Jumat, 02 Oktober 2015

Teladan Pemimpin



Oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Radar Banten, 07 Juni 2014)

Dalam Sad Pand va Hekayat Imam Ali diceritakan seorang perempuan tua dengan fisik yang lemah sedang mengangkat tempat air besar. Dengan terseok-seok dan napas yang terengah-engah perempuan tua itu melangkah menuju rumahnya. Tiba-tiba ada seorang pria tak dikenal mendekatinya dan menawarkan untuk membawakan tempat air yang berat itu. Perempuan tua itu menggerakkan bibirnya dan berterima kasih kepada Allah Swt. Ia kemudian berkata pada pria yang tak dikenal itu, “Allah mengirim engkau untuk menolongku. Insya Allah, engkau akan mendapatkan pahala dari perbuatanmu ini dari Allah.” Rumah perempuan tua itu tidak terlalu jauh. Ketika sampai, perempuan tua itu membukakan pintu. Anak-anaknya yang masih kecil begitu gembira setelah tahu ibu mereka telah kembali. Tapi rasa ingin tahu membuat mereka bertanya-tanya siapa orang asing ini.

Pria tak dikenal itu kemudian meletakkan tempat air di tanah dan bertanya kepada perempuan itu, “Jelas bahwa tidak ada pria di rumah ini, sehingga engkau sendiri yang mengangkat air. Apa yang terjadi sehingga engkau tinggal sendiri?” Perempuan itu menarik napas panjang dan berkata, “Suamiku dulunya adalah seorang pejuang. Ia berperang bersama Ali bin Abi Thalib dalam sebuah perang dan di sana ia meninggal. Ia meninggalkan saya dengan beberapa orang anak.” Mendengar ucapan perempuan tua, pria tak dikenal itu tidak dapat berkata apa-apa. Tapi dari wajahnya terlihat ia begitu sedih. Ia hanya bisa menundukkan kepala, kemudian meminta diri dan pergi dari situ. Tapi tidak berapa lama ia kembali ke sana sambil membawa sejumlah makanan.

Perempuan tua itu mengambil makanan dari pria tak dikenal itu dan berkata, “Semoga Allah meridhaimu!” Pria asing itu berkata, “Saya ingin membantu pekerjaanmu. Perkenankan saya membuat adonan roti, membakarnya atau menjaga anak-anak ini.” Perempuan itu berkata, “Baiklah! Jelas saya lebih baik dalam membuat adonan roti dan membakarnya. Engkau mengawasi anak-anak, sampai aku selesai membakar roti.” Pria asing itu menerima dan pergi menemui anak-anak itu. Tapi sebelum itu ia menghampiri bungkusan yang dibawanya dan mengambil daging lalu membakarnya. Setelah matang, dengan sabar ia menyuapi anak-anak itu. Ia berkata, “Anak-anakku! Relakanlah Ali bin Abi Thalib, bila ada kekurangan yang dilakukan terkait kalian…”

Adonan roti telah siap. Perempuan tua itu berkata, “Wahai hamba Allah! Nyalakan api untuk membakar roti ini…” Pria itu beranjak dari tempatnya dan pergi untuk menyalakan api. Tungku telah menyala. Air mata telah menggenang di pelupuk mata pria asing itu. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke api sambil berkata, “Rasakan panasnya api! Inilah balasan orang yang tidak mengurusi anak-anak yatim dengan baik dan tidak tahu kondisi para wanita yang menjanda…” Pada waktu itu, ada tetangga perempuan yang rumahnya bersebelahan dengan perempuan tua itu datang ke rumahnya. Ketika ia melihat pria tak dikenal itu, dengan segera ia menghadapi perempuan tua itu dan berkata, “Celakalah engkau! Tahukah siapa pria yang engkau perbantukan ini?”

Perempuan tua itu terkejut dan berkata, “Tidak. Saya tidak mengenalnya. Ketika hendak kembali ke rumah saya bertemu dengan dia dan langsung menawarkan diri untuk membantu saya.” Tetangganya berkata, “Pria itu adalah Ali bin Abi Thalib, Amir al-Mukminin!” Begitu mengetahui pria asing yang membantunya adalah Ali bin Abi Thalib, perempuan tua itu langsung menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia mendekati pria itu dan berkata, “Wahai pria penolong! Maafkan saya yang tidak mengenalmu dan memintamu untuk membantuku.” Imam Ali berkata, “Tidak! Saya yang harus meminta maaf kepadamu. Karena saya tidak melaksanakan kewajibanku dengan baik kepadamu dan anak-anak yatim ini.”

Setelah itu, Imam Ali secara berkala mendatangi rumah perempuan tua itu dan menanyakan keadaan mereka, sambil membantu makanan dan uang sesuai kemampuan beliau kepada mereka. Cerita atau tarikh Islam ini menyarikan inti saripati tentang keteladanan seorang pemimpin yang peduli dan menyatu dengan rakyatnya. Pemimpin yang peduli dan terlibat, dan tak hanya duduk di kursi atau meja “kepemimpinannya” semata.

MAHKOTA SEJATI PEMIMPIN
Yang barangkali juga penting untuk disimak adalah bahwa saat terjadi krisis politik, Imam Ali Bin Abi Thalib berjanji untuk meredam pemberontakan Muawwiyah Bin Abu Sufyan, meski ada perasaan terpaksa dalam hati Imam Ali Bin Abi Thalib. Itu semua karena menurutnya dan menurut mayoritas kaum muslim pada masa itu pembangkangan Muawwiyah Bin Abu Sufyan lebih karena motif haus kuasa dan sifat tamak, alias bukan atas dasar cita-cita kemaslahatan ummat, tetapi lebih karena ambisi pribadi semata. Muawwiyah Bin Abi Sufyan sendiri memang dikenal haus kuasa dan tak segan menggunakan segala cara, hingga istana pribadinya semegah istana kekaisaran Persia dan Romawi. Berbeda dengan para sahabat di era awal Islam, semisal Abu Dzar al Ghifari dan Salman al Farisi yang hidup sederhana, misalnya.

Pada suatu hari, misalnya, seorang Yahudi dari Bait al Maqdis hampir tak percaya ketika berkunjung ke Madinah. Rasa heran orang Yahudi itu tak lain karena ia tak mendapati istana megah khalifah. Karena rasa herannya itu, ia pun bertanya kepada salah seorang penduduk Madinah yang ditemuinya: “Di manakah istana khalifah?” Mendengar pertanyaan pengunjung Yahudi itu, salah-seorang penduduk Madinah pun menjawab: “Istana khalifah ar Rasyidin adalah di akhirat kelak”. Mendengar jawaban salah-seorang penduduk Madinah tersebut, sang pengunjung Yahudi itu pun kembali bertanya: “Apakah khalifah ar rasyidin mengenakan mahkota di kepala? Dan adakah mahkota khalifah terbuat dari emas atau berlian?” “Mahkota khalifah ar rasyidin adalah mahkota budi pekerti dan sikap amanah.” Begitulah salah-seorang penduduk Madinah menjawabnya.

Bagi kita saat ini, ilustrasi tersebut tak ragu lagi mengandung sindiran atas budaya dan perilaku korupsi yang masih menjalar di negeri ini. Di sisi lain, ilustrasi tersebut juga menggambarkan keteladanan dan kesederhanaan para sahabat seperti yang telah disebutkan, yang juga memang dikenal sebagai para pemimpin yang berusaha hidup sederhana, agar mereka yang miskin dan kekurangan mendapatkan kesepadanan dalam diri para pemimpin mereka, sekaligus tidak merasa iri dan cemburu kepada para pemimpin mereka. Selain sederhana, mereka juga dikenal sebagai para pemimpin yang tahu kebijakan apa dan kapan sebuah kebijakan politik mesti dilakukan dengan keras atau tidak. Tentu saja, dengan berpegang pada sikap adil dan benar. Ketegasan mereka didasarkan kepada rasa keadilan, begitu pun ketika mereka harus mengambil keputusan dan kebijakan politik yang keras, semisal perang, tak lain dalam rangka menegakkan keadilan dan stabilitas ummat itu sendiri.

Jika demikian, selain mereka juga dikenal sebagai para pemuka agama, mereka pun para negarawan, yang seperti banyak diceritakan, bahkan keterpilihan Ali Bin Abi Thalib, misalnya, menjadi khalifah tidak didasarkan kepada keinginan pribadi, tapi atas permintaan ummat. Tak hanya itu, Ali Bin Abi Thalib bahkan tetap bertanya kepada jamaah bila saja ada kaum muslim yang tidak setuju kepada dirinya yang didesak sebagai khalifah.

Dalam hal yang demikian itu, dapat dikatakan, dipilihnya seseorang untuk menjadi seorang pemimpin mestilah karena keinginan dan kesepakatan rakyat dalam ummat itu sendiri, bukan atas dasar desakan pribadi seseorang yang ingin menjadi penguasa, semisal dicontohkan dengan sosok Muawwiyah Bin Abi Sufyan yang haus kuasa dan ingin menjadikan dirinya sendiri sebagai kaisar, laiknya seorang Kaisar Persia atau seorang Kaisar Romawi. Berbeda dengan khalifa ar rasyidin yang tidak memiliki mahkota di kepala mereka, Muawwiyah Bin Abi Sufyan memahkotai dirinya sendiri sebagaimana para kaisar Persia dan Romawi mengenakan mahkota.


Muawiyyah Bin Abi Sufyan, dengan begitu, merupakan kebalikan 180 derajat dari keteladanan dan kesederhanaan yang dicontohkan para figur Islam teladan, semisal Abu Dzar al Ghifari dan Salman al Farisi. Pun, kita tahu, di jaman Muawwiyah itulah budaya dan perilaku korupsi mulai merebak dalam lingkup kekuasaan dan pemerintahan. Rupa-rupanya, sikap dan perilaku hidup yang kontras berbeda antara para sahabat teladan dan Muawwiyah Bin Abu Sufyan itu juga menjadi pengaruh faktor budaya dan politik yang juga sangat bersebrangan. Sementara, di jaman Muawwiyah Bin Abi Sufyan, acapkali korupsi para gubernur tetap dibiarkan sepanjang gubernur tersebut patuh kepada Muawiyah. Sedikitnya, situasi di jaman Muawwiyah Bin Abi Sufyan itu agak mirip dengan di jaman orde baru, juga ketika korupsi seakan-akan dibiarkan, yang memang demi melanggengkan kepatuhan para pejabat dan birokrat kepada Soeharto.

Jumat, 04 September 2015

Kisah Mordakhai di Semenanjung Arabia atau Sejarah Berdarah Klan Saud dan Wahabi




Oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair (Dipublikasi secara bersambung di harian Tangsel Pos pada 12 dan 13 Agustus 2014)

Di masa yang jauh, yaitu tepatnya di Najd tahun 851 H, ada sekelompok pria dari Bani Al Masalikh keturunan dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makanan lain dari Iraq dan membawanya kembali ke Najd. Direktor perdagangan ini bernama Sahmi bin Hathlul. Kelompok dagang ini melakukan kegiatan bisnis mereka sampai ke Basra, disana mereka bertemu dengan seorang pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe. Ketika sedang terjadi proses tawar menawar, si Yahudi itu bertanya kepada kafilah dagang itu, “dari mana Anda berasal?” Mereka menjawab, “dari kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al Masalikh”. Setelah mendengar itu, orang Yahudi itu menjadi gembira dan mengaku bahwa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama tetapi terpaksa tinggal di Basrah, Irak karena perseteruan keluarga antara ayahnya dan anggota keluarga kaum Anza.

Syahdan, setelah itu, Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan karung-karung berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal demikian adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al-Masalikh tersebut dan menunjukkan kegembiraannya karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Bagi pedagang Yahudi itu, kafilah dagang merupakan sumber pendapatan dan hubungan bisnis. Mordakhai adalah saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyi di balik wajah Arab dari kabilah Al Masalikh. Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, si Yahudi ini meminta diizinkan untuk bersama mereka karena sudah lama dia ingin pergi ke tanah asal mereka, Najd. Setelah mendengar permintaan pria Yahudi itu, kafilah dagang suku Anza ini pun senang dan menyambutnya dengan gembira. Pedagang Yahudi yang sedang menyamar itu pun tiba di Najd dengan pedati-pedatinya (kendaraan tunggangan).

Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, teman dagang dan teman-teman dari Bani Al Masalikh yang baru dikenalnya. Setelah itu, di sekitar Mordakhai berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tapi, tanpa disangka dia berhadapan dengan seorang ulama ‘yang menentang doktrin dan pahamnya’. Dialah Sheikh Salman Abdullah At Taimi seorang ulama karismatik dari daerah Al Qasem. Daerah-daerah yang menjadi lokasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman dan Hijaz.

Karena suatu alasan tertentu, si Yahudi Mordakhai (yang menurunkan keluarga Saud itu), berpindah dari Al Qasem ke Al Ihsa. Di sana dia merubah namanya dari Mordakhai ke Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menetap di sebuah tempat bernama Dlir’iya dekat Al Qateef. Di sana dia memaklumatkan propaganda dustanya bahwa perisai Nabi saw telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang kuat musyrikin pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan umat Islam. Katanya, “perisai itu telah dijual oleh Arab Musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Bani Qainuqa’ yang menyimpannya sebagai harta karun”.

Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi. Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir’iya dekat Al Qateef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai situs atau batu loncatan guna mendirikan negara Yahudi di tanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badui untuk memperkuat posisinya, kemudian secara perlahan dia memberitakan dirinya sebagai raja kepada mereka. Kabilah Ajaman dan kabilah Bani Khaled yang merupakan penduduk asli Dlir’iya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menentang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Mereka menangkap Yahudi itu dan menawannya, namun berhasil meloloskan diri.

Saudagar keturunan Yahudi ini mencari suaka di sebuah peternakan bernama Al Malibed Ghusaiba yang dekat dengan Al Arid (sekarang Riyadh). Di sana dia meminta suaka kepada pemilik kebun tersebut untuk menyembunyikan diri dan melindunginya. Tuan kebun itu sangat simpati lalu memberikan tempat kepadanya untuk berlindung. Tetapi, tidak sampai sebulan tinggal di rumah pemilik kebun itu, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan kebun bersama keluarganya. Sungguh tak tahu adat, memang, air susu dibalas dengan tuba. Ketika itu, Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menerobos masuk rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya pembantaian tersebut.

Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al Dlir’iya yaitu nama tempat dari mana dia diusir dan sudah ditinggalkannya. Kemudian Mordakhai dengan cepat mendirikan sebuah markas dan tempat pertemuan bernama ‘Madaffa’ di atas tanah yang dirampasnya tersebut. Di markaz inilah ia mengumpulkan para pahlawan dan kepala-kepala propaganda (kaum Munafiq) yang selanjutnya mereka jadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syekh kepada orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh gendang perang terhadap Sheikh Shaleh Salman At Taimi, sang musuh tradisionalnya. Akhirnya, Sheikh Salman tewas di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al Zalafi.

Mordakhai pun berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil membuat Dlir’iya sebagai pusat kekuasaannya. Di tempat itu pulalah dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian diberi nama dengan nama-nama Arab. Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir’iya di bawah bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan kejahatan, menggalang beragam konspirasi untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan perampokan tanah dan ladang penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana mereka. Dengan beragam cara dan trik, mereka melancarkan aksinya. Memberikan suap, memberikan pemikat-pemikat wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan mereka ‘menutup mulut dan membelenggu tangan’ para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis keturunan mereka kepada kabilah Rabi’a, Anza dan Al Masalikh tersebut.

KELOMPOK WAHABI
Dan begitulah selanjutnya, seorang bernama Muhammad Amin At Tamimi (director/manager Perpustakaan Kontemporer Kerajaan Saudi) menyusun garis keturunan (Family Tree) untuk keluarga Yahudi (keluarga Saudi) ini dan menghubungkan keturunan mereka kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagai imbalannya, ia mendapat sebesar 35.000 pound Mesir dari Duta Besar Saudi Arabia di Kairo, Mesir pada tahun 1362 H / 1943 M. Nama duta besar ini adalah Ibrahim Al Fadel. Seperti telah disebutkan di atas, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) yang berpoligami dengan wanita-wanita Arab tersebut telah melahirkan banyak anak. Dan saat ini, pola poligami Mordakhai dilanjutkan oleh keturunannya dan mereka bertaut pada warisan pernikahan itu. Salah seorang anak Mordakhai bernama Al Maqaran (Mack Ren) memiliki anak bernama Muhammad dan anak yang lainnya bernama Sa’ud, dan dari sinilah Dinasti Saudi saat ini berasal.

Keturunan Saud (keluarga Saud) pun memulai melakukan kampanye pembunuhan pimpinan terkemuka suku-suku Arab dengan dalih mereka murtad, mengkhianati Islam, meninggalkan ajaran Al Qur’an dan membantai mereka dengan mengatasnamakan Islam. Rakyat yang mencoba bersuara memprotes kunjungan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara ini pun akan ditembak mati dan dipenggal lehernya. Di dalam buku sejarah Keluarga Saud di halaman 98-101, misalnya, penulis pribadi sejarah keluarga Saud menyatakan bahwa Dinasti Saud menganggap semua penduduk Najd menghina Tuhan. Oleh karena itu, darah mereka halal, harta bendanya pun dirampas, wanita-wanitanya dijadikan selir, tidak seorang Muslim pun yang dianggap benar kecuali pengikut kelompok Muhammad bin Abdul Wahab.

Doktrin Wahabi memberikan otoritas kepada keluarga Saud untuk menghancurkan desa dan penduduknya termasuk anak-anak dan memperkosa wanitanya, menusuk perut wanita hamil, memotong tangan anak-anak, kemudian membakarnya. Selanjutnya mereka diberikan kewenangan dengan ajarannya yang kejam (brutal) tersebut untuk merampas semua harta kekayaan milik orang yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran agama karena tidak mengikuti ajaran Wahabi.

Keluarga Yahudi yang jahat dan mengerikan ini melakukan segala jenis kekejaman atas nama kelompok agama palsu mereka (kelompok Wahabi) yang sebenarnya diciptakan oleh seorang Yahudi untuk menabur benih-benih terror di dalam hati penduduk di kota-kota dan desa-desa. Dan pada tahun 1163 H, Dinasti Yahudi ini mengganti nama semenanjung Arab dengan nama keluarga mereka menjadi Saudi Arabia, seolah-olah seluruh wilayah itu milik pribadi mereka dan penduduknya sebagai bujang atau budak merdeka, bekerja keras siang dan malam untuk kesenangan tuannya, yaitu keluarga Saudi.

Walhasil, mereka dengan sepenuhnya menguasai kekayaan alam negeri itu seperti milik pribadinya. Bila ada rakyat biasa yang mengajukan perlawanan atas kekuasaan sewenang-wenang Dinasti Yahudi ini, dia akan dihukum pancung di lapangan terbuka. Seorang putri anggota keluarga kerajaan Saudi beserta rombongannya sekali kesempatan mengunjungi Florida, Amerika Serikat, dan menyewa 90 buah Suite Rooms di Grand Hotel dengan harga $ 1 juta semalamnya. Rakyat yang mencoba memprotes kunjungan sang puteri yang jelas menghamburkan uang Negara ini akan ditembak mati dan dipenggal kepalanya.

FAKTA MENGGEMPARKAN
Sejumlah kesaksian yang meyakinkan menyatakan bahwa keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi dan dapat dibuktikan dengan fakta-fakta berikut: Pada tahun 1960-an, pemancar radio ‘Sawtul Arab’ di Kairo, Mesir dan pemancar radio di San’a, Yaman, membuktikan bahwa nenek moyang keluarga Saud adalah dari keturunan Yahudi. Bahkan Raja Faisal tidak dapat menyanggah pernyataan itu ketika memberitahu kepada ‘The Washington Post’ pada tanggal 17 September 1969 dengan menyatakan bahwa, “kami (keluarga Saud) adalah keluarga Yahudi. Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhan kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia adalah merupakan sumber awal Yahudi dan nenek moyangnya, lalu menyebar ke seluruh dunia”.

Pernyataan ini keluar dari lisan Raja Faisal As Saud bin Abdul Aziz. Begitu pun Hafez Wahabi, penasehat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul ‘Semenanjung Arabia’ bahwa Raja Abdul Aziz yang mati tahun 1953 mengatakan: “pesan kami (pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi (lawan) dari suku-suku Arab, kakekku, Saud Awal menceritakan saat menawan sejumlah Sheikh dari suku Mathir dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk meminta membebaskan semua tawanannya. Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian memalukan mereka dan menurunkan nyali para penengah (orang yang ingin membuat negosiasi) dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan. Makanan yang disediakan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan ditempatkan di atas piring”. Para penengah atau negosiator itu pun menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri. Karena mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itu kejahatan yang sangat mengerikan yang dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa karena kesalahan mereka menentang kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.

Hafez Wahabi selanjutnya menyatakan bahwa berkaitan dengan kisah berdarah nyata yang menimpa Sheikh suku Mathir dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz As Saud, yaitu Faisal Ad Darwis, juga bukan isapan jempol semata. Diceritakan kisah (pembunuhan Ad Darwis) tersebut kepada utusan suku Mathir dengan maksud untuk mencegah mereka agar tidak meminta pembebasan pimpinan mereka. Jika tidak, akan diperlakukan sama. Kesalahan Faisal Darwis waktu itu hanya karena dia mengkritik Raja Abdul Aziz As Saud, yaitu ketika Raja menandatangani dokumen yang disiapkan penguasa Inggris pada tahun 1922 sebagai pernyataan memberikan Palestina kepada Yahudi. Tanda tangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al Qir tahun 1922.