Tampilkan postingan dengan label Galeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galeri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Februari 2021

Sulaiman Djaya | Ria Ambarsari | Serang Gawe FM

 

Forum Seniman Banten (FSB) dan Radio Serang Gawe FM Mempersembahkan ‘Panggung Solidaritas Kemanusiaan’ untuk para korban Tsunami Selat Sunda (Banten dan Lampung)….27 Desember 2018 jam tiga sore sampai jam sebelas malam di panggung kecil Radio Serang Gawe FM Jln. KH. Fatah Hasan 9B, Bunderan Ciceri, Kota Serang, Banten.

Event Director Serang Gawe FM : Martin

Program Director Serang Gawe FM: Idham Gofur
Station Director Serang Gawe FM: Fajar Ramadhan.
IT dan Design Samara: Helmi 



Senin, 01 Februari 2021

Sastra di Radio

 
Ngobrol tentang sastra khususnya puisi bersama Sulaiman Djaya dan Peri Sandi Huizche di Serang Gawe FM Kota Serang, Banten 13 September 2018 yang dipandu Robie Haikal Putra,


 

Sastra Malam di Udara atau SAMARA adalah program bincang sastra tiap Kamis pukul 20.00 -23.00 WIB di Serang Gawe FM 102.8 FM yang dikemas secara rileks dan santai, ngobrolin sastra dalam hubungannya dengan banyak hal yang ada dan hadir dalam hidup kita.

Minggu, 01 Maret 2020

Kota Serang, Kota Kecil yang Memang Kecil



oleh Sulaiman Djaya (esais & penyair)

Dari mulai memasuki kawasan Ciceri hingga alun-alun kota, berjejer barisan asmaul husna (99 nama Tuhan) sebagai penanda bahwa kota ini adalah kota muslim di sebuah provinsi yang mottonya iman-taqwa, meski seringkali para elitenya terjerat kasus korupsi dan manajemen sampahnya masih belum sepenuhnya tertata. Kota Serang benar-benar kota kecil, sebuah kota yang tak punya gedung teater atau gedung pertunjukkan dan museum seni seperti laiknya yang terdapat di kota-kota di Negara-negara lain. Di kota ini, toko buku sudah terbukti minim pembeli dan bangkrut.

Dan lucunya, pusat perbelanjaan Ramayana ada di samping alun-alun kota yang membuat Kota Serang kehilangan keindahan dan buruk dari segi tata-kota. Tak cuma itu, mall Ramayana yang berdekatan dengan alun-alun itu juga menyebabkan kemacetan. Keberadaan pusat perbelanjaan itu sejak Kota Serang masih termasuk Kabupaten Serang (sebelum pemekaran) dibawah pimpinan Taufik Nuriman yang diusung PKS dan populer karena bisnis pengerukan pasirnya. Jadi, jangan berharap anda akan mendapatkan wahana berbudaya di kota yang ingin menampilkan dirinya religius secara permukaan ini.

Jika tak ada komunitas-komunitas seni dan edukasi yang didirikan dan digerakkan secara sukarela oleh mereka yang mencintai kerja kebudayaan, jangan harap anda akan menemukan kebudayaan di kota kecil yang secara keagamaan sangat kurang mengapresiasi kecerdasan estetik ini. Anda harus menjadi ‘penggerak’ dan ‘pejuang’ untuk membuat kehidupan intelektual dan kebudayaan tetap ada. Seperti yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra dan mereka yang mengadakan pameran-pameran kesenian serta mereka yang mengadakan panggung dan pementasan.

Secara arsitektural, memang masih terdapat banyak bangunan dan gedung-gedung peninggalan Belanda, semisal kawasan Museum Negeri Banten, Polres Serang Kota, dan yang lainnya, sementara yang lainnya merupakan kawasan dan gedung-gedung yang jauh lebih tua seperti kawasan-kawasan yang dihuni orang-orang Cina yang sudah ada sejak era Kesultanan Banten. Pusat perbelanjaan tradisional yang terkenal di kota ini ada tiga: Kawasan Royal, Pasar Rau, dan Pasar Lama yang juga populer sebagai pusat kelapa.

Di sisi lain kota tentu ada pusat-pusat belanja seperti Carrefour di Ciceri, Mall of Serang di Kemang, dan Ramayana seperti yang telah disebutkan yang gedungnya dulunya adalah markas komando militer. Tak lupa pula, dua universitas ternama di Banten pun ada di kota ini: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa di Pakupatan yang bersebelahan dengan Terminal Pakupatan dan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Ciceri yang bersebelahan dengan Carrefour yang berhadapan dengan McDonald di seberangnya.

Tak lupa juga, di kota ini Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) berada sebagai kawasan khusus tersendiri yang sepertinya dalam rangka mengembangkan kawasan baru sebagai perluasan area perkotaan dan sebagai ikon Banten kedua setelah kawasan Kesultanan Banten yang merupakan kawasan wisata dan ikon sejarah kebanggaan Banten yang telah direnovasi dan diperbarui sejak terpilihnya Wahidin Halim sebagai Gubernur Banten menggantikan gubernur sebelumnya, Rano Karno.

Sebagai apresiator dan penikmat seni dan hidup-kerja intelektual dan kebudayaan, saya tergelitik untuk mengajukan pertanyaan: Bagaimana hidup di kota kecil seperti Kota Serang? Jika anda seorang apresiator atau penikmat seni dan kerja-kerja kebudayaan, maka anda takkan mendapatkan apa yang anda inginkan karena apa yang anda harapkan itu jarang ada. Apalagi yang diadakan oleh pemerintah kota atau pemerintah provinsi. Mungkin karena hal itu pula, kunjungan wisata dari pelancong mancanegara di Kota Serang sangat rendah untuk dikatakan tidak ada. Yah karena itu tadi, tak ada kehidupan kebudayaan selain tak ada pilihan menarik selainnya bagi mereka yang ingin mendapatkan suasana berbeda dari tanah air mereka.

Tersiar kabar pula bahwa Gubernur Banten pengganti Rano Karno, yaitu Wahidin Halim, kurang memiliki respek dan apresiasi pada kehidupan dan kerja yang sifatnya estetik dan gerak kebudayaan. Teman saya bahkan menilainya seorang ‘puritan’. Sementara bagi para penghuninya sendiri, bagaimana mungkin sebuah kota menjadi menarik ketika sebuah kota tak sanggup memenuhi kebutuhan ruhaniah warganya? Ketersediaan ruang publik juga sangat minim, seperti tidak adanya taman dan area hijau yang dapat menjadi wahana bermain dan rekreasi warga atau penduduk sebuah kota.

Tapi anda tak perlu khawatir dan tak harus terlalu kecewa. Panggung dan pertunjukkan seni kadang-kadang disediakan dan diadakan di kafe-kafe kopi dan di area tongkrongan anak-anak muda. Biasanya yang menyelenggarakan dan mengadakan adalah anak-anak muda dari komunitas sastra, para pegiat teater, dan para pekerja budaya lainnya seperti grup-grup musik lokal. Saya katakan kadang-kadang karena memang belum bisa dikatakan rutin dan sering. Tapi untung loh masih ada dibanding tak ada sama sekali.

Sesekali, perhelatan dan pertunjukan seni diadakan di alun-alun kota, meski alun-alun itu lebih sering digunakan untuk panggung musik pop serta dangdut dan untuk tabligh akbar atau acara-acara partai politik. Yah boleh dibilang, seperti lazimnya, penguasa kota tentu-lah adalah mereka yang menjadi penguasa kapital. Karena itu wajar saja jika yang paling sering menggunakan fasilitas alun-alun kota adalah para penguasa dan pelaku industri kebudayaan pop. Ada pun mereka yang bergelut dalam kerja estetik dan literer kebudayaan biasanya mengadakan hajatnya di markas-markas komunitas-komunitas mereka atau di kafe-kafe kopi.



Kamis, 14 November 2019

Citra Kota dalam Dua Puisi


MALAM AKASIA
(puisi Vitezlav Nezval)

Hidup cuma punya dua tiga hari ciuman
lalu pohon gigih ini digelantungi beratus lebah dan bunga
waktu malam bulan Juni. Jika akasia merekah
dan lagu sungai berlecut tasbih lampu-lampu
dan mewangi karena perempuan-perempaun mandi,

jalan-jalan raya tiba-tiba melebar
dan berkilau bagai salon-salon kecantikan.
Titian bergantungan dan manik-manik cahaya melingkup air
di mana aku melangkah: taman gaib
berantuk dengan peziarah.

Orang-orang pergi ke tempat memadu hati
dengan kebun-kebun dan jalan-jalan,
lapangan-lapangan luas dan bulevard.
Karena mabuk aku lupa
pada lorong-lorong tua Nove Mesto
yang dinding-dindingnya kelabu dan kini perkasa
memiliki kedaulatan sebuah mahligai.

Oh malam akasia, malam agung dan kelembutan
yang menggoda, jangan pergi! biarkan aku selamanya
dahaga cinta dan kota Praha; jika berakhir bulan Juni,
singkat seperti cinta dan ranum tubuh.

Oh malam akasia, jangan berlalu, sebelum kutiti
seluruh jembatan Praha; bukan mencari siapa-siapa,
bukan juga kawan, bukan perempuan, bukan diriku sendiri.
Oh malam pemilik jejak peziarahan musim panas
tak juga kunjung pada kerinduanku bernafas dalam rambutmu;
kilau permatamu telah merasuki-ku,

kuselami air bagai si pemukat terkutuk:
mampukah kukatakan: sampai lain kali duhai malam bulan Juni
jika tak sempat lagi kita berjumpa,
hiruplah aku dalam pelukanmu,
kekasihku yang malang. 

DI KOTA TUA JAKARTA
(puisi Sulaiman Djaya)

Kota ini sebuah riwayat
Para saudagar dan syahbandar
Di hiruk-pikuk dan lalu-lalang bandar
Dari sejak Taruma
Hingga masa Hindia Belanda.

Tugu dan gedung-gedung tua
Adalah kisah penaklukan
Juga pemberontakan
Atas nama agama
Dan komoditas dagang.

Aku dan perempuan Eropa-ku
Singgah di Café Batavia
Dan aku hanya bisa tertawa
Saat ia melantunkan selagu jazz lama
Tentang kesepian dan cinta.

“Fly me to the moon……
Let me play among the stars…..”
Tapi yang kubayangkan
Adalah kepak para unggas
Di atas gugusan ranca

Sebelum noni-noni Belanda
Menyebutnya Batavia.
Di Sunda Kelapa,
Orang-orang dari ragam suku dan bangsa
Sibuk dengan pekerjaan mereka

Dan tentu saja tak ada lagi Fatahillah
Atau Pengeran Jayakarta
Meski nama mereka masih terbaca
Sekedar artefak di museum tua
Sebagaimana halnya benda-benda


Dan bangunan-bangunan lama
Yang kusam dan berkarat
Oleh waktu. Kota ini adalah riwayat
Banyak bangsa. Seperti perempuan Eropa-ku
Yang datang karena kisahnya.  




Kamis, 07 Juni 2018

Album Forum Seniman Banten

Forum Seniman Banten Membincang Strategi Kebudayaan di Padepokan Kopi Kota Serang, Banten 26 Mei 2018. 












Minggu, 13 Agustus 2017

Kolase Jambore Seniman Banten


Sejumlah kolase dan paduan fotografi acara Jambore Seniman Banten yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Banten di Anyer, Banten 4-6 Agustus 2017. 









Sabtu, 01 Juli 2017

Efek Warna, Sketsa Garapan Penyair Sulaiman Djaya











Warna sangat berpengaruh bagi seni visual, dan menjadi penentu utama tampilan figur dan komposisi seni visual. 

Selasa, 27 Juni 2017

Interior Sekretariat Dewan Kesenian Banten

Foto 1: Novia Fitria di Ruang Tamu Sekretariat Dewan Kesenian Banten.
 Foto 2: Novia Fitria di Ruang Tamu Sekretariat Dewan Kesenian Banten.
 Foto 3: Novia Fitria di Ruang Tamu Sekretariat Dewan Kesenian Banten.
 Foto 4: Novia Fitria dan Cep Ocim (RBI Banten) di Ruang Rapat Sekretariat Dewan Kesenian Banten.
 Foto 5: Novia Fitria dan Cep Ocim (RBI Banten) di Ruang Rapat Sekretariat Dewan Kesenian Banten.