oleh Andre
Vltchek (Diterjemahkan oleh Rossie
Indira)
“SAYA MELIHAT KAUM SUNNI yang rasis dan sangat
fanatik, yang dibayar dan dikendalikan oleh kaum Wahhabi dari Saudi Arabia yang
sudah menghancurkan desa-desa KAUM ISLAM SYIAH di pulau Madura yang terbelakang
dan miskin.”
Tahun lalu, saya sama sekali tidak berkunjung ke Indonesia. Saya merasa tidak
lagi bisa tahan untuk berada di sana. Indonesia membuat saya tidak enak badan.
Saya merasa sakit, baik secara psikologis maupun fisik.
Indonesia mungkin sudah matang menjadi negara paling korup di bumi ini, dan
mungkin sebuah tempat yang paling terindoktrinasi dan tidak punya belas kasih.
Di sini, bahkan korban tidak lagi menyadari kondisi mereka sendiri. Para korban
merasa malu, sedangkan para pembunuh massal dengan bangganya membual tentang
pembunuhan-pembunuhan dan perkosaan-perkosaan mengerikan yang telah mereka
lakukan. Kader-kader pelaku genosida ada di seluruh jajaran pemerintahan.
Jangan salah paham: tidak ada yang salah menjadi matang. Tapi bukannya matang
secara elegan menjadi sesuatu yang mulia seperti anggur, Indonesia hanya
membusuk menjadi cuka yang rasanya memuakkan, atau susu yang sudah basi, atau
menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan - bangkai busuk yang mengerikan di
tengah benua Asia yang dulunya sosialis, progresif dan anti-imperialis.
Setelah kudeta di tahun 1965 yang didukung oleh Amerika Serikat, Australia dan
Eropa, sekitar 2-3 juta orang Indonesia tewas, dibantai tanpa ampun dalam pesta
teror yang tak terkendali: guru, intelektual, seniman, aktivis serikat buruh,
dan kaum Komunis hilang. Kedutaan Besar AS di Jakarta menyediakan daftar rinci
mereka yang perlu dihilangkan. Angkatan Darat, yang dibayar mahal oleh Barat
dan didukung oleh kader-kader semua agama yang tak terhitung jumlahnya dan yang
sudah dicuci otaknya, dengan semangat yang tidak pernah ditunjukkan sebelumnya,
membunuh dan memenjarakan hampir semua orang yang mampu berpikir. Buku-buku
dibakar dan studio film dan teater ditutup.
Perempuan-perempuan dari organisasi-organisasi sayap kiri, setelah dengan
kejamnya diperkosa, payudaranya dipotong. Mereka dicap sebagai penyihir, ateis,
maniak seks dan punya perilaku menyimpang.
Kader Kristen militan dan profesional yang
berasal dari Belanda dan negara Barat lainnya datang ke Indonesia lama sebelum
kudeta. Mereka dipercaya untuk meradikalisasi penganut Muslim, Hindu,
Protestan, Katolik dan militer Indonesia. Mereka memberi label penganut Komunis
dan kaum kiri lainnya sebagai "penganut ateis yang berbahaya" dan
mereka mulai melakukan indoktrinasi dan pelatihan dengan tujuan melikuidasi
kaum komunis dan kaum kiri lainnya.
Individu-individu Tionghoa dari sayap kanan, sebagian besar adalah pengkhianat
yang baru melepaskan diri dari tanah air mereka yang komunis revolusioner,
dengan senang hati bergabung dengan klik/kelompok fasis dan kemudian bergabung
dengan rezim Jenderal Suharto yang membunuh, melacur dan berkhianat. Mereka
bergabung di dalamnya sebagai informan dan "juru dakwah". Kaum
minoritas Tionghoa di Indonesia, yang tidak diragukan mengalami beberapa
diskriminasi, telah bergabung dengan kekuatan dari dalam dan luar negeri yang
paling menindas, tanpa malu-malu berkolaborasi dengan tentara yang fasis,
imperialisme Barat dan sistem kapitalis buas yang mereka bantu ciptakan. Karena
kendalinya atas bagian paling penting dari "ekonomi" lokal (baca:
penjarahan sumber daya alam) dan kepemilikan atas banyak sekali media yang
digunakan untuk cuci otak dan sekolah-sekolah swasta, kaum minoritas Tionghoa
di Indonesia telah memainkan peran menentukan dan menghancurkan dalam runtuhnya
negara Indonesia secara spektakuler pasca-1965.
Setelah pembantaian di tahun 1965-1966, segala sesuatu yang berkaitan dengan
Revolusi dan Republik Rakyat China dilarang dan dilenyapkan di Indonesia,
termasuk warna merah, bahasa Cina, dan kata "komunisme" itu sendiri.
Beberapa hal tersebut memang "merepotkan", tapi secara keseluruhan,
para emigran sayap kanan yang anti-Komunis China di Indonesia akhirnya
mendapatkan apa yang mereka inginkan! Sikap fasisme yang dianut Soeharto pasti
lebih cocok untuk mereka daripada sikap anti-Barat-imperialisme dan pembagian
kekuasaan antara pemimpin Muslim progresif Soekarno dan "anak
emas"nya, Partai Komunis Indonesia (PKI).
SETELAH genosida, dimulailah penjualan besar-besaran negara Indonesia. Korupsi
dan privatisasi berjalan bersama-sama. Penduduk dijadikan buta secara ideologis
maupun intelektual.
Pembunuhan dan pemerkosaan jutaan warga, pencurian segala sesuatu yang dulunya
milik bangsa...
Demikianlah pengkhianatan terbesar di abad ke-20 ini.
Kira-kira 50 tahun setelah bencana tersebut terjadi, saya melanggar janji saya
sendiri dan kembali mengunjungi Indonesia sekali lagi.
Kali ini, saya datang ke Indonesia bukan untuk kunjungan akademis. Bahkan
sebenarnya saya sudah tidak ingin berhubungan dengan para akademisi di sini,
dan saya berpendapat bahwa banyak akademisi yang telah melacurkan diri mereka
dan mati, seperti juga jurnalisme. Ilmu Filsafat harus terlepas dari akademisi
dan lembaga-lembaganya. Ilmu Filsafat berhubungan dengan kehidupan, sementara
akademisi masa kini/modern merepresentasikan kematian intelektual.
Buku saya yang penuh kecaman, "Indonesia:
Archipelago of Fear", diterbitkan Pluto di London lebih dari 3
tahun yang lalu, kemudian diterjemahkan dan diterbitkan oleh Badak Merah ke
dalam bahasa Indonesia dengan judul “Indonesia:
Untaian Ketakutan di Nusantara”. Kemudian diterjemahkan ke dalam
berbagai bahasa. Tapi cukup kita berbicara teori!
Saya datang kembali berkunjung untuk menghirup udara yang tercemar dan untuk
melihat keruntuhan masyarakat Indonesia - reruntuhan yang jelas terlihat di
seluruh penjuru ibukotanya. Saya datang untuk mengamati ekspresi tidak
bersemangat di wajah rakyatnya, dan sekali lagi mengalami hancurnya
infrastruktur di sini. Saya datang untuk berhadapan dengan masyarakat yang
telah membunuh segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan,
filsafat dan seni, dan dengan sebuah negeri di mana para tukangnya bahkan tidak
bisa mengerjakan penggabungan dua ubin dengan baik, jangankan membangun sebuah
pesawat ruang angkasa atau pesawat jet.
SAYA datang kembali untuk meneriakkan dan mengutuk, dan menulis esai ini
sebagai peringatan bagi orang-orang yang masih berpikir bahwa kapitalisme
brutal dapat berfungsi, bahwa sebuah negara yang mengijinkan para
"elit"nya untuk mengubah negara tersebut menjadi keset (atau lebih buruk)
bagi pihak Barat, bisa bertahan hidup, apalagi berkembang.
Saya datang untuk mengatakan apa yang sudah jelas tetapi "terlarang"
untuk dikatakan: “Indonesia sudah mati! Sudah tidak ada lagi. Negara ini
dimatikan dalam kurun waktu antara tahun 1965 sampai sekarang. Negara ini tidak
akan pernah bisa berdiri sendiri lagi. Rakyat yang tinggal di sana tidak
benar-benar hidup di sebuah negara, tapi di dalam bangkai yang membusuk dan
mengerikan.”
SATU-SATUNYA CARA UNTUK MAJU ADALAH DENGAN MELAKUKAN REVOLUSI, seperti yang
dulu dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer. Sebuah revolusi total, disetel
ulang! Kembali ke kondisi yang dihancurkan pada tahun 1965. Kuburkan bangkai
tersebut, adili semua orang yang telah melakukan pengkhianatan, dan mulai dari
nol lagi, dari awal! Inilah kenyataannya, tidak perlu catatan kaki atau
kutipan!
Tapi kembali ke kesepakatan yang telah diambil oleh Empire/Imperium
dan para “elit” lokal:
Kesepakatannya jelas: Pihak Barat mengijinkan para pemberontak dan antek-antek
agama dan “pendidik” mereka untuk merampok bangsa ini, dan mentolerir korupsi
yang paling menjijikkan. Tapi sebagai balasannya, mereka harus memberikan
jaminan bahwa rakyat Indonesia akan selalu dicuci otaknya dan dibuat tidak
berpendidikan, tidak pernah menuntut kembalinya Partai Komunis, tidak akan
pernah berjuang untuk cita-cita patriotik yang besar dan tidak pernah
mempertanyakan fundamentalisme pasar dan penjarahan sumber daya alam Indonesia
.
Orang-orang Kristen yang diberikan “tanggung jawab” berasal dari sekte
evangelis yang paling gila, diperkuat dengan kader-kader intelijen/agama yang
diimpor dari Amerika Utara dan Australia. “Ajaran Kemakmuran” dan
"Pantekosta" adalah implan yang paling sukses. Para pendakwah yang
mendengarkan Voice of America dan membaca jurnal-jurnal
ekonomi Barat tiba-tiba memegang kendali.
SEKUTU BARAT, KAUM WAHHABI dengan gaya-Saudi, tanpa malu-malu mengesampingkan
hampir semua aliran Islam lokal yang sosialis, dan bentuk-bentuk yang paling
militan dan paling tidak toleran dari agama Islam yang pada dasarnya progresif
dan sosialis mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang menghancurkan, totaliter
dan membunuh intelektualitas.
Pihak Barat, media dan akademisinya, tanpa malu-malu mulai memberikan dukungan
kepada dogma-dogma budaya fasis: termasuk struktur agama dan keluarga yang
regresif/mundur.
Tidak hanya itu - mereka terus menyebarkan kebohongan yang paling tidak masuk
akal: tentang “bagaimana Indonesia menjadi negara yang toleran”, dan “betapa
moderat-nya”. “Negara demokrasi ketiga terbesar di dunia” adalah julukan dari
para demagog Barat yang terus-menerus didengungkan untuk sebuah negeri yang
tidak punya satu pun partai politik yang pro rakyat atau yang anti-imperialis.
Indonesia disebut sebagai “ekonomi terbesar di Asia Tenggara”, sebuah definisi
yang benar-benar menyesatkan, mengingat bahwa Indonesia punya penduduk tiga
kali lebih banyak dari bangsa lain di wilayah ini. Dan apakah memang bisa
dikatakan sebagai sebuah "ekonomi", bangsa yang hampir tidak
menghasilkan apa pun dan hanya hidup dari penjarahan sumber daya alam yang tak
terkendali, serta dari penjarahan sumber daya dari jajahannya di Papua, di mana
Indonesia telah diam-diam melakukan genosida yang mengerikan?
Media lokal telah terus menerus mengutip semua propaganda dan disinformasi ini,
tentu cukup logis mengingat para pebisnis yang korup memiliki hampir semua
media tersebut.
SETELAH rezim ini membunuh sekitar 40% guru di pulau Jawa, sistem pendidikan
jatuh ke tangan orang-orang yang tidak mengerti soal pendidikan tapi bersemangat
untuk mengajar bangsanya: mereka adalah kolaborator pihak Barat. Orang-orang
ini tidak lebih dari para pengusaha yang haus uang, tapi jelas-jelas bukanlah
pendidik. Misi mereka bukan hanya menyebarkan ketidaktahuan dan kebodohan; cara
ini adalah cara alami dalam mengekspresikan diri mereka sendiri dan metode
mereka dalam berinteraksi dengan dunia.
Setelah bertahun-tahun menderita karena sumber daya alamnya dijarah dengan
buas, karena pembodohan oleh agama, karena sensor atas segala sesuatu yang kreatif
dan mendalam, dan karena para pemuda Indonesia dicegah untuk mendapatkan
pengetahuan nyata tentang dunia, maka negara Indonesia akhirnya mulai
menyerupai sesuatu yang bukan diri mereka: bangsa dengan 300 juta penduduk
(pemerintah juga berbohong tentang jumlah penduduknya dan saya mendapatkan
informasi ini dari beberapa ahli statistik terkemuka dari PBB ketika saya
sedang menulis buku yang telah disebutkan sebelumnya), tanpa satu pun
pemikir/filsuf (setelah orang-orang dari jaman PKI dan Soekarno, seperti
intelektual publik yang dikenal secara internasional...)
Di mana-mana kotor, kontras sosial yang amoral ada di setiap sudut kotanya...Mobil-mobil
merek Range Rover dan butik Gucci ada tepat di sebelah selokan terbuka dan
anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi. Hampir tidak ada taman
publik di Indonesia, tidak ada instalasi pengolahan limbah, dan hampir tidak
ada trotoar atau taman bermain untuk anak-anak. Tidak ada saluran televisi
pendidikan, dan hampir tidak ada perpustakaan umum - kontras sekali dengan yang
ada di Malaysia. Tidak mengherankan kalau air pun diprivatisasi.
Bangsa ini berhenti membaca. Satu demi satu toko buku tutup. Di Indonesia hanya
diterjemahkan beberapa ratus judul setiap tahunnya, dan kebanyakan bersifat komersial.
Kualitas terjemahan yang ada amat buruk.
HAMPIR semua hal tidak beroperasi dengan baik. Ada pemadaman listrik silih
berganti, dan jalan-jalan yang ada tidak rata dan sempit. Bahkan Jalan Raya
lintas pulau Jawa hanya punya dua-jalur yang sempir dan banyak lubang,
kualitasnya lebih buruk dari beberapa jalan-jalan desa di Thailand atau
Malaysia. Kemacetan lalu lintas sudah menyeluruh baik di perkotaan maupun di
pedesaan, bahkan rakyat miskin harus menggunakan kendaraan pribadinya dengan
infrastruktur yang telah hancur beberapa tahun yang lalu.
Sinyal internet dan telepon buruk sekali, karenanya ketika saya selesai
mengedit sebuah film dokumenter, saya terpaksa harus terbang ke Singapura untuk
meng-upload beberapa file yang lebih besar.
Kapal feri tua banyak yang tenggelam, pesawat terbang berjatuhan dari langit,
dan kereta api seringkali tergelincir.
Tidak ada lagi hutan yang masih utuh. Seluruh kekayaan bangsa ini sudah
ditebang dan ditambang habis – semua sudah hancur dan kacau!
DAN PIHAK BARAT menari di atas bangkai Indonesia yang mengerikan. Mereka
berpesta! Ya, berpesta! Mereka mencintai, memuja bangsa yang “demokratis”
dan “toleran” ini, bangsa yang sekarang sudah hancur. Bukannya berpikir, rakyat
Indonesia mendengarkan lagu-lagu pop murahan, menyeringai dengan lagak bodoh,
berteriak-teriak dan cekikikan yang kiranya hanya cocok dilakukan di rumah
sakit jiwa, mengorbankan dirinya dengan begitu murah hati untuk kesejahteraan
perusahaan-perusahaan dan pemerintah Barat!
Akhirnya saya datang berkunjung lagi ke Indonesia, hanya beberapa hari saja,
untuk menghadiri pemutaran film dokumenter saya di sebuah klub film baru tapi
kecil di TIM Jakarta...satu-satunya klub film dengan kapasitas 45 kursi untuk
sebuah bangsa dengan 300 juta penduduk. Saya datang ke pemutaran film saya
tentang kudeta di tahun 1965 berjudul “Terlena – Breaking of A Nation”, yang
saya produksi sekitar 11 tahun yang lalu. Film ini adalah salah satu film
dokumenter pertama yang berdurasi panjang yang pernah dibuat tentang “peristiwa”
tahun 1965.
Ketika saya sedang menonton film itu, tiba-tiba saya merasa sedih sekali karena
teman-teman lama saya telah “pergi” beberapa tahun yang lalu, dan saya
merindukan mereka…
ABDURRAHMAN WAHID, mantan Presiden Indonesia,
seorang pemimpin Muslim progresif dan secara sembunyi-sembunyi adalah seorang
sosialis, yang “diam-diam” digulingkan oleh para “elit”...PRAMOEDYA ANANTA TOER,
pemikir terbesar Indonesia dan penulis Asia Tenggara terpenting...
Saya melihat wajah-wajah mereka di layar, wajah-wajah yang begitu saya sayangi,
dan saya berpikir: “Begitu hidupnya kalian! Bahkan ketika kalian sudah tua dan
sakit-sakitan, betapa kuatnya tekad kalian. Betapaa hidupnya generasi kalian
yang dibesarkan dengan semangat sosialis besar dari Presiden Soekarno, pemimpin
gerakan non-blok...betapa hidupnya kalian jika dibandingkan dengan “generasi
muda” sekarang yang sinis, serakah, dan sudah dicuci otaknya, yang melacurkan
diri di korporasi-korporasi, generasi pandir yang tamak, generasi tanpa moral
dan dengan kapasitas intelektual yang menyedihkan, tanpa emosi, egois dan tidak
berisi!”
Setelah pemutaran film selesai, pertanyaan dari penonton sudah dapat
diperkirakan: “apa yang harus dilakukan?”, lalu: “Apa pendapat Anda tentang
generasi muda di Indonesia?”
Saya teringat akan beberapa gadis yang banyak tahu tentang sosial media. Di
masa lalu, mereka datang kepada dan memohon untuk “dididik” dan “kembali dicuci
otaknya untuk kembali ke kenyataan”...Mereka “ingin bekerja untuk kemanusiaan”,
setidaknya itu yang mereka katakan. Saya teringat bagaimana mereka berpura-pura
dan berbohong, dan bagaimana mereka berkhianat dan melarikan diri ketika terlihat
sedikit tanda bahaya...Bagaimana mereka berlari kencang kembali ke pelukan klan
fasisnya ketika klan memanggil, dan bagaimana mereka berlari kencang kembali ke
pelukan orang tua dan kakek-nenek mereka yang korup dan penuh kebencian…Saya
juga teringat akan mahasiswa-mahasiswa di Universitas Indonesia dengan sikap
arogan, tidak tertarik hal lain kecuali mengetik terus menerus ke ponsel mereka
dan terus mengunyah makanan dengan kualitas buruk selama dosen tamu bicara,
bahkan ketika diberikan informasi-informasi penting sekali pun.
“Generasi muda?” saya berpikir. Di Indonesia, rasanya mereka seperti julukan
yang sudah usang, bahkan pada usia 15: mereka seperti boneka Barbie bodoh yang
bertumpu pada kaki-kaki yang kurus...Maksud saya, mereka yang berasal dari kaum
“elit”... Di luar para “elit” itu, mereka hanyalah budak yang dieksploitasi,
dipermalukan dan sepenuhnya dikondisikan untuk tidak bertanya dan tidak tahu.
“Para pemuda elit” – tiruan murahan dari yang disebut movers and shakers dari
Wall Street. Amat menyedihkan! Tidak ada individualitas, tidak punya mimpi dan
bakat, tidak mau kerja keras, serta tidak punya semangat revolusioner dan
memberontak! Yang ada hanyalah musik pop manis dan murahan yang sama dan
film-film Hollywood murahan yang sama juga, dan kopi-susu dari Starbucks yang
juga sama...Sementara di luaran, ada negara yang sedang kebakaran, tersedak asap
dan kotoran yang mereka produksi sendiri, negara yang sudah hancur, yang sudah
melakukan beberapa genosida paling mengerikan dalam sejarah modern – sebelumnya
di Timor Timur, dan sekarang di Papua.
MEMANG keparat tuh para kolaborator dengan fasisme Barat! Mereka adalah para
penjilat pantat para penjajah! Dan tidak ada seorang pun yang berpikir untuk
mencukur plontos kepala mereka sebagai hukuman karena menjual diri dan negara
ke Empire/Imperium! Itulah generasi “muda” (apakah memang muda?)
Indonesia yang konyol!
Saya bicara. Mereka mendengarkan. Lalu mereka pulang. Saya rasa pidato saya
yang keras ini merupakan hiburan bagi mereka. Tidak ada tindak lanjut. Saya
bukan berpidato di Quito atau Caracas. Saya bicara di Jakarta. Yang jelas,
tidak mungkin lagi ada revolusi di sini.
Keesokan harinya, saya ingin melihat badak di “Taman Safari”, di luar kota
Bogor, namun polisi memutuskan untuk menyiksa orang yang akan lewat jalan ke
sana dan memblokir pintu keluar tol tanpa alasan yang jelas. Mereka menutup
jalan keluar ini selama beberapa jam, hanya untuk menunjukkan bahwa mereka
bisa... dengan cara ini para preman bisa berjualan di sana dan para “pemandu”
bisa menuntun pengemudi lewat jalan tikus. Tentu saja, hasilnya tentu akan
dibagi dengan polisi. Semua hal dikorupsi: bahkan jalan tol bisa diblokir agar
polisi dan preman bisa mendapat uang ekstra! Entah bagaimana akhirnya saya
berhasil keluar dari jalan tol itu, tapi paru-paru saya sudah menderita karena
polusi.
Saya mencoba pergi ke Bogor, ke Kebun Raya Bogor yang terkenal, yang sampai
saat ini adalah satu dari sedikit tempat publik yang ada di Indonesia. Tapi
ketika sampai di sana, saya lihat pemandangan yang mengerikan: kebun raya ini
secara sistematis dihancurkan dengan adanya beberapa proyek konstruksi.
Pohon-pohon tua telah ditebang untuk melancarkan pembangunan lapangan parkir.
Sebuah jembatan bersejarah telah dirobohkan dan sekarang sedang dibangun
jembatan baru yang jelas sekali akan mengubah kawasan pejalan kaki menjadi
jalan mobil. Bukannya ketenangan yang kita rasakan di sana, sekarang terdengar
keras musik pop murahan yang datang dari segala penjuru.
Kemudian saya pergi melewati jalan tol yang macet...dan saya saksikan dan hirup
pembakaran sampah dengan area cukup besar di tengah kota Jakarta.
Di tengah jalan tol maupun di persimpangan jalan, kita bisa lihat banyak
pengemis yang cacat dan kudisan.
Di Jakarta, sebuah toko buku yang dulu sering saya kunjungi sekarang sudah
berubah menjadi sebuah toko buah. Lalu saya makan malam di sebuah restoran yang
menurut saya terlalu mahal untuk kualitas makanan yang mereka sediakan, dengan
pelayan yang mungkin sudah ingin berada di “tempat lain”, mungkin mereka sudah
mengantuk, atau memang tidak bias berkonsentrasi lagi dalam mencatat pesanan
makanan.
Dan di antara semua ini, kita bisa lihat adanya beberapa Ferrari yang lalu lalang,
juga beberapa toko Prada...ditambah dengan papan iklan yang amat besar-besar
yang mempromosikan rokok sebagai sesuatu yang keren dan modern.
Saya tidak lagi lihat ada keindahan di kota ini. Sama sekali tidak ada lagi.
Semua sudah hilang.
Sementara berada di kemacetan lalu lintas, saya mencoba untuk bekerja. Tapi
bagaimana mungkin? Internet tidak jalan, dan ponsel tidak dapat sinyal. Sudah
berkali-kali saya menuliskan tentang hal ini, tapi mengapa saya masih heran?
50 TAHUN sejak kudeta itu. Benar-benar peringatan hari jadi – hari yang membuat
banyak orang Indonesia benar-benar bangga! Saatnya mereka menjadi pusat
perhatian! Pengkhianatan atas cita-cita besar bangsa dan kepatuhan dan berserah
diri ke pihak Barat.
Lagi-lagi saya ingin melarikan diri dari sini. Saya benar-benar merasa sakit di
sini: seorang revolusioner, pemberontak, dan seorang filsuf di negeri yang
penuh dengan ketaatan dan keruntuhan intelektual.
Jadilah saya melarikan diri dari sini. Dari kanal-kanal yang tersumbat kotoran
dan sampah...dari anak-anak dan orang dewasa yang cacat, tetapi semua ini
dengan butik Louis Vuitton di latar belakang...dari pengkhianatan yang
memuakkan, dan dari kebohongan yang terus menerus, dari keheningan panjang,
dari hampir tidak adanya orang yang bisa diandalkan, dari tidak adanya puisi,
dan dari tidak adanya kegembiraan, dari kesuraman, dari tidak adanya kasih. Dan
di atas semua itu, dari tidak adanya cinta.
Selama 72 jam yang saya habiskan di tempat yang saya anggap sebagai yang paling
dekat dengan neraka (dan saya sudah berkunjung ke lebih dari 150 negara di
dunia), tiba-tiba saya teringat begitu banyak hal yang saya coba kubur dan
lupakan: dari mulai bau mayat perempuan yang diperkosa ramai-ramai dan
dimutilasi di Ermera, Timor Timur, sampai ke ratusan binatang malang yang
disembelih di kebun binatang Surabaya agar beberapa proyek “internasional” yang
korup bisa terus beroperasi.
Saya ingat bagaimana setelah tsunami di Aceh, tentara dan polisi Indonesia,
bukannya membantu korban yang trauma, malahan memeras para relawan, minta uang
dan mengancam untuk merusak air minum gallon yang amat berharga waktu itu jika
tidak diberi suap. Saya teringat mayat-mayat yang membusuk di lubang-lubang
besar di sana karena pekerja pemerintah tidak mau mengoperasikan alat-alat
berat di sana kalau tidak dibayar.
OH INDONESIA, engkau adalah putri sejati turbo-kapitalisme, dari sekte yang
paling rendah, dengan kepatuhan yang tidak masuk akal, kurangnya pendidikan dan
pengetahuan, banyaknya kebrutalan yang tak terbayangkan, dan kurangnya kasih
sayang!
Saya melihat begitu banyak keburukan dalam kurun waktu 20 tahun ketika mencoba mendokumentasikan
kejatuhanmu!
Saya melihat para pendakwah Kristen yang sakit jiwa, dengan mata mereka yang
sadis dan fanatik dengan semangat seperti ISIS, sudah selama bertahun-tahun
mengurung anak-anak perempuan mereka hanya karena mereka ingin menikah dengan
pria bukan Kristen.
Saya menyaksikan misa agama Kristen di pusat-pusat perbelanjaan di Surabaya,
ketika seorang pendakwah mengatakan dengan yakinnya: “Tuhan mengasihi orang
kaya, dan itulah sebabnya mereka kaya!” Saya mengikuti beberapa misa berbahasa
Inggris di gereja dengan pendakwah apparatchiks intelijen Amerika
Serikat dan Australia...lengkap dengan lagu-lagu pop gereja yang aneh dan
ganjil, disertai dengan goyang pinggul ibu-ibu dan gadis-gadis muda.
SAYA MELIHAT KAUM SUNNI yang rasis dan sangat
fanatik, yang dibayar dan dikendalikan oleh kaum Wahhabi dari Saudi Arabia yang
sudah menghancurkan desa-desa KAUM ISLAM SYIAH di pulau Madura yang terbelakang
dan miskin.
Aku menyaksikan seorang gadis kecil melarikan diri dari sebuah masjid yang
terbakar di Ambon, dan seorang anak laki-laki Kristen yang mencoba melarikan
diri dari sekelompok pemuda Wahhabi. Pada akhirnya, mereka mencabik-cabiknya
dengan parang yang mereka bawa...
Saya melihat begitu banyak pembakaran dan sisa-sisa abunya, dan begitu banyak
intoleransi, kebodohan dan kebencian! Saya melihat bangsa yang menggantikan
bangsa yang dulunya besar dan bangga yang dipimpin oleh seorang Presiden Muslim
yang progresif, yang percaya dan mengandalkan Partai Komunis Indonesia (PKI)
yang besar dan demokratis.
Saya melihat dengan jelas apa yang dapat dilakukan oleh kapitalisme,
imperialisme, kebodohan dan indoktrinasi fasis!
DAN jauh di dalam hati saya bersumpah: “Saya akan mengedit kembali Terlena!
Saya akan mengedit ulang film dokumenter saya itu!”
Saya bersumpah, dan saya merasa jauh lebih baik. Indonesia adalah sebuah kisah
besar yang belum diceritakan - cerita tentang apa yang mampu dilakukan oleh
imperialisme!
Seluruh pulaunya sudah ditebang habis, dijarah: Kalimantan dan Sumatera...Gajah-gajah
dan simpanse disiksa...Korupsi dan pencurian...Sampah di mana-mana, di
permukaan bumi, dan di dalam otak rakyatnya.
Perikemanusiaan hilang...kemanusiaan hancur. Kehancuran total dari
intelektualisme, kreativitas, kasih sayang dan kelembutan...
Saya melarikan diri, tapi ketika saya berlari, saya merasa ada jutaan tangan
yang mencoba untuk menahan saya, mencoba untuk memperlambat saya. “Hanya
tinggal kami di sini, kami sudah dilupakan” Saya mendengar suara-suara itu. “Tinggal
lah lebih lama lagi...Tuliskanlah beberapa buku lagi, tulislah beberapa esai lagi,
dan buatlah film lagi...Jangan tinggalkan kami!"
Saya tahu kalau saya akan melakukan apa yang mereka minta. Saya akan pergi
sekarang tapi akan kembali lagi.
Semua saya lakukan untuk orang-orang yang sudah dibantai dan tidak berdaya,
untuk hutan tanam hujan yang sudah hancur, untuk jutaan nyawa yang terputus...
Saya akan datang lagi karena dendam sama mereka yang menghancurkan Indonesia.
Saya akan datang lagi untuk memberi peringatan pada dunia.
Saya akan datang lagi supaya saya bisa menyebut para pembunuh itu dengan
sebutan pembunuh, dan menyebut para kolaborator dengan julukan yang layak
mereka terima.
Ketika saya akan meninggalkan negeri ini, saya tahu kalau saya akan segera
kembali untuk membongkar seluruh kengerian dari hasil eksperimen yang telah
dilakukan pada masyarakat Indonesia oleh rezim Barat (Amerika dkk) yang sadis,
oleh agama dan dogma kapitalisnya.
Saya tahu bahwa saya akan membeberkan para kolaborator lokal. Begitulah
bagaimana revolusi dimulai!
Saya akan memberikan kembali tahun-tahun dan dekade-dekade yang hilang, atau
paling tidak sedikit martabat kepada orang-orang Indonesia yang dulu hidup
kemudian bertempur dan tewas. Kepada orang-orang Indonesia yang tahu bagaimana
mencintai dengan penuh semangat dan mati-matian, dengan sepenuh hati dan dengan
egois, dengan satu sama lain dan dengan bangsa mereka sendiri, dan oleh
karenanya mereka hidup kekal!
Saya tahu suatu hari nanti saya akan kembali
dan sekali lagi memproduksi film. Untuk “mereka”! Dan dengan sedikit
keberuntungan saya akan membuat film yang sangat bagus!
Tapi sekarang ini ketika saya akan meninggalkan negeri ini, yang terlihat dan
tercium hanyalah asap, bau busuk dan sampah.
Indonesia sudah tewas. Diam-diam.
Tidak akan ada lagi kebohongan! Saat ini, masyarakat Indonesia tidak punya
negara. Negara mereka sudah diambil oleh imperialis Barat, oleh “elit” mereka
sendiri yang korup dan berkhianat, dan oleh militer. Hanya kalau mereka
menyadari apa yang telah terjadi, mereka akan mampu berjuang dan membangun
tanah air mereka yang baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar