Dalam operasi mendukung PRRI/PERMESTA, AS menurunkan kekuatan yang
tidak main-main. CIA menjadikan Singapura, Filipina (Pangkalan AS Subic &
Clark), Taiwan, dan Korea Selatan sebagai pos suplai dan pelatihan bagi
pemberontak. Dari Singapura, pejabat Konsulat AS yang berkedudukan di Medan,
dengan intensif berkoordinasi dengan Kol. Simbolon, Sumitro, dan Letkol Ventje
Soemoeal. Dalam artikel berjudul “PRRI-PERMESTA, Pemberontakan Para Kolonel”
yang ditulis Santoso Purwoadi (Angkasa: Dirty War), contohnya, dipaparkan jika
pada malam hari, 7 Desember 1957, Panglima Operasi AL-AS Laksamana Arleigh
Burke memerintahkan Panglima Armada ke-7 (Pacific) Laksamana Felix Stump
menggerakkan kekuatan AL-AS yang berbasis di Teluk Subic untuk merapat ke
Indonesia dengan kecepatan penuh tanpa boleh berhenti di mana pun. Satu divisi
pasukan elit AS, US-Marine, di bawah pengawalan sejumlah kapal penjelajah dan
kapal perusak disertakan dalam misi tersebut. Dalih AS, pasukan itu untuk
mengamankan instalasi perusahaan minyak AS, Caltex, di Pekanbaru, Riau.
Kepada para pemberontak, selain memberikan ribuan pucuk senjata api dan mesin,
lengkap dengan amunisi dan aneka granat, CIA juga mendrop sejumlah alat perang
berat seperti meriam artileri, truk-truk pengangkut pasukan, aneka jeep,
pesawat tempur dan pembom, dan peralatan-peralatan sejenisnya. Bahkan sejumlah
pesawat tempur AU-Filipina dan AU-Taiwan seperti pesawat F-51D Mustang,
pengebom B-26 Invader, AT-11 Kansan, pesawat transport Beechcraft, pesawat
amfibi PBY 5 Catalina dipinjamkan CIA kepada pemberontak. Sebab itulah,
pemberontak bisa memiliki angkatan udaranya sendiri yang dinamakan AUREV (AU
Revolusioner). Beberapa pilot pesawat tempur tersebut bahkan dikendalikan
sendiri oleh personil militer AS, Korea Selatan, Taiwan, dan juga Filipina.
Ironisnya, dan barangkali ini adalah berkah sementara bagi Indonesia, pesan
rahasia CIA kepada para pimpinan PPRI agar sebelum mundur dari Riau mereka
meledakkan instalasi kilang minyak Caltex dulu, agar dua batalyon US Marine
yang sudah menunggu di perairan Dumai bisa mendarat dan menghantam pasukan
Yani, dan setelah itu berencana merangsek ke Jakarta guna menumbangkan
Soekarno, sama sekali tidak sempat dilakukan para pemberontak.
Agen CIA Tertangkap Basah
Awalnya pemerintah AS membantah keterlibatannya dalam pemberontakan
PRRI/PERMESTA. Namun sungguh ironis, tidak sampai tiga pekan setelah Presiden
Eisenhower menyatakan hal itu, pada 18 Mei 1958, sebuah pesawat pengebom B-29
milik AS ditembak jatuh oleh sistem penangkis serangan udara Angkatan Perang
Republik Indonesia (APRI), setelah pesawat itu membombardir sebuah pasar dan
landasan udara Ambon. Sebuah kapal laut milik ALRI juga menjadi korban
(Soebadio: Hubungan Indonesia Amerika Dasawarsa ke II Tahun 1955-1965; 2005; h.
73). “Sejumlah rakyat sipil, yang sedang berada di gereja pada acara Kamis
Putih, terbunuh dalam serangan di komunitas Kristen tersebut,” tulis David Wise
& Thomas B. Ross dalam “The Invisible Government: Pemerintah Bayangan
Amerika Serikat” (2007; h. 180). Pilot tempur pesawat tersebut, Allan Lawrence
Pope berhasil ditangkap hidup-hidup.
Mulanya, AS lewat Dubes Howard P. Jones berkilah jika Pope
merupakan warganegara AS yang terlibat sebagai tentara bayaran, namun
pemerintah RI mendapatkan banyak bukti jika Pope merupakan agen CIA yang
sengaja ditugaskan membantu pemberontakan guna menggulingkan Bung Karno. “Pope
bukanlah seorang tentara bayaran. Dia terbang atas perintah CIA, yang secara
diam-diam mendukung para pemberontak yang mencoba menggulingkan Soekarno… Dalam
konferensi pers di Jakarta, 27 Mei, yang digelar oleh Letkol Herman Pieters,
Pemimpin Komando Militer Maluku dan Irian Barat di Ambon, menyatakan… 300
sampai 400 tentara AS, Filipin a, dan nasionalis Cina membantu pemberontakan
itu.” (Wise & Rose; h.180)
Ancaman AS Dibalas Dengan Ancaman Balik Oleh Bung Karno
Atas gertakan AS yang sampai mengerahkan kekuatan dua batayon US Marine dengan
Armada ke-7nya ke perairan Riau, Bung Karno sama sekali tidak gentar dan balik
mengancam AS agar jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam masalah internal
NKRI. “AS jangan sampai bermain api dengan Indonesia. Jangan biarkan
kekurangpahaman Amerika menyebabkan meletusnya Perang Dunia Ketiga!” Bung Karno
segera mengirim satu pasukan besar di bawah pimpinan Ahmad Yani untuk melibas
para pemberontak di Sumatera. Saat itu RRC telah menyiapkan skuadron udaranya
serta ribuan tentara regulernya untuk bergerak ke Indonesia guna membantu
Soekarno memadamkan pemberontakan yang didukung CIA tersebut, namun Bung Karno
menolaknya. “Kekuatan angkatan perang kami masih mampu menghadapi para
pemberontak itu,” ujarnya. Dan hal itu terbukti, hanya dalam hitungan jam
setelah pasukan Ahmad Yani mendarat di Pekanbaru, Padang, serta Bukit
Tinggi—pusat konsentrasi para pemberontak—maka kota-kota penting itu pun
direbut tanpa perlawanan yang berarti.
Bahkan pesan rahasia CIA kepada para pimpinan pemberontak agar sebelum mundur
dari Riau mereka meledakkan instalasi kilang minyak Caltex dulu, agar dua
batalyon US Marine yang sudah menunggu di perairan Dumai bisa mendarat dan
menghantam pasukan Yani, dan setelah itu berencana merangsek ke Jakarta guna
menumbangkan Soekarno, sama sekali tidak sempat dilakukan para pemberontak.
(Edisi Koleksi Angkasa: Dirty War; h.48). Juni 1958, pemberontakan ini berhasil
ditumpas. Sumitro Djojohadikusumo dan sejumlah tokoh yang terlibat pemberontakan
melarikan diri ke Singapura dan dari ‘Basis Israel di Asia Tenggara’ itulah,
kelompok ini terus menggerogoti kekuasaan Bung Karno dan berusaha agar
Indonesia bisa tunduk pada kepentingan kolonialisme dan imperialisme baru
(Nekolim) AS.
Seperti Biasa, Standard Ganda Amerika
Walau awalnya AS membantah keterlibatannya, namun setelah tidak
akif lagi di Indonesia, mantan Dubes AS Howard P. Jones mengakui jika dirinya
tahu jika CIA ada di belakang pemberontakan itu. Hal ini ditegaskan Jones dalam
memoarnya “Indonesia: The Possible Dream” (1990; h.145). Upaya CIA menumbangkan
Bung Karno selalu menemui kegagalan. Dari membuat film porno “Bung Karno”,
sampai dengan upaya pembunuhan dengan berbagai cara. Hal ini menjadikan CIA
harus bekerja ekstra keras. Apalagi Bung Karno secara cerdik akhirnya membeli
senjata dan peralatan militer ke negara-negara Blok Timur dalam jumlah besar,
setelah AS menolak memberikan peralatan militernya. AS tentu tidak ingin
Indonesia lebih jauh bersahabat dengan Blok Timur. Sebab itu, setelah gagal
mendukung PRRI/PERMESTA, sikap AS jadi lebih lunak terhadap Indonesia. 19
Agustus 1958, AS akhirnya mengeluarkan pengumuman resmi jika pihaknya bersedia
menjual senjatanya kepada Indonesia. “Dalam waktu enam bulan, kurang lebih 21
batalyon Indonesia telah diperlengkapi dengan senjata-senjata ringan Amerika,”
(Jones; h. 154)
Namun, seperti biasa: standard ganda Amerika sudah menjadi hukum pasti, meski
di permukaan AS tampak kian melunak, sesungguhnya AS tengah melancarkan
‘operasi dua muka’ terhadap Indonesia. Di permukaan AS ingin terlihat
memperbaharui hubungannya dengan Bung Karno, namun diam-diam CIA masih bergerak
untuk menumbangkan Bung Karno dan menyiapkan satu pemerintah baru untuk
Indonesia yang mau tunduk pada kepentingan Amerika. Ini termuat dalam
dokumentasi laporan Hugh S. Cumming, Kepala Kementerian Pertahanan dan CIA,
kepada National Security Council (NSC) pada 3 September 1958. (Suroso; Bung
Karno Korban Perang Dingin; 2008; h. 331). Senjata-senjata AS banyak yang
dikirim kepada Angkatan Darat, dibanding angkatan lainnya dengan pertimbangan
dari analisa agen-agen CIA bahwa elemen ini lebih bisa diajak bekerjasama
dengan AS ketimbang elemen lainnya.
Di sisi lain, CIA juga menggarap satu proyek membangun kelompok elit birokrat
baru yang pro-AS yang kini dikenal sebagai ‘Berkeley Mafia’. Sumitro dan
Soedjatmoko merupakan tokoh penting dalam kelompok ini. Bahkan di awal tahun
1960-an, tokoh-tokoh Mafia Berkeley ini bisa mengajar di Seskoad dan menjalin
komunikasi intens dengan sekelompok perwira Angkatan Darat yang memusuhi
Panglima Tertinggi/Presiden Soekarno, yang diantaranya adalah Suharto yang
kelak berkuasa setelah Bung Karno ditumbangkan di tahun 1965. (untuk hal ini
lebih lanjut silakan baca artikel David Ransom: “Mafia Berkeley dan Pembunuhan
Massal di Indonesia, Kuda Troya Baru dari Universitas-Universitas di Amerika
Serikat Masuk ke Indonesia”; Ramparts; 1971).
Tumbangnya Sukarno, Kabar Gembira Buat Washington
Tumbangnya Soekarno dan naiknya Jenderal Suharto disambut gembira Washington.
Presiden AS Richard M. Nixon sendiri menyebut hal itu sebagai “Terbukanya upeti
besar dari Asia”. Untuk membangun satu kelompok militer—terutama Angkatan
Darat—di Indonesia yang ‘baru’ (baca: pro Amerika), AS menyelenggarakan
pendidikan militer untuk para perwira Indonesia ini di Fort Leavenworth, Fort
Bragg, dan sebagainya. Pada masa antara 1958-1965 jumlah perwira Indonesia yang
mendapat pendidikan ini meningkat menjadi 4.000 orang. (Suroso; 2008; h. 373).
Selain militer, AS juga membangun satu kelompok elit birokrat di
Universitas-Universitas AS seperti di Berkeley, MIT, Harvard, dan sebagainya,
yang dikenal sebagai Mafia Berkeley. Kedua elemen ini binaan AS ini (kelompok
perwira AD yang dipimpin Suharto dan kelompok birokrat yang tergabung dalam
‘Mafia Berkeley’ pimpinan Sumitro) kelak berkuasa di Indonesia setelah Soekarno
ditumbangkan. Inilah cikal bakal Orde Baru (The New Order). Amerika Serikat
sendiri juga dikenal sebagai pemimpin Orde Dunia Baru (The New World Order).
Sejak kegagalan mendukung PRRI/PERMESTA, National Security Council (NSC) lewat
CIA terus memantau perkembangan situasi Indonesia secara intens. Sejumlah
lembaga-lembaga sipil dan militer AS juga sangat aktif menggodok orang-orang
Indonesia yang dipersiapkan duduk di kursi kekuasaan paska Soekarno. Sebuah
memorandum CIA yang dipersiapkan untuk State Department yang dikeluarkan di
Washington, 18 September 1964 berjudul Prospek Untuk Aksi Rahasia berisi 18
point, dalam point ke-16 antara lain berbunyi:…Seberapa jauh kita dapat
melakukan usaha memecah PKI dan lebih penting lagi, untuk mengadu PKI melawan
elemen non-komunis, khususnya dengan Angkatan Darat? Sampai sejauh mana, bila
dimungkinkan, kita harus menyerang Soekarno? Apakah tidak dapat terpikirkan
untuk menggerakkan tekanan internal seperti membangkitkan kerusuhan Cina tahun
lalu, dan di bawah syarat-syarat tertentu mungkin akan memaksa Angkatan Darat
untuk meraih kekuasaan besar guna memulihkan keamanan dan ketertiban? Kita
tidak ingin nampak terlalu ambisius dalam hal ini. Tapi jika kita membangun
program yang didalamnya terdapat bentuk [kurang dari 1 baris teks sumber tidak
dideklasifikasikan] sebagai supplement di dalam perkembangan politik jangka
panjang. Penting sekali mengetahui kemana kita akan berjalan dan mampu menuntut
kemungkinan segala konsekuensinya dari segala usaha kita. Saat untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan ini adalah sekarang, tidak ada nanti…” (Dokumen CIA:
Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S 1965; 2007).
Demikianlah. Sudah banyak literatur dan dokumen yang membongkar keterlibatan
CIA di dalam peristiwa Oktober 1965, yang pada akhirnya menjatuhkan Soekarno
dan menaikkan Jenderal Suharto. Atas nama pembersihan kaum komunis di negeri
ini, CIA turut menyumbang daftar nama kematian (The Dead List) yang berisi
5.000 nama tokoh dan kader PKI di Indonesia kepada Jenderal Suharto. Orang yang
dijadikan penghubung antara CIA dan Suharto dalam hal ini adalah Adam Malik
(lihat tulisan Kathy Kadane, seorang lawyer dan jurnalis State News Service,
berjudul “Para Mantan Agen Berkata: CIA Menyusun Daftar Kematian di Indonesia”;
Herald Journal, 19 Mei 1990. Artikel yang sama dimuat di San Fransisco
Examiner, 20 Mei 1990; di Washington Post, 21 Mei 1990; dan di Boston Globe, 23
Mei 1990). CIA memang memberi daftar kematian sejumlah 5.000 orang, namun fakta
di lapangan jauh di atas angka itu. Kol. Sarwo Edhie, Komandan RPKAD saat itu
yang memimpin operasi pembersihan ini, terutama di Jawa Tengah dan Timur,
menyebut angka tiga juta orang yang berhasil dihabisi. Bukan tokoh PKI saja
yang dibunuh, namun juga orang-orang kecil yang tidak tahu apa-apa yang menjadi
korban politik kotor konspiratif antara CIA dengan para ‘local army friend’.
Terbukanya Upeti Besar dari Asia
Tumbangnya Soekarno dan naiknya Jenderal Suharto disambut gembira Washingon.
Presiden AS Richard M. Nixon sendiri menyebut hal itu sebagai “Terbukanya upeti
besar dari Asia”. Indonesia memang laksana peti harta karun yang berisi segala
kekayaan alam yang luar biasa. Jika oleh Soekarno kunci peti harta karun ini
dijaga baik-baik bahkan dilindungi dengan segenap kekuatan yang ada, maka oleh
Jenderal Suharto, kunci peti harta karun ini malah digadaikan dengan harga
murah kepada Amerika Serikat. “Salah satu hal yang paling prinsipil dari pergantian
kepemimpinan di Indonesia, dari Soekarno ke Suharto adalah bergantinya karakter
Indonesia dari sebuah bangsa yang berusaha menerapkan kemandirian berdasarkan
kedaulatan dan kemerdekaan, menjadi sebuah bangsa yang bergantung pada kekuatan
imperialisme dan kolonialisme Barat,” demikian tulis Suar Suroso (Bung Karno,
Korban Perang Dingin; 2008).
Prosesi digadaikannya seluruh kekayaan alam negeri ini kepada jaringan
imperialisme dan kolonialisme Barat terjadi di Swiss, November 1967. Jenderal
Suharto mengirim sat tim ekonomi dipimpin Sultan Hamengkubuwono IX dan Adam
Malik. Tim ini kelak disebut sebagai Mafia Berkeley, menemui para CEO korporasi
multinasional yang dipimpin Rockefeller. Dalam pertemuan inilah tanah Indonesia
yang kaya raya dengan bahan tambang dikapling-kapling seenaknya oleh mereka dan
dibagikan kepada korporasi-korporasi asing, Freeport antara lain mendapat
gunung emas di Irian Barat, demikian pula yang lainnya. Bahkan landasan legal
formal untuk mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia pun dirancang di Swiss ini
yang kemudian dikenal sebagai UU Penanaman Modal Asing tahun 1967 (John Pilger;
The NewRulers of the World). Dan jangan lupa, semua COE korporasi asing
tersebut dikuasai oleh jaringan Yahudi Internasional. Dalam fase awal
kekuasaannya, Jenderal Suharto didampingi oleh dua tokoh Orde Baru, sama-sama
Amerikanis, yakni Adam Malik dan Sultan Hamengkubuwono IX. Mereka ini dikenal
sebagai Triumvirat Orde Baru.
Dalam tulisan berikutnya akan disorot jejak CIA di dalam masa kekuasaan
Jenderal Suharto, di mana bukan hanya CIA yang diajak masuk ke Indonesia namun
juga nantinya MOSSAD, sebagaimana telah ditulis dengan jelas di dalam Memoirnya
Jenderal Soemitro, mantan Pangkopkamtib. Pada Juli 1966, seorang pejabat CIA,
bernama Clarence “Ed” Barbier mendarat di Jakarta. Jabatan resminya adalah
Asisten Khusus Duta Besar AS. David Ransom, di dalam artikel “Mafia Berkeley
dan Pembunuhan Massal di Indonesia, Kuda Troya Baru dari
Universitas-Universitas di Amerika Serikat Masuk ke Indonesia” (Ramparts; 1971),
dengan jujur memaparkan bagaimana AS lewat CIA membangun satu kelompok elit
baru guna memimpin satu Indonesia yang tunduk pada kepentingan kekuatan
Neo-Imperialisme dan Neo-Kolonialisme Barat. Bahkan sesungguhnya, Amerikalah
yang merancang dan menyusun strategi pembangunan nasional negeri ini yang
dikenal dengan istilah Rencana Pembangunan Lima Tahunan (Repelita) lewat satu
tim asistensi CIA dan sejumlah think-tank AS yang bekerja di belakang para
teknokrat dan birokrat rezim Orde Baru.
Para pejabat pendiri Orde Baru seperti Adam Malik, Sumitro, Soedjatmoko, dan
sebagainya memang dikenal amat dekat dengan para pejabat AS, baik yang bekerja
di Jakarta maupun Washington. Lewat CIA, AS telah memanfaatkan para pejabat
Indonesia anti Soekarno ini untuk memuluskan kepentingannya. Bahkan Tim Werner
dalam “Legacy of Ashes: A History of CIA” (2007) menulis jika Adam Malik telah
direkrut menjadi agen CIA lewat pengakuan seorang mantan agen CIA bernama
McAvoy. Walau yang terakhir ini sempat jadi polemik, namun kedekatan Adam
Malik—dan kawan-kawan-dengan para pejabat AS saat itu adalah suatu fakta
sejarah. Pada Juli 1966, seorang pejabat CIA, bernama Clarence “Ed” Barbier
mendarat di Jakarta. Jabatan resminya adalah Asisten Khusus Duta Besar AS.
“Eufismisme diplomatik ini biasanya dikhususkan bagi Kepala Stasiun CIA yang
secara terbuka menyatakan hal ini kepada negara penerima… Dua kepala stasiun
sebelumnya tidak diberitahukan secara resmi kepada pemerintah Soekarno dan
hanya terdaftar sebagai ‘Sekretaris Pertama/Politik’, suatu jabatan untuk
menyamarkan kepala perwakilan ini di antara para diplomat resminya,” tulis Ken
Conboy dalam “Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia” (2007; h. 47-48).
Barbier yang fasih Bahasa Jepang dan bekerja pada intelijen AL-AS pada Perang
Dunia II sebelumnya bertugas di Pacific. Dari lembaga intel AL-AS, Barbier
dipindahkan ke CIA di awal berdirinya dan bertugas mengawasi jalur komunikasi
dinas intelijen Vietnam Selatan.
Salah satu operasi rahasia CIA di Indonesia di awal era Orde Baru adalah
operasi HABRINK, yang berbasis di Konsulat AS di Surabaya. Saat itu, rezim
Suharto ‘menerima’ warisan perlengkapan dan persenjataan perang dari
negara-negara Blok Timur seperti Chekoslovakia dan Soviet. Kebetulan, AS tengah
berperang di medan tempur Indocina dan menghadapi pihak lawan yang menggunakan
peralatan perang seperti yang ada di Indonesia. “Operasi rahasia yang digelar
pada 1967 ini bertujuan untuk mendapatkan detil teknis dan juga contoh barang
perlengkapan militer Soviet seperti Rudal SA-2, kapal selam kelas Whiskey,
kapal perang jenis Riga, dan pesawat pembom Tu-16. Operasi ini dibuka kepada
umum ketika salah seorang pejabat CIA yang terlibat dalam operasi ini, David
Henry Bennet, dihukum pada 1980 karena diketahui telah menjual detil operasi
ini kepada pihak Soviet. Hal ini berasal dari catatan Bakin Personnel File atau
BPF dengan title ‘David Henry Barnett’”, tulis Conboy dalam bukunya (h.57).
Clarence Barbier, demikian tulis Conboy, bekerja dengan mulus di Indonesia
disebabkan kesamaan agenda antara AS dengan rezim Suharto, yakni memerangi
komunisme. Dalam tugasnya, Barbier merekrut sejumlah orang Indonesia, baik
militer maupun sipil. Lewat hubungan yang amat baik dengan Kolonel CPM Nicklany
Soedardjo, seorang perwira didikan AS (lulusan Fort Gordon, 1961), Barbier
berhasil merekrut seorang tokoh Perti (Partai Tarbiyah Indonesia) bernama
Suhaimi Munaf, yang oleh Suharto dianggap dekat dengan orang-orang komunis.
Suhaimi sendiri pernah ditangkap pada Februari 1967 dengan tuduhan telah
melakukan kejahatan politik.
Pada sekitar Agustus 1968, menjelang kebebasan Suhaimi Munaf, Barbier meminta
kepada Kol. CPM Nicklany agar melakukan serangkaian tes psikologi terhadap
Suhaimi. Hasil tes menunjukkan Suhaimi memiliki mental baja, keras kepala, dan
tidak mudah dipengaruhi. Hasil yang sesuai dengan keinginan CIA. Singkat
cerita, Munaf berhasil direkrut CIA dan dikirim ke Pulau Buru dengan menyandang
nama sandi Friendly/1. Di pulau tempat pembuangan dan penahanan orang-orang
komunis ini, Suhaimi mendapat tugas untuk menjalin hubungan lagi dengan kolega
kirinya baik yang berada di dalam maupun luar negeri. “Dengan memanfaatkan
simpati atas penahanannya, ia mencari-cari pekerjaan di di kedutaan negara
asing komunis… CIA telah menuai sukses awal dengan Friendly/1,” demikian
Conboy.
Kerjasama Kol. Nicklany dengan Barbier tidak berhenti di sini saja. Pada awal
1968, Nicklany yang menjabat sebagai Asisten Intelijen Kopkamtib kepada
orang-orang terdekatnya menyatakan ingin membentuk satuan tugas kontra intelijen
asing, guna menangkap mata-mata asing yang beroperasi di Indonesia. “Mata-mata
aing” di sini tentu saja memiliki arti sebagai mata-mata Blok Timur. Karena
dengan CIA dan sekutunya, Nicklany malah bekerjasama. Satuan tugas ini akhirnya
terbentuk dengan anggota inti sebanyak enampuluh orang, sepuluh perwira aktif
dan sisanya sipil, dan menyandang nama resmi “Satuan Khusus Pelaksana
Intelijen” atau Satsus-Pintel, yang kemudian diringkas menjadi “Satuan Khusus
Intelijen” atau Satsus-Intel. Satuan ini mendapatkan dana dari CIA lewat
Barbier termasuk gaji personelnya, lalu bantuan kendaraan untuk kegiatan
pengamatan (surveilance), biaya sewa rumah-aman (safe house) di Jalan
Jatinegara Timur-Jakarta, dan tape recorder mutakhir merk Sony TC-800 serta perangkat
penyadap telepon canggih QTC-11. Hingga awal 1970, Satsus-Intel mendapat 16
sepeda motor, 3 sedan Mercedes, 2 Toyota Corolla, 3 Volkswagen, 1 Toyota Jeep,
dan 1 Minibus Datsun dengan kaca belakang yang dilapisi penutup agar minibus
ini digunakan untuk melakukan pemotretan rahasia. Semuanya dari CIA (Conboy;
h.57).
Jendral Sumitro
Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dengan terus terang menyatakan jika
pihaknya memang menjalin kerjasama yang erat dengan MOSSAD Israel, CIA, dan
juga MI-6 Inggris dalam hal penumpasan komunis. “Dalam hal ini, Pak Sutopo
Yuwono, Pak Kharis Suhud, dan Nicklany. Tiga orang ini yang saya izinkan.”
(Soemitro, Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib; 1994; h. 251).