Sabtu, 30 Mei 2020

Agama Orang Biasa

oleh Sulaiman Djaya, esais & penyair

Kemusliman saya mulanya karena saya lahir di keluarga muslim: karena tradisi dan pewarisan, di mana ‘pewarisan’ itu sudah dimulai sejak balita ketika saya mulai diajari membaca Quran dan melafalkan beberapa sholawat oleh ibu saya sendiri. Belakangan baru saya tahu, setelah memasuki pesantren, bahwa Islam yang dipraktikkan oleh ibu saya sendiri dan tradisi yang hidup di kampung saya adalah ‘Tradisi Islam’ yang disebarkan dan dimapankan oleh para ‘ulama, ustad, kyai dari gerakan tarekat Qadiri-Naqshabandi yang mempraktikkan marhabanan, dalailan, maulidan, pembuatan bubur Syuro pada 10 Muharram (bubur merah dan bubur putih) dan yang lainnya.

Orang tua saya juga berpesan di waktu saya masih remaja itu agar tak sampai terbawa pemahaman Muhammadiyah dan PERSIS yang menurut mereka suka ‘usil’ dan acapkali mengkritik tradisi-tradisi seperti ngariung, tahlilan, haulan bahkan peringatan maulid Nabi.

Kemusliman saya yang karena tradisi dan pewarisan itu memang adalah fondasi pertama yang sesungguhnya diletakkan bukan oleh saya sendiri, tapi oleh orang lain, sebelum akhirnya saya mengalami pergulatan dan peziarahan yang sifatnya intelektual secara personal dalam dunia teks dan buku-buku.

Sejalan dengan itulah, saya pun kemudian menjadi paham dengan pesan orang tua saya agar tidak ikut-ikutan PERSIS dan Muhammadiyah, karena setelah berkenalan dengan literature (buku-buku) politik dan sejarah Islam, dua organisasi itu yang paling terpengaruh doktrin, pemikiran dan gerakan Wahabi sejak tahun 80-an hingga 90-an.

Ternyata yang dikhawatirkan orang tua saya adalah Wahabi yang memang di jaman itu menganggap syirik orang yang berziarah ke makam para ulama dan wali, menganggap syirik orang yang mencium pagar makam Kanjeng Nabi, dan bahkan seorang ustadz di kampung saya kemudian memberitahu saya bahwa dalam segi akidah, Wahabi mempercayai Tuhan punya wajah dan tangan serta bertempat, padahal menurutnya Tuhan itu mukhalafatu lil hawaditsi (tak serupa dengan makhluk) dan jika bertempat maka tempat itu lebih besar dibanding Tuhan itu sendiri.

Namun tentu saja saat ini keadaannya tak lagi sama. Sebagai contoh saat Muhammadiyah dipimpin Syafii Ma’arif dan kemudian Din Syamsuddin, banyak anggotanya yang cenderung moderat dan tak memiliki kecendrungan takfiri di mana kecendrungan takfiri ini sempat digantikan posisinya oleh banyak oknum PKS (yang mana partai ini sesungguhnya masih dicurigai berciri dan berideologi keagamaan Wahabi). Begitu pun PERSIS, barangkali sudah tak lagi sama dengan PERSIS yang dulu.

Lalu seterusnya, kemusliman saya (setelah karena pewarisan dan tradisi), membuat saya ingin mengetahui dan membaca lebih banyak, karena berdasarkan pengalaman yang sedikit itu saja sudah memberi tahu saya bahwa Islam sejak kehadirannya di abad ke-7 Masehi sampai ketika saya mengenalnya telah berjalan dan berlangsung belasan abad sehingga mustahil tak terjadi apa-apa selama perjalanannya yang lama dan sangat panjang itu.

Beruntungnya, setelah lulus pesantren, saya diterima di IAIN Banten dan di IAIN Jakarta (yang kini keduanya telah menjadi UIN) ketika mendaftar di dua perguruan tinggi Islam itu, dan entah atas pertimbangan dan motivasi apa, saya memilih IAIN (UIN) Jakarta.

Di Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin itu melalui sejumlah buku yang saya baca di perpustakaan Fakultas dan Perpustakaan Kampus, saya jadi mengetahui aliran-aliran (mazhab-mazhab dalam Islam) seperti Murjiah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, Jabariah, dan Syi’ah. Beberapa buku yang saya baca itu cenderung menilai minus Murjiah, Mu’tazilah, dan Syi’ah yang justru membuat saya bertanya benarkah beberapa buku yang saya baca itu objektif dan justru membuat saya ingin mengetahui lebih jauh.

Adalah sebuah kebetulan, yang barangkali juga takdir, kemudian saya membaca buku-buku yang ditulis Ali Syari’ati dan Murtadha Muthahhari serta buku-buku lain yang ditulis para penulis yang menganut Mazhab Ahlulbait (Syi’ah 12 Imam Itrah Rasul) yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan ada di perpustakaan Kampus dan Perpustakaan Iman Jama’ di kawasan Jakarta Selatan. Saya pun jadi tahu Syi’ah yang dianggap buruk dan sesat oleh banyak orang di Indonesia itu dari para penulis Syi’ah sendiri yang justru sangat cemerlang dan sangat rasional dan meyakinkan. Sejak itulah saya percaya kebenaran tetap kebenaran meski pengikutnya minoritas.

Kebetulan lainnya ketika itu pamor dan aura Revolusi Islam Iran masih sangat kuat di kalangan akademisi dan politisi. Sebenarnya, ketika saya membaca buku-buku Mazhab Ahlulbait itu kemudian saya pun jadi tahu bahwa ada penganut Mazhab Ahlulbait di Indonesia yang sebelumnya tidak saya ketahui.

Berkat perjumpaan-perjumpaan dan peziarahan-peziarahan dengan dunia teks dan dunia buku itu, saya pun kemudian memandang positif Mu’tazilah yang dipandang negatif Asy’ariyah (teologinya kaum Sunni) sebagai kaum rasionalis Islam yang berusaha memberikan pencerahan kaum beragama dalam domain intelektual dan pemikiran yang menjadi konsen mereka dan saya pun dengan mantap 100 % menolak Jabariah yang berpandangan bahwa segala perbuatan dan tindakan manusia ditentukan Tuhan. Sebab jika segala perbuatan dan tindakan manusia telah ditentukan Tuhan, berarti manusia tak berhak masuk surga atau neraka, tetapi mestinya Tuhan itu sendiri.

Kaum Jabariah dengan kedunguan mereka yang luar biasa mengingkari bahwa setelah Tuhan memberikan petunjuk dan penerangan yang diantaranya lewat pengutusan para Nabi dan para Rasul, di saat itulah manusia bebas untuk menentukan sendiri apakah ia akan melakukan kebajikan atau keburukan, yang bahkan bagi segelintir orang Mu’tazilah bahwa ketika manusia dianugerahi akal pada saat itu manusia mestinya sanggup membedakan mana yang bajik dan mana yang buruk.

Sebenarnya sebelum berjumpa dengan tulisan-tulisan dan buku-buku yang ditulis para filsuf Syi’ah, saya telah menjadi ateis untuk hampir dua tahun sejalan dengan keakraban saya pada buku-buku kaum liberal yang membuat saya ragu dengan otentisitas Islam dan kema’shuman Kanjeng Nabi karena menurut kaum liberal dan sejumlah kaum Sunni Kkanjeng Nabi tak luput dari salah. 

Hal itu berlanjut dengan meragukan agama dan Tuhan sejalan dengan keintiman saya dengan tulisan-tulisan dan buku-buku kaum atheis dan kaum materialis-positivis dari Eropa dan Amerika.

Beruntunglah saya berjumpa dengan akidah Syi’ah yang memberi saya kepuasan batin sekaligus kepuasan intelektual karena kekuatan padunya yang menyeimbangkan dan memadukan rasionalitas dan spiritualitas.

Dalam narasi kaum Liberal, Sunni dan Wahabi misalnya ada kisah dan dongeng bahwa wahyu membenarkan Umar dan menyalahkan Kanjeng Nabi. Saat membaca narasi yang demikian, saya berkesimpulan jika seorang rasul tidak terjaga dari kesalahan, betapa rentan ia dari subjektivitas dan kontaminasi sebagai pengemban risalah suci, sebagaimana air yang suci bersih akan menjadi kotor jika ditempatkan di wadah yang kotor.

Padahal di saat kemudian saya tahu, kenyataan sejarah Islam menunjukkan Umar tak pernah sanggup menjawab polemik dan pertanyaan-pertanyaan sangat sulit yang diajukan Kaum Yahudi dan Kaisar Bizantium yang menunjukkan bahwa Umar bukan orang cerdas seperti yang didongengkan itu, sehingga dalam keadaan demikian, beberapa sahabat semisal Salman, Ibn Abbas, Abu Dzar, dan lainnya acapkali harus menghadapkan Kaum Yahudi itu ke Sayidina Ali atau memanggil Sayyidina Ali yang memang sanggup menjawab dan membuat heran Kaum Yahudi yang dengan demikian Sayydina Ali telah menyelamatkan wibawa Islam.

Umar juga dianggap oleh kaum Sunni dan Wahabi sebagai jawara hebat. Hal lucu lainnya. Karena kenyataan sejarah menunjukkan Umar kabur dalam beberapa perang seperti dalam Perang Hunain dan Perang Uhud dan hanya Sayyidina Ali yang tak pernah kabur dalam perang, bahkan Sayyidina Ali selalu menang ketika menjadi komandan seperti saat menjadi komandan di Badar. Jawara-jawara Arab yang tak terkalahkan juga bukan dikalahkan oleh Umar, tapi oleh Sayyidina Ali seperti Amr bin Abdul Wudd dari kalangan oligarkhi Qurays dan Harits sang jawara Yahudi di Khaibar.

Barangkali Umar, ini hanya barangkali saja dan boleh ditolak secara gamblang jika Anda tidak setuju, memang prototipe atau ‘percontohan’ watak dan karakter kaum Liberal dan Wahabi yang pengetahuan Islamnya tidak mendalam tapi sering protes dan gandrung menafsirkan sendiri agama. Catatan sejarah Islam menunjukkan Umar pernah meragukan kerasulan Kanjeng Nabi kepada Abu Bakar dan segera saja Abu Bakar menepisnya. Hal itu berbeda dengan Sayyidina Ali sebagai pewaris Islam otentik Kanjeng Nabi karena Sayyidina Ali adalah anggota rumah-tangga Kanjeng Nabi (Ahlulbait) yang Kanjeng Nabi selalu meminta Sayyidina Ali untuk menuliskan wahyu saat turun dan disampaikan kepada Kanjeng Nabi dan mengajarkan makna lahir-bathinnya.

Yang lainnya lagi, sebagai contoh kelucuan pula, dalam narasi Islam-nya Fazlur Rahman dan Karen Armstrong Kanjeng Nabi digambarkan dan dikutipkan sebagai ‘ayan dan ketakutan saat menerima wahyu. Jika Kanjeng Nabi ‘ayan sungguh berbahaya sekali bagi kesehatan ruhaniahnya sebagai seorang utusan, dan jika Kanjeng Nabi ketakutan, berarti saat beliau menerima wahyu bukan atas dasar kesadaran.

Kang Jalal (Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat) yang tulisan dan orasinya selalu enak disimak itu, mengkritisi hal-hal di atas. Dan secara umum, akidah Syi’ah meyakini Kanjeng Nabi itu ma’shum, terjaga dari salah dan dosa. Jangankan berbuat ma’shiyat, niat berbuat ma’shiyat saja tidak. Dan tentu saja, Kanjeng Nabi itu bukan orang bodoh, melainkan sangat jenius. Syi’ah menggambarkan Kanjeng Nabi sebagai Insan Kamil (manusia paripurna). Di saat non-Syi’ah menganggap Kanjeng Nabi bisa salah dan lupa. Sungguh aneh tapi nyata adanya di kalangan sebagian muslim.

Lalu kemudian ada pula dongeng di kalangan masyarakat yang fanatik kepada Syekh Abdul Qadir Jilani bahwa Kanjeng Nabi bisa sampai di puncak mi’raj berkat bantuan (ruh) Syekh Abdul Qadir Jilani (sebelum dilahirkan ke dunia). Sebuah dongeng yang mencerminkan kedunguan yang luar biasa karena dengan dongeng dan takhayul-khurafat itu seakan-akan Syekh Abdul Qadir Jilani lebih hebat dibanding Kanjeng Nabi. Sebuah dongeng yang mencerminkan Islam sebagai agama takhayul dan khurafat bukannya agama yang mencerahkan dan mencerdaskan.

Pemitosan dan takhayul yang berlebihan kepada figur-figur selain Kanjeng Nabi yang tak sesuai kenyataan itu karena memang ada sejumlah narasi yang merendahkan Kanjeng Nabi. Wajar jika kaum orientalis kemudian mengutipnya karena tradisi Islam menyediakannya. Misalnya ada hadits (riwayat) palsu yang menarasikan Kanjeng Nabi bermimpi tidur di pangkuan istri sahabat dan menggendong Aisyah untuk menonton Sirkus Sudan. Sungguh terlalu!

Masih banyak narasi lainnya yang bertendensi merendahkan Kanjeng Nabi dalam tradisi Sunni. Semisal narasi yang ditulis sejarahwan Sunni yang kemudian dikutip Martin Lings (muallaf Sunni) dalam buku Muhammad-nya bahwa Kanjeng Nabi dibelah dadanya oleh Jibril untuk disucikan karena hatinya pernah disentuh Setan dan hanya Nabi Isa, demikian dinarasikan buku Muhammad-nya Martin Lings itu yang hatinya tidak disentuh Setan. Narasi yang demikian tentu saja secara jelas menyatakan bahwa Nabi Isa lebih mulia ketimbang penghulu para Rasul, yaitu Kanjeng Nabi.

Narasi lucu lainnya dalam tradisi dan narasi Sunni misalnya dikisahkan bahwa saat Kanjeng Nabi mi’raj, ia diminta Nabi Musa untuk bernegosiasi dengan Tuhan untuk mengurangi jumlah rakaat sholat. Dan Kanjeng Nabi pun harus bolak-balik beberapa kali. Padahal, saat mi’raj Kanjeng Nabi langsung mendapatkan perintah sesuai dengan jumlah waktu dan rakaatnya dan tak ada negosiasi bolak-balik seperti yang sering disampaikan para penceramah Sunni saat peringatan Isra Mi’raj.

Kedunguan lainnya adalah diterimanya narasi Jabariah ciptaan tiran Ummawi di kalangan muslim non-Syi’ah, semisal bahwa Zulkarnain atas Kehendak Tuhan sanggup mengikatkan tunggangannya ke langit. Sebuah kedunguan lain yang luar biasa!

Hal-hal yang demikian bila kita teliti dan telaah literatur, sejarah dan tradisi Islam, akan memberikan kedewasaan ilmiah bagi ummat Islam. Sehingga hal memperihatinkan semisal banyak orang-orang awam berani menuduh sesat sesama muslim karena terhasut ceramah-ceramah ustadz-ustadz takfiri dan propaganda politis atas dasar kepentingan politik global Barat (Amerika dkk) yang belakangan ini merasa memiliki kepentingan untuk menyerang Islam Syi’ah, dapat dikurangi. Sebab pengaruh Islam Syi’ah dari Negara tertentu bisa menghidupkan kesadaran perlawanan terhadap hegemoni global Barat (Amerika dkk).

Bisa dikatakan, mayoritas muslim di Indonesia adalah mereka yang buta pada konstelasi dan kompetisi politik global. Sehingga mereka rentan dan mudah sekali terhasut propaganda yang disebarkan melalui ustad-ustadz dan media-media yang bekerja sesuai dengan selera dan kepentingan Barat.  

Tapi sesungguhnya saya memiliki spekulasi lain: kenapa mayoritas muslim di Indonesia lebih cenderung menyukai ustadz-ustadz yang mirip pelawak dan abal-abal seperti Abdul Somad yang menyatakan bahwa virus Corona adalah tentara Allah, Adi Hidayat yang menyatakan diri bisa memasukan Prabowo ke Surga, Bachtiar Nasir yang promosi dan meminun air kencing unta, Felix Siauw sang promotor khilafah, Irene Handono yang jualan dengan cara menjelek-jelekkan agama yang dulu dianutnya dan yang sejenis mereka itu seperti Teungku Zulkarnain, AA Gym, dan Haikal Hassan, mungkin karena mayoritas muslim Indonesia yang banyak kurang sejahtera lebih membutuhkan hiburan ketimbang agama dan kurang bisa memaksimalkan nalar mereka karena mereka masih terlalu bermasalah dengan perut mereka. Dan spekulasi ini tentu saja bisa salah.

Perebutan Kekuasaan Paska Wafatnya Kanjeng Nabi

Di perpustakaan Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI), sewaktu saya masih aktif mengikuti darsah dan kajiannya bersama teman-teman mahasiswa yang lain, saya menemukan buku Saqifah yang ditulis oleh O. Hashem. Buku itu mencuri minat dan perhatian saya karena sub-judulnya: Awal Perselisihan Umat. Segera saja buku yang mulai kusam itu saya baca, dan segera saya pun jadi tahu kemelut perebutan kekuasaan di saat Kanjeng Nabi Wafat, meski Kanjeng Nabi telah menetapkan Sayidina Ali sebagai pemimpin penggantinya berdasarkan perintah wahyu ayat 67 Surah Al-Maidah yang turun di Ghadir Khum saat Haji Wada’ yang beliau umumkan di hadapan jamaah haji saat itu.

Peristiwa Saqifah adalah kudeta pertama dalam sejarah Islam, ketika Umar dkk mengkudeta Sayidina Ali di saat Sayidina Ali, Sayidah Fatimah, Imam Hasan, Imam Husain dan lainnya sedang sibuk mengurus jenazah Kanjeng Nabi. Sungguh luar biasa! Di saat Kanjeng Nabi wafat, mereka malah mengadakan konferensi Saqifah untuk mendirikan kekhilafahan bukannya mengurus jenazah Kanjeng Nabi.

Sayidah Fatimah dan sejumlah sahabat yang pro Sayidina Ali tentu saja menolak khalifah hasil Konferensi Saqifah, semisal Salman, Abu Dzar, Malik Asytar, Bilal dan yang lainnya dan mereka mengusulkan untuk memerangi kelompok Saqifah namun dicegah dan dilarang oleh Sayidina Ali karena hanya akan menciptakan perang saudara. Tapi apa lacur. Umar, Khalid bin Walid dkk memaksa ba’iat Sayidah Fatimah sampai-sampai mereka membakar dan mendobrak pintu rumah Sayidah Fatimah hingga menyebabkan luka, yaitu patahnya tulang rusuk Sayidah Fatimah, yang harus ditanggung oleh Sayidah Fatimah dengan rasa sakit selama 75 hari sisa hidupnya sebelum wafat paska wafatnya Kanjeng Nabi.

Buku yang ditulis oleh O. Hashem itu membuat saya ingin melakukan kajian pustaka yang lainnya: apakah peristiwa Saqifah dicatat oleh buku-buku lain. Dan ternyata sejumlah buku Sejarah Islam membenarkan peristiwa Saqifah tersebut. Tradisi Sunni atau Kaum Asy’ariyah-Maturidiyah menutupi sejarah Islam ini. Saya tidak tahu alasannya. Tapi yang pasti, setelah saya tahu dan kemudian melakukan kajian pustaka lanjutan, banyak penulis, perawi dan sejarahwan Sunni sendiri sebenarnya mencatat peristiwa tersebut dalam kitab-kitab mereka, tapi secara tradisi sejarah tersebut tidak diinformasikan di kalangan umat.

Peristiwa tersebut membuat saya kemudian meragukan klaim kaum Asy’ariyah-Maturidiyah (Sunni) bahwa semua sahabat itu ‘adil. Klaim yang tidak logis dan menentang fitrah memang. Karena manusia dari dulu sampai sekarang tak pernah sama maqom dan derajatnya karena ikhtiar dan kapasitasnya pun tidak-lah sama.

Kaum Sunni memiliki suatu pandangan bahwa seluruh sahabat Kanjeng Nabi Muhammad Al-Mustafa (tanpa kecuali) adalah contoh-contoh dan suri teladan yang patut kita teladani dan mereka itu pada masa hidupnya tak tersentuh oleh nafsu duniawi, mereka bersih dari dosa, mereka tidak serakah dan senantiasa berbuat baik. Mereka juga memiliki pandangan bahwa semua sahabat itu saling mencintai satu sama lainnya, mereka bekerja sama untuk menuju cita-cita Islam, mereka jauh dari saling membenci dan saling iri hati satu sama lainnya. Akan tetapi pandangan itu ternyata jauh panggang dari api. Sebuah klaim ahistoris yang tak mendidik.

Pandangan itu tidak sesuai dengan kenyataan sejarah. Memang, kita sebenarnya berharap bahwa hal itu benar, akan tetapi fakta-fakta dan bukti-bukti sejarah malah tidak mendukung sama sekali apa yang sudah diyakini sebagai kebenaran –yang ternyata politis ini. Fakta-fakta sejarah yang kejam merobek-robek pandangan-pandangan itu, sehingga orang-orang yang mengagumi para sahabat akan terhenyak di kursinya apabila kenyataan sejarah yang sebenarnya sampai pada mereka semua.

Mereka hampir-hampir semuanya tidak sanggup menerima kenyataan bahwa keutamaan-keutamaan para sahabat yang mereka kagumi hanyalah mitos belaka. Seorang pengagum yang paling fanatik pun tidak bisa menyangkal bahwa ada pergulatan kekuasaan diantara para sahabat yang memuncak bahkan sebelum Rasulullah dikebumikan sekalipun. Mereka tidak bisa menyangkal sedikitpun bahwa pergulatan politik seperti itu memang ada dan pernah terjadi.

Oleh karena itu, bukti-bukti sejarah yang melimpah yang tertulis dalam berbagai buku sejarah Islam yang standar itu bisa kita pakai untuk merekonstruksi sejarah, merekonstruksi pandangan kita terhadap para sahabat, merekonstruksi keyakinan kita akan Islam karena dari para sahabatlah kita mendapatkan Islam. Sedangkan para sahabat itu tidak semua bisa kita percayai sesuai dengan apa yang kita lihat dalam sejarah. 

Tidak masuk akal sehat kita apabila para sahabat itu sama semua dari segala aspeknya termasuk aspek keimanan dan ketakwaan. Bahkan para Nabi pun memiliki berbagai tingkatan ruhaniah, apalagi para sahabat yang hanya manusia biasa. Tidak ada dua orang yang memiliki semua tingkat keimanan dan ketakwaan yang serupa.

Ketika mereka menerima Islam sebagai agama mereka, para sahabat Nabi itu adalah manusia biasa dan mereka memiliki preferensi yang berbeda-beda terhadap Islam. Masyarakat Islam yang ada pada waktu itu sama saja dengan yang ada pada hari ini. Masyarakat Islam pada waktu itu terdiri dari berbagai umat manusia dengan setiap karakter yang berbeda-beda.

Setelah memeluk Islam, beberapa dari mereka sanggup mencapai derajat keIslaman yang tinggi bahkan mencapai ke-ma’shuman seperti contohnya Sayidina Ali, sedangkan yang lainnya tetap sama—keadaan sebelum dan sesudah masuk Islam sama saja. Adapun penolakan Kaum Sunni terhadap Ghadir Khum dan pengangkatan Sayidina Ali sebagai pemimpin pengganti Kanjeng Nabi, contohnya disindir oleh Ayatullah Montazeri:

Ada seorang alim Syiah melewati kelompok Sunni. Mereka meminta agar alim Syiah itu bermalam di rumah mereka. Ia menyatakan kesediaannya dengan syarat tidak terjadi diskusi mazhab. Usai makan malam, berkatalah salah seorang ulama Sunni, “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?” Ia menjawab, “Abu Bakar adalah muslim yang utama, salat, saum, haji, bersedekah, dan menyertai Nabi saw.” Kata alim Sunni, “Bagus, teruskan.” Alim Syiah itu berkata, “Secara singkat, Abu Bakar itu lebih utama dan lebih cerdas dari Rasulullah saw.” Orang yang hadir takjub mendengar itu dan berkata, “Mengapa engkau berkata seperti ini?” Orang Syiah itu berkata, “Rasulullah saw memerintah kaum muslimin selama 23 tahun tetapi ia tidak pernah memikirkan wajibnya dan pentingnya mengangkat khalifah. Abu Bakar hanya memerintah kurang dari tiga tahun tetapi ia mengerti dan memahami pentingnya seorang khalifah. Dengan begitu, niscaya Abu Bakar lebih cerdas dari Nabi saw.”

Sindiran itu hanya ingin mengatakan betapa mustahil dan tidak mungkinnya bila Kanjeng Nabi tak memikirkan masa depan ummatnya sehingga ia tidak menyiapkan pemimpin penggantinya yang sangat layak dan utama. Orang yang memang dalam kenyataan sejarah lebih utama daripada para sahabat lainnya.

Sementara itu, dalam sejarah Islam awal, Umar bin Khattab dkk dikenal sebagai kaum dan kelompok yang menciptakan permusuhan dan perpecahan di kalangan ummat Islam. Ada bahkan yang menyebut mereka sebagai kaum penyerobot. Sebenarnya pembangkangan Umar bin Khattab, sebagaimana dicatat Ibn Abbas dan para sahabat lainnya, sudah ia demonstrasikan saat menentang permintaan Kanjeng Nabi kala sakitnya di pembaringan untuk didatangkan kertas dan pena di mana Kanjeng Nabi akan menulis wasiat dengan kertas dan pena itu. Saat itu Umar bin Khattab berkata, “Orang ini meracau….Kitab Allah adalah cukup bagi kita…” Perkataan Umar bin Khattab itu pun menimbulkan kegaduhan dan perpecahan di kalangan para sahabat yang ada kala itu dan contoh sikap kurang ajar sehingga Kanjeng Nabi mengusir Umar dan kelompoknya dari rumah Kanjeng Nabi.

Selain itu, perkataan Umar bin Khattab itu dengan jelas telah memisahkan Kitab Allah dengan Nabi SAW ketika dia berkata di hadapan Kanjeng Nabi Saw:  “Kitab Allah adalah cukup bagi kita”. Kata-kata Umar itu secara langsung merendahkan martabat Kanjeng Nabi Saw. 


Rabu, 29 April 2020

Mafia Berkeley Sebagai Kuda Troya Amerika untuk Indonesia



oleh David Ransom

“Kejadian di Indonesia tahun 1965 merupakan kejadian terbaik bagi kepentingan Amerika sejak perang dunia kedua”, demikian kata seorang pejabat Bank Dunia. Sebagaimana dapat diikuti dalam cerita-cerita tentang Indonesia di masa lalu, Indonesia adalah kawasan yang paling menggoda bagi para petualang dan pencari kekayaan. Mereka menganggap Indonesia sebagai “hadiah terbesar” bagi penjajah di dunia. Presiden Amerika Richard Nixon pada tahun 1967 mengatakan bahwa Indonesia adalah “hadiah terbesar” di wilayah Asia Tenggara.

Pada awal tahun 1960-an, Amerika merasa kehilangan kekayaan yang tak ternilai karena pada waktu itu Indonesia berada di bawah kekuasaan seorang nasionalis progressif, yaitu Soekarno, yang dicap Amerika sebagai berorientasi Peking dan didukung oleh Partai Komunis Indonesia dengan 3.000.000 lebih massa anggotanya yang siap-siap menunggu kesempatan berkuasa.

Pada bulan Oktober 1965 terjadilah kudeta yang dilakukan seorang kolonel. Pada saat itu beberapa jenderal Indonesia segera bertindak menggagalkan kudeta tersebut, dan secara bersamaan membuka pintu bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia yang luar biasa besarnya dengan melumpuhkan kekuasaan kepala negara pada saat itu, yaitu Presiden Soekarno.

Para penguasa militer pada saat itu juga membiarkan terjadinya pembunuhan massal yang terbesar dalam sejarah modern negeri ini, di mana kurang lebih antara 500.000 hingga 1.000.000 orang yang dianggap komunis atau anggota Partai Komunis Indonesia yang tidak bersenjata, juga petani-petani yang dianggap simpatisan PKI, dibunuh secara keji oleh militer Indonesia. Setelah pembantaian tersebut, lenyaplah semangat nasionalisme yang berkobar-kobar sebelumnya, yang telah dikobarkan selama sepuluh tahun sebelumnya.

Dengan jatuhnya Soekarno yang memiliki nasionalisme tinggi itu, pemerintah baru (Orde Baru Soeharto) berkesempatan membuka lebar-lebar kekayaan alam Indonesia yang luas dan besar itu bagi perusahaan-perusahaan Amerika. Untuk memuluskan masuknya perusahaan-perusahaan Amerika tersebut, dibentuk “tim istimewa” dalam pemerintahan Indonesia yang terdiri dari menteri-menteri yang menguasai bidang perekonomian, yang oleh orang-orang Indonesia sendiri dikenal sebagai para “Mafia Berkeley”.

Para ahli dan sarjana lulusan Universitas California, yang kelak dikenal sebagai Mafia Berkeley itu, berfungsi sebagai kelompok yang duduk di dewan penguasa (Orde Baru Soeharto). Orang-orang inilah (yang sadar atau tanpa sadar menjadi Kuda Troya bagi kepentingan ekonomi dan politik Amerika) yang kemudian membentuk politik nasional baru Indonesia di masa rezim Orde Baru Soeharto.

Pertanyaannya adalah: mengapa hal yang demikian bisa terjadi? Untuk memahami masalah ini secara baik, kita harus menoleh ke jaman kekuasaan Soekarno kala itu dan apa yang berlangsung di dalamnya –tetapi tidak tampak dari luar. Di balik kekuasaan Soekarno yang menonjol kala itu, di dalamnya sesungguhnya berlangsung suatu perang intrik intelektual internasional, suatu rencana perebutan kekuasaan terselubung, yang bahkan barangkali melampaui khayalan Cecil Rhodes, bersembunyi di balik proyek kemanusiaan dan universitas. Mereka ini terdiri dari para jenderal, mahasiswa, dosen, dekan, dan tentu saja, politisi.

Begitu Jepang keok dalam perang dunia kedua, terjadilah gerakan-gerakan revolusioner di Asia, dari India di Barat hingga Korea di Timur, serta dari Cina di Utara sampai Filipina di Selatan. Gerakan-gerakan tersebut merupakan ancaman bagi rencana Amerika untuk membentuk Pan-Pasifik. Indonesia, meskipun sebelumnya dengan gigih berperang melawan Belanda, tetapi kemerdekaannya tidak diperoleh melalui perjuangan besar seluruh rakyat, melainkan melalui kesepakatan para pemimpinnya.

Saat itu, para pemimpin yang dekat dengan Barat “mengatur” kemerdekaan Indonesia di gedung-gedung mewah di Washington dan New York. Di antara orang-orang Indonesia yang menjalankan manuver-manuver diplomatik pada saat itu adalah: [1] Soedjatmoko yang akrab dipanggil Koko, dan [2] Soemitro Djojohadikusumo, seorang doktor ekonomi dan diplomat (kesayangan Amerika).

Dua orang tersebut adalah anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI), sebuah partai kecil yang berorientasi ke Barat (Amerika), di antara sekian banyak partai di Indonesia. Di New York, dua orang ini namanya dibesarkan oleh suatu elit yang berhubungan erat dengan yang biasa dikenal sebagai “Vietnam Lobby”, yang tidak lama kemudian menempatkan Ngo Dinh Diem sebagai kepala negara Vietnam yang sesuai dengan selera politik Amerika. Golongan elit itu, yang di dalamnya juga termasuk Norman Thomas, terdiri dari anggota-anggota komite kemerdekaan untuk Vietnam dan Liga India. Mereka adalah pelopor kaum SOSKA (Sosialis Kanan).

“Kita harus berusaha, agar usaha-usaha dan kegiatan Amerika untuk membentuk pemerintahan non-komunis di Asia setelah perang dunia kedua jangan sampai ketahuan”, demikian ditegaskan Robert Delson, salah-seorang anggota Liga yang menjadi pengacara di Park Avenue, dan menjadi penasehat hukum bagi Indonesia di Amerika.

Robert Delson selalu menemani dan membawa Soemitro Djojohadikusumo dan Soedjatmoko dari kota yang satu ke kota yang lainnya, dan memperkenalkannya kepada kolega-koleganya di American for Democratic Action (ADA) –sebuah institusi kumpulan orang-orang Amerika untuk Aksi-aksi Demokratis, dan pemimpin-pemimpin tinggi buruh yang anti-komunis.

Mereka juga bergerak di kalangan anggota-anggota dari Lembaga Urusan Luar Negeri, Council of Foreign Relations atau CFR (suatu badan yang dibiayai yayasan), yaitu suatu badan yang sangat berpengaruh dalam merumuskan politik Amerika

Karena tidak suka kepada Soekarno (yang visi nasionalisnya merugikan Amerika) dan kuatnya golongan kiri dari para pejuang kemerdekaan Indonesia, para elit Amerika melihat “nasionalisme” ala Soedjatmoko dan Soemitro Djojohadikusumo merupakan alternatif yang paling cocok bagi (kepentingan) Amerika. Kala itu, menurut Soedjatmoko yang bicara di hadapan para elit Amerika di New York, strategi Marshall Plan di Eropa sangat bergantung pada ketersediaan “sumber-sumber daya di Asia”, dan ia (Soedjatmoko) menawarkan kerjasama yang menguntungkan dengan Amerika.

Sementara itu, di awal tahun 1949 yang bertempat di sekolah untuk kajian internasional terkini (School of Advanced International Studies) yang dibiayai oleh Ford Foundation, Soemitro Djojohadikusumo menyatakan bahwa sosialisme yang diyakininya termasuk “akses seluas-luasnya” bagi Amerika ke berbagai sumber daya alam Indonesia dan insentif yang cukup bagi perusahaan-perusahaan asing (utamanya perusahaan-perusahaan Amerika).

Sedangkan dalam pembicaraan-pembicaraan di dewan urusan hubungan luar negeri, kedua orang Indonesia (yang menjual bangsanya) itu menunjukkan minatnya yang sungguh-sungguh untuk memodernisasi Indonesia (sesuai kehendak Amerika), dan bukan untuk merevolusionerkannya (sebagaimana yang diperjuangan Soekarno).

Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1949, Soemitro Djojohadikusumo kembali ke Jakarta dan diangkat menjadi Menteri Perdagangan dan Industri dalam suatu pemerintahan koalisi (dan Menteri Keuangan dalam beberapa kabinet berikutnya serta Dekan Fakultas Ekonomi). Sebagai menteri, Soemitro Djojohadikusumo kala itu berenang melawan arus. Sebab saat itu, PNI-nya Soekarno, NU, PKI, kecuali PSI dan Masyumi, sedang bergelora semangat nasionalismenya setelah perang.

Hasilnya, pada Pemilihan Umum 1955 –pemilihan umum yang pertama dan terakhir di Indonesia di era Orde Lama itu, PSI hanya meraup suara yang sangat sedikit dan hanya menduduki tempat kelima. Bahkan lebih tragis lagi, PSI kalah telak dalam pemilihan lokal untuk melilih anggota-anggota DPRD, di mana yang meraih suara tertinggi dan terkuat adalah PKI.

Soemitro Djojohadikusumo pun menentang upaya nasionalisasi perusahaan-perusahaan dan aset-aset milik Belanda yang dilakukan Soekarno pada tahun 1957, di mana ia bersama para pemimpin Partai Masyumi serta sejumlah komandan tentara melakukan pemberontakan di luar Jawa. Pemberontakan ini didukung oleh CIA, namun tak sanggup bertahan lama dan gagal total. Karena kegagalan pemberontakan di Sumatra dan Sulawesi (PRRI/PERMESTA) ini, Soemitro Djojohadikusumo mengasingkan diri ke luar negeri dan menjadi konsultan usaha dan pemerintah di Singapura. Sementara itu, oleh Bung Karno, setelah tahu bahwa pemberontakan itu ditukangi PSI dan Masyumi bersama CIA, Masyumi dan PSI dinyatakan sebagai partai terlarang (pengkhianat).

Kelompok-kelompok di Indonesia yang menjadi sekutu (jongos) Amerika ini telah mengadakan persekongkolan dengan kekuatan imperialis (Amerika) untuk menggulingkan pemerintahan nasionalis populer hasil pemilihan rakyat, yang dipimpin oleh seorang yang dianggap sebagai George Washington-nya Indonesia, yaitu Soekarno, dan mereka kalah. Reputasi mereka hancur, sehingga hanya keajaiban saja yang bisa membawa mereka kembali.

Dan memang, keajaiban itu terjadi 10 tahun kemudian, bukan dengan manuver diplomatik, peran partai politik atau invasi militer Amerika. Sebab cara-cara itu sudah terbukti gagal di Indonesia (ketika menghadapi kelihaian Soekarno kala itu). Keajaiban itu datang melalui dunia pendidikan, dengan bantuan kebaikan para filantropis (untuk mengkader mereka yang kelak akan menjadi kaki tangan kepentingan Amerika) melalui pendidikan dan indoktrinasi ideologi ekonomi-politik. Di situlah Ford Foundation bersama dengan Soemitro Djojohadikusumo bekerja-keras menjalankan misinya.