Jumat, 03 Juli 2015

Epos Qasim bin Hasan (as)


Oleh Farida Gulmohammadi (penulis dari Republik Islam Iran)

Pada malam Asyura, Imam Husain as telah memberitahu para sahabatnya bahwa mereka besok akan syahid. "Kalian semua besok akan terbunuh." Ujar beliau. Saat itu, Qasim bin Hasan bin Ali as, seorang remaja rupawan datang menghadap Imam Husain as. "Paman," ujar putera Imam Hasan as itu, "apakah aku juga akan terbunuh?" Pertanyaan ini membuat sang Imam terharu dan segera memeluk erat kemenakannya itu, lalu bertanya: "Qasim, bagaimanakah engkau memandang kematian?" Anak yang baru beranjak usia remaja itu menjawab: "Kematian bagiku adalah lebih manis daripada madu."[1] Mendengar jawaban ini, Imam segera memberitahu: "Kamu akan terbunuh setelah terjadi bencana besar, dan bahkan Ali Asghar pun juga akan terbunuh."

Pada hari Asyura, saat sudah mempersiapkan diri untuk berperang, Qasim pergi menghadap pamannya untuk mengajukan sebuah permohonan. "Paman, izinkan aku untuk ikut berperang." Namun Imam menjawab: "Kamu bagiku adalah cindera mata dari kakakku,[2] maka bagaimana aku dapat merelakan kematianmu?" Sikap Imam Husain as ini tidak memudarkan semangat Qasim. Dia tetap memohon lagi agar beliau membiarkannya bertempur melawan musuh. Namun Imam tetap menahan kepergian Qasim. Remaja tampan ini bersedih lalu terduduk seorang diri sambil berenung penuh duka cita. Di saat itu tiba-tiba dia teringat pada pesan ayahnya dulu, Imam Hasan as. Saat masih hidup, kepada Qasim, Imam Hasan pernah berpesan: "Jika nanti suatu penderitaan sedang menimpamu, maka bukalah catatan yang kamu ikatkan di lenganmu, lalu bacalah dan amalkanlah."[3]

Qasim kemudian berpikir-pikir lagi tentang musibah sedemikian besar yang belum pernah dia alami sebelumnya. Dari situ dia lantas merasa bahwa sekarang inilah saatnya dia membaca surat wasiat itu. Surat itu dibukanya dan di situ dia mendapatkan pesan ayahnya yang mengatakan: "Hai Qasim, aku berpesan kepadamu bahwa jika kamu mendapati pamanmu Husain di Karbala dalam keadaan terasing dan kerumuni oleh musuh, maka janganlah kamu tinggalkan jihad, dan jangan sampai kamu enggan mengorbankan jiwamu deminya."[4] Qasim lalu membawa pesan tertulis itu kepada Imam Husain as. Imam Husain as terharu dan menangis begitu menyaksikan ciri khas tulisan kangan kakak yang amat dicintainya itu, lalu berkata kepada Qasim: "Jika ayahmu telah berwasiat demikian kepadamu, maka saudaraku Hasan itu juga pernah berwasiat suatu hal kepadaku sehingga akupun sekarang harus menikahkan puteriku Fatimah denganmu."

Imam meraih tangan Qasim dan membawanya ke dalam tenda. Beliau bertanya kepada semua orang dan para pemuda yang ada di sekitarnya: "Adakah pakaian bagus untuk aku kenakan kepada Qasim?" Semua orang menjawab tidak. Imam lalu meminta adiknya, Hazrat Zainab, supaya mengambilkan beberapa potong pakaian peninggalan Imam Hasan as dari sebuah peti. Setelah pakaian itu didatangkan, beliau mengenakan serban dan gamis Imam Hasan itu kepada Qasim lalu meng-akad nikahkan Fatimah dengannya. Begitu selesai, Imam berujar kepada Qasim: "Hai puteraku, adakah sekarang kamu siap melangkah menuju kematian?"[5] Qasim menjawab: "Entahlah paman, bagaimana aku harus pergi meninggalkanmu seorang diri tanpa pelindung dan kawan diantara sekian banyak musuh. Yang pasti, jiwaku jiwaku siap berkorban untuk jiwamu, diriku siap melindungi dirimu.[6]"

Setelah kembali mengajukan permohonan dengan amat sangat untuk berperang, Imam Husain as akhirnya rela melepaskan Qasim berperang melawan musuh. Beliau menyobek serbannya menjadi dua potong, satu untuk beliau pakai lagi untuk serban, selebihnya beliau kenakan dalam bentuk kain kafan. Setelah menyerahkan sebilah pedang kepada Qasim, Imam pun melepaskan kepergiannya ke arah musuh yang tak sabar menanti korban-korban suci selanjutnya.

Di medan pertempuran, Qasim sang remaja suci itu menyorot tajam mata Umar bin Sa'ad kemudian menumbuknya dengan kata-kata: "Hai Umar, masihkan kamu tidak takut kepada Allah?! Apakah kamu tetap saja mengabaikan hak Rasulullah?! Lantas bagaimana kamu bisa mengaku sebagai seorang muslim sementara kamu memblokir sungai Eufrat agar putera dan Ahlul Bait Rasul yang berteriak-teriak kehausan itu tidak dapat meneguk airnya?!" Dengan angkuhnya Umar bin Sa'ad menjawab: "Aku hanya akan membiarkan kalian meminum airnya jika kalian menanggalkan sikap kalian." "Oh tidak, terima kasih, (kami tidak akan meminumnya)." Sergah Qasim.

Saat menatap wajah-wajah musuh yang berjajar di depannya, putera Imam Hasan as itu sempat mengucapkan sebuah syair tentang jiwanya yang sudah membaja dan tak kenal kata gentar itu. Syair itu berbunyi: "Jika kalian belum mengenalku, maka ketahuilah bahwa akulah putera Al-Hasan, cucu Nabi Al-Mustafa, manusia kepercayaan (Allah). Dan ini adalah Husain yang sedang menderita bagai tawanan yang disandera di tengah orang-orang."[7]

Meski usianya masih beliau, Qasim akhirnya mementaskan kehebatan ilmu perang yang dikuasainya di atas gelanggang sejarah heroisme Karbala. Sejumlah musuh jatuh bergelimpangan setelah menikmati kerasnya sabetan pedang Qasim. Syaikh Mufid ra dalam kitabnya, Al-Irsyad, meriwayatkan dari Hamid bin Muslim yang berkata: "Saat itu aku berada di tengah pasukan Ibnu Sa'ad. Aku menyaksikan seorang remaja belia yang wajahnya sangat rupawan dan bersinar bagai purnama. Dia mengenakan pakaian dan izar (semacam sarung). Kakinya mengenakan sepasang sandal yang tali satu diantaranya sudah terputus. Menyaksikan remaja itu, Amr bin Sa'ad Al-Izadi berkata: ' Demi Allah, aku memperlakukannya dengan kasar dan membunuhnya.'[8] "Aku berseru: 'Subhanallah! Kehendak macam apakah yang kamu katakan ini?! Orang sebanyak itu dan kini sedang mengelilinginya itu sudah cukup untuk membantainya. Lantas untuk apa kamu mau ikut-ikutan menghabisinya?!'

"Saat aku masih berpikir demikian, seekor kuda tiba-tiba menerjang kemudian disusul dengan hantaman pedang yang mengena bagian kepala anak yang sedang teraniaya itu. Kepalanya terkoyak sehingga Qasim tersungkur ke tanah dan berteriak: 'Oh paman, aku haus, aku dahaga. Beri aku seteguk air minum!' "Hazrat Husain bin Ali dari jauh mencoba memberinya semangat dan ketabahan hati, sementara pasukan musuh terus mengerubungi sambil menganiayanya secara bertubi-tubi. Saat mereka hendak memenggal kepalanya, remaja belia itu merintih dan meminta diberi kesempatan untuk mengucapkan suatu wasiat kepada seseorang. Namun, saat dia tidak melihat siapapun di dekatnya kecuali kuda tunggangannya. Maka, ditujukan kepada kudanya itu dia berkata: "Katakanlah kepada puteri pamanku, sesungguhnya aku terbunuh dalam keadaan dahaga seorang diri. Maka, jika kamu meminum air, ingatlah aku dan ratapilah aku, dan jika (di sini) kamu hendak mewarnai kukumu dengan sesuatu, maka warnailah dengan darahku."[9]

Dalam keadaan tak berdaya itu, Qasim dipenggal oleh musuh. Kepalanya terpisah dari badan. Menyaksikan pemandangan sedemikian biadab itu, Imam Husain as segera menerjang barisan pasukan musuh. Bagaikan elang yang menukik dari angkasa saat memburu mangsa, Imam Husain as menerobos gerombolan musuh dan mengincar manusia liar yang telah memenggal kepada kepala Qasim. Begitu manusia biadab berama Amr bin Sa’ad itu terlihat di depan beliau, Imam Husain as segera membabatkan pedangnya ke arah Amr. Amr pun mengerang kesakitan begitu melihat tangannya sudah terpisah dari pangkal lengannya akibat sabetan pedang Imam Husain as. Namun, tanpa ampun lagi, diiringi gelegar suara Imam Husain as yang menggetarkan nyali pasukan musuh yang ada di sekitarnya, Amr bin Sa’ad mendapat serangan kedua kalinya dari pedang Imam. Manusia sadis itu terhempas dari kudanya. Dalam keadaan bermandi darah dia pun sekarat dan mati.

Debu yang beterbangan pun reda. Di saat musuh tercengang, Imam mendekati dan meraih kepala Qasim dan memeluknya jasadnya yang tak bernyawa itu. Imam berucap: “Demi Allah, adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi pamanmu untuk tidak memenuhi panggilanmu jika kamu memanggilnya, atau memenuhinya tetapi tidak berguna untukmu.”[10] Hai Puteraku, orang-orang kafir telah membunuhmu. Mereka tidak tahu siapa kamu, ayahmu dan kakekmu.”[11]

Gugurnya Qasim di medan jihad tak urung disambut dengan jerit tangis histeris isteri yang baru saja dinikahinya. Ratapan histeris juga datang dari ibu Qasim. Mereka melumuri wajah mereka dengan darah suci Qasim sambil menangis tanpa henti hingga kemudian dengan hati pilu Imam Husain as meminta mereka untuk tabah di depan cobaan yang amat besar ini. Beliau kemudian membawa jenazah suci Qasim ke dalam tenda yang khusus untuk dibaringkan di sisi jenazah para syuhada sebelum Qasim. Dengan wajah yang tak dapat membendung luapan duka, beliau menatap ke arah langit dan berucap: “Ya Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, Engkau tahu bahwa orang-orang (Kufah) itu telah mengundangku untuk mendukungku. Namun sekarang mereka telah melepaskan tangan dariku, kemudian menjabat tangan musuhku. Mereka membantu musuh dan bangkit memerangiku. Ya Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, binasakanlah mereka, ceri beraikan mereka hingga tidak ada lagi satupun diantara mereka yang tersisa.  Laknat Allah atas para pembunuh kalian (para syuhada).”

Di Karbala, saat putera-putera ksatria Ali bin Abi Thalib as tidak tersisa lagi kecuali Imam Husain as dan Abu Fadl Abbas, Abul Fadhl Abbas datang menghampiri kakaknya, Imam Husain as dan berkata:” “Turbunuhya para sahabat dan kerabatku kini telah membuatku tak kuasa lagi menahan rasa sabar. Maka izinkan aku untuk membalas darah mereka.” Saudara-saudara Imam Husain as yang sudah maju ke depan dan membawa bendera perlawanan sebelum Abul Fadhl Abbas ialah Abdullah, Jakfar, dan Ustman. Mereka sudah gugur mendahului Abul Fadhl Abbas hingga akhirnya tibalah giliran Abul Fadhl Abbas sendiri untuk melakukan perlawanan di atas pentas peperangan yang sebenarnya lebih merupakan panggung pembantaian itu.

Catatan:
[1] Sugand Nameh hal.284
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ramzul Mushibah juz 2 hal.190
[5] Anwar Assyahadah hal.126
[6] Ibid hal 125
[7] Ramzul Mushibah juz 2 hal.191
[8] Anwar Assyahadah hal.126
[9] Ibid hal.127
[10]Biharul Anwar juz 45 hal.35
[11] Anwar Assyahadah hal.182

Jumat, 26 Juni 2015

Ulasan Buku




Judul                : Mengapa Kita Diciptakan?
Judul Asli         : Good of Life
Pengarang       : Ayatullah Sayid Murtadha Muthahhari
Penerjemah    : Mustamin Al-Mandiri
Penerbit          : RausyanFikr Institute
Tahun Terbit   : 2012
Tebal Buku      : 109 hal

Menjelajah Pemikiran Sayid Muthahhari Mengenai Tujuan Hidup Manusia
Oleh Elian CA
                                            
Ayatullah Sayid Murtadha Muthahhari (selanjutnya, Prof. Muthahhari), adalah salah satu pribadi yang unggul, dengan kemampuan inteleknya yang tinggi membuatnya mampu menyerap apa yang disampaikan sang guru, seperti yang disebutkan Thabâthabâ’i, “kecerdasan Muthahhari luar biasa dan semua kata-kataku kepadanya tidaklah sia-sia. Dia menyerap segala yang kuajarkan padanya. Dia sangat saleh, penuh perikemanusiaan, dan sangat bermoral”. Selanjutnya, “aku sungguh tidak tahu bagaimana mengatakannya; kehadirannya dalam kuliah-kuliahku sedemikian mencekamku sehingga ingin rasanya aku menari-nari kegirangan.[1]

Murid terdekat Thabâthabâ’i dan Imam Khomeini ini Lahir pada 2 Februari 1920 di Fariman, sebuah dusun – kini sebuah kotapraja – terletak enam puluh kilo meter dari Masyhad, pusat belajar dan ziarah kaum Syi’ah yang besar di Iran Timur.[2] Tak terpisah sebagai kekhasan Prof. Muthahhati pada karya-karya yang telah kami temukan, ia sering memulainya dengan beberapa pertanyaan sebagai bentuk penegasan agar pembaca sedikit banyak mendapatkan maksud dan tujuan dari pembahasan yang merupakan persoalan yang ingin dijawabnya. Karya beliau pun terus berlanjut bagaikan air kehidupan yang mampu memekarkan bunga-bunga intelektual, sehingga bagi yang membacanya tak merasa jenuh melainkan menginnginkan karya selanjutnya.

Setiap saat, kita beraktivitas demi kebutuhan hidup dan masa depan keluarga serta bangsa dan Negara. Lalu apakah pernah terbesit pada benak kita, apa yang menjadi tujuan hidup ini? Apakah kebutuhan akan suautu jabatan dan atau harta yang banyak adalah tujuan, ataukah semua itu hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi? Apakah hidup ini adalah tujuan atau sarana menuju kepada yang abadi, dan bagaimana dengan gerak kehidupan ini, apakah ia bergerak menuju kesempurnaannya, aktualitasnya, atau ia statis dan berakhir dengan berakhirnya gerak tubuh? Lalu mengapa harus berbuat baik dan tidak sebaliknya? Apakah setiap pandangan bisa dikatakan “pandangan dunia” dan dapat mengantarkan kita pada kesempurnaan dan tujuan yang hakiki atau tidak? Dan masih banyak lagi pertanyaan mengenai tujuan hidup ini. Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab Prof. Muthahhari pada karya ini dengan bahasa sederhana namun sangat mendalam dan mencerahkan.

Tujuan Penciptaan
Pada pembahasan tujuan penciptaan ini, Prof. Muthahhari menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, seseorang mesti pula menanyakan apa filosofi dan tujuan diutusnya seorang Nabi. Tujuan diutusnya para nabi tak lepas dari tujuan penciptaan manusia itu sendiri, mengajak dan membimbing manusia untuk mengenal dan menemukan tujuan hidupnya yang hakiki. Dengan perantara seorang Nabi, manusia memahami potensi (fitrah) yang ada pada dirinya dan mengaktualkan sesuai dengan jalan yang benar.

Tujuan penciptaan itu sendiri, seperti yang di utarakan Prof. Muthahhari, bukanlah demi kesempurnaan atau keperluan Sang Pencipta, melaikan untuk kesempurnaan makhluk. Penyempurnaan itu sendiri memiliki tahap-tahapan sebagai suatu proses, dan terdapat perbedaan diantara setiap makhluk dalam tingkat penyempurnaannya.

Dapat dipahami bahwa salah satu tujuan diutusnya para Nabi adalah “untuk membimbing manusia mencapai kesempurnaannya, dan membantunya untuk mengatasi masalah yang dihadapinya baik secara individu maupun sosial” dan itu hanya dapat dilakukan dengan bantuan wahyu ilahi sehingga dalam perjalannya, manusia memperoleh kemudahan.

Selanjutnya, penyempurnaan tersebut dan tujuan penciptaannya hanyalah menuju dan kembali kepada Rabb-nya. Olehnya itu, manusia dituntut untuk mengenal fitrah yang ada padanya agar dapat mengembangkan sesuai tujuan hidupnya. Pada pembahasan ini, Prof. Muthahhari mengajukan beberapa konsep mengenai tujuan hidup dan kenabian, serta membandingkannya dan menganalisisnya dengan kritis dan sempurna.

Landasan Etika Personal dan Sosial
Setelah menjelaskan tujuan penciptaan manusia, Prof. Muthahhari menjelaskan beberapa pandangan mengenai individu (personal) dan hubungannya dengan masyarakat (social) yang mengalami pergolakan. Sudah tentu, masyarakat akan mencari suatu sistem yang akan digunakannya untuk mengatur lingkungannya demi kesejahteraan bersama.

Etika atau keadilan menjadi berperan penting untuk mengatur suatu masyarakat. Di sini, terdapat beberapa pandangan mengenai landasan etika yang dicetuskan oleh beberapa pemikir yang oleh segelintir orang menjadikannya sebagai landasan dalam bertindak, kemudian dipertanyakan dan dianalisis satu persatu sehingga terlihatlah kebohongan serta nihil dari nilai luhur yang tersembunyi dibalik topeng yang menutupi kekosongan itu.

Prof. Muthahhari menemukan kelemahan-kelemahan di dalamnya, kemudian mengajukan suatu pandangan etika yang berlandaskan Tauhid sebagai suatu sistem yang dapat mengatur kehidupan individu dan masyarakat yang bertanggung jawab.

Agama Mazhab Pemikiran dan Pandangan Dunia (World Vision)
Dalam BAB ini, Prof. Muthahhari berbicara mengenai Agama sebagai Mazhab pemikiran dalam hubungannya dengan pandangan dunia (world vision) dan membuktikan kebutuhan manusia terhadap Agama dalam berideologi. Ideologi haruslah lahir dari pandangan dunia yang menyeluruh terhadap manusia, masyarakat, alam dan sejarah dan pandangan dunia yang memiliki landasan kerangka pikir (teori pengetahuan; epistemologi) yang kokoh pula.[3]

Seperti halnya pandangan dunia empiris yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak mengakui adanya sisi non-material manusia, memandang alam ini hanya pada bagian tertentu dan berubah sesuai zaman yang ada sehingga tidak dapat dijadikan sebuah ideologi dalam mengarungi kehidupan yang harmonis, untuk mencapai tujuan yang hakiki. Suatu ideologi semestinya mampu menumbuhkan kasih sayang dan keharmonisan pada kehidupan serta memiliki rasa tanggung jawab pada setiap individu, memiliki landasan yang logis dan berlaku universal.

Mereka (kaum materialis), menganggap kekacauan dan penindasan diakibatkan oleh faktor material semata, dalam hal ini adalah ekonomi. Sehingga, mereka ingin menghapuskan kepemilikan pribadi agar tercipta masyarakat tanpa kelas –karena inilah yang menurut kaum materialis adalah masyarakat yang ideal. Namun, pemikir ulung Prof. Muthahhari membuktikan kelemahan dan kegagalan mereka dalam merumuskan suatu sistem sosial, baik itu ekonomi, politik, moral dan semacamnya kecuali hanya menyentuh kulit-kulitnya saja.

Selain itu, ada pula yang memandang kebebasan manusia sebagai sentral ideologi, seakan-akan dengan memberikan dukungan kepada setiap individu untuk bertindak dengan hasrat hewaninya sebagai suatu makhluk yang memiliki kebebasan adalah kesempurnaannya. Akan tetapi, semua itu hanyalah celoteh yang tak berdasar semata, mereka tidak mampu memahami arti kebebasan dan tanggung jawab. Hal ini terlihat dari argumen-argumen yang dipaparkan oleh Prof. Muthahhari.

Muthahhari pun menjelaskan hal-hal yang terkait dengan tauhid dan membagi tingkatan-tingkatan tauhid menjadi tauhid zat, tauhid sifat, tauhid perbuatan dan yang terakhir adalah tauhid penghambaan. Yang belakangan adalah aspek praktis sedangkan tiga sebelumnya adalah teoritisnya. Penjelasan terhadapnya memperlihatkan Ke-Esa-an Sang Khaliq dan kebutuhan kita terhadapnya agar tercapai masyarakat yang ideal, bersatu pada jiwa dan raga menuju cita-cita yang satu. Sebagai lawannya adalah kemusyrikan yang juga memiliki tingkatan sebagaimana tauhid, dan menjadi penyakit dalam lingkungan kehidupan, melemahkan sisi spiritualitas masyarakat.[4]

Pada akhirnya, kebutuhan akan Tauhid ( dalam hal ini agama Islam yang benar) merupakan hal yang tak terelakan lagi, karena ia merupakan jalan mencapai tujuan yang hakiki.

Islam dan Penyempurnaan Manusia
Awal pembahasan (BAB Awal) mengenai tujuan penciptaan, penjelasan yang diberikan adalah mengenai tujuan hidup serta penciptaan. Penciptaan tersebut bukanlah untuk Pencipta melainkan untuk makhluk itu sendiri dan demi kesempurnaannya.

Berbeda dengan sebelumnya, pada bagian ini Muthahhari akan berbicara mengenai kesempurnaan dalam beberapa pandangan, menyikapinya dan menjelaskan seperti apa kesempurnaan itu dan apa ukuran atau kriteria dari kesempurnaan, apakah setiap makhluk memiliki kesamaan atau terdapat perbedaan pada tingkat kesempurnaan (seperti yang telah kami singgung)? Lalu bagaimana cara mengetahui kesempurnaan manusia, apakah kita harus mengenali fisiknya atau sesuautu yang lain.

Untuk mengawalinya, Prof. Muthahhari mempertanyakan tentang iman, apa yang dimaksud dengan iman. Beliau mengatakan bahwa iman, pertama, adalah keyakinan kepada Allah. Kedua, iman tersebut mencakup kepercayaan kepada (keberadaan) malaikat, kitab-kitab Allah, para nabi, hari kebangkitan, dan lain-lain. Dari sini muncul pertanyaan baru, apakah iman adalah karunia bagi manusia, atau sesuatu yang bermanfaat? Kemudian Prof. Muthahhari menjelaskan maksud dari karunia dan manfaat yang dimaksud, bawa “karunia adalah sesuatu yang masih memerlukan penyempurnaan dalam dirinya sendiri, sementara sesuatu yang bermanfaat, sudah pasti baik karena manfaat yang diberikannya.

Setelah mempertanyakan iman, dilanjutkan dengan persoalan, hal-hal yang dipersyaratkan bagi penyempurnaan manusia untuk selanjutnya mengetahui kedudukan iman dalam hubungannya dengan kesempurnaan.

Seperti biasa, Prof. Muthahhari selau mendeskripsikan dan mengkomparasi pandangan yang terkait pokok bahasannya kemudian setelah memberi sanggahan terhadapnya, mulailah beliau menyuguhkan suatu pandangan yang telah disiapkan. Penjelasan terkait, terdapat lima pandangan mengenai kesempurnaan manusia. Di sini terlihat dengan jelas bahwasannya pandangan yang mereka ajukan tak lebih seperti perkembangan yang tidak sempurna pada organ tertentu makhluk hidup dan mengalami kecacatan disana sini. Mereka hanya mengambil bagian-bagianya dan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini diakibatkan pandangan yang terbatas dan tidak menyeluruh, sehingga mengira di situlah letak kesempurnaan manusia. Tentu, penafsirannya pun berbeda, misalnya, konsep kekuatan atau kekuasaan yang dipahami Nietzsche berbeda dengan pandangan Islam dan perbedaan tersebut yang pertama tidak diakuinya, sisi spiritual manusia.

Tauhid Islam
Akhirnya, sampai pada penghujung bahasan, di sini Prof. Muthahhari menampilkan kembali pandangan-pandangan terkait kesempurnan manusia secara sistematis, perbincangkan kembali keimanan dan Tauhid serta kebutuhan manusia akan keadilan di alam dan berakhir pada yang satu, yaitu Tauhid, iman kepada Allah yang menjadi tujuan tertinggi manusia. Prof Muthahhari memperlihatkan keterhubungan kesemua pembahasan ini yang bermuara pada satu titik yang abadi, seperti yang disebutkannya (hal. 105-106):

Iman kepada Allah adalah tujuan itu sendiri. Adanya iman dan semua pengaruhnya dalam hidup manusia menjadikan iman sebagai penghubung antara manusia dan Allah. Dan Islam memandang, hubungan seperti inilah yang menjadi jalan dalam proses penyempurnaan kemanusiaan, jalan yang tanpa batas dalam perjalanan manusia kembali ke asalnya.

Seperti itulah pencerahan-pencerahan yang diberikan Prof. Muthahhari, yang tidak bersifat dokriner melainkan dapat diterima oleh orang yang memiliki akal dan tidak fanatik buta. Walaupun dengan jumlah halaman yang dapat dikategorikan tipis dan ukuran buku yang standar, namun buku ini sangat penting untuk dibaca tanpa dikhususkan pada kelas tertentu. Terlepas dari hal tersebut, penyajiannya dilakukan secara terstruktur, sistematis dan komprehensif namun tak sulit untuk dicerna. Pada bagian akhir, dicantumkan indeks yang berisi nama tokoh, mazhab dan semacamnya guna memudahkan pencarian. Untuk itu, kami sarankan kepada siapa saja yang ingin memahami tujuan dan arti hidup yang bermakna untuk mencapai kesempurnaan agar tidak melewatkan karya pemikir besar ini. Selamat membaca!

Catatan:
[1] Filsafat Hikmah: Pengantar Pemikiran Shadra
[2] Lihat  Filsafat Hikmah: Pengantar Pemikiran Shadra Karya Muthahhari pada bagian pendahuluan, dan Juga buku Para Filosof: Sebelum dan Sesudah Shadra karya Muhsin Labib.
[3] lihat Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam
[4] Muthahhari, Pandangan Dunia Tauhid