, remaja belia itu merintih dan meminta diberi kesempatan untuk mengucapkan suatu wasiat kepada seseorang. Namun, saat dia tidak melihat siapapun di dekatnya kecuali kuda tunggangannya. Maka, ditujukan kepada kudanya itu dia berkata: "Katakanlah kepada puteri pamanku, sesungguhnya aku terbunuh dalam keadaan dahaga seorang diri. Maka, jika kamu meminum air, ingatlah aku dan ratapilah aku, dan jika (di sini) kamu hendak mewarnai kukumu dengan sesuatu, maka warnailah dengan darahku."[9]

Dalam keadaan tak berdaya itu, Qasim dipenggal oleh musuh. Kepalanya terpisah dari badan. Menyaksikan pemandangan sedemikian biadab itu, Imam Husain as segera menerjang barisan pasukan musuh. Bagaikan elang yang menukik dari angkasa saat memburu mangsa, Imam Husain as menerobos gerombolan musuh dan mengincar manusia liar yang telah memenggal kepada kepala Qasim. Begitu manusia biadab berama Amr bin Sa’ad itu terlihat di depan beliau, Imam Husain as segera membabatkan pedangnya ke arah Amr. Amr pun mengerang kesakitan begitu melihat tangannya sudah terpisah dari pangkal lengannya akibat sabetan pedang Imam Husain as. Namun, tanpa ampun lagi, diiringi gelegar suara Imam Husain as yang menggetarkan nyali pasukan musuh yang ada di sekitarnya, Amr bin Sa’ad mendapat serangan kedua kalinya dari pedang Imam. Manusia sadis itu terhempas dari kudanya. Dalam keadaan bermandi darah dia pun sekarat dan mati.

Debu yang beterbangan pun reda. Di saat musuh tercengang, Imam mendekati dan meraih kepala Qasim dan memeluknya jasadnya yang tak bernyawa itu. Imam berucap: “Demi Allah, adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi pamanmu untuk tidak memenuhi panggilanmu jika kamu memanggilnya, atau memenuhinya tetapi tidak berguna untukmu.”[10] Hai Puteraku, orang-orang kafir telah membunuhmu. Mereka tidak tahu siapa kamu, ayahmu dan kakekmu.”[11]

Gugurnya Qasim di medan jihad tak urung disambut dengan jerit tangis histeris isteri yang baru saja dinikahinya. Ratapan histeris juga datang dari ibu Qasim. Mereka melumuri wajah mereka dengan darah suci Qasim sambil menangis tanpa henti hingga kemudian dengan hati pilu Imam Husain as meminta mereka untuk tabah di depan cobaan yang amat besar ini. Beliau kemudian membawa jenazah suci Qasim ke dalam tenda yang khusus untuk dibaringkan di sisi jenazah para syuhada sebelum Qasim. Dengan wajah yang tak dapat membendung luapan duka, beliau menatap ke arah langit dan berucap: “Ya Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, Engkau tahu bahwa orang-orang (Kufah) itu telah mengundangku untuk mendukungku. Namun sekarang mereka telah melepaskan tangan dariku, kemudian menjabat tangan musuhku. Mereka membantu musuh dan bangkit memerangiku. Ya Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, binasakanlah mereka, ceri beraikan mereka hingga tidak ada lagi satupun diantara mereka yang tersisa.  Laknat Allah atas para pembunuh kalian (para syuhada).”

Di Karbala, saat putera-putera ksatria Ali bin Abi Thalib as tidak tersisa lagi kecuali Imam Husain as dan Abu Fadl Abbas, Abul Fadhl Abbas datang menghampiri kakaknya, Imam Husain as dan berkata:” “Turbunuhya para sahabat dan kerabatku kini telah membuatku tak kuasa lagi menahan rasa sabar. Maka izinkan aku untuk membalas darah mereka.” Saudara-saudara Imam Husain as yang sudah maju ke depan dan membawa bendera perlawanan sebelum Abul Fadhl Abbas ialah Abdullah, Jakfar, dan Ustman. Mereka sudah gugur mendahului Abul Fadhl Abbas hingga akhirnya tibalah giliran Abul Fadhl Abbas sendiri untuk melakukan perlawanan di atas pentas peperangan yang sebenarnya lebih merupakan panggung pembantaian itu.

Catatan:
[1] Sugand Nameh hal.284
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ramzul Mushibah juz 2 hal.190
[5] Anwar Assyahadah hal.126
[6] Ibid hal 125
[7] Ramzul Mushibah juz 2 hal.191
[8] Anwar Assyahadah hal.126
[9] Ibid hal.127
[10]Biharul Anwar juz 45 hal.35
[11] Anwar Assyahadah hal.182