Rabu, 06 Agustus 2014

Iran, Negerinya Ahlul Bait Muhammad Saw




Oleh Ahmad Samantho

Kota Qom berjarak 135 km dari Teheran, ibukota Iran. Secara administratif, Qom adalah ibu kota propinsi Qom yang menurut statistik 1997, jumlah penduduknya sekitar 44,850 jiwa; 16,91 % tinggal di kota dan 82,8 % tinggal di daerah pedesaan. Qum terletak di kawasan sahara tengah Iran. Posisinya yang berada di tengah padang yang gersang dan jauh dari laut, iklim Qom sangat kering dan memiliki curah hujan yang kecil. Sebagian besarnya tanahnya tidak bisa dimanfaatkan untuk pertanian.

Tanahnya tidak subur antara lain karena posisinya yang berdekatan dengan danau garam. Di musim panas, suhu udara bisa mendekati 40 derajat celsius. Meski begitu, di musim dingin suhu udara juga bisa anjlok hingga di bawah nol dan sesekali turun salju, meskipun jarang sekali lebat, tak sebagaimana Teheran.

Sejarah Qom

Konon, kota Qom didirikan sebelum era Islam. Tapi menurut sebagian kalangan, kota itu didirikan setelah Islam. “Kum” adalah nama benteng di kota ini, dan kota ini dinamai Qom setelah orang-orang Arab Muslim menyebut-nyebut benteng itu dengan lafal “qum”. Ketika pasukan Islam menyerang Iran, Qom merupakan bagian dari teritori Isfahan, karena itu Qom jatuh ke tangan pasukan Arab bersamaan dengan jatuhnya kota Isfahan ke tangan mereka.

Tahun 23-24 H, Abu Musa al-‘Asy’ari mengirimkan sebagian pasukan yang berada di bawah komandonya ke Qom dan kota inipun jatuh ke tangan mereka di era kekhalifahan Umar bin Khattab. Suku A’sy’ari kemudian pindah dari Kufah ke Qom. Kedatangan mereka membuat Qom lamban laun menjadi kota. Sempat terjadi konflik antara suku Arab Asy’ari yang Muslim dan warga setempat yang beragama Zaratustra, dan warga setempatpun kalah telak.

Pada abad-abad permulaan Islam, Bani Alawiyyin (keturunan Imam Ali bin Abi Thalib) mendapat banyak gangguan dan siksaan dari para penguasa dinasti Umawiyah dan dinasti penerusnya, Abbasiah, dan Qom menjadi salah satu tempat pelarian kaum Alawiyyin. Kedatangan Alawiyyin ke Qom membuat kota ini menjadi sebuah kota bercorak Alawiyyin.

Penduduk Qom memandang dinasti Abbasiah bertanggungjawab atas kematian Imam Ali bin Musa ar-Ridha, imam kedelapan kaum Syiah dan keturunan Rasul (Ahlul Bait) generasi kedelapan. Imam ar-Ridha memiliki adik perempuan, Fatimah Maksumah, yang datang dari Madinah untuk mencari beliau di kota Masyhad, sekitar 1000 km dari Qum, tetapi Fatimah wafat ketika sampai di Qom. Jenazahnya dimakamkan di Qom dan penduduk setempat sangat menghormatinya.

Kecintaan penduduk Qom kepada Ahlul Bait (keluarga dan keturunan suci Rasul SAW) membuat mereka tak pernah akur dengan penguasa. Mereka menolak membayar pajak dan upeti. Akibatnya, al-Makmun, penguasa dinasti Abbasiyah, mengirim pasukan pimpinan Ali bin Hisham ke Qom. Kota ini hancur diobrak-abrik pasukan Ali bin Hisyam, dan terjadi pembunuhan massal.

Ketika Khalifah al-Makmun tewas di tangan pemberontak pada tahun 216 H, rakyat Qom menyerbu Darul Hukumah Qom dan mengusir kaki tangan khalifah. Pemberontakan di Qom ini kemudian ditumpas oleh Khalifah al-Muktasim yang menggantikan al-Makmun. Untuk Kedua kalinya Qom di obrak-abrik dan dibakar oleh pasukan Abbasiyah, dan kota ini pun dikuasai oleh Mohammad bin Isa al-Badghisi yang kemudian menjalankan kebijakan persuasif dengan warga setempat.

Ketika al-Muktasim digantikan oleh al-Mutawakkil, kebijakan represif anti Alawiyyin menggila. Penduduk Qom mendukung Hasan al-Kaukabi untuk mendirikan pemerintahan Alawiyyin di kawasan Taliqan, Qazwin, Zanjan, dan Abhar. Al-Kaukabi kemudian ditumpas oleh al-Muktamid yang menggantikan al-Mutawakkil dengan mengirim pasukan di bawah komando Musa bin Bagha.

Penduduk Qom kemudian mencoba berlindung kepada Imam Hasan al-Asykari, Imam ke-11 kaum Syiah. Secara umum, pemberontakan dan penumpasan berkelanjutan sampai masa kekuasaan Ali Buyeh yang berasal dari Bani Alawi. Di masa Ali Buyeh, Qom mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang. Di era Seljuk, Qom juga terus mengalami perkembangan di tangan kaum pribumi.

Qom hancur total ketika pasukan Mongol datang menyerbu, tetapi kembali mendapat perhatian besar ketika sebagian penguasa, termasuk Sultan Mohammad Uljaitu, mulai cenderung kepada Islam. Pada beberapa dekade terakhir abad ke-8 Hijriah, Qum diserbu pasukan Timur Gurgani dan banyak penduduknya dibunuh secara massal.

Bersamaan dengan munculnya pemerintahan dinasti Qaraquyunilu dan Aqh Quyunilu, dan khususnya di era Safaviyan, Qom kembali berkembang. Tahun 909 H Qom menjadi salah satu pusat budaya dan pengembangan ilmu fikih Syiah. Kota ini dimeriahkan oleh pendidikan dan kajian keagamaan oleh para ulama. Obyek-obyek ziarahnya semakin ramai dikunjungi orang.

Ketika diserang orang-orang Afghan, Qum kembali porak-poranda dan mengakibatkan penduduknya menderita tekanan ekonomi berat. Di era kekuasaan Nadir Shah Afshar, Qom juga menderita banyak kerusakan, begitu pula ketika keluarga Zand dan Qajar bertikai memperebutkan kekuasaan atas Iran.

Tahun 1208, Qum dikuasai Agha Mohammad Khan Qajar. Fatah Ali berhasil mengalahkan musuh dan kemudian memperbaiki komplek makam Hazrat Maksumah sesuai nazarnya. Tahun 1916, ketika pasukan Rusia menyerbu Iran dan memasuki Karaj, banyak warga Teheran yang melarikan diri ke Qom. Saat itu bahkan ada rencana memindahkan ibukota Iran ke Qom, tetapi digagalkan oleh Kedubes Rusia dan Inggris dengan menekan Ahmad Shah. Para muhajirin Teheran di Qom kemudian membentuk Komite Pertahanan Nasional untuk membela tanah air. Akibatnya, Qom menjadi markas kegiatan politik dan militer anti Rusia dan Inggris. Namun, setelah sekian kali konfrontasi, pasukan Rusia berhasil menduduki Qom pada tahun 1915.

Kota Ilmu dan Ziarah

Qom sekarang menjadi salah satu pusat ziarah Iran dan mancanegara. Makam Hazrat Fatimah Maksumah yang megah dan indah membuat kota ini dipandang sebagai kota suci, dan banyaknya sekolah-sekolah agama (hauzah ilmiyah) membuat kota ini lebih hidup dan makmur. Ribuan pelajar domestik dan mancanegara menimba kota ilmu agama dan filsafat di kota ini.

Para pelajar yang sudah senior kebanyakan mengenakan serban. Serban putih adalah tanda pemakainya adalah orang biasa, sedangkan serban hitam adalah tanda untuk lelaki keturunan Alawiyyin, sayid, atau habib menurut istilah di Indonesia. Jika Anda ingin menyaksikan sebuah kota yang dihuni oleh banyak pria beserban, maka Qom adalah satu-satunya tempat di dunia.

Banyak para peziarah Iran dan mancanegara yang datang ke Qom untuk berziarah ke makam Hazrat Fatimah Maksumah. Karena Qom merupakan kota religius dan apalagi statusnya dibesarkan oleh keberadaan makam Hazrat Fatimah Maksumah yang dipercaya sebagai wanita suci nan agung, kaum Hawa di kota ini rata-rata mengenakan cadar hitam. Kota ini sangat menarik untuk dikunjungi.

Makam Suci Hazrat Maksumah

Bangunan  mausoleum Hazrat Maksumah terletak di tengah kota. Bangunan yang besar dan megah serta arsitekturnya yang khas, indah dan mempesona membuat makam adik Imam Ali ar-Ridha, imam kedelapan kaum Syiah, itu tercatat sebagai salah satu warisan berharga dari berbagai abad silam.

Makam Hazrat Maksumah mula-mula hanya dinaungi oleh semacam ijuk oleh seseorang bernama Musa bin Khazraj. Tetapi kemudian penduduk Qum membuat bangunan berkubah dan bermenara sederhana. Tahun 447 H, seorang menteri Taghral bernama Mir Abul Fazl yang merupakan pria agamis, membuatkan kubah yang lebih besar di atas kubah pertama setinggi 14 meter.

Di era pemerintahan Safavi, makam Hazrat Maksumah memiliki empat ruangan berjajar, satu ruangan diantaranya menyediakan pintu masuk, dan satu lagi ruangan menyediakan pintu keluar. Di era pemerintahan dinasti Qajar, Raja Fatah Alishah memberikan perhatian ekstra kepada makam Maksumah sehingga membangunkan mausoleum secara lebih besar dan anggun. Ruang-ruang, dekorasi, dan bilik-bilik yang ada sekarang di komplek makam Hazrat Maksumah sebagian besar adalah peninggalan era dinasti Qajar.

Karena selalu ramai pengunjung dari dalam dan luar kota dan bahkan dari mancanegara, tak aneh jika kawasan sekitar komplek menjadi sangat meriah dan dipadati oleh toko-toko perangkat solat, kitab, batu-batu berharga, pakaian, souvenir, dsb, serta hotel, losmen, restoran, dan rumah-rumah makan.

Musium Haram Hazrat Maksumah

Musium Haram Hazrat Maksumah adalah salah satu musium tertua di Iran yang didirikan tahun 1926. Musium yang terdiri dari dua aula yang diperindah oleh seni keramik yang bernilai seni tinggi itu terletak di sisi komplek mausoleum. Obyek dipamerkan adalah barang-barang berharga yang antara lain Kitab Suci al-Quran dengan seni kaligrafi abad ketiga Hijriah dan ornamen era Safavi.

Ada pula permadani era Safavi karya seniman perdana kesohor Nikmatullah Jushqani yang diwakafkan oleh raja-raja dinasti Safavi untuk Haram Maksumah. Musium ini juga diperkaya oleh karya-karya seni keramik era abad ketujuh Hijriah serta barang-barang anti berupa peti dan tempat-tempat lilin bertatahkan permata, alat musik semacam kecapi terbuat dari perak, dan lain-lain. Musium ini terbuka untuk umum.

Masjid Imam Zaman, Jamkaran

Mesjid Imam Zaman terletak di sebuah kawasan pinggiran kota Qum. Masjid ini memiliki nilai mistis lebih tinggi dibanding mesjid-mesjid lainnya di Iran karena didirikan berdasarkan petunjuk langsung dari Imam Mahdi, imam ke-12 atau imam terakhir kaum Syiah yang dipercaya kini sedang gaib dan akan muncul di akhir zaman sebagai juru penyelamat umat manusia.

Syahdan, Selasa 17 Ramadhan 393 Hijriah, sekelompok penduduk mendatangi rumah seseorang bernama Sheikh Hasan bin Mathlah Jamkarani. Sheikh yang sedang beristirahat dibangunkan oleh warga. Mereka berkata: “Hai Sheikh, engkau dipanggil Imam Mahdi , cepat penuhi panggilannya.” Mereka lantas membawa Sheikh Hasan ke lokasi yang kini menjadi tempat berdirinya Masjid Jamkaran.

Di situ Sheikh Hasan melihat sosok pemuda berusia sekitar 30 tahun duduk bersama satu sosok orang tua di atas sebuah dipan yang dihampari berpermadani. Pemuda itu tak lain adalah Imam Mahdi dan orang tua itu adalah Nabi Khidir. Imam Mahdi memanggil Sheikh Hasan dan berkata kepadanya: “Pergilah ke sebidang tanah tempat Hasan Muslim bertani dan katakan kepadanya bahwa tanah itu suci dan jangan sampai ditanami lagi.”

Sheikh Hasan terkejut dan berkata: “Beri aku suatu tanda agar orang-orang dapat mempercayaiku.” Imam Mahdi berkata: “Kamu pergi saja dan sampaikan risalah ini, dan kami akan memberikan tanda-tanda. Beritahu warga bahwa di tempat itu dianjurkan solat sunnah empat rokat; dua rokaat dengan niat Tahiyat Masjid dan dua rokat lainnya dengan niat solat Imam Zaman. Setelah solat membaca tasbih az-Azhra. Barangsiapa menunaikan solat dua rokat ini (solat Imam Zaman) maka pahalanya seperti pahala solat di dalam Kaabah.”

Berdasarkan riwayat inilah Masjid Jamkaran dibangun. Masjid ini menjadi salah satu icon kesucian kota Qum. Di pertengahan bulan Syakban yang diyakini kaum Syiah sebagai hari lahir Imam Mahdi, masjid dan area sekitarnya dipadati oleh ribuan pelawat yang ingin menunaikan solat sambil memperingati HUT Imam Mahdi yang juga lazim disebut Imam Zaman.

Madrazah Faiziyah

Madrasah Faiziyah di Qom adalah salah satu hauzah ilmiyah (sekolah agama atau pesantren) yang paling kesohor di dunia. Madrasah dengan arsitektur Islam yang unik ini didirikan pada abad 13 Hijriah dan direnovasi pada era dinasti Safavi. Lokasinya yang cukup besar berdampingan dengan Haram Hazrat Maksumah.

Rumah Imam Khomaini

Rumah Imam Khomaini, pendiri Republik Islam Iran, di Qom adalah bangunan tradisional yang sangat bersahaya dan terdiri dari dua flat. Rumah ini memiliki ruang bawah tanah serta pekarangan dan podium tempat beliau berceramah. Rumah ini didirikan pada awal-awal abad ini. Karena keagungan Imam Khomaini, rumah ini sekarang dilestarikan sebagai kenangan berharga dan sering dilawat oleh para peziarah dari dalam dan luar negeri.


Mulla Sadra adalaf filsuf besar abad 11 Hijriah yang berhasil merekonstruksi dan mengembang-luaskan aliran filsafat transendental. Rumah filsuf yang hidup di era dinasti Safavi ini berada di kawasan pinggiran Qom di Desa Kahak dan direnovasi pada tahun 1998 tanpa mengubah struktur awalnya. Rumah itu berupa bangunan batu bata warna coklat dan menyerupai mesjid atau musolla karena memiliki kubah. Pada kubahnya terdapat jendela-jendela kecil dengan kaca warna-warni untuk membiaskan cahaya matahari ke dalam ruangan. Rumah ini dikelilingi oleh halaman atau pekarangan.

Danau Garam

Beberapa kilo dari arah Teheran sebelum memasuki Qom, di siang hari akan terlihat pemandangan unik dari arah kiri. Dari jalan tol di kejauhan akan terlihat sebuah danau yang terhampar luas dan tak terlihat tepi seberangnya sehingga lebih menyerupai laut. Dari kejauhan, danau itu di tengah padang pasir itu terlihat tak jauh beda dengan air. Namun, jika diperhatikan lebih cermat, maka dari warnanya yang putih akan terlihat bahwa yang menghampar itu bukanlah air, melainkan hamparan garam alami yang hasilkan oleh pengeringan danau akibat proses penguapan. Di situ tidak ada air sama sekali, kecuali di musim dingin.

Di musim panas, iklim di sekitar danau kering itu sangat panas. Dan karena terjadi fluktasi cuaca yang sangat tajam antara siang dan malamnya, maka bebatuan di perbukitan di sekitarnya memuai dan hancur menjadi gundukan-gundakan pasir yang berpindah-pindah karena kencangnya tiupan angin. 


Jumat, 01 Agustus 2014

Epik Urwah Ibn Zubair




Pagi itu, matahari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyapa ramah pelatarannya yang suci. Di Baitullah, sekelompok sisa-sisa shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudutnya dengan doa-doa yang shalih. Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekeliling Ka’bah agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya. Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita di antara mereka, tanpa senda gurau yang mengandung dosa.

Di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan mereka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih pakaiannya dan menyatu hatinya. Keempat remaja itu adalah Abdullah bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mush’ab bin Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi Abdul Malik bin Marwan. Pembicaraan mereka semakin serius. Kemudian seorang di antara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakannya. Maka khayalan mereka melambung tinggi ke alam luas dan cita-cita mereka berputar mengitari taman hasrat mereka yang subur.

Mulailah Abdullah bin Zubair angkat bicara: “Cita-citaku adalah menguasai seluruh Hijaz dan menjadi khalifahnya.” Saudaranya, Mus’ab menyusulnya: “Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tak ada yang merongrong kekuasaanku.” Giliran Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas sebelum bisa menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.” Sementara itu Urwah diam seribu bahasa, tak berkata sepatah pun. Semua mendekati dan bertanya, “Bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Beliau berkata, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian, aku ingin menjadi alim [orang berilmu yang mau beramal], sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabb-nya, sunah Nabi-Nya dan hukum-hukum agamanya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surga dengan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Hari-hari berganti serasa cepat. Kini Abdullah bin Zubair dibai’at menjadi khalifah menggantikan Yazid bin Mu’awiyah yang telah meninggal. Dia menjadi hakim atas Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan, dan Irak yang pada akhirnya terbunuh di Ka’bah, tak jauh dari tempatnya mengungkapkan cita-cita dahulu. Sedangkan Mus’ab bin Zubair telah menguasai Irak sepeninggal saudaranya Abdullah dan akhirnya juga terbunuh ketika mempertahankan wilayah kekuasaannya. Adapun Abdul Malik bin Marwan, kini menjadi khalifah setelah terbunuhnya Abdullah bin Zubair dan saudaranya Mus’ab, setelah keduanya gugur di tangan pasukannya. Akhirnya, dia berhasil menjadi raja dunia terbesar pada masanya.

Bagaimana halnya dengan Urwah bin Zubair? Mari kita ikuti kisahnya dari awal? Beliau lahir satu tahun sebelum berakhirnya masa khilafah Umar Bin Khattab. Dalam sebuah rumah yang paling mulia di kalangan kaum muslimin dan paling luhur martabatnya. Adapun ayahnya bernama Zubair bin Awwam, “al-Hawari” (pembela) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang pertama yang menghunus pedangnya dalam Islam serta termasuk salah satu di antara sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Sedangkan ibunya bernama Asma binti Abu Bakar Ibn Quhafah yang dijuluki dzatun nithaqain [pemilik dua ikat pinggang]. Kakek beliau dari jalur ibu adalah Abu Bakar, khalifah pertama yang menemani Rasulullah di sebuah goa. Sedangkan nenek dari jalur ayahnya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib yang juga bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bibinya adalah Aisyah binti Abu Bakar, bahkan dengan tangan Urwah bin Zubair sendirilah yang turun ke liang lahat untuk meletakkan jenazah ummul Mukminin.

Maka siapa lagi kiranya yang lebih unggul nasabnya dari beliau? Adakah kemuliaan di atasnya selain kemuliaan iman dan kewibawaan Islam? Demi merealisasikan cita-cita yang didambakan dan harapan kepada Allah yang diutarakan di sisi Ka’bah yang agung tersebut, beliau amat gigih dalam usahanya mencari ilmu. Maka beliau mendatangi dan menimbanya dari sisa-sisa para shahabat Rasulullah yang masih hidup. Beliau mendatangi rumah demi rumah mereka, shalat di belakang mereka, menghadiri majelis-majelis mereka. Beliau meriyawatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah yang adalah washi-nya Rasulullah, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan banyak pula mengambil dari bibinya, Aisyah. Pada gilirannya nanti, beliau berhasil menjadi satu di antara fuqaha sab’ah (tujuh ahli fikih) Madinah yang menjadi sandaran kaum muslimin dalam urusan agama.

Para pemimpin yang shalih banyak meminta pertimbangan kepada beliau baik tentang urusan ibadah maupun negara karena kelebihan yang Allah berikan kepada beliau. Sebagai contohnya adalah Umar bin Abdul Aziz. Ketika beliau diangkat sebagai gubernur di Madinah pada masa al-Walid bin Abdul Malik, orang-orang pun berdatangan untuk memberikan ucapan selamat kepada beliau.

Usai shalat zuhur, Umar bin Abdul Aziz memanggil sepuluh fuqaha Madinah yang dipimpin oleh Urwah bin Zubair. Ketika sepuluh ulama tersebut telah berada di sisinya, maka beliau melapangkan majlis bagi mereka serta memuliakannya. Setelah bertahmid kepada yang berhak dipuji beliau berkata, “Saya mengundang Anda semua untuk suatu amal yang banyak pahalanya, yang mana saya mengharapkan Anda semua agar sudi membantu dalam kebenaran, saya tidak ingin memutuskan suatu masalah kecuali setelah mendengarkan pendapat Anda semua atau seorang yang hadir di antara kalian. Bila kalian melihat seseorang mengganggu orang lain atau pejabat yang melakukan kezhaliman, maka saya mohon dengan tulus agar Anda sudi melaporkannya kepada saya.” Kemudian Urwah mendoakan baginya keberuntungan dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, senantiasa bersanding dengan Kitabullah dan tekun membacanya. Beliau mengkhatamkan seperempat al Quran setiap siang dengan membuka mushhaf, lalu shalat malam membaca ayat-ayat al Quran dengan hafalan. Tak pernah beliau meninggalkan hal itu sejak menginjak remaja hingga wafatnya melainkan sekali saja. Yakni ketika peristiwa mengharukan yang sebentar lagi akan kita baca.

Dengan menunaikan shalat, Urwah memperolah ketenangan jiwa, kesejukan pandangan dan surga di dunia. Beliau tunaikan sebagus mungkin, beliau tekuni rukun-rukunnya secara sempurna dan beliau panjangkan shalatnya sedapat mungkin. Telah diriwayatkan bahwa beliau pernah melihat seseorang menunaikan shalat secepat kilat. Setelah selesai, dipanggilnya orang tersebut dan ditanya, “Wahai anak saudaraku, apakah engkau tidak memerlukan apa-apa dari Rabb-mu Yang Maha Suci? Demi Allah, aku memohon kepada Rabb-ku segala sesuatu sampai dalam urusan garam.”

Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang ringan tangan, longgar dan dermawan. Di antara bukti kedermawanannya itu adalah manakala beliau memiliki sebidang kebun yang luas di Madinah dengan air sumurnya yang tawar, pepohonan yang rindang serta buahnya yang lebat. Beliau pasang pagar yang mengelilinginya untuk menjaga kerusakannya dari binatang-binatang dan anak-anak yang usil. Hingga tatkala buah telah masak dan membangkitkan selera bagi yang memandangnya, dibukalah beberapa pintu sebagai jalan masuk bagi siapapun yang menghendakinya. Begitulah, orang-orang keluar masuk kebun Urwah sambil merasakan lezatnya buah-buahan yang masak sepuas-puasnya dan membawa sesuai dengan keinginannya. Setiap memasuki kebun, beliau mengulang-ulang firman Allah:

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS. Al-Kahfi: 39)

Suatu masa di zaman khalifah al-Walid bin Abdul Malik, Allah berkehendak menguji Urwah dengan suatu cobaan yang tak seorang pun mampu bertahan dan tegar selain orang yang hatinya subur dengan keimanan dan penuh dengan keyakinan. Tatkala khalifah mengundang Urwah untuk berziarah ke Damaskus. Beliau mengabulkan undangan tersebut dan mengajak putra sulungnya. Khalifah menyambutnya dengan gembira, memperlakukannya dengan penuh hormat dan melayaninya dengan ramah. Kemudian datanglah ketetapan dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, laksana angin kencang yang tak dikehendaki penumpang perahu. Putra Urwah masuk ke kandang kuda untuk melihat kuda-kuda piaraan pilihan. Tiba-tiba saja seekor kuda menyepaknya dengan keras hingga menyebabkan kematiannya.

Belum lagi tangan seorang ayah ini bersih dari tanah penguburan putranya, salah satu telapak kakinya terluka. Betisnya tiba-tiba membengkak, penyakit semakin menjalar dengan cepatnya. Kemudian bergegaslah khalifah mendatangkan para tabib dari seluruh negeri untuk mengobati tamunya dan memerintahkan mereka untuk mengobati Urwah dengan cara apapun. Namun para tabib itu sepakat untuk mengamputasi kaki Urwah sampai betis sebelum penyakit menjalar ke seluruh tubuh yang dapat merenggut nyawanya.

Jalan itu harus ditempuh. Tatkala ahli bedah telah datang dengan membawa pisau untuk menyayat daging dan gergaji untuk memotong tulangnya, tabib berkata kepada Urwah: “Sebaiknya kami memberikan minuman yang memabukkan agar Anda tidak merasakan sakitnya diamputasi.” Akan tetapi Urwah menolak, “Tidak perlu, aku tidak akan menggunakan yang haram demi mendapat afiat (kesehatan)”. Tabib berkata, “Kalau begitu kami akan membius Anda!” Beliau menjawab, “Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Ketika operasi hendak dimulai, beberapa orang mendekati Urwah, lalu beliau bertanya, “Apa yang hendak mereka lakukan?” Lalu dijawab, “Mereka akan memegangi Anda, sebab bisa jadi Anda nanti merasa kesakitan lalu menggerakkan kaki dan itu bisa membahayakan Anda.” Beliau berkata, “Cegahlah mereka, aku tidak membutuhkannya. Akan kubekali diriku dengan dzikir dan tasbih.” Mulailah tabib menyayat dagingnya dengan pisau dan tatkala mencapai tulang, diambillah gergaji untuk memotongnya. Sementara itu Urwah tak henti-hentinya mengucapkan, “Laa ilaaha Illallah Allahu Akbar,” sang tabib terus melakukan tugasnya dan Urwah juga terus bertakbir hingga selesai proses amputasi itu.

Setelah itu dituangkanlah minyak yang telah dipanaskan mendidih dan dioleskan di betis Urwah bin Zubair untuk menghentikan perdarahan dan menutup lukanya. Urwah pingsan untuk beberapa lama dan terhenti membaca ayat-ayat al Quran di hari itu. Inilah satu-satunya hari di mana beliau tidak bisa melakukan kebiasaan yang beliau jaga semenjak remajanya. Ketika Urwah tersadar dari pingsannya, beliau meminta potongan kakinya. Dibolak-baliknya sambil berkata, “Dia (Allah) yang membimbing aku untuk membawamu di tengah malam ke masjid, Maha Mengetahui bahwa aku tak pernah menggunakannya untuk hal-hal yang haram.” Kemudian dibacanya syair Ma’an bin Aus:

Tak pernah kuingin tanganku menyentuh yang meragukan
Tidak juga kakiku membawaku kepada kejahatan
Telinga dan pandangan mataku pun demikian
Tidak  pula menuntun ke arahnya pandangan dan pikiran
Aku tahu, tiadalah aku ditimpa musibah dalam kehidupan
Melainkan telah menimpa orang lain sebelumku.

Kejadian tersebut membuat al-Walid bin Abdul Malik sangat terharu. Urwah telah kehilangan putranya, lalu sebelah kakinya. Maka dia berusaha menghibur dan menyabarkan hati tamunya atas musibah yang menimpanya tersebut. Bersamaan dengan itu, di rumah khalifah datang satu rombongan Bani Abbas yang salah seorang di antaranya buta matanya. Kemudian al-Walid menanyakan sebab musabab kebutaannya. Dia menjawab, “Wahai khalifah, dulu tidak ada seorang pun di kalangan Bani Abbas yang lebih kaya dalam harta dan anak dibanding saya. Saya tinggal bersama keluarga di suatu lembah di tengah kaum saya. Mendadak muncullah air bah yang langsung menelan habis seluruh harta dan keluarga saya. Yang tersisa bagi saya hanyalah seekor onta yang lari dari saya. Maka saya taruh bayi yang saya bawa di atas tanah lalu saya kejar onta tadi. Belum seberapa juh, saya mendengar jerit tangis bayi itu. Saya menoleh dan ternyata kepalanya telah berada di mulut serigala, dia telah memangsanya. Saya kembali, tapi tak bisa berbuat apa-apa lagi karena bayi itu sudah habis dilalapnya. Lalu serigala tersebut lari dengan kencangnya. Akhirnya saya kembali mengejar onta liar tadi sampai dapat. Tapi begitu saya mendakat dia menyepak dengan keras hingga hancur wajah saya dan buta kedua mata saya. Demikianlah, saya dapati diri saya kehilangan semua harta dan keluarga dalam sehari semalam saja dan hidup tanpa memiliki penglihatan.

Kemudian al-Walid berkata kepada pengawalnya, “Ajaklah orang ini menemui tamu kita Urwah, lalu mintalah agar dia mengisahkan nasibnya agar beliau tahu bahwa ternyata masih ada orang yang ditimpa musibah lebih berat darinya.” Tatkala beliau diantarkan pulang ke Madinah dan menjumpai keluarganya, Urwah berkata sebelum ditanya, “Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu. Maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Aku dikaruniai empat kekuatan lalu hanya diambil satu, maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Dia mengambil sedikit dariku dan masih banyak yang ditinggalkan-Nya untukku. Bila Dia menguji sekali, kesehatan yang Dia karuniakan masih lebih banyak dan lebih darinya.”

Demi melihat kedatangan dan keadaan gurunya, maka penduduk Madinah segera datang berbondong-bondong ke rumahnya untuk menghibur. Yang paling baik di antara ungkapan teman-teman Urwah adalah dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah: “Bergembiralah wahai Abu Abdillah, sebagian dari tubuhmu dan putramu telah mendahuluimu ke surga. Insya Allah yang lain akan segera menyusul kemudian. Karena rahmat-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggalkan engkau untuk kami, sebab kami ini fakir dan memerlukan ilmu fiqih dan pengetahuanmu. Semoga Allah memberikan manfaat bagimu dan juga kami. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wali bagi pahala untukmu dan Dia pula yang menjadim kebagusan hisab untukmu.”

Urwah bin Zubair menjadi menara hidayah bagi kaum muslimin. Menjadi penunjuk jalan kemenangan dan menjadi da’i selama hidupnya. Perhatian beliau yang paling besar adalah mendidik anak-anaknya secara khusus dan generasi Islam secara umum. Beliau tidak suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk memberikan petunjuk dan selalu mencurahkan nasihat demi kebaikan mereka. Tak bosan-bosannya beliau memberikan motivasi kepada para putranya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Beliau berakata, “Wahai putra-putriku, tuntutlah ilmu dan curahkan seluruh tenagamu untuknya. Karena, kalaupun hari ini kalian menjadi kaum yang kerdil, kelak dengan ilmu tersebut Allah menjadikan kalian sebagai pembesar kaum.” Lalu beliau melanjutkan: “Sungguh menyedihkan, adakah di dunia ini yang lebih buruk daripada seorang tua yang bodoh?”

Beliau anjurkan pula kepada mereka untuk memperbanyak sedekah, sedangkan sedekah adalah hadiah yang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian menghadiahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan apa yang kalian merasa malu menghadiahkannya kepada para pemimpin kalian, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mulia, Maha Pemurah dan lebih berhak didahulukan dan diutamakan.”

Beliau senantiasa mengajak orang-orang untuk memandang suatu masalah dari sisi hakikatnya. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, jika engkau melihat kebaikan pada seseorang maka akuilah itu baik, walaupun dalam pandangan banyak orang dia adalah orang jahat. Sebab setiap perbuatan baik itu pastilah ada kelanjutannya. Dan jika melihat pada seseorang perbuatan jahat, maka hati-hatilah dalam bersikap walaupun dalam pandangan orang-orang dia adalah orang yang baik. Sebab setiap perbuatan ada kesinambungannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan setelahnya dan kejahatan menyebabkan timbulnya kejahatan berikutnya.”

Beliau juga mewasiatkan agar berlemah lembut, bertutur kata yang baik dan berwajah ramah. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, tertulis di dalam hikmah, “Jadikanlah tutur katamu indah dan wajahmu penuh senyum, sebab hal itu lebih disukai orang daripada suatu pemberian.” Jika beliau melihat seseorang condong pada kemewahan dan mengutamakan kenikmatan, diingatkannya betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membiasakan diri untuk hidup sederhana.

Sebagai contoh adalah kisah yang diceritakan oleh Muhammad bin al-Munkadir, “Aku bertemu dengan Urwah bin Zubair. Dia menggandeng tanganku sambil berkata, “Wahai Abu Abdillah.” Aku jawab, “Labbaik.” Urwah berkata, “Aku pernah menjumpai ibuku Aisyah, lalu beliau berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, ada kalanya selama 40 hari tak ada api menyala di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk lampu ataupun memasak.” Maka aku bertanya, “Bagaimana Anda berdua hidup pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Dengan korma dan air.” Urwah hidup hingga usia 71 tahun. Hidupnya penuh dengan kebajikan, kebaktian, dan diliputi ketaqwaan. Ketika dirasa ajalnya sudah dekat dan dia dalam keadaan berpuasa, keluarganya mendesak agar beliau mau makan, tetapi beliau menolak keras karena ingin berbuka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan minuman dari telaga al-Kautsar yang dituangkan dalam gelas-gelas perak oleh para bidadari cantik di surga.