Selasa, 01 Desember 2015

Topeng PKS di Balik Prabowo


Di tahun 2006, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono memberi peringatan akan adanya penyusupan gerakan radikal (Zionis-Wahabi) ke dalam partai-partai Islam. Menurut Juwono Sudarsono, gerakan radikal itu bernaung di parpol yang mengatasnamakan Islam sambil menunggu momentum radikalisasi. Atas pernyataannya itu, Menhan Juwono Sudarsono menerima badai protes dari kalangan partai, salah satunya Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tifatul Sembiring. Dia menyebut pernyataan Menhan itu hanya memberi stigma negatif partai-partai Islam (untuk kita bisa mengartikannya sebagai partai-partai yang membajak dan mengatasnamakan Islam). 

Dia menyebut Menhan telah menggunakan cara-cara Orde Baru. “Kalau memang punya bukti, langsung tunjuk hidung partai mana yang dimaksud,” tantang Tifatul Sembiring menanggapi pernyataan Menhan Juwono Sudarsono. Tak heran jika mantan presiden PKS, yang sekarang ini menjabat sebagai Menkominfo di pemerintahan SBY tersebut, bersikap sangat keras terhadap peringatan Menhan Juwuno Sudarsono di tahun 2006 itu. Bersama Hidayat Nur Wahid, Tifatul adalah peletak dasar ideologi PKS. Keduanya berasal dari gerakan Tarbiyah, yang ingin mentransplantasi ideologi politik Ikhwanul Muslimin dari Mesir dan ideologi keagamaan Wahabi dari Arab Saudi.

Berdirinya PKS berawal dari kelompok keagamaan (tepatnya gerakan Wahabisme) yang berbasis di kampus-kampus negeri (utamanya kampus-kampus sekuler yang mahasiswanya minim pengetahuan agama) pada awal 1980-an. Kelompok ini kerap disebut gerakanTarbiyah (pendidikan) atau Usroh (keluarga). Gerakan ini disebut tarbiyah karena dibangun dengan kegiatan mentoring atau pendidikan keagamaan oleh kelompok-kelompok yang dibentuk di sekitar kampus. Setiap kelompok terdiri dari 5-7 orang yang dibimbing seorang murabbi (mentor) dengan kewajiban saling menjaga satu sama lain, tak hanya dalam aktivitas belajar tapi juga dalam aspek kehidupan sehingga seperti keluarga (usroh). Bahkan, seorang murabbi juga bertugas mencarikan jodoh bagi anggotanya, tentu saja itu dilakukan dengan motif semakin mempersolid usroh tersebut. Karena mereka berpendapat, jika menikah dengan selain dengan kalangan mereka sendiri dapat dikatakan sesat. Tak mengherankan, jika dalam banyak kasus, seorang anggota usroh lebih mendengarkan seorang murabbi daripada orang tuanya sendiri. Dan belakangan, mereka pandai berpura-pura untuk dapat masuk di kalangan Nahdhiyyin dan lain sebagainya.

Perkembangan gerakan Tarbiyah Wahabi ini di Indonesia terbilang cukup pesat, sehingga dalam tempo sepuluh tahun sejak 1980, telah menyebar ke seluruh kampus-kampus ternama di Indonesia seperti UI, IPB, ITB, UGM, Unair, Brawijaya, Unhas dan lain-lain. Kelahiran dua majalah Tarbiyah Wahabi, yang terbit akhir tahun 1986, yakni Ummi dan Sabili, yang menyebarkan pemikiran-pemikiran Ikhwanul Muslimin Mesir dan Wahabisme Rezim Saud Saudi Arabia, menjadi wahana pembinaan juga sebagai media informasi dan komunikasi pemikiran Tarbiyah di Indonesia.

Gerakan tarbiyah itu berjalan secara samar-samar selama rezim Orde Baru yang terkenal otoriter dan “diktator”. Pola gerak itu mencapai titik balik pada momentum politik 1998, di mana semua kekuatan membuka diri menyambut perubahan iklim politik Indonesia, tak terkecuali kelompok tarbiyah Wahabi. Dalam iklim keterbukaan politik yang permisif terhadap semua bentuk ekspresi ideologi, para aktivis tarbiyah Wahabi memutuskan untuk mendirikan Partai Keadilan (PK). Partai berlambang bulan sabit dan pedang ini dideklarasikan 9 Agustus 1998 di Masjid Al Azhar Kebayoran Baru dengan diikuti puluhan ribu pendukungnya.

Namun, jangan Anda salah sangka bahwa keterlibatan mereka dalam pemilu demokratis adalah bentuk penerimaan terhadap demokrasi. Sama sekali bukan. Cita-cita paling tinggi mereka adalah model Rezim Politik Wahabi yang sangat keras. Bagi mereka, sistem kepartaian, nasionalisme, atau pun demokrasi, hanyalah alat sementara, cara yang bisa ditunggangi untuk mencapai tujuan membentuk negara model Rezim dan Politik dalam ideal benak dan pemikiran Wahabisme. 

Mereka menunggangi demokrasi atau pemilihan umum hanya untuk merebut kekuasaan, sampai mereka berhasil membuat misi mereka terwujud, yaitu mewujudkan Daulah atau Khilafah model Wahabi dan Bani Umayyah, meski banyak dari mereka yang tidak sadar bahkan tidak paham bahwa cita-cita daulah atau khilafah itu tidak dikenal dalam Islam. Bagaimana tidak? Azas Pancasila saja mereka tolak, dianggap sebagai azas sekuler dan kafir, dan jika ada anggotanya yang tetap menerima Pancasila, dicap futur (demoralisasi ideologi) hingga murtad bagi yang benar-benar menentang keras.

Tentu kita masih ingat ketika beberapa oknum PKS melecehkan Sang Saka Merah Putih dan Pancasila.

Niat PKS dengan ideologi politik Ikhwanul Muslimin dan paham Wahabi ini memainkan peranan “playing as friend” (Berpura-pura menjadi teman atau mitra), awalnya terlihat ramah terhadap Pancasila dan Indonesia, namun tujuan mereka sejalan dengan Hizbut Tahrir. Toh, memang penggagas Hizbut Tahrir adalah sempalan Ikhwanul Muslimin dan kaum Wahabi yang merasa gemas dengan pola ‘berpura-pura’ yang dianggap lambat mencapai tujuan politik mereka. Kedekatan PKS dan ideologi Ikhwanul Muslimin memang tak bisa dipungkiri, walau pun belakangan beberapa petinggi mereka pandai berpura-pura untuk menepis hal itu. Lihat saja reaksi mereka ketika pimpinan Ikhwanul Muslimin, Mursi digulingkan dari kursi kepresidenan di Mesir, respon solidaritas PKS sangat massif melebihi solidaritas mereka terhadap berbagai kekerasan atas umat Islam di tanah air. Anis Matta, presiden PKS juga terang-terangan menyatakan bahwa inspirasi-inspirasi Ikhwanul Muslimin memberi kekuatan pada PKS. Dari Hasan Al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, hingga Anis Matta yang terang-terangan memuja Al-Qaeda yang buatan CIA-Amerika, yang ironisnya banyak anggota PKS sendiri tidak tahu bahwa Al-Qaeda adalah buatan dan binaan CIA-Amerika, sebagaimana ISIS saat ini yang juga buatan dan binaan CIA-Amerika dan Mossad-Israel.

Seperti telah sama-sama kita ketahui, Wahabi mengasosiasikan diri sebagai kaum salaf yang mengharamkan semua bid’ah dan memahami ajaran Islam secara harfiah (peringatan Maulid, tahlilan, atau ziarah kubur diharamkan) dan menganggap yang bertentangan dengan mereka adalah kafir, meski kenyataannya mereka justru terputus dari sanad salaf. Sedangkan ikhwanul muslimin bergerak di bidang politik. Karena tujuan untuk mendirikan negara versi mereka tak lagi dapat dilakukan seperti cara NII melalui pemberontakan, tapi dengan merebut kekuasan politik. Jadi jangan heran jika dalam tubuh PKS ada Hilmi Aminuddin, putera Danu Muhammad Hasan, salah satu pemimpin gerakan Negara Islam Indonesia, Panglima NII Jawa dan Madura. Dan perkembangan mutakhir saat ini adalah mereka berusaha masuk dan mempengaruhi basis Nahdhiyyin dengan jalan pernikahan atau dengan berpura-pura tidak masalah dengan tradisi Nahdhiyyin, karena tujuan mereka adalah melakukan ideologisasi di dalam rumah tangga dan kepada istri dari basis Nahdhiyyin yang mereka nikahi.

Belajar dari kegagalan cara-cara pemberontakan mereka itu, kalangan Wahabi ini memanfaatkan alam demokrasi untuk mendirikan parpol dan merangsek masuk ke dalam birokrasi dan pemerintahan. Mereka memaksakan aturan paham mereka secara ketat hingga melanggar hak azasi warga negara yang berbeda keyakinan. Yang lebih mendekatkan Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin adalah ketidaktundukan mereka terhadap pemerintahan negara, atas nama nasionalisme. Mereka hanya akan tunduk pada negara dan pemerintahan versi mereka, dan setiap upaya mereka adalah untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Dalam mengembangkan sayap dan pengaruhnya, PKS melakukan infiltrasi ke berbagai ormas, lembaga pendidikan, instansi pemerintahan dan swasta. Bahkan di kampus-kampus, mereka memaksakan mentoring dan liqa’ untuk menyebarkan paham mereka, membuat kesepakatan dengan pihak kampus, agar mahasiswa tingkat awal mendapatkan mata kuliah dan materi dari mereka, dan minta diwajibkan untuk liqa’. Jika tidak mengikuti, maka ancaman nilai Agama Islam akan buruk dan mempengaruhi masa depan kelulusan karena mata kuliah wajib.

Bagi Muhammadiyah, PKS menuggangi amal usaha, masjid, lembaga pendidikan, dan fasilitas lainnya demi tujuan politiknya. Penolakan Muhammadiyah terhadap PKS diwujudkan dalam Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah Nomor: 149/Kep/I.0/B/2006. SKPP menyebut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai partai politik yang memanfaatkan Muhammadiyah demi kekuasaan politik. Karena itu SKPP menyerukan para anggota dan pimpinan Muhammadiyah agar membebaskan diri dari misi dan tujuan PKS. Dan pada 2006 pula, sebuah TK milik Aisyiyah Muhammadiyah di Prambanan yang telah berdiri 20 tahun hendak diubah menjadi TK Islam Terpadu. Di belakang rencana itu, ada Hidayat Nur Wahid yang saat itu menjabat Ketua MPR dan Dewan Pembina dan Pengurus Yayasan Islamic Centre yang berafiliasi dengan PKS. Tentu saja Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah keberatan dengan rencana itu. Kasus lain menunjukkan di mana PKS mengambil alih tanah masjid wakaf Muhammadiyah ketika Hidayat Nur Wahid membantu membangun fisik masjid di atasnya.

Keberadaan Kelompok Tarbiyah Ikhwanul Muslimin (PKS) di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai terkuak tatkala Farid Setiawan, pengurus Muhammadiyah wilayah Yogyakarta, menulis sebuah artikel opini di Majalah Suara Muhammadiyah. Dalam artikel berjudul “Tiga Upaya Mu’alimin dan Mu’alimat” itu Farid Setiawan mensinyalir penyusupan agen-agen garis keras di Madrasah Mualimin dan Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta. Kedua lembaga pendidikan menengah ini dikenal sebagai tempat pengkaderan ulama Muhammadiyah yang langsung dikelola oleh Pimpinan Pusat.

Di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), gerakan penyusupan paham Wahabi-Ikhwanul Muslimin demikian kuatnya, terutama lewat Fakultas Teknik, Agama Islam, dan Program Magister Agama Islam, di mana ketuanya adalah Dewan Syuro PKS, Dr. Muinudinillah, Lc., lulusan King Abdul Aziz University Arab Saudi. Yang menarik adalah, kira-kira tiga perempat mahasiswa S2 Studi Islam itu merupakan kader PKS yang dibawa oleh direkturnya dan mendapatkan beasiswa dari Kerajaan Arab Saudi yang sangat gencar menyebarkan Wahabisme.

Penyusupan ideologi PKS di forum-forum pengajian kantor pemerintah pernah menggegerkan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dan Bogor pada tahun 2006, yang saat itu dipimpin Walikota Nur Mahmudi Ismail, mantan Presiden PKS. Hasbullah Rachmad, ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Depok, mengungkapkan hal tersebut pada Desember 2006. Hasbullah memberi contoh bahwa pengajian rutin yang dibawakan guru ngaji dari Fraksi PKS di kalangan birokrasi Pemkot Depok merupakan bentuk pemaksaan. “Mereka yang ingin karirnya naik diwajibkan ikut pengajian PKS. Itu benar-benar terjadi,” kata Hasbullah.

Alangkah mengherankan dan sangat patut dipertanyakan, mengapa PKS dengan Ikhwanul Muslimin ala Mesir dan paham Wahabi ala Rezim Saud ini dapat lestari di Indonesia. Terlebih lagi di panggung politik. PKS tidak tunduk kepada arahan presiden Indonesia sebagai pimpinan tertinggi, karena kiblat dari semua perintah yang harus ditaati adalah induk organisasi mereka di Mesir dan Rezim Saud.

Pertanyaan kita saat ini adalah: mengapa PKS tertarik ikut serta dengan kubu Prabowo? Tak lain karena memang PKS memandang Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai orang yang potensial untuk ditunggangi. Prabowo mau mengeluarkan miliaran rupiah sebagai mahar agar PKS menjadi mesin kampanyenya (mulai dari kampanye negatif hingga kampanye hitam). Yang dijual PKS adalah jaringan kader mereka yang solid dan taklid buta terhadap pemimpin mereka, sehingga bisa diandalkan sebagai mesin kampanye.


Selain itu, PKS juga melihat Prabowo sangat mirip Soeharto, dan hanya dalam gaya kepemimpinan model otoriter, kuasa Ikhwanul Muslimin dan Wahabi akan dapat bertahan. Dan rupanya tak salah, PKS memang sejalan dan satu pikiran dengan Prabowo Subianto, yang sama-sama mengidolakan Soeharto. Bahkan pada tahun 2008 menjelang pemilu 2009, iklan PKS yang memuja Soeharto dan rasa ‘terima kasih’ kepada Soeharto menjadi kecaman. Namun sekarang, bak bertemu pasangan sejoli, Prabowo pun ingin mengangkat Soeharto sebagai pahlawan. Dan bagi PKS sendiri, ayah Hilmi Aminuddin merupakan pemberontak NII yang ‘membelot’ dan diampuni oleh pemerintahan Soeharto, kemudian bekerja sama dengan Ali Moertopo. Bahkan Hilmi pun bisa bersekolah ke Saudi atas bantuan Ali Moertopo.

Sabtu, 07 November 2015

Debat Imam Ridho as dan Kaum Agamawan



“Debat ini dirancang dan Diselenggarakan oleh Khalifah Al-Ma’mun Al Abbasi dari Dinasti Abbasiyah”

Pastor berkata, ‘Wahai khalifah! Bagaimana aku bisa berdebat dengan seseorang yang bersandar pada sebuah kitab yang aku tolak dan kepada nabi yang aku tidak beriman kepadanya?’

Imam Ridha as berkata kepadanya, ‘Wahai Kristiani! Jika aku berdebat denganmu lewat Injilmu, akankah kamu mengakuinya?’

Pastor itu berkata, ‘Dapatkah aku menolak apa yang dibicarakan di dalam Injil? Ya, demi Tuhan, aku akan mengakui sekalipun aku tidak menyukainya.’

Imam Ridha as berkata kepadanya, ‘Tanyakanlah apa saja yang melintas di pikiranmu, dan pahamilah jawabannya.’

Pastor itu berkata, ‘Apa yang kamu katakan tentang Yesus dan kitabnya? Apakah kamu mengingkarinya?’

Imam Ridha as berkata, ‘Aku mengakui kenabian Yesus dan kitabnya, dan kabar gembira kepada umatnya yang kepadanya para rasul juga mengakuinya. Dan aku mengingkari kenabian Yesus yang tidak mengakui kenabian Muhammad saw dan kitabnya dan yang tidak memberi kabar gembira tentangnya (Muhammad) kepada umatnya.’

Pastor itu berkata, ‘Bukankah hal ini berarti kamu memandang suatu keputusan dari dua saksi yang adil dan tegas?’

Imam Ridha as berkata, ‘Ya.’

Pastor berkata, ‘Maka bawalah dua saksi bagi kenabian Muhammad dari suatu umat selain umatmu yang tidak ditolak oleh umat Kristen, dan mintalah kepada kami yang seperti itu dari umat selain umat kami.’

Imam Ridha as berkata, ‘Sekarang kamu adil, wahai Kristiani! Apakah kamu tidak menerima orang-orang adil kami terdahulu yang berada bersama al-Masih, Yesus putra Maryam?’

Pastor berkata, ‘Siapakah orang adil itu? Beritahu aku namanya?’

Imam Ridha as berkata, ‘Apa yang kamu katakan tentang Yuhanna Daylami (Yohanes)?’

Pastor berkata, ‘Baik! Kamu telah menyebut orang yang paling mencintai al-Masih.’

Imam Ridha as berkata, ‘Aku bersumpah kepadamu, tidakkah Injil mengatakan bahwa Yohanes berkata, ‘Al-Masih memberitahuku tentang agama Muhammad al-Arabi dan dia memberiku kabar gembira tentangnya, bahwa dia akan datang sepeninggalnya; lalu aku memberi kabar gembira tentangnya kepada para rasul, maka aku beriman kepadanya?’

Pastor itu berkata, ‘Yohanes menyebutkan ini dari al-Masih dan ia memberi kabar gembira tentang kenabian seseorang dan tentang bangsanya serta wakilnya. Namun, ia tidak menetapkan kapan ini akan terjadi dan ia tidak menyebutkan nama orang ini kepada kami sehingga kami dapat mengakuinya.’

Imam Ridha as berkata, ‘Jika kami membawa seseorang yang membaca Alkitab dan ia membacakannya bagimu penyebutan Muhammad dan bangsanya serta umatnya, akankah kamu beriman kepadanya?’

Ia berkata, ‘Sungguh.’

Imam Ridha as berkata kepada Nastas al-Rumi, ‘Bagaimana ingatanmu terhadap Alkitab?’

Ia berkata, ‘Aku tidak mengingatnya.’

Lalu Imam Ridha as menoleh kepada Ra’sul Jalut (Yahudi) dan berkata, ‘Tidakkah kamu membaca Alkitab?’

Ra’sul Jalut (Yahudi) berkata, ‘Ya, demi jiwaku.’

Imam Ridha as berkata, ‘Bacakanlah Alkitab untukku. Jika penyebutan Muhammad dan bangsanya serta umatnya ada di dalamnya, bersaksilah kepadanya untukku, dan jika tidak ada, maka jangan bersaksi untukku.’

Lalu ia membaca Alkitab sampai tiba pada penyebutan (nama) Nabi Muhammad saw, ia berhenti.

Kemudian Imam Ridha as berkata, ‘Wahai Kristiani! Aku bertanya kepadamu, demi hak al-Masih dan ibunya, apakah kamu tahu bahwa aku mengetahui Injil?’

Pendeta itu berkata, ‘Ya.’ Lalu ia membacakan bagi kami penyebutan Muhammad, bangsanya, dan umatnya.

Lalu Imam Ridha as berkata, ‘Apa yang hendak kamu katakan wahai Kristiani? Inilah ucapan Yesus putra Maryam. Jika kamu mengingkari apa yang dikatakan di dalam Injil, maka kamu mengingkari Musa dan Yesus, salam atas mereka, dan bila kamu mengingkari penyebutan ini, maka kamu akan menjadi orang yang kafir (ingkari) kepada Tuhanmu, nabimu, dan kitabmu.’

Pendeta itu berkata, ‘Aku tidak akan mengingkari apa yang jelas bagiku di dalam Injil. Aku akan mengakuinya.’

Imam Ridha as berkata, ‘Bersaksilah kepada apa yang telah ia akui.’ Lalu ia berkata, ‘Wahai Katolik! Tanyakanlah apa saja yang melintas dalam pikiranmu.’

Pendeta berkata, ‘Beritahukan kami tentang para rasul Yesus putra Maryam. Berapa jumlah mereka? Dan berapa orang alim dalam Injil?’

Imam Ridha as berkata, ‘Kamu telah datang kepada orang yang tahu. Mengenai rasul, mereka berjumlah dua belas orang, dan yang paling mulia dan paling berilmu di antara mereka adalah Lukas. Mengenai orang alim Kristen, mereka ada tiga orang: Yohanes Agung dari Ajj, Yohanes Qirqisa, dan Yohanes Daylami dari Zijar, dan yang terakhir inilah yang menyebutkan Nabi (Muhammad) saw, bangsanya, dan umatnya, dan adalah dia pula yang membawa kabar gembira tentangnya kepada umat Yesus dan kepada Bani Israil.’

Lalu Imam Ridha as berkata kepadanya, ‘Wahai Kristiani! Sesungguhnya kami sungguh-sungguh, demi Allah, beriman kepada Yesus yang beriman kepada Muhamamd saw dan kami tidak membenci apa pun tentang Yesusmu kecuali kelemahannya dan sedikitnya ia berpuasa dan berdoa.’

Pastor berkata, ‘Demi Allah! Kamu merusak ilmumu dan melemahkan urusanmu. Aku membayangkan tidak ada yang kurang darimu dan bahwa kamu adalah orang yang paling berilmu di antara umat Islam.’

Imam Ridha as bertanya, ‘Bagaimana bisa begitu?’

Pastor menjawab, ‘Karena kamu mengatakan tentang Yesus yang lemah dan sedikit berpuasa dan berdoa, padahal Yesus tidak pernah membatalkan puasanya dan tidak tidur semalam pun; ia terus-menerus berpuasa dan tidak tidur.’

Imam Ridha as bertanya lagi, ‘Maka, untuk siapakah ia berpuasa dan berdoa?’

Pendeta itu tercengang dan berhenti berbicara.

Imam Ridha as berkata, ‘Wahai Kristiani! Aku ingin bertanya kepadamu tentang suatu persoalan.’

Pastor berkata, ‘Tanyalah. Jika mengetahuinya, aku akan menjawabmu.’

Imam Ridha as berkata, ‘Mengapa kamu menyangkal bahwa Yesus menghidupkan orang yang mati dengan seizin Allah Azza wa Jalla?’

Pastor itu berkata, ‘Aku menyangkalnya karena barangsiapa yang menghidupkan orang mati dan mengobati orang buta serta lepra adalah Tuhan yang berhak disembah.’


Imam Ridha as berkata, ‘Elia juga melakukan hal-hal seperti yang Yesus lakukan: berjalan di atas air, menghidupkan orang mati, dan menyembuhkan orang buta serta lepra, tetapi umatnya tidak menjadikannya sebagai Tuhan, dan tidak seorang pun dari mereka yang menyembahnya alih-alih menyembah Allah Azza wa Jalla. Dan Nabi Yehezkiel juga melakukan hal serupa seperti Yesus putra Maryam karena beliau menghidupkan 35.000 orang setelah mereka mati selama enam puluh tahun.