Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2016

Iman & Akal


Oleh Gordon H. Clark

Sepanjang sejarah teologi dan filsafat – baik dalam semua “perang antara sains dan agama,” maupun dalam tulisan-tulisan renungan tentang hubungan antara Tuhan dan manusia – masalah antitesis antara iman dan akal budi sering menjadi pusat perhatian. Namun apakah benar bahwa iman dan rasio bersifat antithesis satu dengan yang lainnya? Kalau digunakan pengertian dari Augustinus, keduanya hampir identik. Dalam konteks lain keduanya ditempatkan sebagai saling bersahabat satu dengan yang lain. Namun tentu saja seringkali keduanya ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Diskusi dalam tulisan ini dibahas dalam empat sub judul yang mudah dipahami. Pertama, pandangan Roma Katolik yang akan dibahas di bawah judul “Akal Budi dan Iman.” Kedua, “Akal budi tanpa iman” akan meringkas filsafat modren mulai dari Descartes sampai ke Hegel. Ketiga, munculnya irasionalisme yang menyusul Hegel – termasuk mistisisme, Neo-ortodoksi, serta Nietzsche dan Instrumentalisme – akan dibahas sebagai contoh “Iman tanpa Akal Budi.” Dan keempat akan dibahas kombinasi “Iman dan Akal Budi.”

AKAL BUDI DAN IMAN –TEOLOGI ALAMIAH/NATURAL
Bahwa agama yang benar didahului atau dalam pengertian tertentu didasarkan pada aktivitas akal budi alamiah merupakan sebuah gagasan yang telah dan terus berkembang secara luas. Prosedur yang [dianggap] tepat [menurut gagasan ini] adalah memulai [agama] dengan pembuktian keberadaan Allah. Kalau misalnya orang tidak percaya sudah diyakinkan dengan argumen yang disimpulkan dari alam [bahwa Allah ada], maka langkah berikutnya adalah menunjukkan probabilitas wahyu khusus, lalu akhirnya menunjukkan kemasuk-akalan Alkitab/Kitab Suci.

Bukan saja teologi alamiah (dalam bentuknya yang dikemukakan pada abad pertengahan) telah diadopsi sebagai posisi resmi Romanisme[1] tetapi juga banyak teolog Protestan menerima salah satu dari bentuknya. Tidak semua teolog Protestan seperti itu tentunya. A.H. Strong, Systematic Theology (I, 71), berkata, “[Kesimpulan] argumen-argumen ini adalah keniscayaan dan tidak bersifat demonstratif.” Namun demikian profesor Lutheran, Leander S. Keyser, menguraikan argumen rasional bagi keberadaan Tuhan dalam [bukunya yang berjudul] A System of Natural Theism. Analisa dan penolakannya terhadap argumen ontologis menggarisbawahi ketergantungannya pada argumen lain. A. E. Taylor lebih ambigu lagi posisi gerejaninya, konsepnya tentang Tuhan, dan bahkan pandangannya terhadap kuat lemahnya argumen yang dia kemukakan. Namun dia menulis sebuah buku berjudul, Does God Exist?[2] yang dijawabnya dengan jawaban yang tentunya tidak negatif.

J. Oliver Buswell, Jr., Stuart Hackett, dan Edward John Carnell dengan caranya sendiri bergabung dengan beberapa penulis Protestan yang menerima pembuktian teistik. Namun jauh sebelum semua orang-orang ini ada, Thomas Aquinas dengan cara yang lebih jelas dan bentuk yang lebih sistematis mengemukakan argumen alamiah bagi keberadaan Allah dan atas dasar itu dia mendirikan teologi wahyu.

Pandangan Thomistik[3] membedakan antara proses untuk mencapai kebenaran dengan akal budi manusia [tanpa wahyu] dan penerimaan sukarela terhadap kebenaran berdasarkan otoritas wahyu Allah. Yang disebut pertama merupakan filsafat yang dapat didemonstrasikan; dan yang disebut kedua diterima tanpa demonstrasi dan merupakan bidang iman. Karena itu dalam pengertian tertentu iman dan akal budi tidak saling kompatibel. Tentu saja pengertian [kompatibel] yang digunakan di sini tidak sama dengan yang digunakan kaum humanis atau materialis dimana yang dimaksud adalah keduanya saling bertentangan. Namun demikian, [yang dimaksud di sini adalah] keduanya secara psikologis atau subyektif tidak saling kompatibel. Jika sebuah proposisi sudah didemonstrasikan[4] secara rasional, maka merupakan sebuah ketidakmungkinan bagi kita untuk mempercayainya hanya atas dasar otoritas. Sebagai contoh, seorang guru SMA mengatakan kepada siswanya bahwa sebuah bidang segitiga memiliki 180 derajat. Seandainya si siswa paham apa maksudnya ‘derajat’, maka dia akan mempercayai apa yang dikatakan gurunya. Tetapi ketika si siswa telah memahami pembuktiannya, dia tidak lagi mempercayai teorema tersebut atas dasar otoritas sang guru; tetapi dia memahami teorema tersebut karena dia telah membuktikannya.

Thomas dan Aristotle bahkan memperbolehkan penggunaan contoh dari pengalaman inderawi. Seorang Amerika mungkin mengatakan kepada seorang Eropa bahwa Denver berada di Barat St. Louis. Namun ketika si Eropa datang ke Amerika dan mengunjungi kota-kota di sana, dia tidak lagi akan mempercayainya atas dasar otoritas namun dia mengetahuinya karena sudah mengalami. Karena itu tidaklah memungkinkan untuk mengetahui dan mempercayai/mengimani hal yang sama pada saat yang sama. Prinsip ini juga berlaku pada proposisi tentang keberadaan Allah.

Namun demikian, inkompatibilitas subyektif antara mengetahui dan mempercayai hal yang sama pada saat yang sama tidak menghalangi proposisi tersebut menjadi bagian dari teologi satu orang dan namun menjadi bagian dari filsafat orang lainnya. Allah telah mengakomodir dirinya sendiri dengan kelemaham manusia sehingga agama Kristen tidak terbatas hanya diperuntukkan bagi para pakar. Karena itu Allah secara supranatural telah mewahyukan beberapa kebenaran yang dapat ditemukan sendiri oleh para pakar. Jadi Allah telah menyatakan keberadaan-Nya sehingga para petani dan orang-orang bodoh dapat mempercayainya. Dengan demikian mereka memiliki iman. Namun Thomas tidak lagi mempercayai keberadaan Allah; namun dia mengetahui bahwa Allah ada karena dia telah membuktikannya.

Dalam pengertian lain yang lebih penting, akal budi dan iman tidaklah tak kompatibel. Keduanya saling melengkapi. Ada banyak kebenaran-kebenaran tentang Allah yang tidak dapat didemonstrasikan. Namun walaupun tidak dapat diperoleh secara alamiah, kebenaran-kebenaran tersebut adalah persyaratan bagi agama positif. Karena itu, Allah dalam kemurahan-Nya telah mewahyukannya. Sebagai contoh, walaupun dapat didemonstrasikan bahwa Allah ada dan bahwa Dia adalah penyebab dunia ini, tetapi doktrin Trinitas tidak dapat didemonstrasikan. Namun demikian, doktrin Trinitas tidaklah tak kompatible dengan akal budi karena tidak berkontradiksi dengan proposisi apa saja yang dapat didemonstrasikan dalam filsafat[5]. Sebaliknya, doktrin wahyu melengkapi apa yang tidak dapat diselesaikan oleh filsafat. Kedua kebenaran tersebut saling melengkapi.

Iman yang benar dan akal budi yang benar tidak dapat saling berkontradiksi satu dengan yang lain. Pengetahuan alamiah dan kebenaran iman sama-sama berasal dari Allah – walaupun [didapatkan] dengan cara berbeda. Namun karena keduanya berasal dari Allah, keduanya harus saling konsisten. Karena itu tidak terelakkan bahwa iman seringkali mendukung akal budi. Ketika dalam pemikiran spekulatifnya seorang pemikir sampai pada sebuah proposisi yang tidak konsisten dengan iman, seperti yang terjadi pada Averroës ketika dia menyimpulkan individu tidaklah kekal, dia harus menerima peringatan wahyu bahwa dia telah melakukan kesalahan dalam argumentasinya. Iman tidak pernah menjadi penghalang bagi akal budi; orang tidak boleh memiliki gambaran tentang seorang percaya sebagai tahanan yang harus dibebaskan karena iman hanya membatasi seseorang dari kesalahan. Dengan demikian akal budi dan iman berada dalam keadaan harmonis satu dengan yang lain.

Haruslah dicatat makna dari iman dan akal budi dalam pandangan Thomistik. Keduanya adalah istilah kunci yang tidak memiliki makna yang sama ketika digunakan oleh semua filsuf/penulis. Karena itu diskusi historis yang menggunakan kedua istilah ini tidak selalu terkait dengan hal yang sama. Bagi Thomas Aquinas Iman merujuk kepada kebenaran yang diterima dengan impartasi informasi secara supranatural, tetapi itu bukan definisi iman [yang digunakan oleh] F. H. Jacobi dan yang kemudian juga digunakan oleh Friedrich Schleiermacher. Akal budi dalam konteks pembicaraan tulisan [mengenai pandangan Thomistik] ini berarti sebuah proses yang dimulai dengan sensasi inderawi, kemudian masuk imajinasi, lalu pemanfaatan abstraksi, dan kemudian tiba pada pengetahuan konseptual. Namun demikian, dalam filsafat abad ketujuh belas akal budi sepenuhnya dipisahkan dari sensasi inderawi. Akal budi berarti logika semata. Karena ada variasi penggunaannya, maka kita perlu berhati-hati. Pandangan seorang penulis / filsuf terhadap iman dapat saja memang berlaku bagi definisi/makna iman tertentu, sementara pada saat yang sama dapat saja tidak ada hubungan sama sekali dengan definisi/makna yang digunakan orang lain. Kegagalan untuk memperhatikan ini – bukan hanya oleh pembaca tetapi lebih penting lagi oleh para penulis – telah menjadi sumber kebingungan yang tidak berkesudahan.

Sebelum membahas argumen kosmologis untuk menentukan apakah akal budi dapat memenuhi ekspektasi Aquinas, perlu dipertimbangkan beberapa keberatan terhadap program [Aquinas] yang secara umum digambarkan secara ringkas di atas. Edwin A. Burtt dalam tulisannya berjudul Types of Religious Philosophy tampaknya setuju dengan kritikan berikut ini: 

Jika akal budi manusia secara alamiah tidak kompeten untuk sampai pada kesimpulan tentang doktrin Trinitas atau pada kebenaran iman lainnya, pastilah akal budi tersebut tidak kompeten untuk membuktikan keberadaan TuhanMengapa satu kebenaran dapat didemonstrasikan dan yang lainnya tidak? Lebih jauh lagi, bahkan jika keberadaan dan kebaikan Allah telah dibuktikan, itu tidak berimplikasi bahwa dibutuhkan wahyu supranatural. Allah dapat saja menunjukkan kebaikannya dengan cara yang lain.

Menurutnya penganut Katolik Roma menghadapi dilemma berikut: Jika akal budi manusia mampu [sampai pada kesimpulan] bahwa kebaikan Allah berimplikasi adanya wahyu supranatural, maka wahyu tersebut tidak dibutuhkan karena akal budi pasti dapat memutuskan apa yang dibutuhkan untuk mencapai kebaikan; jika akal budi tidak kompeten untuk menunjukkan jalan bagi keselamatan manusia, maka akal budi lebih tidak mampu lagi menyimpulkan sesuatu tentang providensia yang tak terbatas.[6]

Mungkin benar ada kecacatan dan bahkan kecacatan serius dalam filsafat Thomistik. Namun kritikan Profesor Burtt tampaknya meleset. Tampaknya aneh bahwa diskusi [ini] yang bertujuan untuk sampai pada penolakan menyeluruh terhadap Tomisme harus berhenti sebentar untuk membelanya dari serangan kontemporer. Namun bukan hanya orang harus mencoba untuk bersikap adil, tetapi juga harus menjadi bagian dari kepentingan pribadinya untuk tidak bergantung pada krikan yang cacat. Professor Burtt telah menempatkan beban pada Thomisme yang sebenarnya tidak perlu ditanggungnya.

Pertama-tama, bukanlah sebuah keharusan untuk menyimpulkan bahwa kebaikan Tuhan berimplikasi valid adanya wahyu supranatural. Cukuplah bagi kebaikan Allah untuk berimplikasi bahwa Dia mengijinkan adanya kemungkinan wahyu. Tentu saja, Allah bisa saja menunjukkan kebaikannya dengan cara yang lain seperti dipercayai Burtt, tetapi [pandangan] ini tidak secara rasional meniadakan wahyu khusus.

Kemudian kedua, seandainyapun kebaikan Allah berimplikasi adanya wahyu khusus, itu sama sekali tidak berimplikasi valid bahwa akal budi semata dapat menemukan isi dari wahyu tersebut. Seandainya diterima tanpa syarat bahwa dari kebaikan Tuhan kita dapat secara valid menyimpulkan kepastian adanya wahyu – yaitu kita menerima bahwa kita membutuhkan informasi lebih lanjut tentang metode untuk mendapatkan kebahagiaan tertinggi – masih tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa informasi tersebut dapat ditemukan melalui upaya mandiri tanpa bantuan [ilahi]. Sebaliknya, bukankah ketidakmampuan kita menemukan persyaratan dari Allah bagi kita yang mengakibatkan kita untuk menyimpulkan perlu adanya wahyu?

Kritikan Burtt bergantung sepenuhnya pada prinsip bahwa jika ada kemungkinan untuk mendemonstrasikan salah satu proposisi, maka ada pula kemungkinan untuk mendemonstrasikan proposisi lain. Ini tidak masuk akal. Bukanlah sesuatu yang irasional atau berkontradiksi dengan diri sendiri untuk berpegang pada prinsip demonstrabilitas beberapa kebenaran dan indemonstrabilitas kebenaran lain. Bahkan Hegel, yang dengan eksegesis terhadap sistemnya harusnya mampu mendemonstrasikan segala sesuatu, mengakui adanya kontinjensi[7] di alam.

Dalam konstruksi/sistem Hegel, pengakuan ini tentu saja bisa jadi sebuah kecacatan. Idealisme absolut mempra-anggapkan bahwa semua pengetahuan begitu terkait satu dengan yang lain sehingga membentuk sebuah satu kesatuan. Alam dianggap dapat dipahami melalui manifestasi dialektis dari konsep-konsep yang sepenuhnya dapat kita kendalikan. Namun Thomisme bukanlah Hegelianisme. Jika [kita setuju] dengan Thomas bahwa premis dari sebuah demonstrasi diperoleh dari pengalaman sensasi inderawi, maka setiap orang memiliki pengalaman inderawi yang terbatas, dan semua umat manusia akan dibatasi oleh semesta pengalaman yang di dalamnya tidak mengandung premis untuk semua kebenaran. Tanpa premis-premis [untuk semua kebenaran] ini kita tidak mungkin sampai pada kesimpulan yang diinginkan. Pertimbangan epistemiologis yang rumit memainkan peranan penting di sini dan tidak dapat dibahas saat ini. Namun dari pandangan yang lebih umum, ketidakmampuan mendemonstrasikan kejadian-kejadian dalam sejarah tampaknya tidak membatalkan bukti-bukti teorema-teorema dalam geometri.

Burtt kemudian menganggap bahwa untuk menjawab kritikan yang mengatakan bahwa kompetensi rasional mengakibatkan tidak dibutuhkannya wahyu, si Romanis[8] akan menunjuk kepada Alkitab sebagai bukti adanya wahyu. Namun, Burtt berpandangan bahwa jawaban ini bukanlah jawaban yang memadai terhadap kritikannya. “Penerimaan akan sesuatu yang dianggap wahyu sebagai fakta aktual bergantung pada keyakinan awal bahwa di alam semesta terdapat Allah yang mampu dan mau menyediakan [wahyu tersebut]” (hal. 406, edisi revisi). Penegasan ini juga jauh meleset, namun dalam hal tertentu lebih menggambarkan posisi [yang diserang] daripada dilemma sebelumnya. Dilema ini bergantung pada pandangan bahwa satu argumen yang mendukung keberadaan Allah berimplikasi adanya wahyu. Dengan kata lain, pertama-tama Burtt berpandangan bahwa jika sebuah demonstrasi keberadaan Allah dilanjutkan, maka akan juga mendemonstrasikan keberadaan dan isi dari wahyu. Kalimat terakhir hanyalah menegaskan bahwa sebuah keyakinan tentang keberadaan Allah mendahului penerimaan terhadap sebuah wahyu. Ini tidak terkait dengan pertanyaan apakah keberadaan Allah berimplikasi adanya wahyu, melainkan ini merupakan sebuah posisi yang lebih sederhana bahwa sebuah wahyu bergantung pada asumsi bahwa Allah mampu dan bersedia menyatakan diri-Nya.

Jelas Thomas mengklaim bahwa dia telah mendemonstrasikan keberadaan Allah yang seperti itu. Karena itu langkah berikutnya adalah mencari dan menemukan di dunia akan adanya wahyu yang telah terjadi. Dan sekali lagi jelas Thomas menemukan Alkitab. Burtt menegaskan bahwa penemuan ini bukalah jawaban yang memadai terhadap kritikannya. Namun kalau kita menerima bagian pertama dari filsafat Thomas, tidaklah mudah untuk memahami mengapa langkah ini dapat disebut tidak memadai.

Namun demikian, masih ada satu lagi sumber kebingungan. Penerimaan akan sebuah wahyu dapat saja tidak bergantung pada keyakinan sebelumnya akan keberadaan Allah. Jelas, sebuah wahyu mempra-anggapkan adanya Allah. Tetapi penerimaan terhadap sebuah wahyu tidak membutuhkan kepercayaan sebelumnya akan Allah. Orang dapat saja menerima Alkitab dan waktu menerimanya juga merupakan saat pertama kali dia meyakini keberadaan Allah. Artinya dia mungkin akan menemukan Allah dalam wahyu itu. Bahkan jelas bahwa karena tidak banyak orang yang kompeten untuk memahami bukti-bukti keberadaan Allah, dan karena banyak yang kompeten tidak mempelajarinya, maka tampaknya sebagian besar orang yang menerima wahyu belum meyakinkan diri mereka secara intelektual akan keberadaan Allah. Mereka mempercayai keberadaan Allah dan isi dari Alkitab dengan iman.

Tentu saja secara logis, fakta [adanya] wahyu mempraanggapkan adanya Allah. Kalau ini yang dimaksud, jelas Burtt benar. Namun ini bukan kritikan yang menghancurkan, karena Thomas juga mengakui hal yang sama. Hal ini jelas sesuai dengan pembedaan yang dilakukan Thomas namun yang diabaikan begitu saja oleh Burtt, yaitu antara tata aturan realitas dan tata aturan mengetahui. Dalam realitas Allah harus ada terlebih dahulu baru yang lain mengikuti; tetapi menurut Thomas proses belajar manusia dimulai dengan hal lain terlebih dahulu baru kemudian sampai pada Allah sebagai kesimpulan. Karena itu, walaupun mungkin rumit, kritikan Burtt terhadap Thomas harus dinilai tidak solid.

Perenungan terhadap kritikan Burtt dapat mengindikasikan bahwa hal-hal yang dia bahas bersifat sekunder. Inti masalahnya sendiri terletak pada demonstrasi [Thomas] itu sendiri. Jika demonstrasi itu valid, maka dengan sendirinya penolakan [terhadapnya] gagal. Namun apakah demonstrasi itu valid? Apakah Thomas mampu membuktikan keberadaan Allah? Ini adalah pertanyaan penting.

ARGUMEN KOSMOLOGIS
Pada argumen inilah bergantung nasib semua teologi natural/alamiah bukan teologi wahyu. Dan kekuatan argumen inilah yang nanti akan menentukan apakah karya selama berabad-abad itu bernilai atau apakah karya tersebut salah arah. Jika argumen kosmologis (dengan mengabaikan argumen ontologis) tidak valid, maka ada dua kemungkinan yaitu Kekristenan tidak memiliki dasar rasional, atau harus ditemukan makna akal budi yang independen dari filsafat Thomistik. Arah dari diskusi ini adalah menunjukkan bahwa argument Thomas terbukti tidak valid dan penggunaan definisi akal budi dalam sistemnya tidak dapat dipertahankan; kemudian akan diusulkan makna alternatif dari akal budi (reason) yang di samping referensi Thomistik juga menunjukkan adanya ambiguitas dalam tuduhan humanistik modern bahwa Kekristenan tidak rasional.

Argumen kosmologis bagi keberadaan Allah [yang paling paripurna dikembangkan oleh Thomas Aquinas] merupakan sebuah sesat pikir. Tidaklah memungkinkan untuk memulai dengan pengalaman inderawi dan kemudian melanjutkan dengan hukum logika formal menuju keberadaan Allah sebagai kesimpulannya. Istilah sesat pikir, hukum logika fomal, invaliditas, demonstrasi, dan lain-lain sebagainya merujuk kepada hukum-hukum pemikiran yang tidak ada pengecualian. Istilah-istilah ini merujuk kepada penarikan kesimpulan yang tidak terelakkan.

Beberapa teolog Protestan menggambarkan penalaran valid sebagai sesuatu yang bersifat matematis. Sebagai contoh, David S. Clark hendak “membedakan antara bukti dan demonstrasi matematis.”[9]Yang dia maksud dengan bukti adalah petunjuk – petunjuk / evidensi seperti yang digunakan dalam ruang pengadilan. Alasannya menggunakan istilah matematis dalam kaitan dengan demonstrasi adalah bahwa aljabar dan secara khusus geometri terdiri dari penarikan kesimpulan yang tidak terelakkan. Demonstrasi – demonstrasi geometri jelas valid. Demonstrasi – demonstrasi ini adalah contoh yang menonjol dari pemikiran yang benar. Jika premis diakui sebagai benar, maka kesimpulan tidak dapat dihindari.

Dalam pengadilan, satu petunjuk (evidence) – dan seringkali semua petunjuk secara bersama-sama – tidak mengharuskan satu keputusan atau kesimpulan. Namun demikian, penggunaan istilah matematis, patut disayangkan; karena bukti-bukti geometris tidak lebih valid dari silogisme non-matematis yang telah digunakan selama berabad-abad dalam buku teks logika yaitu: Semua manusia fana; Socrates adalah manusia; karena itu, Socrates fana. Ini adalah inferensi yang tidak dapat dielakkan. Thomas Aquinas bertujuan dan teologi alamiah menuntut bahwa argumen yang mendukung keberadaan Allah haruslah merupakan demonstrasi yang valid secara formal yaitu kesimpulan yang tidak dapat dielakkan kalau premis benar. Dalam hal ini saya akan menunjukkan argumen kosmologis gagal.

Alasan pertama mengapa argumen ini gagal terlalu rumit untuk dibahas di sini. Seperti diringkas dalam Summa Theologiae I, Q. 2, argumen kosmologis bergantung pada latar belakang filosofis luas yang dipinjam dari Aristoteles. Di dalamnya termasuk teori tentang gerakan/perubahan yang mengatakan bahwa tidak ada yang dapat menggerakkan diri sendiri. Tesis ini bergantung pada konsep potensialitas dan aktualitas. Thomas mendefinisikan motion (gerak/perubahan) sebagai reduksi potensialitas menjadi aktualitas. Penyebab dari sebuah gerakan atau perubahan adalah sesuatu yang aktual dan sesuatu yang digerakkan adalah potensial. Karena tidak ada apapun yang sekaligus aktual dan potensial dalam pengertian/hubungan yang sama, maka tidak terelakkan bahwa tidak ada hal yang menggerakkan diri sendiri.

Sayangnya konsep potentialitas dan aktualitas tetap tidak terdefinisi. Aristoteles mencoba menjelaskannya dengan menggunakan sebuah analogi. Dalam konteks [penjelasan-]nya, gerakan/perubahan digunakan dalam penjelasan [tentang potentialitas dan aktualitas] dan kemudian konsep potensialitas dan aktualitas digunakan untuk mendefinisikan gerakan. Karena itu argumennya melingkar / sirkular. Di balik ini semua berdiri sejumlah besar ajaran metafisika dan epistemiologi. Kerumitan seperti itu tidak dapat dibahas di sini, namun patut dicatat bahwa jika satu saja silogisme esensial dalam sebuah argumen besar ini tidak valid, maka seluruh sistem ini dan bukti akan keberadaan Allah ambruk.

Alasan kedua menolak argumen kosmologis dapat dijelaskan dengan lebih rinci. Dalam upayanya untuk menyimpulkan adanya Penggerak yang Tidak Bergerak (Unmoved Mover), Thomas berargumen bahwa serangkaian hal yang digerakkan oleh hal lain tidak dapat terus berlanjut ke tak berhingga. Alasan yang diberikan Thomas untuk menolak menyangkali penyebab gerak tidak dapat terus berlanjut ke tak berhingga adalah karena hal itu akan menghapuskan kebutuhan akan Penggerak Pertama. Namun alasan yang diberikan Thomas ini pada dasarnya merupakan kesimpulan yang dia ingin buktikan. Tentu saja, serangkaian penyebab gerak yang tak terhingga tidak konsisten dengan Penggerak Awal yang Tidak Bergerak (Unmoved Mover). Tetapi jika argumen ini dirancang untuk mendemonstrasikan [keberadaan] Unmoved Mover, keberadaannya tidak dapat digunakan sebagai salah satu premis dalam argumen.

Alasan ketiga terkait dengan keprihatinan yang sedikit berbeda yaitu tentang identitas Unmoved Mover. Andaikan bahwa semua silogisme valid sampai membuktikan adanya Unmoved Mover. Andaikan keberadaan Unmoved Mover telah didemonstrasikan. Ketika Thomas menambahkan bahwa, “[Penggerak Pertama] ini dipahami semua orang sebagai Tuhan,” kita masih bisa mengajukan keberatan. Kalau ini dipandang sepenuhnya secara harfiah, maka argumen ini hanya membuktikan adanya penyebab fisik. Kita malah dapat mengatakan bahwa argumen ini hanya dapat membuktikan keberadaan sebagian penyebab fisik dari gerakan/perubahan. Untuk menghindari hal ini, Aristoteles sampai bersusah-payah untuk membuktikan bahwa si Unmoved Mover tidak memiliki besaran. Namun inilah yang merupakan bagian yang paling tidak memuaskan dari argumennya. Namun jelas bahwa si Unmoved Mover yang dibuktikan itu tidak memiliki kualitas personalitas transenden. Tidak ada yang bersifat supranatural dari penyebab ini. Seandainya argument ini valid, dan seandainya si Unmoved Mover menjelaskan proses di alam, maka Allah Abraham, Ishak, dan Yakub tidak berguna dan bahkan tidak mungkin ada.

Ini adalah titik dimana kita harus memperhatikan seorang teolog besar kontemporer. Karl Barth, bapak Neo-orthodoxy, dalam bukunya Church Dogmatics II, 1, 79ff., mengemukakan alasannya untuk menolak pandangan Roma Katolik. Bertentangan dengan keputusan Konsili Vatican, 24 April 1870, [yang menyatakan] bahwa Allah yang merupakan yang awal dan yang akhir dari segala sesuatu, dapat dengan pasti diketahui dari fenomena alam ciptaan dengan kekuatan penalaran alami manusia, Barth menyatakan bahwa Allah hanya dapat diketahui melalui Allah. Alasan utama yang dikemukakan Barth adalah bahwa kita sedang berbicara tentang Allah Kekristenan, yaitu Allah Tritungal.

Memang benar Konsili Vatican tidak bermaksud berbicara tentang Allah yang lain, ataupun hanya tentang sebagian dari Allah yang satu ini. Tetapi metode yang digunakan menyebabkan pemisahan (partitioning) terhadap Tuhan sehingga menghasilkan Allah yang lain. Keputusan Konsili tersebut menggunkaan sebutan “Allah kami,” tetapi argumen yang dikemukakan hanya terkait dengan “awal dan akhir segala sesuatu.” Menurut Barth, Kekristenan percaya bahwa Allah merupakan awal dan akhir dari segala sesuatu, tetapi juga percaya bahwa Allah adalah Penebus; dan ketika kita serius memperhatikan kesatuan dalam Allah itu, kita tidak dapat memisahkan satu dari yang lainnya sehingga pengenalan/pengetahuan akan Allah sebagai yang awal dan yang akhir dari segala sesuatu berasal dari alam dan pengenalan/pengetahuan lain tentang Allah sebagai Tuhan dan Penebus berasal dari wahyu. Tidak, kata Barth. Pengetahuan tentang Allah tidak dapat dipartisi/dibagi-bagi. Pengetahuan tentang Allah sebagai awal dan akhir tidak dapat ada tanpa pengetahuan tentang Allah sebagai Penebus. Demikian juga kita tidak dapat mengetahui/mengenal Allah sebagai Penebus tanpa mengetahui/mengenal Dia sebagai Yang Awal dan Yang Akhir dari segala sesuatu.

Bukankah Deus Dominus et creator dari doktrin ini merupakan hasil konstruksi pikiran manusia – yaitu pemikiran yang pada gilirannya tidak didasarkan pada dasar dan esensi Gereja, pada Yesus Kristus, pada para nabi dan rasul, namun yang bergantung pada dirinya sendiri? Walaupun dapat diketahuinya konstruksi ini dapat diafirmasi tanpa wahyu, bukankah kita harus bertanya apa otoritas yang kita miliki dari dasar dan esensi Gereja sehingga kita menyebutnya “Allah”?

Mungkin kita tidak dapat mengikuti setiap kalimat penolakan Barth yang dikutip di atas. Kemungkinan besar Pascal mengemukakan keberatannya dengan lebih akurat dalam tulisannya yang membedakan Allah para filsuf dengan Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Namun demikian jelas bahwa kesenjangan antara si “Unmoved Mover” dan Allah yang hidup sudah digarisbawahi [dalam tulisan tersebut].

Keempat dan terakhir, argumen Thomas tidak valid karena salah satu dari term utamanya digunakan dengan dua pengertian. Bukankah jelas bahwa sebuah argumen valid mengharuskan term-termnya memiliki makna yang sama dalam kesimpulan dan dalam premis yang mendukungnya? Sayangnya, Thomas dengan tegas di dalam tulisannya yang lain mengatakan bahwa tidak ada term/istilah yang ketika diterapkan pada Allah memiliki makna yang persis sama dengan ketika term/istilah tersebut diterapkan pada manusia atau ciptaan lain. Ketika kita katakan bahwa Allah bijak, dan bahwa Salomo bijak, term bijak tidak univokal.[10] Tidak saja istilah bijak; tetapi juga term ada [tidak bersifat univokal ketika diterapkan pada Allah dan ciptaan]. Dalam proposisi Allah ada, term ada memiliki makna yang berbeda daripada ketika digunakan dalam proposisi manusia ada. Thomas sangat menekankan hal ini. Tetapi jika sebuah term tidak digunakan secara univokal dalam sebuah silogisme, atau jika sebuah term tidak memiliki makna yang persis sama, maka silogisme tersebut tidak valid. Hukum logika dilanggar.[11]

Mereka yang saat ini menerima argumen kosmologis akan dengan segera menyangkali bahwa nasib [argumen kosmologis] tergantung pada formulasi Thomas. Kata mereka, ada cara lain menyatakan argumen tersebut sehingga kesalahan yang dibuat Thomas dapat dihindari. Jika demikian adanya, kita mungkin dapat menemukan formulasi tidak bercela ini dalam tulisan-tulisan pembelanya. Namun kenyataanya tidak ditemukan formulasi seperti itu.[12] Ada referensi-referensi tentang argumen kosmologis, ada diskusi tentang argumen ini, dan ada berbagai ringkasannya. Namun formulasi argumen sepenuhnya tanpa ada langkah yang dilewati, tampaknya tidak pernah dicetak.

CATATAN:
[1] Romanisme di sini maksudnya sama dengan Roma Katolisisme
[2] Terjemahan: Apakah Allah ada?
[3] Pandangan Tomistik adalah pandangan yang diajarkan oleh Tomas Aquinas yang dibahas di sini
[4] Makna mendemonstrasikan di sini adalah menunjukkan validitas argument yang mendukung sebuah kesimpulan berdasarkan non-wahyu
[5] Segala proposisi yang dapat didemonstrasikan merupakan bagian filasfat
[6] Burtt, Types of Religious Philosophy, 454. Edisi pertama.
[7] Kejadian-kejadian atau keadaan-keadaan yang mungkin terjadi tetapi tidak dapat diprediksi secara pasti
[8] Romanis – penganut ajaran Roma Katolik
[9] David S. Clark, Syllabus of Systematic Theology, 62.
[10] Univokal=memiliki makna yang sama
[11] See the author’s Thales to Dewey, The Works of Gordon Haddon Clark, 217-221.

[12] Saat Clark membuat tulisan ini tidak ada yang membuat formulasi yang tidak menderita kesalahan Thomas. Untuk saat ini, mungkin harus dipelajari lebih lanjut apakah ada formulasi yang lebih baik dari Thomas.

Rabu, 21 Januari 2015

Celah Quantum dalam Teori Big Bang



Oleh Paul J. Steinhardt (Sumber: Scientific American, April 2011, hal. 36-43)

Apakah teori di jantung kosmologi modern mengandung cacat?



Kosmologi berdeflasi? Para kosmolog sedang meninjau ulang apakah alam semesta betul-betul mengalami semburan pertumbuhan dahsyat (kawasan kekuningan) segera setelah big bang (Ilustrasi oleh Malcolm Godwin).

Tiga puluh tahun silam, Alan H. Guth, kala itu berjuang menjalani pasca-doktoral fisika di Stanford Linear Accelerator Center, memberi serangkaian seminar di mana dia memperkenalkan “inflasi” ke dalam kosakata kosmologi. Istilah tersebut mengacu pada semburan singkat perluasan hiperakselerasi yang menurutnya pernah terjadi selama jenak-jenak awal setelah big bang. Salah satu seminar ini berlangsung di Universitas Harvard, di mana saya sendiri menempuh pasca-doktoral. Saya segera terpikat oleh ide tersebut, dan sejak saat itu saya memikirkannya nyaris setiap hari. Banyak kolega saya dalam astrofisika, fisika gravitasi, dan fisika partikel turut terpikat. Sampai hari ini, perkembangan dan ujicoba teori inflasi alam semesta merupakan salah satu area paling aktif dan sukses dalam penyelidikan ilmiah.

Tujuannya adalah mengisi celah dalam teori asli big bang. Ide dasar big bang adalah, alam semesta perlahan-lahan mengembang dan mendingin sejak ia bermula sekitar 13,7 miliar tahun lampau. Proses perluasan dan pendinginan ini menjelaskan banyak fitur detil alam semesta yang dijumpai hari ini, tapi ada jebakannya: alam semesta harus berawal dengan atribut tertentu. Contoh, ia harus sangat seragam, dengan variasi amat kecil pada distribusi materi dan energi. Juga, alam semesta harus flat secara geometris, artinya lengkungan struktur ruang tidak menekuk lintasan berkas cahaya dan objek bergerak.

Tapi mengapa alam semesta purba mesti begitu seragam dan flat? Secara apriori, kondisi-kondisi pemulai ini sangat tidak mungkin. Di sinilah ide Guth masuk. Dia berargumen, sekalipun alam semesta berawal dengan kekacauan total—distribusi energi yang sangat tak seragam dan bentuk yang berkenjal-kenjal—semburan pertumbuhan spektakuler akan menebarkan energi sampai tersebar merata dan meluruskan lengkungan di ruang. Ketika periode inflasi ini berakhir, alam semesta akan terus mengembang dengan laju yang lebih pelan daripada teori big bang semula tapi kini memiliki kondisi yang tepat untuk berevolusinya bintang-bintang dan galaksi-galaksi ke status yang kita saksikan hari ini.

Ide ini begitu memaksa, sampai-sampai para kosmolog, termasuk saya, rutin mendeskripsikannya kepada mahasiswa, jurnalis, dan publik sebagai fakta yang tidak bisa dipungkiri. Tapi hal aneh terjadi pada teori inflasi tiga puluh tahun sejak Guth memperkenalkannya. Bukti penentang inflasi semakin menguat, sebagaimana bukti pendukungnya. Salah satu dari keduanya lebih dikenal: bukti pendukung inflasi sangat familiar di kalangan luas fisikawan, astrofisikawan, dan penggila sains. Yang mengejutkan, beberapa orang menuruti bukti penentang inflasi, kecuali sekelompok kecil dari kami yang diam-diam berusaha mengatasi tantangan ini. Kebanyakan astrofisikawan menguji prediksi-prediksi teori inflasi dalam buku teks tanpa merisaukan isu-isu mendalam ini, berharap pada akhirnya bisa terpecahkan. Sialnya, persoalan ini mengalahkan upaya terbaik kami sampai sekarang.

Sebagai orang yang telah berkontribusi pada teori inflasi (lihat “Alam Semesta Berinflasi”, tulisan Alan H. Guth dan Paul J. Steinhardt, Scientific American, Mei 1984) dan teori-teori pesaing, saya merasa terkoyak, dan banyak kolega saya juga tidak yakin dengan pendapat mereka tentang bukti penentang ini. Untuk mendramatisir keadaan aneh kami, saya akan mengadili kosmologi inflasi, menghadirkan poin-poin dari kedua pandangan esktrim tersebut. Pertama-tama, saya akan bertindak sebagai advokat “pendukung” yang gigih, menyajikan keunggulan-keunggulan teori ini, lalu dengan sama gigihnya, saya akan bertindak sebagai advokat “penentang”, menyajikan persoalan-persoalan paling serius yang tak terpecahkan.

Singkatnya

Inflasi kosmik diterima secara luas, hingga sering dianggap sebagai fakta. Idenya adalah, geometri dan keseragaman kosmos terbentuk selama semburan pertumbuhan awal yang dahsyat.

Tapi sebagian pencipta teori ini, termasuk penulis, berpikir ulang. Seraya teori asil berkembang, retak-retak muncul dalam fondasi logisnya.

Kondisi yang amat improbabel diperlukan untuk memulai inflasi. Yang lebih buruk, inflasi berlangsung abadi, membuahkan hasil tak terhingga, sehingga teori ini tidak membuat prediksi observasional yang kokoh.

Para ilmuwan berdebat di antara sesama mereka (dan di dalam diri mereka sendiri) apakah persoalan-persoalan ini merupakan kesulitan awal ataukah pertanda kebusukan yang lebih dalam. Beragam proposal beredar untuk mencari cara memperbaiki inflasi atau menggantinya.

Bukti Pendukung Inflasi

Saking populernya Inflasi, bukti pendukungnya bisa sangat ringkas. Beberapa detil lain diperlukan untuk memahami keunggulannya secara utuh. Inflasi bersandar pada komponen khusus yang dikenal sebagai energi inflasi, yang, berkombinasi dengan gravitasi, dapat mendorong alam semesta untuk mengembang luar biasa dalam waktu singkat. Energi inflasi harus amat besar, dan densitasnya harus tetap konstan selama masa inflasi. Atributnya yang paling tak lazim adalah bahwa gravitasinya menolak bukan menarik. Tolakan inilah yang menyebabkan ruang membengkak begitu pesat.

Yang memberi daya tarik pada ide Guth adalah bahwa para teoris telah mengidentifikasi banyak kemungkinan sumber energi demikian. Contoh teratas adalah kerabat medan magnet yang dikenal sebagai medan skalar, yang, dalam kasus inflasi tertentu, dikenal sebagai medan “inflasi”. Partikel Higgs yang masyhur, yang kini sedang diusahakan di Large Hadron Collider milik CERN dekat Jenewa, berasal dari sebuah medan skalar lain.

Seperti semua medan lain, inflasi memiliki kekuatan tertentu di tiap titik di ruang, yang menentukan gaya yang dikerahkannya terhadap diri sendiri dan medan-medan lain. Selama fase inflasi, kekuatannya nyaris konstan di setiap tempat. Tergantung seberapa kuat sebuah medan, terdapat besaran energi tertentu di dalamnya—yang disebut fisikawan sebagai energi potensial. Relasi antara kekuatan dan energi bisa dilambangkan dengan kurva pada grafik di bawah. Untuk inflasi, para kosmolog berhipotesis kurvanya mirip tampang-lintang (cross section) yang melintasi lembah dan dataran tinggi melandai [lihat boks di bawah]. Jika medan ini berawal dengan kekuatan yang ekuivalen dengan suatu titik di dataran tinggi, lambat-laun ia akan kehilangan kekuatan maupun energi, seperti meluncur turun lereng. Bahkan, persamaan-persamaannya serupa dengan persamaan bola yang menggelinding turun bukit yang bentuknya sama dengan kurva energi potensial. 


Energi potensial inflasi dapat menyebabkan alam semesta mengembang dengan laju mencepat. Dalam prosesnya, itu bisa menghaluskan dan memflatkan alam semesta, asalkan medannya tetap di atas dataran tinggi cukup lama (sekitar 10-30 detik) guna meregangkan alam semesta sebesar faktor 1026 atau lebih ke segala arah. Inflasi berakhir ketika medan mencapai ujung dataran tinggi dan bergegas menuruni bukit menuju lembah energi di bawah. Pada titik ini, energi potensial berkonversi ke dalam bentuk-bentuk energi yang lebih familiar—yakni dark matter, materi panas biasa, dan radiasi yang memenuhi alam semesta hari ini. Alam semesta memasuki periode perluasan menengah melambat, dan selama itu material bersatu membentuk struktur-struktur kosmik.

Inflasi menghaluskan alam semesta sebagaimana peregangan tilam karet menghaluskan kerutan-kerutannya, tapi itu tidak berlangsung sempurna. Ketidakteraturan kecil tersisa akibat efek quantum. Hukum fisika quantum mendikte bahwa medan semisal inflasi tidak memiliki kekuatan yang sama persis di setiap tempat di ruang melainkan mengalami fluktuasi acak. Fluktuasi-fluktuasi ini menyebabkan inflasi berakhir pada waktu sedikit berlainan di kawasan ruang berlainan, memanaskan mereka ke suhu sedikit berlainan. Variasi spasial ini merupakan benih yang akhirnya akan tumbuh menjadi bintang dan galaksi. Teori inflasi memprediksi variasi ini nyaris invarian-skala. Artinya, mereka tidak bergantung pada ukuran kawasan; mereka terjadi dengan magnitudo setara pada semua skala.

Bukti pendukung inflasi hanya dapat diringkas dengan tiga diktum. Pertama, inflasi tidak terelakkan. Perkembangan fisika teoritis sejak proposal Guth justru memperkuat hipotesis bahwa alam semesta awal mengandung medan-medan yang dapat mendorong inflasi. Ratusan mereka muncul dalam teori-teori fisika terpadu, seperti teori string. Di alam semesta purba yang balau (chaos), pasti ada suatu petak ruang di mana salah satu dari medan ini memenuhi kondisi untuk inflasi.

Kedua, inflasi menjelaskan mengapa hari ini alam semesta begitu seragam dan flat. Tak ada yang tahu seberapa seragam atau flat alam semesta kita ketika muncul dari big bang, tapi dengan inflasi, tak ada keharusan untuk tahu sebab periode percepatan perluasan meregangkannya ke dalam bentuk yang tepat.

Ketiga, dan mungkin paling memaksa, teori inflasi sangat prediktif. Contoh, banyak observasi radiasi gelombang mikro kosmik latar dan distribusi galaksi-galaksi telah mengkonfirmasi bahwa variasi spasial pada energi di alam semesta awal nyaris invarian-skala.

Bukti Penentang Inflasi

Tanda-tanda pertama gagalnya sebuah teori biasanya berupa diskrepansi kecil antara observasi dan prediksi. Di sini situasinya tidak demikian: data-data justru sangat selaras dengan prediksi inflasi yang diajukan di awal 1980-an. Tapi bukti penentang inflasi malah menantang fondasi logis teori. Apakah teori ini betul-betul bekerja sesuai yang digembar-gemborkan? Apakah prediksi yang dibuat di awal 1980-an merupakan prediksi model inflasi yang kita pahami hari ini? Ada argumen bahwa jawaban terhadap kedua pertanyaan tersebut adalah tidak.

Diktum pertama berpandangan bahwa inflasi tidak terelakkan. Tapi jika ini benar, maka timbul akibat janggal: inflasi buruk jauh lebih mungkin daripada inflasi baik. “Inflasi buruk” berarti periode percepatan perluasan yang hasilnya bertentangan dengan observasi kita. Contoh, variasi/perbedaan temperatur mungkin terlalu besar. Perbedaan antara baik dan buruk bergantung pada bentuk presisi kurva energi potensial, yang dikendalikan oleh parameter numeris yang dapat, secara prinsip, memikul harga berapapun. Namun variasi temperatur yang teramati hanya bisa dihasilkan oleh kisaran harga yang sangat sempit. Pada model inflasi tipikal, harganya harus mendekati 10-15—yakni, 15 nol desimal. Pilihan yang kurang halus, misalnya 12 atau 10 atau 8 nol desimal, akan menghasilkan inflasi buruk: derajat percepatan perluasannya sama (atau lebih) tapi variasi temperaturnya besar, yang mana tidak konsisten dengan observasi.

Kita bisa abaikan inflasi buruk andai tidak cocok dengan kehidupan. Sekalipun variasi temperatur sebesar itu bisa timbul secara prinsip, kita takkan dapat mengobservasi mereka. Penalaran jenis ini dikenal sebagai prinsip antropik. Tapi ini tidak berlaku di sini. Variasi temperatur yang besar akan menghasilkan lebih banyak bintang dan galaksi—alam semesta akan lebih ramah untuk dihuni dibanding sekarang. 


Bukan hanya bahwa inflasi buruk jauh lebih mungkin daripada inflasi baik, tapi juga bahwa tak ada inflasi yang lebih mungkin daripada keduanya. Fisikawan Universitas Oxford, Roger Penrose, pertama kali mengemukakan poin ini di tahun 1980-an. Dia menerapkan prinsip termodinamika, seperti yang dipakai untuk mendeskripsikan konfigurasi atom dan molekul pada gas, untuk menghitung kemungkinan konfigurasi awal medan-medan inflasi dan gravitasi. Sebagian dari konfigurasi ini membawa pada inflasi dan karenanya pada distribusi materi yang flat dan nyaris seragam serta bentuk geometris flat. Konfigurasi lain langsung mengarah pada alam semesta flat yang seragam—tanpa inflasi. Kedua set konfigurasi sangat langka, jadi untuk mendapatkan alam semesta flat sangatlah tidak mungkin. Tapi, kesimpulan Penrose yang menggemparkan adalah, memperoleh alam semesta flat tanpa inflasi jauh lebih mungkin daripada dengan inflasi—dengan selisih faktor 10 pangkat googol (10100)!

Resiko Inflasi Abadi

Pendekatan lain, yang mencapai kesimpulan serupa, mengekstrapolasi sejarah alam semesta dari kondisinya yang sekarang menuju masa lampau dengan menggunakan hukum fisika kokoh. Ekstrapolasi ini tidaklah unik: berdasarkan kondisi hari ini yang rata-rata flat dan halus, mungkin saja sebelumnya timbul banyak urutan peristiwa berlainan. Pada 2008, Gary W. Gibbons dari Universitas Cambridge dan Neil G. Turok dari Perimeter Institute for Theoretical Physics di Ontario menunjukkan bahwa banyak ekstrapolasi memiliki jumlah inflasi yang tak signifikan. Kesimpulan ini konsisten dengan kesimpulan Penrose. Dua-duanya kontraintuitif karena alam semesta flat dan halus sangat tidak mungkin, dan inflasi merupakan mekanisme kuat untuk memperoleh penghalusan dan pemflatan yang dibutuhkan. Tapi keuntungan ini rupanya diimbangi dengan fakta bahwa kondisi untuk berawalnya inflasi begitu improbabel. Manakala semua faktor diperhitungkan, alam semesta jauh lebih mungkin untuk mencapai kondisinya yang sekarang tanpa inflasi, daripada dengan inflasi.

Banyak fisikawan dan astrofisikawan merasa argumen-argumen teoritis ini tak meyakinkan dibanding argumen pendukung inflasi yang lebih memaksa: yakni keserasian antara prediksi awal tahun 1980-an dan observasi kosmologis hebat yang tersedia hari ini. Eksperimen-eksperimen serasi dengan argumen teoritis manapun. Tapi corak aneh dari kisah ini adalah, prediksi awal 1980-an didasarkan pada pemahaman polos tentang bagaimana inflasi bekerja—gambaran yang ternyata salah besar. 


Pergeseran pandangan diawali dengan kesadaran bahwa inflasi bersifat abadi: sekali dimulai, tak pernah berakhir [lihat “Alam Semesta Berinflasi yang Mereproduksi Diri”, tulisan Andrei Linde, Scientific American, November 1994]. Sifat inflasi yang mengekalkan diri merupakan akibat langsung dari kombinasi fisika quantum dan percepatan perluasan. Ingat, fluktuasi-fluktuasi quantum dapat tertunda sedikit ketika inflasi berakhir. [Di kawasan] di mana fluktuasi ini kecil, maka begitu pulalah efeknya. Tapi fluktuasi-fluktuasi acak tak terkendali. Di kawasan ruang tertentu, mereka sangat besar, mengakibatkan penundaan yang substansial.

Kawasan-kawasan jahat penangguh semacam itu amat langka. Anda mungkin merasa aman untuk mengabaikan mereka. Jangan berpikir begitu, sebab mereka berinflasi. Mereka terus tumbuh dan, dalam hitungan jenak, mengerdilkan kawasan bertingkah baik, sampai mengakhiri inflasi tepat pada waktunya. Hasilnya, lautan ruang berinflasi mengepung sebuah pulau kecil yang dipenuhi materi panas dan radiasi. Lebih dari itu, kawasan-kawasan jahat menelurkan kawasan jahat baru, serta pulau materi baru—masing-masing merupakan alam semesta yang berdiri sendiri. Proses ini berlanjut tanpa akhir, menciptakan pulau-pulau dalam jumlah tak terbatas yang dikelilingi ruang yang semakin berinflasi. Jika Anda tak gelisah dengan gambaran ini, jangan cemas—sewajarnya demikian. Kabar menggelisahkan datang berikutnya.

Pulau-pulau tersebut tidak semuanya sama. Sifat acak fisika quantum menjamin bahwa sebagian sangat tidak seragam atau sangat lengkung. Ketidakseragaman mereka terdengar seperti persoalan inflasi buruk yang tadi dibahas, tapi penyebabnya lain. Inflasi buruk terjadi karena parameter pengendali bentuk kurva energi potensial kemungkinan terlampau besar. Di sini ketidakseragaman bisa diakibatkan oleh inflasi abadi dan fluktuasi quantum acak, tak peduli berapapun harga parameternya.

Persisnya, secara kuantitatif, kata “sebagian” di atas mesti diganti dengan “sejumlah tak terhingga”. Di alam semesta yang berinflasi abadi, sejumlah tak terhingga pulau-pulau akan mempunyai atribut seperti pulau-pulau yang kita amati, tapi sejumlah tak terhingga [lainnya] tidak. Hasil inflasi diringkas dengan baik oleh Guth: “Di alam semesta yang berinflasi abadi, apapun yang dapat terjadi akan terjadi; bahkan, akan terjadi tak terhingga kali.”

Jadi, apakah alam semesta kita merupakan pengecualian atau pembatasan? Di sekumpulan pulau tak terhingga, ini sulit dipastikan. Sebagai analogi, asumsikan Anda punya sebuah karung berisi kwarter dan péni dalam jumlah terhingga (kwarter dan péni adalah jenis uang receh—penj). Jika Anda merogoh dan memungut satu koin secara sembarang, Anda bisa membuat prediksi pasti tentang koin mana yang kemungkinan besar terpilih. Tapi jika karung menampung kwarter dan péni dalam jumlah tak terhingga, Anda tidak bisa [memprediksi]. Untuk menaksir probabilitas, Anda menyortir koin-koin ke dalam tumpukan. Anda mulai dengan meletakkan satu kwarter ke tumpukan, lalu satu péni, lalu kwarter kedua, lalu péni kedua, dan seterusnya. Prosedur ini memberi Anda kesan bahwa masing-masing denominasi memiliki jumlah setara. Tapi, cobalah sistem lain, pertama-tama tumpuk sepuluh kwarter, lalu satu péni, lalu sepuluh kwarter, lalu satu péni lagi, dan seterusnya. Sekarang Anda mendapat kesan ada seratus kwarter untuk setiap péni.

Manakah metode penghitungan koin yang benar? Jawabannya, bukan dua-duanya. Untuk sekumpulan koin tak terhingga, ada jumlah cara penyortiran tak terhingga yang menghasilkan rentang probabilitas tak terhingga. Jadi tak ada cara sah untuk menilai koin mana yang lebih mungkin. Dengan pertimbangan yang sama, tak ada cara untuk menilai jenis pulau mana yang lebih mungkin di sebuah alam semesta yang berinflasi abadi.

Nah, Anda pasti bingung. Kalau begitu untuk apa menyebut inflasi menghasilkan prediksi-prediksi pasti—bahwa, contoh, alam semesta adalah seragam atau mempunyai fluktuasi-fluktuasi invarian-skala—jika apapun yang dapat terjadi akan terjadi tak terhingga kali? Dan jika teori tidak menghasilkan prediksi yang bisa diuji, bagaimana mungkin kosmolog mengklaim teori ini selaras dengan observasi, sebagaimana rutin mereka lakukan?


Takaran Kegagalan Kita

Para teoris tidak lalai akan persoalan ini, tapi mereka yakin dapat memecahkannya dan memulihkan gambaran inflasi naif di awal 1980-an yang telah menarik mereka pada teori ini. Banyak teoris tetap menyimpan asa, meskipun sudah bergulat dengan isu ini selama 25 tahun terakhir dan masih harus menghasilkan solusi masuk akal.

Sebagian mengusulkan mengkonstruksi teori-teori inflasi yang tak abadi, untuk memberangus ketakterhinggaan alam semesta. Tapi keabadian merupakan konsekuensi alami inflasi plus fisika quantum. Untuk menghindarinya, alam semesta harus bermula dalam status awal yang sangat istimewa dan dengan bentuk energi inflasi yang istimewa, agar inflasi berakhir di mana-mana di ruang sebelum fluktuasi-fluktuasi quantum sempat membakarnya kembali. Tapi, dalam skenario ini, hasil yang teramati bergantung pada status awal tadi. Itu menggagalkan seluruh tujuan inflasi: yakni menjelaskan hasilnya, tak peduli bagaimanapun kondisi yang ada sebelumnya.

Sebuah strategi alternatif berasumsi pulau-pulau seperti alam semesta teramati yang kita miliki merupakan hasil inflasi yang paling mungkin. Para pendukung pendekatan ini memberlakukan apa yang disebut takaran, sebuah batasan spesifik untuk menimbang jenis-jenis pulau mana yang paling mungkin—analogis dengan menyatakan kita harus mengambil tiga kwarter untuk setiap lima péni ketika menarik koin dari karung. Gagasan takaran, sebagai penambahan ad hoc, merupakan pengakuan terbuka bahwa teori inflasi sendiri tidak menjelaskan atau memprediksi apa-apa.

Yang lebih parah, para teoris sudah menghasilkan banyak takaran yang sama-sama masuk akal, yang membawa pada kesimpulan berbeda-beda. Contohnya adalah takaran volume, yang menyatakan pulau-pulau mesti ditimbang berdasarkan ukuran mereka. Sepintas, pilihan ini masuk akal. Ide intuitif yang mendasari inflasi adalah bahwa ia menjelaskan keseragaman dan keflatan yang kita amati dengan menciptakan volume-volume ruang besar beratribut tersebut. Sayangnya, takaran volume gagal. Alasannya, ini lebih mengkonfirmasi penangguhan/penundaan (procrastination). Pikirkan dua jenis kawasan: pulau-pulau seperti pulau kita dan pulau lainnya yang terbentuk kemudian, setelah lebih banyak inflasi. Berdasarkan pangkat pertumbuhan eksponensial, kawasan-kawasan terakhir akan menempati volume total yang jauh lebih luas. Karenanya, kawasan-kawasan yang lebih muda daripada kita akan jauh lebih lazim. Menurut takaran ini, kita bahkan tak mungkin eksis.

Para penggemar takaran mengambil pendekatan trial-and-error di mana mereka menemukan dan menguji takaran-takaran sampai, mereka harap, menghasilkan jawaban yang diinginkan: bahwa alam semesta kita sangat probabel. Anggap saja kelak mereka akan berhasil. Maka mereka akan butuh prinsip lain untuk menjustifikasi penggunaan takaran tersebut ketimbang takaran lain, bahkan prinsip lain untuk memilih prinsip tersebut, dan seterusnya.

Pendekatan alternatif yang lain lagi melibatkan prinsip antropik. Sementara konsep takaran berpandangan kita hidup di pulau tipikal, pinsip antropik berasumsi kita hidup di pulau non-tipikal dengan kondisi-kondisi minimal yang tepat yang diperlukan untuk menopang kehidupan. Ia mengklaim, kondisi-kondisi di pulau-pulau yang lebih tipikal tidak cocok dengan galaksi atau bintang atau prasyarat lain untuk kehidupan yang kita kenal sekarang. Meskipun pulau-pulau tipikal menempati lebih banyak ruang daripada pulau-pulau seperti kita, mereka dapat diabaikan karena kita hanya tertarik pada kawasan yang berpotensi dihuni manusia.

Sial bagi ide ini, kondisi-kondisi di alam semesta kita tidaklah minimal—alam semesta lebih flat, lebih halus, dan lebih invarian-skala daripada yang semestinya untuk menopang kehidupan. Pulau-pulau yang lebih tipikal, seperti pulau-pulau muda itu, hampir sama-sama dapat dihuni tapi jauh lebih banyak.

Menagih Para Penangguh

Berdasarkan argumen ini, klaim yang sering dikutip bahwa data kosmologi sudah memverifikasi prediksi-prediksi sentral teori inflasi ternyata menyesatkan. Boleh dibilang, data sudah mengkonfirmasi prediksi teori inflasi naif yang kita pahami sebelum 1983, tapi teori ini bukan kosmologi inflasi yang dipahami hari ini. Teori naif itu menduga, inflasi membuahkan hasil yang dapat diprediksi yang diatur oleh hukum fisika klasik. Kenyataannya, fisika quantumlah yang mengatur inflasi, dan apapun yang dapat terjadi akan terjadi. Lantas, jika teori inflasi tidak membuat prediksi tegas, apa gunanya?

Masalah dasarnya adalah, penangguhan tidak memikul hukuman—sebaliknya, ia diberi ganjaran positif. Kawasan-kawasan jahat yang menunda penghentian inflasi terus tumbuh dengan laju mencepat, sehingga mereka mengambil alih tanpa kecuali. Dalam situasi ideal, kawasan jahat manapun akan mengembang lebih pelan—atau, yang lebih baik, menyusut. Sebagian besar semesta akan terdiri dari kawasan-kawasan bertingkah baik yang mengakhiri fase penghalusan tepat pada waktunya, dan alam semesta teramati milik kita akan sangat normal.

Sebuah alternatif untuk kosmologi inflasi yang diusulkan saya dan kolega, dikenal sebagai teori siklik, persis mempunyai atribut ini. Menurut gambaran ini, big bang bukanlah permulaan ruang dan waktu [lihat Mitos Permulaan Waktu, tulisan Gabriele Veneziano, Scientific American, Mei 2004], melainkan “lambungan” dari fase penyusutan terdahulu menuju fase perluasan baru, diiringi pembentukan materi dan radiasi. Teori ini siklik karena, setelah setriliun tahun, perluasan beralih ke penyusutan, dan lambungan baru menuju perluasan lagi. Poin kuncinya adalah, penghalusan alam semesta berlangsung sebelum bang, selama periode penyusutan. Kawasan penangguh jahat manapun terus menyusut sedangkan kawasan bertingkah baik melambung tepat waktu dan mulai mengembang, sehingga kawasan jahat tetap tergolong kecil dan tak berarti.

Penghalusan selama penyusutan memiliki konsekuensi yang nyata. Selama fase penghalusan, entah dalam teori inflasi ataupun teori siklik, fluktuasi-fluktuasi quantum menghasilkan distorsi-distorsi kecil acak yang menjalar di ruangwaktu, dikenal sebagai gelombang gravitasi, yang meninggalkan jejak khas pada radiasi gelombang mikro latar. Amplitudo gelombang-gelombang ini berbanding dengan densitas energi. Inflasi akan terjadi ketika alam semesta amat padat/rapat, sedangkan proses sepadan dalam model siklik akan terjadi ketika alam semesta nyaris hampa, sehingga jejak-jejaknya akan sangat berbeda. Tentu saja, teori siklik relatif baru dan mungkin mengandung masalah, tapi ia mengilustrasikan adanya alternatif-alternatif masuk akal yang tidak didera inflasi abadi tak terkendali. Penelitian pendahuluan kami menyiratkan model siklik juga menghindari masalah-masalah lain yang dikemukakan di awal.

Saya sudah menyajikan bukti pendukung dan penentang inflasi sebagai dua ekstrim tanpa kemungkinan pemeriksaan silang atau sedikit perbedaan. Dalam sebuah pertemuan yang diadakan bulan Januari di Princeton Center for Theoretical Science untuk mendiskusikan isu-isu ini, banyak teoris terkemuka berargumen bahwa persoalan-persoalan inflasi hanyalah kesulitan awal dan tidak boleh menggoyahkan keyakinan kita terhadap ide dasarnya. Yang lain (termasuk saya) berpendapat persoalan ini menusuk inti teori, dan [teori ini] perlu perbaikan besar atau harus diganti.

Pada akhirnya, perkara ini akan diputuskan dengan data. Observasi mendatang terhadap radiasi gelombang mikro latar akan bicara. Eksperimen untuk mencari jejak gelombang gravitasi sedang dijalankan di puncak-puncak gunung, pada balon-balon tinggi, dan satelit-satelit onboard, dan hasilnya semestinya muncul dalam dua sampai tiga tahun ke depan. Terdeteksinya jejak gelombang gravitasi akan mendukung inflasi; kegagalan mendeteksinya akan menjadi langkah mundur besar. Agar inflasi masuk akal, terlepas dari hasil nihilnya, kosmolog harus menduga bahwa medan inflasi memiliki tenaga amat ganjil dengan bentuk yang tepat untuk memberangus gelombang gravitasi yang bekerja keras. Banyak periset akan condong pada alternatif-alternatif, seperti teori alam semesta siklik, yang secara alami memprediksi sinyal gelombang gravitasi kecil dan tak teramati. Hasilnya akan menjadi momen kritis dalam upaya kita untuk menentukan bagaimana alam semesta menjadi seperti sekarang dan apa yang akan terjadi padanya di masa depan.