Jumat, 09 Juli 2021

𝗞𝗜𝗦𝗔𝗛 𝗗𝗜 𝗕𝗔𝗟𝗜𝗞 𝗟𝗔𝗬𝗔𝗥 𝗠𝗜𝗦𝗜 𝗣𝗘𝗠𝗕𝗘𝗕𝗔𝗦𝗔𝗡 𝗦𝗔𝗡𝗗𝗘𝗥𝗔 𝗔𝗦 𝗗𝗜 𝗜𝗥𝗔𝗡

 


Oleh: 𝗧𝗮𝗿𝗹𝗶 𝗡𝘂𝗴𝗿𝗼𝗵𝗼

|

Dua minggu ini kabar duka datang silih berganti. Jika sebelumnya lini masa media sosial jadi tempat pamer kemewahan, atau kegembiraan, maka belakangan telah berganti menjadi tempat takziah virtual yang dipenuhi ucapan duka. Pagi ini, Jumat, 9 Juli 2021, misalnya, di antara kabar duka yang lewat di lini masa, saya membaca terselip nama Winata Supriyatna. Ia meninggal di RS Pelabuhan Jakarta, pukul 02.20 WIB, dinihari tadi.

|

Secara pribadi saya tidak mengenal lelaki kelahiran Karawang, 9 Desember 1959 ini. Saya hanya membaca namanya disebut dengan kesan mendalam dan baik di dalam buku biografi Dr. Dipo Alam, “Dalam Pusaran Adab Dipimpin dan Memimpin” (2021). Winata Supriyatna memang punya karir panjang di Sekretariat Negara. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia pernah dipercaya menjadi Kepala Rumah Tangga Kepresidenan dan Kepala Sekretaris Presiden.

|

Di mata orang-orang yang pernah bekerja bersamanya, Winata dianggap sebagai PNS yang dedikatif dan profesional. Ia selalu membantu semua orang dan easy to work with. Dipo Alam menyebut Winata sebagai orang yang cekatan.

|

Kecekatan Winata di dapur Rumah Tangga Kepresidenan telah membuat sejumlah pekerjaan yang memerlukan gerak cepat, seperti urusan perjalanan, misalnya, jadi lancar. Salah satunya adalah ketika Dipo Alam, yang baru saja ditarik dari posisinya sebagai Sekretaris Jenderal D-8 di Istanbul, Turki, dan belum lama dilantik menjadi Sekretaris Kabinet, ditugasi oleh Presiden SBY untuk menemui Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad terkait misi pembebasan sejumlah warga negara Amerika Serikat yang ditahan oleh pemerintah Iran.

|

Ceritanya, ketika Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) mengenai Afghanistan di London, 28 Januari 2010, ia dimintai tolong oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton untuk menitipkan pesan kepada Presiden SBY. Mewakili pemerintah AS, Hillary meminta bantuan Presiden SBY untuk membebaskan tiga pendaki gunung warga negara AS yang ditangkap di perbatasan antara Turki, Armenia dan Iran. Ketiga orang itu adalah Sarah Shourd, Shane Bauer, dan Joshua Fattal.

|

Ketiga pendaki itu oleh Pemerintah Iran dianggap sebagai mata-mata asing karena tidak bisa menunjukkan dokumen resmi, seperti paspor, visa, serta surat keterangan resmi lainnya. Penahanan dilakukan sejak 31 Juli 2009, dan telah mengakibatkan popularitas Presiden Barack Obama terus merosot di dalam negeri.

|

Hillary memang dikenal memiliki hubungan baik dengan Presiden SBY. Dalam buku biografinya, Hard Choices (2016), Hillary bahkan mengaitkan nama Presiden SBY dengan proses demokratisasi yang terjadi di Myanmar pada tahun 2010. Sebagai pemimpin ASEAN, sekaligus sebagai pensiunan jenderal, SBY dianggap Hillary telah memainkan peran komunikasi yang signifikan terhadap penguasa Myanmar, Jenderal Tan Shwe, sehingga upaya mendorong terjadinya proses demokratisasi di Myanmar ketika itu bisa menggelinding. Ucapan terima kasih Hillary kepada SBY itu ia sebutkan beberapa kali dalam memoarnya.

|

Selain itu, sebelum Hillary menjadi Menteri Luar Negeri, pemerintahan Presiden SBY juga memainkan peran diplomatik penting dalam upaya pembebasan belasan misionaris Kristen Korea Selatan yang ditahan oleh pemerintah Taliban di Afghanistan pada tahun 2007. Peran aktif Indonesia dalam sejumlah isu tadi telah menaikan pamor Indonesia di panggung diplomasi internasional dan menerbitkan respek dari negara lain, terutama AS. Sekjen PBB Ban Ki-moon juga memberi apresiasi tinggi terhadap pemerintah Indonesia.

|

Terkait dengan kasus hikers Amerika yang ditahan Iran, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Amerika mengharapkan Indonesia bisa melakukan pendekatan khusus kepada pemerintah Iran. Penangkapan hikers itu sendiri sudah menjadi polemik politik dalam negeri berkepanjangan di Amerika, yang mengakibatkan popularitas politik Presiden Obama tergerus.

|

Penyelesaian kasus tiga tahanan itu sebelumnya memang terkesan berlarut-larut, sebab sejak tahun 1979 Amerika tidak lagi memiliki hubungan diplomatik dengan Iran. Tekanan politik semakin keras karena jika merujuk kepada hukum Iran, mata-mata asing hukumannya bisa dipidana mati.

|

Sepulang dari London, demikian tulis Dipo Alam, Menteri Marty segera menghadap Presiden SBY di Istana Negara untuk melaporkan hasil dari konferensi yang diikutinya. Belakangan, SBY meminta Sekretaris Kabinet Dipo Alam untuk ikut bergabung. Ketiganya kemudian naik boogy car dari Istana Merdeka ke Istana Negara. Presiden SBY duduk memegang kemudi, Marty duduk di sampingnya, sementara Dipo Alam duduk di belakang. Selain menyampaikan laporan resmi, Menteri Marty juga menyampaikan permintaan Hillary kepada Presiden SBY.

|

Setelah Menteri Marty pulang, Seskab Dipo Alam diajak menikmati brunch oleh Presiden SBY di Istana Negara. Pagi menjelang siang itu, suasana menjadi hangat karena Ibu Ani ikut datang menemani. Pada saat itulah Dipo Alam melaporkan bahwa dirinya diminta untuk membuka acara Working Group of D-8 for Food Industry Cooperation di Tehran, Iran. Dipo juga menyampaikan bahwa bila diperkenankan, dirinya juga ingin berpamitan kepada Presiden Ahmadinejad, karena sudah tidak lagi bertugas sebagai Sekjen D-8.

|

Sesudah mendengarkan perbincangan Menlu Marty dengan Presiden, Dipo kemudian menawarkan bahwa seandainya Presiden berkenan, dalam pertemuan dengan Presiden Iran itu ia bisa membawa pesan diplomatik pemerintah Indonesia terkait permintaan dari pemerintah AS tadi.

|

“Kalau Bapak berkenan mengutus saya ke Iran, saya mungkin bisa mencoba melobi Presiden Ahmadinejad. Ketika saya menjadi Sekjen D-8, beliau cukup bersimpati kepada saya. Mungkin tidak ada salahnya kita coba, Pak,” ucap Dipo kepada SBY.

|

Apa yang disampaikan Dipo memang tidak mengada-ada. Dalam Sidang KTT Kepala Negara D-8 tahun 2008 di Kuala Lumpur, Malaysia, Presiden Ahmadinejad telah mendukungnya untuk terpilih kembali menjadi Sekjen D-8 untuk masa kerja 2008 hingga 2012. Padahal, secara alfabetik, sesudah Indonesia menjadi Sekjen D-8, giliran selanjutnya adalah Iran. Namun, Presiden Ahmadinejad kembali mendukung Dipo Alam untuk tetap menduduki posisinya satu periode lagi.

|

Ketika disodori gagasan itu, Presiden SBY tak langsung menanggapi tawaran Dipo Alam. Ia memang selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan-keputusan penting.

|

Beberapa waktu kemudian, ketika Dipo kembali ke kantor Sekretariat Kabinet, ia terkejut karena Kepala Rumah Tangga Istana Winata Supriyatna sudah menunggunya sembari menyerahkan sebuah map. Map itu berisi paspor diplomatik Dipo Alam, tiket Malaysia Airlines (MAS) dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur-Tehran pulang pergi untuk lima hari, serta amplop berisi surat khusus dari Presiden SBY untuk Presiden Ahmadinejad.

|

“Wah, cepat sekali, Pak Winata?!” tanya Dipo Alam.

|

“Iya, Pak. Semoga perjalanannya lancar,” ujar Winata.

|

Menurut Dipo Alam, berbagai keperluan perjalanan anggota kabinet, terutama dari korps diplomatik, yang membutuhkan langkah cepat dan kadang bersifat emergency, memang selalu bisa diatasi oleh Winata Supriyatna.

|

Dipo pun kemudian bergerak cepat. Ia menelepon mantan deputinya di Sekretariat D-8, Kia Tabatabai, mengenai rencana pertemuan dengan Presiden Ahmadinejad. Oleh Tabatabai, Dipo segera disambungkan pada Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki.

|

“Presiden bisa menerima Anda. Kalau bisa Anda tiba di Teheran Jumat ini, karena itu hari libur. Sabtu Anda ketemu saya terlebih dahulu, dan baru Minggu-nya ketemu dengan Presiden,” ujar Mottaki. Di Iran, hari Minggu memang adalah hari kerja. Dipo Alam terbang ke Iran sesuai jadwal yang diberikan Menlu Mottaki.

|

Menurut Dipo, pada hari ketika ia dijadwalkan bertemu Presiden Iran, di Istana Presiden ia harus melewati lima pintu gerbang dengan penjagaan ketat dari pasukan pengawal revolusi Pasdaran. Di ruang kerja Presiden Ahmadinejad, ia hanya ditemani oleh seorang penerjemah. 

|

Presiden Ahmadinejad menyambut Dipo Alam dengan ramah. Ia menyalami dan mempersilakannya duduk di sebelah kanannya, sementara penerjemah duduk di tengah dalam posisi agak ke belakang.

|

Sesudah basa-basi protokoler, Dipo Alam minta izin kepadanya untuk menyampaikan surat khusus dari Presiden SBY untuknya. Presiden Ahmadinejad membuka surat dan membacanya yang diterjemahkan oleh penerjemah. Kemudian dimulailah inti tujuan pertemuan hari itu.

|

“Apa yang Anda inginkan?” tanya Ahmadinejad kepada Dipo Alam.

|

Dipo segera menjelaskan bahwa Menlu Amerika Hillary Clinton meminta Presiden SBY untuk membantunya melepaskan tiga hikers Amerika yang ditahan di Penjara Evin. Menurut Hillary, hikers itu tidak tahu mereka telah memasuki daerah perbatasan Iran, sebab di sana tidak ada tanda-tanda atau larangan masuk.

|

Presiden Ahmadinejad hanya tersenyum mendengar penjelasan Dipo Alam.

|

“Kalau ada warga negara asing datang masuk ke wilayah negara Anda, dan mereka sama sekali tidak bisa membuktikan dengan surat-surat atau dokumen resmi seperti paspor, visa dan lainnya, apa yang akan Anda lakukan terhadap mereka?” tanya Ahmadinejad.

|

“Ya, saya akan menangkap dan menahan mereka,” jawab Dipo.

|

Ahmadinejad tersenyum mendengarnya.

|

“Ya, itulah yang sudah dilakukan negara saya kepada tiga orang itu, menahan mereka, tanpa menghiraukan apakah dia laki-laki atau perempuan. Siapa yang bisa menjamin kalau mereka bukanlah agen mata-mata asing, katakanlah Israel, yang sedang mengintai daerah perbatasan kami?” tanyanya.

|

“Sekarang saya punya pertanyaan kedua. Saya Presiden Iran, dan ada tujuh warga negara Iran yang ditahan di Amerika Serikat. Saya tidak tahu alasan kenapa warga negara saya ditahan. Apa salah mereka? Apa mereka penjahat? Pembunuh? Agen narkoba? Perampok bank? Atau mata-mata? Saya telah secara resmi menulis surat ke pemerintah Amerika melalui Wakil Tetap Pemerintah Iran di PBB, New York, tapi saya belum mendapat respon sedikitpun dari pemerintah Amerika,” imbuhnya.

|

Lalu Presiden Ahmadinejad menunjuk telepon. Di samping belakang kanan sebelah penerjemah, memang ada meja telepon khusus.

|

“Itu telepon khusus Presiden Iran. Kami dapat menghubungi siapa saja di seluruh penjuru dunia dengan telepon ini,” jelasnya.

|

“Sekarang bisakah Anda menelepon Hillary Clinton mengenai pertanyaan saya tadi, soal nasib beberapa warga negara Iran yang kini ditahan Amerika? Silakan gunakan,” ia menawarkan sambil meminta penerjemah mengantar Dipo Alam ke meja telepon.

|

Tentu saja Dipo tidak siap, karena ia tidak tahu nomor telepon Hillary Clinton.

|

“Hillary concern terhadap nasib hiker perempuan, Sarah Shroud. Ia ada di tahanan Evin tidak jauh dari pusat kota Tehran. Sekarang begini. Anda orang baik, Indonesia juga baik. Anda sekarang juga bisa menyaksikan mereka di rumah tahanan itu, apakah dia sakit, atau memeriksa apakah ada sedikit saja goresan luka atau memar di kulitnya? Anda bisa diantar ke penjara Evin dengan pengawalan khusus dari sini. Saksikan mereka semua sehat dan baik-baik saja kondisinya. Silakan!” ujar Presiden Ahmadinejad.

|

Mimiknya serius, namun senyumnya tetap mengembang.

|

“Setelah Anda saksikan mereka semua sehat dan baik-baik saja, Anda boleh kembali dan katakan pada Hillary bahwa hikers itu semua baik-baik saja. Bila Anda bisa telepon Hillary, bahwa hiker yang perempuan sehat, Anda bisa bawa pulang Sarah Shroud ke Amerika langsung,” ucapnya.

|

Pada waktu itu Dipo alam mengaku sebenarnya sangat ingin menerima tawaran Presiden Ahmadinejad. Sebagai orang yang pernah hidup dalam tahanan Orde Baru ketika masih mahasiswa, mengunjungi Penjara Evin yang oleh dunia Barat selalu dikesankan menyeramkan tidaklah membuat Dipo Alam gentar. Pagar Penjara Evin bahkan mengingatkannya pada Penjara Guntur. Namun, suara hatinya mencegahnya untuk bertindak berlebihan. Sebagai bawahan Presiden, tugasnya hanyalah menyampaikan surat kepada Ahmadinejad, serta berpamitan kepadanya karena tak lagi menjabat sebagai Sekjen D-8. Ia tidak ingin menjadi pahlawan atau mencari panggung bagi dirinya.

|

Dengan halus Dipo kemudian menolak tawaran Presiden Ahmadinejad tersebut. Ia kemudian pamit. Presiden Ahmadinejad menjabat erat tangannya.

|

Esensi pertemuan dengan Presiden Ahmadinejad, menurut Dipo, sudah tercapai, yaitu diperlukannya tukar-menukar tawanan antara Iran dengan Amerika.

|

Sesudah pulang ke Jakarta, beberapa hari kemudian DCM (Deputy Chief Mission) Kedubes Amerika di Jakarta datang ke kantor Dipo Alam. Ia datang ditemani oleh William Burns, Dirjen Kemlu AS, yang dikenal sebagai diplomat yang mahir dalam pendekatan solusi “Back Channel”, alias diplomasi jalan-belakang. Mereka datang karena ingin mendengar hasil pertemuan Dipo dengan Presiden Iran.

|

Sesudah mendengar cerita Dipo Alam, keduanya segera paham bahwa pokok deal pembebasan ketiga warganya itu adalah melalui tukar-menukar tawanan. Bila tawanan Iran dibebaskan oleh Amerika, maka ketiga hikers tadi secara bertahap juga akan dibebaskan Iran, dengan Sarah Shroud berada di urutan pertama. Menurut Dipo, proposal tukar-menukar tawanan yang diajukan Presiden Ahmadinejad sepertinya bisa diterima oleh AS. Dipo sendiri berharap agar solusi diplomatik memang lebih dikedepankan daripada operasi militer untuk menyelesaikan urusan-urusan semacam itu.

|

Para hikers Amerika Serikat itu, kita tahu, kemudian baru dibebaskan oleh pemerintah Iran pada 21 September 2011, atau sekitar tujuh bulan sesudah pertemuan Dipo Alam dengan Presiden Ahmadinejad.

|

Kembali ke soal Winata, tiap kali bekerja menyiapkan tiket atau ongkos perjalanan pejabat tinggi Istana, ia mungkin tidak tahu misi apa yang tengah diemban oleh para pejabat yang akan bepergian itu. Namun, kita tahu, pekerjaan-pekerjaan mereka mungkin tak akan berjalan sebagaimana mestinya jika orang-orang seperti Winata tak bekerja dengan gesit dan cekatan.

Jumat, 28 Mei 2021

Masalahnya Adalah Imperialisme


 

oleh Fariduddin Fansuri Al-Bantani

Cerita tentang Palestina adalah paradoks terakhir yang kita saksikan. Sejak awal hingga kini ia adalah kisah sederhana tentang kolonialisme dan disposesi, namun kaum imperialis menjadikannya kisah berwajah banyak dan rumit yang sukar dipahami dan sulit pula diselesaikan (Noam Chomsky).

Dan sayangnya, sejumlah intelektual partisan di negeri kita sampai jualan isu sektarian hingga membenturkan Sunni dan Syi’ah, semisal mengutip  teori Bulan Sabit Syi’ah yang rapuh  dan tak berdasar, bahkan mempropagandakan ‘Bahaya Iran’ persis seperti bagaimana PM Israel mempropagandakan ‘Bahaya Iran’ demi membela negara-negara Arab yang pro koloanialis Israel, jika bukan sebagai kaum yang mempropagandakan kepentingan Israel-Amerika dkk. Mungkin kita perlu sekalian menghadirkan sekilas gambaran bagaimana ‘martabat’ dan ‘harga diri’ Iran sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dan merdeka di Timur Tengah selain sebagai negara utama yang menyumbang uang dan senjata untuk perjuangan Palestina.  

Tahun 1983 adalah tahun kemenangan Israel yang sangat gemilang. Menyusul invasinya terhadap Lebanon tahun 1982, Israel sukses mengusir musuh yang memusingkannya dengan berbagai serangan ke Israel, gerilyawan PLO, dari Lebanon. Tidak hanya itu, Israel juga sukses memaksa pemerintah Lebanon yang dipimpin pemimpin oportunis, Presiden Amin Gemayel, menandatangani perjanjian damai yang memberi hadiah Israel sebagian besar wilayah Lebanon sebagai wilayah pendudukan. Dan selanjutnya, demi menjaga kemenangan itu, Amerika dan Perancis mengirimkan pasukannya dengan kedok "penjaga perdamaian PBB".

Namun kemenangan itu buyar seketika setelah Amin Gemayel dibom oleh rakyatnya sendiri yang kecewa kepadanya. Hancurnya kemenangan Israel itu semakin besar setelah barak pasukan Amerika dan Perancis dibom oleh pejuang Lebanon yang menimbulkan korban militer sangat besar sehingga memaksa kedua negara menarik pasukannya dari Libanon. Dan seolah kesialan yang terus menimpa, para pejuang Libanon di bawah "kepemimpinan" Hizbullah berhasil mengusir Israel dari sebagian besar wilayah Lebanon yang diduduki.

Pemboman barak pasukan Amerika dan Perancis di Beirut, Lebanon, terjadi tgl 23 Oktober 1983, saat dua buah truk bermuatan bom menerobos barak kedua pasukan yang berada di tempat terpisah. Serangan beruntun itu menewaskan 299 pasukan Amerika dan Perancis. Organisasi Jihad Islam mengklaim sebagai pelaku pemboman.

Korban di barak militer Amerika adalah 220 marinir, 18 personil AL dan 3 pasukan Angkatan Darat, ditambah 50 pasukan lainnya mengalami luka-luka. Sejak perang Iwo Jima dalam Perang Dunia II, serangan itu menjadikan korban terbesar korps Marinir Amerika dalam sehari operasi militer dan menjadi serangan mematikan terbesar terhadap pasukan Amerika sejak Perang Dunia II. Kekuatan ledakan yang menghancurkan barak militer Amerika itu setara dengan kekuatan ledakan 5.400 kilo-gram TNT.

Sementara dalam serangan terhadap barak pasukan Perancis, dua menit setelah serangan di barak militer Amerika, 58 pasukan payung Perancis tewas dan 15 lainnya mengalami luka-luka, menjadikannya serangan paling mematikan terhadap pasukan Perancis sejak Perang Kemerdekaan Aljazair.

Meski dibantah oleh pemerintah Amerika dan Perancis, tidak bisa dipungkiri serangan itu menjadi penyebab ditariknya pasukan kedua negara di Lebanon.

Para pengamat percaya, serangan tersebut disebabkan oleh kebencian rakyat Lebanon kepada pasukan asing Amerika dan Perancis. Kebencian itu terutama melanda kaum Muslim dan Druze (satu sekte agama yang menggabungkan keyakinan Islam dan Kristen, banyak terdapat di Lebanon), terlebih lagi kaum Muslim Syi’ah yang kebanyakan tinggal di daerah Beirut Barat dan sekitar airport tempat di mana markas pasukan asing itu berada.

Mereka melihat dengan jelas "pasukan perdamaian" itu sama sekali tidak membawa perdamaian. Mereka turut campur dalam pertempuran dalam Perang Sipil yang tengah berkecamuk di Lebanon, dengan memihak kepada kelompok-kelompok pasukan pro-Israel, seperti milisi Maronit Katholik. Kebencian itu semakin memuncak setelah pasukan Armada VI Amerika menembakkan bom-bomnya ke kawasan-kawasan milisi anti-Israel di pegunungan Shuf, menewaskan banyak warga sipil Lebanon. Pasukan Perancis juga tidak kalah agresif. Sebulan sebelum serangan atas barak militer Amerika dan Perancis, pasukan Perancis melakukan serangan udara besar-besaran atas kawasan Lembah Bekaa.

Hal ini sebenarnya menimbulkan kekhawatiran di kalangan perwira Amerika yang berpikir sportif, bahwa Amerika tidak lagi dipercaya sebagai "pasukan perdamaian" dan lebih berperan sebagai "pasukan pendudukan", sehingga memicu serangan balasan.

Pemimpin gerakan Amal Syi’ah, Nabih Berri, yang awalnya mendukung kehadiran pasukan perdamaian asing, meminta Amerika dan Perancis meninggalkan Lebanon dan menuduh mereka telah melakukan pembantaian terhadap warga sipil Lebanon serta menciptakan "iklim kekerasan" terhadap warga Syi’ah. Kelompok Jihad Islam mengancam pasukan keamanan internasional, bahwa "bumi akan bergetar kecuali pasukan asing meninggalkan Lebanon pada tahun baru 1984."

Dibutuhkan waktu berhari-hari bagi upaya evakuasi korban pemboman, karena para pekerja penyelamat terus mendapat serangan dari penembak-penembak jitu lokal. Seorang penembak jitu itu di antaranya adalah seorang gadis remaja berumur 18 tahun yang akhirnya tewas ditembak pasukan keamanan. Para korban pemboman selanjutnya diterbangkan ke kapal USS Iwo Jima yang berlabuh di lepas pantai Lebanon. Sebagian lainnya diterbangkan ke rumah sakit militer Inggris di Cyprus dan rumah sakit militer Amerika di Jerman.

Setelah pemboman itu, beberapa kelompok Muslim Syi’ah mengklaim sebagai pelaku serangan. Salah satunya, Free Islamic Revolutionary Movement, bahkan memberikan identitas pelaku serangan, yaitu Abu Mazen dan Abu Sijaan.

Setelah bertahun-tahun penyidikan, Amerika menyimpulkan serangan tersebut dilakukan oleh kelompok Hizbullah yang kala itu masih berupa gerakan bawah tanah. Hizbullah dengan dukungan Syria (Suriah) dan Iran juga dianggap bertanggungjawab atas serangan terhadap kedubes AS di Beirut, bulan April 1983. Hizbullah baru mendeklarasikan diri sebagai sebuah organisasi pada tahun 1985. Baik Hizbullah maupun Iran serta Syria (Suriah) menolak tuduhan itu.

Pada tahun 1985 sebuah pengadilan Amerika secara diam-diam menjatuhkan hukuman kepada Imad Mughniyah, pemimpin Hizbullah, sebagai dalang serangan atas barak militer Amerika dan Perancis. Mughniyah meninggal tahun 2008 di Damaskus dalam sebuah serangan bom mobil yang dilakukan Mossad dan CIA.

Penulis Lebanon, Hala Jaber mengklaim Iran dan Syria (Suriah) terlibat dalam serangan dengan memberikan bantuan kepada tersangka, Imad Mughniyeh dan Mustapha Badredeen. Jaber menulis:

"Imad Mughniyeh dan Mustapha Badredeen menjadi pelaku operasi yang didukung Syria (Suriah) dan Iran. Mughniyeh adalah orang yang pernah mendapat latihan dari satuan Force 17 PLO. Misi mereka adalah mengumpulkan informasi dan rincian tentang kedubes Amerika dan merancang sebuah rencana untuk menjamin maksimalnya dampak serangan tanpa meninggalkan jejak. Pertemuan-pertemuan digelar di Kedubes Iran di Damaskus. Mereka terkadang ditemui oleh Dubes Iran untuk Syria (Suriah), Hojatoleslam Ali-Akbar Mohtashemi, yang memainkan peran penting dalam pembiayaan Hizbullah. Dengan bantuan beberapa pejabat senior intelijen Syria (Suriah), rencana akhir disiapkan. Kendaraan dan bahan peledak disiapkan di Lembah Bekaa yang berada di bawah pengawasan pasukan Syria (Suriah)."

Banyak analis yang percaya Iran memegang peran kunci dalam serangan tersebut. Motivasinya adalah balasan terhadap dukungan Amerika kepada Irak dalam Perang Iran-Irak yang berlangsung sejak tahun 1980 hingga 1988. Kala itu Amerika baru saja memberikan kredit pembelian senjata kepada Irak senilai $2.5 miliar, dan pada saat yang sama membekukan penjualan senjata ke Iran. Beberapa minggu sebelum serangan, Iran memperingatkan Amerika bahwa tindakan mempersenjatai musuh Iran akan mendapat balasan setimpal.

Respon Amerika

Amerika telah melakukan tindakan "pengecut" dengan membunuhi warga sipil Lebanon hingga menyebabkan serangan terhadap pasukannya yang mematikan. Namun menanggapi serangan itu, Amerika melakukan tindakan tidak kalah "pengecut". Setidaknya para pejuang Libanon telah melakukan serangan terhadap sasaran militer, tidak seperti Amerika dan Perancis.

Sebagai respon atas serangan tersebut, Angkatan Laut Amerika melakukan pemboman besar-besaran ke wilayah Pegunungan Shauf pada 9 Januari 1984, termasuk dengan menggunakan kapal penjelajah terbesar di dunia kala itu, USS New Jersey. Pada 8 Februari, USS New Jersey menembakkan hampir 300 bom ke posisi milisi Druze dan tentara Syria (Suriah) di Lembah Bekaa, Beirut Timur. Ini adalah pemboman laut besar-besaran Amerika sejak Perang Korea, menewaskan ratusan warga Lebanon, kebanyakan Muslim Syi’ah dan Druze.

Perancis juga melakukan serangan terhadap posisi yang dicurigai sebagai lokasi pasukan Pengawal Revolusi Iran di Lembah Bekaa. Pasukan elit Iran itu memang secara diam-diam diterjunkan ke Lebanon, terutama membantu milisi Hizbullah dan Amal Syi’ah, sekutu Iran. Presiden Amerika dan Perancis juga telah menyetujui serangan terhadap kediaman tokoh Syi’ah Sheik Abdullah di Baalbek serta lokasi-lokasi milisi Syi’ah dan Pengawal Revolusi Iran. Namun Menteri Pertahanan Casper Weinberger berhasil mencegah keputusan itu, khawatir dengan pembalasan Iran dan Syria (Suriah) mengingat keterlibatan mereka atas serangan barak militer Amerika-Perancis masih belum bisa dipastikan.

Sebelumnya, pada bulan Desember 1983, pesawat-pesawat tempur Amerika dari kapal induk USS John F. Kennedy dan USS Independence melakukan serangan terhadap posisi pasukan Syria (Suriah).

Selain itu, Dinas Intelijen Amerika, CIA, juga melakukan aksi balas dendam sendiri. Pada 8 Maret 1985, sebuah truk berisi bom meledak di Beirut, membunuh lebih dari 80 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya, hampir semuanya warga sipil. Ledakan terjadi di dekat blok apartemen tempat tinggal Sheikh Mohammad Hussein Fadlallah, seorang ulama Syi’ah yang dianggap sebagai pemimpin spiritual Hizbullah. Meski dibantah Amerika, serangan itu diyakini publik sebagai serangan terorisme CIA.

Fadhlallah mengatakan, "Mereka mengirimi saya surat dan saya mendapatkan pesan mereka, dan sebuah tanda di bekas bangunan yang hancur bertuliskan: buatan Amerika." Robert Fisk, seorang wartawan senior, juga mengklaim agen CIA-lah yang telah meletakkan bom dan bukti-bukti keterlibatan itu dituliskannya di sebuah artikel di koran Washington Post.

Penarikan Pasukan Amerika

Takut menghadapi serangan susulan terhadap pasukannya, Amerika segera menarik pasukannya dari Beirut dan memindahkannya ke atas kapal-kapal perang di lepas Pantai Lebanon. Pada 7 Februari 1984, Presiden Ronald Reagan memerintahkan pasukan Marinir memulai penarikan dari Lebanon yang selesai dilakukan pada 26 Februari 1984. Empat bulan kemudian seluruh pasukan perdamaian internasional ditarik dari Libanon.

Di sisi lain, mundurnya Amerika dari Lebanon setelah serangan atas barak militernya justru melambungkan citra Hizbullah. Meski Hizbullah secara resmi menolak terkait serangan tersebut, namun tampak di mata publik sebagai pelakunya, setidaknya setelah kelompok ini memuji-muji "dua martir mujahidin yang telah menimbulkan kerugian hebat bagi Amerika, yang tidak pernah dialami Amerika sejak Perang Vietnam". Hizbullah dianggap sebagai "ujung tombak perjuangan jihad muslim menentang pendudukan asing."