Sabtu, 11 Juni 2016

Malik Al-Asytar, Super Jenderal dari Yaman



Imam Ali memilih orang-orang saleh untuk menjadi gubernur di kota-kota kekhalifahan Islam. Beliau menunjuk Malik Al-Asytar menjadi Gubernur Mosul, Sinjar, Nasibin, Hit, dan Anat. Itu adalah daerah-daerah di perbatasan Syam. Sementara itu, Muawwiyah yang rakus dan haus kuasa tidak mematuhi Khalifah Ali karramallahu wajhah. Ia pun menjadi diktator di Syam. Bahkan ia ingin melakukan pemberontakan terhadap Imam Ali dengan dalih menuntut balas atas kematian Utsman bin Affan, meski para pembunuh Utsman bin Affan sesungguhnya adalah patron dan kolega Muawwiyah itu sendiri. Imam Ali mencoba menempuh jalan damai.

Ketika itu Imam Ali mengajak Muawwiyah untuk mematuhi beliau. Imam Ali mengirim beberapa surat kepada Muawwiyah, dan mengirim beberapa utusan untuk berbicara kepadanya. Tetapi, semua usaha Imam Ali sia-sia. Muawwiyah tetap ingin melakukan pemberontakan. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi Imam Ali kecuali menghadapi pemberontakan Muawwiyah yang rakus dan haus kuasa tersebut. Imam Ali pun lalu membentuk pasukan dan menyerahkan komandonya kepada Malik Al-Asytar.

Pasukan pun maju menuju Syam. Ketika tiba di Kirkisya, terjadilah bentrokan dengan pasukan Muawiyyah yang dipimpin oleh Abi Al-Awar Al-Salmi. Malik Al-Asytar mencoba membujuk Abi Al-Awar Al-Salmi untuk mengakhiri pemberontakan dan mematuhi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Tetap ia menolaknya. Malam harinya, pasukan Muawwiyah mengambil kesempatan dengan melancarkan sebuah serangan mendadak. Tindakan itu bertentangan dengan agama dan etika perang karena kedua kubu tersebut sedang dalam perundingan.

Pasukan Imam Ali melawan serangan mendadak itu. Mereka mengalahkan dan melukai banyak penyerang dan memaksa lainnya untuk mundur ke tempat asal mereka. Malik Al-Asytar menunjukkan lagi keberaniannya. Ia mengirim utusan untuk menemui Abi Al-Awar Al-Salmi untuk mengundangnya berduel dengan pedang. Utusan itu berkata, "Wahai Abi Al-Awar, Malik Al-Asytar mengundangmu untuk berduel dengannya!" Pemimpin pasukan Muawiyyah itu menjadi takut dan dengan perasaan kecut berkata, "Aku tidak ingin berduel dengannya!" Muawwiyyah memimpin sebuah pasukan besar untuk bergabung dengan pasukan Abi Al-Awar Al-Salmi. Kedua kubu bertemu di dataran Shiffin di tepi Sungai Eufrat.

Beberapa unit pasukan Muawwiyah berhasil menduduki tepi sungai dan mengepung sungai tersebut untuk mencegah pasukan Imam Ali mengambil air. Tindakan ini juga bertentangan dengan hukum Islam dan hukum perang. Lalu Imam Ali mengutus Sasa'ah bin Suhan, salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw untuk berbicara kepada Muawwiyyah. Sasa'ah mendatangi kemah Muawwiyah dan berkata, "Hai Muawwiyah, Ali berpesan, 'Biarkan kami mengambil sedikit air. Lalu kami akan memutuskan selanjutnya antara kalian dan kami. Jika tidak, kalian dan kami akan bertempur hingga si pemenang yang akan minum." Muawwiyyah terdiam sejenak lalu berkata, "Aku akan menjawabnya nanti."

Utusan Imam Ali pun pergi, sedangkan Muawwiyah meminta saran dari beberapa orang. Al-Walid berkata dengan marah, "Cegah mereka dari meminum air untuk memaksa mereka menyerah." Mereka setuju dengan pendapat tersebut. Memang tak dapat diingkari, Muawwiyah mempekerjakan orang-orang yang terkenal menghalalkan segala cara di sekelilingnya. Mereka adalah pelanggar hukum-hukum Islam dan hak asasi manusia.

Saat itu Malik Al-Asytar mengamati gerakan pasukan yang ada di tepi sungai. Ia melihat perbekalan pasukan tersebut. Sehingga ia sadar bahwa Muawwiyah akan memperketat pengepungan sungai itu. Tentara Imam Ali pun menjadi haus. Tentu saja Malik pun demikian. Seorang tentara berkata padanya,  "Ada sedikit air dalam tempat minumku, minumlah." Malik menolaknya dan berkata, "Aku tak akan minum sebelum seluruh pasukanku minum!" Malik pergi menemui Imam Ali dan berkata, "Amirul Mukminin, pasukan kita kehausan. Tidak ada jalan lagi bagi kita selain bertempur." ImamAli menjawab, “Baiklah."

Imam Ali menyampaikan sebuah khutbah dan mendorong mereka untuk bertempur dengan berani. Ia maju ke tepi sungai Eufrat. Setelah pertempuran sengit terjadi, Malik dapat menguasai kembali tepi sungai dan memaksa pasukan Muawwiyah untuk menarik diri. Pasukan Muawwiyah menjadi jauh dari air. Sehingga mereka pun berpikir untuk membuat tipu muslihat demi menguasai kembali Sungai Eufrat tersebut.

Pada hari berikutnya, sebuah anak panah jatuh di antara pasukan Imam Ali. Di panah itu terikat sepucuk surat. Para tentara membaca surat itu dengan hati-hati. Mereka dengan cepat menceritakan pesan itu satu sama lain. Pesan itu berbunyi, "Dari seorang saudara setia di pasukan Syam (pasukan Muawwiyah), Muawwiyah akan membuka bendungan sungai itu untuk menenggelamkan kalian. Maka, berhati-hatilah!" Pasukan Imam Ali pun percaya pada berita itu dan mundur. Sehingga pasukan Syam mengambil kesempatan dari keadaan itu dan merebut kembali tepi sungai.

Namun pasukan Imam Ali kemudian melancarkan serangan dan mengusir pasukan Syam dari daerah itu. Muawwiyah merasa sangat khawatir, sehingga ia bertanya kepada Amr bin Ash, "Apakah menurutmu Ali akan mencegah kita meminum air?" Amr bin Ash menjawab, "Ali tak akan melakukan apa yang kamu lakukan. Karena ia bukan orang keji dan semua bangsa Arab mengakui keutamaan-keutamaannya" Pasukan Syam juga merasa khawatir. Namun, segera mereka mendengar bahwa Imam Ali mengizinkan mereka datang ke sungai dan minum air.

Beberapa orang Syam pun menyadari perbedaan kualitas diri Muawwiyah dan Imam Ali. Muawwiyah melakukan segala cara untuk memenangkan peperangan. Tetapi Imam Ali tidak berpikir untuk melakukan semua itu. Ia melakukan tindakan yang baik, terpuji, dan berperikemanusiaan. Oleh karena itu, beberapa tentara Syam meninggalkan kubu Muawwiyah dengan diam-diam di malam hari. Mereka bergabung dengan pasukan Imam Ali karena kubu Imam Ali selalu mewakili kebenaran dan kemanusiaan.

MUAWWIYAH
Muawwiyah merasa tidak senang kepada Malik Al-Asytar, karena keberaniannya membuat pasukan Imam Ali berperang dengan penuh semangat, dan pada saat yang sama mencemaskan pasukan Syam. Sehingga Muawwiyah memutuskan untuk membunuh Malik Al-Asytar melalui duel pedang. Ia memerintahkan Marwan untuk berduel dengan Malik. Tetapi Marwan takut pada Malik. Oleh karena itu, ia meminta maaf kepada Muawwiyah dan berkata, "Biarlah Amr bin Ash yang berduel dengannya karena ia adalah tangan kananmu." Kemudian Muawwiyah memerintahkan Amr bin Ash untuk berduel dengan Malik. Amr bin Ash dengan rasa enggan menyetujui rencana Muawwiyah tersebut. Amr lalu memanggil Malik untuk berduel dengannya. Malik maju ke arah Amr bin Ash dengan memegang tombaknya. Malik memukulnya dengan keras tepat pada wajah, sehingga Amr bin Ash pun melarikan diri ketakutan.

KESYAHIDAN AMMAR
Peperangan menjadi bertambah hebat. Ammar bin Yassir memimpin di sayap kiri. Meskipun ia sudah tua, namun ia bertempur dengan gagah berani. Ketika matahari hampir terbenam, Ammar bin Yasir meminta sedikit makanan untuk berbuka puasa. Seorang tentara membawakan untuknya secangkir penuh yoghurt (susu asam). Ammar menjadi gembira dan berkata, "Malam ini, aku mungkin syahid karena Rasulullah saw telah berkata padaku, 'Ammar, sekelompok orang zalim akan membunuhmu, dan makanan terakhirmu di dunia adalah secangkir yoghurt."

Sahabat besar itu pun berbuka puasa dan lalu maju ke medan pertempuran. Ia bertempur dengan gagah berani. Namun akhirnya ia pun jatuh ke tanah dan syahid. Imam Ali datang dan duduk di dekat kepala Ammar lalu berkata dengan sedih, "Semoga Allah merahmati Ammar di hari ia menjadi syahid. Semoga Allah merahmati Ammar di hari ia dibangkitkan dari kematian. Wahai Ammar nikmatilah surgamu."

Kesyahidan Ammar di pertempuran itu sangat mempengaruhi jalannya pertempuran. Pasukan Imam Ali berada dalam semangat yang tinggi. Sementara itu, pasukan Muawwiyah justru berada dalam semangat yang rendah. Semua kaum Muslim menjadi teringat pada sabda Rasulullah saw kepada Ammar bin Yassir. Hadis itu berbunyi, "Wahai Ammar, kelompok orang-orang zalim akan membunuhmu." Sehingga semua menjadi demikian jelas bahwa Muawwiyah dan tentaranya memang berada di posisi yang tidak sah, sementara Imam Ali dan sahabat-sahabatnya adalah berada di barisan benar dan legitimate. Oleh karena itu, pasukan Imam Ali semakin meningkatkan serangannya atas pasukan Muawwiyah, sementara di sisi lain Muawwiyah dan pasukannya bersiap untuk melarikan diri.

TIPUAN SANG POLITIKUS
Muawwiyah berpikir untuk memperdayai pasukan Imam Ali. Sehingga ia pun meminta saran kepada Amr bin Ash. Lalu Amr berkata, "Aku yakin kita dapat menipu mereka dengan Al-Qu’an." Muawwiyah gembira dengan siasat licik itu dan memerintahkan tentaranya untuk mengangkat Al-Quran dengan tombak-tombak mereka. Ketika pasukan Imam Ali melihat Al-Quran, mereka berpikir untuk menghentikan pertempuran. Siasat licik Muawiyah dan Amr bin Ash ini berhasil menipu beberapa tentara Imam Ali. Imam Ali lalu berkata, "Itu adalah tipuan! Akulah yang pertama mengajak mereka pada kitabullah. Dan akulah yang pertama mengimaninya. Meraka tidak mematuhi Allah dan melanggar ketetapan-Nya.”

Namun tetap saja 20 ribu tentara Imam Ali tidak mau mematuhi perintah beliau dan berkata, “Hentikan pertempuran dan perintahkan Al-Asytar untuk mundur!" Imam Ali akhirnya mengutus seorang tentara kepada Al-Asytar untuk menghentikan pertempuran. Malik Al-Asytar pun terpaksa mundur. Ia berkata, "Tidak ada kekuatan dan kekuasaan kecuali milik Allah.”

TAHKIM
Malik Al-Asythar mengetahui bahwa tindakan Muawwiyah itu hanyalah tipuan. Tetapi ia tetap mematuhi perintah Imam Ali agar tak ada bencana yang terjadi. Ia adalah seorang pemimpin yang pemberani dan prajurit yang patuh. Pertempuran pun berhenti. Dan kedua kubu menyetujui untuk bertahkim (memutuskan hukum) dengan Kitabullah. Muawwiyah mengirim Amr bin Ash untuk mewakilinya dalam negosiasi itu. Dan Imam Ali memilih seorang yang siaga dan bijaksana. Orang itu juga mesti memiliki pengetahuan yang baik tentang Kitabullah. Sehingga, beliau memilih Abdullah bin Abbas, seorang yang berpengetahuan tinggi tentang agama.

Tetapi kubu pasukan pemberontak yang tidak mematuhi Imam Ali menolaknya dan berkata, "Kami memilih Abu Musa Al-Asy'ari." Imam Ali menjawab, "Aku tidak setuju dengan pilihan kalian. Abdullah bin Abbas lebih baik darinya." Sekali lagi para pemberontak itu menolak keputusan Imam Ali. Sehingga, Imam Ali berkata, "Aku akan memilih Al-Asytar." Mereka juga menolak Al-Asytar. Mereka tetap kukuh memilih Abu Musa Al-Asy'ari. Akhirnya, demi menghindari terjadinya malapetaka, Imam Ali lalu berkata, "Lakukan apa yang kalian suka!"

Kemudian kedua wakil itu bertemu untuk berbicara. Amr bin Ash berpikir tentang sebuah rencana yang sekiranya dapat diterima oleh Al-Asy'ari. Amr berkata padanya, "Wahai Abu Musa, Muawwiyah dan Ali telah menyebabkan semua kesulitan ini. Sehingga, marilah kita tinggalkan mereka dan memilih orang lain." Abu Musa Al-Asy'ari kebetulan tidak menyukai Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib karena dengki dan cemburu dengan kebesaran dan keutamaan Imam Ali. Sehingga, ia pun setuju dengan rencana itu.

Ia lalu berkata di depan orang-orang, "Aku melepaskan Ali dari kekhalifahan sebagaimana aku melepaskan cincin dari jariku." Kemudian ia pun melepaskan cincinnya. Namun Amr bin Ash justru berkata dengan tegas, "Aku menempatkan Muawwiyah pada kekhalifahan sebagaimana aku menempatkan cincin ke jariku." Kemudian ia memakai cincinnya. Para tentara Imam Ali, yang telah membanggakannya tadi , menyesali perbuatan mereka yang salah itu. Saat itu mereka mendapat hikmah dan pelajaran bahwa Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah memang manusia paling utama setelah Rasulullah.

Minggu, 17 April 2016

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana


Demi menyingkirkan Soekarno, Suharto menunggangi pergolakan di tanah air dan mengorganisir pembantaian jutaan pendukung PKI. Dia sebenarnya bisa mencegah peristiwa G30S, tetapi memilih diam, lalu memanfaatkannya.

Suharto banyak berurusan dengan pemberontakan Darul Islam selama meniti karir militernya. Pasca kemerdekaan ia juga aktif memberantas kelompok kiri di antara pasukannya. Tahun 1959, ia nyaris dipecat oleh Jendral Nasution dan diseret ke mahkamah militer oleh Kolonel Ahmad Yani karena meminta uang kepada perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. Namun karirnya diselamatkan oleh Jendral Gatot Subroto.

Seperti banyak prajurit yang lain, Suharto mencurigai kedekatan Soekarno dan pimpinan Partai Komunis Indonesia (dalam gambar D.N. Aidit). Terutama sejak pemberontakan komunis di Madiun 1948, eksistensi PKI sangat bergantung pada dukungan Soekarno. Tanpanya PKI akan lumat oleh tentara. Permusuhan ABRI dan PKI tidak cuma beraroma politis, melainkan juga dipenuhi unsur kebencian.

Suharto sibuk membenahi karir ketika permusuhan ABRI dan PKI mulai memanas. Buat mencegah PKI memenangkan pemilu dan menguasai pemerintahan, ABRI yang saat itu dipimpin duet Ahmad Yani dan A.H. Nasution mengajukan mosi menjadikan Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Saat itu, konstelasi politik sudah mulai bergeser: Soekarno tidak lagi melihat ABRI sebagai sekutu utamanya, melainkan PKI.

Meniru gerakan kaum komunis di Tiongkok, PKI berupaya memperluas kuasa dengan niat mempersenjatai petani dan praktik land reform. Soekarno menyetujui yang kedua dengan mengesahkan UU Pokok Agraria 1960. Tiga tahun kemudian, PKI melakukan aksi sepihak dengan merebut tanah milik para Kyai di Jawa dan membagikannya pada petani miskin. Langkah itu menciptakan musuh baru buat PKI, yakni kelompok Islam.  

Enam jam sebelum peristiwa G30S, Kolonel Abdul Latief mendatangi Soeharto buat mengabarkan perihal rencana Cakrabirawa menculik tujuh Jendral. Latief saat itu mengira, Suharto adalah loyalis Soekarno dan akan memberikan dukungan. Kesaksian Latief menyebut, Suharto cuma berdiam diri. Setelah peristiwa penculikan jendral, Suharto yang menjabat Panglima Kostrad lalu mengambil alih komando ABRI.

Pada 30 September, pasukan pengamanan Presiden, Cakrabirawa, mengeksekusi tujuh dari 11 pimpinan ABRI yang diduga kuat ingin mengkudeta Soekarno. Suharto lalu memerintahkan pembubaran PKI dan penangkapan orang-orang yang terlibat. Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa yang sebenarnya kenalan dekat Suharto dan ikut dalam operasi pembebasan Irian Barat, ditangkap, diadili dan dieksekusi.

Pergerakan Suharto setelah G30S semata-mata diniatkan demi melucuti kekuasaan Soekarno. Ia antara lain mengirimkan prajurit RPKAD buat menguasai Jakarta, termasuk Istana Negara. Panglima Kostrad itu juga lihai menunggangi sikap antipati mahasiswa terhadap Sukarno yang dimabuk kuasa. Saat Soekarno bimbang ihwal keterlibatan PKI dalam G30S, mahasiswa turun ke jalan menuntutnya mundur dari jabatan.

Di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta, ABRI memobilisasi kekuatan buat memusnahkan pendukung PKI di Jawa dan Bali. Dengan memanfaatkan kebencian kaum santri dan kelompok nasionalis, tentara mengorganisir pembunuhan massal. Jumlah korban hingga kini tidak jelas. Pakar sejarah menyebut antara 500.000 hingga tiga juta orang tewas. Tidak semuanya simpatisan PKI.

Selain menangkap dan mengeksekusi, massa dikerahkan menghancurkan toko-toko, kantor dan rumah milik mereka yang diduga pendukung komunis. Sebagian yang mampu, memilih untuk mengungsi ke luar negeri. Termasuk di antaranya Sobron, adik kandung pimpinan PKI D.N. Aidit yang hijrah ke Tiongkok dan lalu ke Perancis dan bermukim di sana hingga wafat tahun 2007.

Setelah peristiwa G30S, Suharto yang notabene telah menjadi orang nomor satu di kalangan militer, membiarkan Soekarno berada di jabatannya, sembari menata peralihan kekuasaan. Selama 18 bulan, Suharto menyingkirkan semua loyalis Soekarno dari tubuh ABRI, menggandeng parlemen, mahasiswa dan kekuatan Islam, serta mengakhiri konfrontasi Malaysia. Kekuasaan Soekarno berakhir resmi di tangan MPRS.