Selasa, 23 September 2014

Angka dalam al Qur'an



Oleh Ayatullah Hadi Ma’rifat

Allah swt berfirman dalam surat al Baqarah, ayat 23: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alqur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah paling tidak satu surat (saja) yang semisal Alqur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. Dan pada ayat berikutnya Allah swt berfirman:” Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.

Pada dasarnya bahasa qur`an sedemikian fasih dan indah sehingga setiap orang yang walaupun sedikit memahami bahasa arab, dengan membaca ataupun mendengar lantunan ayat, dengan sendirinya akan memahami bahwa tidak ada satu orator pun yang dapat berbicara dengan bahasa yang sedemikian rupa fasihnya. Bahasa dan ucapan fasih tersebut tidak mungkin berasal dari manusia. Mukjizat Alquran tidak terbatas pada pengetahuan-pengetahuan mendalam berupa ilmu logika, sosial, keindahan serta kefasihan bahasa dan ilmu tentang rahasia alam gaib yang sangat menakjubkan. Setiap hari terungkap bidang-bidang baru dari keajaiban-keajaiban Alqur’an. Sebagai contoh hingga kini terdapat 20 hal tentang mukjizat angka dalam Alqur’an yang di jelaskan melalui program computer. 20 hal tersebut sebagai berikut:

1. Kata ( Imam) dengan arti pemimpin Ilahi baik kata tersebut berbentuk “plural” maupun “singular”, diulang 12 kali dalam Alqur’an, hal ini relevan dengan riwayat yang berbunyi”( Jumlah para imam setelah Rasulullah saww adalah 12 orang”) yang di nukil dari Rasulullah saw oleh kalangan syiah dan sunni. Surat Yaasiin ayat 12 :” Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh mahfuzh)”,merupakan contoh dari ayat-ayat yang terdapat kata imam didalamnya.

Nama 12 imam sebagai para penerus kepemimpinan Rasulullah itu adalah sebagai berikut:

1. Imam Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib as
2. Imam Hasan Al Mujtaba as
3. Imam Husain as (Imam Hasan as dan Imam Husain as adalah dua bersaudara dari putra imam Ali bin Abi Thalib as, sementara hubungan para imam yang lainnya merupakan hubungan ayah dan anak bukan persaudaraan )
4. Imam Ali Zaenal Abidin As Sajjad as
5. Imam Muhammad Bagir as
6. Imam Ja`far As Sadiq as
7. Imam Musa Al Kadzim as
8. Imam Ali Ar Ridha as
9. Imam Muhammad Al jawad as
10.Imam Ali Al Hadi as
11.Imam Hasan Al Askari as
12.Imam Muhammad Al Mahdi as, yang mana menurut keyakinan kaum muslimin bahwa beliau masih hidup dan berada di semua tempat namun tak dapat dilihat. Pada suatu saat, beliau bersama Nabi Isa as akan memegang kekuatan dunia. Untuk mengetahui lebih banyak, merujuklah kepada kitab “ Rahasia-rahasia keluarga Muhamad saww “ yang di tulis oleh Sulaim bin Qeis al Hilali sang pejuang sejati sekaligus murid imam Ali bin Abi Thalib as.

2. Kata “ syahr” yang berarti bulan, diulang 12 kali dalam alqur’an sesuai dengan jumlah bulan-bulan dalam tahun.

3. Kata “Yaum” yang berarti hari, diulang 365 kali dalam alqur’an sesuai dengan jumlah hari dalam setahun dalam hitungan miladi.

4. Kata “ Sajada “ yang berarti telah bersujud, baik kata tersebut berbentuk kata kerja lampau ataupun kata kerja yang sedang atau akan di lakukan, diulang 34 kali di dalam al quran. Jumlah tersebut sama dengan jumlah sujud-sujud shalat wajib sebab dalam setiap hari ada 17 rakaat shalat wajib dan terdapat dua sujud dalam setiap rakaatnya.

5. Kata” Rajul” yang berarti lelaki sama seperti kata “Imraah” yang berarti perempuan, masing-masing 24 kali digunakan dalam al quran

6. Kata “ Malaaikah” bermakna malaikat dan kata “Syaitan” bermakna setan atau jin, masing-masing disebutkan 88 kali dalam alqur’an.

7. kata “istiadzah” yang artinya berlindung dan kata iblis yang berarti setan 11 kali digunakan dalam alqur’an.

8. kata “akhirah” yang berarti akhirat dan kata “dunya” yang berarti dunia masing-masing 115 kali disebutkan dalam alqur’an.

9. kata “Alhasanaat” yang berarti kebaikan-kebaikan dan “Assaiyiaat” yang berarti kejelekan masing-masing disebutkan 180 kali dalam alqur’an

10. kata “Alhayaah” yang berarti kehidupan dan “Almaut” yang berarti kematian masing-masing 145 kali disebutkan dalam alqur’an.

11. Kata” Arsala” bermakna telah mengutus, diulang 513 kali dalam al quran dan nama 28 nabi yang disebutkan dalam al quran juga diulang 513 kali secara keseluruhan.

12. Kata “Ar Rusul” bermakna para nabi dan kata “An Naas” bermakna orang-orang, masing-masing diulang 368 kali dalam al quran.

13. Kata “Ar Raqbah” bermakna keinginan dan kata “ Ar Rahbah” bermakna ketakutan masing-masing 8 kali diulang dalam al quran.

14. Nama mulia Rasulullah ( Muhammad dan Ahmad ) 5 kali diulang secara keseluruhan dalam al quran ( 4 kali nama Muhammad dan 1 kali nama Ahmad ) dan kata “shalawat” yang bermakna ucapan shalawat yang banyak ditujukan kepada Rasulullah saww dan keluarganya juga diulang 5 kali dalam alqur’an.

15. Kata “Itsar” yang berarti berkorban untuk orang lain dan kata syah yang berarti pelit masing-masing 5 kali diuang dalam aqur’an

16. Kata “suruur yang berarti kebahagiaan dan kata huzn yang berarti kesedihan masing-masing 4 kali disebutkan daam alqur’an.

17. kata “Al har” yang berarti panas dan kata al bard yang berarti dingin masing-masing 4 kali diulang dalam al-qur’an.

18. Istilah “Hizbullah” yang berarti penolong Allah dan istilah “Hizbussyaitan” yang bermakna pengikut setan, masing-masing diulang 3 kali dalam al quran.

19. Dalam al quran secara langsung diisyaratkan bahwa 300 tahun syamsiah sama persis dengan 309 tahun qamariah. Hal ini juga diisyaratkan dalam kisah Imam Ali as yang ditanya oleh salah seorang ulama yahudi bahwa kenapa masa tidurnya Ashabul Kahfi disebutkan 309 tahun didalam aquran sementara dalam penjelasan kitab taurat disebutkan 300 tahun saja? Beliau as berkata: Tahun anda adalah tahun symasiah sedangkan tahun kita adalah tahun qamariah. Menariknya, salah satu dosen matematika melakukan penghitungan atas hal ini dan kesimpulan yang dapat difahami sebagai berikut:

Tahun syamsiah memiliki 365 hari, untuk itu 300 tahun syamsiah adalah 300 x 365 = 109500 hari. Sementara tahun qamariah memiliki 354 hari, 8 jam dan 48 menit, untuk itu 309 tahun qamariah sama dengan 309 x 354 hari & 8 jam & 48 menit = 109500 hari pula. Dengan demikian jelas bahwa 300 syamsiah sama dengan 309 qamariah, tidak kurang atau lebih walaup satu hari. Hal ini berjalan beratus-ratus tahun setelah turunnya alquran hingga kini masih tetap bahwa sehari semalam adalah 24 jam dan setiap jam terdapat 60 menit, padahal saat itu belum ditemukan jam. Oleh karenanya setiap kata-kata yang terdapat dalam alquran pada tempat dan jumlah tertentu mengandung pesan dan pemahaman spesifik. Sesungguhnya hal ini merupakan bentuk dari mukjizat, sebab kumpulan dari ayat-ayat quran yang turun untuk Rasulullah, pada rentang waktu yang relatif panjang 23 tahun dan dalam situasi serta kondisi yang beraneka ragam seperti, terkadang dalam perang, dalam perdamaian, dalam mekkah, dalam madinah, dalam pengepungan” Sya`bi Abi Thalib”, dalam perjalanan, dalam waktu siang dan malam. Tidak demikian hal nya bahwa Rasulullah menulis kitab layaknya para pengarang berbagai kitab yang menulis kitab dengan merujuk kepada referensi-referensi yang beragam di sela waktu kosong didalam perpustakaan.

Bentuk lain dari kemukjizatan Al quran tampak pada firman Allah swt dalam surat Ash Shaff, ayat 6 yang berbunyi:” Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad (Muhammad)”. Dan dalam surat Al A`raaf, ayat 157 Allah swt berfiman:” (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka”. Jika saat turunnya alquran, nama Muhammad saww tidak terdapat dalam kitab Taurat maupun kitab Injil, maka ulama yahudi yang senantiasa mengawasi Islam dari dekat akan segera menunjukkannya kepada kaum muslimin untuk membuktikan ketidak autentikan Alqur`an. Upaya mereka untuk membuktikan ketidak autentikan Al qur`an sampai pada kebuntuan karena nama suci Muhammad saww tercantum dalam kitab-kitab suci yahudi dan Kristen tatkala turunnya ayat tersebut. Sementara mereka sangat mengenal nama Rasulullah, yang dalam surat Al An`am, ayat 20 disebutkan:” Orang-orang yang Telah kami berikan Kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri”.

Jumat, 19 September 2014

Kapitalisme Baik dan Kapitalisme Jahat





(Foto: Bung Karno di Rusia) 

Banyak orang mengira bahwa ketika Tembok Berlin runtuh pada 1989, “kapitalisme” telah menang dalam Perang Dingin dan bahwa “komunisme” telah tamat riwayatnya. Ternyata, walaupun “kapitalisme”, yang didefinisikan sebagai suatu sistem ekonomi yang dibangun di atas landasan kepemilikan harta benda oleh swasta, terbukti unggul, terdapat banyak perbedaan di antara hampir 200 negara yang sekarang menganut kapitalisme dalam bentuknya masing-masing.

Kita bagi saja berbagai bentuk ekonomi kapitalis di dunia dalam empat kategori besar. Walaupun banyak bentuk ekonomi melintas keempat kategori ini, sebagian besar tergolong dalam salah satu di antaranya. Tipologi berikut ini menunjukkan mengapa ada ekonomi yang tumbuh lebih cepat daripada yang lainnya.

Kapitalisme oligarki (oligarchic capitalism) eksis tatkala kekuasaan dan uang sangat terkonsentrasi di tangan segelintir orang. Inilah bentuk terburuk kapitalisme, bukan saja karena ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan yang ekstrem yang ditoleransi ekonomi semacam itu, tapi juga karena elite di negara bersangkutan tidak mendorong pertumbuhan sebagai tujuan sentral kebijakan ekonomi. Malah penguasa oligarkis itu membuat aturan untuk memaksimalkan pendapatan dan kekayaan mereka sendiri. Aturan semacam itu terdapat di sebagian besar Amerika Latin, Timur Tengah Arab, dan Afrika.

Kapitalisme bimbingan negara (state-guidance capitalism) adalah ekonomi tatkala pertumbuhan merupakan tujuan sentral (seperti juga dalam dua bentuk kapitalisme lainnya), tapi pencapaiannya dilakukan dengan mengistimewakan perusahaan atau industri tertentu. Pemerintah mengalokasikan kredit (melalui kepemilikan bank secara langsung atau dengan membimbing bank-bank milik swasta dalam membuat keputusan mengenai pemberian kredit, memberikan insentif pajak dan/atau subsidi langsung, memberikan proteksi perdagangan, atau menggunakan sarana regulasi lainnya dalam upaya “menunjuk pemenangnya.”

Negara-negara Asia Tenggara telah menunjukkan keberhasilan yang mengesankan dengan state-guidance capitalism yang mereka praktekkan, dan sampai akhir 1990-an bahkan ada imbauan di Amerika Serikat agar mencontoh apa yang dipraktekkan negara-negara Asia Tenggara tersebut. Kelemahan ekonomi semacam ini adalah bahwa ketika ia mendekati “perbatasan” tahap produksi (production-possibility frontier) pembuat kebijakan di negara bersangkutan kehabisan industri dan teknologi yang bisa dijadikan contoh. Ketika pejabat pemerintah dan bukan pasar yang kemudian memilih “pemenang berikutnya”, mereka menghadapi risiko memilih industri yang salah atau menyalurkan terlalu banyak dana–dan dengan begitu menyalurkan kapasitas secara berlebihan–ke dalam sektor tertentu. Tendensi semacam itu berperan cukup besar dalam mencetuskan krisis keuangan Asia pada 1997-1998.

Perusahaan Besar (Big Firm) atau kapitalisme manajerial (managerial capitalism) merupakan ciri ekonomi di mana perusahaan-perusahaan besar–sering kali disebut “juara nasional”–mendominasi produksi dan peluang kerja. Perusahaan-perusahaan kecil eksis, tapi umumnya cuma berupa perusahaan retail atau penyedia jasa dengan satu atau hanya beberapa pegawai. Perusahaan menjadi besar melalui penghematan karena skala (economy of scale) dengan menyempurnakan dan memproduksi secara massal inovasi radikal yang dikembangkan wiraswasta (yang dibahas di bawah ini). Negara-negara Barat dan Jepang merupakan contoh utama kapitalisme manajerial. Seperti state-guidance capitalism, kapitalisme manajerial juga telah menunjukkan kinerja ekonomi yang kuat.

Kapitalisme manajerial juga punya kelemahannya. Perusahaan yang birokratis umumnya alergi terhadap risiko yang besar–yakni mengembangkan dan memasarkan inovasi radikal yang menggeser “production-possibility frontier” dan menghasilkan lompatan besar produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Perusahaan Besar (Big Firm) enggan mengambil risiko bukan saja karena merupakan bagian birokrasi, dengan lapisan manajemen yang dibutuhkan untuk menolak inovasi, tapi juga enggan mendukung inovasi yang bisa membuat produk atau jasa yang sekarang mendatangkan keuntungan baginya tidak lagi laku. Menurut pandangan kami, terbatasnya ruang gerak kapitalisme manajerial menunjukkan kenyataan mengapa setelah mendekati level pendapatan per kapita AS pada akhir 1980-an, baik Eropa maupun Jepang gagal menandingi kebangkitan kembali produktivitas Amerika yang dimotori teknologi informasi mulai 1990-an.

Sekarang kita tiba pada tipe keempat: kapitalisme wiraswasta (entrepreneurial capitalism), ekonomi tatkala dinamisme lahir dari perusahaan yang secara historis telah memasarkan inovasi radikal yang terus mendorong “production-possibility frontier.” Contoh-contoh yang diperoleh selama dua abad terakhir termasuk produk-produk dan inovasi transformatif seperti kereta api, mobil, dan pesawat terbang; telegraf, telepon, radio, dan televisi; penyejuk udara; dan berbagai teknologi yang mencetuskan revolusi di bidang teknologi informasi, termasuk baik komputer mainframe maupun komputer pribadi, routers dan perangkat keras lainnya, serta perangkat lunak untuk mengoperasikannya.

Yang jelas, tidak ada ekonomi yang mampu sepenuhnya merealisasi potensinya hanya dengan beroperasinya perusahaan wiraswasta. Bercampurnya secara optimal berbagai jenis perusahaan merupakan sumber daya keuangan dan manusia yang diperlukan untuk menyempurnakan dan menghasilkan secara massal inovasi radikal beserta perusahaan-perusahaan yang baru.

Diperlukan Boeing dan pembuat pesawat yang besar lainnya, misalnya, untuk memasarkan apa yang dipelopori oleh kakak-beradik Wright, begitu juga Ford dan General Motors untuk menghasilkan mobil secara massal, dan seterusnya. Namun, tanpa wiraswasta, tidak mungkin terwujud inovasi-inovasi yang telah membentuk ekonomi dan kehidupan modern kita.

Karena itu, tantangan bagi semua bentuk ekonomi yang berupaya memaksimalkan potensi pertumbuhannya adalah menemukan percampuran yang tepat antara kapitalisme manajerial dan kapitalisme wiraswasta. Ekonomi yang sekarang memberi peluang kepada wiraswasta tumbuh dan berkembang tidak boleh berpuas diri. Negara-negara berbasis ekonomi bimbingan negara bisa terus memilih jalan pertumbuhan yang sekarang ditempuhnya, tapi pada akhirnya nanti mereka perlu melakukan transisi ke suatu paduan yang tepat dari kedua bentuk “kapitalisme baik” lainnya jika mereka ingin terus berkembang dan tumbuh dengan cepat.

India dan Cina, masing-masing dengan caranya sendiri, sedang bergerak ke arah ini. Tantangan paling berat untuk mencapai transisi serupa dihadapi ekonomi yang terbenam dalam kapitalisme oligarki. Diperlukan tidak kurang dari revolusi–idealnya tentu secara damai–untuk menggantikan elite yang sekarang mendominasi ekonomi dan masyarakat ini, yang menganggap pertumbuhan bukan tujuan sentralnya.  

*William Baumol adalah guru besar ekonomi dan direktur Berkeley Entrepreneurship Center pada New York University. Robert E. Litan adalah Vice President for Research and Policy pada Kauffman Foundation dan Senior Fellow Economic Studies and Global Economics Programs pada Brookings Institution. Carl Schramm adalah CEO dan Presiden Kauffman Foundation serta Batten Fellow Darden School of Business pada University of Virginia. Hak cipta: Project Syndicate, 2008.