Sebuah Esai Otobiografis Sulaiman Djaya
Aku
telah menjalani hidup puluhan tahun. Entah dengan riang atau dalam keadaan
sebaliknya. Dalam kesukaran dan nestapa. Aku menuliskan esai naratifku ini
karena aku percaya pada satu alasan yang tak teringkari oleh siapa saja:
manusia menginginkan kebahagiaan.
Di hari
Minggu aku bangun saat subuh dan tidak langsung mandi karena biasanya aku harus
berangkat bersama ibuku ke sawah untuk mencabuti rumput dan gulma yang tumbuh
bersama padi-padi yang ia tanam. Persis seperti yang dilakukan tokoh utama
dalam film Little Forest yang diperankan Ai Hashimoto dan para petani lainnya
di sebuah desa di lereng gunung dalam film yang bertema dan berlatar kehidupan
pedesaan di Jepang itu. Kami berangkat selepas menyantap nasi goreng yang dimasak ibuku. Atau menyantap ubi dan singkong
rebus di hari Minggu lainnya. Semuanya tergantung persediaan pangan apa yang
masih ada yang tak habis di waktu malam. Biasanya rumput-rumput di setapak
pematang yang kami lalui ketika itu masih basah sebelum akhirnya embun-embun
itu menguap karena datangnya sinar matahari yang mulai tampak dan memancar pada
pukul enam pagihari dari sela-sela ranting dan dahan pohon-pohon yang berbaris
sepanjang setapak tepi sungai Irigasi yang hulunya berada di Pamarayan. Sungai
yang merupakan anak Sungai Ciujung.
Bila
cuaca hangat sudah agak mulai terasa masuk ke dalam pori-pori tubuh kami
melalui benang-benang baju, kami akan pulang. Antara jam 10 hingga jam 11. Dan
saat sampai di rumah, ibuku akan langsung ke dapur untuk memasak apa saja yang
ada untuk menu makan siang. Dunia pedesaan tempat masa kanak-kanakku hidup
adalah dunia yang saling bertentangan. Di satu sisi ada kegembiraan dan
kebebasan, di sisi lain ada kemiskinan dan keterbatasan. Misalnya adalah
keanehan kami sebagai petani yang acapkali kehabisan beras sebab butuh waktu
berbulan-bulan lagi untuk panen sementara kebutuhan sehari-hari tidak tercukupi
dengan persedian beras yang ada dari panen sebelumnya. Dan begitu pun
sebaliknya, acapkali ketika persediaan beras melimpah, kami tak punya cukup
uang untuk membeli bahan pangan lainnya sehingga ibuku harus rela menjual
berliter-liter beras hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan demi uang yang
tak terlampau banyak agar kebutuhan menu makan kami sehari-hari tercukupi
selain untuk kebutuhan sekolah.
Karena
keterbatasan itu aku membawa buku-buku ke sekolah dasarku tanpa menggunakan tas
seperti halnya para siswa lain. Dan bila ada yang berani mengejek kemiskinan
dan keterbatasanku, aku akan segera menghajar siswa itu. Meskipun demikian, aku
tetap sanggup menjadi yang terbaik dan tercerdas di kelasku. Hanya saja
kecerdasanku itu tak begitu saja memuaskan para guruku di sekolah dasar sebab
aku terbilang siswa yang ‘berandal’ dan ‘bengal’ karena acapkali melakukan
hal-hal iseng seperti menaruh setangkai pohon songler dari pinggir sungai yang
terdapat beberapa ulat bulu berwarna hitam arang di daun-daunnya untuk
kuletakkan di salah-satu meja siswi.
Barangkali
watak dan sikap berandal dan bengalku di masa kanak-kanak itu adalah wujud dan
ekspressi protesku atas kemiskinan dan keterbatasanku di saat aku tak mau
‘ditindas’ oleh beberapa siswa yang mengejek kemiskinanku dengan sikap mereka
yang akan berbuat polah seenaknya jika saja keberanian mereka untuk melakukan
hal demikian tak terlebih dulu kuhentikan dengan keberanianku untuk melakukan
perlawanan. Itulah diantara manifestasi kebebasanku untuk tidak dikalahkan oleh
kondisi kemiskinanku. Dorongan dan upaya untuk melawan itu sendiri merupakan
sumber dan benih kebebasan dan kemerdekaan yang ada dalam diriku sebagai
kanak-kanak yang lahir di dunia yang terbatas. Dan justru karena watak dan
karakterku itulah aku mendapatkan dan memiliki beberapa teman yang loyal dan
kuat meski tak banyak. Mereka lah yang senantiasa bermain denganku. Menjalani
kemerdekaan dan kebebasan kanak-kanak untuk melakukan apa saja yang terasa
menyenangkan dan memuaskan hati kami. Melakukan hal-hal yang bisa membuat kami
merasa gembira meski dalam kemiskinan.
Ibuku
sendiri adalah contoh orang yang tak mau dikalahkan oleh kemiskinan. Kesabaran
dan ketabahannya mengajarkanku bahwa watak dan karakter untuk menjalani hidup
dengan ikhlas akan melahirkan kekuatan dalam diriku untuk tidak dikalahkan
kemiskinan dan keterbatasan. Di masa-masa paceklik ketika padi-padi terserang
hama dan gagal panen, contohnya, kami masih bisa menyantap singkong dan ubi
jalar yang direbus dengan sama riangnya sebagaimana kami melahap nasi dengan
ikan asin (sesekali tempe yang digoreng atau ditumis), sayur asam, dan sambal
yang diulek dan diaduk dari campuran cabe rawit, garam, terasi, dan beberapa
irisan kulit buah Rosella agar sambal itu cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan
menu makan.
Lagi-lagi
aku teringat film Little Forest saat si tokoh utama yang diperankan Ai
Hashimoto dalam film itu mahir membuat panganan dari bahan pangan yang tumbuh
di pedesaan berdasarkan ingatan dan pengalaman hidupnya bersama ibunya di masa
silam.
Anak-anak
yang orang tua mereka mampu membelikan sepeda akan memilih untuk bersepeda di
hari Minggu. Anak-anak lelaki biasanya bisa menyombongkan sepeda BMX mereka dan
anak-anak perempuan mengayuh pedal sepeda mereka yang memiliki keranjang di
stang-nya. Aku dan teman-temanku kebetulan tak memiliki sepeda, sehingga kami
memilih mengembara ke sawah-sawah dan pematang-pematang untuk berburu para
belalang atau menerbangkan layang-layang bila aku tak sedang membantu ibuku di
sawah. Inilah contoh hal lain kebebasan dan kemerdekaan dunia masa
kanak-kanakku yang meski tak memiliki sepeda, tetap masih bisa merayakan
kegembiraan kami dengan melakukan apa saja yang kami sukai dan yang membuat
kami senang untuk melakukannya tanpa harus membebani orangtua-orangtua kami
yang tak mampu membelikan kami sepeda. Di kali yang lain kami akan berburu
burung dengan cara memanjat pohon-pohon besar tempat mereka membangun sarang di
sela-sela ranting dan dahan. Kami akan mengambil anak-anak mereka yang belum
bisa terbang untuk kami pelihara hingga besar.
Dunia
masa kanak-kanak di mana kami belajar di sekolah dasar dan bermain di antara
sungai, pematang, dan sawah adalah dunia ketika kami belum mengenal gawai dan
permainan-permainan yang diciptakan oleh kemajuan dan kecanggihan tekhnologi, tapi
bermain dengan permainan-permainan yang kami lakukan bersama alam.
Kegembiraan-kegembiraan berlari-lari dalam guyur hujan di sawah-sawah saat kami
mengejar dan memburu para belalang dengan alat pemukul berupa pohon songler
yang masih berdaun, sudah pasti tidaklah sama dengan permainan-permainan di
gawai saat ini. Saat itu kami menggerakkan tulang-tulang dan tubuh kami seperti
ketika planet-planet di semesta berotasi dalam orbit mereka. Kami kadangkala
terjatuh dan terjerembab dalam genangan air saat kaki kami tersangkut jerami
atau terpeleset karena lumpur yang terasa licin.
Ingatan-ingatan
tentang apa yang kulakukan di masa kanak-kanak itu muncul di saat kini aku
mudah sekali terserang rasa jenuh dan bosan. Di saat aku merasa menderita dan
kesepian. Entah karena apa. Tak jelas sebab dan muasalnya. Sering kucoba untuk
mengusir rasa jenuh dan bosan itu dengan jalan menonton film-film dari ragam
Negara, namun tetap saja tak sanggup mengobati kebosanan dan kejenuhanku.
Seringkali aku pun tak menonton film-film itu hingga akhir karena plot dan alur
ceritanya sudah bisa kutebak. Sementara film-film lainnya lebih merupakan
propaganda politis Barat, seperti film-film yang menceritakan kebesaran Romawi
atau film-film yang menarasikan para hero dari Amerika. Karena hal-hal
demikian, aku menjadi tertarik dengan tema-tema penderitaan dan kebahagiaan
dalam kehidupan manusia. Seperti rasa bahagiaku ketika memiliki sepeda seperti
si tokoh utama film Little Forest yang mengayuh sepeda di jalan-jalan rimbun di
pegunungan di Jepang itu.
Meski
bukan komoditas baru dari toko, aku merasa gembira saat ibuku akhirnya
membelikanku sepeda. Sepeda yang dibeli dari tetangga yang anaknya minta
dibelikan motor hingga sepeda lamanya dijual kepada ibuku. Itu artinya aku bisa
mengayuh sepeda untuk berangkat menuju sekolah menengah pertamaku dan tentu
saja saat pulangku dari sekolah aku tak perlu lagi nebeng ke teman-temanku atau
pun menumpang mobil truck pengangkut pasir atau bata. Saat itu aku baru naik ke
kelas tiga Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN). Selain untuk keperluan
sekolahku, sepeda itu punya tugas tambahan di luar jam sekolah, mengangkut
gabah dari setapak ke rumah dan mengangkut gabah dari rumah ke tempat
penggilingan agar menjadi beras. Dan bila tak sedang melakukan tugas tambahan
itu, kukayuh sepedaku ke mana pun aku ingin pergi. Ke mana hatiku ingin
meninggalkan rasa bosan dan jenuhku yang ada di rumah.
Hasrat
ingin pergi dan melarikan diri dari rumah mungkin saja karena seseorang ingin
mengetahui bahwa ada dunia lain yang berbeda. Ada dunia kemungkinan yang ia
bayangkan dalam pikirannya untuk dikunjungi. Di saat ada kesempatan untuk tidak
membantu ibuku di sawah, kukayuh sepedaku sejauh mungkin dan hanya akan
berhenti jika aku benar-benar merasa lelah mengayuh sepeda di jalanan berbatu
dan berdebu. Kukayuh sepedaku ke jalan raya yang dekat dengan sekolah menengah
pertamaku. Jalan beraspal membuat dua roda sepedaku lancar berputar dan kedua
kakiku tidak cepat lelah hingga tanpa terasa aku telah mengayuh sepedaku sedemikian
jauh dari rumah ketika itu jika tak disadarkan oleh kumandang azan asar. Saat
itu aku langsung berputar arah untuk pulang dan sampai di rumah menjelang
magrib.
Saat
aku mengayuh sepeda di jalan raya beraspal itu kubayangkan aku berbalapan
dengan kendaraan dan sepeda motor. Dan cukup sering pula kudengar klakson
kendaraan dan motor yang terasa nyaring dan keras yang seakan-akan menegurku
agar tetap di pinggir jalan dan jangan sampai ke tengah jika tak ingin nyawa
melayang karena tertabrak mereka.
Keesokan
harinya kebetulan hari Minggu dan kebetulan lainnya adalah ibuku tidak pergi ke
sawah sehingga aku tak perlu membantunya untuk menganyam bakul kecil yang hanya
ia yang bisa. Kugunakan kesempatan itu untuk mengayuh sepedaku dan aku hanya
membasuh wajahku sebelum berangkat untuk pergi dari rumah dengan sepeda. Bila
sebelumnya aku menuju arah selatan, kini kutempuh arah utara. Kukayuh dan terus
kukayuh sepedaku hingga sekira tak sampai setengah jam, aku telah sampai di
jalan di mana di sebelah kiriku adalah sungai irigasi yang merupakan anak
sungai Ciujung dari Pamarayan dan di sebelah kananku tampak Sungai Ciujung itu
sendiri. Tentu saja Sungai Ciujung di sebelah kananku jauh lebih besar
dibanding sungai irigasi di sebelah kiriku. Ketika itu di tepi jalan yang
adalah juga tepi Sungai Ciujung berbaris kokoh pohon-pohon besar. Tak kuduga di
tengah jalan ada sekumpulan kerbau, dan akhirnya kuputuskan untuk berputar dan
kembali ke rumah di saat perutku mulai terasa lapar karena belum sarapan.
Kegembiraan
mengayuh sepeda di masa remajaku itu adalah juga kegembiraan yang sama di masa
kanakku berburu para belalang dan menerbangkan layang-layang. Memiliki sepeda
di masa-masa itu bagi para remaja merupakan kebanggaan tersendiri dan beberapa
orang di kampungku telah memiliki sepeda di saat mereka masih di sekolah dasar.
Aku dan beberapa temanku termasuk mereka yang terlambat untuk memiliki sepeda,
dan terlebih lagi aku yang membelinya bukan dari tokonya, tapi dari tetangga.
Aku tak tahu apakah ibuku membayarnya dengan kontan atau dengan jalan mencicil.
Dan tentu saja itu bukan urusanku sehingga aku selalu saja membatalkan niatku
untuk menanyakan hal itu kepada ibuku.
Aku
sangat percaya bahwa dengan hobi dan permainan-permainan itulah jiwa dan mental
manusia bisa berkembang dengan sehat. Begitu jika pikiran dan kecerdasannya.
Peran yang juga dilakukan alam bagi kehidupannya. Seperti ketika mendapatkan
tugas untuk menggambar, yang pertama-tama kugambar pada buku gambarku adalah
yang hadir secara nyata di alam yang akrab dengan hidupku: sawah, pohon,
sungai, kambing, ayam, kerbau dan yang lainnya yang ketika itu sering kulihat
dan hadir di kesekitaranku. Hobi dan permainan-permainan yang orang senang dan
cinta untuk melakukannya juga akan memungkinkan hadirnya rasa bahagia bagi
jiwanya, sebagaimana penderitaan lahir dari rasa sakit, kurangnya gizi dan
makanan, tidak bebasnya seseorang untuk melakukan dan mengekspressikan hobi dan
bakatnya, dan lain sebagainya.
Sesampainya
di rumah aku pun istirahat sejenak untuk mengeringkan keringat di badanku
sebelum mandi dengan air yang kutimba dari sumur. Saat mandi dapat kucium aroma
bawang yang digoreng ibuku, dan rupa-rupanya ibuku sedang memasak tumis
kangkung dan menggoreng ikan asin yang dibubuhi bawang goreng agar terasa harum
dan lezat, juga lebih gurih rasanya dibanding bila tak dicampur dengan bawang
goreng. Aku suka sekali dengan tumis kangkung yang masih hangat selain sup
kulit tangkil berwarna merah yang dimasak ibuku. Menu-menu masakan itu akan
terasa nikmat disantap bersama sambal yang dicampur kulit buah Rosella dan
terasi yang dimasak dengan cara dipanggang di atas bara. Dalam soal memasak,
ibuku terbilang jago masak dan selalu bisa mengolah apa saja dari alam seperti
bayam, daun singkong, kangkung, kulit tangkil yang telah matang dan berwarna
merah, buah pisang muda, dan yang lainnya menjadi tumis dan sup yang lezat.
Kemampuan
ibuku untuk mengolah bahan-bahan dari alam menjadi masakan yang lezat dan
nikmat itu adalah juga kebahagiaan dan kegembiraanku yang lain di saat ada sisi
kemiskinan dan keterbatasan dalam hidup kami di desa. Mungkin itulah yang
dimaksud bahwa kebahagiaan bisa ada di mana saja. Kegembiraan bisa ditemui dan
dijumpai di mana pun bagi mereka yang memiliki jiwa yang bebas dan merdeka meski
hidup dalam keterbatasan selagi keterbatasan itu menjadi peluang bagi hadirnya
kesempatan untuk mengolah yang ada. Dan itulah yang dilakukan ibuku. Ia sanggup
mengolah menu masakan yang nikmat tanpa harus membeli bahan-bahannya dari
warung atau pasar. Ia menanam sendiri bahan-bahan pangan itu di halaman depan
rumah dan di tanah di belakang rumah. Sembari menanam padi, ia pun menanam
kacang panjang di pematangnya, sehingga saat memanen padi, ia pun memanen
kacang itu pula agar bisa memberi pangan bagi kami secara lengkap di saat ia
tak memiliki cukup uang untuk membeli bahan-bahan pangan yang akan ia olah
menjadi menu-menu yang menggoda selera.
Aku
akan menyebut hal itu sebagai kemandirian dan ketahanan pangan orang-orang desa
di masa-masa itu. Kesanggupan untuk mengolah alam menjadi komoditas kebutuhan
rumah tangga tanpa harus merusak alam. Ibuku melakukan itu sebelum saat ini
orang-orang Barat menyebutnya sebagai permaculture.
Apa
yang sanggup dilakukan ibuku itu adalah kesanggupan manusia untuk melakukan
adaptasi dan menciptakan peluang bagi hadirnya kegembiraan dan kebahagiaan.
Manusia memang senantiasa menginginkan kesenangan dan kebahagiaan dan berusaha
untuk menjauhi atau menghindari rasa tak nyaman dan penderitaan dalam hidup
mereka di mana saja. Bersamaan dengan itu manusia memiliki watak dan sifat
mementingkan diri sendiri dan menolak berbagi sumber daya demi memuaskan
egoismenya dan dalam rangka survivalnya.
Diantara
sekian cara untuk mendapatkan kegembiraan dan rasa nyaman itu bagiku adalah mendengarkan
musik kesukaanku sembari menikmati kopi dan membaca tulisan-tulisan serta
buku-buku yang kusukai. Terlebih dalam cuaca dingin selepas hujan yang turun
berkali-kali sejak kemarin di saat aku menulis risalah filsafatku ini. Di
berita-berita, ketika musim hujan telah mulai dan banjir melanda beberapa
tempat, timbul kembali pembicaraan tentang cuaca ekstrem dan perubahan iklim
yang konon diantara penyebabnya adalah pemanasan global dan kerusakan
lingkungan.
Tentu
saja di masa kanakku dulu tak kudengar istilah-istilah cuaca ekstrem, perubahan
iklim atau pemanasan global. Dan kebetulan pula sejak aku lahir hingga saat ini
tempat di mana rumahku berada tidak pernah mengalami banjir. Yang kutahu di
kala itu saat haus dan lelah selepas bermain sepak bola di lapangan sekolah
dasarku bersama teman-teman sekelasku, aku segera menuju dapur rumah untuk
menenggak air dari kendi yang terasa sejuk. Tak jarang aku pun menenggak air
yang belum dimasak terlebih dulu di masa itu dari gentong dengan cara
mengambilnya menggunakan gayung untuk dituangkan ke dalam gelas. Bahkan ketika
itu air dari sumur yang kami timba tak kalah segarnya dengan air dari mata-air
di pegunungan. Berbeda dengan saat ini ketika rasa air sumur memang sudah
berubah dan orang-orang memilih untuk membeli air dari depot isi ulang dengan
menggunakan gallon. Air-air yang dijual di depot isi ulang air itu berasal dari
pegunungan.
Jika
benar di masa depan akan terjadi ‘bencana’ kelangkaan air dan menurunnya
kualitas air dari dalam tanah akibat kerusakan lingkungan, maka tak diragukan
lagi hal itu akan melahirkan penderitaan baru bagi kehidupan manusia jika tak
diantisipasi untuk segera menemukan cara dan tekhnologi untuk mengurangi
kerusakan lingkungan. Harus kuakui pula, hal-hal yang dulu bisa kita dapatkan
secara gratis dari alam, kini kita harus membelinya, seperti yang telah
disebutkan tadi, yaitu air. Tak diragukan lagi kerakusan dari hasrat untuk
mencari keuntungan individual seorang korporat dan penguasa modal untuk terus
mengakumulasi modal dan surplus value di atas kepentingan bersama oleh
kapitalisme dan korporasi telah melakukan komodifikasi atas hal-hal yang dulu
bisa kita dapatkan secara gratis dari alam. Belum lagi privatisasi yang mereka
lakukan untuk hal-hal yang sesungguhnya merupakan hak publik dan diberikan oleh
alam dan lingkungan.
Di
masa-masa itu, ibuku mengisi gentongnya dengan air yang ia timba dari sumur.
Air dari gentongnya itulah yang kemudian ia manfaatkan untuk minum dan memasak
menu makan kami setiap hari. Tapi sekarang aku sendiri bahkan tak berani
meminum air dari keran sejak ada isu bahwa sungai yang tercemar oleh limbah
rumah-tangga dan industri telah pula meresap ke dalam tanah di sekitarnya. Air
hujan saat ini dan air hujan dulu kala konon pula tak sama lagi kualitasnya sejak
maraknya industrialisasi dengan limbah-limbah yang mereka lemparkan ke udara
melalui cerobong-cerobong asap raksasa mereka. Begitu pula limbah dan polusi
transportasi atau kendaraan yang sama-sama mencemari udara.
Aku
hanya ingin berkata bahwa kesehatan lingkungan yang akan melahirkan kelimpahan
bagi kebutuhan manusia seperti kelimpahan bahan pangan dari hasil pertanian dan
tiadanya bencana alam ketika tak ada kerusakan alam dan lingkungan, akan tidak
memberikan penderitaan dan kesulitan baru bagi kehidupan manusia. Seperti
ketika ibuku berinvestasi jangka pendek dengan cara menanam segala jenis
tanaman yang akan menjadi bahan pangan bagi kebutuhan makan kami setiap hari.
Ibuku mengolah alam dengan tidak merusaknya karena ia tak menggunakan bahan-bahan
kimia tapi menyuburkan media tanam dengan menggunakan bahan-bahan dari alam
pula seperti kotoran kerbau, ayam, kambing dan yang lainnya.
Aku
masih ingat diantara bulan Januari dan Februari, kami mengunduh (memanen) ubi
jalar dan singkong untuk direbus sebagai panganan pelengkap di saat kami
menikmati kopi yang dibuat dari buah-buah Rosella oleh ibuku. Atau di saat-saat
kami menikmati teh dari kulit buah Rosella, kembang pepaya dan daun sirsak. Di
bulan-bulan itu pula aku dan teman-temanku akan bergembira dalam guyur hujan di
saat berburu para belalang dengan alat pemukul berupa pohon songler yang masih
berdaun. Para belalang yang kesulitan terbang karena guyur hujan itu akan kami
pukul dengan batang songler tersebut dan tentu saja mereka terjatuh di genangan
air hujan di sawah-sawah. Kami masukan mereka ke dalam kantong plastik yang
kami ikatkan di celana pendek kami. Setelah merasa cukup banyak mendapatkan
para belalang, kami akan menyerahkannya kepada para ibu kami untuk digoreng.
Belalang yang telah digoreng itu akan terasa gurih saat kami santap di waktu
malam.
Anak-anak
sekarang tak melakukan apa yang dulu kami lakukan itu. Mereka mendapatkan
mainan baru mereka sesuai jaman mereka: gawai, yang dengannya mereka bermain
aneka games yang disediakan ragam aplikasi dalam gawai tersebut. Mereka lebih
dekat kepada mesin dan produk serta komoditas tekhnologi dibandingkan kepada
alam seperti halnya generasi kami di waktu dulu. Game yang mereka gemari pun
rupa-rupanya yang berisi kekerasan: senjata, pedang, perang, tembak-menembak,
dan memusnahkan lawan. Anak-anak itu tampak riang ketika mereka berhasil
menembak dengan senapan atau membetot lawan mereka dengan pedang yang
disediakan game dalam gawai itu. Bahkan seringkali mereka menyumpahi dan
mencaci lawan mereka. Dunia mereka adalah dunia virtual bukan dunia nyata alam
dan lingkungan sawah-sawah dan pematang yang dulu kami intimi dan kami akrabi
sebagai wahana permainan dan petualangan kami untuk mendapatkan kesenangan dan
kegembiraan.
Keasyikan
mereka dengan games yang ada di gawai-gawai mereka yang mereka pegang dengan
dua tangan mereka saat bermain game kesukaan mereka di gawai itu telah membuat
mereka lupa, misalnya, untuk belajar membaca kitab suci atau membaca buku-buku
sekolah. Mungkinkah dunia virtual ini menggantikan dunia nyata dan lalu menjadi
wahana baru manusia untuk mendapatkan kebahagiaan di masa-masa yang akan
datang? Aku tak tahu, karena membutuhkan riset dan penelitian untuk menemukan
jawabannya. Di sini aku hanya hendak menceritakan pengalaman jamanku dalam
konteks jaman saat ini sebagai perbandingan untuk mencoba membaca perkembangan
kehidupan batin manusia. Sebab di balik tubuh dan daging, di dalam diri manusia
ada yang bernama jiwa, tempat kebahagiaan dan penderitaan dalam hidupnya
bermuara.
Adanya
seni dan hasrat untuk menciptakan keindahan adalah diantara ikhtiar dan upaya
untuk memenuhi kegembiraan dan kesenangan ruhaniah tersebut. Bahwa acapkali
kepuasan dan kegembiraan seorang seniman karena keberhasilannya menciptakan
karya yang indah akan membuat dirinya bangga dan merasa bermakna. Semisal
ketika aku melakukannya. Rasa bermakna pun akan aku dapatkan ketika aku
melakukan hobiku yang membuatku merasakan kepuasan ruhaniah.
Menanam
dan merawat tanaman bunga dan tanaman lainnya adalah contoh hobi yang bisa
membuatku merasa melakukan tindakan bermakna. Keindahan bunga-bunga dengan
aneka warna mereka saat mekar memberikan rasa nyaman dan sensansi keindahan
bagi kedua mataku yang akhirnya rasa nyaman dan sensasi keindahan itu masuk ke
dalam jiwaku. Tentu saja hobi lainnya yang bisa membuatku merasa
mengekspressikan dan memanifestasikan kedirianku adalah ketika aku menulis
puisi. Puisi bagiku adalah upayaku untuk menghadirkan refleksi dengan jalan
mengolahnya dengan keindahan agar sanggup menginspirasi pembacanya karena
kesanggupannya menyentuh rasa dan intelek secara bersamaan.
Aku
yang lahir dan dibesarkan dalam suasana pedesaan berusaha mengolah alam itu
sendiri sebagai kosakata dan bahasaku untuk menyatakan apa yang kupikirkan dan
kurasakan melalui puisi. Aku ingin berkata bahwa ada kebahagiaan tersendiri
ketika puisi yang kutulis mendapatkan tempat tersendiri di hati para
pembacanya. Bagaimana pun upayaku untuk mengekspressikan keindahan tak sekadar
untuk diriku sendiri tetapi dalam rangka berbagi dengan orang lain. Adalah
alami bagi penyair bahwa ekspressi pertamakali yang mereka ungkapkan melalui
puisi adalah ekspressi cinta. Sebab rahim bahasa yang paling jujur sekaligus
peka bagi seorang penyair adalah ketika perasaannya begitu membuncah saat jatuh
cinta kepada perempuan. Aku pun mengalami hal itu, meski tentu saja tak
selamanya seorang penyair harus selalu cuma menulis puisi cinta.
Manusia
ingin mendapatkan pengakuan dan kasih-sayang dari manusia-manusia lainnya. Ia
butuh dicintai dan merasa aman dan tidak terancam keberadaannya justru karena
manusia cenderung selfish dan mengutamakan kebutuhan untuk survivalnya. Kondisi
lingkungan, situasi politik, dan bahkan situasi kebudayaan yang baik juga
sangat berpengaruh dalam menghadirkan kenyamanan dan kegembiraan bagi kehidupan
manusia yang akhirnya akan membuat manusia merasa betah dan bahagia tinggal di
lingkungan yang baik tersebut. Manusia akan merasakan derita bila hidup dalam
situasi yang terus chaos dan konflik, sebagaimana sebaliknya, kemajuan dan
kecerdasan ilmu pengtahuannya terkondisikan pula oleh ketersediaan sistem dan
fasilitas yang mendukung dan menopangnya. Lalu bagaimana dengan buku-buku?
Tentu membaca buku-buku yang baik dan berkualitas akan menyumbang bagi kemajuan
intelek manusia dan bahkan bisa memberikan kepekaan-kepekaan yang sifatnya
ruhaniah seperti ketika seseorang membaca karya-karya sastra, semisal puisi,
yang menggugah dan mencerahkan.
Kala
masih di sekolah dasar, buku-buku yang kusukai adalah buku-buku tentang para penemu
dan para ilmuwan. Aku minta ijin kepada ibu guruku untuk membawa pulang
buku-buku sekolah itu sebagai temanku dalam kesendirian dalam naungan rimbun
bambu ketika ibuku memerintahkanku untuk menunggui padi-padi yang mulai
menguning dari serbuan para burung. Biasanya aku melakukan tugas itu selepas
makan siang. Sembari menikmati sejuknya semilir angin di rimhun bambu itu, aku
pun acapkali merenung dan berkhayal. Contohnya mengkhayalkan bahwa Tuhan ada di
langit yang jauh dari tempatku duduk.
Mungkin
saja pada saat itu aku sedang berdoa dalam kesepianku. Namun, tentu saja, doa
tak selamanya hanya milik mereka yang mengklaim beragama dan mengakui
eksistensi Tuhan. Meski demikian aku tak percaya kepada mereka yang berkata
bahwa mereka berkuasa sepenuhnya atas hidup dan hari-hari mereka, termasuk
tentang bagaimana mereka bisa mendapatkan kebahagiaan tanpa harus menjadi
orang-orang yang beriman. Mereka keliru karena iman dan harapan membuat ummat
manusia survive dan bertahan dalam petaka dan kemalangan. Utopia memiliki
fungsi menjadi perawat dan penjaga kehidupan manusia agar tidak musnah ketika
terancam bahaya dan akhirnya menjaganya tetap hadir bagi masa depan.
Aku tak
percaya kepada mereka yang mengingkari keajaiban dan kebetulan, sehingga dengan
lantang mereka senantiasa mengumandangkan bahwa Tuhan itu tidak ada, bukannya
berendah hati bahwa jiwa manusia senantiasa berada dalam kerentanan. Adalah
fakta dan kenyataan yang tak teringkari bahwa manusia acapkali dirundung
kegelisahan, rasa bosan, kesepian, dan diterkam suatu keadaan dan kebetulan
dalam hidup yang berada di luar jangkauan akal dan pemahamannya. Seseorang
seringkali terjebak begitu saja dalam rasa asing dan keterasingan, dan
karenanya hatinya berdoa dan mengharapkan sesuatu yang menggembirakan akan
datang dalam hidupnya di masa yang akan datang. Aku pun mengalami hal itu jika
merasa kesepian dan merasa asing dalam kesendirian.
Pernahkah
kau merasakan kegelisahan dan keterasingan ketika engkau berada dalam kesulitan
dan kepapaan, contohnya? Dan pada saat itu engkau merasa tak berarti dan
terjebak dalam rasa ketakbermaknaan dalam hidup. Jika kau pernah mengalami hal
itu, maka kau manusia normal. Ketika engkau berharap mendapatkan kebahagiaan
dan kegembiraan dalam hidup ini, pada saat itulah engkau tengah berdoa, seperti
yang kulakukan di saat kesepian, entah kau mempercayai adanya Tuhan atau tidak.
Soal kepada siapa engkau membathinkan harapan di dalam hatimu ketika engkau
tidak mempercayai Tuhan, itu bukan urusanku, karena engkau sendiri yang berhak
menjawabnya.
Aku
hanya ingin berkata ada saat-saat manusia berada dan terjebak dalam situasi
yang tak menyenangkan, mengalami kesepian dan kesendirian ketika berada dalam
kesulitan dan kejatuhan yang tak ia duga sebelumnya yang membuatnya menderita
dan tak nyaman, pada saat itu yang membuat manusia bertahan adalah doa dan
harapan yang ada di lubuk jiwanya. Barangkali, itulah iman. Meskipun begitu,
aku tak sedang berusaha menjadi seorang dai ketika berbicara tentang iman dan
agama. Aku hanya ingin berbicara tentang bagaimana manusia dalam hidupnya
menjadikan apa saja sebagai landasan dan alasan untuk survivalnya. Termasuk
ketika ia menjadikan agamanya sebagai pedoman dan pegangan dalam rangka
mendapatkan kepastian di masa depan. Ia berusaha mendapatkan kesenangan dengan
banyak cara dan jalan dalam rangka survival tersebut karena pada dasarnya ia
hanya ingin bahagia dan tak ingin menderita. Dan karena itulah ia yang percaya
adanya hari kebangkitan berharap dimasukkan ke dalam surga. Cara lain manusia
untuk mendapatkan kebahagiaan itu antara lain dengan mengekspressikan harapan,
refleksi, dan aspirasinya melalui seni dan sastra.
Seni
(dan tentu juga sastra) hanyalah salah-satu diantara sekian ragam cara mengada
manusia untuk meraih kegembiraan atau kebahagiaan, selain bentuk ekspressi dan
manifestasi kediriannya. Begitu pun ketika aku mengintimi karya seni atau
membaca puisi-puisi yang indah dan menggugah, ada rasa nyaman dan kegembiraan
dalam jiwaku. Jika demikian, seni (dan sastra) adalah di antara yang memainkan
peran dalam menciptakan dan melahirkan kesenangan dan kebahagiaan bagi
kehidupan dan hidupnya manusia. Aku tak ingat kapan mulanya aku mulai bisa
mengapresiasi dan menghayati puisi-puisi yang kubaca dan kapan pula aku mulai
belajar untuk menulis puisiku sendiri. Namun berdasarkan jejak-jejak buku
diariku, ada dua moment di mana aku mulai belajar menulis puisi-puisiku
sendiri: momen di saatku bahagia seperti ketika sedang jatuh cinta dan moment
di saat dirundung kesedihan dan derita seperti ketika aku kehilangan seseorang
yang kukasihi.
Ketika
itu aku menangis dan bersembunyi di kebun singkong yang ditanam ibuku.
Sepertinya aku tak ingin ada yang tahu kesedihanku dan mungkin juga aku merasa
malu bila ada yang tahu bahwa aku menangis. Tentu saja hal itu terasa lucu
karena menangis adalah sesuatu yang wajar dan normal bagi lelaki atau pun
perempuan selagi manusia memiliki jiwa dan rasa di dalam tubuhnya. Itulah
kesedihan pertamaku di masa kanak-kanak yang kutanggung sendirian dan tak mau
ada orang lain yang mengetahui. Kesedihan yang menjadi kesepian dan kesunyianku
sendiri.
Kami
sama-sama menyayangi kelinci yang dibeli bapak kami di masa-masa itu. Kelinci
berwarna putih terang itu kami biarkan bebas bermain di kebun dan di antara
tanaman-tanaman yang ditanam ibu kami. Ia akan pulang sendiri jika sudah merasa
puas bermain. Kami sama-sama paham bahwa tak hanya manusia yang butuh bermain,
tetapi juga binatang yang sama-sama menghendaki kebebasan dan bukan
keterkekangan dalam hidup. Tepat di sini, kebebasan manusia untuk menentukan
menjadi apa ia sesuai dengan panggilan jiwanya adalah juga di antara cara
mengadanya untuk meraih kebahagiaan dan kegembiraan ruhaniah. Tetapi meskipun
demikian, dalam kesempitan dan keterdesakan, manusia pun acapkali sanggup menciptakan
celah-celah kebebasan dan kemerdekaan. Seperti tak sedikit para penulis yang
menghasilkan karya-karya besar mereka justru di saat mereka menjalani hidup
sehari-hari mereka di dalam penjara.
Aku
masih ingat saat aku mulai menulis puisi dan sesekali catatan harian ketika
hidup di asrama di sebuah pesantren di mana aku harus belajar ilmu-ilmu agama
(Islam) sembari menempuh pendidikan sekuler sekolah menengah atas (umum). Aku
pun mulai mencuri-curi kesempatan untuk membaca buku-buku filsafat, seperti Berkenalan
dengan Eksistensialisme yang ditulis oleh Fuad Hasan, selain harus mendaras
kitab-kitab kuning sebagai daras wajib. Perkenalanku dengan buku-buku filsafat
itu berlanjut ketika aku kuliah. Di masa-masa kuliah inilah aku jarang masuk
kelas karena lebih asik membaca buku-buku yang kubeli sendiri dari toko-toko
buku bekas di kawasan Blok M Jakarta dan di kawasan Senen Jakarta. Seringkali
di saat aku sedang membaca buku kukunci pintu kamar kos-ku. Ditemani
musik-musik yang kusukai dari sebuah radio tape yang sengaja kubawa ke Jakarta
dari rumah, kegandrunganku membaca kemudian dengan cepat ke buku-buku novel dan
puisi.
Andai
saja aku anak orang kaya, pastilah aku tidak akan mengurung diri dalam kamar
dengan membaca buku-buku sastra dan filsafat, tapi lebih memilih merayakan
hidup seperti beberapa temanku yang melakukannya dengan cukup sering nongkrong
di kafe-kafe atau menonton film-film terbaru di mall-mall dan pusat
perbelanjaan. Aku melakukan hal-hal itu jika kebetulan ditraktir saja,
selebihnya aku harus memperioritaskan untuk kebutuhan makan sehari-hari karena
kondisi keuanganku tak cukup untuk menikmati gaya hidup konsumtif seperti yang
dilakukan sedikit saja dari teman-teman kelasku yang kebetulan orangtua-orang
tua mereka adalah pejabat dan birokrat.
Dalam
keadaan demikian itu, pernah kubandingkan diriku sebagai tokoh Raskolnikov-nya
Dostoyevsky dalam novelnya yang berjudul Crime and Punishment. Bahwa peluang
dan kemungkinan kehidupan manusia akan menjadi buruk atau akan menjadi lebih
baik akan sangat tergantung dalam kondisi lingkungan yang buruk (miskin)
ataukah dalam kondisi lingkungan yang makmur di mana anggota masyarakatnya
sejahtera dan berkecukupan. Bahwa dunia dan takdir Sonia Marmeladov dalam novel
itu adalah dunia dan takdir yang diberikan dan dipaksakan oleh situasi dan
kondisi lingkungan di mana ia harus hidup menjadi seorang pelacur dan jodohnya
pun tak jauh-jauh amat dengan orang yang nasibnya sama dan persis seperti
dirinya: Rodion Raskolnikov.
Karya-karya
sastra yang baik dan berkualitas memang tak ubahnya sebuah perpustakaan dan
khazanah-khazanah hikmah dan kearifan yang membuka kepekaan dan wahana baru
bagi pemahaman dan pengetahuan manusia di saat tak semua karya fiksi dan
imajinasi dapat disebut sastra seperti novel pop dan komik yang hanya
menjalankan fungsi banal industri hiburan dan budaya komodifikasi yang
menjerembabkan manusia pada oralitas baru bukannya mengasah kepekaan ruhaniah
dan kecerdasan aqliyah. Fiksi dan imajinasi sastrawi anehnya telah menjalankan
fungsi saintifik dengan cara lain. Cervantes menertawakan dogmatisme dan
heroisme melaui novel sadurannya dari karya sejarawan Sayid Hamid, Don Quixote,
karena dogma dalam rangka memberikan kesadaran baru bagi humanisme yang dilandasi
kejujuran dan kebenaran yang realistis dan bisa dipertanggungjawabkan, bukan
kebenaran yang membutakan dan malah melahirkan kebodohan. Dostoyevsky
menyadarkan tentang pentingnya kasih-sayang dan solidaritas kepada sesama
manusia ketika menggambarkan kepedihan orang-orang miskin seperti Rodion
Raskolnikov dan Sonia Marmeladov.
Dalam
kadar yang demikian itu pula, pada saat bersamaan, karya-karya sastra yang
berhasil dan berkualitas tinggi menjalankan fungsi yang juga dilakukan oleh
para filsuf ketika pemikiran-pemikiran mereka membuka cakrawala baru bagi
majunya ilmu dan pengetahuan dalam jejak langkah sejarah peradaban manusia.
Karya-karya itu mengajakku berlaku reflektif dalam hidup sembari menarasikan
dirinya dengan kiasan dan keindahan. Meminjam laku kehidupan dan polah serta
watak manusia itu sendiri. Sedangkan puisi mengajakku untuk menyelami aspek
terdalam intelek dengan media bahasa yang dikiaskan dan dipadatkan sedemikian
rupa.
Karena
keasikan berteman dengan buku-buku sastra dan filsafat itu aku terlambat jatuh
cinta dan lupa, tepatnya tak sempat, untuk merayakan hidup dengan jalan
bersenang-senang seperti yang dilakukan sedikit temanku. Dan tentu saja, alasan
yang sesungguhnya adalah karena aku tak punya cukup uang untuk menjalani
kehidupan konsumtif sebagaimana anak para pejabat dan para birokrat. Aku tak
tahu apakah ayah-ayah mereka mendapatkan banyak uangnya dari korupsi atau
bukan.
Meski
aku sudah mulai membaca buku-buku kesukaanku sejak di akhir masa sekolah dasar,
aku (bersama teman-temanku) masih lebih banyak menghabiskan waktu di masa
kanak-kanakku dengan bermain di antara sawah dan pematang ketika libur panjang
sekolah. Contohnya kami akan mengunduh buah ceri dan ceplukan yang tumbuh
secara liar di antara bukit-bukit kecil dan tepian kali kecil irigasi di antara
sawah-sawah. Ukuran buah-buah ceri yang kami unduh itu tak jauh berbeda dengan
buah-buah ceplukan. Sekarang, di saat aku mulai menulis risalah filsafatku ini,
sawah-sawah dan pematang di mana dulu kami mengunduh buah-buah ceri dan ceplukan
itu telah dibeli oleh sebuah perusahaan kertas dan ditanami pohon-pohon jati.
Namun
sesungguhnya bukan hanya kami yang bermain di pematang itu, sebab selain kami
ada capung-capung dan para kupu-kupu serta para belalang. Di kemudian hari
setelah menerima pelajaran biologi tingkat lanjut, kami tahu bahwa keberadaan
mereka adalah juga keberadaan dan kelangsungan makhluk-makhluk lainnya di alam.
Segala yang ada dan hidup di alam pada dasarnya adalah satu ekosistem dan
kesatuan yang tak terpisahkan dan bila di antara mereka ada yang rusak atau
musnah maka akan terjadi kerusakan serta kemusnahan bagi yang lainnya.
Kegembiraan mereka saat menggetarkan dan mengepakkan sayap-sayap mereka
tentulah tamsil kegembiraan hidup itu sendiri. Tamsil kebebasan dan kemerdekaan
untuk bisa bahagia.
Ingatan
di masa kanak-kanak itu kembali muncul saat aku kembali menyusuri dan menapaki
pematang yang sama yang telah berubah di mana dulu aku dan teman-temanku
mengunduh buah-buah ceri dan ceplukan. Di masa kanak-kanak segalanya hadir
tanpa dipertanyakan ketika aku mengakrabinya begitu saja di alam dan suasana
pedesaan. Seperti kunang-kunang yang menghiasi kesunyian malam dengan
cahaya-cahaya mungil mereka. Kunang-kunang yang tak lain pertanda kesunyian
yang bahagia di kala malam. Cahaya-cahaya mungil yang memecah keheningan dan
kegelapan di masa kanak-kanakku itu, meski tak semua Kunang-Kunang memiliki
cahaya di tubuh mereka merupakan hiburan tersendiri di saatku kesepian dalam
sunyi dan hening malam hari.
Mereka
lah para peri dari kesunyian langit malam yang datang dan hadir ke Bumi dengan
membawa cahaya atau foton di tubuh-tubuh mereka. Sahabat-sahabat masa kanak dan
masa remajaku itu kini tak lagi kujumpai ketika aku telah menjadi lelaki
dewasa, sejak deru dan bising mesin pabrik dan transportasi menjadi bagian dari
kehidupan keseharian, dan cerobong-cerobong asap industri telah mengotori
udara. Sejak hasrat mencari untung para korporat dan geliat industri
kapitalisme merambah lahan-lahan subur pedesaan yang semestinya menjadi lahan
pengolahan pangan. Dan mereka pun kini hanya tinggal ingatan dan kenangan saja.
Namun
ada masa-masa ketika aku setia menanti kedatangan dan kehadiran mereka di kala
magrib dan isya menjelma menjadi keheningan yang kental. Sekental kesepian kami
sebagai orang-orang desa. Aku berdiri di depan pintu dan mengarahkan kedua
mataku ke arah jalan yang berdempetan dengan sungai, yang seakan saling
menenggelamkan diri mereka masing-masing dalam kesunyian, dalam senyap kebisuan
yang memanen keakraban yang tak kupahami sebagai seorang bocah yang mulai
merasakan bosan dan jenuh saat kedua mataku belum ingin terlelap tidur. Di
masa-masa ketika belum ada lampu-lampu bohlam dan neon seperti sekarang.
Kadang
aku memandangi mereka dari pintu dapur tanpa sepengetahuan ibuku yang sedang
berdoa atau kadang sedang sembahyang malam, dan atau ketika ia sudah tidur
dengan tikar pandan yang dianyamnya di sela-sela waktu luangnya jika ia tidak
sedang di sawah atau di ladang untuk menyirami atau memanen kerja-kerasnya yang
sabar dan tekun tanpa pernah dikalahkan oleh kemiskinan. Dan Kunang-Kunang itu
kulihat berkerumun di atas pematang-pematang sawah, di antara lalang dan
pohon-pohon yang berselimutkan kegelapan dan lembab cuaca malam.
Tentu
saja aku pun selalu menyukai cara mereka berpindah-pindah tempat di setiap
malam, seakan ingin mempermainkanku yang memang selalu bahagia dengan kehadiran
mereka di saat malam, di saat aku merasa kesepian sebagai bocah dan lelaki
remaja yang tak memiliki penghiburan di pedesaan, di mana untuk menerangi
rumah-rumah kami pun kami masih menggunakan lampu-lampu minyak, bahkan ibu kami
membuat sendiri minyaknya. Seringkali terpikir olehku bahwa barangkali saja
pada saat itu, mereka sedang mengajariku secara langsung untuk bersikap intim
kepada apa yang ada dan hadir di sekitar keberadaanku, di keseharian
kehidupanku yang bersahaja dan acapkali dilanda rasa jenuh.
Di
masa-masa itu, adakalanya mereka hadir selepas hujan senja pergi ke balik
malam, dan seolah-olah mereka ingin menerangi hamparan kegelapan yang dingin
dengan cahaya-cahaya foton di tubuh mereka, yang bagiku tampak berkelap-kelip
seperti tebaran-tebaran bintang di angkasa nun jauh di atas kepalaku yang gaib
bila selepas hujan mengguyur rumah, halaman, dan pematang-pematang sawah serta
ladang sayur-mayur ibuku. Juga pohon-pohon dan lalang-lalang liar yang tertidur
dalam kedamaian dan kedinginan. Haruslah jujur kuakui pula bahwa mereka
memberiku sensasi dan pencerapan keindahan bagi kedua mataku dan bagi sepi,
juga sunyi hatiku yang acapkali dilanda rasa jenuh dan bosan yang hadir dan
datang tanpa kuduga.
Itulah
kejenuhan dan kebosananku sebagai seorang bocah dan remaja yang hidup di
pedesaan yang tak memiliki banyak aktivitas di waktu malam selain mengerjakan
PR yang diberikan oleh guru-guruku di sekolah. Sebagai bocah di sekolah dasar,
aku jenuh dan bosan bila hanya bertemankan selampu minyak di meja belajarku,
dan karena itulah aku akan membuka pintu dan menanti kedatangan mereka,
peri-peri kecil bercahaya yang terbang dan mengambang di waktu malam. Kupikir
di masa-masa itu pulalah ibuku paham, dan karenanya ibuku hanya bisa
membiarkanku berdiri cukup lama di depan pintu untuk memandang dan merenungi
mereka, ketika ibuku tahu apa yang selalu kulakukan bila aku jenuh dan bosan
duduk di kursi menghadap meja belajar bertemankan selampu minyak.
Tentu
masih kuingat juga bahwa kadangkala aku berjalan keluar ke dekat kebun ubi
jalar, singkong, dan cabai hingga cabai rawit yang ditanam ibuku. Di dekat
barisan tanaman Rosella yang juga ditanam dan dirawat ibuku di belakang dan di
samping rumah, atau ke halaman di depan rumah, tergantung di mana ketika itu
mereka berada dengan cahaya-cahaya indah di tubuh-tubuh mereka yang mungil,
lembut dan terang itu. Agar aku dapat melihat mereka dari dekat, yang seperti
telah kukatakan, tak ubahnya tebaran bintang-bintang yang datang dan hadir
begitu intim dan akrab, setidak-tidaknya bagiku.
Pernah
suatu kali seekor kunang-kunang mendekatiku, hinggap di pundakku, yang tak ayal
lagi membuatku menjadi bahagia dan merasa akrab dan intim karenanya.
Kebahagiaan dan kegembiraan yang hanya kumengerti ketika itu. kebahagiaan dan
kegembiraan yang tak lagi kudapatkan saat ini.
Mungkin
ada pertanyaan: Apakah selama masa kanak-kanak aku tidak keluar atau tidak
melakukan perjalanan selain hanya berada di lingkungan sekitar rumahku saja?
Tentu saja tidak. Di saat sebelum masuk sekolah dasar di saat usiaku antara 5-6
tahun, aku ikut dalam mobil truck yang mengangkut bata bapakku untuk dibawa ke
Labuan, Pandeglang. Kami pun bahkan mampir ke Pasar Labuan demi membeli
beberapa komoditas dan panganan untuk dibawa pulang ke rumah. Di sana aku cukup
was-was ketika tiba-tiba di depanku telah berdiri lelaki tinggi berasal dari
Pakistan. Bahkan sebelum aku masuk sekolah dasar, aku pernah tinggal selama
setahun bersama pamanku di Panacaran, Munjul, Pandeglang.
Dan
yang membuatku bisa juga pergi ke Kota Serang (yang ketika itu masih bagian
dari Provinsi Jawa Barat) adalah ketika pihak sekolah dan para guru sepakat
dengan suara bulat memilihku untuk mewakili sekolah dasarku mengikuti
perlombaan bergengsi Tingkat Kabupaten Serang. Aku dibonceng salah-satu ibu
guruku dengan motor Honda model lamanya di masa-masa itu. ibu guruku itu
terbilang cantik, dan bahkan salah-seorang guru sekolah tetangga jatuh cinta
kepadanya, meski ibu guruku tak membalas cinta guru sekolah tetangga itu.
Sebelum aku akhirnya pergi ke Kota Serang, aku terlebih dahulu berhasil menjadi
juara pertama di Tingkat Kecamatan. Ibu guruku sangat bangga dengan prestasiku
itu karena ia merasa tak sia-sia untuk selalu memboncengku dengan motor Honda
model lamanya yang berwarna putih itu. ia mentraktirku makan siang di sebuah
warung makan Gudeg Jogja sebelum akhirnya ia memboncengku untuk pulang ke
rumahku.
Aku
sendiri, tentu saja, merasa bangga dan bahagia dengan prestasiku itu. Terlebih
prestasiku itu pun turut pula membuat pihak sekolah dan para guru merasa bangga
karena merasa telah melahirkan anak didik yang berprestasi. Anda pun mungkin
demikian pula, akan merasa memiliki arti dan merasa bermakna ketika hidup dan
kehadiran anda memberikan arti dan makna bagi orang lain yang terkait dengan
kehidupan keseharian anda. Benar bahwa ada sifat dan watak mementingkan diri
dalam diri manusia dalam rangka survival, namun ada hukum pasti lainnya adalah
bahwa manusia tak bisa hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain. Bahkan manusia
ingin mendapatkan kasih-sayang dan merasa dicintai oleh manusia lainnya.
Sehingga, selain memiliki sisi egoisme dan sifat selfish, manusia juga
sesungguhnya memiliki sifat altruis demi pengakuan akan eksistensi dirinya. Ia
mencintai orang lain tak lain karena ia sendiri ingin dicintai orang lain.
Beberapa
guruku di sekolah dasar adalah orang-orang yang menurutku menyayangiku. Mungkin
karena aku satu-satunya murid yang bisa berprestasi secara akademik. Sebelum
kini aku sadar bahwa prestasi akademik saja tak cukup bagi seseorang untuk
menjadi arif bijaksana jika hanya mengambil pelajaran formal dari sekolah dan
belum banyak mendapatkan pengalaman, semisal kepahitan dan kesulitan dalam
hidup. Bahwa melakukan apa yang kita suka dan mendapatkan hal-hal yang
menyenangkan dalam hidup akan membuat kita bergembira dan bahagia, tapi
kesulitan dan kepahitan dalam hiduplah yang akan membuat kita menjadi orang
yang rendah hati dan kuat. Tapi penting untuk diketahui bahwa menjadi
rendah-hati tidaklah sama dengan menjadi rendah diri (minder). Ketika lulus
sekolah dasar dan di terima di sekolah menengah pertama negeri, selama dua
tahun aku harus berangkat dan pulang ke sekolah yang jaraknya beberapa
kilometer itu dengan cara berjalan kaki dan hanya akan sesekali numpang
kendaraan bila ada kendaraan pengangkut pasir dan bata yang lewat di saat
hendak berangkat ke sekolah atau di saat pulang dari sekolah. Di sekolah
menengah pertama itu pula lah aku menjadi sadar bahwa ada banyak yang ternyata
lebih pintar dan lebih cerdas dariku secara akademik atau yang sama dan setara
denganku. Pada saat itulah aku mulai mengukur diri agar aku tahu diri dan tidak
gegabah dalam memandang orang lain. Terlebih aku sendiri berasal dari keluarga
petani yang sederhana dan bersahaja.
Pernah
suatu hari saat pulang dari sekolah menengah pertamaku itu, hujan turun dengan
derasnya di tengah perjalananku pulang ke rumah. Aku berteduh di serindang
pohon besar dan cuaca membuat keadaan menjadi gelap. Saat menunggu hujan
akhirnya tak terlalu lebat, di saat itulah aku merasa kesepian. Aku putuskan
untuk tak lagi berteduh dan melanjutkan perjalanan pulang di saat hujan tak
lagi deras dengan pakaian dan kondisi badan yang basah kuyup meski buku-bukuku
tidak ikut basah karena kubungkus dengan plastik yang selalu kubawa atas saran
ibuku selama sekolah di saat bulan-bulan musim hujan. Sesampainya di rumah,
ibuku akan menjemur seragam sekolahku yang basah itu di sebilah bambu yang
melintang di atas tungku dapur karena seragam sekolah itu harus kering keesokan
harinya untuk kupakai lagi.
Meski
aku banyak bermain dan bergembira di masa kanak-kanakku bersama teman-teman
sekampungku, bukan berarti aku tak pernah merasakan kesulitan dan kesukaran
hidup sehari-hari di masa kanak-kanak. Hanya saja aku tak ingin keterbatasan
dan kesahajaan keluargaku menjadi penghalang untukku menjadi bebas dan merdeka,
seperti kebebasan dan kemerdekaan yang bisa kurasakan ketika aku bermain dengan
teman-temanku.
Aku
masih ingat ketika aku tinggal bersama keluarga pamanku di Panacaran, Munjul,
Pandeglang. Saat itu aku bermain ke hutan kecil untuk mencari buah luba-lubi.
Tak kusangka ada babi hutan dan sialnya babi hutan itu berjalan cepat ke arahku
dan aku pun segera berlari agar tak terkena seruduknya. Untungnya saat itu ada
sebuah pohon yang cukup besar untuk kupanjat. Aku panjat pohon itu sementara si
babi hutan terus saja berjalan cepat hingga melewati pohon di mana aku berada
di dahannya. Pengalaman tinggal bersama keluarga pamanku itu tentulah tak sama
dengan pengalaman di tanah kelahiranku dengan kondisi alamnya yang berbeda. Di
tanah kelahiranku aku tak pernah berjumpa dengan babi hutan yang mirip
serigala. Namun dari pengalaman itulah sedikit atau banyaknya aku bisa juga
menjadi tak terlampau takut untuk mengenali rimba.
Terkadang
aku bermain-main sendiri di antara barisan pohon-pohon sawit bila tak ada yang
bisa kulakukan untuk membantu bibiku. Makan sehari-hari di masa-masa itu yang
bisa disantap para petani yang bekerja di kebun sawit itu pun terbilang
sederhana: terasi atau sesekali ikan asin sebagai pelengkap nasi yang mereka
tanak di tungku. Betapa akrabnya aku dengan kehidupan para petani sejak masa
kanak-kanak hingga aku merasa jiwaku sendiri adalah jiwa seorang petani dan aku
selalu memiliki rasa simpati yang dalam pada kehidupan para petani yang lugu
dan tulus.